BANTUL – Memasuki edisi penyelenggaraan ke-17, Festival Film Pelajar Jogja (FFPJ) pada tahun 2026 ini akan dilangsungkan di kampus Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta, tepatnya di Fakultas Seni Media Rekam (FSMR), pada Sabtu dan Minggu, 12-13 September 2026.

Ajang pendidikan dan kebudayaan tahunan untuk komunitas film pelajar Indonesia ini akan dihangatkan dengan berbagai acara menarik. Di antaranya Apresiasi Seni Film, Bedah Karya Film Pendek Pelajar, Sarasehan Paradigma Berfilm, Dialog Bahasa Visual, Temu Komunitas Pelajar, dan Penganugerahan Karya.

“Tahun ini FFPJ mendapatkan kesempatan baik untuk dilaksanakan di Kampus FSMR ISI Yogyakarta. Banyak dukungan yang diberikan oleh keluarga besar FSMR ISI untuk FFPJ. Semoga momen ini terus terjaga dan berkelanjutan karena pada dasarnya sejak penyelenggaraan perdana di tahun 2010 dulu FSMR ISI selalu memberikan dukungannya dalam berbagai bentuk,” kata pendiri FFPJ, yang juga alumnus FSMR ISI Yogyakarta. Tomy Widiyatno Taslim, Kamis (10/9/2026).

Partisipan yang sudah konfirmasi untuk menghadiri acara puncak berasal dari berbagai sekolah menengah tingkat atas dan daerah di Indonesia. Di antaranya Cimahi Jawa Barat, Jakarta, Mamasa Sulawesi Barat, Padang Sumatra Barat, Banjarmasin Kalimantan Selatan, Pekalongan Jawa Tengah, Pontianak Kalimantan Barat, Majenang Cilacap, Jawa Tengah, Pesawaran Lampung, Madiun Jawa Timur, Kudus Jawa Tengah, Binjai Sumatra Utara, Sukabumi Jawa Barat, Pati Jawa Tengah, dan Tulungagung Jawa Timur.

Lebih kurang ada 100 partisipan yang akan hadir ke Yogyakarta secara mandiri, untuk mengikuti festival film yang satu ini.

Selain acara Apresiasi Seni Film, beberapa narasumber ahli akan berbagi pemikiran, pengetahuan, dan pengalamannya kepada partisipan FFPJ. Di acara Bedah Karya Film Pendek Pelajar, akan dihangatkan oleh sutradara film Senoaji Julis dari Hompimpa Sinema Nusantara bersama Febfi Setyawati dan Pius Rino Pungkiawan (keduanya dosen film di FSMR ISI Yogyakarta).

Kemudian Sarasehan Paradigma Berfilm, akan dimeriahkan sutradara film BW Purba Negara, anggota Lembaga Sensor Film Indonesia Hairus Salim, dan dosen film FSMR ISI Antonius Janu Haryono. Adapun dalam Dialog Bahasa Visual tim program studi film FSMR ISI Yogyakarta akan membuka pintu seluas-luasnya untuk partisipan FFPJ agar dapat berdialog langsung secara rileks berkaitan dengan film, bahasa visual, dan sekitarnya.

Pemberian penghargaan untuk karya-karya film pendek partisipan terpilih juga akan menjadi acara yang biasanya ditunggu-tunggu di FFPJ.

Ada 4 kategori karya yang dikompetisikan secara nasional dan akan diberikan apresiasi, yakni Fiksi, Dokumenter, Eksperimental, dan Animasi. Karya-karya terpilih dinilai juri berdasarkan kedekatan dengan tema Mulat Sarira yang disajikan panitia.

Selain itu juga memiliki kekhasan dalam cerita, cara bercerita, serta aspek teknis. Saraswati Award untuk Fiksi Terbaik, Dewantara Award untuk Dokumenter Terbaik, Niskala Award untuk Eksperimental Terbaik, dan Rupagati Award untuk Animasi Terbaik akan ditetapkan di acara puncak.

Ajang kompetisi nasional dalam rangka FFPJ XVII 2026 diikuti oleh 127 karya dari berbagai sekolah di Indonesia dan terpilih 30 nomine yang diseleksi oleh curator Budi Sulistyo.

Juri kompetisi nasional berasal dari ISI Yogyakarta, yakni Deddy Setyawan, Latief Rakhman Hakim, Agni Saraswati, dan Heri Nugroho.

Acara puncak juga merupakan momen temu komunitas pelajar Indonesia yang sejak 2010 dirawat di FFPJ. Selama 2 hari, baik formal maupun informal, partisipan yang merupakan pelajar tingkat SMA dari berbagai daerah dipertemukan, difasilitasi dialog, dan berbagi perpektif bersama.

Khusus di festival tahun ke-17 ini, FFPJ akan mengajak partisipan berefleksi bersama. Ada beberapa pertanyaan pemantik yang coba ditanggapi bareng, seperti apa tujuan berpartisipasi di FFPJ, mengapa FFPJ diselenggarakan, bagaimana dinamika festival selama ini, apa substansi yang dijaga di FFPJ, adakah nilai-nilai yang terus dirawat, dan lainnya.

Seperti yang pernah disampaikan oleh panitia sebelumnya, FFPJ XVII 2026 bertema “Mulat Sarira”. Mulat sarira merupakan kata yang berasal dari bahasa Sanskerta dan sering digunakan dalam tradisi Bali dan Jawa. Kata yang dekat dengannya adalah introspeksi, wawas diri, refleksi, kontemplasi, meditasi, muhasabah, bercermin, dan koreksi terhadap diri sendiri. Mulat sarira adalah sebuah tindakan perenungan kembali terhadap emosi, perasaan, pikiran, pengalaman, kelemahan, kesalahan, kekurangan, dan sekitarnya.

“Perayaan acara puncak FFPJ XVII 2026 di FSMR ISI ini kami tandai dan jalani sebagai refleksi. Selain tetap bersilaturahmi dengan berbagai pihak, belajar bersama dengan para ahli yang berkenan berbagi pengalaman, kami juga menyadari bahwa FFPJ merupakan sebuah entitas kecil. Selama ini FFPJ telah banyak didukung berbagai pihak dalam perjalanannya, termasuk FSMR ISI,” kata Tomy Widiyatno Taslim.

Sebelumnya, sejak 1 September 2026 FFPJ mengawali festival dengan melaksanakan kegiatan Sinema Silaturahmi. Tim FFPJ belajar bersama ke 4 kabupaten dan 1 kota di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).

Sekolah-sekolah yang disambangi SMAN 1 Temon Kulon Progo, SMAN 1 Seyegan, SMA Muhammadiyah Kasihan Bantul, SMKN 7 Yogyakarta, SMA Bumi Cendekia Yogyakarta, dan Komunitas Kedai Kopi 69 Wonosari.

Khusus di tempat terakhir, FFPJ banyak berinteraksi dengan para pelajar dari SMAN 1 Wonosari. Sinema Silaturahmi merupakan kegiatan pemutaran film dan diskusi keliling antara tanggal 1-9 September 2026 dan total melibatkan sekitar 300 pelajar aktif.

Jauh sebelumnya, rangkaian pelaksanaan FFPJ XVII sudah di mulai sejak 1 Januari 2026. Program kompetisi diselenggarakan dan dijalankan sepanjang 6 bulan sampai Juli 2026. Dalam waktu ini FFPJ melakukan sosialisasi, edukasi, pendampingan, dan lainnya, baik secara daring maupun langsung turun ke lapangan.

Kemudian sepanjang Agustus proses kurasi film dilakukan. Selanjutnya acara puncak diselenggarakan 12-13 September 2026 di Kampus FSMR ISI Yogyakarta. FFPJ XVII 2026 terlaksana selain mendapatkan bantuan dari FSMR ISI Yogyakarta, juga didukung oleh Dinas Kebudayaan DIY dan beberapa mitra lainnya. (*)

 

 

 

SLEMAN – Pendidikan merupakan sebuah proses panjang yang melibatkan banyak unsur dan elemen di dalamnya, sebagai fondasi awal menuju kemajuan peradaban bangsa, serta menjamin hidup yang lebih baik dan sejahtera.

Ada pun salah satu unsur yang dapat menentukan kemajuan peradaban tersebut adalah literasi, yakni kemampuan dasar dalam membaca, menulis, memahami, serta mengolah informasi secara kritis, untuk keterampilan hidup sehari-hari.

Hal itu pula yang mendorong para dosen di Akademi Angkatan Udara (AAU) Yogyakarta, yang berlokasi di Kalasan, Sleman, DIY, untuk membuat sebuah gerakan literasi yang diberi nama “Literasi Negeriku”.

Meski berasal dari kalangan TNI, namun gerakan ini tetap ditujukan bagi masyarakat umum, terutama kepada generasi muda, agar mampu menjadi generasi unggul di masa depan. Di mana salah satu aspek keunggulan itu terletak pada kemampuan literasinya, yang harus terus diasah sejak dini.

“Literasi yang dimiliki dan dibaca dengan baik, apa pun bentuk literasinya, yang bisa dipahami dengan baik, dan terkurasi, itu bisa mengubah mindset atau menguatkan kita dari yang awalnya sudah baik, positif, dan bagus, kemudian akan lebih baik lagi ke depan.

Karena tentunya kita cukup khawatir dengan hadirnya degradasi moral di Indonesia, atau kemunduran di beberapa aspek tertentu, yang menurut saya bersumber dari kurangnya pemahaman terhadap literasi itu sendiri,” papar founder aplikasi “Literasi Negeriku”, Kolonel Tek Dr. Ir. Ardian Infantono, S.Kom., M.Eng., CIPA., beberapa waktu lalu.

Lebih lanjut Ardian menambahkan, pemahaman literasi juga penting untuk dimiliki oleh para generasi muda, dalam rangka untuk lebih menghargai setiap proses pembuatan suatu karya, termasuk karya literasi itu sendiri.

Sehingga mereka tidak akan tergiur untuk melakukan cara-cara yang ilegal, seperti menjiplak (plagiasi), menyebarluaskan tanpa izin, atau mengutip tanpa menyebutkan sumber asli, dan seterusnya.

“Kalau kita mampu memahami literasi dengan baik, kita akan tahu bahwa literasi itu dibangun melalui suatu proses yang cukup panjang. Misalnya ketika membuat buku (fisik), ‘oh ternyata di balik buku itu ada ISBN-nya, ada hak ciptanya, ada kru penyuntingnya’, dan seterusnya.

Sehingga pasti buku ini sudah disiapkan dengan sangat baik, sebelum akhirnya sampai ke tangan pembaca. Dengan begitu kita ada rasa menghargai, ketika kita bisa membaca dengan baik serta memahaminya, maka kelak kita juga akan mampu mengimplementasikannya dalam perbuatan sehari-hari,” lanjutnya.

Gerakan “Literasi Negeriku” yang dikemas dalam bentuk aplikasi digital ini juga sudah hadir di beberapa event literasi yang ada di Sleman maupun provinsi DIY secara umum.

Salah satunya di pameran Jogja Book Fair 2026 dan Pameran Arsip 2026, yang berlangsung di kantor Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah (DPAD) DIY, kompleks Grhtama Pustaka, Banguntapan, Bantul, yang baru saja usai beberapa waktu lalu. (zk)

SLEMAN – Dunia literasi memang tidak ada matinya. Di tengah gempuran dunia digital yang semakin masif dalam beberapa tahun terakhir, dunia literasi tetap mampu beradaptasi dengan setiap perubahan zaman.

Banyak pihak kini mulai mengimplementasikan dunia literasi dalam bentuk yang lebih kekinian, serta mudah diterima oleh para generasi muda.

Salah satu yang turut mengimplementasikan dunia literasi secara digital adalah para dosen di Akademi Angkatan Udara (AAU) Yogyakarta, yang berlokasi di Kalasan, Sleman, DIY.

Melalui aplikasi bernama “Literasi Negeriku” yang baru diluncurkan pada awal tahun ini, mereka hendak menghadirkan dunia literasi secara digital, yang mampu diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari.

Meski dibuat oleh kalangan TNI, namun aplikasi ini tidak hanya ditujukan kepada civitas prajurit semata, melainkan juga terbuka bagi masyarakat umum, serta dapat dinikmati oleh seluruh kalangan dan usia.

“Ini (Literasi Negeriku) adalah sebuah gagasan untuk menghadirkan implementasi literasi yang ada di Indonesia, ketika hadir dalam berbagai event. Dalam aplikasi ini kita membuat beberapa macam program. di mana kami ingin menyampaikan bahwa eksistensi literasi itu masih bisa diwujudkan dalam banyak hal, termasuk dengan melakukan pendekatan teknologi,” ujar founder aplikasi “Literasi Negeriku”, Kolonel Tek Dr. Ir. Ardian Infantono, S.Kom., M.Eng., CIPA., Selasa (8/9/2026).

Ada pun salah satu fitur yang dimiliki oleh Literasi Negeriku adalah Perpustakaan Digital.

Perpustakaan ini menyediakan berbagai buku digital yang dapat diakses oleh masyarakat luas. Serta menjadi rujukan bagi sekolah-sekolah tertentu, khususnya terkait bahan bacaan secara digital, yang bisa diakses kapan saja dan di mana saja.

“Dalam Literasi Negeriku ini, kita juga memberikan perpustakaan gratis Literasi Negeriku kepada masyarakat, dan sudah bisa diakses di Android, iOS, dan Mac secara gratis. Dengan fitur ini (perpustakaan digital), masyarakat bisa lebih memahami buku digital itu seperti apa. Atau mungkin kalau di sekolahnya belum ada perpustakaan digital, dan seterusnya. Semuanya bisa menjadi anggota di perpustakaan ini selama-lamanya,” tambahnya.

Dengan hadirnya aplikasi “Literasi Negeriku” ini, Ardian ingin membuktikan bahwa tingkat literasi Indonesia sejatinya tidaklah seburuk seperti yang dilaporkan oleh banyak pihak.

Ia meyakini dunia literasi Indonesia akan mengalami kemajuan yang cukup signifikan dalam beberapa tahun mendatang, ketika seluruh sumber daya mampu bersinergi satu sama lain. Sehingga membuat tingkat literasi Indonesia tidak lagi dipandang sebelah mata oleh pihak asing.

Sosialisasi mengenai aplikasi ini juga sudah dilakukan di beberapa event literasi, salah satunya Jogja Book Fair 2026 di kompleks Grhtama Pustaka, Banguntapan, Bantul, yang baru saja berakhir beberapa waktu lalu. (zk)

BANTUL – Pelaksanaan event Jogja Book Fair 2026 yang berlangsung di kantor Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah (DPAD) DIY, kompleks Grhtama Pustaka, Banguntapan, Bantul, resmi berakhir pada hari Selasa ini (8/9/2026).

Di tengah kekhawatiran mengenai keberlangsungan buku fisik, yang kini mulai ditinggalkan akibat hadirnya buku digital (e-book) dan semacamnya, perhelatan Jogja Book Fair 2026 kali ini setidaknya menjadi bukti, bahwa kekhawatiran itu tidak sepenuhnya tepat.

Menurut Koordinator Pendukung Pameran Jogja Book Fair 2026, Retno Putri, perhelatan Jogja Book Fair kali ini mampu menyedot perhatian lebih dari 800 pengunjung setiap harinya, dengan jumlah transaksi mencapai lebih dari 200 eksemplar buku per hari.

“Untuk antusiasme masyarakat dalam Jogja Book Fair ini bisa dibilang cukup baik. Dan kebetulan banyak juga koleksi buku yang ada di sini, jadinya banyak pengunjung yang mencari buku sesuai dengan kebutuhannya masing-masing, Biasanya kalau hari terakhir kayak gini baru rame. karena beberapa penerbit biasanya obral buku-bukunya dalam jumlah besar,” ucap Retno Putri, saat ditemui di sela-sela pameran sebelum sesi penutupan, Selasa (8/9/2026).

Di saat yang sama, Koordinator Bazar, Anastasia Arsiwi Anggita Dewi, mengaku bahwa bacaan buku fisik seperti yang tersedia di Jogja Book Fair tetap dibutuhkan oleh masyarakat luas.

“Dengan adanya pameran (seperti Jogja Book Fair), akses akan lebih terjangkau. Selain itu, beberapa distributor dan penerbit akan bergabung menjadi satu di satu tempat khusus. Maka otomatis pembaca dan pembeli akan lebih mudah untuk mencari buku-buku yang diinginkan. Jadi dia tidak perlu lagi berkeliling ke berbagai toko buku untuk mencari buku-buku sejenis, karena semuanya sudah tersedia dalam satu pintu akses,” ucap Ana, panggilan akrabnya, di tempat yang sama.

Menurut Ana, buku fisik tetap memiliki keunggulan tersendiri ketimbang buku digital. Seperti mudah dikoleksi, wujudnya bisa dipegang dan dirasakan, serta jauh lebih nyaman dibaca.

Terlebih buku digital yang dibaca melalui ponsel, komputer, atau tablet, umumnya akan membuat mata lebih cepat lelah, sehingga sensasi membaca tidak akan sama seperti saat membaca buku fisik. (zk)

BANTUL – Yogyakarta atau provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) secara umum, sejak lama sudah dikenal memiliki ekosistem sastra yang cukup baik, dan mampu melestarikannya melalui berbagai event dan komunitas, yang diikuti masyarakat dari lintas generasi, dan seterusnya.

Meski demikian, Yogyakarta justru harus “disalip” oleh ibu kota Jakarta, yang berhasil mendapatkan predikat sebagai kota sastra dunia (city of literature) oleh UNESCO pada akhir 2021 lalu.

Jakarta pun menjadi satu dari 53 kota di seluruh dunia, yang berhasil mendapatkan predikat prestisius ini. Sedangkan di Indonesia, Jakarta adalah satu-satunya kota yang mampu meraih predikat ini.

Hal itu tentu saja tidak mengherankan. Sebab dengan statusnya sebagai ibu kota, Jakarta adalah pusat dari berbagai kegiatan literasi yang ada di Indonesia, dan selalu mendapat dukungan penuh dari pemerintah setempat.

Selain itu, Jakarta juga kerap menyelenggarakan berbagai acara dan festival sastra bertaraf internasional, serta menjadi pusat industri penerbitan dan perbukuan nasional.

Di sisi lain, meskipun ekosistem sastra di Yogya tumbuh dan berkembang dengan cukup baik, namun pemerintah daerah pada saat itu lebih banyak memfokuskan diri pada penetapan Sumbu Filosofis Yogyakarta, sebagai Warisan Budaya Dunia (World Heritage), yang akhirnya disahkan oleh UNESCO pada 2023 lalu.

Melihat dinamika ini, sastrawan asal Bantul, R. Toto Sugiharto, menganggap bahwa Yogya sebetulnya sudah bisa disetarakan dengan Jakarta, untuk bisa menjadi kota kedua di Indonesia yang masuk dalam kategori kota sastra dunia.

Hanya saja, Yogyakarta tetap memiliki sejumlah kekurangan tertentu, jika dibandingkan dengan Jakarta. Karena dengan statusnya sebagai ibu kota, masyarakat dunia pastinya akan lebih melirik Jakarta, sebagai acuan literasi sastra di Indonesia.

Apalagi ketika Jakarta menjadi kota pertama yang meraih predikat kota sastra dunia ini, dan masih satu-satunya hingga saat ini.

“Nah ini ternyata kriterianya (agar Yogyakarta bisa dinobatkan sebagai kota sastra dunia), yaitu kualitas, kuantitas, dan keragaman penerbitan di kota tersebut. Selanjutnya rutin menyelenggarakan acara dan festival sastra yang mempromosikan karya sastra, baik di dalam maupun luar negeri.

Keberadaan perpustakaan, toko buku, dan pusat kebudayaan pemerintah atau swasta, yang melestarikan, mempromosikan, dan menyebarluaskan literatur dalam dan luar negeri,” ucap R. Toto Sugiharto, saat mengisi kegiatan Sambang Komunitas edisi ke-19 yang berlangsung di halaman kompleks Grhtama Pustaka, Banguntapan, Bantul, DIY, Senin (7/9/2026).

Baginya, untuk bisa mensejajarkan diri dengan Jakarta dan 52 kota lainnya di seluruh dunia, Yogyakarta setidaknya perlu lebih banyak mengadakan event-event sastra berbasis internasional.

Dengan begitu, dunia akan melihat bagaimana Yogyakarta benar-benar serius untuk mendapatkan predikat yang satu ini. Sekaligus mampu menjaga predikat ini dengan sebaik-baiknya, serta terus dilestarikan dari generasi ke generasi.

“Nah menurut saya yang perlu diprioritaskan adalah terciptanya atmosfer budaya literasi di kota Yogyakarta, dengan menghidupkan perpustakaan, kalau perlu pelayanan publik dibuka selama 24 jam. kedua, penerjemahan karya sastra penulis dari Yogyakarta ke dalam bahasa asing. Ketiga penyelenggaraan event sastra dan budaya, mulai dari tingkat budaya lokal, berbahasa Jawa, berbahasa Indonesia, maupun berbahasa asing, seperti Inggris, dan yang lainnya, yang terbuka dan bisa diikuti oleh setiap warga negara, baik di wilayah DIY maupun dari pelosok Nusantara,” lanjut R. Toto Sugiharto.

Secara umum, ia juga menyarankan adanya kolaborasi yang solid dari berbagai komunitas, sanggar, maupun lintas generasi yang menjadi pegiat sastra di daerahnya masing-masing.

Sehingga kemudian pihak UNESCO maupun dunia internasional dapat menilai bahwa Yogyakarta merupakan sebuah kota atau wilayah yang “sastra banget”, dan pantas meraih predikat sebagai kota sastra dunia. (zk)

BANTUL – Tak bisa dipungkiri bahwa AI (Artificial Intelligence) adalah sebuah alat yang kini telah menjadi bagian yang tak terpisahkan dalam kehidupan manusia. Tak terkecuali di bidang sastra.

Di bidang sastra, AI mampu menjadi tools yang dapat memudahkan pembuatan karya, memunculkan ide baru, sampai membuat karya akhir, untuk ditampilkan kepada khalayak luas, dan sebagainya.

Hal itu pun turut diamini secara langsung oleh sastrawan asal Bantul, Tedi Kusyairi. Menurutnya, di balik segala pro kontra sampai sekarang, penggunaan AI dalam dunia sastra tetaplah sesuatu yang tidak bisa dihindari, alias menjadi suatu keniscayaan. Karena memang tools ini sudah tersedia di mana-mana.

“Harus diakui bahwa kita memang tidak bisa menghindari AI. Tapi tinggal bagaimana kita sebagai pengampu atau pengajar itu juga mau tidak mau harus ikut bisa (menggunakan AI). Harus lebih tahu, harus adaptasi, harus mengerti, dan juga harus mampu mengajarkan pemahaman bahwa ‘jangan sekadar menggunakan AI sebagai alat, tapi bagaimana kamu sebagai kreator, dalam hal ini dari menuliskan prompt sampai hasil jadinya, itu merupakan tanggung jawabmu sendiri’, seperti itu,” tutur Tedi Kusyairi, saat mengisi kegiatan Sambang Komunitas edisi ke-19 yang berlangsung di halaman kompleks Grhtama Pustaka, Banguntapan, Bantul, DIY, Senin (7/9/2026).

Bagi Tedi, satu hal yang masih menjadi persoalan adalah ketika para sastrawan senior maupun lembaga pendidikan tertentu tidak bisa mendeteksi, apakah karya ini merupakan hasil dari AI atau bukan.

Untuk itu, setiap sastrawan senior maupun lembaga pendidikan sejatinya perlu melakukan semacam training atau pembekalan khusus, agar tidak membebaskan anak-anak muda menggunakan AI secara membabi buta. Namun tetap mengedepankan etika dan tanggung jawab yang sesuai dengan norma profesi, dan lain sebagainya.

“Yang agak repot sebenarnya adalah bagaimana kemudian institusi pendidikan misalnya, untuk membekali bapak-ibu guru, agar bisa ngecek ini produk dari AI atau bukan. Lalu bagaimana training-nya supaya si anak (generasi muda) itu tidak sekadar istilahnya tinggal nge-prompt di AI lalu selesai gitu aja. Enggak. Tapi bagaimana orang itu mampu mempertanggungjawabkan apa yang dia lakukan. Jadi biar etika dan moralitasnya tetap terasah, dan tidak terkesan nggampangke sesuatu,” sambung Tedi.

Melalui kehadiran AI, ada semacam pergeseran nilai dalam membuat sebuah karya sastra, yang seolah bisa dilakukan dengan begitu mudah dan cepat.

Padahal, proses pembuatan karya sastra juga memiliki esensi lain yang tidak kalah penting, dan proses itu harus tetap dialami oleh para generasi muda. Sekalipun mereka sudah begitu dimanjakan dengan kehadiran AI, dan seterusnya. (zk)

BANTUL – Kegiatan Sambang Komunitas kini memasuki edisi yang ke-19, yang dilangsungkan di Halaman Dinas Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah (DPAD DIY), kompleks Grhatama Pustaka, Jalan Janti, Banguntapan, Bantul, Senin (7/9/2026).

Sambang Komunitas #19 kali ini mengambil tema “Mereka-reka Mimpi Jogja sebagai Kota Sastra Dunia”, dengan pemateri R. Toto Sugiharto (redaktur, editor, sastrawan), dan Tedi Kusyairi (penulis, editor, pegiat sastra), dan dipandu oleh moderator Niken Puji Lestari.

Ketika melihat segala potensi dan infrastruktur sastra yang dimiliki Jogja sampai saat ini, Jogja dianggap sudah memiliki segala yang dibutuhkan, untuk bisa menembus dunia internasional lewat bidang sastra.

Apalagi jika melihat dari sisi historis maupun ekosistem yang ada, Jogja sudah dianggap mampu menjadi kiblat sastra nasional. Karena Jogja selalu menjadi rujukan bagi masyarakat dari berbagai daerah, sebagai tempat untuk belajar, menimba ilmu, menambah pengalaman, dan menambah relasi baru melalui bidang yang satu ini.

“Jogja kan punya banyak potensi ya (di bidang sastra). Sastrawannya banyak, terkenal, dan karya sastranya juga banyak, penerbitan banyak, sekolah-sekolah sastra, universitas atau kampus-kampus sastranya juga bagus-bagus dan luar biasa. Lalu komunitas dan sanggar sastranya juga banyak. Anak-anak muda yang suka sastra juga banyak. Nah semua ini kan menjadi sebuah potensi yang bisa kita upgrade lebih jauh,” papar salah satu pembicara, Tedi Kusyairi, saat ditemui di sela-sela acara, Senin (7/9/2026).

Dengan segala potensi dan infrastruktur tersebut, Tedi meyakini bahwa langkah selanjutnya adalah bagaimana menyatukan seluruh elemen pelaku sastra dari berbagai generasi, untuk kemudian bisa menciptakan satu kerjasama yang bersifat kolaboratif, agar dapat membawa Jogja melangkah jauh ke dunia internasional, dan mendapat predikat sebagai “kota sastra dunia”.

“Tentu saja harapan kami agar sastra tidak hanya berhenti di komunitas, atau berhenti di kelompok masing-masing, tapi sastra juga bisa kita kenalkan ke publik yang lebih luas, baik skala nasional maupun internasional. Nah salah satu bentuk yang bisa dikembangkan adalah bagaimana mengkolaborasikan seluruh iklim ekosistem sastra yang ada di Jogja, untuk dapat membuat gerakan sastra bersama-sama (kolaboratif), yang isinya adalah memperkenalkan Jogja sebagai kota sastra dunia.

Selanjutnya bagaimana mengemas setiap karya sastra di Jogja itu agar lebih go international. Misalnya melalui alih media, termasuk diterjemahkan dalam bahasa asing, dijual (ke audiens internasional), membuat event-event (berskala) internasional, dan sebagainya, yang kemudian dapat mengangkat potensi sastra di Jogja,” tambah Tedi.

Di zaman yang serba canggih dan modern seperti saat ini, tentu saja salah satu cara yang paling mudah dilakukan untuk membuat sastra go international adalah terus mem-publish kegiatan sastra di media sosial.

Dengan begitu, dunia akan melihat bagaimana Yogyakarta terus tumbuh dan lestari melalui sastra, yang diharapkan akan mampu menarik minat dunia internasional, untuk mulai mempelajari sastra, mendalami sastra, membuat karya sastra, dan bahkan ikut menjadikan sastra sebagai bagian dari keseharian “para bule” di kehidupan mereka sehari-hari. (zk)

BANTUL – Bekerjasama dengan Dinas Kebudayaan “Kundha Kabudayan” DIY, kegiatan Sambang Komunitas kini memasuki edisi yang ke-19, yang dilangsungkan di Halaman Dinas Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah (DPAD DIY), kompleks Grhatama Pustaka, Jalan Janti, Banguntapan, Bantul, Senin (7/9/2026).

Sambang Komunitas #19 kali ini mengambil tema “Mereka-reka Mimpi Jogja sebagai Kota Sastra Dunia”, dengan pemateri R. Toto Sugiharto (redaktur, editor, sastrawan), dan Tedi Kusyairi (penulis, editor, pegiat sastra), dan dipandu oleh moderator Niken Puji Lestari.

Tema ini mengacu pada peluang besar Yogyakarta, atau Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) secara umum, agar bisa mendunia melalui sastra.

Karena segala infrastruktur sastra dan budaya telah tersedia lengkap di DIY. Tinggal bagaimana menyebarluaskannya ke dunia internasional, alias “sastra go-international”.

Berikut adalah beberapa momen menarik yang terjadi dalam kegiatan Sambang Komunitas tersebut. (Foto: Azka Qintory)

 

 

JEPARA, JT – Karimunjawa dikenal sebagai surga wisata bahari, dan dijuluki sebagai “The Paradise of Java” atau “Caribbean van Java” karena memiliki keindahan pantai berpasir putih, air laut yang sangat jernih, serta panorama alam bawah laut yang luar biasa.

Lebih dari itu, Karimunjawa juga memiliki acara cultural night yang sangat khas, dan mampu mempertemukan seluruh lapisan masyarakat, baik wisatawan lokal, mancanegara, maupun masyarakat setempat, dengan sebuah pengalaman unik dan tiada duanya khas Karimunjawa.

Melalui berbagai pertunjukan seperti tarian tradisional, musikm dan hidangan khas Karimunjawa, tercipta sebuah gagasan yang amat sederhana, yakni pengalaman wisata yang dapat memberikan manfaat bagi siapa saja, tanpa kecuali.

Tidak Hanya Wisata

Kejora Karimunjawa, sebagai yayasan yang bergerak di bidang pendidikan dalam lingkup Karimunjawa dan sekitarnya, percaya bahwa keberlanjutan pendidikan tidak hanya dibangun melalui ruang kelas, tetapi juga melalui keterlibatan masyarakat dan wisatawan yang datang ke pulau ini setiap harinya.

Karena itu, Kejora mengembangkan berbagai kegiatan menarik, yang memungkinkan setiap pengalaman wisata juga turut memberikan dampak positif bagi komunitas lokal.

Cultural Night adalah salah satu upaya dari Kejora Karimunjawa, untuk dapat memperkenalkan Karimunjawa dari sisi yang berbeda, dan tetap memiliki dampak positif bagi seluruh masyarakat yang terlibat di dalamnya.

Cultural Night dilaksanakan setiap Sabtu malam selama musim liburan (Juli-Oktober) di Bukit Love, kompleks wisata Karimunjawa, kabupaten Jepara, Jawa Tengah.

Pertunjukkan ini menampilkan performance dari berbagai sanggar seni di Karimunjawa, yang telah dikurasi oleh pihak Kejora, dipadukan dengan makan malam khas Indonesia, yang turut memperkenalkan kekayaan kuliner lokal, salah satunya latoh (anggur laut).

Bagi banyak wisatawan mancanegara, acara ini menjadi salah satu pengalaman paling berkesan selama berada di Karimunjawa, karena mereka dapat menikmati sisi pulau yang tidak ditemukan melalui wisata bahari saja.

Cerita Di Balik Cultural Night

Sesuatu yang menarik dari Cultural Night bukan hanya tentang pertunjukannya, tetapi juga filosofi di balik keberadaannya.

Kejora melihat bahwa pariwisata dapat menjadi ruang kolaborasi. Ketika wisatawan dapat menikmati budaya lokal, masyarakat juga memperoleh ruang untuk terus berkarya, sementara manfaat dari kegiatan tersebut juga ikut mendukung berbagai inisiatif pendidikan yang dijalankan Kejora di wilayah Karimunjawa.

Dengan cara ini, sebuah malam budaya menjadi bagian dari perjalanan yang lebih panjang: memperkuat pendidikan, menjaga budaya tetap hidup, dan membangun masa depan pulau secara bersama-sama. (zk)

 

BANTUL – Berawal dari pertemuan di salah satu padepokan dalam project workshop, Nunung Deni Puspitasari dan Regina Gandes Mutiary memiliki banyak kesamaan yang seolah tidak disengaja.

Misalnya sama-sama berzodiak Scorpio, punya semangat berkarya seni yang sama, dan eksplorasi karya dalam berbagai bentuk dan ekspresi yang juga cukup identik.

Semua itu menjadi alasan kuat bagi keduanya untuk menyatukan diri dalam sebuah grup bernama Duo Ordo. Grup ini berkarya dengan menampilkan karya musikal story telling, yang disadur dari naskah cerita, cerpen, maupun puisi.

Tidak hanya itu, kolaborasi ini juga memungkinkan terciptanya ruang ekspresi baru di bidang seni, yang memadukan akting, narasi, dan musikalitas, dalam satu pengalaman artistik yang utuh dan autentik.

Mulai dibentuk sejak Mei 2026, Duo Ordo sejauh ini sudah tampil dalam tiga kesempatan berbeda. Mulai dari acara perayaan 75 tahun Sawung Jabo, pekan Yabbiekarta, dan yang terbaru adalah tampil di pentas Selasa Sastra, Kelingan Garden Cafe, Bejen, Bantul, pada 4 Agustus 2026.

Sejalan dengan perkembangan zaman yang terus bergerak maju dan dinamis, Duo Ordo juga tampil sebagai salah satu “pembeda” dalam dunia seni pertunjukkan di Yogyakarta, maupun di Indonesia pada umumnya.

Jika selama ini karya cerpen, puisi, dan naskah cerita (dialog dan semacamnya) hanya dibawakan secara monolog atau teatrikal di atas panggung, Duo Ordo mencoba mengeksplorasinya dalam kemasan pertunjukan seni yang lebih fresh, menghibur, dan mampu membangun semangat baru bagi semua orang, untuk terus berkarya dan berkontribusi bagi bangsa Indonesia, khususnya lewat bidang seni budaya.

Di usianya yang baru hitungan bulan, Duo Ordo mencoba untuk lebih banyak menelurkan karya demi karya inspiratif lainnya, yang berasal dari naskah cerita, puisi, maupun cerpen. Baik yang sudah dikenal luas, maupun yang diproduksi sendiri oleh Duo Ordo, dan sebagainya.

Dengan chemistry yang sudah terbangun sangat kuat, Nunung dan Regina yakin bahwa kehadiran mereka akan mampu diterima dengan baik oleh berbagai kalangan, baik kalangan pegiat seni, pecinta seni, maupun masyarakat umum.

Karena dunia seni adalah dunia yang terus berkembang dan bergerak secara dinamis serta kreatif. Di situlah Duo Ordo tampil dan memberikan nuansa baru bagi dunia seni budaya di Yogyakarta maupun Indonesia, agar terus lestari.

Hidup di tengah-tengah masyarakat sekaligus menggerakkan ekonomi bagi setiap pelaku di dalamnya. (zk)