BANTUL – Tidak banyak masyarakat yang tahu, termasuk dari kalangan pembatik sendiri, bahwa pohon joho memiliki khasiat yang sangat baik, sebagai sumber pewarna alami bagi kain batik.

Di tengah maraknya pewarna sintetis serta batik printing sebagai bahan pewarna batik masa kini, ekstraksi dari pohon joho dinilai juga mampu menghasilkan pewarna batik secara alami, dengan kualitas yang lebih baik dari produk hasil sintetis.

Hanya saja, pohon ini semakin sulit ditemukan di berbagai tempat. Di provinsi DIY sendiri, tercatat hanya ada 13 pohon joho yang masih tersisa, yang tersebar di wilayah Gunungkidul dan juga Bantul.

Lalu bagaimana kemudian pohon joho bisa menjadi salah satu sumber pewarna batik alami?

Sanggar Wani Migunani, salah satu penemu dari budidaya tanaman joho, memaparkan bagaimana kilas balik perjalanan mereka menemukan tanaman joho ini, sebagai warisan pewarna batik alami.

“Kita mulai tertarik untuk membudidayakan pohon joho, karena dia (pohon joho) sudah mulai langka, termasuk di DIY. Di mana sekarang ini hanya tersisa dua pohon yang sudah berusia ratusan tahun. Lalu ada seorang pembatik di Bantul namanya Pak Dedi, dia awalnya juga punya pohon yang sudah tumbuh sekitar 10 tahun, tapi akhirnya rubuh karena faktor cuaca. Dia sudah berusaha keras untuk menumbuhkan si joho ini, tapi tak kunjung berhasil.

Saya pun jadi penasaran (agar pohon joho bisa benar-benar ditumbuhkan dan menghasilkan pewarna batik alami). Akhirnya kita coba meneliti dan melakukan ujicoba selama dua tahun. Dan baru tahun ini (2026), kita bisa dapet biji yang lumayan banyak dari Gunungkidul, bahkan nyampe sekarung. Di situ kita akhirnya bisa lebih leluasa untuk melakukan ujicoba lebih banyak lagi,” papar Ketua Sanggar Wani Migunani, Awit Radiani, beberapa waktu lalu.

Dalam prosesnya, Awit juga mengaku sempat meminta izin (nembung) kepada pohon joho tersebut, agar pengambilan biji yang dilakukannya tidak membuat pohon ini punah, dan lain-lain.

“Waktu di situ (sebelum bijinya diambil) aku sih berdoa juga, gitu. Aku bilang ‘mbah (joho), aku minta bijinya dong. mbah. Dua biji aja’ gitu. Takutnya nanti punah, gitu. Padahal saat itu sedang tidak musimnya loh. Nemu aja cuman dua biji loh, itu pun nyelip di bawah akar beneran cuman dua gelintir aja gitu. Aku pikir sih pohon itu memang ada unsur spiritualnya juga gitu. Jadi aku beneran harus kayak nembung atau semacam minta izin gitu sama pohonnya,” tambah Awit.

Setelah menemukan formula yang tepat dalam membudidayakan tanaman dari pohon joho tersebut, Awit bersama sanggarnya pun mulai serius terhadap proyek yang satu ini, demi memaksimalkan tanaman dari pohon joho, sebagai sumber pewarna batik alami, yang dapat digunakan oleh para pembatik di seluruh Nusantara. (zk)

BANTUL – Pelestarian batik masih menghadapi ancaman serius. Salah satunya disebabkan karena kelangkaan pewarna alami, yang berasal dari sumber daya alam di lingkungan sekitar masyarakat.

Adapun salah satu sumber pewarna batik alami berasal dari pohon joho. yang jumlahnya kian menipis dari waktu ke waktu.

Bahkan di provinsi DIY sendiri, saat ini jumlahnya hanya sekitar 13 pohon saja, yang tersebar di Gunungkidul dan juga Bantul.

Selain itu, masyarakat juga masih belum memahami, bahwa pohon joho merupakan salah satu sumber pewarna batik alami yang sangat baik untuk menghasilkan batik berkualitas dan tahan lama.

Terlebih di tengah maraknya batik versi printing maupun medium canggih lainnya, yang dinilai jauh dari esensi batik itu sendiri, sebagai salah satu warisan khas Nusantara.

Kesulitan itu pula yang dialami oleh Ketua Sanggar Wani Migunani, Awit Radiani. Ia merasa bahwa masyarakat masih belum memiliki pemahaman yang cukup tentang pohon joho, sebagai pewarna batik alami.

“Saya sudah ngomong berkali-kali (ke banyak orang), tapi teman-teman itu pasti bilangnya ‘susah mbak tumbuhnya’. Selalu ngomong gitu. Ah masa sih? Kita aja berhasil kok, dan langsung 1.000 polybag yang kita tanam di belakang itu,” ucap Awit Radiani, beberapa waktu lalu.

Selain itu, banyak masyarakat juga masih mempercayai hal-hal mistis terkait keberadaan suatu pohon. Sehingga masyarakat setempat cenderung sulit mempercayai khasiat yang dimiliki pohon joho sebagai pewarna batik alami.

“Memang sih di pohon joho ini banyak mitosnya. Saya juga pernah bilang ke salah satu perangkat desa di Sendangsari, ‘ini saya berhasil menumbuhkan (tanaman joho untuk pewarna batik alami). Tapi Pak Dukuhnya sana malah langsung nggak percaya aja gitu. Dia nggak percaya kalau tanaman joho ini bisa tumbuh (menjadi bahan pewarna batik). Karena selama ini memang nggak pernah bisa tumbuh di situ (wilayah Sendangsari),” tambah Awit.

Sebagai salah satu pihak yang telah berhasil menumbuhkan tanaman joho sebagai bahan pewarna batik alami, Awit bersama pihak Sanggar Wani Migunani pun tidak keberatan untuk membagikan tanaman joho (ketika sudah berbuah) kepada siapa pun yang hendak melestarikan batik, atau membutuhkan pewarna batik alami dalam setiap kain batik yang diproduksinya sehari-hari. (zk)

Ketersediaan pewarna alam batik mulai jarang ditemukan di lingkungan masyarakat. Terlebih, penggunaan pewarna alami juga cenderung rumit, serta memakan waktu yang cukup lama.

Namun, sekelompok pemuda yang tergabung dalam Sanggar Wani Migunani, berhasil menemukan cara baru untuk mendapatkan bahan pewarna batik secara alami, yang berasal dari pohon Joho.

Selain alami, pembuatan batik dari pewarna yang berasal dari pohon Joho juga dinilai mampu menghasilkan kualitas batik yang lebih baik dan tahan lama, ketimbang batik modern yang serba praktis namun kerap mengabaikan kualitas akhir, dan seterusnya.

Namun sebelum menuju ke arah sana, ekstraksi tanaman dari pohon Joho ini harus benar-benar dibudidayakan sedemikian rupa, sampai akhirnya benar-benar berbuah, dan menghasilkan bahan pewarna yang dapat difungsikan sebagai alat membatik, yang dapat digunakan oleh para pembatik maupun masyarakat umum.

Berikut adalah tampilan budidaya pohon Joho, sebagai cikal bakal alat pewarna batik alami nusantara, yang terletak di Kebun Wani Migunani, Ambarbinangun, Tirtonirmolo, Kasihan, Bantul. (Foto: Azka Qintory)

 

BANTUL – Inspirasi menulis buku bisa lahir dari mana saja, termasuk dari lingkungan sekitar.

Itulah yang menjadi awal mula seorang Djessica Yula, seorang lulusan program Temu Karya Sastra (TKS) dari Dinas Kebudayaan “Kundha Kabudayan” DIY tahun 2023, untuk mulai menerbitkan buku antologi puisi karyanya sendiri, yang berjudul “Upaya untuk Pulang”.

Buku ini merupakan kumpulan puisi yang terinspirasi dari kondisi lingkungan sekitar Djessica, yang penuh dengan hiruk-pikuk dan dinamikanya masing-masing. Sehingga hal itu menurutnya layak dijadikan konten puisi yang ia tulis dalam buku antologi satu ini.

Dalam mencari ide atau inspirasi, Djessica biasanya mendapatkan dari lingkungan di sekitarnya, atau pun ketika ada isu-isu tertentu yang sedang booming di media sosial, dan sebagainya.

Dari situlah, Djessica memulai visualisasi tentang apa-apa saja yang sudah dilihatnya, untuk kemudian dituangkan dalam bentuk tulisan, hingga menghasilkan sebuah karya, seperti buku antologi “Upaya untuk Pulang” yang ikut di-launching pada kesempatan ini.

“Biasanya ketika saya melihat sesuatu di sekitar saya, atau mungkin lingkungan sosial yang sedang naik-naiknya. Dari situ tiba-tiba saja saya langsung nulis (tentang apa yang saya lihat), gitu. Cuman itu timbul karena spontanitas saja, kayak kecewa terhadap sesuatu, atau merasa ‘enggak (gue) banget’ dengan keadaan seperti ini, gitu, dan semacamnya,” papar Djessica Yula, dalam sesi diskusi buku antologi puisi berjudul “Upaya untuk Pulang” di acara Selasa Sastra bertajuk “Sajak-sajak Arah Angin”, yang berlangsung di Kelingan Garden & Cafe, Selasa (7/7/2026).

Dalam perjalanannya menulis buku antologi ini, Djessica banyak menemui sejumlah hambatan, di antaranya sulitnya membagi waktu, menulis yang masih sering dikejar waktu (deadline atau the power of kepepet), distraksi dari ponsel dan piranti digital lainnya, serta tantangan teknis dalam kepenulisan puisi.

“Saya tuh orangnya tipikal deadliners gitu, atau sering menerapkan “the power of kepepet“. Jadi semakin dekat dengan batas deadline itu rasanya jadi semakin mudah (untuk mengerjakan sesuatu). Apalagi kalau mengerjakannya itu di toilet. Malah inspirasinya jadi lebih dapet kalau mengerjakan di situ,” tambah Djessica.

Buku antologi puisi “Upaya untuk Pulang” karya Djessica Yula ini bisa dibeli di beberapa platform, seperti Diandra Kreatif untuk versi cetaknya, atau gramedia.com dan juga bacabuku.com untuk versi E-book atau buku digitalnya.

Selain buku antologi puisi berjudul “Upaya untuk Pulang” karya Djessica Yula, sesi diskusi yang sama juga membedah buku antologi puisi lainnya yang berjudul “Perjalanan Menuju-Mu”. Buku ini juga merupakan karya dari salah satu lulusan program TKS lainnya, yakni Winda Cahyati. (zk)

BANTUL – Ada banyak cara yang bisa dilakukan untuk menuliskan pengalaman hidup, salah satunya melalui kumpulan antologi puisi.

Oleh sebab itulah, menjadi cara yang dilakukan oleh seorang Winda Cahyati, salah satu lulusan program Temu Karya Sastra (TKS) dari Dinas Kebudayaan “Kundha Kabudayan” DIY tahun 2025, yang baru saja me-launching buku antologi puisi terbarunya yang berjudul “Perjalanan Menuju-Mu”.

Bagi Winda, setiap manusia pasti memiliki perjalanan hidup yang berbeda-beda. Namun apapun dan bagaimanapun perjalanan tersebut dilalui, semuanya pasti akan tetap kembali kepada-Nya, sebagai tujuan akhir dari seluruh kehidupan.

“Jadi buku ‘Perjalanan Menuju-Mu’ ini memang terdiri dari beberapa chapter atau suatu perjalanan gitu. Bahwa di dalam hidup ini kita akan mengalami beberapa fase (perjalanan hidup), dan kita tidak boleh lupa bahwa tujuan akhir kita itu adalah Tuhan, seperti itu,” ungkap Winda Cahyati, dalam sesi diskusi buku di acara Selasa Sastra bertajuk “Sajak-sajak Arah Angin” yang berlangsung di Kelingan Garden & Cafe, Bejen, Bantul, Selasa (7/7/2026).

Adapun buku “Perjalanan Menuju-Mu” ini merupakan karya tunggal pertama seorang Winda Cahyati. Selebihnya ia hanya berkontribusi dalam antologi kolektif bersama teman-teman lainnya di berbagai tempat.

“Untuk antologi puisi mandiri atau karya sendiri, buku ini (Perjalanan Menuju-Mu) ini baru yang pertama kali. Tapi memang sebelumnya sudah pernah menerbitkan beberapa antologi bersama, gitu. Pernah juga diterbitkan di koran, waktu itu,” sambung Winda.

Bagi Winda, proses membuat puisi sama halnya dengan meluapkan sesuatu, alias “curhat” tentang keresahan pribadi. Sehingga antologi puisi ciptaannya ini merupakan bagian dari isi hatinya, yang kemudian dituangkan dalam bentuk buku antologi puisi.

Selain buku antologi puisi berjudul “Perjalanan Menuju-Mu” karya Winda Cahyati, sesi diskusi yang sama juga membedah buku antologi puisi lainnya yang berjudul “Upaya untuk Pulang”. Buku ini juga merupakan karya dari salah satu lulusan program TKS lainnya, yakni Djessica Yula.

Sesi diskusi kedua buku ini merupakan rangkaian dari acara Selasa Sastra bertajuk “Sajak-sajak Arah Angin” pada Selasa (7/7/2026), yang berlangsung di Kelingan Garden & Cafe, Bejen, Bantul. (zk)

BANTUL – Menulis buku adalah kesempatan untuk semua orang, baik dari kalangan manapun, dan usia berapapun.

Kesempatan inilah yang dibuka oleh Penerbit Ananta Vidya, yang digawangi oleh Direkturnya, Anastasia Arsiwi Anggita Dewi, melalui program tahunan yang diberi nama “Nulis Bareng Ananta” (Nubaran).

Dalam acara Selasa Sastra bertajuk “Sajak-sajak Arah Angin” yang berlangsung di Kelingan Garden & Cafe, Bejen, Bantul, Selasa (7/7/2026), Gita, panggilan akrabnya, membuka kesempatan seluas-luasnya kepada siapa saja untuk bergabung dalam program “Nubaran” ini, agar bisa menerbitkan buku indie secara digital, serta dapat diperjualbelikan ke khalayak luas, alias menjadi seorang “writerpreneur“.

“KIta memang ada tantangan-tantangan khusus sih. Jadi kalau misalnya temen-temen di sini sudah biasa menulis puisi, maka tantangannya nanti akan diminta untuk menulis buku nonfiksi, dan semacamnya. Nanti teman-teman tinggal bagaimana caranya untuk keluar dari zona nyaman itu (menulis genre yang berbeda dari biasanya),” ujar Gita, dalam acara Selasa Sastra bertajuk “Sajak-sajak Arah Angin” yang berlangsung di Kelingan Garden & Cafe, Selasa (7/7/2026).

Adapun untuk tahun ini, “Nubaran” memfokuskan tantangan kepenulisan pada genre Komedi dan Budaya, di mana setiap peserta bisa memilih salah satu dari keduanya. Dua tema ini juga bisa ditulis dalam bentuk fiksi maupun nonfiksi, dengan beberapa persyaratan teknis di dalamnya.

“Sekarang kan lagi musimnya parodi kan ya. Jadi ada banyak bahan yang mulai dijadikan semacam slang gitu ya. Dan konten-konten semacam itu biasanya dibuat dalam bentuk video (yang diunggah di media sosial). Nah gimana caranya supaya bisa membuat parodi itu dalam bentuk teks, misalnya. Jadi ada semacam tantangan imajinasinya agar teks itu bisa jadi lucu, gitu,” tambah Gita.

Program “Nubaran” ini sendiri dibuka selama satu bulan, mulai 6 Juli hingga 6 Agustus 2026, dengan ketentuan menulis minimal 50 halaman A5 (hanya mencakup isi/inti utama dari buku, tidak termasuk kata pengantar, daftar isi, dan lain-lain), format file Microsoft Word font Times New Roman ukuran 12, spasi 1,15, dan margin 2 cm rata tengah.

Peserta dapat mengirimkan draf naskah, prakata, sinopsis, sampul buku, dan alasan mengapa buku tersebut layak diterbitkan, melalui alamat email [email protected].

Penulis yang naskahnya terpilih alias lolos proses kurasi, akan mendapatkan sejumlah fasilitas menarik, di antaranya penyuntingan (editing), tata letak (layout), penerbitan (ISBN elektronik), dukungan promosi, serta yang paling dinanti-nantikan yakni royalti penulis.

Informasi selengkapnya mengenai program “Nubaran” ini bisa dilihat di akun Instagram @ananta.writer(zk)

BANTUL – Jika selama ini kita sering mendengar istilah populer yakni banyak jalan menuju Roma, yang berarti banyak cara yang bisa dilakukan untuk mencapai hasil yang sama, maka hal itu juga berlaku pada sosok Dea Chairunnisa, seorang Master of Ceremony (MC) atau public speaker yang baru saja menerapkan istilah “banyak jalan menuju sastra” dalam hidupnya.

Meskipun bukan berlatar belakang seniman atau sastrawan, Dea terjun ke dunia sastra dengan semangat positif dan keinginan kuat untuk belajar, serta tak ketinggalan menghasilkan karya demi karya yang bisa dinikmati oleh banyak orang.

Perkenalannya dengan dunia sastra pun bisa dibilang juga tidak disengaja, ketika ia bertemu dengan Direktur Selasa Sastra, Tedi Kusyairi, dalam sebuah acara pada awal tahun ini.

“Aku kenal Mas Tedi itu pas aku jadi host-nya podcast PKBI (Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia), di situ aku bercerita ke beliau bahwa aku punya sekolah public speaking dan MC, namanya Gema Academy. Dan aku saat itu juga sedang mencari acara untuk anak-anakku agar bisa tampil dan berlatih dalam situasi acara yang resmi.

Mas Tedi pun bercerita bahwa beliau juga meng-handle komunitas sastra (Selasa Sastra), yang diselenggarakan di kafenya yaitu Kelingan Garden & Cafe setiap hari Selasa, dan selalu butuh MC. Akhirnya Mas Tedi minta ke aku untuk jadi MC di sini, dan juga ikut mengirimkan siswa-siswa MC aku ke acara ini,” ucap Dea, saat ditemui di Kelingan Garden & Cafe, Bejen, Bantul, Selasa (7/7/2026).

Sejak saat itu, sastra membuka banyak kesempatan baginya untuk belajar lebih dalam tentang seni dan kehidupan secara lebih luas.

“Ternyata sastra itu luas ya. Padahal dulu waktu aku dengar kata “sastra” itu, yang terpikirkan di kepalaku adalah tentang bahasa Indonesia.

Setelah aku berkecimpung di acara Selasa Sastra ini sebagai moderator, akhirnya mau nggak mau aku juga belajar. Ternyata sastra itu juga ada kepenulisannya, film, puisi, bahkan bahasanya juga nggak cuma bahasa Indonesia, tapi juga ada dalam bahasa Jawa, dan seterusnya,” tambah Dea.

Dea pun tidak menutup kemungkinan untuk benar-benar “nyemplung” ke dalam dunia sastra secara keseluruhan, dan menghasilkan berbagai karya sastra yang bisa disaksikan oleh teman-teman maupun murid-muridnya di Gema Academy, sekaligus menghasilkan pundi-pundi dari sana. (qin)

Dinamika hidup yang semakin luas dalam beberapa waktu terakhir, seperti konflik di Timur Tengah, harga minyak yang terus melonjak, dan lain-lain, membuat banyak pihak mulai bereaksi sesuai dengan cara dan kreativitas masing-masing.

Bagi para sastrawan, cara terbaik untuk merespons berbagai dinamika tersebut adalah dengan membuat karya sastra.

Itulah yang mendasari hadirnya event bulanan Selasa Sastra di bulan Juli 2026, yang berlangsung di Kelingan Garden & Cafe, Selasa (7/7/2026), dengan menghadirkan sejumlah penampilan sastra menarik dari beberapa sastrawan di Bantul, serta beberapa acara pendukung lainnya.

Berikut adalah sejumlah momen menarik yang terjadi dalam perhelatan Selasa Sastra tersebut, yang bertajuk “Sajak-sajak Arah Angin”. (Foto: Azka Qintory)

 

 

BANTUL – Selasa sastra kembali hadir di bulan Juli 2026 dengan sejumlah penampilan sastra menarik serta beberapa acara pendukung lainnya.

Mengambil tema “Sajak-sajak Arah Angin”, Selasa Sastra kali ini mencoba untuk merespon berbagai isu global yang terjadi di dunia saat ini, seperti peperangan di Timur Tengah, mahalnya harga minyak, melonjaknya nilai tukar rupiah, dan seterusnya.

Dengan tema ini, Selasa Sastra mencoba menyikapi berbagai dinamika tersebut, dengan menampilkan pertunjukan sastra, terutama puisi, sebagai “respons” atas perkembangan isu-isu tersebut.

“Selasa sastra kali ini mencoba hadir untuk merespons berbagai dinamika yang hadir di dunia saat ini. Seperti peperangan, harga minyak yang terus melonjak, dan seterusnya, yang secara tidak langsung juga berimbas kepada masyarakat di Indonesia. Misalnya saja kurs dollar yang terus meningkat, dan lain-lain. Jadi bagaimana kita menyikapi setiap dinamika tersebut dengan karya sastra yang turut dibacakan di panggung Selasa Sastra hari ini,” ucap Direktur Selasa Sastra, Tedi Kusyairi, Selasa (7/7/2026).

Selain itu, event Selasa Sastra kali ini juga memberikan kesempatan untuk menulis buku secara gratis, melalui sayembara khusus yang diadakan oleh penerbit Ananta Vidya. Penulis yang terpilih berkesempatan untuk meneribitkan buku digital (e-book) buatan sendiri secara gratis, dan menjual bukunya kepada khalayak luas.

Tidak hanya itu, Selasa Sastra kali ini juga menghadirkan diskusi buku antologi puisi, yang merupakan hasil karya dari dua peserta program Temu Karya Sastra (TKS) dari Dinas Kebudayaan “Kundha Kabudayan” DIY tahun 2025, yakni buku “Upaya Untuk Pulang” karya Djessica Yula, dan “Perjalanan Menuju-Mu” karya Winda Cahyati.

Selasa Sastra edisi Juli 2026 kali ini berlangsung di Kelingan Garden & Café, Bejen, Bantul, Selasa (7/7/2026). Acara ini menampilkan beberapa sastrawan ternama yang berasal dari Bantul, di antaranya Tedi Kusyairi, Syamsu Setiaji, Budi Baik Hati, Fathia Jayanti, Shinta Sigit, dan masih banyak lagi. (zk)

BANTUL – Dalam dunia yang serba mengandalkan konten seperti saat ini, skill keaktoran atau akting sangatlah dibutuhkan, guna mendukung keberhasilan sebuah konten dalam mendeliver pesan kepada audiens.

Atas dasar itulah, Kelingan Garden & Cafe bersama Teater Amarta berinisiatif menyelenggarakan Kelas Keaktoran khusus, yang diperuntukkan bagi generasi muda dan masyarakat umum, yang diselenggarakan di Kelingan Garden & Cafe, Bejen, Bantul kota, Jumat (26/6/2026).

Adapun kelas tersebut turut diampu oleh seorang seniman dan artis teater, Nunung Deni Puspitasari, yang juga pendiri Teater Amarta.

Pada kesempatan tersebut, Nunung mengajarkan teknik-teknik dasar dalam dunia keaktoran, seperti olah tubuh, olah vokal, dan juga olah rasa.

Di dalam ketiga teknik dasar tersebut, setiap aktor harus mampu merawat dan melatih tubuhnya, karena tubuh adalah medium utama yang memerankan sebuah tokoh tertentu. Selain itu, setiap aktor juga harus mengasah artikulasi kata, mengatur napas perut, memainkan intonasi dan jeda, serta membangun rasa imajinasi, untuk dapat menjiwai setiap karakter yang diperankan.

Tidak hanya itu, ketika sudah tampil di atas panggung, setiap aktor juga harus melupakan dirinya sendiri, dan sepenuhnya menjadi tokoh yang diperankan (menjadi “orang lain”), agar tidak terlihat ragu atau tertawa sendiri saat melakukan penokohan.

Lebih lanjut, Nunung menganggap bahwa perkembangan dunia keaktoran sangatlah luas dan bisa diaplikasikan dalam berbagai industri. Mengingat industri konten sendiri juga sangat luas, dan terus berkembang dari waktu ke waktu.

Kehadiran kelas keaktoran ini tentunya diharapkan akan mampu melahirkan talenta-talenta aktor baru dari Bantul di masa depan, sebagai penerus generasi aktor dan aktris masa kini.

Dengan banyaknya peluang mengisi peran keaktoran dalam berbagai konten digital, maka peluang untuk mendapatkan cuan dari profesi ini juga cukup besar, sekaligus memungkinkan banyak kerjasama yang menguntungkan di masa depan. (zk)