YOGYAKARTA – JT – Sebanyak 40 calon peserta lokakarya Temu Karya Sastra (TKS) ‘Daulat Sastra Jogja’ mengikuti temu teknik di Ruang Bima Dinas Kebudayaan DIY, Selasa (17/6/2025). TKS tahun 2025 mengusung tema ‘Meta Sastra: Panen Karya & Ekranisasi’, terdiri dari beberapa tahapan yakni; lokakarya menginap di Hotel Grand Rohan pada 23-26 Juni 2025, dilanjutkan dengan pasca lokakarya membuat karya alih media, dilanjutkan latihan pementasan, dan puncaknya dari tanggal 8-18 September 2025 akan diselenggarakan pentas karya sastra, pameran alih media, dan launching buku.

Sebelumnya, peserta dijaring dari alumnus TKS sejak tahun 2021-2024, calon peserta wajib mendaftarakan diri dan memenuhi semua persyaratan yang diminta panitia, setelah di seleksi ada 40 peserta yang berhak mengikuti rangkaian kegiatan sejak lokakarya, selebihnya dan yang tidak lolos diberi kesempatan untuk ikut aktif dalam rangkaian TKS usai lokakarya.

“Peserta tahun ini kan dari para alumni, jadi sudah selesai dengan pembelajaran bagaimana menulis sastra yang baik dan benar, dari tahun-tahun sebelumnya sudah dapat banyak ilmu penulisan sastra, sudah banyak berkarya, sekarang saatnya membuktikan bahwa peserta ini bisa disebut sebagai sastrawan, maka harus menerbitkan buku,” terang Budi Husada, Kepala Bidang Pemeliharaan dan pengembangan Sejarah, Bahasa, Sastra, dan Permuseuman Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) DIY.

Selanjutnya, Setya Amrih Prasaja, Kasie Bahasa dan Sastra Dinas Kebudayaan DIY menerangkan bahwa untuk tema tahun ini ada meta sastra, kemudian akan diwujudkan dalam panen karya, dari para peserta TKS 2025.

“Beda dengan tahun sebelumnya yang mempertebal pengetahuan menulis karya sastra, tahun ini, fokusnya pada penerbitan buku, dan alih media karya sastra, bisa ke lagu puisi, audiobook, seni lukis, dan film. Jadi nanti di Hari Literasi Internasional, akan dipentaskan, dipamerkan, dan di launching karya para peserta,” tegas Amrih.

Sementara itu Tedi Kusyairi, salah satu narasumber TKS 2025 menegaskan bahwa selama lokakarya nantinya para peserta akan dikondisikan pada proses FGD dan praktik alih media.

“Nantinya akan lebih banyak FGD, dengan harapan para peserta mampu mengungkapkan hal didalam atau diluar karya sastra yang ditulisnya, kemudian untuk masuk ke era Gen Z saat ini, maka alih media sastra ke bentuk lain harus dilakukan oleh peserta untuk mengetengahkan karya sastranya ke ruang publik. Nantinya para peserta tahun ini ketika kembali ke komunitas masing-masing akan menjadi trainer, penggerak, dan motifator di wilayah masing-masing,” jelas Tedi Kusyairi.

Lokakarya akan melibatkan narasumber Y Adhi Satiyoko (SSJY), Sari L Hartiningrum (Radio Edukasi), Tedi Kusyairi (Forum Desa Sinema), ST Kartono (Kelas Essai), Meuzt Prast (Pelukis), dan Ardy Boik (Genk Kobra). Saat ini sedang dalam persiapan penerbitan buku sastra antologi peserta karya tunggal mereka, yang masing-masing diedit oleh para sastrawan, penulis, dan editor seperti; Y Adhi Satiyoko, Mutia Sukma, Latief Noor Rochmans, Satmoko Budi Santoso, Tedi Kusyairi, Indrian Toni, Eko Triono, Herry Mardianto, Sari Listyaningsih Hartiningrum, dan Lawung Panji Sadewa. Nantinya karya mereka akan dikurasi lebih lanjut dan diterbitkan dengan kolaborasi penerbit yang terhimpun dalam IKAPI Yogyakarta. (RYN)

Bantul – SPJ – Dalam rangka HUT SMA Negeri 1 Sedayu ke 60, dan menyemarakkan gemar membaca serta menulis sastra bagi pelajar SMP/MTs, Perpustakaan Loka Ghana SMA Negeri 1 Sedayu mengadakan Workshop Penulisan Puisi, Kamis (19/6/2025) di Perpustakaan Loka Ghana SMA Negeri 1 Sedayu. Kepala SMA Negeri 1 Sedayu, Suwarsono, S.Pd., M.Sc., M.A. mengatakan bahwa kegiatan ini merupakan sebuah rangkaian HUT ke 60, dengan tema utama literasi.

Workshop menulis puisi menghadirkan narasumber Tedi Kusyairi, pegiat #SelasaSastra pengarah kegiatan Temu Karya Sastra Dinas Kebudayaan DIY 2021-2025. Kegiatan selama kurang lebih dua jam dipandu MC Arsheila Audia Pradiani dan Veronika Wahyu Dewi Handayani.

“Tujuan kegiatan ini untuk meningkatkan literasi siswa dan membiasakan anak agar gemar menulis dan berkarya sastra, khususnya puisi,” jelas Hj. Syamsuriyani, Kepala Perpustakaan Loka Ghana SMA Negeri 1 Sedayu.

Peserta sejumlah 30 siswa dari SMPN 1 Moyudan, SMP N 1 Sedayu, SMP MUHAMMADIYAH 1 MINGGIR, SMP NEGERI 1 GAMPING, SMPN 3 Godean, SMP Negeri 2 Pajangan, SMP NEGERI 2 MOYUDAN, SMP NEGERI 1 PAJANGAN, SMP Negeri 1 Pajangan, SMP N 1 Minggir, dan SMPN 2 SENTOLO.

Sementara itu Agustina Prapti Rahayu, salah satu guru Bahasa Indonesia SMA Negeri 1 Sedayu mengatakan bahwa kegiatan ini sangat menarik dan menyenangkan.

“Andaikata tidak bersamaan dengan acara lain banyak anak yang sebenarnya ingin ikut. Kami berharap, apa yg menjadi tujuan diadakannya kegiatan ini bisa tercapai. Semoga dengan mengikuti workshop ini, dalam diri siswa atau peserta, tumbuh semangat untuk membaca, dan menulis, berkarya sastra, mulai dari menulis puisi.  Dengan demikian mereka akan menjadi generasi muda yang literat dan berprestasi dalam karya,” tegas Agustina.

Sesi menulis puisi oleh narasumber Tedi Kusyairi terbagi dalam tiga bagian, pengantar trik dan tips menulis puisi, kemudian praktik menulis puisi dan mentoring, dilanjut dengan pembacaan puisi dan review.

“Intinya, mulailah menulis puisi dari sesuatu yang dekat dengan diri kita. Banyak membaca, lalu menulislah, jangan berhenti! Baca lagi puisimu, berkali-kali, sebelum dikirim ke media atau ikut lomba, itu penting untuk bisa mendapatkan diksi dan rima yang pas dalam menyampaikan tema puisi,” kata Tedi Kusyairi.

Saat sesi praktik menulis dan mentoring, hampir semua peserta antusias menulis bertanya dengan narasumber, konsultasi atas puisinya. Usai mengikuti workshop menulis puisi, para peserta diajak berkeliling ke penjuru perpustakaan Loka Graha.

“Rencananya, puisi yang ditulis peserta akan dipublikasikan,” pungkas Hj. Syamsuriyani. (RYN)

YOGYAKARTA – JT – Dalam semangat hari Pancasila ratusan mahasiswa dan pemuda di Daerah Istimewa Yogyakarta menggelar acara Seminar dan Kongres Pemuda Indonesia Untuk Yogyakarta Istimewa dengan mengangjat tema “Merajut Kebhinekaan, Memperkuat Pancasila” yang diadakan di Convention Hall UIN Sunan Kalijaga, Rabu (11/6) diinisiasi oleh Ruang Kolaborasi Pemuda (RKP) DIY bersama DEMA UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Acara tersebut dihadiri oleh Prof. Noorhaidi, M.A., M.Phil., Ph.D (Rektor UIN Sunan Kalijaga), Dr. H. Sukamta (Anggota MPR RI Dapil DIY), Prof. Drs. Purwo Santoso, MA, Ph.D. (Guru Besar Ilmu Politik dan Pemerintahan UGM), Lilik Andi Aryanto, SIP, M.M. (Kepala Kesbangpol DIY), Triyono, S.IP., M.Si. (Sekda Kab. Kulonprogo), Muhamad Asruri Faishal Alam. S. Pd., Gr (Juara 2 Pemuda Pelopor Nasional Kemenpora RI).

Kegiatan tersebut dibuka langsung oleh Rektor UIN Sunan Kalijaga Prof. Noorhaidi, M.A., M.Phil., Ph.D serta menyampaikan apresiasi kepada RKP DIY dan DEMA UIN Sunan Kalijaga, “kita bersama-sama untuk menjaga ke-Istimewaan Yogyakarta dan bersama-sama mencari solusi permasalahan-permasalahan yang ada di Yogyakarta,” ungkap Noorhaidi.

Pada kesempatannya Dr. H. Sukamta (Anggota MPR RI) bahwa bapak pendiri negara kita diberi tugas untuk menyatukan negara kita, mengabaikan setiap perbedaan yang kita miliki.

“Indonesia adalah negara yang sangat beragam dengan ribuan suku bangsa, pulau, dan beragam agama. Pancasila masih harus digunakan sebagai alat komunikasi untuk membangun jembatan dalam kehidupan bermasyarakat,” jelas politikus dari PKS tersebut.

Prof. Drs. Purwo Santoso, MA, Ph.D. (Guru Besar Ilmu Politik dan Pemerintahan UGM) menekankan bahwa Ideologi Pancasila merupakan ideologi terbuka, bukan tertutup, pancasila itu sebagai falsafah hidup sehari-hari.

“Yogyakarta menjadi panggung yang ideal untuk membangkitkan semangat kebhinekaan kita,” tegas Purwo Santoso.

Saat ditemui awak media, Ketua Dema UIN Sunan Kalijaga, Umar Ma’ruf, mengatakan para pemuda telah bersepakat bersama-sama menjaga keistimewaan DIY, anti SARA dan menjaga toleransi. Ini adalah penegasan terhadap komitmen dari para pemuda yang ada di Yogyakarta untuk menjaga agar Yogyakarta dan Indonesia secara lebih luas menjadi negara yang memiliki karakter sesuai dengan nilai-nilai Pancasila.

Dalam rangkaian acara tersebut dilakukan deklarasi oleh 200 peserta pemuda lintas agama, lintas kampus, lintas suku dan lintas organisasi tentang komitmen menjaga keistimewaan DIY, anti-SARA dan menjaga toleransi. Peserta juga menandatangani banner dukungan serta aksi simpati turun ke jalan seputar kampus UIN Sunan Kalijaga menyuarakan hal tersebut. (ATG)

BANTUL – Publik seni rupa Indonesia sebentar lagi akan segera menyambut peluncuran buku INDONESIA ART WORLD – Dr. Melani Setiawan’s Archive (1977–2022) yang akan diselenggarakan di Gedung Pascasarjana ISI Yogyakarta, pada 10.00-15.00 WIB, Sabtu, 21 Juni 2025. Buku ini menampilkan lebih dari empat dekade dokumentasi visual dunia seni rupa Indonesia, disusun dari arsip pribadi Dr. Melani W. Setiawan—seorang dokter spesialis ultrasonografi, kolektor seni, pengamat, dan pengarsip independen yang telah menjadi saksi perjalanan ekosistem seni rupa Indonesia sejak akhir 1970-an.

Dikenal luas sebagai “Ibunya para perupa”, Dr. Melani memiliki hubungan yang erat dengan seniman lintas generasi. Sejak akhir 1970-an, ia telah mendokumentasikan berbagai momen penting dalam dunia seni, mulai dari pembukaan pameran, kunjungan studio, hingga pertemuan dengan seniman dari berbagai penjuru dunia. Koleksi pribadinya mencakup lebih dari 100.000 foto dokumentasi yang tidak hanya menyimpan berbagai memori, tetapi juga menjadi sumber sejarah visual yang langka dan sangat berharga.

Buku ini lahir dari keinginan Dr. Melani W. Setiawan untuk mengenang dan merekam siapa saja yang telah menyentuh hatinya melalui seni dan pertemanan. Proses dokumentasi ini merupakan bentuk cinta terhadap dunia seni rupa yang tidak hanya mencatat masa lalu, tetapi juga merayakan ikatan dan kegembiraan yang masih terus hidup.

Adapun proses panjang penyuntingan buku ini telah berlangsung secara intensif sejak tahun 2005, dengan melibatkan berbagai individu serta komunitas seni baik dari dalam negeri maupun internasional. Dr. Melani melakukan seleksi secara langsung terhadap foto-foto yang akan dimuat. Sebagian materi sebelumnya telah dipresentasikan dalam pameran Saya Datang (2017), yang merupakan bagian dari acara pendukung Biennale Jogja.

Acara peluncuran ini diselenggarakan atas dukungan IndoArtNow, Srisasanti Syndicate, LeBoYe, ROH, UOB, dan Bakti Budaya Djarum Foundation, serta bekerja sama dengan Buku Seni Rupa, senirupa.id dan Pascasarjana ISI Yogyakarta. Momentum ini tak hanya menandai terbitnya sebuah buku, tetapi juga menegaskan pentingnya praktek pengarsipan sebagai fondasi pengetahuan dan memori kolektif seni rupa Indonesia.

Peluncuran ini sekaligus mempertegas peran institusi pendidikan seni dalam mendukung praktik dokumentasi dan pengarsipan seni di Indonesia. Buku Indonesia Art World ini diharapkan dapat menjadi referensi penting bagi sejarawan seni, akademisi, pelajar, dan publik luas, sekaligus memperluas pemahaman publik tentang lanskap seni rupa kontemporer Indonesia dari perspektif yang personal, mendalam, dan juga historis. (zk)

BANTUL – Bulan Juli mendatang, kabupaten Bantul akan merayakan hari jadinya yang ke-194. Sejumlah acara pun telah dipersiapkan untuk menyambut momen spesial ini.

Namun, ada satu hal unik yang akan mulai diperkenalkan pada perayaan ke-194 ini, yakni diluncurkannya slogan baru untuk kabupaten Bantul.

Selama ini kabupaten Bantul dikenal dengan slogan “Projotamansari”, yang merupakan singkatan dari “Produktif-Profesional, Ijo Royo-royo, Tertib, Aman, Sehat, Asri”. Nah mulai tahun 2025 ini, atau ketika kabupaten Bantul menginjak usia ke-194 tahun, Bantul akan memiliki slogan baru, yang bernama “Bantul Bumi Ksatria”.

Hal ini disampaikan oleh Bupati Bantul, Abdul Halim Muslih, dalam Jagongan Bupati Bantul Bersama Para Pegiat Media Sosial di Kawasan Manding, Kamis (12/6/2025).

Menurut Halim, “Bantul Bumi Ksatria” adalah simbol bahwa Bantul merupakan wilayah yang sering menjadi lokasi (basecamp) para ksatria untuk bersembunyi sebelum melakukan aktivitas peperangan melawan musuh pada jaman kolonial Belanda.

“Kita ingin melakukan satu rekayasa sosial, karena kehidupan kita ini memerlukan satu perubahan yang cepat, terutama untuk para Gen Z atau generasi muda, yang merupakan titisan atau penerus para ksatria di kabupaten Bantul,” ujar Halim di Manding, Bantul, Kamis (12/6/2025).

Slogan ini diharapkan akan menjadi instrumen rekayasa sosial bagi generasi muda, terutama yang sudah terjangkit penyakit mental, agar bisa bersaing di kancah global, yang saat ini semakin tidak mengenal batasan.

“Disini kita ingin kembali mengingatkan anak-anak muda di Bantul, bahwa kalian adalah titisannya (penerus) para ksatria, maka tidak pantas jika kemudian para titisan ksatria ini melakukan tawuran, klithih, berani dengan orang tua, berani dengan guru, mutungan, baperan, tidak punya prestasi, dan sebagainya. Itu pesan yang ingin kita sampaikan kepada generasi muda kita,” tambah Halim.

Halim menyatakan percuma ketika pemerintah bekerja keras dan menghabiskan anggaran untuk membangun jalan, irigasi, lampu penerangan, atau fasilitas penunjang lainnya, apabila sumber daya manusianya malah tidak mengalami perubahan ke arah yang positif, apalagi malah terjangkit masalah mental.

Selain peluncuran slogan baru, perayaan HUT kabupaten Bantul ke-194 juga akan dimeriahkan dengan beberapa acara pendukung, diantaranya launching hari jadi tanggal 17 Juni di Pendopo Parasamya, lalu Bantul Fun Run yang diikuti oleh lebih dari 3.000 peserta, kemudian ada karnaval budaya, gebyar seni dan budaya, Bantul Creative Expo tanggal 26 Juli-5 Agustus 2025, hingga puncak acara sekaligus deklarasi “Bantul Bumi Satria” pada tanggal 20 Juli 2025. (zk)

BANTUL – Di tengah maraknya kasus kriminalitas, vandalisme, maupun kenakalan yang dilakukan oleh para remaja, khususnya anak-anak sekolah, banyak cara yang sudah dilakukan oleh berbagai pihak. Salah satunya adalah kebijakan yang dilakukan oleh Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, yang belakangan ini ramai diperbincangkan di jagat media sosial, yakni dengan mengirim anak-anak “bermasalah” tersebut ke Barak Militer, baik di Kodam (Komando Daerah Militer), Kodim (Komando Distrik Militer), dan semacamnya. Sehingga diharapkan anak-anak tersebut akan keluar menjadi sosok yang “berbeda” setelah dilatih tentang kedisiplinan, pola hidup, dan sebagainya oleh para prajurit TNI.

Namun rupanya, kebijakan ini tidak benar-benar disetujui oleh pejabat daerah lainnya. Salah satunya di kabupaten Bantul.

Dalam acara Jagongan Santai Bupati Bantul Bersama Para Influencer yang diadakan di Kawasan Manding, Bantul, Bupati Bantul, Abdul Halim Muslih menilai kebijakan semacam ini terbilang cukup baik, hanya saja kurang terkoordinasi serta tidak ada landasan hukumnya, sehingga rentan menimbulkan polemik di DPR RI dan juga Komisi Perlindungan Anak (KPAI).

Alih-alih menerapkan kebijakan mengirimkan pelajar bermasalah ke barak militer, Pemda Bantul, kata Halim, akan menerapkan hal sebaiknya, yakni akan mengirimkan awak TNI ke seluruh sekolah yang ada di kabupaten Bantul, mulai dari tingkat SD hingga SMA. Selain menekan biaya, mengirimkan anggota TNI ke sekolah juga lebih mudah dilakukan, dan bisa dilaksanakan secara berkala. Berbeda dengan program Barak Militer yang hanya berlangsung selama beberapa minggu saja.

“Rencananya bukan anak-anak yang akan kita kirim ke Barak militer, tapi TNI yang akan masuk ke sekolah. Saat ini program tersebut masih kita petakan terkait pelaksanaannya seperti apa,” kata Abdul Halim Muslih di hadapan para influencer di kabupaten Bantul, Kamis (12/6/2025).

Meskipun hendak menerapkan aturan yang berbeda, namun Halim mengakui bahwa anak-anak zaman sekarang sudah semakin meresahkan, dan pemerintah pun harus hadir untuk memberikan bantuan kepada para orang tua, yang sudah terang-terangan tidak sanggup untuk mendidik anaknya ke jalur yang seharusnya.

“Tetapi jika program itu (TNI masuk sekolah) tidak diperlukan, dalam artian penanganan anak bermasalah itu sudah bisa ditangani oleh guru BP di sekolah masing-masing, maka opsi tadi akan menjadi opsi kedua atau ketiga,” tambah Halim.

Terkait jadwal pelaksanaannya, Bupati mengungkapkan bahwa kebijakan ini masih perlu pengkajian yang lebih dalam, sehingga membutuhkan waktu untuk bisa benar-benar menerapkannya kepada masyarakat. (zk)

KULON PROGO – JT – Seni sastra adalah suatu media untuk menyampaikan gagasan, rasa dan ekspresi melalui sebuah karya. Seni sastra perlu untuk digeliatkan dan dihidupkan kembali. Mengingat seni sastra adalah aspek penting dalam seni budaya.

Tri Wahyuni, pemuda asal Kulon Progo, memiliki komitmen kuat untuk menggerakkan sastra. Ia merupakan pendiri komunitas sastra Regas yang berfokus pada pelestarian sastra. Ia juga diamanahi menjadi Diajeng Kulon Progo, Duta Pemuda Kulon Progo, dan Duta Bahasa DIY. Tidak hanya itu, saat ini ia mendapatkan tambahan amanah sebagai Pemuda Pelopor Seni Budaya DIY 2025 berkat kepeloporannya di bidang seni budaya melalui sastra.

“Saya tidak menyangka akan menjadi juara 1 pemuda pelopor seni budaya 2025. Bagi saya, dengan ada atau tidaknya suatu penghargaan, saya akan terus bergerak untuk melestarikan seni budaya khususnya sastra,” kata Tri Wahyuni kepada JT (02/6/2025) di Tubin Sidorejo Lendah Kulon Progo, rumah sekaligus sekretariat Regas.

Ajang pemuda pelopor ini awalnya dilaksanakan tingkat Kabupaten kemudian lanjut ke tingkat Provinsi dan Nasional. Tri Wahyuni lolos menjadi pemuda pelopor tingkat Kabupaten dan tingkat Provinsi. Selanjutnya ia akan persiapan untuk seleksi selanjutnya menuju tingkat nasional.

Tri Wahyuni memohon doa dan dukungan kepada seluruh masyarakat agar nantinya bisa memberikan yang terbaik. Untuk kepeloporan Tri Wahyuni dapat diamati di Instagram @yuni_writermer dan @sastra_regas. Dengan kepeloporannya ia berharap mampu berperan aktif sebagai pemuda yang menjaga nyala seni budaya melalui sastra. (ATG)

YOGYAKARTA – JT – Untuk kesekian kali, Sastra Bulan Purnama, Tonggak Pustaka, dan DPRD DIY menyelenggarakan diskusi buku berjudul ‘(Lansia) Indonesia Tanpa Ruang Publik’. Buku ditulis oleh 25 lansia yang tinggal di kota berbeda di seleuruh Indonesia.

Para penulis berasal dari Jakarta, Bekasi, Bandung, Semarang, dan Yogyakarta. Adapun diskusi berlangsung pada Sabtu (25/5/2025) pukul 12.00 di Ruang Paripurna 2, Lantai 2 Gedung DPRD DI Yogyakarta, Jalan Malioboro. Peserta diskusi dibatasi hanya 75 orang yang mendaftar dan penuh.

Turut mendukung diskusi, PT. Luas Birus Utama dan Paguyuban Wartawan Sepuh. Keduanya, sebut saja sebagai mitra Sastra Bulan Purnama, karena beberapa penulis dalam buku ini sekaligus anggota Paguyuban Wartawan Sepuh Yogyakarta.

Dr. Harris Susanto, direktur PT. LBU, mempunyai perhatian terhadap pengembangan literasi, dan sudah beberapa kali mendukung kegiatan Sastra Bulan Purnama.  Perihal buku ini, Harris menyebutkan, di usia lansia, aktivitas menulis masih terus dilakukan, artinya pikiran tidak dibiarkan berhenti bekerja. Sebaliknya dijaga agar terus digunakan, sehingga dalam usia tua, pikiran tetap waras.

“Saya kira, lansia perlu terus diberi ruang, agar kreativitasnya tetap terjaga. Menulis merupakan salah satu aktivitas yang baik, di antara aktivitas baik lainnya. Hal yang menarik, menulis lebih banyak menggunakan pikiran, dan menulis perlu banyak membaca, tanpa memiliki tradisi membaca, tulisannya akan terasa kering,” kata Harris Susanto.

Diskusi akan menghadirkan 3 narasumber, Fajar Gagana, S.T, anggota DPRD DIY/Fraksi PDIP, Prof. Dr. Drg. Ahmad Syaify, Sp Perio, Subsp RPID (K) FISID, Guru Besar Fakultas Kedokteran UGM dan Genthong HSA, sutradara dan penulis naskah. Moderator Sinta Herindrasti, MA, Pengajar Prodi HI, Fisip Universitas Kristen Indonesia, Jakarta.

Ons Untoro, koordinator diskusi mengatakan, diskusi buku lansia ini merupakan diskusi kedua yang diselenggarakan tiap bulan Mei. Pada bulan Mei tahun lalu buku yang diterbitkan berjudul ‘Kita Lansia: Terus berkarya, Bahagia, Penuh Berkah’ ditulis oleh 33 lansia dari berbagai kota. Bulan Mei 2025, para lansia kembali menulis dan bukunya diberi judul ‘(Lansia) Indonesia Tanpa Ruang Publik’.

“Setiap bulan Mei di tahun yang berbeda, para lansia akan terus menulis dan diterbitkan menjadi buku, setidaknya untuk menjaga agar pikirannya, di usia lansia masih tetap waras,” ujar Ons Untoro.

Sebelum diskusi buku ‘Ruang Publik’, dua penyair dari Jakarta dan Semarang, Nia Samsihono, dan Sulis Bambang, yang ikut menulis dalam buku ini, mengawali membaca puisi karya masing-masing.

Sebanyak 25 penulis buku ‘(Lanisa) Indonesia Tanpa Ruang Publik ialah, Ahmad Syaify, Agoes Widhartono, Ahmadun Yosi Herfanda, Anti Soeleman, Dikdik Sadikin, Genthong HSA, Gunawan, Gunoto Saparie, Halim HD, Lies Wijayanti SW, Mustofa W.Hasyim, Nia Samsihono, Ninuk Retno Raras, Ons Untoro, Osmar Tanjung, Ratna Hendarsi, Simon HT, Sinta Herindrasti, Sri Wahyu Wardani, Sulis Bambang, Sumardiyanto, Sunarto, Sutirman Eka Ardhana, Wara Kusharwati, dan Y.B. Margantoro, beberapa diantara turut hadir dalam acara. (HSL)

BANTUL – JT – Mengulang kesuksesan tahun 2025 yang lalu, SMP N 1 Piyungan telah menyelenggarakan bimtek penulisan fiksi, hasilnya luar biasa, karena buku antologi karya siswa peserta bimtek mendapatkan apresiasi dari juri Bantul School Expo 2025 yang diselenggarakan di Satdion Sultan Agung dalam rangka Hari Pendidikan Nasional.

Mengulang kesuksesan tersebut, masih dalam rangka meningkatkan kemampuan literasi siswa SMP Negeri 1 Piyungan, sekolah menyelenggarakan kembali bimtek penulisan, kali ini mengkhususkan pada penulisan artikel, kegiatan Bimbingan Teknis (Bimtek) Penulisan Artikel untuk  Siswa  dilaksanakan pada Kamis dan Jumat, 22 dan 23 Mei 2025, mulai pukul 09.00 – 12.00 WIB di Aula SMP N 1 Piyungan.

Kepala SMP N 1 Piyungan, Lestari, M.Pd., dalam sambutan pembukaan mengatakan bahwa kegiatan ini merupakan salah satu bentuk sumbangsih sekolah untuk turut mendorong indek literasi nasional.

“Indeks literasi negara kita di mata dunia masih rendah, itu dikarenakan minimnya budaya baca dan menulis, maka sejak dini para peserta diperkenalkan dengan dunia tulis menulis, seperti hari ini, bimtek menulis artikel,” jelas Lestari pada Kamis (22/5/2025) di Aula SMP N 1 Piyungan.

Bimtek diselenggarakan selama dua hari, menghadirkan narasumber Tedi Kusyairi alias Bang Tedi Way yang memiliki passion kerja di dunia sastra, teater, film, dan jurnalisme. Pada hari pertama disampaikan paparan materi mengenai teknik menulis artikel, bedanya dengan bentuk tulisan lainnya, dan praktik serta tanya jawab konsultasi penulisan. Peserta diberi tugas untuk menuliskan naskah artikel, lantas di hari kedua dikonsultasikan mulai dari judul dan konsep tulisannya.

“Artikel merupakan salah satu rubrik dalam dunia jurnalistik, kadang agak bias pemahaman dengan opini dan essai, nampak mirip nyatanya detail berbeda. Untuk itu di bimtek kali ini dijelaskan dan praktik nulis agar tahu karakternya,” kata Tedi.

Peserta sejumlah 25 anak pilihan dan pendaftaran dari perwakilan masing-masing kelas. Semua peserta suka menulis, hanya perlu banyak latihan dan wadah untuk mengasahnya.

“Seru banget, walaupun saya sedikit merasa gagal merangkai kata dalam artikel tapi saya senang bisa mendapatkan solusi dan cara memilih kata yang tepat, pokoknya walau itu materi kecil karena hanya sebentar, tapi menurut saya itu akan berguna pada waktu yang akan datang, terimakasih banyak pada sekolah dan Bang Tedi atas bekal ilmunya,” kata Rizka Nur Latifah salah satu peserta.

Usai pelatihan selama dua hari itu, siswa peserta bimtek diberi tugas untuk menulis artikel. Secara online akan dikonsultasikan ke Bang Tedi Way melalui whatsapp kemudian nantinya akan diterbitkan buku antologi.

“Setiap peserta dibebaskan dalam hal tema, sesuai dengan minat pada topik apa yang akan ditulis. Ini untuk merangsang siswa ikut memikirkan hal-hal yang ada disekitarnya, turut menyubangkan pemikiran melalui tulisan,” pungkas Lestari. (HSL)

BANTUL – JT – Sebanyak 260 Siswa Taruna Mandala Widya SMKN 1 Pleret Bantul mengikuti kegiatan Kenaikan Tingkat 3 yang diselenggarakan pada Kamis (22/5/2025). Kegiatan ini merupakan agenda rutin yang bertujuan untuk membentuk karakter disiplin, tangguh, serta jiwa kepemimpinan para taruna.

Dalam kegiatan kali ini, para taruna melaksanakan long march sejauh 10 kilometer dari SMKN 1 Pleret menuju Kodim 0729 Bantul. Rute perjalanan melintasi wilayah-wilayah strategis di Kabupaten Bantul, dengan pengamanan dan pengawalan yang melibatkan unsur dari TNI, Polsek setempat, serta dukungan dari masyarakat.

Setibanya di Kodim 0729 Bantul, para taruna disambut langsung oleh perwakilan Komando Distrik Militer dan mengikuti upacara penyematan tanda kenaikan tingkat. Kegiatan ini sekaligus menjadi simbol pencapaian serta pengukuhan integritas dan loyalitas.

Kepala SMKN 1 Pleret, Elyas S.Pd menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan bagian penting dalam pembentukan karakter siswa.

“Kami ingin membentuk generasi muda yang tidak hanya unggul dalam kompetensi kejuruan, tetapi juga memiliki kedisiplinan, semangat nasionalisme, serta kepedulian terhadap lingkungan sosial,” ujarnya.

Kegiatan berlangsung lancar, aman, dan penuh semangat. SMKN 1 Pleret Bantul berkomitmen untuk terus mendukung program-program yang mendukung pembinaan karakter dan kepemimpinan generasi muda melalui kegiatan positif dan terarah.

Program ini merupakan program unggulan SMK negeri 1 Plered dan satu-satunya sekolah yang menerapkan program  melalui pengembangan karakter di kabupaten Bantul. (RYN)