YOGYAKARTA – JT – Upaya meningkatkan pengetahuan siswa mengenai literasi dalam dunia industri kreatif ditempuh oleh Madrasah Aliyah Negeri 1 Yogyakarta dengan penyelenggaraan agenda kegiatan Kokurikuler, khususnya bagi kelas XI tahun pelajaran 2025/2026, hal ini ditempuh dengan kegiatan Pelatihan Karya Tulis Ilmiah dan Produksi Video Kreatif bagi Murid yang diselenggarakan pada hari kamis, tanggal 11 Maret 2026, mulai pukul 09.00 hingga 11.00 WIB.

Pelatihan Karya Tulis Ilmiah diampu oleh narasumber R. Toto Sugiharto dan dipandu oleh guru Ely Rahmawati bertempat di Ruang Perpus Lt. 2. Sementara ‘Produksi Video Kreatif bagi Murid’ menghadirkan narasumber Tedi Kusyairi didampingi guru Suci Ambarwati bertempat di Ruang SBSN.

Kepala MAN 1 Yogyakarta, Edi Triyanto, S.Ag., S.Pd., M.Pd., dalam sambutannya menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan upaya madrasah untuk mengembangkan kemampuan literasi ilmiah sekaligus kreativitas murid di era digital.

“Melalui pelatihan ini, kami berharap murid MAN 1 Yogyakarta tidak hanya mampu menulis karya ilmiah dengan baik, tetapi juga mampu menyampaikan gagasan secara kreatif melalui media video. Keduanya merupakan keterampilan penting yang dibutuhkan di masa depan,” ujarnya.

Sementara itu, Wakil Kepala Madrasah bidang Humas, Apriyata Dzikry R., S.Hum., menegaskan bahwa kegiatan ini juga menjadi sarana untuk membangun kemampuan komunikasi dan publikasi karya murid.

“Di era informasi seperti sekarang, kemampuan menyampaikan ide secara menarik dan komunikatif sangat penting. Kami berharap murid mampu menghasilkan karya ilmiah yang berkualitas sekaligus mengemasnya dalam bentuk konten kreatif yang inspiratif,” ungkapnya.

Secara umum tujuan pelatihan untuk membekali murid dalam pembuatan laporan kegiatan studi budaya dalam bentu video dan karya tulis Ilmiah, terang Tuslikhatun Amimah, sebagai Koordinator Kokurikuler kelas XI.

“Output yang diharapkan nantinya, setelah studi budaya akan ada bentuk laporan sesuai dengan kaidah yang benar dan dapat dipertanggungjawabkan,” tegasnya.

Pasca kelas ini, diharapkan bisa melatih kreativitas murid dalam menyampaikan informasi melalui media video. Mengembangkan kemampuan bekerja sama dalam kelompok. Melatih keterampilan komunikasi, riset sederhana, dan storytelling, serta menghasilkan karya video yang informatif, menarik, dan edukatif.

Dalam pemaparannya, R. Toto Sugiharto menekankan bahwa kemampuan menulis karya ilmiah merupakan bekal penting bagi murid dalam mengembangkan pola pikir yang kritis dan sistematis.

“Menulis karya ilmiah melatih murid untuk berpikir logis, sistematis, serta berbasis data dan fakta. Dengan keterampilan ini, murid dapat menuangkan ide dan gagasan mereka secara terstruktur dan dapat dipertanggungjawabkan,” jelasnya.

Sementara itu, Tedi Kusyairi menyampaikan bahwa produksi video kreatif dapat menjadi sarana bagi murid untuk mengekspresikan ide dan menyampaikan pesan secara lebih menarik.

“Konten video saat ini menjadi media yang sangat efektif untuk menyampaikan informasi. Dengan memahami teknik dasar produksi video, murid dapat membuat karya yang kreatif, informatif, dan memiliki nilai edukatif,” tuturnya.

Meskipun kegiatan ini sebagai bentuk isian pengetahuan siswa sebelum acara studi budaya dilakukan, namun harapannya bisa digunakan oleh siswa diluar kegiatan sekolah.

“Semoga ilmu video kreatif ini bisa membekali siswa, misalnya menjadi seorang influencer, atau jika punya usaha atau jasa bisa tau cara mempromosikannya dengan baik,” ungkap Suci Ambarwati, moderator kelas video kreatif.

Setelah sesi pelatihan, murid melanjutkan penyelesaian tugas Studi Budaya secara berkelompok mulai pukul 11.00–11.30 WIB. Kegiatan kemudian dilanjutkan setelah istirahat dan salat zuhur berjamaah hingga pukul 13.40 WIB dengan pendampingan guru, imbuh Kristanto Raharjo salah satu panitia.

Melalui kegiatan ini, MAN 1 Yogyakarta berharap murid dapat semakin terampil dalam mengembangkan literasi ilmiah sekaligus kreativitas dalam memanfaatkan media digital sebagai sarana pembelajaran dan publikasi karya. (ryn)

BANTUL – Dalam dunia seni lukis, sebuah lukisan bisa dihargai dengan sangat mahal, lantaran memiliki nilai seni (estetika) yang tinggi, keunikan/kelangkaan (originalitas), reputasi seniman yang cukup mentereng, serta nilai sejarah atau emosional yang mendalam.

Salah satu yang cukup menjadi perbincangan publik, adalah ketika mantan presiden SBY (Susilo Bambang Yudhoyono) berhasil menjual lukisannya yang berjudul Mantan Presiden RI ke-6, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), berhasil menjual lukisannya yang berjudul “Kuat dan Energik Laksana Kuda Api” seharga Rp6,5 miliar, dalam sebuah lelang amal pada Perayaan Imlek Demokrat, pada Februari 2026 lalu.

Di saat yang bersamaan, masih ada jenis-jenis seni lukis lainnya, yang masih kurang mendapat perhatian, apalagi jika dibeli dengan harga miliaran seperti yang dialami oleh SBY.

Salah satunya adalah seni lukis menggunakan cukil kayu (woodcut).

Meskipun memiliki tingkat kesulitan yang jauh lebih tinggi, namun nyatanya jenis seni lukis yang satu ini justru belum begitu menarik para konglomerat di luar sana, untuk berinvestasi atau membelanjakan uangnya, sebagai bentuk apresiasi atas karya yang telah dihasilkan.

Padahal jika ditelisik lebih jauh, tidak ada perbedaan mencolok antara seni lukis kontemporer dengan seni lukis dengan cukil kayu. Keduanya memiliki kebebasan berekspresi yang tinggi, fokus pada penyampaian ide atau konsep, dan tidak terikat pada pakem artistik tradisional tertentu.

Syahrizal Pahlevi memandangi lukisan cukil kayu miliknya dalam Pameran Lukis Cukil Kayu di Musem dan Tanah Liat (MDTL) (Foto: Azka Qintory)

Bagi seorang Syahrizal Pahlevi, seniman yang fokus di bidang lukis cukil kayu, hal itu merupakan selera setiap individu, yang juga dipengaruhi oleh beberapa faktor, seperti popularitas pelukis, acara yang diikuti, maupun siapa saja yang dilibatkan di dalam project tersebut.

“Persoalan seni rupa itu sederhana, apakah visual itu punya impact (dampak) terhadap audiens-nya, termasuk cerita-ceritanya. Dan saya pikir seni cukil kayu belum mampu meng-impact hal tersebut kepada audiens,” ucap Pahlevi saat ditemui dalam Pameran Lukis Cukil Kayu “Grafis Lintas Jogja-Palembang (1990-2026)”, yang berlangsung di Museum Dan Tanah Liat (MDTL), Tirtonirmolo, Kasihan, Bantul, Senin (9/3/2026).

Pahlevi pun hanya berusaha untuk sekadar berkarya, dan tidak terlalu memusingkan soal kurangnya minat masyarakat terhadap seni cukil kayu.

“Tentunya saya juga berusaha mempromosikan seni cukil kayu ini, baik dengan saya sendiri atau melalui rekanan, untuk membantu ini (mempromosikan seni cukil kayu),” tambah Pahlevi.

Sementara di kesempatan yang sama, Rain Rosidi, penulis pameran cukil kayu tersebut, mengaku bahwa nilai ekonomi memang menjadi salah satu faktor penting, dalam pembuatan sebuah karya lukis, meskipun bukan satu-satunya patokan. Hanya saja, tidak sepantasnya sebuah lukisan hanya dinilai berdasarkan nilai ekonominya saja, tanpa melihat aspek-aspek lain, yang sebetulnya juga tidak kalah penting.

“Sayangnya memang isu lukisan berjual mahal (seperti lukisan SBY) itu terasa lebih menarik, ketimbang isu nilai dari lukisan itu terhadap seni dan budaya. Akhirnya yang terjadi orang hanya berusaha menjual lukisan itu semahal mungkin, tanpa mempertimbangkan esensi atau makna dari lukisan tersebut,” ujar Rain.

Keduanya berharap, lukisan cukil kayu seperti yang dipamerkan di MDTL ini, dapat diapresiasi setinggi-tingginya oleh masyarakat, tidak harus dari kalangan pencinta seni.

Karena pada dasarnya, seni (termasuk seni lukis menggunakan cukil kayu) adalah milik siapa saja, dan layak mendapat apresiasi yang setimpal, atas proses kerja rumit dan berkualitas tinggi yang telah dihasilkan. (zk)

BANTUL – Seniman selalu memiliki cara tersendiri dalam mengekspresikan ide dan gagasannya, untuk dituangkan menjadi sebuah mahakarya yang layak disaksikan oleh banyak orang.

Menurut Syahrizal Pahlevi, seorang seniman asal Palembang, Sumatera Selatan, yang sehari-hari menggeluti seni grafis maupun seni rupa, menganggap bahwa menghasilkan karya seni haruslah memiliki ciri khas tersendiri, yang tidak banyak dimiliki atau dilakukan oleh orang lain.

Salah satunya adalah karya seni rupa menggunakan cukil kayu.

Teknik melukis cukil kayu diketahui bukanlah teknik yang bisa sembarangan dilakukan orang, termasuk seniman sekalipun. Lukisan semacam ini membutuhkan bahan-bahan berupa papan kayu (matriks), kayu lunak, pisau cukil, tinta cetak grafis, rol karet, serta kertas/kain sebagai media cetak. Proses pengerjaannya membutuhkan waktu berhari-hari, hanya untuk menyelesaikan satu jenis karya.

Meskipun terdengar sangat sulit, namun Pahlevi justru menyukainya, karena dengan melukis menggunakan cukil kayu, ia tahu kapan harus berhenti, atau sampai mana ia harus mengakhiri sebuah karya grafisnya. Berbeda dengan karya lukis menggunakan kanvas dan media kertas, yang bisa asal coret dimana saja dan tak ada habisnya.

“Saya pernah punya pengalaman stress dulu, ketika tidak tahu kapan berhenti menggoreskan kuas di atas media kertas. Tapi di cukil kayu ini beda. Saya tahu kapan mulai dan juga kapan untuk berhentinya,” ucap Pahlevi dalam sesi jumpa media terkait Pameran Lukis Cukil Kayu bertajuk “Pameran Grafis Lintas Batas Jogja-Palembang (1990-2026)” yang berlangsung di Museum dan Tanah Liat (MDTL), Tirtonirmolo, Kasihan, Bantul, Senin (9/3/2026).

Pahlevi menambahkan, dengan melukis menggunakan cukil kayu, ia lebih mampu mengekspresikan ide dan perasaannya, ke dalam bentuk yang lebih realistis sekaligus sulit (namun hasilnya lebih memuaskan), ketimbang seni lukis biasa yang hanya menggunakan kanvas dan lain sebagainya.

“Bagi saya melukis dengan cukil kayu itu punya tantangan tersendiri, tapi justru lebih menyenangkan. Nggak tahu juga kenapa, kayak asik aja gitu. Kalau melukis dengan kanvas kan sudah terlalu biasa buat saya,” tambah Pahlevi.

Pameran lukisan cukil kayu karya Syahrizal Pahlevi ini memuat lebih dari 50 karya lukis Pahlevi, yang merupakan rangkuman perjalanan hidupnya di beberapa tempat, terutama di Palembang, yang merupakan kota kelahirannya, serta Yogyakarta, tempatnya menghasilkan karya seni sekaligus merangkai hidup di bidang kesenian bersama para rekan sejawat.

Tidak hanya Palembang dan Jogja, Pahlevi juga turut menghadirkan kisah-kisah hidupnya saat berada di luar negeri, salah satunya di Jepang.

Seluruh karya lukis cukil kayu Syahrizal Pahlevi bisa disaksikan di Museum dan Tanah Liat (MDTL), Tirtonirmolo, Kasihan, Bantul, pada 10-19 Maret 2026. (zk)

BANTUL – Syahrizal Pahlevi, seorang seniman asal Palembang, Sumatra Selatan, memendam perasaan yang dalam terhadap kota kelahirannya tersebut. Ia sudah bertahun-tahun tidak pulang ke Palembang, setelah berkelana di luar kota sekaligus luar negeri, dalam usahanya menemukan jati diri, makna hidup, sekaligus berkarya seni dalam berbagai bentuk, salah satunya seni grafis menggunakan cukil kayu.

Perasaan Pahlevi yang begitu dalam terhadap Palembang, sekaligus Yogyakarta, sebagai tempat ia berkarya seni, menjadi perpaduan yang menarik untuk dijadikan sebuah pameran karya lukis.

Melalui pameran lukis bertajuk “Pameran Grafis Lintas Batas Jogja-Palembang (1990-2026)” yang berlangsung di Museum dan Tanah Liat (MDTL), Tirtonirmolo, Kasihan, Bantul, yang berlangsung pada 10-19 Maret 2026, Pahlevi bercerita tentang perjalanan hidupnya selama di Palembang maupun Jogja, serta tempat-tempat lainnya yang pernah ia kunjungi, seperti di Jepang, dan sebagainya.

Berikut adalah sejumlah karya lukisan Pahlevi, yang terangkum sempurna di Museum dan Tanah Liat (MDTL), Tirtonirmolo, Kasihan, Bantul. (Foto: Azka Qintory)

 

Sanggar sastra Regas mengawali pertemuan perdana di tahun 2026 dengan semangat baru, untuk bisa memajukan dunia sastra, khususnya di wilayah Kulon Progo, menjadi lebih maju dan semarak dibanding tahun-tahun sebelumnya.

Semangat baru Regas tersebut diwujudkan dalam pemilihan pengurus baru, yang akan bertugas di sepanjang tahun 2026 ini. Salah satunya adalah pemilihan Ketua Sanggar, yang langsung dilantik saat itu juga.

Berikut adalah momen-momen keseruan Sanggar Sastra Regas saat melakukan pergantian kepengurusan, yang berlangsung di sekretariat Sanggar Sastra Regas, yang berlokasi di Sogan, Wates, Kulon Progo, Sabtu (7/3/2026). (Foto: istimewa)

 

KULON PROGO – Sanggar sastra Regas mengawali pertemuan perdana di tahun 2026 dengan semangat baru, untuk bisa memajukan dunia sastra, khususnya di wilayah Kulon Progo, menjadi lebih maju dan semarak dibanding tahun-tahun sebelumnya.

Semangat baru Regas tersebut diwujudkan dalam pemilihan pengurus baru, yang akan bertugas di sepanjang tahun 2026 ini. Salah satunya adalah pemilihan Ketua Sanggar, yang langsung dilantik saat itu juga.

Kegiatan pemilihan sekaligus pelantikan ketua sanggar tersebut dilaksanakan pada Sabtu (7/3/2026), bertempat di Sanggar Sastra Regas, Sogan, Wates, Kulon Progo.

Adapun agenda utama dalam pertemuan ini adalah pemilihan ketua sanggar baru, yang dilakukan secara musyawarah oleh para pengurus yang telah lolos proses seleksi.

Dalam proses tersebut, diputuskan bahwa Ahmad Hibban Aunur Rahman terpilih sebagai ketua baru Sanggar Sastra Regas periode 2026, menggantikan kepemimpinan sebelumnya yang diemban oleh Tri Wahyuni.

Selain pemilihan ketua, kegiatan ini juga menjadi ajang pertemuan perdana para pengurus baru yang telah dinyatakan lolos seleksi.

Pertemuan ini juga sekaligus menjadi ajang silaturahmi pengurus baru, untuk membangun kekompakan, semangat baru, serta menumbuhkan komitmen bersama dalam mengembangkan kegiatan literasi dan sastra di lingkungan Sanggar Sastra Regas, serta Kulon Progo dan DIY secara umum.

Acara kemudian dilanjutkan dengan prosesi pelantikan pengurus baru secara langsung di lokasi yang sama. Prosesi pelantikan didampingi langsung oleh pembimbing Sanggar Sastra Regas, Tedi Kusyairi, yang juga memberikan arahan serta motivasi kepada para pengurus baru, agar dapat menjalankan amanah dengan penuh tanggung jawab dan semangat dalam berkarya.

Sebagai penutup, kegiatan dilanjutkan dengan buka bersama, yang berlangsung dalam suasana hangat dan kekeluargaan. Momen ini juga menjadi kesempatan bagi seluruh pengurus untuk semakin mempererat kebersamaan, serta meneguhkan semangat untuk terus menghidupkan ruang-ruang sastra di tengah-tengah masyarakat.

Melalui pertemuan perdana ini, diharapkan kepengurusan baru Sanggar Sastra Regas mampu membawa energi baru, memperkuat kegiatan literasi, serta terus menghadirkan karya-karya sastra yang memberi inspirasi bagi masyarakat, khususnya di Kulon Progo. (zk)

YOGYAKARTA – Kegaduhan politik yang terjadi belakangan ini, khususnya sejak kehadiran program Makan Bergizi Gratis (MBG), rupanya telah memantik rasa penasaran sejumlah pihak, terkait bagaimana nasib bangsa Indonesia ke depannya.

Terlebih ketika pemerintahan saat ini terlalu memaksakan diri untuk mengaplikasikan programnya ke seluruh pelosok negeri, meskipun kenyataannya banyak terjadi kecacatan disana-sana, seperti misalnya keracunan (terkait makanan MBG), dan sebagainya.

Dalam Dialog Kebangsaan bertema “Keadilan yang dirindukan, Pilar Peradaban yang Hilang” yang berlangsung di Plaza Masjid Jogokariyan, Jumat (27/2/2026), Guru Besar Hukum Tata Negara, Mahfud MD, yang turut hadir sebagai pembicara dalam dialog tersebut, menyatakan bahwa dinamika politik saat ini memang sudah berlangsung secara transaksional, sehingga sulit untuk menghindarinya, apalagi mampu mengubahnya.

“Marilah kesadaran itu (untuk menjadi lebih baik) dimulai dari diri kita sendiri, sehingga nantinya akan muncul kesadaran secara kolektif. Karena memang harus diakui bahwa politik kita hari ini sudah bersifat transaksional, jadi sangat sulit untuk dihindari,” ucap Mahfud MD di Plaza Masjid Jogokariyan, Jumat (27/2/2026).

Mahfud MD menambahkan, dalam situasi seperti ini, masyarakat semestinya bisa lebih bersatu dan mengumpulkan kekuatan bersama, untuk benar-benar bisa menggulingkan kekuasaan pemerintah hari ini, agar kesewenang-wenangan itu tidak semakin memburuk di kemudian hari.

“Perubahan mendasar di negeri ini maupun di seluruh dunia, itu selalu diawali dari operasi caesar, yakni ketika rakyat sudah tidak berdaya, dan penguasa sudah terlalu sewenang-wenang, gerakan itu lantas muncul sendiri, dan pemerintah pun bisa dijatuhkan,” tambah Mahfud MD.

Mahfud pun meminta masyarakat untuk terus berjuang sesuai jalannya masing-masing, agar mampu menciptakan peradaban manusia yang lebih baik, dan tidak sepenuhnya bergantung kepada penguasa. Apalagi jika penguasa hari ini justru bersikap sewenang-wenang kepada rakyatnya. (zk)

YOGYAKARTA – Polemik ketidakadilan yang melanda bangsa Indonesia, khususnya sejak tahun-tahun terakhir kepemimpinan presiden Jokowi, telah memantik diskusi dari berbagai pihak dan juga sudut pandang, untuk dapat membedah sejauh mana ketidakadilan bisa menjadi “api” yang dapat memecah suatu bangsa. Namun di saat yang sama juga bisa menjadi semangat yang menyatukan seluruh elemen bangsa, ketika mampu bersatu melawan ketidakadilan tersebut.

Dalam Dialog Kebangsaan bertema “Keadilan yang dirindukan, Pilar Peradaban yang Hilang” yang berlangsung di Plaza Masjid Jogokariyan, Jumat (27/2/2026), Guru Besar Hukum Tata Negara, Mahfud MD, yang turut hadir sebagai pembicara dalam dialog tersebut, menyatakan bahwa ketidakadilan adalah sumber utama yang mampu memecah belah bangsa, apalagi jika ketidakadilan itu dilakukan oleh penguasa, atau pemerintah itu sendiri.

“Sejak jauh sebelum zaman Nabi, terbukti bahwa kehancuran bangsa-bangsa itu tejadi karena ketidakadilan. Sesudah nabi sampai sekarang pun, seperti Majapahit, Singosari, dan Mataram, semuanya hancur karena ketidakadilan,” ucap Mahfud MD, Jumat (27/2/2026).

Lebih lanjut, Mahfud MD mengatakan, keadilan di zaman sekarang itu memang semakin sulit didapatkan, namun tugas manusia lah untuk terus mencarinya tanpa henti.

“Mari kita perjuangkan keadilan tanpa kenal henti. Kalau masih belum ketemu juga, cari teru. Karena manusia itu hidup terus bergantian, berkembang, dan seterusnya,” tambah Mahfud.

Menurut Mahfud, selama peradaban manusia masih ada, selama itu pula akan ada ketidakadilan, dan selama itu pula keadilan harus terus diperjuangkan. (zk)

Mahasiswa KKN PKM-SK Universitas PGRI Yogyakarta (UPY) kelompok 10 baru saja menyelesaikan program Kuliah Kerja Nyata (KKN) di Padukuhan Cungkuk, Kelurahan Ngestiharjo, Kapanewon Kasihan, Bantul.

Banyak momen berkesan yang ditinggalkan oleh para mahasiswa KKN UPY kepada masyarakat setempat, khususnya kepada Kelompok Wanita Tani (KWT) Kenanga.

Berikut adalah beberapa dokumentasi perjalanan mahasiswa KKN UPY, saat melakukan pengabdian di wilayah padukuhan Cungkuk. (Foto: istimewa)

 

BANTUL – Kualitas pengabdian masyarakat dari mahasiswa tidak harus diukur dari durasi waktu pelaksanaan, namun lebih menitikberatkan pada dampak dan makna yang mampu ditinggalkan (warisan).

Pengalaman inilah yang dirasakan mahasiswa KKN PKM-SK Universitas PGRI Yogyakarta Kelompok 10, selama menjalankan program pengabdian di Padukuhan Cungkuk, Kelurahan Ngestiharjo, Kapanewon Kasihan, Bantul.

Meskipun KKN ini hanya berlangsung selama tiga minggu, dan dilakukan selama masa transisi perkuliahan semester lima menuju ke semester enam, kehadiran mahasiswa di wilayah tersebut mampu memberikan energi baru bagi masyarakat setempat, khususnya Kelompok Wanita Tani (KWT) Kenanga.

Secara umum, program pengabdian difokuskan pada upaya menjawab kebutuhan nyata yang dihadapi KWT Kenanga. Terutama dalam pengelolaan administrasi kelompok, dan pengembangan pemasaran berbasis digital.

Melalui workshop yang berlangsung selama dua hari, mahasiswa mendampingi anggota KWT dalam membuat serta mengelola akun media sosial seperti Instagram dan Facebook, sekaligus memperkenalkan penggunaan marketplace Shopee, sebagai sarana memperluas pemasaran produk lokal.

Pendampingan ini menjadi relevan bagi para anggota KWT Kenanga, untuk dapat merespon perubahan perilaku konsumen di zaman sekarang, yang saat ini lebih memilih bertransaksi secara digital.

Selain penguatan di bidang pemasaran, mahasiswa juga memberikan pelatihan perhitungan Harga Pokok Penjualan (HPP). Materi ini membantu anggota kelompok menentukan harga jual secara lebih rasional dan berkelanjutan, terutama ketika harga bahan baku kerap mengalami perubahan. Bagi sebagian anggota KWT, keterampilan tersebut menjadi bekal penting untuk menjaga stabilitas usaha rumahan yang mereka jalankan sehari-hari.

Kegiatan pengabdian ini tidak terbatas pada pelatihan formal semata. Para mahasiswa KKN juga ikut berpartisipasi dalam aktivitas keseharian kelompok masyarakat setempat. Mulai dari proses produksi sambal pecel dan brambang goreng, penataan administrasi, hingga membantu mengaktifkan kembali lahan KWT, yang sebelumnya sempat tidak terkelola dengan baik. Interaksi yang berlangsung setiap hari perlahan membangun kedekatan emosional antara mahasiswa dengan warga di Padukuhan Cungkuk.

Perpisahan yang Mengharukan

Rangkaian kegiatan pun ditutup dengan senam bersama dan pembagian doorprize pada pekan terakhir. Suasana kebersamaan yang awalnya penuh keceriaan, lantas berubah menjadi penuh haru dan kesedihan, ketika momen perpisahan tiba.

Sejumlah anggota KWT tampak menitikkan air mata, saat menyampaikan rasa terima kasih atas kebersamaan yang terjalin selama program berlangsung.

Sebagai bentuk apresiasi, warga secara spontan menyanyikan lagu perpisahan yang menciptakan suasana emosional bagi semua orang yang hadir. Bagi mahasiswa, pengalaman tersebut menjadi pengingat, bahwa pengabdian masyarakat tidak sekadar pelaksanaan program kerja, tetapi juga tentang relasi kemanusiaan, yang tumbuh melalui kebersamaan dan kepedulian.

Salah satu anggota KWT mengungkapkan, kehadiran mahasiswa KKN UPY mampu membawa semangat baru bagi kelompok mereka. Meski singkat, kebersamaan yang terjalin tetap terasa seperti hubungan keluarga.

KKN sebagai Ruang Belajar Sosial

Pengalaman di Padukuhan Cungkuk menunjukkan bahwa Kuliah Kerja Nyata (KKN) bukan hanya kewajiban akademik atau pemenuhan beban studi, melainkan ruang pembelajaran sosial yang mempertemukan mahasiswa dengan realitas kehidupan masyarakat secara langsung.

Di lapangan, mahasiswa menyadari bahwa berbagai tantangan ekonomi masyarakat sering kali bukan disebabkan oleh kurangnya kemauan, melainkan keterbatasan akses informasi, pendampingan, dan rasa percaya diri dalam menghadapi perubahan zaman.

Pendampingan sederhana, seperti membantu pengelolaan administrasi atau mengenalkan pemasaran digital, dapat menjadi langkah awal menuju kemandirian kelompok masyarakat. Di sisi lain, mahasiswa juga memperoleh pelajaran berharga tentang nilai gotong royong, kesederhanaan, serta ketangguhan masyarakat desa dalam menghadapi keterbatasan.

Jejak pengabdian mungkin tidak terlihat besar secara kasat mata,. Namun, semangat baru yang tumbuh bersama KWT Kenanga, yang kini kembali aktif dan produktif, menjadi bukti bahwa perubahan sosial sering kali berawal dari langkah kecil, yang dilakukan secara kolektif dan konsisten.

Pada akhirnya, KKN tidak hanya berbicara tentang kontribusi mahasiswa kepada masyarakat, tetapi juga tentang pembelajaran yang diterima mahasiswa dari masyarakat. Diantaranya empati, kebersamaan, dan kepedulian. Ketiganya merupakan fondasi utama dalam membangun perubahan yang berkelanjutan sekaligus konsisten. (zk)