BANTUL – Menghasilkan karya sastra seperti puisi bisa terinspirasi dari mana saja, termasuk pengalaman personal.

Bagi Isaura Erina Rahma Putri, salah satu lulusan program Temu Karya Sastra (TKS) dari Dinas Kebudayaan “Kundha Kabudayan” Yogyakarta periode 2024, sosok mendiang “ayah” (bukan kandung) menjadi pemantik bagi dirinya untuk menelurkan karya antologi puisi, yang diberi judul “Cara Paling Sendu, untuk Merindu”.

Dalam acara Selasa Sastra edisi Agustus 2026 bertema “Sajak-sajak Meraih Putih”, Isa, panggilan akrabnya, menceritakan bagaimana sosok “ayah” yang pernah singgah di hidupnya, benar-benar menjadi figur yang sangat dicintai dan dirindukan, khususnya setelah kepergiannya pada 2021 lalu.

“Karena aku kehilangan sosok yang jadi ‘ayah’ aku, bukan ayah (kandung) tapi sosok yang berperan jadi ‘ayah’ aku. Dia meninggalnya tahun 2021, tapi sampai sekarang aku masih belum ikhlas. rasanya berat banget untuk ngikhlasin kepergian dia.

Terus terlintas di pikiran aku, kalau kita sayang sama seseorang, cinta sama seseorang, itu bukan berarti kita harus mengikhlaskan dia pergi, tapi kita bisa mengabadikan dia dalam karya (sastra), agar selamanya bisa dibaca sama orang terdekat,” ucap Isa, dalam rangkaian acara Selasa Sastra edisi Agustus 2026 bertajuk “Sajak-sajak Meraih Putih”, yang berlangsung di Kelingan Garden & Cafe, Bejen, Bantul, belum lama ini.

Demi benar-benar menghayati seluruh puisi yang ia buat, Isa pun rela menuliskan puisi-puisi tersebut tepat di samping makam sang “ayah”. Semua itu demi mengenang sosok yang benar-benar dicintainya, sekaligus menjadi kenangan yang tak akan pernah dilupakan bagi dirinya, dan orang-orang di sekitarnya.

“Aku waktu nulis puisi itu persis di sebelah makamnya ‘ayah’, sekitar jam 4 sore. Karena dia selama nemanin aku hidup itu nggak pernah yang namanya ngebentak aku sama sekali. Dia orangnya nggak pernah marah, dan selalu lindungin aku dalam situasi apa pun,” tambah Isa.

Selain diskusi buku “Cara Paling Sendu, untuk Merindu” karya Isaura Erina Rahma Putri, kegiatan Selasa Sastra edisi Agustus kali ini juga menghadirkan diskusi karya sastra lainnya, yakni antologi cerpen berjudul “Matahari 1/4 Lingkar” karya Irfanda Azka Muzaki.

Selain itu, acara ini juga menghadirkan sejumlah penampilan sastra menarik lainnya, seperti pembacaan puisi dari sastrawan Tedi Kusyairi, Sri Wijayati, Sunawi, Fathia Jayanti, penampilan spesial dari grup “Duo Ordo”, dan masih banyak lagi. (zk)

BANTUL – Dalam setiap pembuatan karya sastra seperti antologi cerpen maupun puisi, seseorang biasanya akan mengacu pada sesuatu yang dekat dengan kehidupannya sehari-hari, atau pengalaman tertentu yang pernah dialami, dan seterusnya.

Namun bagi Irfanda Azka Muzaki, salah satu lulusan program Temu Karya Sastra (TKS) dari Dinas Kebudayaan “Kundha Kabudayan” DIY tahun 2024, ia tidak ingin berpikiran “mainstream” dengan menirukan seniman-seniman lainnya dalam hal inspirasi menghasilkan karya sastra.

Baginya, sesuatu yang “absurd” seperti sosok sastrawan bernama Danarto, adalah celah yang bisa dimanfaatkan oleh Azis, panggilan akrabnya, untuk menghasilkan karya antologi cerpen yang tidak biasa, alias berbeda dengan kebanyakan seniman lainnya di luar sana.

Ia pun resmi me-launching buku antologi cerpen berjudul “Matahari 1/4 Lingkar”, yang merujuk pada penokohan dari benda-benda mati seperti matahari, rembulan, bintang, dan sebagainya, yang menjadi representasi dari absuditas ala Danarto tadi.

“Saya orangnya suka baca-baca tipikal seperti itu (penokohan yang bukan manusia). Salah satunya dari sastrawan bernama Danarto. Jadi dari sosok seperti Danarto ini, sisi absurditasnya sangat-sangat kental. Dan karena dia aneh, maka saya pikir ini sangat menarik, karena dia mampu membuat suatu karya yang berbeda dari yang lain, Cara pembahasaannya itu sederhana, tapi kok bisa dimelencengkan ke sana ke mari, seperti itu,” tutur Azis, dalam sesi diskusi buku antologi cerpen berjudul “Matahari 1/4 Lingkar”, dalam rangkaian Selasa Sastra edisi Agustus 2026 bertema “Sajak-sajak Meraih Putih”, yang berlangsung di Kelingan Garden & Cafe, belum lama ini.

Kekaguman Azis terhadap Danarto pun terindikasi dari caranya dalam mendeskripsikan suatu persitiwa dalam kehidupan sehari-hari, menjadi sebuah cerita (cerpen) yang menarik dan mudah dimengerti oleh banyak orang, termasuk Azis sendiri.

“Salah satu karya Danarto itu kan ada yang menggambarkan kadal minyak dan gedebok pisang, kok bisa gitu lho? Padahal aku sendiri juga cukup dekat dengan keduanya. Tapi kok dia (Danarto) bisa menuliskan karya sastra dengan tokoh berupa benda seperti itu? Aku tuh kurang apa sebenarnya, gitu loh? Jadi aku mencoba menggali lebih dalam, gimana sih caranya untuk bisa membuat (karya sastra) seperti ini (yang dilakukan Danarto), dan seterusnya,” tambah Azis.

Selain diskusi buku antologi cerpen berjudul “Matahari 1/4 Lingkar”, rangkaian acara Selasa Sastra edisi Agustus 2026 kali ini juga menghadirkan diskusi buku lainnya yakni antologi puisi berjudul “Cara Paling Sendu, untuk Merindu”, serta beberapa penampilan sastra spesial dari beberapa sastrawan ternama.

Sebut saja Tedi Kusyairi, Sri Wijayati, Sunawi, Fathia Jayanti, lalu penampilan spesial dari grup “Duo Ordo”, dan masih banyak lagi. (zk)

Bulan Agustus selalu menjadi momen yang ditunggu-tunggu setiap tahunnya. Pasalnya bulan yang satu ini merupakan momen perayaan kemerdekaan Republik Indonesia, yang kerap dimeriahkan dengan berbagai acara, dan dibungkus dengan istilah “Agustusan”.

Selasa Sastra juga tak ketinggalan ikut meramaikan perayaan kemerdekaan Indonesia di bulan Agustus, alias merayakan momen “Agustusan” tersebut.

Mengambil tema “Sajak-sajak Meraih Putih”, Selasa Sastra edisi Agustus kali ini mencoba untuk memanfaatkan momentum perayaan “Agustusan”, dengan pertunjukan sastra yang dapat menjadi pemicu untuk terus berkarya, bergerak, dan mewujudkan kemerdekaan berkreativitas dalam kehidupan sehari-hari.

Berikut adalah sejumlah keseruan yang terjadi di acara Selasa Sastra “Sajak-sajak Meraih Putih” tersebut, yang berlangsung di Kelingan Garden & Cafe, Bejen, Bantul, Selasa (4/8/2026). (Foto: Azka Qintory)

 

 

 

BANTUL – Bulan Agustus selalu menjadi momen yang ditunggu-tunggu setiap tahunnya. Pasalnya bulan yang satu ini merupakan momen perayaan kemerdekaan Republik Indonesia, yang kerap dimeriahkan dengan berbagai acara, dan dibungkus dengan istilah “Agustusan”.

Selasa Sastra juga tak ketinggalan ikut meramaikan perayaan kemerdekaan Indonesia di bulan Agustus, alias merayakan momen “Agustusan” tersebut.

Apalagi di tahun 2026 ini, Indonesia telah memasuki usia yang ke-81 tahun. Sebuah usia yang bisa dibilang “cukup senior” bagi sebuah bangsa, untuk bisa menentukan arah tujuannya sendiri di masa kini dan masa mendatang.

Mengambil tema “Sajak-sajak Meraih Putih”, Selasa Sastra edisi Agustus kali ini mencoba untuk memanfaatkan momentum perayaan “Agustusan”, dengan pertunjukkan sastra yang dapat menjadi pemicu untuk terus berkarya, bergerak, dan mewujudkan kemerdekaan berkreativitas dalam kehidupan sehari-hari.

“Memasuki bulan Agustus ini kita akan memperingati HUT RI yang ke-81, yang mana warna identitasnya (bendera Indonesia) adalah merah dan putih. Dalam hal ini merahnya kita ganti menjadi “meraih” ya (meraih putih). Itu bisa berarti meraih kesucian, kesuksesan, impian, dan seterusnya, yang berkaitan dengan makna kemerdekaan itu sendiri,” ungkap Direktur Selasa Sastra, Tedi Kusyairi, Selasa (4/8/2026).

Memulai Harapan Baru Di Bulan Kemerdekaan

Suasana diskusi antologi cerpen berjudul “Matahari 1/4 Lingkar” karya Irfanda Azka Muzaki, yang menjadi salah satu rangkaian kegiatan Selasa Sastra di Kelingan Garden & Cafe (Foto: Azka Qintory)

Selain tentang perayaan kemerdekaan, Selasa Sastra edisi kali ini juga mencoba untuk memberikan semacam pengharapan kepada segenap generasi muda, untuk terus berjuang dan meniti masa depan sesuai bidangnya masing-masing, yang juga bisa dikemas dalam pertunjukkan sastra.

“Semoga teman-teman bisa terus berkarya sastra dengan lebih kreatif, produktif, maju, dan sebagainya. Sehingga teman-teman dari generasi muda akan mampu menghasilkan karya yang lebih hebat lagi, dan tentunya “meraih putih” itu tadi, yaitu meraih kejayaan, kemakmuran, dan mimpi-mimpinya bisa terwujud,” tambah Tedi.

Selain pertunjukkan sastra dari para sastrawan kondang di Bantul seperti Tedi Kusyairi, Sunawi, Sri WIjayati, Fathia Jayanti, dan seterusnya, Selasa Sastra edisi kali ini juga menampilkan dua sesi diskusi buku.

Diantaranya membahas satu antologi cerpen yang berjudul “Matahari 1/4 Lingkar” karya Irfanda Azka Muzaki, dan satu antologi puisi berjudul “Cara Paling Sendu Untuk Merindu” karya Isaura Erina Rahma Putri. Kebetulan keduanya merupakan lulusan dari program Temu Karya Sastra (TKS), yang diinisiasi oleh DInas Kebudayaan (Disbud) “Kundha Kabudayan” DIY, dalam kurun lima tahun terakhir.

Ada pula satu pertunjukkan spesial dari “Duo Ordo”, yang membawakan dua buah karya musik puisi spesial di bulan Agustus. (zk)

BANTUL – Pameran bertajuk “Babad Sokaraja” yang telah berlangsung selama satu bulan penuh, tepatnya pada 20 Juni hingga 20 Juli 2026, menghadirkan sejumlah cerita tersendiri bagi banyak orang.

Lukisan demi lukisan yang terpampang di Museum dan Tanah Liat (MDTL), Tirtonirmolo, Kasihan, Bantul tersebut telah mampu memotret keindahan alam daerah Sokaraja, salah satu kecamatan di Banyumas, Jawa Tengah, yang bernilai historis cukup penting dan sarat akan makna filosofis.

Sejumlah lukisan dalam pameran itu pun berhasil terjual dengan nilai yang cukup menjanjikan.

Menutup rangkaian pameran, pihak panitia pun menghadirkan sesi nonton bareng (nobar) dan juga diskusi film dokumenter berjudul Mooi Banjoemas karya Produser Wasis Wardhana, yang juga menjadi semacam proses behind the scene dari keseluruhan pameran tersebut.

Sesi nobar dan diskusi pun dilaksanakan tepat di hari penutupan, yang dilangsungkan di halaman depan MDTL, Senin (20/7/2026).

Ugo Untoro, seniman dan sekaligus pemilik pameran “Babad Sokaraja” mengatakan bahwa pameran tersebut merupakan wujud apresiasi terhadap para pelukis Sokaraja di masa lampau, sekaligus sebagai penghormatan atas sumbangsihnya terhadap wilayah Sokaraja sejak lama.

“Bagi saya, ini (pameran Babad Sokaraja) merupakan rasa hormat saya, istilahnya membalas budi kepada para pelukis Sokaraja. Karena secara tidak langsung, mereka telah mendorong saya untuk menjadi pelukis. Jadi ada semacam jasa, yang mungkin tidak disadari oleh mereka (para pelukis Sokaraja), tapi buat saya, mereka sangat berjasa sekali,” ucap Ugo Untoro, saat ditemui di MDTL, di sela acara nobar film.

Salah satu lukisan Sokaraja yang dipamerkan di Pameran “Babad Sokaraja” di MDTL (Foto: Azka Qintory)

Meskipun pameran dan film dokumenter ini bercerita tentang Sokaraja yang berada di Kabupaten Banyumas, namun pelaksanaan pameran ini tetap dilaksanakan di Yogyakarta.

Hal ini disebabkan karena Ugo dan kawan-kawan ingin memperkenalkan Sokaraja dan Banyumas ke daerah-daerah lain, terutama yang memiliki cita rasa seni yang cukup tinggi, salah satunya di Yogyakarta.

“Kita mencoba, di samping mengenalkan (Sokaraja) ke daerah yang lebih luas, kita juga kebetulan punya space di Yogya ini. Atau kalau di daerah lain misalnya saya juga punya tempat, mungkin akan saya pamerkan juga di sana,” tambah Ugo.

Ugo pun berharap, hadirnya pameran sekaligus nobar dan diskusi tersebut dapat menjadi pemantik semangat bagi para generasi muda, untuk terus merawat keindahan alam di Sokaraja, sekaligus merawat keindahan lukisannya, dan konsisten memotret setiap peristiwa yang terjadi di sana. (zk)

Sokaraja adalah sebuah kecamatan di Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, yang terletak sekitar 8 km arah timur dari pusat Kota Purwokerto.

Wilayah ini cukup terkenal dengan keindahan alamnya, yang berisi alam pedesaan menawan dan berhawa sejuk khas pedesaan tempo dulu.

Keindahan itulah yang dipotret melalui pameran bertajuk “Babad Sokaraja” yang berlangsung di Museum dan Tanah Liat (MDTL) selama satu bulan penuh, tepatnya mulai 20 Juni hingga 20 Juli 2026.

Pameran ini menampilkan berbagai lukisan alam tanah Sokaraja, beserta potret kegiatan masyarakat sehari-hari, yang kian sulit ditemui di wilayah perkotaan di era modern saat ini.

Di hari penutupan pameran, Senin (20/7/2026), masyarakat pun diajak menonton bareng film dokumenter berjudul Mooi Banjoemas. Memotret tentang keseharian masyarakat di wilayah Sokaraja dan bagaimana pameran ini diselenggarakan di balik layar, yang menjadi cerita tersendiri bagi masyarakat setempat.

Para penonton pun diajak berdiskusi mengenai film tersebut dan berbicara mengenai pengalaman masing-masing terkait wilayah Sokaraja, atau dunia lukisan serta kesenian secara umum.

Berikut adalah sejumlah keseruan dari kegiatan Nonton Bareng (Nobar) film Mooi Banjoemas, yang berlangsung di Museum dan Tanah Liat (MDTL), Tirtonirmolo, Kasihan, Bantul, Yogyakarta. (Foto: Azka Qintory)

 

 

YOGYAKARTA – Dua pembalap Indonesia yang kini berlaga di ajang Grand Prix, Mario Suryo Aji (Moto2) dan Veda Ega Pratama (Moto3) saat ini tengah berlibur di Indonesia, setelah melewati setengah musim 2026 yang cukup panjang, dengan berlaga di 11 seri yang dimulai sejak akhir Februari.

Keduanya pun menyempatkan waktu untuk hadir di Yogyakarta, dalam acara Meet and Greet yang digagas oleh Pertamina dan juga ITDC (Injourney Tourism Development Corporation), yang digelar di Monumen Serangan Umum 1 Maret 1949, Minggu (19/7/2026).

Acara ini juga menjadi semacam kegiatan marketing bagi masyarakat Yogyakarta (promotional event), untuk menyambut gelaran MotoGP Indonesia 2026, yang akan dilangsungkan pada 9-11 Oktober 2026 di sirkuit Mandalika, Lombok, provinsi NTB.

Terlebih salah satu wakil Indonesia di ajang tersebut, yakni Veda Ega Pratama, merupakan putra asli DIY, tepatnya dari Kabupaten Gunungkidul.

Di sela-sela kegiatan, keduanya pun membicarakan peluang dan target di balapan seri Mandalika tersebut, yang pastinya akan memiliki atmosfer yang berbeda dari balapan-balapan sebelumnya yang digelar di Eropa.

“Ya pastinya sih udah nggak sabar ya nungguin balapan di Mandalika. Apalagi ini (2026) merupakan tahun pertama saya di ajang Grand Prix. Saya pasti akan berusaha memberikan yang terbaik di balapan nanti, untuk membawa nama Indonesia,” pungkas Veda, saat ditemui usai mengisi acara Meet and Greet di Monumen Serangan Umum 1 Maret 1949, Minggu (19/7/2026).

Sementara seniornya yang telah merasakan pengalaman balap di Mandalika sejak awal berdiri, yakni Mario Suryo Aji, juga memiliki keinginan yang sama untuk memberikan hasil yang terbaik di balapan seri Mandalika. Namun ia tidak ingin mematok target yang terlalu muluk-muluk, karena ia menyadari persaingan di Moto2 sangatlah sulit dan kompetitif.

“Saya ingin mempersembahkan yang terbaik juga untuk balapan di Mandalika nanti. Tapi kita sih tetap harus realistis, karena kita tahu persaingan di sana (World Championship) sangatlah ketat, yang jelas saya pasti akan berusaha untuk tampil maksimal di balapan kandang tahun ini,” papar Mario, di kesempatan yang sama.

Untuk mempersiapkan balapan kandang dengan lebih maksimal, keduanya pun akan diberikan kesempatan untuk berlatih di sirkuit kebanggaan Indonesia tersebut, setelah rangkaian acara di Yogyakarta usai.

Mereka akan berlatih khusus di sirkuit Mandalika selama dua hari, agar dapat mempersiapkan paruh musim kedua dengan lebih maksimal, sekaligus “curi start” untuk menjajal sirkuit yang akan digunakan pada seri ke-17 musim balap 2026 kali ini. (zk)

YOGYAKARTA – Dua pembalap andalan Indonesia di kancah Grand Prix, yakni Mario Aji (Moto2) dan Veda Ega Pratama (Moto3) berkesempatan untuk pulang ke Indonesia, guna mengisi jeda libur musim panas selama tiga minggu pada musim 2026 kali ini, setelah melewati 11 seri yang cukup panjang sejak akhir Februari.

Ada pun salah satu kegiatan yang dilakukan keduanya selama berada di Indonesia adalah menyempatkan diri untuk bertemu dengan para penggemar di Yogyakarta, yang menjadi salah satu pusat penghasil talenta balap motor terbaik dalam beberapa tahun terakhir.

Terlebih bagi Veda, momen ini juga sekaligus menjadi kesempatan pulang kampung baginya. Mengingat Veda merupakan salah satu putra asli DIY, tepatnya di Kabupaten Gunungkidul.

Keduanya pun hadir di Monumen Serangan Umum 1 Maret 1949, Kota Yogyakarta, untuk menghadiri acara Meet and Greet bertajuk “#Indonesia Mendunia Bersama Pertamina, Sambut Pertamina Grand Prix of Indonesia”, Minggu (19/7/2026).

Dalam acara yang turut dihadiri pihak Pertamina dan ITDC (Injourney Tourism Development Corporation) tersebut, Mario dan Veda bercerita mengenai pengalamannya masing-masing selama berkompetisi di ajang Grand Prix, di mana Mario bertanding di ajang Moto2, sementara Veda berada satu tingkat di bawahnya, yakni Moto3.

Selain itu, acara ini juga menjadi momentum kembalinya seri MotoGP Indonesia di tahun 2026 ini, dengan tajuk “Pertamina Grand Prix of Indonesia”, yang akan dilangsungkan di sirkuit Mandalika, Lombok, NTB, pada 9-11 Oktober 2026 mendatang.

Tersedia beberapa diskon dan fasilitas menarik yang disediakan oleh pihak Pertamina dan juga ITDC, kepada masyarakat Yogyakarta yang hadir dan melakukan pembelian tiket di acara Meet and Greet tersebut.

Mario dan Veda pun bertekad untuk tampil semaksimal di balapan kandang pada tahun ini, untuk bisa mengharumkan nama Indonesia di panggung internasional.

Di akhir acara, keduanya pun memberikan sejumlah hadiah kepada para pengunjung, serta melayani permintaan foto, tanda tangan, sekaligus ikut menerima hadiah dari beberapa fans, yang turut hadir pada sore itu.

Setelah acara Meet and Greet di pusat Kota Yogyakarta ini, keduanya akan langsung bertolak ke Lombok, Nusa Tenggara Barat, untuk menjalani sejumlah agenda di sirkuit Mandalika.

Di mana salah satu agendanya adalah latihan khusus di trek Mandalika selama dua hari, demi mempersiapkan diri jelang pertempuran yang sesungguhnya pada Oktober mendatang. (zk)

Di tengah jeda liburan musim panas kompetisi 2026, dua pembalap Indonesia yang kini berlaga di ajang Grand Prix (World Championship), Mario Aji dan juga Veda Ega Pratama, berkesempatan untuk pulang ke Indonesia, dan menemui para penggemarnya di Kota Yogyakarta.

Bekerjasama dengan Pertamina dan ITDC (Injourney Tourism Development Corporation), Mario dan Veda hadir di Monumen Serangan Umum 1 Maret 1949, Kota Yogyakarta, untuk mengikuti acara Meet and Greet bertajuk “#Indonesia Mendunia Bersama Pertamina, Sambut Pertamina Grand Prix of Indonesia”, Minggu (19/7/2026).

Mereka pun menyapa para penggemarnya di pusat Kota Yogyakarta dan memberikan sejumlah memorabilia serta tanda tangan kepada masyarakat yang hadir pada sore itu.

Tak lupa, keduanya juga bersiap menyambut balapan kandang di sirkuit Mandalika yang akan berlangsung pada pertengahan Oktober mendatang.

Berikut adalah sejumlah keseruan yang terjadi dalam acara Meet and Greet tersebut. (Foto: Azka Qintory)

 

 

BANTUL – Perkembangan teknologi informasi yang begitu pesat dan cepat telah mampu mengubah berbagai sektor dalam kehidupan, salah satunya adalah bidang seni dan sastra.

Belum lagi dengan kemunculan AI (Artificial Intelligence) seperti saat ini, yang membuat segala sesuatunya terasa lebih mudah dari sebelumnya. Termasuk dalam membuat karya sastra seperti lukisan, cerpen, puisi, dan semacamnya.

Namun bagi Sastrawan senior Joni Ariadinata, hal itu tidak perlu dipersoalkan sedikitpun. Karena AI tidak akan benar-benar menggantikan para seniman seutuhnya, mengingat seni adalah sesuatu yang bersifat tidak presisi, alias sangat bergantung dari selera manusia yang membuat karya tersebut. Sedangkan AI adalah robot atau mesin yang tidak memiliki perasaan sama sekali.

“Sepertinya karya sastra seperti lukisan, atau seni secara umum, itu adalah hal paling akhir yang bisa digantikan sepenuhnya oleh AI. Karena kalau manajemen, arsitektur, bahkan dokter pun sudah bisa digantikan oleh AI. Karena kan ada exact-nya disitu, artinya harus ada data yang presisi. Tetapi seni itu sama sekali tidak presisi. AI itu juga bingung, bagaimana caranya untuk bener-bener hadir dan menggantikan peran manusia seutuhnya? Tapi emang ternyata nggak bisa,” ungkap Sastrawan Joni Ariadinata, saat mengisi diskusi bertajuk “Relevansi Cerpen di Mata Gen Z”, yang berlangsung di Kelingan Garden & Cafe, Bejen, Bantul, beberapa waktu lalu.

Joni pun meyakini, bahwa profesi seniman akan selalu eksis sampai kapanpun, karena profesi semacam ini sangat lekat dengan perasaan manusia, dan merupakan sesuatu yang sangat subjektif. Sehingga tidak bisa sembarangan ditiru oleh siapapun, termasuk mesin secanggih AI sekalipun.

“Jadi saya tidak khawatir dengan AI. Orang seni itu nggak usah khawatir, karena pekerjaan seni itu bukan sesuatu yang presisi, dan bisa dengan mudah digantikan oleh AI,” tambah Joni.

Meski demikian, Joni tetap memandang perlunya para seniman untuk tetap menggunakan intuisinya dengan baik dan bijak, sehingga tidak perlu sedikit-sedikit menggunakan alat bantu seperti AI untuk mencari data tertentu, dan seterusnya. (zk)