Kegiatan melestarikan budaya memang menyenangkan bagi sebagian orang, terutama bagi mereka yang benar-benar menyukainya, sekaligus menggelutinya sebagai bagian dari mata pencaharian sehari-hari.

Namun, masih banyak orang yang lupa menjaga kesehatan tubuh dan pikirannya, ketika melakukan aktivitas pelestarian kebudayaan tersebut.

Atas dasar itulah, Dinas Kebudayaan DIY bersama Kelingan Garden & Cafe dan budayawan Fajar Suharno, berinisiatif menyelenggarakan kegiatan “Sambang Komunitas”, beberapa waktu lalu, sebagai salah satu upaya untuk dapat melestarikan kebudayaan, sambil tetap menjaga kesehatan diri.

Berikut adalah sejumlah keseruan yang terjadi dalam kegiatan Sambang Komunitas tersebut. (Foto: Azka Qintory)

 

 

BANTUL –  Kegiatan melestarikan budaya memang menyenangkan bagi sebagian orang, terutama bagi mereka yang benar-benar menyukainya, sekaligus menggelutinya sebagai bagian dari mata pencaharian sehari-hari.

Namun, masih banyak orang yang lupa menjaga kesehatan tubuh dan pikirannya, ketika melakukan aktivitas pelestarian kebudayaan tersebut.

Untuk itulah, Dinas Kebudayaan DIY bersama Kelingan Garden & Cafe dan budayawan Fajar Suharno, berinisiatif menyelenggarakan kegiatan “Sambang Komunitas”, beberapa waktu lalu, sebagai salah satu upaya untuk dapat melestarikan kebudayaan, sambil tetap menjaga kesehatan diri.

Karena kegiatan pelestarian budaya juga tidak akan mampu berjalan optimal, apabila tubuh tidak fit, dan pikiran juga kurang rileks.

Dalam kesempatan tersebut, Fajar Suharno yang telah berusia 81 tahun, sempat menimba ilmu di PGB (Persatuan Gerak Badan) Bangau Putih di Bogor, Jawa Barat, tentang bagaimana melakukan gerak olah tubuh yang tepat, untuk dapat menjaga kesehatan meski sudah berusia senja.

“Saya bukanlah seorang paramedis, saya juga bukan dokter, saya bukan sarjana biologi, tapi saya hanya sebagai murid di PGB (Persatuan Gerak Badan) Bangau Putih di Bogor, yang pernah mengajarkan kepada saya tentang menjaga kesehatan melalui gerak olah tubuh, yang masih terus saya praktekkan sampai saat ini,” tutur Fajar Suharno, dalam pemaparannya di Kelingan Garden & Cafe, Kamis (25/6/2026).

Salah satu aspek yang turut menjadi perhatian seorang Fajar Suharno adalah pernapasan. Karena pernapasan adalah aktivitas alami manusia yang dilakukan setiap harinya, tanpa pernah diajarkan oleh siapapun.

Namun, apabila pernapasan terhambat atau mengalami masalah, seluruh aktivitas bisa terganggu, masuk rumah sakit, bahkan sampai meninggal dunia. Padahal ketika masih sehat, aktivitas bernapas seperti dianggap enteng begitu saja, lantaran sudah biasa dilakukan sejak lahir.

“Menurut saya napas itu adalah sesuatu yang bukan main (pentingnya untuk manusia). Padahal selama ini kita menganggap napas adalah sesuatu yang biasa-biasa saja. Napas itu sesuatu yang sudah diterima dan tidak perlu dipersoalkan. Sementara dalam mekanisme berlatih (yang diajarkan di PGB Bangau Putih), ternyata napas memegang peranan yang sangat penting terkait bagaimana kita menjalani hidup ini,” sambung Fajar.

Di akhir acara, Fajar pun memberikan praktik langsung bagaimana menerapkan gerakan relaksasi olah tubuh yang bisa dilakukan di rumah, hanya dengan memanfaatkan badan sendiri.

Seluruh gerakan tersebut cukup dilakukan sekitar 15 sampai 20 menit setiap harinya, agar para budayawan, sastrawan, dan sejenisnya bisa tetap sehat dan bugar dalam menjalani aktivitas pelestarian budaya di manapun dan kapanpun. (zk)

BANTUL – Selasa Sastra kembali hadir pada edisi Juni 2026 di Kelingan Garden & Cafe, Selasa (2/6/2026).

Dalam edisi kali ini, Selasa Sastra mengambil tema “Janji di Bulan Juni”. Tema ini mengacu pada bagaimana agar setiap orang selalu berkomitmen terhadap janji yang pernah disampaikan, dan berusaha untuk menepatinya, baik di bulan Juni maupun bulan-bulan lainnya.

Berikut adalah sejumlah keseruan yang terjadi dalam kegiatan Selasa Sastra tersebut. (Foto: Azka Qintory)

 

 

BANTUL – Selasa Sastra kembali hadir pada edisi Juni 2026 di Kelingan Garden & Cafe, Selasa (2/6/2026).

Dalam edisi kali ini, Selasa Sastra mengambil tema “Janji di Bulan Juni”.

Tema ini sengaja dipilih, sebagai cara untuk mengingat kembali setiap janji yang pernah disampaikan, baik itu di bulan Juni maupun bulan-bulan lainnya, sehingga ada semacam aksi yang harus dilakukan, untuk menepati setiap janji tersebut.

“.Setiap orang kan pasti punya banyak keinginan, punya cita-cita, nah di momentum Selasa Sastra bulan Juni ini, diharapkan setiap orang akan selalu setia (komitmen) terhadap janjinya masing-masing, dan mencapai seluruh cita-cita yang diimpikan,” ungkap Direktur Komunitas Selasa Sastra, Tedi Kusyairi, saat ditemui di Kelingan Garden & Cafe, Selasa (2/6/2026).

Selain itu, kehadiran Selasa Sastra juga diharapkan mampu menjembatani setiap janji yang pernah terucap, salah satunya melalui pembacaan puisi atau karya sastra lainnya, kepada audiens yang menyaksikan langsung di Kelingan Garden & Cafe, maupun yang menonton siaran langsung di kanal YouTube Bang Tedi Way secara live streaming, dan seterusnya.

“Tentunya momentum Selasa Sastra juga bisa menjadi bagian dari bagaimana orang-orang yang terlibat dalam kegiatan ini, mampu mencapai tujuan dalam hidupnya, terkait janji-janji personalnya dan lain-lain,” tambah Tedi.

Terdapat beberapa penampilan sastra spesial yang hadir dalam Selasa Sastra edisi “Janji di Bulan Juni” kali ini, di antaranya dari Tedi Kusyairi, Mirna Radilla, Sunawi, Fathia Jayanti, Nur Budi, dan masih banyak lagi.

Tidak hanya penampilan sastra, Selasa Sastra edisi Juni 2026 ini juga menghadirkan sesi diskusi sekaligus launching dua antologi cerpen, masing-masing berjudul Pencuri di Bulan Suci karya Salwa Aulia Az-zahra, dan Sinden Terakhir karya Siti Maha Dana, (zk)

YOGYAKARTA – Sastra Bulan Purnama (SPB) kembali hadir dalam edisi yang ke-176 pada Sabtu (23/5/2026), bertempat di Museum Sandi, Kotabaru, kota Yogyakarta.

Kegiatan ini merupakan rangkaian dari Sosialisasi Empat Pilar Kebangsaan MPR RI, yang berlangsung pada 15 Februari lalu.

Selain itu, kegiatan ini juga sekaligus menjadi momentum peluncuran buku antologi puisi berjudul “Manuskrip Indonesia”, yang diikuti oleh ratusan peserta yang hadir pada acara sosialisasi tersebut, dan telah lolos kurasi oleh tim dewan juri.

“Sore ini, Sastra Bulan Purnama meluncurkan satu buku kumpulan puisi, judulnya “Manuskrip Indonesia”, rangkaian dari Sosialisasi Empat Pilar MPR RI bulan Februari lalu. Kemudian kita teruskan dengan penulisan puisi yang kita beri tema ‘Kebangsaan’, seperti itu,” ungkap Pendiri sekaligus koordinator SBP, Ons Untoro, dalam sambutannya, Sabtu (23/5/2026).

Ons menambahkan, antologi puisi ini merupakan karya pertama yang menjadi “kado” bagi para anggota MPR RI dalam rangkaian sosialisasi empat pilar kebangsaan. Mengingat sebelum-sebelumnya, kegiatan ini hanya berlangsung dalam bentuk pertemuan biasa, lalu setelah itu selesai begitu saja.

“Bagi MPR, setidaknya bagi Wakil Ketua Sosialisasi (Abidin Fikri), buku puisi ini adalah kali pertama setelah sosialisasi ada buku. Karena selama ini kalau habis sosialisasi selesai yaudah mungkin dilupakan. Nah untuk sekarang ada buku yang terbit. Ini adalah sesuatu yang baru bagi MPR,” tambah Ons.

Ke depannya, SBP akan kembali berkolaborasi dengan pihak MPR RI, untuk mengadakan sosialisasi serupa, yang kemudian diikuti dengan penerbitan buku selanjutnya, baik berupa buku puisi lagi, atau buku esai, dan seterusnya. (zk)

YOGYAKARTA – Sastra Bulan Purnama kembali hadir dalam edisi yang ke-176 pada Sabtu (23/5/2026), bertempat di Museum Sandi, Kotabaru, kota Yogyakarta.

Kegiatan ini merupakan rangkaian dari Sosialisasi Empat Pilar Kebangsaan MPR RI, yang berlangsung pada 15 Februari lalu.

Selain itu, kegiatan ini juga sekaligus menjadi momentum peluncuran buku antologi puisi berjudul “Manuskrip Indonesia”, yang diikuti oleh ratusan peserta yang hadir pada acara sosialisasi tersebut, dan telah lolos kurasi oleh tim dewan juri.

Berikut adalah sejumlah keseruan yang terjadi dalam kegiatan Sastra Bulan Purnama tersebut. (Foto: Azka Qintory)

 

 

BANTUL – Pendidikan Pancasila seringkali dianggap sebagai mata pelajaran yang penuh hafalan dan membosankan.

Namun, kesan tersebut seolah sirna di tangan para mahasiswa Pembelajaran Luar Kampus dari Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) bertajuk Adyaswara Mengabdi 2026.

Melalui pendekatan Fun Learning, mereka menghadirkan metode pembelajaran PPKN bagi anak-anak di Padukuhan Jetis pada Sabtu (11/4/2026).

Adyaswara Mengabdi memanfaatkan berbagai media pembelajaran edukatif seperti norma card, kartu kuartet, dan menyanyikan lagu yang berisi materi Pendidikan Pancasila, yang penggunaannya disesuaikan dengan jenjang kelas anak-anak, untuk menanamkan nilai karakter bangsa, dan mengajarkan materi Pendidikan Pancasila tanpa rasa bosan kepada anak-anak.

Program kerja ini bukan sekadar permainan edukatif, melainkan implementasi nyata dari agenda Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDGs Poin 4 (Pendidikan Berkualitas) yang diwujudkan dengan menciptakan lingkungan belajar yang inklusif dan efektif dengan metode fun learning dan SDGs Poin 16 (Perdamaian dan Kelembagaan yang Tangguh), yaitu dengan menanamkan pemahaman tentang harmoni, toleransi, dan hak kewajiban sejak dini, demi terciptanya masyarakat Jetis yang damai di masa depan.

Suasana belajar yang menyenangkan di posko PLK membuat anak-anak berani mengemukakan pendapat serta bertanya.

Tidak ada lagi rasa takut salah, yang ada hanyalah semangat untuk menyelesaikan permainan edukatif menggunakan media pembelajaran yang telah disediakan.

Kegiatan ini dibagi menjadi tiga kelompok, yaitu kelompok norma card, kartu kuartet, dan lembar garuda.

Kegiatan ini mendapatkan respon positif dari anak-anak Padukuhan Jetis. Hal ini dibuktikan dengan antusiasme dan kedatangan puluhan anak-anak yang sangat bersemangat saat kegiatan berlangsung.

“PKN jadi seru, Mbak, aku nggak bosen lagi dan jadi mudah faham” ujar salah satu anak.

Melalui langkah kecil ini, mahasiswa PLK UNY 2026 berharap dapat mengubah stigma belajar Pendidikan Pancasila, yang sering dianggap membosankan, dan menjadi jembatan pembentukan karakter generasi muda Jetis sejak dini yang literat, toleran, dan bangga menjadi bagian dari bangsa Indonesia. (zk)

SLEMAN – Mantan Ketua BEM UGM periode 2025-26, Tiyo Ardianto, berkomitmen akan tetap bersuara di berbagai forum, guna mengkritik rezim pemerintahan yang saat ini sedang berkuasa, sekalipun sudah berstatus purna sebagai Ketua BEM UGM.

Menurut Tiyo, tugas untuk bersuara adalah hal yang harus dilakukan sepanjang hayat, dan tidak hanya didasarkan pada saat menduduki jabatan tertentu saja.

“Saya kira bersuara itu adalah tanggung jawab sosial kita sebagai rakyat Indonesia. Kalau misalnya kita melihat rumah kita terbakar, kalau kita diam saja, apa itu namanya kalau bukan bodoh atau kita jadi salah satu bagian yang menyebabkan kebakaran tersebut. Bersuara itu artinya kita ngomong kalau rumah kita terbakar. Bersuara itu artinya kita berusaha supaya rumah yang terbakar itu pada apinya,” ucap Tiyo Ardianto saat ditemui setelah mengisi acara Konferensi “Bangunlah Kekuatan Politik Anak Muda”, yang berlangsung di Selasar Barat Fisipol UGM, Selasa (19/5/2026).

Menurut Tiyo, dengan kondisi bangsa dan negara hari ini, tindakan untuk bersuara menjadi suatu keniscayaan, yang harus terus dilakukan sampai kapanpun.

“Saya kira bersuara itu bukan lagi sebuah pilihan, tapi itu keniscayaan, yang harus dilakukan sampai kapanpun, dengan cara apapun, meskipun sudah tidak lagi menjabat Ketua BEM UGM,” tambah Tiyo.

Usai berstatus purna sebagai Ketua BEM UGM, Tiyo tercatat masih aktif melakukan kegiatan bersuara dan mengkritik pemerintah dalam berbagai forum, salah satunya dalam forum Konferensi ini, yang menjadi tonggak munculnya gerakan anak muda untuk melawan kekuasaan yang sudah terlampau dzalim. (zk)

SLEMAN – POLGOV dan Social Movement Institute (SMI) dari Fisipol UGM resmi me-launching festival film dokumenter bertajuk “Jalan Pedang” yang diproduksi oleh Watchdoc, dan disutradarai oleh Dandhy Dwi Laksono, yang juga Sutradara dari film “Pesta Babi”, yang turut menuai kontroversi akhir-akhir ini, bahkan terpaksa diamankan oleh sejumlah aparat keamanan di berbagai daerah.

Prosesi launching film ini dilaksanakan bersamaan dengan Konferensi “Bangkitnya Kekuatan Politik Anak Muda”. Keduanya berlangsung di Selasar Barat Fisipol UGM, Selasa (19/5/2026).

Film ini menceritakan beberapa peristiwa kelam yang pernah terjadi di tanah air, kaitannya dengan kekejaman rezim penguasa dari waktu ke waktu, mulai dari peristiwa PKI tahun 1965, Permesta (Perjuangan Rakyat Semesta) tahun 1957, DI TII (Darul Islam/Tentara Islam Indonesia) tahun 1948, dan masih banyak lagi.

Meskipun semua peristiwa kelam tersebut sudah berlalu, nyatanya peristiwa kelam serupa masih terjadi di era modern seperti saat ini, di mana rezim pemerintahan Prabowo-Gibran seolah-olah hendak mengembalikan Indonesia ke bentuk demokrasi yang “khas Indonesia”, serta membawa Indonesia flash back ke zaman orde baru (versi modern), yang sarat dengan otoritarisme penguasa, keterlibatan militer di ruang-ruang sipil, rezim menguasai seluruh kekayaan alam untuk dinikmati pribadi dan golongannya sendiri, pemerintahan yang antikritik, dan lain sebagainya.

Bahkan yang tidak kalah jahatnya, rezim saat ini juga berusaha mengaburkan fakta sejarah, dengan meniadakan peristiwa-peristiwa kelam seperti yang telah disebutkan sebelumnya, agar dianggap void (tidak pernah ada sama sekali), dan menciptakan narasi bahwa sejarah Indonesia yang sesungguhnya adalah Indonesia yang baik-baik saja, selalu indah, selalu menarik bagi dunia luar, dan seterusnya.

Hal itulah yang kemudian memantik Dandhy, Watchdoc, serta sekumpulan anak muda lainnya, untuk kembali menyadarkan publik, khususnya generasi muda, bahwa sejarah Indonesia (kekejaman penguasa) sejak masa kemerdekaan pun tidak pernah baik-baik saja, dan itu masih terus terjadi bahkan sampai hari ini, melalui rezim yang dipimpin oleh Prabowo Subianto beserta “antek-anteknya”.

Menurut Nuh Izzul Haq, Ketua Panitia Penyelenggara Konferensi “Bangkitnya Kekuatan Politik Anak Muda”, film ini dapat menjadi refleksi bagi para generasi muda, untuk dielaborasikan dengan kondisi yang terjadi saat ini, yang tentunya juga akan menjadi “sejarah kelam” berikutnya di masa mendatang.

“Melalui film ‘Jalan Pedang’ ini, para generasi muda bisa mempelajari dan merefleksikan berbagai peristiwa kelam dalam sejarah masa lalu, dan mengaitkannya dengan apa yang terjadi saat ini. Karena menurut Hannah Arendt (filsuf politik asal Jerman tahun 90-an), ‘bangsa yang tidak ingat dengan sejarah masa lalunya, maka dia akan dihukum oleh masa depan’, seperti itu,” tutur Jule, panggilan akrabnya, Selasa (19/5/2026).

Rencananya film ‘Jalan Pedang’ ini akan mengikuti pola yang sama seperti ‘Pesta Babi’, dengan memutarkannya di lokasi-lokasi tertentu (berupa nobar – nonton bareng), dan didiskusikan oleh para audiens di dalamnya, sebagai sarana pendidikan politik dan pengenalan sejarah masa lalu (kelam) yang pernah dialami bangsa ini.

“Kita akan memutarkan film ‘Jalan Pedang’ ini ke berbagai macam wilayah, lokasi, kampus, dan seterusnya, tetapi mungkin tidak sefleksibel atau sebebas ‘Pesta Babi’, tapi kurang lebih metodenya akan mirip seperti itu (pemutaran ‘Pesta Babi’ di berbagai daerah),” tambah Jule.

Jule dan pihak POLGOV serta SMI pun mengaku siap, jika di kemudian hari akan ada aparat keamanan yang tiba-tiba melakukan “interupsi” di tengah-tengah pemutaran film ‘Jalan Pedang’ ini. Karena pihaknya berkomitmen akan terus melawan kekejaman penguasa beserta jaringan di dalamnya (termasuk aparat keamanan), sehingga mampu menciptakan ruang berekspresi dan berpendapat yang seluas-luasnya, serta mengembalikan “ruh Indonesia” dalam wujud reformasi yang sesungguhnya, bukan lagi reformasi yang sifatnya semu apalagi hanya omon-omon (textbook) belaka.

Bagi masyarakat di daerah atau dimanapun yang hendak menyaksikan film ‘Jalan Pedang’ ini, dan mempelajari sejarah kelam bangsa Indonesia di masa lalu, bisa menghubungi akun media sosial POLGOV atau SMI Fisipol UGM. (zk)

SLEMAN – Menyempitnya ruang berekspresi dan berpendapat di ruang publik belakangan ini, membuat anak muda, khususnya kalangan mahasiswa, berusaha melawan dengan cara yang lebih elegan.

Mereka turut membangun berbagai jaringan baru di berbagai tempat, untuk menyusun kekuatan baru secara kolektif, sebagai langkah untuk melawan rezim yang berkuasa saat ini.

Atas dasar itulah, POLGOV bersama Social Movement Institute dari Fisipol (Fakultas Ilmu Politik) UGM menyelenggarakan Konferensi bertajuk “Bangunlah Kekuatan Politik Anak Muda!” yang berlangsung di Selasar Barat Fisipol UGM, Selasa (19/5/2026).

Momen ini juga sekaligus menjadi peluncuran dokumenter baru karya Watchdoc dan Dandhy Dwi Laksono (Sutradara Dokumenter ‘Pesta Babi’) berjudul Jalan Pedang.

Film ini mencuplik tentang beberapa sejarah kelam bangsa yang coba dikaburkan oleh para pejabat saat ini, terkait kekejaman para penguasa yang sudah berlangsung sejak puluhan tahun silam.

Konferensi ini menghadirkan tiga orang narasumber, yakni mantan Ketua BEM UGM, Tiyo Ardianto, Guru besar Ilmu Politik, Amalinda Savirani, dan Koordinator Komisi KontraS (Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan), Dimas Bagus Arya.

Ketiganya sepakat bahwa rezim Prabowo-Gibran beserta “antek-anteknya” sudah terlalu offside dalam mengelola negeri ini, sehingga rakyat harus benar-benar melawan dengan sekeras-kerasnya namun tetap dengan cara yang elegan.

Karena sudah sekian lama rakyat diinjak-injak sedemikian rupa oleh penguasa, yang seolah tidak tahu-menahu dengan kondisi sulit yang dialami oleh rakyatnya sendiri.

Ketua Panitia Penyelenggara Konferensi, Nuh Izzul Haq, menyampaikan bahwa konferensi ini adalah bentuk konsolidasi serta membangun solidaritas anak muda, kepada seluruh tahanan politik yang ditangkap dalam rangkaian peristiwa demonstrasi Agustus 2025, dan lain sebagainya.

“Kita mencoba untuk mengkonsolidasikan para anak muda, terutama yang telah ditahan dalam peristiwa Agustus (2025), atau yang telah menjadi tahanan politik. Kita di sini membentuk semacam solidaritas bersama, karena kami merasa bahwa bangsa ini sudah terlalu lama dikuasai dan juga dipimpin oleh generasi yang sudah usang, pemikirannya tidak lagi layak (untuk diterapkan di zaman modern seperti sekarang), miskin akan gagasan, pikirannya tidak ada kebaruan, dan tidak ada progresivitasnya,” ucap Jule, sapaan akrabnya, Selasa (19/5/2026).

Melalui konferensi ini, Jule berharap agar ke depannya anak-anak muda di Indonesia bisa turut mengkonsolidasikan diri, agar berani melawan kekejaman penguasa, dan tidak gentar dengan segala ancaman yang berpotensi terjadi, entah itu diteror, disiram air keras, video medsos-nya (yang berisi kritik terhadap kekejaman penguasa) di-take down oleh Komdigi, dilaporkan ke polisi, dan seterusnya.

“Harapannya konferensi ini bisa menjadi konsolidasi bagi anak-anak muda yang resah dan gelisah melihat kondisi (negara) saat ini. Baik ketika melihat ketidakadilan, melihat ketimpangan, melihat korupsi, kemiskinan, dan semacamnya,” lanjut Jule.

Sementara itu mantan Ketua BEM UGM, Tiyo Ardianto, yang juga salah satu pembicara dalam konferensi ini, mengatakan bahwa konferensi ini adalah momentum yang tepat untuk mempersatukan anak-anak muda, yang pada dasarnya memiliki rasa cinta kepada tanah air yang begitu besar.

“Kita semua sama-sama menyadari bahwa situasi yang terjadi hari ini, baik secara politik maupun ekonomi, itu mau tidak mau memaksa anak-anak muda untuk melakukan sesuatu yang lebih besar dari yang selama ini sudah pernah dilakukan. Karena kekejaman penguasa hari ini, itu lebih (kejam) dari yang sebelumnya, maka perlawanan yang harusnya dilakukan oleh anak-anak muda, mestinya juga lebih (keras) dari yang sebelumnya sudah dilakukan oleh senior-seniornya,” ucap Tiyo Ardianto, saat ditemui seusai acara.

Di tengah berbagai kesulitan dan tantangan yang dihadapi saat ini, Tiyo masih merasa optimis, bahwa anak-anak muda yang bergerak secara kolektif dan mampu membangun kekuatan baru (salah satunya melalui konferensi ini), akan sanggup menjadi penggerak perubahan dalam skala nasional, untuk benar-benar menciptakan “Indonesia baru” yang benar-benar reformatif, dan tidak lagi terjebak dalam bayang-bayang orde baru, oligarki, otoriter, dan semacamnya. (zk)