YOGYAKARTA – Kepolisian Daerah Istimewa Yogyakarta (Polda DIY) merilis hasil Analisa dan Evaluasi (Anev) pelaksanaan Operasi Keselamatan Progo 2026 yang dilaksanakan pada 2 – 15 Februari 2026. Hingga minggu kedua pelaksanaan (8 s.d. 15 Februari 2026), operasi ini menunjukkan tren positif yang signifikan dalam upaya meningkatkan disiplin berlalu lintas dan menekan angka kejadian kecelakaan di wilayah hukum Polda DIY.

Data statistik menunjukkan keberhasilan jajaran Polda DIY dalam menekan kuantitas kejadian kecelakaan lalu lintas. Tercatat jumlah kejadian mengalami penurunan dari 132 kasus pada tahun 2025 menjadi 129 kasus pada periode yang sama tahun 2026. Meski secara kuantitas menurun, pihak kepolisian memberikan perhatian serius terhadap kualitas fatalitas kecelakaan, di mana terdapat 3 korban meninggal dunia yang seluruhnya terjadi di wilayah hukum Polresta Sleman. Hal ini menjadi dasar bagi Polda DIY untuk semakin memperketat pengawasan dan patroli di titik-titik rawan wilayah tersebut guna mencegah kejadian serupa.

Kabidhumas Polda DIY, Kombes Pol Ihsan, S.I.K., menyampaikan bahwa operasi tahun ini berhasil menekan angka pelanggaran secara drastis. Penindakan pelanggaran (tilang) mengalami penurunan signifikan sebesar 67%, dari 2.507 pelanggar pada 2025 menjadi 836 pelanggar pada 2026. Selain itu, angka teguran juga turun sebesar 22% (dari 10.803 menjadi 8.386 tindakan). Hal ini menunjukkan adanya peningkatan kesadaran masyarakat dalam tertib berlalu lintas.

“Keberhasilan menekan angka kejadian kecelakaan dan pelanggaran ini mencerminkan efektifitas personel di lapangan serta meningkatnya kepatuhan masyarakat. Kami menyampaikan belasungkawa mendalam atas jatuhnya korban jiwa di wilayah Sleman, dan hal ini memacu kami untuk lebih masif lagi dalam memberikan edukasi serta pengawasan di lapangan,” ujar Kombes Pol Ihsan.

Sejalan dengan hasil tersebut, intensitas kegiatan preemtif dan preventif terus ditingkatkan sebagai langkah pencegahan. Kegiatan penyuluhan naik 5 persen dengan total 28.754 kegiatan, sementara kegiatan preventif seperti pengaturan dan patroli naik 4 persen menjadi 21.872 kegiatan. Dukungan bantuan operasi (Banops) juga melonjak hingga 68 persen guna memastikan seluruh tahapan operasi berjalan optimal.

Polda DIY memberikan apresiasi kepada masyarakat yang telah mendukung terciptanya kamseltibcarlantas. Melalui evaluasi ini, Polda DIY berkomitmen untuk terus mengedepankan pendekatan humanis demi menekan angka kecelakaan hingga titik terendah dan menciptakan ruang jalan yang aman bagi seluruh warga Yogyakarta. (zk)

SLEMAN – Pada masa pra-kemerdekaan hingga orde baru, keberadaan sastra masih dijunjung tinggi oleh bangsa Indonesia. Hal ini terjadi lantaran karya-karya sastra seperti puisi, cerpen, novel, dan seterusnya, telah mampu menjadi penggerak suatu perubahan, sekaligus sebagai kritik terhadap rezim kepemimpinan yang berkuasa pada saat itu.

Namun kini, sastra seperti kehilangan roh-nya sebagai penggerak perubahan, karena para pejabat tidak lagi tertarik dengan karya sastra, tapi justru lebih sibuk memperkaya kroni-kroninya sendiri, dan seterusnya.

Dalam sosialisasi empat pilar kebangsaan MPR RI yang berlangsung di Puri Mataram, Tridadi, Sleman, Minggu (15/2/2026), Guru Besar UGM, PM Laksono menyatakan bahwa cita-cita bangsa ini sejatinya sudah pudar sejak tahun 50-an, karena pejabat sudah tidak lagi peduli terhadap kritik-kritik yang dilayangkan kepada mereka, salah satunya dituangkan melalui karya sastra.

“Sastra itu sudah berhenti mengilhami pemimpin di tahun 50-an. Bukan karena sastra-nya buruk, tapi karena pemimpinnya sudah tidak lagi membaca sastra,” ujar PM Laksono di Puri Mataram, Minggu (15/2/2026).

Lebih jauh, PM Laksono merasa bahwa hal itu juga dipengaruhi oleh kualitas pendidikan yang ada di Indonesia, bahkan sampai hari ini. Karena pendidikan yang ada saat ini tidak banyak memfasilitasi anak-anak bangsa untuk berpikir secara kritis.

“Saat saya masih menjadi dosen pun, problem pertama yang saya hadapi adalah ketika menerima mahasiswa baru, mereka sama sekali tidak bisa bertanya, bahkan sampai yang calon S3 sekalipun,” pungkas PM Laksono.

Ia pun dengan tegas menyatakan, apabila sekelas mahasiswa saja tidak mampu bertanya, maka ada sistem yang salah sejak di lingkungan keluarganya. Karena dengan begitu dunia tidak akan berkembang, jika generasi muda tidak memiliki kemampuan untuk bertanya, yang merupakan landasan dari berpikir kritis. (zk)

SLEMAN – Salah satu pilar kebangsaan yang diterapkan di Republik Indonesia, yakni pancasila, merupakan salah satu hal dasar yang selayaknya menjadi dasar hidup berbangsa dan bernegara bagi seluruh rakyat Indonesia. Karena pancasila sendiri merupakan dasar negara Indonesia, yang telah ditetapkan sejak 18 Agustus 1945 silam.

Hanya saja, dalam penerapannya, rakyat Indonesia belum benar-benar menerapkan pancasila itu sendiri, termasuk pemerintahnya. Karena pemerintah selama ini sangat terkenal dengan unsur “kekuasaan”, dan kerap memanfaatkan kekuasannya untuk kepentingannya sendiri.

Dalam sosialisasi empat pilar MPR RI yang berlangsung di Puri Mataram, Minggu (15/2/2026), Wakil Ketua Badan Sosialisasi MPR RI, Abidin Fikri, menyatakan bahwa pancasila memang urusan dari seluruh warga negara Indonesia, termasuk para pejabat itu sendiri.

“Memang sejatinya pancasila itu harus dirumuskan dalam kebijakan politik, karena pada akhrinya kebijakan itu berdampak secara keseluruhan kepada seluruh rakyat Indonesia,” ucap Abidin di Puri Mataram, Minggu (15/2/2026).

Abidin menambahkan, ketika pancasila tidak benar-benar dirumuskan, terutama oleh para pejabat negara, maka yang terjadi adalah pancasila hanya bertindak sebagai ilmu pengetahuan saja.

“Dulu di zaman orde baru, pancasila dikenal dengan istilah BP7 (Badan Pembinaan Pendidikan Pelaksanaan Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila), nah sekarang kan itu nggak ada yang bertanggung jawab. Pedomannya nggak ada, yang dihayati nggak tahu, yang diamalkan apalagi,” tambah Abidin.

Menurut Abidin, pancasila memang seharusnya diperjuangkan oleh seluruh elemen bangsa dan negara, tidak hanya pemerintah semata. Sehingga penerapannya bisa benar-benar sesuai dengan makna dari pancasila itu sendiri, yang sebenarnya begitu filosofis dan sarat akan nilai perjuangan di dalamnya. (zk)

SLEMAN, JT – Memasuki masa resesi, anggota MPR RI kembali mensosialisasikan empat pilar kebangsaan, yang terdiri dari Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika.

Jika selama ini sosialisasi dilakukan kepada mahasiswa, akademisi, masyarakat sipil, dan lain-lain, kali ini MPR berusaha melakukan terobosan baru, yakni dengan menghadirkan para sastrawan.

Ya, sastrawan secara tak langsung juga merupakan bagian yang tak terpisahkan dari keempat pilar kebangsaan itu tadi. Mereka turut merekam peristiwa-peristiwa yang dialami oleh bangsa ini, dengan memproduksi karya sastra, seperti puisi, cerpen, novel, musik puisi, dan sebagainya.

Adapun sosialisasi empat pilar kebangsaan MPR RI ini berlangsung di Puri Mataram, Tridadi, kecamatan Sleman, kabupaten Sleman, Minggu (15/2/2026). Pada kesempatan ini, mereka turut mengundang para sastrawan yang tergabung dalam Sastra Bulan Purnama (SBP).

Dengan mengundang para sastrawan sebagai peserta sosialisasi, harapannya setiap kritik maupun usulan kepada negara bisa disampaikan melalui sebuah karya sastra, yang tidak hanya dibaca, tapi juga mampu dinikmati oleh banyak orang, termasuk bagi para pejabat tinggi negara.

Ada tiga narasumber utama yang hadir mensosialisasikan empat pilar kebangsaan ini, diantaranya Ons Untoro (pendiri Sastra Bulan Purnama), Abidin Fikri (Wakil Ketua Badan Sosialisasi MPR RI), serta PM Laksono (Guru Besar UGM), yang dipandu oleh Moderator Tri Agus Susanto (Ketua III STPMB Yogyakarta).

Ketiga narasumber membedah secara rinci terkait asal-usul ditetapkannya empat pilar kebangsaan ini. Mulai dari sejarah pembentukannya, perkembangan selama masa orde baru, lalu mengaitkannya dengan dinamika yang terjadi saat ini.

Para peserta yang terdiri dari 178 sastrawan ini pun dipersilakan untuk menyampaikan pendapat atau bertanya, terkait empat pilar kebangsaan tadi.

Mereka banyak mempertanyakan soal ketidakbecusan lembaga negara dalam menerapkan empat pilar kebangsaan ini, serta bagaimana lembaga negara yang seolah-olah hadir sebagai “oposisi” rakyat dalam beberapa kasus, sebut saja dalam demo besar-besaran pada Agustus 2025 lalu, serta program MBG (Makan Bergizi Gratis), yang dinilai lebih banyak rugi daripada untungnya.

Tentunya tidak akan lengkap membahas empat pilar kebangsaan MPR RI, jika tidak membuat karya sastra. Untuk itu panitia dari SBP memberi kesempatan kepada para peserta yang berjumlah 178 orang, untuk membuat karya sastra berupa puisi sebanyak maksimal tiga buah, untuk kemudian dijadikan antologi puisi, yang akan diluncurkan pada event Sastra Bulan Purnama di bulan Mei 2026 mendatang.

Buku antologi puisi ini nantinya akan diberikan kepada seluruh peserta yang terlibat dan mengirimkan karya, serta diserahkan langsung kepada para petinggi negara, terutama yang ada di Jakarta.

Harapannya tentu saja agar setiap butir kritik maupun masukan (baik yang sarkas maupun yang terang-terangan) dari para peserta tersebut, dapat dimaknai secara positif oleh para pejebat di negara ini. Sehingga buku itu tidak hanya dijadikan sebagai bacaan saja, namun juga mampu menjadi pengingat, bahwa negara ini memang sedang tidak baik-baik saja. (zk)

YOGYAKARTA, JT – Polda DIY bersama para pemangku kepentingan menggelar diskusi panel bertema ‘Kolaborasi Presisi dalam Menjamin Keamanan, Higienitas, dan Distribusi Program Makan Bergizi Gratis (MBG) guna Mewujudkan SDM Unggul Menuju Indonesia Emas 2045’, Kamis (12/2/2026).

Diskusi panel ini menghadirkan sejumlah narasumber, di antaranya Irwasda Polda DIY, Kombes Pol I Gusti Ngurah Rai Mahaputra, Kepala Dinas Kesehatan DIY, dr Gregorius Anung Trihadi, serta Kepala Kantor Pelayanan Pemenuhan Gizi (KPPG) Region DIY, Harosno Budi Waluyo.

Kombes Pol I Gusti Ngurah Rai Mahaputra menjelaskan bahwa kegiatan tersebut bertujuan memperkuat kolaborasi seluruh pihak dalam mendukung Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di wilayah Yogyakarta.

“Diskusi ini untuk penguatan kolaborasi SPPG di wilayah Yogyakarta. Harapannya, melalui forum ini para peserta memperoleh pemahaman yang sama mengenai peningkatan keamanan, higienitas, dan kualitas layanan SPPG ke depan,” ujarnya.

Menurutnya, Program Makan Bergizi Gratis merupakan program pemerintah yang sangat baik dan berkelanjutan, namun sebagai program dengan model baru tentu masih memiliki sejumlah kekurangan.

Oleh karena itu, diperlukan penyamaan persepsi serta kolaborasi lintas sektor, mulai dari kesehatan, pendidikan, hingga pemerintah daerah kabupaten dan kota.

“Kita harus bersama-sama mendukung program ini. Jika ada kekurangan, termasuk potensi kejadian luar biasa seperti keracunan makanan, maka perlu dilakukan perbaikan secara berkelanjutan dan konsisten,” tegasnya.

Kepala Dinas Kesehatan DIY, dr Gregorius Anung Trihadi, M.P.H. menekankan pentingnya pemenuhan standar laik higiene sanitasi (SLHS) sebagai syarat utama keamanan pangan dalam Program MBG.

“Tujuan MBG ini sangat baik, sehingga harus kita dukung bersama. Salah satu kunci utamanya adalah pemenuhan syarat higiene sanitasi atau SLHS agar makanan yang disajikan benar-benar aman bagi penerima manfaat,” jelasnya.

Ia mengungkapkan, Pemda DIY telah membentuk satuan tugas percepatan sesuai bidang masing-masing.

Untuk bidang kesehatan, koordinasi terus dilakukan dengan Dinas Kesehatan kabupaten dan kota karena kewenangan penerbitan SLHS berada di pemerintah daerah setempat.

Berdasarkan data, kasus kecurigaan keracunan makanan pada tahun 2025 tercatat cukup tinggi, yakni 23 kasus. Namun jumlah tersebut menurun drastis setelah semakin banyak SPPG yang memiliki SLHS.

“Tahun ini tercatat hanya tiga kasus dan semoga tidak bertambah. Ini menunjukkan bahwa penerapan SOP dan standar higiene sanitasi sangat berdampak pada keamanan pangan,” katanya.

Anung juga menyoroti tantangan baru yang dihadapi para penyedia SPPG, seperti pemahaman terhadap sistem OSS dan SLHS yang masih tergolong baru.

Salah satu persyaratan penting adalah sertifikasi penjamah makanan, yang difasilitasi oleh Kementerian Kesehatan melalui sistem pembelajaran daring.

“Penjamah makanan adalah garda terdepan dalam pengolahan pangan. Mereka harus memiliki sertifikat keamanan pangan agar pengolahan sesuai standar higiene sanitasi,” tambahnya.

Kepala KPPG Region DIY, Harosno Budi Waluyo, mengapresiasi Polda DIY atas terselenggaranya diskusi panel ini.

Menurutnya, koordinasi yang presisi sangat penting untuk memastikan hak anak Indonesia atas pemenuhan gizi melalui Program Makan Bergizi Gratis.

“MBG adalah hak anak Indonesia. Dengan koordinasi yang lebih presisi, kita bisa bersama-sama meningkatkan kualitas layanan, mulai dari rantai pasok, proses produksi, hingga distribusi makanan,” ujarnya.

Ia menjelaskan bahwa saat ini terdapat 385 SPPG yang telah siap beroperasi di DIY, namun yang sudah aktif beroperasi sebanyak 323 SPPG. Jumlah penerima manfaat per SPPG dibatasi maksimal 3.000 orang.

“Ke depan, dengan bertambahnya jumlah SPPG, setiap unit akan melayani lebih sedikit penerima manfaat. Dengan begitu, proses produksi dan distribusi menjadi lebih mudah, dan risiko terhadap keamanan pangan bisa semakin ditekan,” pungkasnya. (*)

BANTUL, JT – Rindu tokoh perempuan dalam novel ‘Suara Rindu’ yang ditulis oleh Dila Sari Octaviana, mengalami peristiwa yang sangat tragis, mengalami kekerasan seksual oleh lelaki di rumahnya sendiri. Novel dengan tema kekerasan seksual jarang diangkat oleh penulis pada umumnya. Ada beberapa isu terkait kekerasan seksual dalam novel ini, pemerkosaan sedarah, dan yang menjadi isu hangat mengenai pernikahan siri yang merugikan pihak perempuan.

Dila penulis novel anggota Selasa sastra sudah menerbitkan novel sebelumnya, namun baginya novel ‘Suara Rindu’ menjadi puncak capaian kepenulisannya.

“Jika di buku sebelumnya novel ‘Cinta yang Sebenarnya’, merupakan tulisan di masa muda dulu, dirasa kurang berbobot, di novel inipun awalnya menulis seperti kurang greget, hingga harus melakukan riset lagi untuk memperkuat kisah bagi sang tokoh di novel ini, melihat kenyataan disekitar dan berbagai berita di media mengenai kekerasan seksual dari sudut pandang perempuan, akhirnya meyakinkan diri menyelesaikan novel ini,” kata Dila yang sehari-hari sebagai guru di Informatika dan Seni Budaya di MTs Saintek Nurul Quran HDWR, Brajan, Wonokromo, Pleret, Bantul.

Launching, diskusi dan bedah novel ‘Suara Rindu’ Bunga yang Mekar di Tengah Badai, dihelat dalam agenda rutin Selasa Sastra pada minggu, 15 Februari 2026 mulai pukul 15.30 wib di Kelingan Garden & Café Bantul. Menghadirkan narasumber pembedah buku penulis novel Muyassarotul Hafidzoh yang memang fokus menulis cerita dengan tema kekerasan seksual, selain ia sebagai aktivis advokasi korban kekerasan seksual.

“Saya sangat bangga akhirnya novel ini terbit, karena sedikit novel yang berani mengangkat isu kekerasan seksual, apalagi dari sudut pandang perempuan. Novel ini menarik karena dari sudut pandang korban kekerasan seksual, perempuan khususnya, berani speak up dan kemudian melakukan transformasi diri, menjadi konselor pendamping bagi korban kekerasan seksual,” jelas Muyas panggilan akrabnya.

Nur Hidayat, Lurah Bangunharjo Sewon Bantul yang juga sekretaris PCNU Bantul, merasa bangga oleh Dila yang juga anggota Fatayat NU Bantul.

“Kami bangga, karena ada kader NU yang masuk usia Gen Z, mau membuat karya yang kekinian, ini jarang dilakukan kader NU, menuliskan karya sastra yang berkualitas, semoga karyanya mendunia,” jelas Nur Hidayat.

Selasa Sastra kali ini mengusung tema ‘Tapak Batas Rindu’ berisi pementasan karya sastra oleh Rika Rif’atil Hilmah, Faza Aulia Rahma, Muhammad Ilham Izzul Mutho, Nikta Azilda, Sabatina RW, Bang Tedi Way, dan Muyassarotul Hafidzoh. Selain sastra juga ada musik dari DMR Band, Dikki & Friends, Rhakustik, dan group Kiki Ratna Heri.

“Dila Sari salah satu anggota Selsa Sastra yang sudah lama berkegiatan dan menulis karya sastra, melalui novel yang membahas inner child semoga menjadi kontribusi dalam trauma healing bagi para korban kekerasan seksual, melalui launching ini diharapkan anggota yang lain juga termotivasi menerbitkan buku,” kata Tedi Kusyairi koordinator Selasa Sastra. (*)

BANTUL, JT – Upayakan meningkatknya kemampuan literasi siswa, SMP Negeri 1 Piyungan Bantul Yogyakarta mengadakan Bimbingan Teknis (Bimtek) Penulisan Buku bagi Siswa.

Sebanyak 30 siswa mengikuti acara yang digelar dalam beberapa tahap. Tiga bidang yang diberikan: penulisan buku nonfiksi dengan pemateri Tedi Kusyairi, puisi diampu Latief Noor Rochmans, dan geguritan oleh Hidratmoko Andritamtomo.

Kepala SMP Negeri 1 Piyungan Dra Sri Lestari MPd menerangkan, bahwa Bimtek tahun ini yang keempat. Sudah tergelar tiga kali di tahun sebelumnya.

“Kalo tahun sebelumnya berupa antologi bersama, yang membedakan, tahun ini hasil akhir tiap anak menghasilkan satu buku kumpulan karya. Jadi nanti akan ada 30 judul buku karya siswa, terbagi puisi, geguritan, dan nonfiksi. Kalau tahun-tahun sebelumnya,” ujar Sri Lestari.

Peserta dijaring melalui audisi yang kemudian dipilih berdasar kemampuan siswa.

“Kami punya komunitas duta literasi. Mereka mendaftar, dan kami pilih,” terang Sri Lestari.

Setelah mengikuti bimbingan, para peserta akan menulis karya yang kemudian dikumpulkan. Bimtek dilaksanakan mulai 9-13 Februari 2026, dilanjutkan dengan mentoring karya hingga penerbitan buku.

“Juni naskah sudah masuk semua dan dieditori. Bulan Juli naik cetak, Agustus kami luncurkan di acara Lustrum sekolah,” tambah Sri Lestari.

Branding SMP Negeri 1 Piyungan adalah sekolah literasi. Lewat pembuatan buku karya siswa ini diharap bisa mendongkrak kegemaran membaca dan menulis.

Menurut Sri Lestari, rapor literasi siswa mendapat nilai 100.

“Karena itu saya berpesan, jangan sampai turun. Di sekolah kami, sebelum kegiatan belajar mengajar, ada literasi berbasis HP. Ada juga yang membaca buku. Ada siswa yang membaca cerpen, puisi atau geguritan. Didengar, kemudian mereka menulis,” ucap Sri Lestari.

Hampir semua peserta sangat menikmati bimtek ini. Tedi Kusyairi, Latief Noor Rohmans dan Hindratmoko menyebut para peserta sangat antusias.

Tak kalah heboh dan antusias dari kelas puisi dan geguritan yang berbasis fiksi, peserta kelas penulisan buku nonfiksi juga sangat aktif.

“Mulai dari diperkenalkan dengan dunia buku nonfiksi, mencari ide yang menarik pembaca, konsep buku, draft outline, hingga perencanaan riset dan penulisan, mereka sangat concern dan aktif mengerjakannya,” ujar Tedi Kusyairi mentor kelas buku nonfiksi di SMPN 1 Piyungan (13/2/2026).

Jika di tahun sebelumnya ada kelas essay maka kali ini kelas buku nonfiksi menghadapi tantangan penulisan yang lebih komlkes karena menulis sekitar 70 halaman bahan untuk buku yang diterbitkan memerlukan semangat dan konsentrasi peserta yang luar biasa.

“Yang luar biasa dari para peserta adalah, tak hanya bisa mengkonsep sebuah buku dengan memilih judul buku yang menarik, tapi sudah bisa menjabarkan outline draft isi buku yang akan ditulisnya dengan diperkirakan mencapai 70 halaman, bagi usia SMP ini sangat menarik,” ungkap Tedi lebih lanjut.

Bimtek kelas nonfiksi diikuti oleh 10 peserta: Reza, Aqila, Elviana, Atika, Isnaini, Rizka, Khaila, Nia, Nurmalita, dan Wildan, didampingi Guru Tyas dan Nur Hamidah.

“Banyak aturan menulis buku yang baru aku tau, terus baru tahu kalo buku nonfiksi itu harus bener-bener perhatiin sumber info, topik buku nya, sama audiensnya, pokonya seru,” kata Nia yang akan menulis buku dengan rencana judul ‘Suara yang Penah Diam’.

Sementara menurut Wildan yang rencananya akan menulis buku dengan judul ‘Kapan Terakhir Kali Kamu Gagal?’, mengatakan bahwa tantangan menulis buku nonfiksi yang baru pertama kali dialaminya ini merupakan kesempatan yang luar biasa untuk masuk kedunia penulisan yang sesungguhnya, karena akan berhubungan dengan dunia penerbitan buku. (*)

YOGYAKARTA – Sebagai minuman tradisional yang sudah ada sejak ribuan tahun lalu, tentu saja jamu lebih identik dengan minuman pencegah berbagai penyakit degeneratif, terutama bagi orang-orang tua atau yang sudah sepuh.

Namun di zaman yang serba canggih seperti sekarang, anak-anak muda seolah enggan untuk ikut mengkonsumsi jamu seperti para pendahulunya, dan lebih memilih minuman kekinian lain yang memiliki warna dan rasa yang lebih menarik. Sementara jamu sendiri terkenal dengan rasanya yang pahit dan asam, lantaran berasal dari bahan-bahan alami seperti kencur, kunyit, temulawak, jahe, dan seterusnya.

Namun siapa sangka, ternyata jamu juga mampu menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman, serta mampu dikemas dengan cara yang kekinian, sehingga lebih mudah diterima oleh generasi muda atau Gen Z.

Hal ini terbukti dengan hadirnya Festival Nitilaku Jamu 2026, yang berlangsung di Bale Gadeng, Gondokusuman, Yogyakarta, Rabu (11/2/2026). Dalam festival yang diikuti oleh lebih dari 20 tenant di wilayah DIY ini, beberapa diantaranya turut menjual jamu dalam bentuk yang lebih modern, praktis, dan mudah dibawa atau dimasukkan ke dalam saku.

Salah satu pedagang yang mengikuti Festival Nitilaku Jamu 2026, Fendy Ahmad, mengaku bahwa saat ini keberadaan jamu sudah mulai diterima oleh masyarakat luas, termasuk para generasi muda.

“Anak-anak muda banyak juga yang tertarik dengan jamu ini, salah satunya adalah Kombucha jamu, yang juga sudah dipasarkan di Kantin UGM, dimana dalam seminggu bisa laku belasan hingga dua puluhan botol,” ucap Ahmad, sapaan akrabnya, saat ditemui di acara Festival Nitilaku Jamu di Bale Gadeng, Rabu (11/2/2026).

Ahmad yang mulai menjual jamu dan obat-obatan herbal lainnya sejak 2010 silam, merasa bahwa perkembangan jamu sudah menuju ke arah yang lebih baik. Karena masyarakat mulai sadar untuk mengkonsumsi minuman sehat yang mampu mencegah berbagai penyakit.

“Dengan kecanggihan teknologi seperti sekarang, sudah banyak orang yang mulai memesan jamu via online, entah itu dari marketplace maupun media sosial,” tambah Ahmad.

Ahmad sendiri tergerak untuk berjualan jamu dan produk herbal, setelah ia merasakan pusing di kepalanya belasan tahun silam. Alih-alih mengkonsumsi obat-obatan kimia, ia pun lebih memilih mengkonsumsi jamu sebagai sarana penyembuhan.

Alhasil ia pun sembuh, dan berniat menularkan “kisah sukses”-nya kepada para konsumennya, agar bisa memiliki hidup yang lebih sehat, salah satunya dengan menjadikan jamu sebagai bagian dari konsumsi sehari-hari. (zk)

YOGYAKARTA – Dalam upaya memperkuat eksistensi jamu di Indonesia khususnya di Yogyakarta, serta memperkenalkan kembali jamu kepada generasi muda dengan konsep yang lebih modern, Jogja Husada Sehat mengadakan Festival Nitilaku Jamu 2026, yang diselenggarakan di Bale Gadeng, Gondokusuman, Yogyakarta, Rabu (11/2/2026).

Festival ini merupakan program jangka pendek dari Jogja Husada Sehat, dalam rangka “kampanye jamu”, alias mengkampanyekan kembali keberadaan jamu di era modern, khususnya kepada generasi muda atau Gen Z.

“Festival ini adalah salah satu usaha kita dari Jogja Husada Sehat, untuk kembali mengkampanyekan jamu, sebagai wairsan budaya nusantara, dan juga minuman berkhasiat tinggi untuk segala macam usia,” ujar Nina saat ditemui di Bale Gadeng, Rabu (11/2/2026).

Selain itu, festival ini juga diadakan untuk mengajak para pelaku usaha jamu yang ada di Yogyakarta, agar bisa bergabung dengan kelompok Jogja Husada Sehat.

“Ini adalah wadahnya para pelaku usaha jamu, yang ada di DIY. Sehingga kita bisa bersama-sama memajukan jamu ke tahap yang lebih baik dari sebelumnya,” tambah Nina.

Festival ini turut menjual berbagai jamu tradisional serta modern, khususnya yang berasal dari provinsi DIY. Selain itu, acara ini juga turut menjajakan makanan atau cemilan daerah khas Nusantara.

Tidak hanya makanan, acara ini juga menghadirkan sesi talk show bersama para pakar jamu, performing arts berupa pembacaan puisi, ngunjuk jamphi bersama para pelaku usaha jamu atau UMKM, serta pemijatan tradisional secara gratis bagi para pengunjung yang hadir di Bale Gadeng. (zk)

YOGYAKARTA – Memasuki hari ketujuh pelaksanaan Operasi Keselamatan Progo 2026, Kepolisian Daerah Istimewa Yogyakarta (Polda DIY) mencatatkan tren positif dalam pemeliharaan keamanan, keselamatan, ketertiban, dan kelancaran lalu lintas (Kamseltibcarlantas) di seluruh wilayah hukum DIY.

Berdasarkan data analisa dan evaluasi (Anev) Ditlantas Polda DIY pada Minggu, 8 Februari 2026, angka kecelakaan lalu lintas menunjukkan penurunan yang cukup signifikan dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya.

Kabidhumas Polda DIY, Kombes Pol Ihsan, S.I.K., menyampaikan bahwa pada hari ketujuh operasi, jumlah kejadian kecelakaan lalu lintas menurun sebesar 6%, dari 17 kejadian di tahun 2025 menjadi 16 kejadian di tahun 2026. Penurunan paling mencolok terlihat pada tingkat fatalitas korban, di mana angka korban meninggal dunia (MD) mencapai 0% atau turun 100% dibandingkan tahun lalu.

“Kami bersyukur dan mengapresiasi masyarakat DIY yang mulai menunjukkan peningkatan kesadaran dalam berlalu lintas. Pada hari ketujuh ini, jumlah korban meninggal dunia nihil, turun dari satu korban pada tahun sebelumnya,” ujar Kombes Pol Ihsan dalam keterangannya.

Pada hari ketujuh, tercatat dilakukan 120 tindakan tilang dan 1.198 teguran di seluruh wilayah DIY. Penindakan tilang ini menurun 50% dibandingkan tahun sebelumnya, yang menunjukkan bahwa petugas di lapangan lebih mengedepankan pendekatan preventif dan preemtif.

“Fokus kami bukan pada banyaknya tilang, melainkan pada keselamatan masyarakat. Kami terus mengoptimalkan Satgas Preemtif untuk melakukan penyuluhan di tempat-tempat rawan laka dan pelanggaran, serta melalui berbagai kanal media,” tambah Kombes Pol Ihsan.

Polda DIY mengimbau kepada seluruh pengguna jalan untuk tetap mematuhi peraturan lalu lintas, menggunakan perlengkapan keselamatan yang standar, dan selalu waspada saat berkendara. Operasi Keselamatan Progo 2026 masih akan terus berlangsung dengan harapan dapat menciptakan ekosistem jalan raya yang aman dan nyaman bagi seluruh warga maupun wisatawan di Yogyakarta. (zk)