KULON PROGO – Pada Kamis, 7 Agustus 2025 lalu, PLUT KUMKM (Pusat Layanan Usaha Terpadu Koperasi, Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah) Kulon Progo kembali mengadakan kolaborasi spesial dengan Komunitas Ruang Branding, dengan menyelenggarakan pelatihan bertajuk “Personal Branding untuk Pelaku UMKM di Kulon Progo” yang berlangsung di kantor PLUT KUMKM. Kegiatan ini diikuti oleh para pelaku UMKM dari berbagai kecamatan di kabupaten Kulon Progo.

Adapun narasumber dalam kegiatan ini diantaranya Tri Wahyuni, S.S sebagai Konsultan SDM, dan Mufti Putri Dewi Buana, S.I.Kom sebagai Founder Komunitas Ruang Branding. Keduanya secara gamblang membagikan ilmu penting tentang personal branding dan strategi pemasaran digital di era sekarang kepada para peserta pelatihan.

“Memang permasalahan pelaku UMKM itu masih malu, masih isin untuk posting dan mem-branding usaha mereka. Jadi, adanya pelatihan personal branding ini sangat pas untuk mendorong pelaku UMKM biar pede dan tangguh,” ungkap Kepala bidang PPUM Disperinkop UKM Kulon Progo, Pratiwi Ngasaratun di sela-sela kegiatan, Kamis (7/8/2025).

Salah satu peserta pelatihan personal branding yakni Dwi Estri mengatakan, pelatihan semacam ini dapat menambah wawasannya terkait cara memperkenalkan produk ke konsumen secara digital.

“Saya sangat terbantu dengan adanya pelatihan personal branding ini, karena disini saya dapat mengetahui bagaimana caranya memasarkan produk ke konsumen secara digital,” ujar Dwi Estri.

Selain itu, Dwi Estri juga berpesan kepada pelaku UMKM lainnya untuk dapat mengasah kepercayaan dirinya, agar mampu menyampaikan keunggulan produknya kepada (calon) konsumen.

Dalam kegiatan ini, PLUT KUMKM Kulon Progo dan Komunitas Ruang Branding hadir untuk membantu pelaku UMKM di Kulon Progo, sekaligus membuka kesempatan meningkatkan kualitas produk serta membangun mindset dan kemampuan digital marketing yang kuat dan konsisten.

Harapannya, kegiatan ini bisa menjadi momentum yang baik bagi pelaku UMKM Kulon Progo untuk semakin maju, percaya diri, dan berdaya saing di era digital yang semakin dinamis seperti saat ini. (zk)

YOGYAKARTA – JT – Dit Intelkam Polda DIY bekerjasama dengan Asosiasi Chief Security Hotel (ASCH) Yogyakarta menggelar bakti sosial ratusan paket sembako di sejumlah titik di DIY, Jumat (25/7/2025) petang.

Mengusung tema ‘Bersinergi Dalam Tugas, Berempati Dalam Aksi’, paket sembako dibagikan ke tiga tempat yakni Yayasan Sayap Ibu, Pondok Pesantren Al-Islam dan komunitas becak di kawasan Jalan Malioboro.

Ketua ASCH Innside By Melia Yogyakarta Hendro Prasetyawan mengatakan, melalui baksos ini diharapkan menjadi inspirasi dan semangat kepedulian ini bisa diteruskan ke semua pihak asosiasi maupun perkumpulan.

Menurutnya, sinergitas security dalam bekerja menjaga keamanan perlu juga dibarengi dengan menumbuhkan sikap kepedulian sesama. Dengan solidaritas dan aksi berbagi itu bisa membantu meringankan yang membutuhkan.

“Melalui kegiatan ini semoga bisa membantu meringankan beban hidup saudara-saudara kita yang membutuhkan, sehingga komunitas yang kami sasar benar benar yang membutuhkan uluran bantuan,” tandasnya.

Lebih lanjut dikatakan Hendro, aksi serupa rencananya akan digelar secara rutin dan berkala dengan sasaran mereka yang membutuhkan bantuan. Terlebih saat ini ACSH mempunyai pengurus baru yang terbentuk.

“Khusus bidang sosial dan agenda kegiatannya sudah disusun, sehingga tinggal melaksanakannya,” jelasnya.

Hendro menambahkan, sasaran yang mendapatkan bantuan sembako yakni dilihat dari kondisi sosial calon penerimanya. Menyasar berbagai kalangan masyarakat yang membutuhkan agar tepat sasaran.

“Semoga dengan berkolaborasi bersama Dit Intelkam Polda DIY, kami akan terus berupaya menularkan semangat kebaikan dan meringankan beban sesama yang membutuhkan uluran,” harapnya.

Kasubdit 2 Ditintelkam Polda DIY AKBP Shandy W.G. Suawa, S.P., S.I.K., M.H, mengungkapkan kegiatan ini merupakan bentuk kolaborasi Polri dengan ASCH. Sehingga bisa bersama sama menjaga situasi kamtibmas.

“Mari kita saling bersinergi menjaga kondusifitas kamtibmas di lingkungan masing-masing,” pungkasnya. (*)

 

SLEMAN – SPJ – Peristiwa 27 Juli 1996 atau dikenal dengan Peristiwa Kudatuli sebagai salah satu catatan sejarah yang kemudian menjadi salah satu tonggak berdirinya PDI Perjuangan.

Memperingati Peristiwa Kudatuli, Satgas Cakra Buana PDI Perjuangan Kabupaten Sleman menggelar acara sarasehan, Minggu (27/6/2025), di Kopi Njongke, Mlati Sleman.

Dalam sarasehan kali ini, sejumlah tokoh hadir di antaranya Ketua DPD PDI Perjuangan DIY Nuryadi yang juga Ketua DPRD DIY, anggota DPRD DIY Yuni Satia Rahayu, Wakil Bupati Sleman Danang Maharsa dan Komandan Batalyon Satgas Cakra Buana Sleman, Koeswanto.

“Memperingati peristiwa 27 Juli 1996 menjadi kewajiban bagi teman-teman Satgas Cakra Buana,” ungkap Koeswanto seraya menceritakan peristiwa itu merupakan sejarah kelam bagi PDI Perjuangan.

Melindungi masyarakat

“Sejarah itu supaya selalu tertanam dalam jiwa kita untuk memperjuangkan demokrasi yang benar-benar murni tidak disetir oleh penguasa, aturan hukum harus ditegakkan dengan benar. Aturan undang-undang benar-benar terealisasi untuk melindungi masyarakat, rakyat Indonesia,” kata Koeswanto.

Dia menerangkan, peringatan Peristiwa Kudatuli juga untuk pembelajaran sejarah bagi para anggota satgas yang saat itu belum bergabung dengan PDI Perjuangan.

Selain itu, juga menjadi refleksi bersama bahwa meski diinjak-injak oleh penguasa saat itu namun PDI Perjuangan tetap bisa semakin besar dan menjadi partai pemenang Pemilu.

“Dengan refleksi ini supaya teman-teman di Sleman kan belum mengalami waktu itu sehingga belum tahu persis kejadian 27 Juli itu. Kantor PDI Perjuangan di Jalan Diponegoro saat itu diduduki oleh PDI yang dibentuk oleh penguasa,” kata Koeswanto yang juga anggota DPRD DIY itu.

Semakin besar

Dengan perjuangan, darah, pengorbanan materi dan pemikiran, lanjut dia, senior-senior PDI Perjuangan yang terinjak-injak dan teraniaya itu justru malah semakin berkembang semakin besar sampai saat ini. “Bahkan bisa membuktikan sebagai partai pemenangan Pemilu di Indonesia,” sambungnya.

Koeswanto berharap agar Peristiwa Kudatuli bisa menjadi penggugah semangat para anggota satgas maupun kader PDI Perjuangan. Koeswanto menegaskan jangan sampai sesama kader PDI Perjuangan diadu domba.

“Kami berharap dengan selalu merefleksikan tanggal 27 Juli, peristiwa ini benar-benar menggugah semangat, loyalitas, kebersamaan supaya kita tidak mudah diadu domba sesama kader partai di internal PDI Perjuangan,” terangnya.

Koeswanto menambahkan saat ini kekuatan PDI Perjuangan adalah kekompakan dan kesolidan anggota serta kader di dalamnya. Inilah modal PDI Perjuangan agar tidak mudah dipecah belah oleh pihak lain.

Aspirasi masyarakat

“Satgas sebagai pengawal dan pengaman kebijakan partai, garda terdepan untuk selalu turun menyapa masyarakat, mengadvokasi dan mendampingi aspirasi masyarakat,” kata Koeswanto.

Mengingat situasi kondisi saat ini yang tidak memiliki kepemimpinan di Tingkat pusat, lanjut dia, perlu dikondisikan supaya kesolidan dan persatuan tetap terjaga.

“Harus kita jaga seutuh mungkin jangan sampai disusupi orang yang tidak bertanggung jawab yang dampaknya ingin memecah belah PDIP. Kekuatan kita hanya itu, kekompakan dan kesolidan,” tandasnya. (*)

YOGYAKAKARTA – Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga Daerah Istimewa Yogyakarta (Dikpora DIY) bekerja sama dengan PANDI (Pengelola Nama Domain Internet Indonesia) serta MGMP Bahasa Jawa DIY, tahun ini kembali akan menggelar Olimpiade Bahasa dan Aksara Jawa (OBAJ) #3.

Olimpiade Bahasa dan Aksara Jawa diselenggarakan sebagai bagian dari representasi penerapan Perda DIY No. 2 tahun 2021 tentang Pemeliharaan dan Pembinaan Bahasa, Sastra, dan Aksara Jawa, Pergub DIY No. 64 tahun 2013 tentang Muatan Lokal Wajib Bahasa Jawa, serta sebagai bentuk penghormatan bahasa ibu (bahasa Jawa), dimana bahasa Jawa tidak akan pernah lepas dari yang namanya aksara Jawa.

Olimpiade Aksara Jawa ini diselenggarakan secara digital (online) dengan format soal berbahasa Jawa dan beraksara Jawa dengan jenjang SMA/SMK/MA, dan sepenuhnya didanai dengan Dana Keistimewaan.

Sebagaimana instruksi dari Kepala Dinas Dikpora DIY, Drs. Suhirman, M.Pd, ia mengimbau seluruh kepala sekolah SMA/SMK/MA di masing-masing kabupaten/kota agar dapat mendukung kegiatan ini, dengan mewajibkan dan mengarahkan siswa-siswi terbaik di bidang bahasa Jawa untuk mengikuti kegiatan ini.

Olimpiade Bahasa dan Aksara Jawa (OBAJ) #3 ini akan dilaksanakan melalui tiga tahapan yaitu babak penyisihan, babak semifinal, dan babak final.

Pendaftaran peserta dimulai tanggal 1-22 Agustus 2025 ini. Tahap pendaftaran ini sekaligus sebagai babak penyisihan peserta di masing-masing kabupaten/kota. Setiap kabupaten/ kota akan diambil 40 peserta dari jenjang SMA/MA dan 40 peserta dari jenjang SMK. Peserta yang terpilih akan maju ke babak semifinal yang akan dilaksanakan pada tanggal 25 & 26 Agustus 2025. Selanjutnya dari babak semifinal akan dipilih 10 peserta dari masing-masing jenjang untuk mengikuti babak final. Untuk informasi lebih lengkap tentang teknis pelaksanaan OBAJ#3 ini, anda bisa mengakses laman www.olimpiadeaksara.id.

Melalui lomba Olimpiade Bahasa dan Aksara Jawa ini, diharapkan generasi muda dapat semakin mencintai dan melestarikan kekayaan budaya Jawa, khususnya dalam penguasaan bahasa dan aksara Jawa. Selain itu kegiatan ini diharapkan dapat menumbuhkan rasa bangga terhadap warisan leluhur, serta meningkatkan kemampuan berbahasa dan menulis aksara Jawa dengan baik dan benar bagi para generasi muda, serta semakin memantabkan Yogyakarta sebagai daerah istimewa, salah satunya karena aksara Jawa. (zk)

KULONPROGO – Di tengah maraknya UMKM (Usaha Mikro Kecil dan Menengah) yang menjamur di masyarakat, banyak dari mereka yang rupanya belum menerapkan digitalisasi terhadap usaha UMKM mereka, sehingga membuat angka penjualan terbilang stagnan alias gitu-gitu aja.

Atas dasar itulah, Komunitas Ruang Branding hadir pada 13 Juni 2025, sebagai platform untuk dapat mengoptimalkan penggunaan perangkat digital terhadap usaha UMKM, khususnya yang berada di Kulon Proogo. Komunitas Ruang Branding ini didirikan oleh Mufti Putri Dewi Buana, yang merupakan Duta Pemuda Kulon Progo Tahun 2021, bersama dengan beberapa anak muda lainnya di Kulon Progo. Komunitas Ruang Branding berfokus pada bagaimana memaksimalkan digital branding dan digital marketing untuk membantu digitalisasi UMKM yang ada di Kulon Progo.

“Tujuan kami sangatlah sederhana, yakni membantu para UMKM Kulon Progo untuk memahami dan menerapkan digital branding dan digital marketing dalam usaha mereka. Karena tidak dapat dipungkiri bahwa saat ini UMKM tidak bisa hanya stagnan pada pemasaran konvensional saja, dan harus berani untuk bertransformasi ke arah digital,” ungkap Mufti selaku Founder Komunitas Ruang Branding.

Ke depannya, Komunitas Ruang Branding ini akan berkolaborasi dengan para UMKM Kulon Progo untuk memberikan pelatihan, intensive coaching, dan membantu UMKM secara langsung dengan seluruh tim yang berasal dari Komunitas.

Selain itu, Komunitas Ruang Branding juga akan berkolaborasi dengan instansi UMKM terkait, agar dapat memperluas jangkauan UMKM yang dapat diberi pelatihan terkait digital marketing. (zk)

KULON PROGO – Di zaman yang serba canggih seperti ini, kemampuan public speaking atau berbicara di depan umum adalah sesuatu yang mau tidak mau harus dikuasai oleh setiap orang, terutama bagi para generasi muda.

Tak terkecuali bagi para pelaku UMKM di Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta. Mereka sangat membutuhkan kemampuan public speaking untuk bisa mempresentasikan produknya, serta belajar bagaimana menarik calon pembeli untuk dapat meningkatkan penjualan.

Atas dasar itulah, Pusat Layanan Usaha Terpadu Koperasi Usaha Mikro Kecil Menengah (PLUT KUMKM) kabupaten Kulon Progo berkolaborasi dengan komunitas Sastra Regas, berinisiatif mengadakan pelatihan public speaking untuk para pelaku usaha UMKM di Kulon Progo, yang dilaksanakan di Gedung PLUT KUMKM Kulon Progo, Senin (7/7/2025).

Diikuti oleh total 25 peserta dari berbagai jenis usaha yang ada di Kulon Progo, mereka diajarkan bagaimana caranya berbicara kepada konsumen maupun calon konsumen dalam rangka untuk memasarkan produk yang hendak dijual, sekaligus bagaimana agar public speaking mereka berhasil membuat konsumen tertarik hingga bersedia membeli.

Kepala Bidang Pemberdayaan dan Pengembangan Usaha Mikro, Dinas Perindustrian, Koperasi dan UKM Kulon Progo, Pratiwi Ngasaratun mengatakakan, pelatihan public speaking diharapkan mampu meningkatkan kemampuan para pelaku UMKM untuk melakukan promosi usaha dan lain sebagainya.

“Saya sangat mendukung adanya kegiatan pelatihan public speaking semacam ini, karena bisa meningkatkan kemampuan para pelaku usaha atau UMKM untuk mempromosikan produknya sekaligus mendapatkan pembeli,” kata Pratiwi, Senin (7/7/2025).

Sementara menurut narasumber pelatihan yang juga founder Komunitas Sastra Regas, Tri Wahyuni, kolaborasi antara PLUT KUMKM dengan Komunitas Sastra Regas ini sangat penting untuk dilakukan, agar dapat mewujudkan ruang belajar public speaking yang efektif dan berkelanjutan bagi pelaku UMKM di Kulon Progo.

“Dengan kolaborasi ini semoga bisa menjadi ruang belajar public speaking yang efektif bagi seluruh pelaku usaha yang ada di Kulon Progo dan sekitarnya,” ungkap Tri Wahyuni.

Di kesempatan yang sama, salah satu peserta pelatihan, Arifah cahya Diana, berharap agar pelatihan ini mampu memberikan ilmu yang dapat diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari.

“Harapannya sih agar setiap ilmu yang diberikan disini bisa benar-benar diimplementasikan dalam kehidupan sehari-sehari,” imbuh Arifah. (yuni/zk)

GUNUNGKIDUL – Acara rutin bulanan #Selasastra kali ini digelar di kabupaten Gunungkidul yang berkolaborasi dengan Komunitas PlayOn pada Selasa (1/7/2025), bertempat di Mrikiniki Angkringan and Gallery, Wonosari, Gunungkidul, DIY.

Acara ini juga turut dihadiri langsung oleh Perwakilan dari Dinas Kebudayaan Gunungkidul, serta beberapa komunitas lain seperti Sanggar Sastra Jawa Presaja Gunungkidul, Komunitas REGAS, Playlis, Sanggar Pujo Sumakno dan TBM Gubug Pintar.

“Semoga ini bisa menjadi pemantik kita bersama agar kedepannya kita bisa semakin berkiprah dan berlanjut di bidang kebahasaan dan kesastraan di Gunungkidul,” kata perwakilan Dinas Kebudayaan Gunungkidul, Seksi Bahasa dan Sastra dalam sambutannya.

Acara dimulai dengan tembang macapat oleh perwakilan Seksi Bahasa dan Sastra Dinas Kebudayaan Gunungkidul, dilanjutkan sesi pembacaan puisi, geguritan, cerpen dan penampilan musik. Suasana di Mrikiniki Angkringan and Gallery terasa akrab, hangat, dan penuh antusiasme.

Tidak hanya sekadar melakukan pentas sastra, forum ini juga menjadi ruang bertukar pikiran dan wacana lintas komunitas. Momen ini diharapkan menjadi titik temu dan penguat jejaring antarkomunitas, baik di Gunungkidul dan sekitarnya.

Apresiasi Selasa Sastra ini diadakan sebagai ruang untuk saling mendukung, menghargai, merayakan kreatifitas sekaligus kelokalan di bidang sastra. (zk) 

YOGYAKARTA – JT – Lokakarya Temu Karya Sastra ‘Daulat Sastra Jogja’ Tahun 2025 dengan tema ‘Meta Sastra; Panen Karya dan Alih Media’ dilaksanakan Dinas Kebudayaan DIY di Hotel Grand Rohan Jogja pada 23-26 Juni 2025.

Lokakarya melibatkan narasumber Y Adhi Satiyoko (SSJY) untuk bedah naskah puisi, Sari L. Hartiningrum (Radio Edukasi) untuk bedah cerpen dan alih media audiobook 5 peserta, Tedi Kusyairi (Forum Desa Sinema) kelas bedah naskah lakon dan alih media Film diikuti 11 peserta, ST Kartono (Kelas Karya Essai), Meuzt Prast (Pelukis) kelas alih media seni lukis dengan 7 peserta, dan Ardy Boik (Genk Kobra) kelas alih media lagu puisi 17 peserta.

Dinamika kelompok masing-masing kelas alih media berjalan dengan meriah, pada tahap awal peserta saling presentasi karya masing-masing untuk ditanggapi oleh peserta lainnya, dilanjutkan dengan pengajuan konsep alih media yang akan dilakukan. Secara umum, untuk kelas alih media lagu puisi dan seni lukis dilakukan secara perorangan, lalu untuk kelas alih media audiobook dan film secara kelompok project.

“Melalui FGD ini, narasumber dan instruktur mendampingi peserta untuk saling menguatkan gagasan, metode berpikir, dan sistematika proses alih media. Harapannya, para peserta nantinya akan menemukan bentuk produk alih media yang tepat untuk karya sastranya,” kata Tedi Kusyairi narasumber kelas naskah lakon dan alih media film, Rabu (25/6/2025).

Kegiatan lokakarya TKS tahun 2025 ini memang menekankan pada proses alih media karya sastra peserta, dimana pada tahun-tahun sebelumnya, peserta dikuatkan pada aspek penulisan karya sastranya, sembari di dorong untuk menulis dan menerbitkan karya sastra.

“Setelah jadi buku, atau karya mereka dipublikasikan, harapannya para peserta bisa mengeskpos karyanya untuk dipresentasikan kepada para pelaku industri kreatif, seperti museum lukis, kompuser dan penyanyi, production house film, dan audiobook,” jelas Tedi lebih lanjut.

Usai lokakarya, peserta tetap akan melanjutkan secara mandiri untuk menyelesikan karya alih media sastranya, yang nantinya akan dipentaskan dan dipamerkan pada awal September pada peringatan Hari Literasi Internasional. (RYN)

YOGYAKARTA – JT – Kegiatan lokakarya Temu Karya Sastra (TKS) ‘Daulat Sastra Jogja’ tahun 2025 dengan tema ‘Meta Sastra: Panen Karya dan Ekranisasi’, diselenggarakan pada 23-26 Juni 2025 di Hotel Grand Rohan Jogja. Rangkaian kegiatan dibuka oleh Dian Lakshmi Pratiwi SS MA, Kepala Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) Daerah Istimewa Yogyakarta pada Senin (23/06/2025) di Ruang Jasmine Grand Rohan Jogja.

Hadir pada kesempatan tersebut, Budi Husada Kepala Bidang Pemeliharaan dan pengembangan Sejarah, Bahasa, Sastra, dan Permuseuman, Setya Amrih Prasaja Kasie Bahasa dan Sastra, Adhi Satiyoko dan Tedi Kusyairi sebagai pengarah kegiatan sekaligus narasumber utama, juga dari seksi Sejarah dan Permuseuman.

Peserta berjumlah 40 orang, hasil seleksi dari alumnus TKS tahun sebelumnya, mereka dari komunitas atau sanggar sastra yang ada di Yogyakarta. Sebelumnya mereka banyak menuliskan karya sastra di berbagai media dan menerbitkan buku karya sendiri.

Dian Laskmi Pratiwi dalam sambutannya mengungkapkan bahwa sastra dan literasi sebenarnya lekat dalam keseharian sosial bermasyarakat, banyak ide gagasan bisa menjadi inspirasi tulisan sastra, harapannya para peserta nantinya bisa menjadi pahlawan literasi di lingkungan masing-masing. Untuk itu peserta harus banyak membaca agar tulisannya bisa lebih berpengaruh bagi masyarakat.

“Kami harapkan peserta bisa menguatkan komitmen dalam hal kolaborasi, kebersamaan membangun kemadirian, karena saat ini banyak pilihan dan peluang, maka melalui menulis sastra bisa menjadi prioritas yang dibanggakan,” tegas Dian Lakshmi.

Lebih lanjut Dian Lakshmi menyinggung perihal kemajuan teknologi informasi berbasis AI, dalam harapannya, para peserta bisa lebih mengedepankan rasa dan imajinasi yakni soal kemanusiaan sebagai kelebihan dibanding hasil chat GBT.

“Tulisan sastra peserta tidak berhenti ditulisan sastra saja, selain diterbitkan dalam bentuk buku, juga bisa ditemukan dengan para pelaku industri kreatif, Dinas Kebudayaan dengan sarana yang ada siap memoderasi,” kata Dian lebih lanjut.

Sebelumnya alumni TKS yang sudah menerbitkan buku, maju ke depan untuk menyerahkan hasil karya mereka, diantaranya M Sheva buku kumpulan puisi berjudul ‘Otsu’, Adik Indah Rahmawati buku kumpulan cerpen ‘Labirin’, Anggita Noviana Rizki buku naskah lakon ‘Puan’, Valentino SK buku puisi ‘Lucis lumens’, Hernando Rifmanda Anwar buku pusi ‘Kabel kusut kota’, dan Wahyu Tigar buku ‘Pupak-pupak Jegur’. Buku diterima oleh Dian Lakshmi Pratiwi dengan penuh kegembiraan sebagai salah satu wujud hasil proses lokakarya penulisan sastra di tahun sebelumnya.

“Selama lokakarya peserta akan mendapatkan mentoring mengenai persiapan sastra untuk dialihmediakan, pasca lokakarya mereka akan membuat karya alih media, dilanjutkan latihan pementasan, dan puncaknya dari tanggal 8-10 September 2025 akan diselenggarakan pentas karya sastra, pameran alih media, dan launching buku,” jelas Amrih.

Sementara itu Tedi Kusyairi, salah satu narasumber TKS 2025 menegaskan bahwa selama lokakarya nantinya para peserta akan dikondisikan pada proses FGD dan praktik alih media.

“Kami ingin menanamkan proses berfikir kepada para peserta, terkait tulisan karya sastranya, untuk sama-sama dikritisi sesama peserta, kemudian membangun konsep sastra yang akan dialihmediakan, sehingga karya sastra tidak lagi berdiri sendiri, lebih ilmiah, dan produknya tak lepas dari dunia kehidupan masyarakat, menjadi sastra yang lebih manfaat, itulah meta satra,” jelas Tedi. (MMI)

YOGYAKARTA – Buku yang disusun sejak tahun 1977 hingga tahun 2022 berjudul “Indonesia Art World” karya Melani W. Setiawan, akhirnya resmi di-launching di Pascasarjana ISI Yogyakarta, Sabtu (21/6/2025). Buku ini adalah kumpulan foto perjalanan Melani W. Setiawan, seorang Dokter USG di Jakarta, di bidang seni rupa, yang telah menarik perhatiannya sejak dekade 70-an silam.

Kini di usianya yang menginjak 80 tahun, Melani akhirnya mampu mempersembahkan sebanyak hampir 5.000 foto hasil ciptannya ke dalam satu karya tebal berjumlah 1.400 halaman yang terbagi dalam 3 buku, untuk bisa dinikmati oleh kalangan pencinta seni rupa di seluruh Indonesia. Foto-foto ini ada yang menggunakan analog, kamera digital, hingga kamera ponsel yang lazim digunakan oleh generasi saat ini.

Dalam pemaparannya, Melani menjelaskan bahwa diterbitkannya buku ini adalah wujud rasa syukur, atas kepercayaan rekan-rekan yang telah mengusulkan agar foto-foto ini dijadikan buku, sebagai rekam jejak perjalanan panjang bersama para seniman selama empat dekade ke belakang.

“Tentu saja awalnya tidak ada niatan untuk menjadikan koleksi foto ini sebagai buku, namun pada 2003, kami akhirnya sepakat untuk membukukannya. Namun ketika itu saya masih belum pede, karena di semua foto ini pasti ada wajah saya, sehingga kelihatan narsis. Namun akhirnya saya memberanikan diri, dan mulailah mencari-cari nama, caption, dan juga tempat yang sekiranya cocok untuk melakukan launching buku ini,” ujar Melani kepada SPJ.com saat ditemui usai acara, Sabtu (21/6/2025).

Bahkan, menurut Melani, buku ini sudah hendak diluncurkan pada tahun 2012 silam, atau 13 tahun yang lalu. Namun harus batal karena beberapa hal.

“Tadinya malah tahun 2012 saya sudah mau launching buku ini, termasuk sudah bikin pre-launching-nya, dan sudah ada di galeri nasional Indonesia di Jakarta, serta sudah dibikin versi dummy-nya. Namun karena satu dan lain hal, akhirnya launching-nya harus batal,” tambah Melani.

Meskipun tidak secara langsung berkecimpung di bidang seni rupa, Melani berharap bahwa buku ini bisa menjadi sumbangsih dedikasinya terhadap perkembangan seni rupa di Indonesia, semakin banyak dikenal oleh masyarakat luas, mendapat apresiasi yang layak, serta bisa menembus dunia internasional. (zk)