Sanggar sastra Regas mengawali pertemuan perdana di tahun 2026 dengan semangat baru, untuk bisa memajukan dunia sastra, khususnya di wilayah Kulon Progo, menjadi lebih maju dan semarak dibanding tahun-tahun sebelumnya.

Semangat baru Regas tersebut diwujudkan dalam pemilihan pengurus baru, yang akan bertugas di sepanjang tahun 2026 ini. Salah satunya adalah pemilihan Ketua Sanggar, yang langsung dilantik saat itu juga.

Berikut adalah momen-momen keseruan Sanggar Sastra Regas saat melakukan pergantian kepengurusan, yang berlangsung di sekretariat Sanggar Sastra Regas, yang berlokasi di Sogan, Wates, Kulon Progo, Sabtu (7/3/2026). (Foto: istimewa)

 

KULON PROGO – Sanggar sastra Regas mengawali pertemuan perdana di tahun 2026 dengan semangat baru, untuk bisa memajukan dunia sastra, khususnya di wilayah Kulon Progo, menjadi lebih maju dan semarak dibanding tahun-tahun sebelumnya.

Semangat baru Regas tersebut diwujudkan dalam pemilihan pengurus baru, yang akan bertugas di sepanjang tahun 2026 ini. Salah satunya adalah pemilihan Ketua Sanggar, yang langsung dilantik saat itu juga.

Kegiatan pemilihan sekaligus pelantikan ketua sanggar tersebut dilaksanakan pada Sabtu (7/3/2026), bertempat di Sanggar Sastra Regas, Sogan, Wates, Kulon Progo.

Adapun agenda utama dalam pertemuan ini adalah pemilihan ketua sanggar baru, yang dilakukan secara musyawarah oleh para pengurus yang telah lolos proses seleksi.

Dalam proses tersebut, diputuskan bahwa Ahmad Hibban Aunur Rahman terpilih sebagai ketua baru Sanggar Sastra Regas periode 2026, menggantikan kepemimpinan sebelumnya yang diemban oleh Tri Wahyuni.

Selain pemilihan ketua, kegiatan ini juga menjadi ajang pertemuan perdana para pengurus baru yang telah dinyatakan lolos seleksi.

Pertemuan ini juga sekaligus menjadi ajang silaturahmi pengurus baru, untuk membangun kekompakan, semangat baru, serta menumbuhkan komitmen bersama dalam mengembangkan kegiatan literasi dan sastra di lingkungan Sanggar Sastra Regas, serta Kulon Progo dan DIY secara umum.

Acara kemudian dilanjutkan dengan prosesi pelantikan pengurus baru secara langsung di lokasi yang sama. Prosesi pelantikan didampingi langsung oleh pembimbing Sanggar Sastra Regas, Tedi Kusyairi, yang juga memberikan arahan serta motivasi kepada para pengurus baru, agar dapat menjalankan amanah dengan penuh tanggung jawab dan semangat dalam berkarya.

Sebagai penutup, kegiatan dilanjutkan dengan buka bersama, yang berlangsung dalam suasana hangat dan kekeluargaan. Momen ini juga menjadi kesempatan bagi seluruh pengurus untuk semakin mempererat kebersamaan, serta meneguhkan semangat untuk terus menghidupkan ruang-ruang sastra di tengah-tengah masyarakat.

Melalui pertemuan perdana ini, diharapkan kepengurusan baru Sanggar Sastra Regas mampu membawa energi baru, memperkuat kegiatan literasi, serta terus menghadirkan karya-karya sastra yang memberi inspirasi bagi masyarakat, khususnya di Kulon Progo. (zk)

YOGYAKARTA – Kegaduhan politik yang terjadi belakangan ini, khususnya sejak kehadiran program Makan Bergizi Gratis (MBG), rupanya telah memantik rasa penasaran sejumlah pihak, terkait bagaimana nasib bangsa Indonesia ke depannya.

Terlebih ketika pemerintahan saat ini terlalu memaksakan diri untuk mengaplikasikan programnya ke seluruh pelosok negeri, meskipun kenyataannya banyak terjadi kecacatan disana-sana, seperti misalnya keracunan (terkait makanan MBG), dan sebagainya.

Dalam Dialog Kebangsaan bertema “Keadilan yang dirindukan, Pilar Peradaban yang Hilang” yang berlangsung di Plaza Masjid Jogokariyan, Jumat (27/2/2026), Guru Besar Hukum Tata Negara, Mahfud MD, yang turut hadir sebagai pembicara dalam dialog tersebut, menyatakan bahwa dinamika politik saat ini memang sudah berlangsung secara transaksional, sehingga sulit untuk menghindarinya, apalagi mampu mengubahnya.

“Marilah kesadaran itu (untuk menjadi lebih baik) dimulai dari diri kita sendiri, sehingga nantinya akan muncul kesadaran secara kolektif. Karena memang harus diakui bahwa politik kita hari ini sudah bersifat transaksional, jadi sangat sulit untuk dihindari,” ucap Mahfud MD di Plaza Masjid Jogokariyan, Jumat (27/2/2026).

Mahfud MD menambahkan, dalam situasi seperti ini, masyarakat semestinya bisa lebih bersatu dan mengumpulkan kekuatan bersama, untuk benar-benar bisa menggulingkan kekuasaan pemerintah hari ini, agar kesewenang-wenangan itu tidak semakin memburuk di kemudian hari.

“Perubahan mendasar di negeri ini maupun di seluruh dunia, itu selalu diawali dari operasi caesar, yakni ketika rakyat sudah tidak berdaya, dan penguasa sudah terlalu sewenang-wenang, gerakan itu lantas muncul sendiri, dan pemerintah pun bisa dijatuhkan,” tambah Mahfud MD.

Mahfud pun meminta masyarakat untuk terus berjuang sesuai jalannya masing-masing, agar mampu menciptakan peradaban manusia yang lebih baik, dan tidak sepenuhnya bergantung kepada penguasa. Apalagi jika penguasa hari ini justru bersikap sewenang-wenang kepada rakyatnya. (zk)

YOGYAKARTA – Polemik ketidakadilan yang melanda bangsa Indonesia, khususnya sejak tahun-tahun terakhir kepemimpinan presiden Jokowi, telah memantik diskusi dari berbagai pihak dan juga sudut pandang, untuk dapat membedah sejauh mana ketidakadilan bisa menjadi “api” yang dapat memecah suatu bangsa. Namun di saat yang sama juga bisa menjadi semangat yang menyatukan seluruh elemen bangsa, ketika mampu bersatu melawan ketidakadilan tersebut.

Dalam Dialog Kebangsaan bertema “Keadilan yang dirindukan, Pilar Peradaban yang Hilang” yang berlangsung di Plaza Masjid Jogokariyan, Jumat (27/2/2026), Guru Besar Hukum Tata Negara, Mahfud MD, yang turut hadir sebagai pembicara dalam dialog tersebut, menyatakan bahwa ketidakadilan adalah sumber utama yang mampu memecah belah bangsa, apalagi jika ketidakadilan itu dilakukan oleh penguasa, atau pemerintah itu sendiri.

“Sejak jauh sebelum zaman Nabi, terbukti bahwa kehancuran bangsa-bangsa itu tejadi karena ketidakadilan. Sesudah nabi sampai sekarang pun, seperti Majapahit, Singosari, dan Mataram, semuanya hancur karena ketidakadilan,” ucap Mahfud MD, Jumat (27/2/2026).

Lebih lanjut, Mahfud MD mengatakan, keadilan di zaman sekarang itu memang semakin sulit didapatkan, namun tugas manusia lah untuk terus mencarinya tanpa henti.

“Mari kita perjuangkan keadilan tanpa kenal henti. Kalau masih belum ketemu juga, cari teru. Karena manusia itu hidup terus bergantian, berkembang, dan seterusnya,” tambah Mahfud.

Menurut Mahfud, selama peradaban manusia masih ada, selama itu pula akan ada ketidakadilan, dan selama itu pula keadilan harus terus diperjuangkan. (zk)

Mahasiswa KKN PKM-SK Universitas PGRI Yogyakarta (UPY) kelompok 10 baru saja menyelesaikan program Kuliah Kerja Nyata (KKN) di Padukuhan Cungkuk, Kelurahan Ngestiharjo, Kapanewon Kasihan, Bantul.

Banyak momen berkesan yang ditinggalkan oleh para mahasiswa KKN UPY kepada masyarakat setempat, khususnya kepada Kelompok Wanita Tani (KWT) Kenanga.

Berikut adalah beberapa dokumentasi perjalanan mahasiswa KKN UPY, saat melakukan pengabdian di wilayah padukuhan Cungkuk. (Foto: istimewa)

 

BANTUL – Kualitas pengabdian masyarakat dari mahasiswa tidak harus diukur dari durasi waktu pelaksanaan, namun lebih menitikberatkan pada dampak dan makna yang mampu ditinggalkan (warisan).

Pengalaman inilah yang dirasakan mahasiswa KKN PKM-SK Universitas PGRI Yogyakarta Kelompok 10, selama menjalankan program pengabdian di Padukuhan Cungkuk, Kelurahan Ngestiharjo, Kapanewon Kasihan, Bantul.

Meskipun KKN ini hanya berlangsung selama tiga minggu, dan dilakukan selama masa transisi perkuliahan semester lima menuju ke semester enam, kehadiran mahasiswa di wilayah tersebut mampu memberikan energi baru bagi masyarakat setempat, khususnya Kelompok Wanita Tani (KWT) Kenanga.

Secara umum, program pengabdian difokuskan pada upaya menjawab kebutuhan nyata yang dihadapi KWT Kenanga. Terutama dalam pengelolaan administrasi kelompok, dan pengembangan pemasaran berbasis digital.

Melalui workshop yang berlangsung selama dua hari, mahasiswa mendampingi anggota KWT dalam membuat serta mengelola akun media sosial seperti Instagram dan Facebook, sekaligus memperkenalkan penggunaan marketplace Shopee, sebagai sarana memperluas pemasaran produk lokal.

Pendampingan ini menjadi relevan bagi para anggota KWT Kenanga, untuk dapat merespon perubahan perilaku konsumen di zaman sekarang, yang saat ini lebih memilih bertransaksi secara digital.

Selain penguatan di bidang pemasaran, mahasiswa juga memberikan pelatihan perhitungan Harga Pokok Penjualan (HPP). Materi ini membantu anggota kelompok menentukan harga jual secara lebih rasional dan berkelanjutan, terutama ketika harga bahan baku kerap mengalami perubahan. Bagi sebagian anggota KWT, keterampilan tersebut menjadi bekal penting untuk menjaga stabilitas usaha rumahan yang mereka jalankan sehari-hari.

Kegiatan pengabdian ini tidak terbatas pada pelatihan formal semata. Para mahasiswa KKN juga ikut berpartisipasi dalam aktivitas keseharian kelompok masyarakat setempat. Mulai dari proses produksi sambal pecel dan brambang goreng, penataan administrasi, hingga membantu mengaktifkan kembali lahan KWT, yang sebelumnya sempat tidak terkelola dengan baik. Interaksi yang berlangsung setiap hari perlahan membangun kedekatan emosional antara mahasiswa dengan warga di Padukuhan Cungkuk.

Perpisahan yang Mengharukan

Rangkaian kegiatan pun ditutup dengan senam bersama dan pembagian doorprize pada pekan terakhir. Suasana kebersamaan yang awalnya penuh keceriaan, lantas berubah menjadi penuh haru dan kesedihan, ketika momen perpisahan tiba.

Sejumlah anggota KWT tampak menitikkan air mata, saat menyampaikan rasa terima kasih atas kebersamaan yang terjalin selama program berlangsung.

Sebagai bentuk apresiasi, warga secara spontan menyanyikan lagu perpisahan yang menciptakan suasana emosional bagi semua orang yang hadir. Bagi mahasiswa, pengalaman tersebut menjadi pengingat, bahwa pengabdian masyarakat tidak sekadar pelaksanaan program kerja, tetapi juga tentang relasi kemanusiaan, yang tumbuh melalui kebersamaan dan kepedulian.

Salah satu anggota KWT mengungkapkan, kehadiran mahasiswa KKN UPY mampu membawa semangat baru bagi kelompok mereka. Meski singkat, kebersamaan yang terjalin tetap terasa seperti hubungan keluarga.

KKN sebagai Ruang Belajar Sosial

Pengalaman di Padukuhan Cungkuk menunjukkan bahwa Kuliah Kerja Nyata (KKN) bukan hanya kewajiban akademik atau pemenuhan beban studi, melainkan ruang pembelajaran sosial yang mempertemukan mahasiswa dengan realitas kehidupan masyarakat secara langsung.

Di lapangan, mahasiswa menyadari bahwa berbagai tantangan ekonomi masyarakat sering kali bukan disebabkan oleh kurangnya kemauan, melainkan keterbatasan akses informasi, pendampingan, dan rasa percaya diri dalam menghadapi perubahan zaman.

Pendampingan sederhana, seperti membantu pengelolaan administrasi atau mengenalkan pemasaran digital, dapat menjadi langkah awal menuju kemandirian kelompok masyarakat. Di sisi lain, mahasiswa juga memperoleh pelajaran berharga tentang nilai gotong royong, kesederhanaan, serta ketangguhan masyarakat desa dalam menghadapi keterbatasan.

Jejak pengabdian mungkin tidak terlihat besar secara kasat mata,. Namun, semangat baru yang tumbuh bersama KWT Kenanga, yang kini kembali aktif dan produktif, menjadi bukti bahwa perubahan sosial sering kali berawal dari langkah kecil, yang dilakukan secara kolektif dan konsisten.

Pada akhirnya, KKN tidak hanya berbicara tentang kontribusi mahasiswa kepada masyarakat, tetapi juga tentang pembelajaran yang diterima mahasiswa dari masyarakat. Diantaranya empati, kebersamaan, dan kepedulian. Ketiganya merupakan fondasi utama dalam membangun perubahan yang berkelanjutan sekaligus konsisten. (zk)

BANTUL – Kelingan Garden & Cafe, sebuah cafe hidden gem baru di wilayah Bantul kota, berkolaborasi dengan beberapa lembaga dan organisasi yang ada di Bantul dan sekitarnya, siap menyelenggarakan kelas pelatihan seni dalam berbagai bidang.

Adapun bidang-bidang tersebut antara lain Kelas Acting, Kelas Novel, Kelas English Public Speaking, Kelas Jurnalistik & News Photographic, Kelas Penulisan Skenario Film, Kelas English Conversation For Kids, Kelas Produksi Film, Kelas Nulis Buku Nonfiksi, Kelas Melukis, serta Kelas Baca Karya Sastra Jawa.

Seluruh kelas tersebut akan dilaksanakan di Kelingan Garden & Cafe, yang selalu berkomitmen mengembangkan komunitas seni budaya di Bantul serta DIY pada umumnya.

Menurut Tedi Kusyairi sebagai salah satu owner Kelingan Garden & Café, kelas seni ini merupakan salah satu bentuk terobosan baru sebuah kafe. Karena umumnya kafe hanya menjual makanan dan minuman sehari-hari, serta sebagai tempat nongkrong saja.

Namun kali ini, Kelingan Garden & Cafe berusaha menyajikan sesuatu yang berbeda, yakni dengan mengadakan pelatihan kelas seni dalam berbagai bidang, melalui kolaborasi dengan berbagai komunitas seni budaya, sebagai bagian dari partnership kemajuan kebudayaan di DIY secara umum.

“Umumnya kafe itu kan cuma buat jajan dan hiburan saja. Nah disini kami berusaha memfokuskan diri pada edukasi seni dan berjejaring dalam kemajuan seni budaya secara mandiri, baik dalam hal ekonomi maupun kegiatan,” kata Tedi di Kelingan Garden & Cafe, Kamis (26/2/2026).

Tedi menambahkan, kelas ini nantinya akan diampu oleh para praktisi yang sudah berpengalaman di bidangnya masing-masing.

Untuk penjelasan lebih lanjut mengenai masing-masing kelas pelatihan seni yang tersedia di Kelingan Garden & Cafe, simak selengkapnya di bawah ini.

1. Kelas Acting

Yang pertama ada kelas Acting. Kelas ini akan diampu oleh Nunung Deni Puspitasari, seorang aktris sekaligus pengajar yang berpengalaman di bidang teater dan seni peran selama belasan tahun, serta bekerjasama dengan komunitas Teater Amarta, yang juga diampu oleh Nunung sendiri.

Kelas ini akan mengajarkan para siswa tentang bagaimana cara melakukan olah tubuh, olah vokal, serta olah rasa. Ketiga aspek tersebut berperan melatih manusia agar memiliki kecakapan dalam dunia seni peran.

Ilmu yang diajarkan dalam kelas Acting ini bisa diimplementasikan saat mendongeng, bermain teater, monolog, bermain film (film pendek/layar lebar), membaca puisi, atau pentas karya sastra lainnya. Termasuk juga saat mengikuti lomba yang berkaitan dengan dunia seni peran, seperti yang telah dijelaskan di atas.

Kelas ini terbuka untuk umum, dengan rentang usia 12-21 tahun. Kuota peserta terbatas hanya untuk lima sampai sepuluh orang saja.

Kelas ini akan tersedia sebanyak 10 kali pertemuan, dan berlangsung setiap hari Senin (sekitar 3 bulan), yang dimulai pada 6 April 2026. Jika Anda tertarik mengikuti kelas yang satu ini, Anda bisa mendaftarkan diri melalui LINK PENDAFTARAN DISINI, dengan membayar biaya pendaftaran sebesar Rp150.000 per pertemuan per orang.

Artinya secara keseluruhan, peserta akan dibebankan biaya sebesar Rp. 1.500.000, dan harus segera lunas saat pendaftaran.

Selain mencetak talenta baru di bidang seni peran serta lomba-lomba, peserta yang berpartisipasi dalam kelas ini juga berkesempatan untuk berjejaring langsung dengan manajemen artis, jika memenuhi kualifikasi yang sesuai dengan standar profesional.

2. Kelas Menulis Novel

Berikutnya ada Kelas Menulis Novel, yang berkolaborasi langsung dengan Gerakan Literasi #SelasaSastra, dan akan dibimbing langsung oleh R. Toto Sugiharto (Novelis).

Di kelas ini, para peserta akan mempelajari bagaimana cara menulis novel dengan berbagai genre-nya. Namun sebelumnya, mentor akan mengarahkan peserta pada daya cipta novel secara umum.

Selain itu, mentor juga akan mendampingi para peserta untuk mengembangkan ide cerita hingga menjadi bahan naskah yang memenuhi persyaratan dalam bentuk novel. Mulai dari outline, draft naskah, pilihan diksi, hingga urusan EYD (Ejaan yang disempurnakan) serta tata bahasa.

Secara teknis, para peserta di kelas ini akan mempelajari teknik dasar mengenai penokohan, alur, setting hingga bagaimana membuat karya novel secara keseluruhan menjadi lebih baik, dan layak diterbitkan sekaligus dijual kepada khalayak luas.

Diharapkan para peserta kelas novel ini bersikap proaktif dalam menuangkan setiap ide dan karya selama berlangsungnya kelas. Sehingga di akhir pertemuan nanti (pertemuan ke-10), karya novel seluruh peserta bisa di-sounding-kan ke penerbit, agar bisa diterbitkan dalam bentuk novel cetak, dan layak dipasarkan secara luas.

Kelas ini tersedia sebanyak 10 kali pertemuan, dan mulai dibuka pada Senin, 6 April 2026, di Kelingan Garden & Cafe, Bejen, Bantul Kota. Peserta untuk kelas ini dibatasi hanya lima sampai 10 orang saja, dengan rentang usia 12 hingga 25 tahun.

Jika Anda atau kerabat Anda tertarik mengikuti kelas ini, Anda bisa mendaftar melalui LINK PENDAFTARAN DISINI, paling lambat Sabtu, 28 Maret 2026.

Peserta akan dikenakan biaya pendaftaran sebesar Rp150.000 per pertemuan per orang. Sehingga untuk 10 kali pertemuan totalnya menjadi Rp 1,5 juta.

Karena ini merupakan kelas menulis novel, maka para peserta diwajibkan membawa laptop masing-masing.

Jika karyanya benar-benar terbit dan dipasarkan secara luas, selain berpotensi mendapatkan cuan. Karya tersebut juga bisa dibedah secara eksklusif di acara #SelasaSastra, yang dilaksanakan rutin selama satu hingga dua kali sebulan.

3. Kelas English Public Speaking

Yang ketiga ada kelas English Public Speaking. Kelas ini akan dipandu oleh Fitria Eranda, seorang guru, penulis, sekaligus praktisi public speaking berbahasa Inggris.

Di kelas ini, para peserta akan diajarkan tentang praktik penggunaan bahasa Inggris dalam kehidupan sehari-hari (conversation). Namun sebelumnya, peserta diharuskan untuk memperkaya vocabulary (kosakata bahasa Inggris) terlebih dahulu, agar lebih luwes saat berbicara kepada orang lain menggunakan bahasa Inggris.

Melalui penguasaan conversation (percakapan sehari-hari menggunakan bahasa Inggris), diharapkan para peserta akan mampu menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari, misalnya untuk memasarkan produk, menyambut tamu di kantor, negosiasi, dan seterusnya. Apalagi jika cakupannya adalah internasional.

Selain itu, para peserta juga berkesempatan mempraktikkan ilmu ini dalam dunia public speaking, seperti menjadi MC (Master of Ceremony), moderator, Lecturer, dan sebagainya.

Jika pembelajaran bahasa Inggris di sekolah selama ini cenderung hanya bersifat teoritis saja, maka disinilah kesempatan yang tepat untuk benar-benar mempraktikkan teori-teori tersebut. Karena teori tanpa praktik tidak akan memberikan hasil apa-apa, melainkan hanya menjadi hafalan semata.

Dengan menguasai praktik conversation berbahasa Inggris, tentu saja peluang untuk memasuki dunia kerja akan menjadi lebih luas, termasuk untuk melamar ke perusahaan luar negeri.

Kelas ini terbuka untuk umum dengan rentang usia 13-25 tahun, dan hanya dibuka untuk lima hingga sepuluh orang saja.

Sama seperti kedua kelas sebelumnya, kelas English Public Speaking ini tersedia sebanyak 10 kali pertemuan, dengan total biaya Rp 1 juta (Rp 100.000 per pertemuan per orang).

Jika Anda atau kerabat Anda tertarik mengikuti kelas ini, Anda bisa mendaftarkan diri melalui LINK PENDAFTARAN DISINI, paling lambat Sabtu, 28 Maret 2026.

Kelas ini sendiri akan dimulai pada Rabu, 8 April 2026 mendatang.

4. Kelas Jurnalistik & News Photographic

Berikutnya ada kelas jurnalistik & news photographic. Kelas ini akan dimentori oleh Tedi Kusyairi, yang merupakan seorang penulis, jurnalis, owner portal berita, sekaligus salah satu owner dari Kelingan Garden & Cafe, lokasi kelas ini diselenggarakan.

Kelas ini akan mengajarkan peserta tentang bagaimana cara membuat sebuah produk berita jurnalistik, mulai dari teknik penulisan berita, melakukan wawancara kepada narasumber, press release, reportase, artikel, dan seterusnya hingga menyalurkannya ke media tertentu.

Meskipun saat ini sudah ada “media” yang bernama media sosial, di mana semua orang sejatinya sudah mampu menjadi jurnalis bagi para followers-nya, namun postingan yang dibuat tidak selalu bisa disebut sebagai produk jurnalisme. Karena produk jurnalisme memiliki kaidah-kaidah tertentu, serta kode etik tersendiri yang tidak selalu bisa diikuti oleh semua orang, apalagi yang bukan jurnalis sungguhan.

Dalam kelas ini, para peserta akan diajarkan tata cara penulisan berita yang baik dan benar, sesuai kaidah jurnalistik yang berlaku, serta bagaimana memproduksi foto atau visual yang mampu menjadi pelengkap suatu berita.

Setelah itu, para peserta akan diminta untuk praktik membuat beritanya masing-masing, agar layak dimuat di berbagai jenis media konvensional.

Kelas ini terbuka untuk umum khusus usia 17-25 tahun, dengan kuota terbatas hanya 5-10 orang saja. Pendaftaran masih terus dibuka sampai Sabtu, 28 Maret 2026 mendatang.

Jika Anda atau kerabat Anda tertarik mengikuti kelas jurnalistik & news photographic ini, Anda bisa mendaftarkan diri melalui LINK PENDAFTARAN DISINI, dengan membayar biaya pendaftaran Rp 100.000 per pertemuan per orang, atau Rp 1 juta untuk total 10 kali pertemuan.

Kelas ini akan dimulai pada Rabu, 8 April 2026 mendatang.

Setiap karya jurnalistik (berita/artikel) yang dianggap layak dan memenuhi kaidah jurnalistik, berkesempatan untuk dimuat dalam portal Suara Pemuda Jogja serta JogjaTube.

Mengingat kelas ini adalah kelas jurnalistik atau penulisan berita, maka setiap peserta diwajibkan membawa laptopnya masing-masing selama kelas berlangsung.

5. Kelas Penulisan Skenario Film

Kelas penulisan skenario film akan dipandu oleh Yulius Permana Jati, seorang praktisi, akademisi, serta penulis naskah beberapa film ternama, yang juga tergabung dalam Paguyuban Sineas Bantul (PSB).

Di kelas ini, para peserta akan diberi pelatihan tentang bagaimana menulis skenario (naskah) film, agar mampu menghasilkan cerita film yang bagus, menarik, mudah dipahami oleh pemain (talent) sekaligus penonton. Karena sebuah film yang baik tidak hanya berasal dari ide cerita yang menarik, tapi juga melalui cerita atau skenario yang mampu diterjemahkan oleh tim produksi ke dalam suatu bentuk film yang berkualitas.

Dan untuk membuat skenario sebuah film, dibutuhkan teknik khusus yang tidak banyak diketahui oleh orang-orang di luar sana.

Melalui pembelajaran di kelas ini, para peserta diharapkan mampu memproduksi naskah skenario film pendek maupun panjang, yang siap dijual ke produser atau dilempar ke Production House (PH) yang membutuhkan cerita yang layak jual ke hadapan publik.

Kelas ini terbuka untuk umum khusus usia 17-25 tahun, dengan kuota terbatas hanya 5-10 orang saja.

Jika Anda atau kerabat Anda tertarik mengikuti kelas ini, Anda bisa mendaftarkan diri melalui LINK PENDAFTARAN DISINI, dengan membayar biaya pendaftaran Rp 100.000 per pertemuan per orang, atau Rp 1 juta untuk total 10 kali pertemuan. Pendaftaran dibuka paling lambat Sabtu, 28 Maret 2026.

Kelas ini akan dimulai pada Rabu, 8 April 2026.

Setiap peserta yang mengikuti kelas ini diwajibkan membawa laptopnya masing-masing, untuk bisa menuliskan ide ceritanya ke dalam bentuk naskah, yang siap dituangkan dalam bentuk film audiovisual.

6. Kelas English Conversation For Kids

Jika kelas bahasa Inggris sebelumnya lebih menitikberatkan pada public speaking dan percakapan sehari-hari, kelas yang satu ini akan lebih fokus pada pengenalan bahasa Inggris bagi anak-anak usia Sekolah Dasar (9-13 tahun). Kelas ini juga akan diampu oleh Fitria Eranda.

Di kelas ini, Fitria Eranda akan memperkenalkan para peserta tentang penguasaan vocabulary (kosakata) maupun conversation (percakapan), yang sesuai dengan tingkat usia mereka.

Meskipun kelas ini ditujukan untuk usia anak-anak SD, namun kelas ini akan tetap mengajarkan teori dan praktek secara bersamaan. Karena bagaimanapun, praktek berbahasa Inggris harus diajarkan kepada anak-anak sejak usia dini, agar saat dewasa nanti menjadi lebih terbiasa, dan tidak lagi kesulitan melakukannya dimana saja.

Pembelajaran kelas ini tidak hanya dilakukan di dalam ruangan saja, tapi juga berkeliling di alam terbuka di sekitar Kelingan Garden & Cafe, Bejen, Bantul Kota. Karena belajar di alam terbuka akan lebih memperkuat daya ingat anak dalam menyerap pembelajaran, termasuk praktik berbahasa Inggris dalam kehidupan sehari-hari.

Kelas ini terbuka untuk umum, khusus usia 9-13 tahun. dengan kuota terbatas hanya 5-10 orang saja. Pendaftaran dibuka paling lambat Sabtu, 28 Maret 2026.

Jika Anda atau kerabat Anda tertarik mengikuti kelas ini, Anda bisa mendaftarkan diri melalui LINK PENDAFTARAN DISINI, dengan membayar biaya pendaftaran sebesar Rp 100.000 per pertemuan per orang, atau Rp 1 juta untuk total 10 kali pertemuan.

Kelas ini akan dimulai pada Kamis, 9 April 2026.

7. Kelas Produksi Film

Kelas Produksi Film akan dimentori oleh Naufal Cakradara, seorang praktisi, akademisi, dan sineas di Bantul, yang bekerjasama dengan Paguyuban Sineas Bantul (PSB) dan Bang Tedi Way YouTube Channel.

Kelas ini akan mengajarkan para peserta tentang cara membuat film pendek dengan cara yang simpel, tanpa memerlukan peralatan yang banyak dan mahal. Mulai dari pra-produksi (perencanaan), produksi (syuting/pengambilan gambar), serta pasca-produksi (editing), hingga film-nya jadi dan siap ditayangkan kepada audiens.

Para peserta diproyeksikan mampu menghasilkan film pendek cukup dengan gadget yang biasa digunakan sehari-hari. Sehingga tidak perlu mengeluarkan biaya yang mahal untuk sebuah produksi film.

Kelas ini terbuka untuk umum, khusus usia 17-25 tahun. dengan kuota terbatas hanya 5-10 orang saja. Pendaftaran dibuka paling lambat Sabtu, 28 Maret 2026.

Jika Anda atau kerabat Anda tertarik mengikuti kelas ini, Anda bisa mendaftarkan diri melalui LINK PENDAFTARAN DISINI, dengan membayar biaya pendaftaran sebesar Rp 100.000 per pertemuan per orang, atau Rp 1 juta untuk total 10 kali pertemuan.

Kelas ini akan dimulai pada Kamis, 9 April 2026.

Mengingat kelas ini bertujuan melatih para peserta untuk dapat memproduksi film dengan peralatan sederhana yang digunakan sehari-hari, maka setiap peserta diwajibkan menyiapkan peralatan produksi yang dibutuhkan. Terutama laptop dan gadget (hape).

8. Kelas Menulis Buku Nonfiksi

Kelas Penulisan Buku Nonfiksi juga akan diampu oleh Tedi Kusyairi.

Kelas ini akan berfokus pada penerbitan buku nonfiksi, yang untungnya mulai menggeliat lagi perkembangannya di Indonesia, khususnya untuk buku bergenre tutorial atau “how to”, motivasi, pengayaan, dan buku pendamping.

Para peserta di kelas ini akan diajarkan bagaimana cara menemukan ide yang layak untuk ditulis menjadi sebuah buku yang siap diterbitkan dan dibaca banyak orang. Mulai dari ide tulisan, tema, topik, rencana judul, outline, melakukan dan mengembangkan riset, sekaligus melakukan praktik penulisan.

Selesai dari kelas ini, para peserta diharapkan akan mampu menyelesaikan bukunya masing-masing, agar bisa diterbitkan dan sampai ke tangan pembaca.

Kelas ini terbuka untuk umum, khusus usia 12-25 tahun, dengan kuota terbatas hanya 5-10 orang saja. Pendaftaran dibuka paling lambat hingga Sabtu, 28 Maret 2026.

Jika Anda atau kerabat Anda tertarik mengikuti kelas ini, Anda bisa mendaftarkan diri melalui LINK PENDAFTARAN DISINI, dengan membayar biaya pendaftaran sebesar Rp 150.000 per pertemuan per orang, atau Rp 1,5 juta untuk total 10 kali pertemuan.

Kelas ini akan dimulai pada Jumat, 10 April 2026.

Setiap peserta yang mengikuti kelas ini diwajibkan membawa laptop masing-masing, untuk memudahkan proses pembelajaran.

9. Kelas Melukis

Kelas ini akan diampu oleh Meuz Prast, seorang pelukis dan seniman di wilayah Bantul.

Di kelas ini, para peserta akan diperkenalkan dengan dunia melukis, serta bagaimana cara melukis yang dapat memiliki nilai jual tinggi bagi khalayak luas.

Tidak hanya dalam aspek ekonomi, harapannya para peserta juga mampu menghasilkan karya seni yang memberi makna mendalam kepada audiens, serta pesan-pesan positif di balik setiap detail karya lukisan yang dihasilkan.

Kelas ini terbuka untuk umum, khusus usia 13-23 tahun. dengan kuota terbatas hanya 5-10 orang saja. Pendaftaran dibuka paling lambat Sabtu, 28 Maret 2026.

Jika Anda atau kerabat Anda tertarik mengikuti kelas ini, Anda bisa mendaftarkan diri melalui LINK PENDAFTARAN DISINI, dengan membayar biaya pendaftaran sebesar Rp 150.000 per pertemuan per orang, atau Rp 1,5 juta untuk total 10 kali pertemuan.

Kelas ini akan dimulai pada Jumat, 10 April 2026.

Para peserta yang mengikuti kelas ini wajib menyiapkan kanvas, kuas dan pewarna sesuai kebutuhan masing-masing.

10. Kelas Baca Karya Sastra Jawa

Kelas terakhir yang akan hadir di Kelingan Garden & Cafe adalah kelas Baca Karya Sastra Jawa, yang akan diampu oleh teman-teman dari Paguyuban Sastrawan Jawa Bantul (PSJB) Paramarta.

Kurangnya pengetahuan generasi muda terhadap budaya Jawa, salah satunya penggunaan bahasa Jawa yang baik dan benar, telah melahirkan kekhawatiran baru terhadap pelestarian budaya ini di masa depan.

Oleh karena itu, kelas ini hadir untuk menjembatani bagaimana para peserta memahami bahasa Jawa secara komprehensif, termasuk juga untuk keikutsertaan lomba-lomba yang berhubungan dengan sastra Jawa, yang seringkali diadakan oleh Dinas Kebudayaan, Festival Tunas Bahasa Ibu, atau Balai Bahasa, serta instansi-instansi lainnya.

Sehingga kelas ini tidak hanya bertujuan memperkenalkan bahasa Jawa secara umum, tapi juga menanamkan budaya Jawa secara keseluruhan kepada para peserta dalam kehidupan sehari-hari. Karena bahasa Jawa tidak hanya berfungsi sebagai alat percakapan sehari-hari, tapi juga sebagai media penanaman karakter dan sopan santun (unggah-ungguh), identitas budaya dan jati diri, media dalam berkesenian, sekaligus alat pemersatu sosial kemasyarakatan.

Apalagi ketika mempelajari sastra Jawa, yang sarat akan falsafah hidup, moralitas, sejarah, dan kebudayaan masyarakat Jawa secara komprehensif.

Kelas ini terbuka untuk umum, khusus usia 10-25 tahun, dengan kuota terbatas hanya 5-10 orang saja. Pendaftaran dibuka paling lambat hingga Sabtu, 28 Maret 2026.

Jika Anda atau kerabat Anda tertarik mengikuti kelas ini, Anda bisa mendaftarkan diri melalui LINK PENDAFTARAN DISINI, dengan membayar biaya pendaftaran sebesar Rp 150.000 per pertemuan per orang, atau Rp 1,5 juta untuk total 10 kali pertemuan.

Kelas ini akan dimulai pada Sabtu, 11 April 2026.

—–

Untuk pembayaran dari masing-masing kelas, Anda bisa melakukan transfer ke Bank SeaBank (Kode Bank 535) melalui Nomor rekening 901743500471 a.n. Tedi Kusyairi. Jangan lupa sertakan keterangan tambahan “Pelunasan Biaya Kelas (sesuai kelas yang dipilih) di Kelingan”, lalu simpan bukti transfer sebagai pegangan Anda.

Artinya, ketika Anda memilih kelas Acting, maka sertakan keterangan “Pelunasan Biaya Kelas Acting di Kelingan” saat hendak melakukan transfer. Atau “Pelunasan Biaya Kelas Menulis Novel di Kelingan” bagi Anda yang memilih kelas Menulis Novel, dan seterusnya.

Menurut Tedi, karena kelas-kelas di atas sifatnya baru basic atau belajar dari dasar, harga yang dipatok masih tergolong murah dibandingkan tempat lain.

“Apalagi lokasi kami ada di Bantul Kota, alias Jogja wilayah selatan, yang jarang sekali ada kelas kreatif berbayar seperti ini. Harapannya para alumnus dari kelas-kelas ini nantinya bisa meningkatkan kemampuannya secara mandiri, serta meneruskan talenta seni yang ada di daerahnya masing-masing,” lanjut Tedi.

Kelas-kelas ini nantinya akan diselenggarakan secara reguler, dan akan dikembangkan lebih lanjut melalui pengembangan kelas, termasuk kelas lanjutan pasca-kelas basic.

Setiap peserta harap menyiapkan sejumlah dokumen pendukung, yaitu foto KTP/KK (untuk keperluan sertifikat dan identifikasi NIK) dalam format jpeg, serta bukti transfer pelunasan biaya pendaftaran, sesuai kelas yang dipilih.

Untuk informasi lebih lanjut mengenai program ini, atau jika membutuhkan informasi lebih lanjut terkait pelaksanaan masing-masing kelas, Anda bisa menghubungi WA 083840666866.

Lalu jika Anda butuh informasi panduan kegiatan ini secara teknis, Anda bisa mengakses-nya melalui LINK BERIKUT INI. Sedangkan untuk pendaftaran di masing-masing kelas, Anda bisa membuka LINK PENDAFTARAN DISINI.

Melalui penyelenggaraan kegiatan ini, diharapkan akan muncul talenta-talenta baru di bidang seni budaya, yang mampu membawa nama Indonesia semakin dikenal dunia, melalui salah satu kekayaan tradisi bangsa. (har/zk)

 

SLEMAN – JT – Seluruh Kepala Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di seluruh wilayah DIY berkomitmen siap berkolaborasi presisi dengan Polda DIY, Dinas Kesehatan dan instansi lainnya untuk menyukseskan program Makan Bergizi Gratis (MBG) guna Mewujudkan SDM Unggul Menuju Indonesia Emas 2045′, Kamis (12/2/2026).

Kepala KPPG Region DIY Harosno Budi Waluyo mengapresiasi Polda DIY atas terselenggaranya komitmen tersebut. Menurutnya, koordinasi yang presisi sangat penting untuk memastikan hak anak Indonesia atas pemenuhan gizi melalui Program Makan Bergizi Gratis.

“MBG adalah hak anak Indonesia. Dengan koordinasi yang lebih presisi, kita bisa bersama-sama meningkatkan kualitas layanan, mulai dari rantai pasok, proses produksi, hingga distribusi makanan,” ujarnya saat dikonfirmasi awak media, Senin (16/2/2026).

Ia menjelaskan bahwa saat ini terdapat 385 SPPG yang telah siap beroperasi di DIY, namun yang sudah aktif beroperasi sebanyak 323 SPPG. Jumlah penerima manfaat per SPPG dibatasi maksimal 3.000 orang.

“Ke depan, dengan bertambahnya jumlah SPPG, setiap unit akan melayani lebih sedikit penerima manfaat. Dengan begitu, proses produksi dan distribusi menjadi lebih mudah, dan risiko terhadap keamanan pangan bisa semakin ditekan,” tambahnya.

Komitmen tersebut merupakan tindak lanjut setelah adanya kegiatan Diskusi Panel yang diselenggarakan oleh Polda DIY berkolaborasi dengan Dinas Kesehatan Provinsi DIY dan Kantor Pelayanan Pemenuhan Gizi (KPPG) DIY dan Jateng selatan.

Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan DIY dr. Gregorius Anung Trihadi, M.P.H., menekankan pentingnya pemenuhan standar laik higiene sanitasi (SLHS) sebagai syarat utama keamanan pangan dalam Program MBG.

“Tujuan MBG ini sangat baik, sehingga harus kita dukung bersama. Salah satu kunci utamanya adalah pemenuhan syarat higiene sanitasi atau SLHS agar makanan yang disajikan benar-benar aman bagi penerima manfaat,” jelasnya.

Ia mengungkapkan, Pemda DIY telah membentuk satuan tugas percepatan sesuai bidang masing-masing. Untuk bidang kesehatan, koordinasi terus dilakukan dengan Dinas Kesehatan kabupaten dan kota karena kewenangan penerbitan SLHS berada di pemerintah daerah setempat.

Berdasarkan data, kasus kecurigaan keracunan makanan pada tahun 2025 tercatat cukup tinggi, yakni 23 kasus. Namun jumlah tersebut menurun drastis setelah semakin banyak SPPG yang memiliki SLHS.

“Tahun ini tercatat hanya tiga kasus dan semoga tidak bertambah. Ini menunjukkan bahwa penerapan SOP dan standar higiene sanitasi sangat berdampak pada keamanan pangan,” katanya.

Dr. Anung juga menyoroti tantangan baru yang dihadapi para penyedia SPPG, seperti pemahaman terhadap sistem OSS dan SLHS yang masih tergolong baru. (*)

YOGYAKARTA – Kepolisian Daerah Istimewa Yogyakarta (Polda DIY) merilis hasil Analisa dan Evaluasi (Anev) pelaksanaan Operasi Keselamatan Progo 2026 yang dilaksanakan pada 2 – 15 Februari 2026. Hingga minggu kedua pelaksanaan (8 s.d. 15 Februari 2026), operasi ini menunjukkan tren positif yang signifikan dalam upaya meningkatkan disiplin berlalu lintas dan menekan angka kejadian kecelakaan di wilayah hukum Polda DIY.

Data statistik menunjukkan keberhasilan jajaran Polda DIY dalam menekan kuantitas kejadian kecelakaan lalu lintas. Tercatat jumlah kejadian mengalami penurunan dari 132 kasus pada tahun 2025 menjadi 129 kasus pada periode yang sama tahun 2026. Meski secara kuantitas menurun, pihak kepolisian memberikan perhatian serius terhadap kualitas fatalitas kecelakaan, di mana terdapat 3 korban meninggal dunia yang seluruhnya terjadi di wilayah hukum Polresta Sleman. Hal ini menjadi dasar bagi Polda DIY untuk semakin memperketat pengawasan dan patroli di titik-titik rawan wilayah tersebut guna mencegah kejadian serupa.

Kabidhumas Polda DIY, Kombes Pol Ihsan, S.I.K., menyampaikan bahwa operasi tahun ini berhasil menekan angka pelanggaran secara drastis. Penindakan pelanggaran (tilang) mengalami penurunan signifikan sebesar 67%, dari 2.507 pelanggar pada 2025 menjadi 836 pelanggar pada 2026. Selain itu, angka teguran juga turun sebesar 22% (dari 10.803 menjadi 8.386 tindakan). Hal ini menunjukkan adanya peningkatan kesadaran masyarakat dalam tertib berlalu lintas.

“Keberhasilan menekan angka kejadian kecelakaan dan pelanggaran ini mencerminkan efektifitas personel di lapangan serta meningkatnya kepatuhan masyarakat. Kami menyampaikan belasungkawa mendalam atas jatuhnya korban jiwa di wilayah Sleman, dan hal ini memacu kami untuk lebih masif lagi dalam memberikan edukasi serta pengawasan di lapangan,” ujar Kombes Pol Ihsan.

Sejalan dengan hasil tersebut, intensitas kegiatan preemtif dan preventif terus ditingkatkan sebagai langkah pencegahan. Kegiatan penyuluhan naik 5 persen dengan total 28.754 kegiatan, sementara kegiatan preventif seperti pengaturan dan patroli naik 4 persen menjadi 21.872 kegiatan. Dukungan bantuan operasi (Banops) juga melonjak hingga 68 persen guna memastikan seluruh tahapan operasi berjalan optimal.

Polda DIY memberikan apresiasi kepada masyarakat yang telah mendukung terciptanya kamseltibcarlantas. Melalui evaluasi ini, Polda DIY berkomitmen untuk terus mengedepankan pendekatan humanis demi menekan angka kecelakaan hingga titik terendah dan menciptakan ruang jalan yang aman bagi seluruh warga Yogyakarta. (zk)

SLEMAN – Pada masa pra-kemerdekaan hingga orde baru, keberadaan sastra masih dijunjung tinggi oleh bangsa Indonesia. Hal ini terjadi lantaran karya-karya sastra seperti puisi, cerpen, novel, dan seterusnya, telah mampu menjadi penggerak suatu perubahan, sekaligus sebagai kritik terhadap rezim kepemimpinan yang berkuasa pada saat itu.

Namun kini, sastra seperti kehilangan roh-nya sebagai penggerak perubahan, karena para pejabat tidak lagi tertarik dengan karya sastra, tapi justru lebih sibuk memperkaya kroni-kroninya sendiri, dan seterusnya.

Dalam sosialisasi empat pilar kebangsaan MPR RI yang berlangsung di Puri Mataram, Tridadi, Sleman, Minggu (15/2/2026), Guru Besar UGM, PM Laksono menyatakan bahwa cita-cita bangsa ini sejatinya sudah pudar sejak tahun 50-an, karena pejabat sudah tidak lagi peduli terhadap kritik-kritik yang dilayangkan kepada mereka, salah satunya dituangkan melalui karya sastra.

“Sastra itu sudah berhenti mengilhami pemimpin di tahun 50-an. Bukan karena sastra-nya buruk, tapi karena pemimpinnya sudah tidak lagi membaca sastra,” ujar PM Laksono di Puri Mataram, Minggu (15/2/2026).

Lebih jauh, PM Laksono merasa bahwa hal itu juga dipengaruhi oleh kualitas pendidikan yang ada di Indonesia, bahkan sampai hari ini. Karena pendidikan yang ada saat ini tidak banyak memfasilitasi anak-anak bangsa untuk berpikir secara kritis.

“Saat saya masih menjadi dosen pun, problem pertama yang saya hadapi adalah ketika menerima mahasiswa baru, mereka sama sekali tidak bisa bertanya, bahkan sampai yang calon S3 sekalipun,” pungkas PM Laksono.

Ia pun dengan tegas menyatakan, apabila sekelas mahasiswa saja tidak mampu bertanya, maka ada sistem yang salah sejak di lingkungan keluarganya. Karena dengan begitu dunia tidak akan berkembang, jika generasi muda tidak memiliki kemampuan untuk bertanya, yang merupakan landasan dari berpikir kritis. (zk)