GUNUNGKIDUL – Warga sekitar Lapangan Desa Logandeng ramai-ramai berdatangan ke Lapangan Desa Logandeng di kawasan Plembon Kidul, Kalurahan Logandeng, kecamatan Playen, Kabupaten Gunungkidul, DIY, Sabtu siang (11/10/2025), untuk menjadi saksi pembukaan Festival Kebudayaan Yogyakarta (FKY) 2025 di kabupaten Gunungkidul.

Rangkaian pembukaan dimulai dengan Pawai Rajakaya yang dilepas oleh Kepala Bidang Adat Tradisi, Lembaga Budaya, dan Seni Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) DIY, Padmodo Anggoro Prasetyo, didampingi oleh Rosanto Bima Pratama selaku Programmer Pawai. Pawai berangkat dari Pasar Ternak Siyono menuju Lapangan Desa Logandeng pada pukul 14.30 WIB. Warga setempat mulai dari anak-anak hingga dewasa pun turut antusias menyaksikan pawai di sepanjang rute.

Pawai Rajakaya yang diawali dengan upacara adat Gumbregan ini menghadirkan simbol agraris yang merefleksikan hubungan manusia, hewan dan alam, sekaligus memperlihatkan daya hidup tradisi di tengah festival. Pawai ini diikuti oleh 5 sapi dan 31 kambing dari empat kabupaten dan satu kota di DIY, yang turut dihiasi dengan ubo rampe dan kupat gantung, serta diiringi oleh para peternak, keluarga, dan komunitas lokal.

Setelah itu, para peserta pawai dan penampil mempersembahkan Ritus Gerak “Swasti Wijang”, yaitu doa yang diwujudkan dalam bentuk artistik, sekaligus merefleksikan hubungan suci antara manusia, hewan ternak, dan alam semesta. Selanjutnya pada sore hari, penampilan Campursari SRGK dan Dhimas Tedjo turut memeriahkan suasana pembukaan.

Dalam sambutannya, Gubernur DIY yang diwakili oleh Ni Made Dwipanti Indrayanti selaku Sekda DIY menyampaikan bahwa tema “Adoh Ratu, Cedhak Watu” yang diusung dalam FKY 2025 ini bukan sekadar permainan kata, melainkan cermin dari realitas yang terjadi di masyarakat sehari-hari.

“Tema ini (Adoh Ratu, Cedhak Watu) adalah tentang bagaimana kita sebagai manusia dapat saling mengisi satu sama lain, mengolah daya, membangun kemandirian, dan melahirkan kebudayaan yang berakar kuat namun tetap lentur menghadapi perubahan zaman,” ujar Ni Made.

Senada dengan Ni Made, Sekda Kabupaten Gunungkidul Sri Suhartanta menegaskan bahwa Kebudayaan bukan barang usang yang ditinggalkan di museum, melainkan adalah ruh kehidupan yang harus dihidupkan, diadaptasikan, dan dijadikan kekuatan untuk membangun masa depan.

“FKY menjadi ruang yang sangat baik untuk menjaga agar nilai-nilai luhur tetap hidup, berkembang, dan memberi manfaat dalam kehidupan sehari-hari, serta menunjukkan bahwa kebudayaan adalah sumber inspirasi, kreativitas, dan ketahanan bangsa,” kata Sri Suhartanta.

Selama FKY 2025 yang berlangsung dari tanggal 11-18 Oktober 2025 ini, para pengunjung dapat mengikuti berbagai program yang tersedia di Lapangan Logandeng maupun beberapa lokasi lainnya di sekitaran Logandeng, seperti Pameran Gelaran Olah Rupa yang telah dibuka sejak Jumat (10/10/2025). Lalu ada pula FKY Bugar, Panggung FKY, Pasaraya Adat Ruwang Berdaya, Pawon Hajat Khasiat, FKY Rembug, serta berbagai kompetisi seperti Panji Desa, Rajakaya, dan juga Jurnalisme Warga.

Seluruh program FKY 2025 bersifat terbuka dan gratis untuk umum. Pengunjung pun dapat melihat agenda harian festival melalui media sosial Instagram dan X di @infofky dan juga website FKY di fky.id. (zk)

GUNUNGKIDUL – Gelaran Olah Rupa sebagai salah satu bagian dari program pada Festival Kebudayaan Yogyakarta (FKY) 2025 resmi dibuka pada Jumat (10/10/2025) berlokasi Lapangan Desa Logandeng, Plembon Kidul, Kalurahan Logandeng, Kapanewon Playen, Kabupaten Gunungkidul, Provinsi DIY.

Pembukaan secara simbolis dilakukan dengan penancapan dupa oleh Kepala Dinas Kebudayaan Kundha Kabudayan DIY Dian Lakshmi Pratiwi, kurator pameran Karen Hardini dan Tomi Firdaus, co-kurator pameran Ghofur S, dan Lurah Desa Logandeng Suhardi.

Prosesi dimulai dengan pembawaan Tari Pisungsung dari Sanggar Swastiastuti, kemudian muncul lima penari perempuan yang naik ke atas panggung dengan membawa bakul kecil berisi bunga tabur. Pertunjukan ini adalah simbol makna kesinambungan antara manusia, alam, dan Tuhan.

Kepala Dinas Kebudayaan Kundha Kabudayan DIY Dian Lakshmi Pratiwi dalam sambutannya menyampaikan bahwa rebranding FKY yang memasuki tahun ketiga dengan Gunungkidul sebagai tuan rumah ini haruslah benar-benar melibatkan masyarakat setempat sebagai pemilik festival kebudayaan ini.

“Pada tahun ketiga rebranding FKY tahun ini di Gunungkidul, kami harus mampu menghadirkan festival kebudayaan yang dalam proses dan praktiknya benar-benar melibatkan masyarakat di mana festival itu berada, alias masyarakat Gunungkidul itu sendiri,” ujar Dian, Jumat (10/10/2025).

Pratiwi melanjutkan bahwa Pameran “Gelaran Olah Rupa” tidak hanya sebuah pesta yang bisa ditonton oleh masyarakat, tapi juga sebagai kolaborasi ide dan kerja yang diolah bersama antara seniman, kurator, masyarakat, dan lokasi festival berada, yang terbentuk secara intens dan terus berlangsung, termasuk setelah event FKY ini berakhir.

Pameran bertajuk “Gelaran Olah Rupa” ini menghadirkan seni visual dengan spirit Bertamu–Perjumpaan, yang di dalamnya mengadakan ruang untuk berdialog, berbagi kisah, dan merawat hubungan sosial. Tradisi bertamu dalam budaya Jawa menjadi latar belakang dari pameran ini. Bertamu ini pun tidak sekadar hanya kunjungan secara fisik, melainkan juga wujud tata krama, adab, dan penghormatan kepada tuan rumah. Melalui praktik bertamu, para seniman menegosiasikan batas antara yang lokal dan yang datang, dan antara pengetahuan sehari hari dan wacana seni kontemporer.

Sebagai salah satu program dari Festival Kebudayaan Yogyakarta, Pameran “Gelaran Olah Rupa” berlangsung dari tanggal 11-18 Oktober 2025 mulai pukul 10.00-21.00 WIB di Lapangan Desa Logandeng, Gunungkidul. Pameran ini terbuka untuk umum, di mana para seniman mengolah, menampilkan, dan mengundang publik untuk bertamu, bertemu, dan ikut terlibat ke dalam ruang kerja yang “hidup” para seniman ketika mereka mengolah karya. (zk)

BANTUL – Perhelatan Festival Kebudayaan Yogyakarta (FKY) akan kembali digelar pada tahun 2025 ini, atau yang ke-36 sejak pertama kali diselenggarakan pada 1989 silam. FKY 2025 akan berpusat di Lapangan Logandeng, kecamatan Playen, kabupaten Gunungkidul, DIY pada 11-18 Oktober 2025 mendatang.

Pada edisi tahun ini, FKY mengangkat tema besar “adat istiadat” dengan tajuk “Adoh Ratu, Cedhak Watu”, yang berarti jauh dari raja/pemimpin, tapi dekat dengan batu (alam).

Dalam pemaparannya, Kepala Dinas Kebudayaan DIY, Dhian Lakshmi Pratiwi, sebagai stakeholder inti dari penyelenggaraan FKY, mengaku siap kembali menyelenggarakan FKY 2025 di Gunungkidul, sebagai bagian dari selebrasi budaya yang melibatkan seluruh lapisan masyarakat dari berbagai usia.

“Kegiatan apapun yang kemudian menjadi bagian dari adat istiadat dan tradisi, pada dasarnya adalah satu upaya untuk memaknai dan menguatkan kembali hubungan antar manusia, manusia dengan alam, dan tentu saja manusia dengan Tuhannya,” ujar Dhian dalam konferensi pers di salah satu hotel di kawasan Banguntapan Bantul, Sabtu (4/10/2025).

Dhian menambahkan, meskipun tajuk FKY adalah festival budaya, namun FKY tidak semata-mata hanya sebuah festival budaya, melainkan juga bagaimana seluruh masyarakat, dalam hal ini masyarakat DIY khususnya Gunungkidul sebagai tuan rumah, dapat berkumpul bersama-sama melaksanakan aktivitas budaya yang dapat mempererat persaudaraan dan juga persatuan.

“Ini akan menjadi tantangan besar bagi kita semua, bagaimana kemudian menterjemahkan festival dengan tematik adat dan tradisi, tetapi tidak melulu hanya sesuatu yang bisa dilihat secara visual saja, melainkan juga dapat dirasakan, dimaknai secara mendalam, sekaligus menjadi perayaan bersama seluruh masyarakat, agar seluruh ide dan gagasan yang ada dapat dituangkan dalam sebuah produk festival yang utuh dan dapat diimplementasikan oleh seluruh masyarakat yang terlibat di dalamnya,” tambah Dhian.

Pada kesempatan yang sama, Ketua Pelaksana FKY 2025, BM Anggana menuturkan selama tanggal 11-18 Oktober pelaksanaan FKY 2025, terdapat beberapa sub-acara unggulan, yakni Pawai Pembukaan, Kompetisi FKY diantaranya Panji Desa, Ternak Sehat, Jurnalisme Warga, Jelajah Budaya yang terdiri dari Telusur Tutur, Lokakarya, dan Sandiswara, Pameran FKY, Panggung FKY, FKY Bugar, Pasaraya Adat “Ruwang Berdaya”, Pawon Hajat Khasiat, dan juga FKY Rembug yang berisi program bernama Wicara, Siniar, dan Wedangan.

“Tahun ini adalah tahun ketiga dari roadmap rebranding lima tahun FKY, jadi sejak 2023 kami melakukan formulasi bagaimana festival yang sudah berumur 36 tahun ini, dari yang awalnya festival kesenian kemudian berubah menjadi kebudayaan, agar tetap selalu up-to-date dengan situasi terkini yang terjadi di masyarakat,” tutur BM Anggana.

Menurut BM Anggana, pemilihan Gunungkidul sebagai lokasi berikutnya dari roadmap lima tahunan FKY adalah sesuatu yang sangat tepat untuk penyelenggaraan tahun ini, karena persoalan tentang adat istiadat ini sudah menjadi jatahnya kabupaten Gunungkidul.

Sementara itu, Kus Yuliadi dari Steering Comitee FKY 2025 menyampaikan bahwa setelah berdiskusi panjang dengan BM Anggana selaku Ketua Pelaksana FKY dan juga teman-teman panitia yang lain, disimpulkan bahwa Gunungkidul masih memegang erat budaya tradisi dan adat istiadat, serta kecenderungan bahwa adat istiadat masih sangat dibutuhkan untuk bisa menyatukan kembali masyarakat Jogja secara keseluruhan, khususnya di tengah situasi politik yang masih cukup panas.

“Salah satu yang ditawarkan dalam FKY 2025 nanti adalah karnaval budaya, dimana kegiatan ini dapat menawarkan satu pelajaran penting agar masyarakat bisa kembali pada ekosistem adat istiadat untuk menemukan jati diri atau identitasnya yang sebenarnya,” kata Kus Yuliadi.

Melalui kerja bersama seluruh lapisan masyarakat diantaranya panitia pelaksana/programmer, pelaku budaya/seniman, serta komunitas lokal di Gunungkidul dan juga stakeholder terkait. Semua pihak saling bersinergi untuk mensukseskan penyelenggaraan FKY di Gunungkidul tahun ini. Sehingga warga sekitar tidak sekedar menjadi penonton pasif yang hanya menikmati jalannya festival, melainkan juga turut aktif menghidupkan dan mengimplementasikan pengetahuan adat istiadat yang tumbuh di tanah mereka sendiri. (zk)

YOGYAKARTA – SPJ – Dinas Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (Dinkop UKM) DIY bersama Polda DIY, memberikan pendampingan terhadap perwakilan pengurus Koperasi Desa Merah Putih, Kamis (25/9/2025).

Kepala Dinkop UKM DIY, Agus Mulyono mengatakan pelatihan dan pendampingan ini terkait dengan kelembagaan dan pembekalan. Sehingga operasional di lapangan berjalan sesuai dengan yang direncanakan.

“Pendampingan ini sebagai upaya peningkatan dan penguatan kelembagaan Kopdes Merah Putih di DIY,” kata Agus, di sela acara.

Menurutnya, saat ini kelembagaan sudah terbentuk di semua kelurahan, di 438 kalurahan se-DIY.

Ke depan, pihaknya terus mendorong untuk bagaimana nanti unit usaha yang ada di koperasi itu bisa berjalan.

Agus berpesan Koperasi Merah Putih bisa berjalan dengan penuh kehati-hatian, serta jangan sampai masuk ke ranah hukum.

Sehingga pendampingan dari Polda sangat penting, agar menyentuh ranah hukum.

Tantangan ke depan, menurut Agus seluruh Koperasi Desa Merah Putih harus memenuhi tujuh unit kegiatan usaha yang harus dikembangkan dengan skema dari masyarakat untuk masyarakat.

“Pengurus koperasi Merah Putih jangan terburu-buru meminjam pembiayaan ke perbankan dan sebagainya. Usaha yang ada dulu walaupun itu kecil, itu bagian yang dikembangkan, diusahakan dan diupayakan,” tandasnya.

Sementara itu, Kasubdit 2 Ditintelkam Polda DIY AKBP Shandy W.G Suawa, SP, SIK, MH menambahkan Polda DIY mendukung penuh program Presiden Prabowo Subianto terkait Koperasi Merah Putih.

“Salah satu wujud dukungannya yakni melakukan asistensi dan pendampingan kepada pengurus Koperasi Merah Putih yang ada di tingkat desa. Ini untuk menghindari hal-hal berkaitan dengan hukum,” pungkasnya. (TKS)

Bantul – JT – Balai Penyuluhan KB Kapanewon Bantul bekerja sama dengan Pemerintah Kalurahan Sabdodadi, melaunching Gerakan Ayah Teladan Indonesia (GATI). Kegiatan ini merupakan salah satu program percepatan (quick win) Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga. Kehadiran quick win GATI ini mencoba memberi dorongan agar para ayah dan calon ayah mulai memiliki kepedulian untuk melibatkan diri dalam pengasuhan anak serta pendampingan remaja. Kegiatan dilaksanakan hari minggu, 28 September 2025 (25/9/2025) mulai pukul bertempat di Aula Kalurahan Sabdodadi, Bantul.

Kegiatan ini menjadi penting karena menurut data UNICEF tahun 2021 menunjukkan 20,9% anak di Indonesia tidak memiliki figur ayah dan survei dari Badan Pusat Statistik (BPS) pada tahun yang sama menunjukkan bahwa hanya 37,17% anak usia 0–5 tahun yang dibesarkan oleh kedua orang tua secara bersamaan.

“Padahal, peran ayah dalam keluarga memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap perkembangan anak, baik secara emosional, kognitif dan sosial. Anak cenderung mengalami masalah akademik,” tegas Koordinator PKB Kap. Bantul Nurwendah Dwi R., S.T.P., M.M. dalam sambutannya.

Lebih lanjut Kepala Perwakilan BKKBN DIY Mohammad Iqbal Apriansyah, S.Sos., M.P.H. mengatakan bahwa pelaksanaan Program GATI diukur dengan 5 indikator, yaitu kegiatan pelayanan konseling dan konsultasi, membentuk konsorsium ayah teladan, pendekatan berbasis komunitas di tingkat kalurahan, pendekatan melalui sekolah (SEBAYA), serta cakupan ayah dan calon ayah yang mendapatkan materi terkait pengasuhan anak dan pendampingan remaja.

“Berdasarkan laporan evaluasi capaian GATI DIY bulan Juli 2025 menunjukkan data capaian ayah dan calon ayah yang memperoleh pengetahuan pengasuhan balita dan pendampingan remaja di Kabupaten Bantul hingga awal bulan Juli 2025 sebesar 5,56% dan untuk Kapanewon Bantul 17,78%. Dari laporan evaluasi tersebut juga belum ditemukan komunitas ayah teladan di Kabupaten Bantul. Komunitas penggiat Ayah Teladan di Kabupaten Bantul baru terdapat 1 komunitas yang dilaunching bersamaan dengan peringatan World Contraceptive Day di di bulan September,” jelas M. Iqbal Apriansyah.

Lebih lanjut Apriasnyah mengungkapkan bahwa orang tua khususnya Ayah memiliki tugas yang mungkin hanya 27% bagi anak, namun yang sejumlah tersebut menjadi penting, sebagai salah satu figur yang dicontoh anak-anaknya. Kesadaran sosok ayah yang sangat berpengaruh pada emosional anak, yang mengerikan adalah banhwa tindak kriminalitas usianya semakin muda, ini menjadi indikator terkait berbagi peran ayah dan ibu dalam sebuah keluarga.

“Jangan menjadi kebiasaan ibu memarahi anak, kok ayah juga memarahi anak, ini akan erpengaruh pada psikologi anak, harapannya kegiatan ini bisa menjadi pelecut bagi para ayah untuk berperan aktif dalam keluarga,” kata Apriansyah lebih lanjut.

Melihat pentingnya pengasuhan oleh ayah bagi balita dan remaja serta pencapain terhadap kualitas pelayanan dan kinerja organisasi, maka Penyuluh KB perlu melaksanakan program GATI dengan serius. Perlu adanya inovasi pelaksanaan program agar program dapat terealisasi maksimal dan secara nyata memberikan manfaat untuk masyarakat.

Menurut Lurah Sabdodadi, Siti Fatimah mengatakan bahwa Tim Penyuluh KB Kapanewon Bantul bersama Pemerintah Kalurahan Sabdodadi, Babinsa, dan Bhabinkamtibmas Sabdodadi telah melaksanakan Komunikasi, Informasi, dan Edukasi (KIE) Program GATI secara masif selama bulan Agustus dan September di wilayah Kalurahan Sabdodadi.

“KIE dilaksanakan kepada seluruh lapisan masyarakat melalui berbagai komunitas masyarakat desa seperti paguyuban linmas, paguyuban bamuskal, paguyuban dukuh, musyawarah kampung, pertemuan arisan bapak-bapak, rapat RT, kelompok dzikir, hingga karangtaruna. Melalui kegiatan KIE dimaksud, telah berhasil menggugah semangat masyarakat untuk membentuk sebuah komunitas penggiat ayah teladan yang anggotanya berasal dari wakil masing-masing kelompok yang sudah mendapatkan KIE,” ungkap Fatimah.

Komunitas ini mengambil nama “GADJAH MADA” yang merupakan akronim dari Gerakan Ayah demi Kesejahteraan Masa Depan Anak. Selanjutnya komunitas ini perlu untuk segera dikukuhkan sehingga keberadaannya akan kuat secara hukum. Selain itu, perlu diberikan penguatan materi sehingga anggota komunitas akan memiliki modal kuat dalam menyebarluaskan Gerakan Ayah Teladan Indonesia (GATI).

“Komunitas ini merupakan respon aktif masyarakat atas program Komunikasi, Informasi, dan Edukasi oleh Tim Penyuluhan KB Kapanewon Bantul yang sudah dilaksanakan pada waktu sebelumnya,” ungkap Penyuluh KB Sabdodadi Rohmaida Lestari, S.E.

Tujuan kegiatan ini diantaranya untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat dan mitra tentang Gerakan Ayah Teladan Indonesia (GATI), memberikan pengakuan dan penghargaan kepada masyarakat yang tergabung dalam komunitas penggiat ayah teladan.

Kegiatan ini nantinya diharapkan bisa menghasilkan peningkatan pengetahuan masyarakat dan mitra tentang Gerakan Ayah Teladan Indonesia (GATI), terbentuknya secara resmi komunitas penggiat ayah teladan di kalurahan Sabdodadi dan terlaksananya peningkatan KIE terkait peran ayah dalam pengasuhan anak oleh komunitas “GADJAH MADA” di wilayah Sabdodadi khususnya dan Kapanewon Bantul umumnya.

Kegiatan ditutup dengan pemaparan materi dengan tema ‘Penguatan Peran Ayah dan Peran Komunitas Dalam Pengasuhan Anak Balita dan Pendampingan Remaja’, dengan narasumber Prof. Dr. Dody Hartanto, M.Pd (Guru Besar Ilmu Bimbingan dan Konseling Keluarga Universitas Ahmad Dahlan).

“Perlu cara yang lebih pas dalam menyampaikan informasi ke anak, dalam hal marah juga, karena anak jaman ini berbeda dengan masa lalu, cara memberikan nasehat juga lain bagi anak generasi media sosial yang penuh gambaran posistif dan negatif, anak lebih banyak menyerap info dari gadget, ketimbang dari orang tua,” jelas Dody Hartanto.

Kedepannya diharapkan banyak komunitas Gerakan Ayah Teladan Indonesia ini, bisa menjamur di seluruh DIY khususnya dan Indonesia pada umumnya. (TKS)

 

Sleman – JT – Ratusan Ormas yang tergabung dalam Komunitas Satuan Tim Anti Kriminalitas (STAK) Yogyakarta menggelar apel bersama. Acara di gelar di Taman Kuliner Condongcatur. Sabtu (13/9/2025).
Sigit Susanto atau Cemo saat dikonfirmasi awak media menjelaskan bahwa kegiatan April ini sebagai bentuk untuk menciptakan harkamtibmas di wilayah Yogyakarta khususnya dan wilayah masing masing-masing masing pada umumnya.

“Hari ini apel paling besar selama ada kegiatan apel,” jelasnya.

Sementara itu Kapolresta Sleman yang diwakili oleh Kabag Ops. Polresta Sleman Kompol Masnoto saat memberikan pengarahan menyampaikan ucapan terimakasih kepada STAK yang telah berhasil dalam membantu menciptakan suasana Kamtibmas di Wilayah Yogyakarta khusunya di Sleman.

“Kapolresta Sleman mengucapkan terimakasih kepada STAK yang telah turut serta membantu dalam menciptakan suasana kamtibmas di lingkungan sampai saat ini,” jelasnya.

Lebih lanjut Masnoto juga mengajak kepada seluruh anggota STAK saat ini memang harus selektif dalam bermedia sosial.

”Kita harus selektif dalam bermedia sosial semoga nantinya STAK bisa turut menyampaikan informasi yang benar dan sesuai dengan fakta dilapangan,” pesannya.

Sementara itu Kasat Pol PP Sleman dalam arahan juga menyampaikan bahwa dalam menjalankan tugas dilapangan nantinya juga berpedoman pada 4J.

”Pedoman 4J diantaranya Jaga Diri, Jaga keluarga, Jaga Warga, dan yang terakhir Jaga Negara,” imbuhnya.

Senanda hal tersebut, juga disampaikan oleh perwakilan Kodim Sleman menyampaikan relawan nantinya bisa berkerja sesuai dengan AD/RT masing–masing. Relawan memang menjadi garda terdepan dalam membantu dan menjaga keutuhan NKRI.

Dalam apel sendiri selain dihadiri oleh perwakilan dari Dandim Sleman, Polsek Depok, Panewu, Kabagops Polresta Sleman, Kasat Pol PP Sleman, dan juga ormas yang tergabung dalam STAK baik dari Yogyakarta maupun dari Jateng. (ATG)

BANTUL – Sebuah gagasan kreatif dari Komunitas Omah Moco berhasil menyatukan hobi membaca dengan keindahan alam. Kegiatan yang diberi nama “Baca Bareng” ini mengajak kita untuk melepaskan diri sejenak dari rutinitas, dan menyelami dunia literasi sekaligus dekat dengan suasana alam.

Kegiatan unik ini berlangsung di Muara Sungai Progo, sebuah lokasi di perbatasan Kulon Progo dan Bantul, yang kian populer berkat hadirnya Jembatan Baru Pandansimo yang tengah viral. Acara ini bukan sekadar ajang berkumpul, melainkan undangan untuk menikmati pengalaman membaca yang berbeda dari biasanya, ditemani hembusan angin sepoi-sepoi dan pemandangan jembatan ikonis sebagai latar.

Digelar pada Sabtu (13/9/2025) mulai pukul 16.00 WIB, peserta cukup membawa buku favorit masing-masing, lalu duduk santai sambil membaca. Konsepnya sederhana: setelah menikmati waktu membaca secara personal, peserta diajak berdiskusi ringan, berbagi wawasan, atau sekadar bercerita tentang bacaan yang menenangkan hati di tengah kebisingan rutinitas.

“Kami ingin menciptakan suasana baru yang asyik dan menarik bagi para peserta. Selain itu, kami juga menawarkan jeda dari kebisingan sehari-hari, serta memberikan kesempatan bagi para peserta untuk mendapatkan ketenangan hati melalui interaksi dan diskusi yang bermanfaat,” tutur Ikhsan, salah satu penggagas kegiatan “Baca Bareng” ini.

Ikhsan menambahkan, tujuan utama kegiatan ini adalah menunjukkan bahwa membaca bukanlah aktivitas membosankan, melainkan cara untuk memperluas wawasan, membangun komunitas, dan menemukan ketenangan diri.

“Seluruh prosesnya dirancang sederhana. Siapa pun boleh ikut, cukup bergabung melalui grup WhatsApp atau datang langsung ke lokasi. Peserta bebas memilih tempat duduk yang nyaman di sekitar area muara sungai, menghabiskan sore bersama buku, lalu berinteraksi dengan sesama pencinta literasi lainnya,” tambah Ikhsan.

Kegiatan “Baca Bareng” akan digelar secara rutin setiap dua pekan sekali. Komunitas Omah Moco pun mengajak siapa pun yang ingin menemukan teman baru, suasana baru, sekaligus ketenangan diri untuk ikut dalam agenda berikutnya. Untuk informasi lebih lanjut dapat dipantau melalui akun Instagram @omahmoco atau Facebook Komunitas Omah Moco.

Ada banyak cara yang bisa dilakukan untuk menumbuhkan kembali kecintaan terhadap literasi, salah satunya adalah dengan melakukannya di alam terbuka, seperti yang dilakukan oleh Komunitas Omah Moco ini. Kreativitas mereka bisa menjadi contoh yang baik, bahwa hal sederhana bisa membawa dampak yang cukup signifikan, kaitannya dalam hal menumbuhkan budaya literasi di kalangan generasi muda, agar bisa kembali mencintai buku. (Saryanti, S.Pd/zk)

SLEMAN – Selama ini, masyarakat khususnya pemeluk agama Kristen atau Katolik mengenal kegiatan peribadatan di gereja di Indonesia yang dominan dengan menggunakan bahasa Indonesia dan iringan organ. Hal ini sangat lazim dilaksanakan di setiap gereja. Namun ternyata, ada beberapa gereja yang memiliki konsep yang cukup berbeda, salah satunya di Daerah Istimewa Yogyakarta. Gereja tersebut adalah Gereja Hati Kudus Yesus Ganjuran, yang kental dengan tradisi enkulturasi dalam peribadatan (misa/Ekaristi), yaitu dengan menggunakan bahasa Jawa dan diiringi oleh alat musik gamelan.

Enkulturasi di Gereja Ganjuran sudah menjadi tradisi rutin dalam perayaan Ekaristi. Berbeda dengan tradisi enkulturasi di Gereja Santo Mikael Pangkalan-Adisutjipto Yogyakarta, yang baru melaksanakan enkulturasi ini sejak 2022 silam. Pelaksanaan enkulturasi ini dilaksanakan tepat di minggu kelima pada bulan yang ditentukan. Sebenarnya, proses enkulturasi sudah dilaksanakan sejak sebelum pandemi (2019), tetapi hanya dilakukan dengan iringan gamelan, serta tidak berbahasa Jawa.

Dalam proses enkulturasi memerlukan niyaga. Niyaga yang bertugas pun tidak hanya dari kalangan orang tua, tetapi juga anak-anak. Namun, ada yang berbeda pada tahun 2025 ini, tepatnya pada Minggu (31/8/2025) lalu. Enkulturasi dalam perayaan Ekaristi yang dilakukan tidak hanya dengan berbahasa Jawa dan diiringi gamelan semata, tapi juga diiringi oleh tarian pada pengiring pembuka dan pengiring persembahan yang ditarikan oleh anggota gamelan anak, yang notabene baru dibentuk pada Januari 2025 lalu.

Niyaga yang tergabung dalam gamelan dewasa, Gamelan Ngesthi Pada, mengiringi hampir seluruh iringan dalam misa, kecuali iringan Komuni. Hal ini karena Iringan Komuni diiringi oleh niyaga gamelan anak. Gamelan anak sendiri adalah program yang baru berjalan tahun ini, seiring dengan pembentukannya yang baru dimulai pada Januari lalu. Meskipun sejatinya sudah pernah eksis pada rentang 2009-2012 silam.

Perayaan ekaristi pada 31 Agustus ini menjadi awal enkulturasi yang langsung menyentuh beberapa aspek budaya sekaligus, yakni bahasa Jawa, gamelan, tarian, dan busana Jawa. Enkulturasi ini menggerakkan semua jenjang usia, mulai dari TK, SD, SMP, SMA, hingga orang tua.

Enkulturasi dengan memasukkan unsur bahasa Jawa ini berawal dari ide Rama Paroki Gereja Santo Mikael Pangkalan-Adisutjipto Yogyakarta pada 2022 lalu, dimana Rm. Martinus Joko Lelono menunjuk Cicilia Nian Erika untuk menghidupkan kembali gamelan dewasa yakni Gamelan Ngesthi Pada.

Setelah itu, pada tahun 2025 ini, program selanjutnya adalah menghidupkan kembali Gamelan Anak Gereja, serta program kerja tari di dalam Gereja. Akhirnya, keempat aspek budaya tadi berhasil dienkulturasikan di Gereja Santo Mikael Pangkalan Adisutjipto Yogyakarta pada akhir Agustus lalu.

Proses enkulturasi selanjutnya masih akan berlanjut pada Minggu (30/11/2025) pukul 08.00 WIB secara luring (offline) di Gereja Santo Mikael Pangkalan-Adisutjipto dan juga secara daring (online) di live streaming channel YouTube Gereja Pangkalan. (zk)

SLEMAN – Perilaku korupsi di negeri ini sudah sangat massif, bahkan cenderung sudah menjadi “budaya” tersendiri, terutama di kalangan pejabat elit.

Namun siapa sangka, aktivitas korupsi tidak hanya terjadi di kalangan pejabat elit saja, tapi juga sudah menyasar ke tingkatan bawah, alias di daerah-daerah terpencil, sekalipun jumlahnya tidak terlalu besar, namun itu juga sudah termasuk ke dalam perilaku korupsi.

Atas dasar itulah, Yayasan Lembaga Kajian Islam dan Sosial (LKiS) mencoba menginisiasi diskusi yang membahas tentang korupsi dari sudut pandang yang berbeda, utamanya tentang korupsi “kecil-kecilan” yang kerap terjadi di daerah, dengan melibatkan masyarakat sipil dari berbagai kalangan.

Dalam kesempatan tersebut, LKiS turut mengundang akademisi, Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), mahasiswa, media, dan pegiat sipil lainnya, dalam diskusi yang bertajuk “Refleksi Partisipasi Masyarakat dalam Transparansi Anti Korupsi” yang berlangsung di kawasan Gamping, Sleman, Selasa (26/8/2025).

Secara khusus, diskusi ini merujuk pada bagaimana praktek-praktek korupsi yang ternyata sudah banyak terjadi di daerah selama bertahun-tahun, namun seolah luput dari perhatian karena jumlahnya yang kecil, maupun cakupannya yang hanya di daerah saja, sehingga kurang menarik bagi pemberitaan nasional.

Menurut salah satu pemateri, Baskoro Waskitho, diskusi ini adalah sarana untuk menginvestigasi lebih jauh tentang cara kerja pemberantasan korupsi, serta mengulik sejauh mana rasa empati publik terhadap penanganan anti korupsi yang sudah berjalan selama ini.

“Disini kita mencoba untuk memantik kembali rasa empati kita terhadap anti korupsi di Indonesia, agar mereka bisa mengetahui bagaimana strategi investigasi penanganan anti korupsi itu sejak awal seperti apa, dan bagaimana peran kita sebagai pelapor untuk penindakan korupsi di lingkup terkecil,.” kata Baskoro yang juga alumni IM-ACA (Indonesia Memanggil Anti Corruption Academy) Batch 3, Selasa (26/8/2025).

Lebih lanjut Baskoro menyampaikan, diskusi ini bertujuan untuk membangkitkan lagi motivasi dari para masyarakat sipil, khususnya di tingkat daerah, untuk ikut mengawasi pergerakan korupsi yang kemungkinan terjadi di lingkungan sekitar.

“Setidaknya (gerakan anti korupsi) itu dimulai dari lingkungan kita sendiri, khususnya yang berpotensi menjadi besar di kemudian hari,” tambah Baskoro.

Selanjutnya, hasil dari diskusi ini akan diteruskan dengan pertemuan lanjutan terhadap pihak-pihak terkait, agar aspirasi dari seluruh masyarakat sipil bisa ikut didengarkan oleh para petinggi yang ada di pusat. (zk)

YOGYAKARTA – Festival Film Pelajar Jogja (FFPJ) tahun 2025 akan kembali digelar. Masih mengusung nuansa perkemahan seperti tahun-tahun sebelumnya, kali ini FFPJ edisi ke XVI atau 16 akan diikuti oleh 50 pembelajar seni film dari berbagai sekolah selama dua hari, yakni pada Sabtu-Minggu, 13-14 September 2025, bertempat di Bumi Perkemahan Wonolelo, Pleret, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, Seluruh partisipan merupakan perwakilan sekolah/komunitas yang karyanya telah terpilih menjadi Nomine Program Kompetisi Nasional FFPJ XVI 2025 serta sejumlah undangan khusus.

Meskipun berlokasi di Jogja, sekolah yang berpartisipasi tidak hanya dari Jogja saja, melainkan juga dari seluruh Indonesia, seperti dari Aceh, Jakarta, Cimahi, Pekalongan, Kebumen, Pati, Klaten, Malang, Batu, Tulungagung, serta tentu saja tuan rumah yakni Bantul, Gunungkidul, Kulon Progo, Sleman dan Yogyakarta. Adapun tidak semua Nomine mengirimkan perwakilannya untuk hadir ke Yogyakarta, karena memiliki kegiatan yang bersamaan di tempat lain.

“Panitia mengundang dan mengharapkan seluruh Nomine untuk bisa hadir. Tetapi tidak semuanya bisa. Ada yang memiliki kegiatan bersamaan. Ada juga faktor lainnya. Yang jelas, hal ini tidak mempengaruhi penilaian terhadap karya mereka yang saat ini masuk penilaian final oleh dewan juri utama,” kata Rahmi, Direktur Eksekutif FFPJ XVI.

Sebelum pelaksanaan perkemahan, rangkaian kegiatan FFPJ XVI akan dimulai sejak tanggal 1 sampai 9 September 2025, dibuka dengan program Sinema Silaturahmi. Kegiatan ini adalah pemutaran film pendek terpilih dari Nomine FFPJ XVI, dan dialog interaktif pasca sesi pemutaran film, dengan menghadirkan narasumber praktisi/akademisi seni film dari Fakultas Seni Media Rekam Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta. Tim panitia melakukan program Sinema Silaturahmi dengan berkeliling ke lima sekolah di wilayah Yogyakarta, yaitu SMKN 1 Pleret Bantul, SMAN 2 Wates Kulon Progo, SMK Muhammadiyah 1 Sleman, SMKN 1 Purwosari Gunungkidul, dan SMA Bopkri 1 Yogyakarta.

Suasana perkemahan FFPJ edisi XV tahun 2024

Rangkaian kegiatan selanjutnya adalah diselenggarakan adalah Sarasehan Film, yang akan membahas Artificial Intelligence (AI) dan Tantangan Produksi Kreasi Film. Narasumber berasal dari akademisi ISI Yogyakarta Latief Rahman Hakim dan aktor film profesional, Dinar Roos. Partisipan kegiatan ini adalah para pelajar tingkat SMA/SMK/MA di Yogyakarta dan sekitarnya. Sarasehan akan diselenggarakan di Kampus Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Yogyakarta, Jumat 12 September 2025.

Partisipan FFPJ XVI sebelum berangkat ke lokasi perkemahan akan mengikuti kegiatan pemutaran film pendek terpilih di Kampus UNU Yogyakarta. Kemudian dilanjutkan dengan pembukaan festival. Setelahnya, partisipan berangkat berbarengan menggunakan bus ke Kampus ISI Yogyakarta. Di Kampus ISI, partisipan akan diajak berdialog tentang Studi Film di Perguruan Tinggi. Tim dari Program Studi Film FSMR ISI Yogyakarta akan memfasilitasi kegiatan. Seluruh kegiatan ini diselenggarakan sejak pagi sampai menjelang sore hari pada Sabtu, 13 September 2025.

Perkemahan FFPJ XVI sendiri akan dimulai pada sore hari pada Sabtu, 13 September 2025. Perkemahan dirancang untuk memfasilitasi partisipan agar proses belajar bersama berjalan lebih santai. Selain itu, kegiatan perkemahan ini juga dapat menghadirkan suasana silaturahmi antarpartisipan yang lebih intensif, sekaligus dapat lebih fokus, karena berkumpul di satu tempat selama dua hari. Nilai-nilai yang terdapat di dalam tema festival tahun ini yaitu Gugur Gunung, akan dipraktikkan selama kegiatan perkemahan ini.

Selama perkemahan, panitia telah menyiapkan rangkaian acara. Di antaranya adalah temu komunitas, lokakarya, sarasehan, studi lingkungan, apresiasi seni, serta pemberian penghargaan untuk karya terpilih dalam program kompetisi nasional. Dua fasilitator dan narasumber utama di perkemahan ini adalah Ghalif Putra Sadewa dan Pius Rino Pungkiawan, praktisi dan akademisi film ISI Yogyakarta.

“Panitia berupaya menyelenggarakan perkemahan film pelajar ini semaksimal mungkin. Harapannya partisipan memperoleh manfaat, tidak hanya tentang segala sesuatu yang berhubungan dengan seni film, tetapi juga nilai-nilai baik yang ada di sebuah perkemahan yang lazim. Salah satunya ya sesuai tema festival tahun ini, Gugur Gunung,” kata Rahmi.

Penyelenggaraan FFPJ XVI 2025 didukung penuh oleh Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta, Kampus ISI Yogyakarta, Kampus UNU Yogyakarta, dan kolaborasi dengan lembaga serta komunitas lainnya. Selain itu juga dibantu oleh para volunteer yang memiliki latar belakang beragam. Kegiatan perkemahan film pelajar nasional diharapkan menjadi salah satu aktivitas yang memberi warna di FFPJ XVI 2025 dan penyelenggaraan di tahun-tahun berikutnya. (zk)