YOGYAKARTA – Saat menjalani ibadah puasa Ramadhan, kondisi tubuh yang biasanya menggunakan glukosa sebagai sumber tenaga dalam menjalani aktivitas, kemudian beralih menjadi membakar cadangan lemak dan protein untuk energi. Akibatnya, setelah berbuka tubuh pun membutuhkan berbagai jenis nutrisi agar tetap sehat dan bugar.

Kebutuhan nutrisi tersebut dapat dipenuhi dalam menu sahur yang lebih sehat dan lengkap, yakni dengan mengkonsumsi asupan pelengkap, seperti vitamin C, susu, dan madu. Tentu tidak lupa asupan nutrisi standar, seperti karbohidrat dan protein dalam takaran proporsional.

Selain mengkonsumsi asupan nutrisi lengkap, Anda juga dapat mengkonsumsi Zymuno, madu herbal yang mengandung kombinasi madu, temulawak, meniran, temu putih, dan daun kelor, berguna memenuhi kebutuhan nutrisi sekaligus memelihara kondisi kesehatan selama tubuh menjalani ibadah puasa.

Zymuno mengandung kandungan bahan alami seperti madu, temulawak, meniran, temu putih, dan daun kelor. Seluruh bahan alami tadi dikemas sesuai standar kesehatan modern sehingga lebih mudah diterima oleh generasi milenial dan generasi Z. Karena bagi mereka, selain aman dikonsumsi, produk tersebut harus memiliki kemasan yang baik serta mudah dipahami.

Gaya Hidup Mindful Eating Ala Gen Z

Gaya hidup sehat mindful eating belakangan merebak di kalangan Milenial dan Gen Z. Generasi Z tidak ingin sekadar mengunyah makanan, melainkan benar-benar menikmati, serta merasakan pengalaman makan secara menyeluruh. Selain itu, Gen Z juga ikut memperhatikan rasa, tekstur, aroma, dan bagaimana makanan tersebut mempengaruhi tubuh secara fisik dan emosional.

Gaya hidup mindful menuntut konsumen untuk lebih kritis. Mereka tidak lagi mudah tergiur oleh janji instan, melainkan lebih menghargai proses dan kejujuran informasi produk. Fenomena ini disambut baik sebagai sebuah langkah maju dalam literasi kesehatan masyarakat.

Populasi Generasi Z yang lahir antara tahun 1997 hingga 2012 saat ini mencapai jumlah sekitar 74,93 juta jiwa, atau sekitar 27,94%. Andaikata setengah dari populasi yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS) itu bisa diasumsikan tergolong sebagai Gen Z yang serius menjalani mindful eating, maka jumlahnya akan menjadi 37 juta jiwa.  Angka sebesar itu merupakan modal sosial yang sangat baik terhadap potensi kemajuan dan perubahan di masa depan.

Brand Manager Zymuno, Sendhi Dhania mencermati tren fenomenal di kalangan Gen Z sebagai perkembangan yang sangat positif. Menurutnya, Zymuno dapat ikut mengambil peran dalam membangun budaya mindful consumption. Mengingat, mindful eating tidak hanya berbicara soal memilih makanan, tetapi juga memahami manfaat dan dampak dari setiap asupan ke dalam tubuh.

Menurut Sendhi, yang paling diutamakan dalam mindful eating adalah membangun kepercayaan (trust). “Konsumen perlu merasa aman bahwa apa yang tertulis di label kemasan bukan sekadar strategi pemasaran. Di sinilah peran regulasi nasional menjadi filter utama keamanan pangan,” terang Sendhi.

​PT Etos Kreatif Indonesia (Ethos) juga menyadari bahwa transparansi informasi menjadi modal utama dalam membangun kepercayaan masyarakat. Dalam memasarkan produk misalnya, dalam hal ini Madu Herbal Zymuno dan susu kambing Etawaku Platinum, keduanya telah melewati proses evaluasi dan verifikasi yang ketat dari badan regulasi pangan nasional.

​”Setiap produk telah melalui pengujian, peninjauan, serta penilaian sesuai ketentuan BPOM sebelum mendapatkan izin edar resmi. Ini untuk memastikan bahwa setiap tetes nutrisi yang dikonsumsi masyarakat telah memenuhi standar keamanan pangan yang berlaku di Indonesia,” tegas Sendhi Dhania.

PT Etos Kreatif Indonesia (Ethos) selalu mengikuti standar BPOM hingga memiliki sertifikasi Halal Indonesia. Sehingga Diseminasi informasi yang diterima konsumen pun menjadi lebih terukur dan dapat dipertanggungjawabkan.

Formula Khusus untuk Pencegahan Kanker

Madu Herbal Zymuno merupakan produk madu yang diformulasikan khusus untuk membantu mengatasi penyakit tertentu, karena Zymuno adalah produk herbal yang bersifat imunoterapi, anti-inflamasi serta anti-tumor.

Zymuno mengandung sedikitnya lima bahan alami berkualitas tinggi, seperti madu asli, daun meniran, daun kelor, temulawak, dan kunyit. Madu mengandung zat anti tumor, meliputi  flavonoid, asam fenolat, asam amino, protein, dan enzim yang berkhasiat sebagai antiinflamasi.

Daun meniran merupakan sumber antioksidan yang berkhasiat meningkatkan fungsi vitamin dan mineral yang mendukung daya tahan tubuh dan mencegah terjadinya infeksi. Daun kelor kaya akan antioksidan, vitamin, asam amino esensial, dan garam mineral yang bermanfaat untuk melawan radikal bebas di dalam tubuh.

Sementara Temulawak kaya akan kurkumin dan xanthorrhizol yang berkhasiat mengurangi peradangan, pembengkakan dan benjolan. Sedangkan kunyit putih mengandung senyawa aktif zingiberen dan antioksidan tinggi yang bermanfaat untuk mencegah kanker, meredakan sakit saat menstruasi, dan menstabilkan hormon. (R. Toto Sugiharto)

YOGYAKARTA – Gaya hidup rendah gula atau populer disebut low sugar lifestyle menjadi tren terbaru untuk tahun 2026. Gaya hidup ini muncul seiring meningkatnya pemahaman masyarakat terhadap kesehatan. Masyarakat mulai sadar bahwa konsumsi gula berlebih merupakan pemicu utama berbagai masalah kesehatan, mulai dari penurunan stamina secara drastis (sugar crash) hingga resiko penyakit metabolik jangka panjang.

Di sisi lain, usia produktif juga membutuhkan asupan energi dengan kandungan protein dan kalsium tinggi. Artinya, seperti yang tercantum dalam data Badan Pusat Statistik (BPS), hingga 2025 lalu jumlah usia produktif mencapai 193,3 juta jiwa, yakni berusia 15-64 tahun. Merekalah yang memerlukan asupan protein dan kalsium tinggi. Namun persoalannya, bagaimana mereka mendapatkan nutrisi maksimal dari susu tanpa harus khawatir dengan asupan gula tambahan?

Ada beberapa solusi yang bisa ditawarkan, pertama, perlu ada inovasi dalam memproduksi dan memformulasi pangan. Kedua, transparansi informasi terkait klaim manfaat kesehatan pada bahan pangan dengan kandungan gulanya. Dan ketiga, jaminan validitas informasi dan terverifikasi oleh negara untuk menjamin keamanan pangan.

Oleh karena itu, PT Etos Kreatif Indonesia (Ethos) melakukan “jemput bola” dengan inovasi less sugar (rendah gula) melalui bahan nutrisi susu kambing. Konsentrasi kajian yang didasari pola konsumsi susu kambing secara rutin membantu menjaga energi tubuh tetap stabil sepanjang hari. Mengingat susu kambing memiliki kandungan gula rendah.

Devi Eliya Brand Manager Etawaku Platinum menjelaskan, selain masalah kandungan gula, transparansi informasi menjadi hal yang sangat krusial di masa kini. Banyak produk di pasar yang menawarkan klaim manfaat kesehatan yang terkadang berlebihan, atau bahkan tidak memiliki dasar ilmiah yang kuat. Oleh karena itu, sebagai konsumen yang cerdas, kita perlu memastikan bahwa apa yang tercantum dalam kemasan adalah informasi yang valid dan telah terverifikasi oleh negara. Langkah verifikasi dari badan regulasi pangan nasional (BPOM) sangat penting untuk menjamin keamanan pangan.

“Dengan pengawasan ketat oleh negara, setiap informasi yang diterima konsumen bisa lebih terukur dan dapat dipertanggungjawabkan. Artinya, ketika produk tersebut mengklaim mendukung kesehatan tulang atau stamina, hal itu sudah didasarkan pada standar keamanan pangan yang berlaku di Indonesia,” urai Devi.

Ciptakan Daya Tahan Tubuh yang Sesuai Standar Kesehatan

​Tahun 2026 menjadi tantangan bagaimana menciptakan daya tahan tubuh yang dibangun dari bahan pangan. Khususnya bagaimana kita mampu menjaga keseimbangan antara pemilihan bahan yang tepat, dan kepatuhan terhadap standar kesehatan. Dalam hal ini, konsumen memiliki kemampuan untuk memilih produk yang tidak hanya mendukung aktivitas harian, melainkan juga melindungi kesehatan secara jangka panjang.

​Selain itu, industri kesehatan di Indonesia juga dituntut lebih berani untuk terbuka dalam proses verifikasi BPOM sampai periode merilis varian rendah gula, salah satunya yang telah dibuktikan oleh Etawaku Platinum. Produk inovasi ini bukan sekadar produk susu biasa, melainkan mitra bagi masyarakat urban untuk mencapai gaya hidup yang lebih berkualitas.

​“Pilihan pada asupan yang sudah terverifikasi secara resmi dan sesuai dengan kebutuhan gizi modern akan lebih memudahkan kita menciptakan masyarakat yang lebih tangguh dan sehat. Stamina yang terjaga bukan lagi tentang seberapa banyak kita makan, melainkan seberapa cerdas kita memilih apa yang masuk ke dalam tubuh kita untuk tetap kuat beraktivitas setiap hari,” tandas Devi.

Sebagai tambahan, dr Anurogo, M Sc, Ph D dalam artikelnya yang berjudul “Keajaiban dan Manfaat Susu Kambing bagi Kesehatan” yang diunggah di kemkes.go.id mengilustrasikan bahwa susu kambing adalah susu yang kaya nutrisi dan bioaktif, mudah dicerna dan rendah alergi, mendukung imun dan antiflamasi, prebiotik alami menjaga usus, fermentasi membantu anemia dan oksidasi, dan potensial untuk produk kesehatan modern.

Menurut dr Anurogo, susu kambing Etawaku Platinum ini dapat dikonsumsi mulai dari bayi berumur enam bulan hingga lanjut usia. Dari masing-masing generasi usia tersebut, semua unsur sudah terpenuhi. Mulai dari usia 6 hingga 12 bulan misalnya, susu kambing Etawaku Platinum memiliki oligosakarida dan profil lemak yang mendekati ASI. Efek positifnya membantu pembentukan sistem imun yang matang, menurunkan resiko alergi, dan mendukung pertumbuhan bayi yang tidak mendapat ASI eksklusif.

Sementara pada golongan usia kanak-kanak, susu kambing Etawaku Platinum memiliki kandungan protein berkualitas tinggi, kalsium, dan zinc yang mendukung pertumbuhan tulang, gigi, dan jaringan. Zinc berperan penting dalam sintesis enzim, perkembangan kognitif, dan daya tahan tubuh. Sedangkan pada usia remaja dan dewasa, kandungan peptida bioaktif dari kasein dalam susu kambing Etawaku Platinum berperan sebagai penghambat ACE (Angiotensin-Converting Enzyme), serta menurunkan tekanan darah secara alami.

Selain itu, kandungan Medium Chain Triglycerides (MCT) juga membantu pengaturan berat badan dengan meningkatkan pembakaran energi. Kombinasi nutrisi ini mendukung metabolisme optimal dan mencegah hipertensi serta obesitas.

Untuk kalangan lansia, susu kambing Etawaku Platinum berkhasiat mencegah demensia dan gangguan neurodegeneratif pada populasi lanjut usia. Kandungan rasio kalsium-fosfor yang seimbang mampu memperkuat kepadatan tulang dan mencegah osteoporosis. Kandungan magnesium, triptofan, dan selenium juga mendukung fungsi saraf dan melindungi neuron. (R. Toto Sugiharto)

BANTUL – Keraton Yogyakarta baru saja menyelesaikan prosesi labuhan dalem, yang merupakan rangkaian dari tradisi tingalan jumenengan dalem menyambut Dal 1959 tanggal 29 Rejeb (penanggalan Jawa) yang berlangsung di Pantai Parangkusumo, Kapanewon Kretek, Bantul pada Senin (19/1/2026).

Ritual labuhan dalem adalah upacara yang dilakukan pihak Keraton Yogyakarta, yakni dengan membuang ubo rampe ke laut Samudera Hindia, atau lokasi Pantai Parangkusumo. Ritual ini merupakan ungkapan rasa syukur Sultan atas satu tahun yang telah dijalani, sekaligus pengharapan untuk kehidupan yang lebih makmur dan sejahtera, baik bagi Sultan, pihak Keraton, maupun masyarakat Jogja secara umum.

Rangkaian ritual diawali dari ubo rampe atau sesaji yang dibawa dari Bangsal Sri Manganti ke Kantor Kapanewon Kretek. Sesaji ini diterima langsung oleh Bupati Bantul, Abdul Halim Muslih.

Kemudian ubo rampe tersebut diserahterimakan kepada juru kunci Cepuri Parangkusumo, yang menjadi simbol dimulainya prosesi ritual Proses Labuhan Dalem.

Selanjutnya, ubo rampe dibawa dan dikirab menuju ke kawasan Pantai Parangkusumo, untuk dilepaskan ke bibir pantai Parangkusumo.

Masyarakat dari berbagai kalangan pun antusias menyaksikan jalannya ritual labuhan sejak awal hingga akhir.

Selain sebagai simbol pengharapan untuk kehidupan yang lebih baik, ritual labuhan dalem juga berfungsi sebagai bahan introspeksi diri, serta menjaga keseimbangan antara manusia dengan alam semesta. (zk)

SLEMAN – Polda DIY menerima kunjungan edukatif dari anak-anak TK Budi Mulia 1 pada Senin (19/1/2026). Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya Polda DIY dalam mengenalkan tugas kepolisian sejak usia dini, khususnya di bidang lalu lintas dan pembinaan masyarakat.

Kedatangan rombongan anak-anak TK tersebut disambut langsung oleh Kapolda DIY Irjen Pol. Anggoro Sukartono, S.I.K., didampingi Wakapolda DIY Brigjen Pol. Eddy Djunaedi, S.I.K., serta Direktur Lalu Lintas Polda DIY Kombes Pol. Arie Prasetya Syafa’at, S.I.K., M.H. Anak-anak tiba di Mapolda DIY dengan penuh antusiasme dan semangat untuk berinteraksi langsung dengan anggota kepolisian serta melihat berbagai kendaraan dinas.

Dalam kunjungan tersebut, personel Ditlantas dan Ditbinmas Polda DIY memberikan edukasi ringan dan menyenangkan terkait keselamatan berlalu lintas. Anak-anak diperkenalkan dengan berbagai rambu lalu lintas, fungsi helm, serta tata cara berkendara dan menyeberang jalan yang baik dan benar. Kegiatan berlangsung interaktif melalui sesi tanya jawab yang dipandu oleh guru pendamping.

Kabidhumas Polda DIY Kombes Pol. Ihsan, S.I.K., menyampaikan bahwa kegiatan ini bertujuan untuk menanamkan pemahaman tertib berlalu lintas sekaligus membangun kedekatan emosional antara polisi dan anak-anak.

“Melalui kegiatan edukatif seperti ini, kami ingin memperkenalkan sosok polisi sebagai sahabat masyarakat, khususnya bagi anak-anak, sehingga tidak lagi muncul kesan bahwa polisi adalah figur yang menakutkan,” ujarnya.

Ia menambahkan, edukasi sejak dini diharapkan dapat membentuk karakter anak agar lebih disiplin dan sadar akan pentingnya keselamatan berlalu lintas.

“Dengan pendekatan yang humanis dan menyenangkan, anak-anak dapat mengenal tugas kepolisian serta tumbuh rasa percaya dan kedekatan dengan Polri,” pungkas Kombes Pol. Ihsan. (zk)

SLEMAN – Sebagai bagian dari tradisi dan sejarah bangsa Indonesia, Tosan Aji sudah selayaknya mendapat tempat yang luhur bagi Pemerintah pusat, termasuk menjadikannya sebagai salah satu hari nasional.

Itulah yang disampaikan oleh Nurjianto, Ketua Panitia Rapat Kerja Agung Senapati Nusantara, yang berlangsung di Pendapa Krida Manunggal Budaya, Ngaglik, Sleman, Sabtu (17/1/2026).

Menurut Nurjianto, Tosan Aji memiliki nilai dan filosofi luhur yang penuh dengan makna mendalam, dan masih bisa menjadi pedoman hidup sampai hari ini.

“Masyarakat harus tahu bahwa Tosan Aji itu banyak mengandung nilai-nilai tuntunan dalam kehidupan, artinya memang budaya Tosan Aji ini betul-betul harus dilestarikan kepada generasi saat ini,” ucap Nurjianto saat ditemui di Pendapa Krida Manunggal, Sabtu (17/1/2026).

Atas upaya itulah, kata Nurjianto, rapat kerja agung yang diadakan oleh paguyuban Senapati Nusantara ini memiliki misi untuk memberikan rekomendasi kepada pemerintah, agar segera menetapkan hari keris nasional, sebagai salah satu cara untuk melestarikan warisan leluhur yang satu ini.

“Salah satunya adalah kami terus mengupayakan adanya Hari Keris Nasional, yang sampai saat ini masih belum ditandatangani oleh Presiden Prabowo Subianto,” tambah Nurjianto.

Selain rapat kerja agung, acara ini juga turut menampilkan beragam Tosan Aji yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia, seperti Palembang, Maluku, Lombok, Bali, NTT, dan sebagainya. Seluruh Tosan Aji tersebut dijual bebas kepada masyarakat yang hadir pada kesempatan tersebut. (zk)

YOGYAKARTA – Banyaknya peperangan terjadi di hampir seluruh dunia, baik itu di Afrika, Eropa, Amerika Latin, termasuk juga Asia dan Asia Tenggara, membuat dunia ini sedang dalam keadaan yang tidak baik-baik saja. Semua itu menjadi bukti terbentuknya zaman liberalisme secara modern, akibat keinginan untuk memperoleh kekuasaan, dan kepentingan terselubung lainnya.

Hal itu sebenarnya tidak jauh berbeda dengan apa yang pernah dialami oleh Pangeran Diponegoro ratusan tahun yang lalu, karena pada saat itu ia juga harus berjuang menghadapi kolonialisme Belanda, yang sedang menguasai wilayah Indonesia.

Perjuangan Diponegoro itu pun ditandai dengan Peringatan Haul ke-171 Pangeran Dipoenegoro yang diselenggarakan di Ndalem Pendopo Tegalrejo, Monumen Diponegoro Sasana Wiratama Yogyakarta, Kamis (8/1/2026).

Mengusung tema “Merajut Silaturrahmi Dalam Warisan Perjuangan”, Paguyuban Trah Pangeran Diponegoro (Patra Padi) selaku pelaksana kegiatan ini mengungkapkan bahwa momen haul ini menjadi wadah silaturrahmi yang tepat, untuk bisa merekatkan kembali tali persaudaraan antar generasi, keluarga, maupun komponen bangsa.

“Acara ini merupakan wadah yang sangat baik, untuk bisa menyerap dan mengaplikasikan kembali semangat juang dan perlawanan Pangeran Diponegoro terhadap segala bentuk kedzaliman, sekaligus mewariskan nilai-nilai keberanian dan pengorbanan demi martabat bangsa. Nilai-nilai inilah yang sangat kita butuhkan untuk menghadapi segala tantangan di zaman modern,” ucap Ketua Patra Padi Raden Syaiful Ahmad dalam sambutannya, Kamis (8/1/2026).

Menurut Syaiful Ahmad, semangat perjuangan inilah yang perlu menjadi teladan bagi para penerusnya, termasuk generasi muda saat ini, yang semakin tergerus oleh kecanggihan teknologi, dan tingkat individualisme yang semakin tinggi.

Senada dengan Ketua Patra Padi, Wakil Menteri Sosial RI, Agus Jabo Priyono. yang turut hadir dalam peringatan haul tersebut, mengatakan bahwa Indonesia butuh tokoh panutan seperti Pangeran Diponegoro, yang mampu merekatkan persatuan bangsa, di tengah masa penjajahan pada saat itu.

“Kita butuh panutan yang bisa diteladani di zaman modern saat ini, dan panutan tersebut ada pada sosok Diponegoro, agar bangsa ini bisa kembali punya jiwa dan semangat nasionalisme yang kuat, di tengah liberalisme yang kian menjadi-jadi,” ujar Agus pada kesempatan yang sama. (zk)

BANTUL – Kelingan Garden Cafe menjadi salah satu cafe baru di wilayah Bantul, yang berlokasi di pinggiran Sawah di kawasan Bejen, Bantul kota. Cafe ini resmi dibuka pada tanggal 1 Desember 2025 lalu.

Berawal dari keinginan para pelaku seni-budaya yang ada di Bantul untuk bisa memiliki panggung sendiri dalam berkarya, tanpa perlu menyewa tempat atau berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat yang lain, akhirnya Kelingan Garden Cafe hadir untuk menjawab itu semua. Cafe ini berfokus menyediakan tempat bagi komunitas seni-budaya untuk berkarya, sekaligus menjajakan beberapa kuliner khas cafe pada umumnya.

Salah satu founder Kelingan Garden Cafe, Tedi Kusyairi menyampaikan bahwa cafe ini memang khusus diperuntukan bagi pelaku seni-budaya untuk bisa konsisten berkarya, sehingga tidak perlu khawatir harus menyewa tempat, lobi berlapis-lapis, dan seterusnya.

“Memang sejak awal kami ingin menyediakan tempat yang representatif bagi komunitas seni-budaya khususnya yang ada di Bantul, untuk bisa terus berkarya tanpa harus sewa tempat dan sebagainya,” ujar Tedi yang ditemui dalam acara Selasa Sastra bertema “Harapan Baru Dalam Bersastra” di Kelingan Garden Cafe, Selasa (6/1/2026).

Beberapa menu yang ditawarkan Kelingan Garden Cafe pun cukup beragam, yang dibagi dalam tiga kategori. Diantaranya makanan berat seperti mie goreng, mie rebus, nasi goreng, dan seterusnya. Lalu makanan ringan atau snack seperti kentang goreng, nugget, dan semacamnya, serta minuman yakni kopi sebagai salah satu menu andalan, seperti red velvet, matcha, dan berbagai minuman lainnya. Kelingan Garden Cafe buka setiap harinya mulai pukul 11.00 hingga 21.30 WIB.

Selain cafe dan tempat untuk komunitas seni-budaya, Kelingan Cafe juga bisa digunakan untuk berbagai acara lain di luar seni-budaya, seperti seminar, diskusi publik, hingga yang sifatnya personal seperti perayaan ulang tahun dan juga pesta pernikahan.

Mengingat usianya yang baru satu bulan, Tedi pun merasa cafe ini masih perlu peningkatan dalam beberapa hal.

“Kami masih perlu menambahkan beberapa bangunan agar bisa memberikan kesan estetik sekaligus ciri khas untuk cafe ini, beberapa menu lain juga masih akan ditambahkan, dan tentu saja branding acara-acara yang diselenggarakan disini juga masih perlu diperbanyak lagi,” tambah Tedi.

Beberapa acara unggulan yang sudah rutin diselenggarakan di Kelingan Garden Cafe sejauh ini adalah Selasa Sastra setiap minggu pertama di awal bulan, serta Selasa Sinema di minggu kedua. (zk)

BANTUL – Perhelatan Selasa Sastra pada awal tahun 2026 yang berlangsung di Kelingan Garden Cafe, Bejen, Bantul, Selasa (6/1/2026) ditandai sebagai salah satu momen yang bersejarah bagi R. Toto Sugiharto, seorang Sastrawan sekaligus Penulis buku. Karena pada hari itu, ia resmi meluncurkan novel terbarunya berjudul “Owel”.

Novel ini pun dikupas tuntas dalam Selasa Sastra bertajuk “Harapan Besar Dalam Bersastra”, dengan menghadirkan R. Toto Sugiharto sendiri sebagai narasumber, ditemani oleh jurnalis Kukuh Setyono sebagai pembedah, serta Redaktur Senior Senerai Ide Bangsa, Mariska Puspita Ningrum.

R. Toto Sugiharto menyampaikan bahwa cerita novel Owel sebenarnya adalah salah satu hasil karya yang dilombakan pada tahun 2005 silam. Bahkan novel ini meraih prestasi gemilang yakni juara 3 dari total enam pemenang.

“Panitia saat itu hanya mencetak untuk karya novel yang mendapat juara satu, tapi akhirnya malah bubar juga,” kata Toto, Selasa (6/1/2026).

Suatu ketika Toto pun bertemu dengan penerbit Senarai Ide Bangsa, dan berinisiatif untuk menerbitkan naskah tersebut untuk pertama kalinya pada Desember 2025 lalu, alias 20 tahun sejak keikutsertaannya pada lomba yang diselenggarakan oleh Pemerintah kabupaten Bantul saat itu.

Toto bahkan merasa ikut bertanggungjawab, apabila naskah Owel ini kemudian tidak sampai diterbitkan dalam bentuk buku fisik. Apalagi jika mengingat kerja keras panitia lomba pada saat itu.

Novel Owel sendiri menceritakan tentang tokoh yang lahir dan besar di pesisir selatan Bantul. Di sana ia terus-menerus menghadapi konflik tentang proses pencarian jati diri, gejolak terhadap tradisi setempat, serta pengalaman spiritual yang mengakar kuat. Toto turut melakukan riset di lokasi dengan menyambangi pantai dari Pandansimo hingga Parangkusumo.

Sementara Jurnalis Kukuh Setyono menyampaikan bahwa novel Owel mampu meramalkan perkembangan teknologi informasi sekaligus pertumbuhan ekonomi baru yang terjadi di wilayah Kretek, Sanden, dan Srandakan. Sekalipun itu sudah ditulis 20 tahun yang lalu.

Selain itu, Kukuh menilai kisah novel Owel merupakan literasi yang sangat penting, karena telah mendokumentasikan wajah Bantul selatan medio tahun 2000-an silam.

Senada dengan Kukuh Setyono, Redaktur Senior Senerai Ide Bangsa, Mariska Puspita Ningrum menganggap bahwa buku ini masih sangat relevan bagi para Gen Z atau generasi muda, karena tokoh yang ditampilkan juga merupakan generasi muda yang sarat akan pencarian jati diri ke berbagai tempat yang bisa dikatakan tidak lazim.

Buku ini dapat diperoleh di beberapa marketplace terkemuka dengan harga Rp54.000,-. (zk)

BANTUL – Awal tahun 2026 Selasa Sastra kembali hadir menyapa seluruh pemirsa baik secara daring maupun luring. Bertempat di Kelingan Garden Cafe, Bejen, Bantul, Selasa (6/1/2026), Selasa Sastra kali ini bertema “Harapan Baru Dalam Bersastra”.

Selasa Sastra edisi kali ini menampilkan beberapa penampilan sastra menarik, mulai dari pembacaan puisi, lagu puisi, akustik, hingga monolog. Selain itu momen Selasa Sastra awal tahun ini juga menandai peluncuran buku novel karya R. Toto Sugiharto berjudul “Owel”.

Founder Selasa Sastra Tedi Kusyairi, menyampaikan bahwa keberadaan Selasa Sastra di awal tahun 2026 ini menjadi sangat penting, karena ini menjadi momen di mana kita mampu menghidupi sastra, dan sastra pun akan mampu menghidupi kita.

“Salah satu cara yang bisa dilakukan (untuk menghidupi Sastra) adalah dengan melakukan pementasan rutin, membuat karya kreatif, sering mengupload ke media sosial, serta berjejaring. Sehingga nantinya diharapkan akan muncul kolaborasi yang memungkinkan karya sastra untuk dikomersilkan,” ujar Tedi Kusyairi di Kelingan Garden Cafe, Selasa (6/1/2026).

Selain itu, menurut Tedi, dengan perkembangan dunia sastra yang saat ini masih minim peminat, maka penting bagi siapapun pelakunya, untuk bisa benar-benar mengemas pertunjukan sastra tersebut secara lebih menarik dan mendetail, sehingga diharapkan akan lebih sustainable dalam berkarya.

“Seperti tadi pementasan monolog yang dibawakan oleh Agung Syamsu. Itu sebenarnya sangat bisa dijual ke publik, seandainya bisa di-create dengan lebih detail. Termasuk juga tadi musik puisi, lagu puisi, dan sebagainya tadi, jika itu populer maka bisa dijual ke publik dan mendapat pemasukan seperti dari ticketing dan seterusnya,” tambah Tedi.

Event Selasa Sastra selanjutnya akan dilangsungkan pada Selasa (20/1/2026), masih di Kelingan Garden Cafe, Bejen, Bantul. (zk)

MAGELANG – Wilayah Gunung Merbabu memegang peran penting sebagai kawasan konservasi dan daerah pengumpul air yang mendukung kebutuhan air bersih masyarakat di sekitarnya. Namun, tekanan terhadap lingkungan serta penurunan tutupan vegetasi telah menjadi tantangan yang cukup signifikan dalam menjaga kelangsungan ekosistem dan sumber air di wilayah tersebut.

Sebagai bentuk perhatian terhadap lingkungan, PT Sampah dan Harapan Indonesia bekerja sama dengan Desbin HMTG dari Universitas Gadjah Mada (UGM), Instellar, dan instansi lainnya dalam rangka program Capital Catalyst Ecosystem oleh Goto mengadakan kegiatan penanaman pohon bernama “Ngrumat Merbabu” di Kawasan Konservasi Merbabu. Kegiatan tersebut berlangsung di tiga desa yaitu Kapuhan, Wolunggunung, dan Batur dengan total pohon yang ditanam mencapai 1.500 batang, Senin (22/12/2025).

Program ini dirancang sebagai upaya rehabilitasi lingkungan dan memperkuat fungsi Kawasan Konservasi Merbabu sebagai daerah pengumpul air. Penanaman pohon dilakukan secara bersama-sama, melibatkan berbagai pihak termasuk masyarakat setempat, sebagai bentuk pembagian tanggung jawab dalam menjaga alam. Acara diawali dengan pembukaan secara seremonial di Kopi & Teh Janissary, dilanjutkan dengan penanaman secara bersama di kawasan konservasi Merbabu.

“Salah satu fokus penanaman pohon di kawasan konservasi adalah sekitar sumber air, untuk meningkatkan kapasitas tanah menyerap air serta memastikan tersedianya air bersih secara terus-menerus bagi masyarakat setempat,” kata salah satu pengelola acara.

Fokus pada Konservasi Sumber Air

Penanaman pohon di Kawasan Konservasi Merbabu berfokus di Desa Batur, khususnya sekitar sumber air atau tuk yang telah digunakan oleh masyarakat setempat. Lokasi ini dipilih karena peran strategisnya dalam menyediakan air bersih bagi penduduk sekitar, sehingga perlu dipertahankan melalui perbaikan tutupan vegetasi.

Di Kawasan Konservasi Merbabu, sebanyak 650 batang pohon ditanam dengan spesies endemik seperti puspa, aren, dan beringin. Jenis pohon ini dipilih karena kemampuannya yang baik dalam menjaga stabilitas tanah serta mendukung fungsi penyerapan air.

Kerja Sama antara Mahasiswa dan Masyarakat

Acara “Ngrumat Merbabu” dihadiri oleh 35 volunteer yang terdiri dari mahasiswa geologi UGM dan beberapa warga setempat. Selain itu, perwakilan dari Taman Nasional Merbabu juga turut serta sebagai bentuk dukungan dalam upaya konservasi.

Keterlibatan berbagai pihak dalam kegiatan ini diharapkan mampu memupuk kesadaran kolektif pentingnya menjaga kawasan konservasi dan sumber daya air. Pihak penyelenggara percaya bahwa kolaborasi antara sektor usaha, akademisi, pemerintah, serta masyarakat setempat merupakan langkah penting dalam mencapai preservasi lingkungan secara berkelanjutan di wilayah Gunung Merbabu. (zk)