BANTUL – Imajinasi manusia bisa melahirkan banyak peluang baru. Salah satunya peluang menghasilkan karya sastra.

Mungkin itulah yang mengilhami Rizqi Nur Sholikha (Leha), seorang siswi di Madrasah Aliyah (MA) Pamulangan, Godean, Sleman, Yogyakarta, untuk dapat membuat antologi cerpen berjudul -20 Hz.

Dari judulnya saja, sudah bisa ditebak bahwa buku ini tampak bukan antologi cerpen biasa. Melainkan sebuah karya imajinatif yang merupakan hasil khayalan sang penulis, yang belum tentu bisa dipahami oleh orang awam.

“Munculnya kata “-20 Hz” itu kan dari Pak Eka sebenarnya (pembuat buku -20 Hz). Dan kata itu bermakna bahwa ‘orang lain nggak akan berpikiran seperti itu, kok dia (Leha) bisa (kepikiran)?’ Makanya dialah yang bisa mendengar perkataan samudra dengan senja, kemudian bintang dengan apa atau apa, yang orang lain tidak bisa dengar,” ungkap Endang Winarsih, guru Bahasa Indonesia di Madrasah Aliyah (MA) Pamulangan, guru yang ikut membimbing Leha dalam memproduksi antologi cerpen -20 Hz ini, dalam acara Selasa Sastra spesial hari Kartini bertajuk “Memburu Biru, Mengeja Senja”, sebagaimana dilansir dari kanal YouTube Bang Tedi Way, Selasa (21/4/2026).

Antologi ini sendiri bercerita tentang kisah romansa fiksi antara Samudra dan Senja. Senja digambarkan sebagai sosok yang memiliki hati yang lembut, sehingga mampu melindungi seluruh manusia yang ada di alam semesta ini.

“Rasenja Jingga (Senja) memiliki hati yang lembut, dia juga sosok yang melindungi kita di alam semesta ini. Kalau dia punya kekuasaan, dia sanggup melindungi kita dari sengatan panas matahari, dengan ketulusan hati yang dimilikinya. Dialah yang menjaga semua planet. Dia selalu melindungi kita di dalam orbit, akhirnya Samudra pun merasakan cinta yang luar biasa ke Rasenja Jingga,” sebut Leha, sang penulis buku antologi cerpen -20 Hz, pada kesempatan yang sama.

Sesi bedah buku -20 Hz ini merupakan salah satu rangkaian dar kegiatan Selasa Sastra edisi spesial Kartini bertajuk “Memburu Biru, Mengeja Senja”, yang berlangsung di Kelingan Garden & Cafe, Bejen, Bantul, Selasa (21/4/2026).

Selain bedah buku, ada pula pertunjukan sastra spesial dari para siswi MA Pamulangan, dan masih banyak lagi. (zk)

BANTUL – Dari seluruh fase kehidupan, bisa dibilang fase remaja adalah periode terindah yang pernah dialami oleh manusia. Sebab usia remaja (10-18 tahun) merupakan masa-masa di mana manusia sedang dalam pencarian jati diri, transisi menuju kedewasaan, mulai merasakan jatuh cinta, serta munculnya pertemanan yang solid.

Poin terakhir menjadi salah satu titik krusial, karena pertemanan yang solid akan mampu menghasilkan kreativitas-kreativitas baru, kegiatan menarik, maupun perbincangan terkait masa depan yang tiada habisnya.

Setidaknya itulah yang menjadi pemikiran dari sejumlah siswi di Madrasah Aliyah (MA) Pamulangan, Godean, Sleman.

Pertemanan yang solid di antara mereka telah mampu menghasilkan karya sastra, yang dapat menggambarkan realitas kehidupan pertemanan mereka sebagai pertemanan yang “berisik”.

Sampai akhirnya pertemanan mereka sanggup melahirkan sebuah antologi puisi berjudul Berbisik di Balik Bilik.

Dalam kegiatan Selasa Sastra spesial hari Kartini lalu yang bertajuk “Memburu Biru, Mengeja Senja” dan berlangsung di Kelingan Garden & Cafe, Bejen, Bantul, belum lama ini, para pembuat antologi puisi ini menceritakan lika-liku perjuangan mereka menghasilkan buku tersebut yang ditulis hanya dalam waktu dua bulan.

“Kami itu aslinya orang-orang yang berisik banget, suka nelponin Pak Eka (desainer cover buku dan pemberi ide judul Berbisik di Balik Bilik) buat VC (Video Call). Apalagi lokasi kelas kita juga di paling pojok, dan isinya perempuan semua,” ungkap Elisa Sevy Geanica, salah satu penulis antologi puisi ini.

Meskipun mereka adalah kumpulan orang-orang yang “berisik”, namun kata “berbisik” lebih dipilih untuk mewakili judul buku, lantaran berisiknya mereka adalah sesuatu yang hanya terjadi di kelas itu saja, dan tidak diketahui sama sekali oleh orang-orang di luar mereka.

Selain itu, kata “berisik” juga dianggap kurang etis jika digunakan sebagai terminologi sebuah judul buku. Namun ketika ditambah huruf ‘b’ (menjadi “berbisik”), makna yang terbangun menjadi lebih puitis, sekaligus mewakili suasana yang lebih intim.

Sementara penulis lainnya, Yanuwarin Waastuti, mengatakan, bahwa setelah ia menjalani proses penulisan puisi dalam buku ini, ia bisa merasakan kelegaan di dalam hatinya. Karena di situlah ia mampu menuangkan apa yang menjadi isi hatinya, sekaligus ungkapan kasih sayang terhadap orang-orang yang telah berjasa di dalam hidupnya.

“Iya, menulis puisi dalam buku ini bikin saya jadi banyak lega. Karena di sini saya mampu mengungkapkan perasaan saya kepada orang-orang yang berjasa di hidup saya, terutama keluarga. Jadi menulis puisi sangatlah membantu sekali,” ujar Yanuwarin Waastuti, pada kesempatan yang sama.

Sementara bagi Endang Winarsih, sebagai guru pembimbing mereka dalam berkarya, mengatakan bahwa anak-anak harus mampu menciptakan karya sastra maupun tulisan mereka sendiri, sehingga tidak perlu lagi menjadi “penonton” bagi karya sastra orang lain, baik sebagai referensi bacaan dan lain sebagainya.

“Jadi saya memang menuntut anak-anak untuk ‘ayo dong masa sih kalian cuman membaca karya orang terus?’ Ayolah, sekarang giliran karya kalian yang dibaca orang. Sehingga kalian yang akan jadi objeknya, bukan lagi cuma subjeknya saja’,” kata Endang Winarsih.

Sesi bedah buku antologi puisi berjudul Berbisik di Balik Bilik ini merupakan salah satu rangkaian dari kegiatan Selasa Sastra edisi spesial Kartini bertajuk “Memburu Biru, Mengeja Senja”, yang berlangsung di Kelingan Garden & Cafe, Bejen, Bantul, belum lama ini.

Selain bedah buku, ada pula pertunjukan sastra spesial dari para siswi MA Pamulangan, dan masih banyak lagi. (zk)

BANTUL– Perwujudan doa bisa datang dari mana saja. Salah satunya berasal dari karya sastra.

Salah satu siswi Madrasah Aliyah (MA) Pamulangan, Godean, Sleman, Frisca Nazula Pawestri, seperti terilhami untuk mengucapkan doa melalui buku cerpen yang ia tulis sendiri, dengan judul yang terkesan subjektif, namun sangat “gue banget”, yakni Frisca.

Cerpen berjudul Frisca adalah hasil kontemplasi panjang seorang Frisca Nazula Pawestri, terhadap sekelumit kisahnya di masa lalu, serta cita-citanya di masa depan, yang masih menjadi misteri bagi dirinya sendiri.

“Cerita di buku ini ada yang saya karang sendiri, dan ada sedikit cerita pribadi yang saya masukkan di dalam keseluruhan cerita,” ucap Frisca, dalam kegiatan Selasa Sastra spesial hari Kartini bertajuk “Memburu Biru, Mengeja Senja”, yang berlangsung di Kelingan Garden & Cafe, Bejen, Bantul, belum lama ini.

Frisca menambahkan bahwa dirinya sangat mendambakan menjadi orang sukses dan berguna bagi banyak orang, serta mampu mengenyam kuliah di perguruan tinggi ternama, meskipun berasal dari keluarga yang ekonominya kurang stabil.

“Ada satu cerita dunia perkuliahan, di situ saya karang, dengan harapan aku akan bisa seperti itu (sesuai yang dikarangnya sendiri). Itu jadi tentang pribadi saya, tapi ada yang aku sesuaikan sedikit. Dengan harapan aku bisa seperti itu di masa depan,” tambah Frisca.

Sementara bagi Endang Winarsih, guru pembimbing Frisca dalam proses penulisan cerpen ini, judul Frisca dianggap sangat menjual dan unik, sekaligus benar-benar mewakili “doa” maupun impian penulisnya sendiri, yang memang terbilang unik oleh orang-orang di lingkungan sekolahnya, termasuk bagi Endang sendiri.

“Mbak Frisca ini tipikalnya unik banget. Dia itu orangnya slowly but sure. Jadi santai tapi terarah, gitu. Jadi itulah kenapa saya meminta dia untuk membuat karangan sendiri. Kebetulan setelah saya baca naskah buku Frisca ini, isinya memang cukup ringan (mudah dimengerti oleh pembaca awam). Jadi menurut saya, Frisca ini sendiri memang sudah unik, termasuk namanya juga nggak ada satu pun di sekolah yang namanya sama dengan dia,” ujar Endang Winarsih, guru pembimbing Frisca dalam proses penulisan buku cerpen Frisca, pada kesempatan yang sama.

Meskipun sempat ingin menyerah dalam menyelesaikan “doa” ini, namun berkat dukungan dari pihak sekolah (MA Pamulangan) serta teman-teman di sekitarnya, Frisca akhirnya mampu menyelesaikan seluruh naskah di dalam buku ini, untuk kemudian “diaminkan” oleh para pembaca.

Selain sesi bedah buku, ada pula pertunjukan sastra spesial dari para siswi MA Pamulangan, dan masih banyak lagi. (zk)

SLEMAN – Jajaran kepolisian Daerah Istimewa Yogyakarta menggelar kegiatan pelepasan personel kepolisian, yang akan menunaikan ibadah haji tahun 1447 Hijriah. Kegiatan tersebut berlangsung di Gedung Anton Soedjarwo Polda DIY, Senin (20/4/2026).

Rangkaian acara diawali dengan pembacaan ayat suci Alquran, dilanjutkan dengan sesi pamitan calon jamaah haji, yang diwakili oleh Kapolresta Sleman yang baru, Kombes Pol Adhitya Panji Anom.

Selanjutnya Wakapolda DIY memberikan sambutan sekaligus doa dan harapan, bagi para personel yang akan berangkat menunaikan rukun Islam kelima tersebut. Selain itu, seluruh personel yang berjumlah 33 orang tersebut juga diberikan penyerahan surat izin, serta obat-obatan tertentu untuk mendukung kelancaran ibadah haji di Tanah Suci.

Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Polda DIY Kombes Pol Ihsan, S.I.K. berharap agar seluruh peserta haji dari jajaran kepolisian tahun ini dapat diberikan kelancaran dan kemudahan, selama menjalankan ibadah di Arab Saudi.

“Sebanyak 33 personel Polda DIY tahun ini berangkat sebagai calon jamaah haji. Kegiatan pelepasan ini merupakan bentuk perhatian dan dukungan institusi kepada personel yang akan menunaikan ibadah haji, sekaligus sebagai doa bersama agar seluruh rangkaian ibadah dapat berjalan lancar,” ujar Komisaris Besar Polisi Ihsan, S.I.K, Senin (20/4/2026).

Ia juga berharap agar seluruh personel yang berangkat dapat melaksanakan ibadah dengan khusyuk, serta kembali ke tanah air dalam keadaan sehat dan selamat.

“Kami berharap seluruh jamaah selalu diberikan kesehatan serta kemudahan dalam menjalankan ibadah, serta kembali ke tanah air dengan selamat dan menjadi haji yang mabrur,” tambahnya.

Pelaksanaan ibadah haji sendiri pada tahun 2026 atau 1447 Hijriah ini, akan dimulai pada 21 April untuk berkumpul di Asrama haji yang sudah ditentukan. Selanjutnya keberangkatan jamaah akan dimulai pada keesokan harinya (22 April) hingga 7 Mei.

Sementara puncak wukuf di Arafah diperkirakan akan terjadi pada 26 Mei. Sedangkan untuk pemulangan jamaah akan dimulai pada 1 Juni.

Meskipun diterpa situasi geopolitik di Timur Tengah dalam beberapa waktu terakhir, namun pemerintah Arab Saudi memastikan bahwa pelaksanaan ibadah haji tahun 2026 (1447 Hijriah) akan tetap berjalan sesuai jadwal yang telah ditentukan. (zk)

BANTUL – Bertempat di Kelingan Garden & Café Bejen Bantul, DPD KNPI Kabupaten Bantul melaksanakan kegiatan syawalan dan rapat koordinasi program kerja tahun 2026 hari Jumat (10/4/2026), dihadiri jajaran pengurus, Disdikpora Bantul, Majelis Pemuda Indonesia, dan alumni kepengurusan sebelumnya.

Agenda syawalan dihelat pada bulan ini mengingat masih masuk waktunya untuk silaturahim dan saling memaafkan pasca lebaran 1447 H. selanjutnya agenda berupa rapat koordinasi kegiatan yang akan dilaksanakan DPD KNPI Kabupaten Bantul.

Agenda terdiri dalam beberapa sesi, sesi pertama diisi oleh Ketua DPD KNPI Kabupaten Bantul, kawan Durori, dilanjutkan pengarahan dari Kabid Pora Disdikpora Kabupaten Bantul Titik Zunaidah, dan DPRD DIY Arni Tyas Palupi.

Durori menyampaikan bahwa sebagai organisasi kepemudaan maka KNPI harus memiliki rasa peka terhadap isu lingkungan dan sosial, ini bisa menjadi salah satu bagian program kegiatan yang dikerjakan pemuda.

“Sebagai contoh nanti akan kita lakukan simbolis penanaman pohon buah, untuk penghijauan, dimana kondisi alam yang mengalami pemnasan global, sehingga peran kita salah satunya bagaimana mengolah lahan menjadi lebih subur dan hijau,” kata Durori.

Selain memaparkan kegiatan pembinaan kepemudaan yang dilakukan oelh Disdikpora Kabuapten Bantul, Titik Zuanaidah juga menyampaikan bahwa kegiatan kepemudaan itu sangat penting, sebagai bentuk regenerasi kepemimpinan bangsa, maka apa yang dilakukan pemuda untuk menjaga lingkungan itu penting dan perlu di dukung.

“Menyoal isu lingkungan tadi, memang sangat tepat jika para pemuda melakukan aksi peduli lingkungan, selain tanam pohon, kita juga harus melihat mengenai kebersihan lingkungan, sampah merupakan problem sosial masyarkat, tidak hanya di sungai yang banyak sampahnya, tapi juga di kebun dan jalan, ini perlu kepedulian para pemuda,” kata Titik Zunaidah.

Kegiatan dilanjutkan dengan penyerahan tanaman ke perwakilan tamu undangan untuk ditanam di rumah, dilanjutkan simbolis penanaman pohon buah di lingkungan Kelingan Garden & Café. Usai itu dilanjutkan sesi diskusi menyoal kepemudaan dan program kerja dengan narasumber Ahmad Sudrajat, sekjen KNPI Bantul, Muhammad Farid Hadiyanto Ketua MPI (Majelis Pemuda Indonesia) Kabupaten Bantul, dan Arni Tyas Palupi DPRD DIY.

Sudrajat mengatakan bahwa dalam organisasi banyak dinamika antar pengurus dan anggota, sehingga kegiatan KNPI Bantul khususnya menghadapi beberapa kendala yang harus disiasati bersama.

“Periode kepengurusan ini mungkin kurang maksimal, bukan hanya karena suport system yang masih minim, namun memang banyak kendala antar pengurus dan anggota, salah satunya kurangnya kegiatan dan koordinasi, ini kedepan akan diperbaiki,” kata Sudrajat.

Lanjut Arni Tyas Palupi yang mengedepankan aspek regenerasi kepemudaan, dimana salah satu tujuan organisasi kepemudaan, OKP salah satunya, Organisasi Kemasyarakatan Pemuda memang menjadi wadah bagi regenerasi kepemimpinan di masyarakat.

“Harapannya dengan banyaknya kader pemimpin bangsa dari OKP-OKP yang berhimpun di KNPI, bisa membereikan alternatif pemimpin negeri yang lebih baik,” tegas Arni.

Sementara itu M. Farid Hadiyanto lebh menekankan pada tradisi, bahwa KNPI Bantul sampai waktu ini masih dipandang sebagai organisasi KNPI teladan di wilayah DIY, harapannya bisa dipertahankan dan ditingkatkan.

“KNPI Bantul kan masih jadi rujukan untuk KNPI di wilayah lain, karena tertib adminstrasi dan banyak kegiatannya, nah ini potensi positif, sebaiknya tidak hanya dipertahankan, tapi ditingkatkan,” ujar Farid. (TKS)

BANTUL – Dalam rangka memeriahkan malam Paskah, komunitas Orang Muda Katolik (OMK) Gereja Katolik St. Theresia Sedayu menggelar visualisasi dramatik Jalan Salib kisah sengsara Yesus Kristus. Visualisasi Tablo ini bertajuk “Hanya Ada Satu Cinta: Penebusan”, Jumat (3/4/2026) yang berlangsung di Taman Doa Maria Bunda, Gereja Jurang Metes.

Visualisasi ini melibatkan anggota OMK sebagai para pemeran yang menghadirkan kembali perjalanan Yesus menuju Bukit Golgota. Bukan hanya sekadar penampilan dramatik, tetapi juga sebagai bentuk doa bersama yang mengajak umat untuk masuk dalam suasana permenungan Jalan Salib.

Berikut adalah sejumlah keseruan yang tersaji dalam acara tersebut (Foto: istimewa)

 

 

Ada sebuah pemandangan yang selalu terulang, setiap kali Indonesia melaksanakan pesta demokrasi.

Banyak spanduk-spanduk berwarna-warni yang memenuhi jalan, lagu-lagu kampanye mengalun keras, dan para kandidat berlomba-lomba menampilkan wajah terbaik mereka demi mencari massa.

Namun disisi lain Sebagian warga memilih untuk tetap di rumah, menutup pintu, menjauh dari bilik suuara dan berkegiatan seperti hari-hari biasanya.

Orang-orang ini disebut dengan “golongan putih”, atau yang lebih dikenal dengan sebutan golput.

Pemilu serentak pada tahun 2024 lalu, mencatat angka partisipasai sekitar 81%, dari total pemilih yang terdaftar.

Angka tersebut mungkin terdengar cukup baik, bahkan bisa juga dianggap membanggakan, jika dibandingkan dengan beberapa demokrasi di negara lain.

Namun jika ditelaah lebih jauh, hal ini juga menandakan bahwa setidaknya satu dari lima warga negara memilih untuk tidak hadir, atau mungkin tetap hadir, namun tidak menggunakan hak suaranya dengan baik.

Jika ditinjau dari skala populasi di Indonesia, angka tersebut bukan hanya sekedar statistik. Itu adalah angka puluhan juta suara yang hilang begitu saja.

Pertanyaannya bukan sekedar “mengapa mereka tidak memilih?” Namun pertanyaan yang lebih penting adalah, apakah kita sebagai warga negara benar-benar menyadari, tentang apa yang kita lewatkan ketika memilih golput?

Konstitusi kita berbicara dengan jelas, yang terkandung pada pasal 22E UUD NRI 1945, yang menjamin bahwa pemilu diselenggarakan secara langsung, umum, bebas, rahasia, jujur, dan adil (luberjurdil).

Hak untuk memilih bukanlah hadiah dari penguasa, ia adalah hak konstitusional yang melekat pada setiap warga negara.

Namun, hak sebagaimana yang diajarkan dalam Pendidikan Kewarganegaraan, selalu berjalan dengan tanggung jawab yang mengiringinya. Hak memilih yang tidak digunakan bukan sekedar pilihan personal yang netral, namun juga memiliki sebuah konsekuensi kolektif yang nyata.

Menurut Jimly Asshiddiqie, konstitusi hanya akan bermakna ketika warga negara tersebut menghidupkannya (alias melakukan pencoblosan di bilik suara).

Sistem demokrasi juga bukan sekedar sistem yang bisa berjalan sendiri layaknya mesin otomatis. Ia membutuhkan bahan bakar berupa partisipasi rakyat. Partisipasi itu pun tidak hanya terjadi setiap lima tahun sekali di balik bilik suara, melainkan juga terjadi dalam keseharian warga negara, yang melek dan kritis terhadap jalannya sebuah kekuasaan.

Sebagian dari orang-orang yang memilih golput juga bukan berarti mereka tidak peduli, namun pada dasarnya mereka hanyalah kecewa. Mereka kecewa terhadap sistem pemilu yang dirasa tidak pernah benar-benar berubah.

Banyak kandidat hanya sanggup menawarkan janji, tapi tidak benar-benar bersedia menepatinya, dengan berbagai alasan klise. Pesta demokrasi yang diharapkan jadi ajang perubahan bangsa, justru hanya menjadi tontonan sia-sia yang tidak memberi makna apa-apa.

Kekecewaan itu sah dan harus diakui benar adanya. Namun ada perbedaan mendasar dari golput sebagai bentuk protes, yang berarti bahwa golput adalah pelarian dari tanggung jawabnya sebagai warga negara.

Pertama golput bisa diperdebatkan adalah sebagai bentuk ekspresi politik, kedua golput banyak terjadi di kalangan anak muda, yang merupakan hasil dari kemalasan berpikir, serta apatisme yang kita normalisasikan tanpa sadar.

Dalam Pendidikan kewarganegaraan, apatisme bukan kondisi yang netral, ia merupakan pilihan aktif untuk menyerahkan nasib kepada orang lain. Ketika kita memilih diam (alias golput), kita justru  membiarkan sistem berjalan tanpa suara kita di dalamnya, dan sistem itu akan tetap kita tanggung mau tidak mau.

Hal yang lebih mengkhawatirkan lagi adalah, ketika golput dianggap sebagai sikap yang “keren” atau realistis, serta adanya sinisme yang terselubung, bahwa “siapapun yang menang, tidak akan ada yang berubah.”

Narasi ini akan sangat berbahaya, karena sistem memang tidak sempurna, tetapi karena ia menghentikan percakapan sebelum benar-benar dimulai, maka ia dapat mengubah warga negara yang seharusnya kritis, lalu berubah menjadi penonton yang pasif.

Pendidikan Kewarganegaraan mengajarkan adanya konsep yang disebut civic responsibility atau tanggung jawab warga negara. Bukan tanggung jawab yang dipaksakan oleh aturan yang mengikat, melainkan yang tumbuh dari kesadaran bahwa kita adalah bagian dari sebuah komunitas besar yang saling mempengaruhi.

Memilih dengan cerdas, mempertimbangkan rekam jejak, membaca dan memahami visi-misi, dan bukan hanya membaca namanya (berdasarkan citra politik). Itulah wujud nyata dari sebuah tanggung jawab dalam berwarga negara.

Demokrasi dapat dinilai sehat tidak hanya diukur dari apakah pemilu berlangsung tepat waktu dan aman dari kecurangan, namun juga dapat diukur dari seberapa banyak warganya yang benar-benar hadir, berpikir, dan terlibat di dalamnya.

Pemilu bisa saja berjalan sempurna secara teknis, namun tetap terasa hambar apabila warganya hanya hadir secara prosedural tanpa kesadaran. Memang benar bahwa suara satu orang terasa sangat kecil, seperti layaknya korban keracunan MBG, yang menurut presiden Prabowo hanya 0,0006% dari total 100% penerima manfaat.

Namun dalam konstitusi, tidak ada perbedaan antara suara kecil dan besar (rakyat biasa ataupun pejabat), karena mereka dihitung sama dan bermakna. Golput bukan hanya soal tidak memilih, ia adalah persoalan siapa yang akhirnya menentukan arah dari negara ini. Dan apakah kita mau menjadi bagian dari keputusan itu, atau hanya menjadi saksi bisu dari pilihan orang lain.

Opini ditulis oleh Lutfi Nuraini, Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Negeri Yogyakarta

YOGYAKARTA – JT – Film horor Aku Harus Mati mengisahkan tentang Mala (Hana Saraswati), seorang perempuan yang terjebak dalam gaya hidup hedon di kota besar. Demi mendapatkan validasi, ia rela terlilit utang untuk memenuhi keinginannya, ini dapat dilihat dari postingan medsos pribadinya, ternyata demi gaya hidup ia punya banyak hutang dan dikejar debtcollector.

Merasa lelah dengan kehidupannya, Mala memutuskan kembali ke panti asuhan tempat ia dibesarkan. Di sana, ia bertemu kembali dengan sahabat lamanya, Tiwi (Amara Sophie) dan Nugra (Prasetya Agni), serta Ki Jogo (Bambang Paningron), sosok pengasuh yang sudah ia anggap sebagai orang tua sendiri.

Tujuan pulang ke rumah untuk ketenangan, namun yang diharapkan berubah menjadi pengalaman mencekam. Sebuah peristiwa aneh membuat Mala terseret dalam perjalanan penuh misteri untuk menemukan jati dirinya. Bersama Tiwi dan Nugra, Mala melakukan perjalanan menuju rumah misterius di tengah hutan. Di tempat tersebut, mereka diteror oleh gangguan roh jahat yang terus menghantui.

Perjalanan itu perlahan mengungkap rahasia kelam masa lalu sebuah keluarga yang berkaitan erat dengan kehidupan Mala. Dalam Film ini menggambarkan bagaimana seseorang bisa melakukan apa saja, bahkan menjual jiwanya, demi harta dan ambisi.

“Film ini masuk genre horor, harapannya film Aku Harus Mati menjadi salah satu film horor yang siap menarik perhatian pecinta film dengan genre seram di tanah air, akan tayang serempak di bioskop Indonesia mulai 2 April 2026,” ungkap Hestu Saputra sutradara film saat berdiskusi dengan kawan-kawan Forkom Jaff, Paguyuban Sineas Bantul, dan Cinemartani di Kampung Kopi Ambarukmo, Rabu (1/4/2026).

Aku Harus Mati merupakan film horor yang diproduksi oleh Rollink Action dengan cerita yang mengangkat sisi gelap ambisi manusia di tengah kehidupan modern. Film ini disutradarai oleh Hestu Saputra yang juga berperan sebagai produser bersama Irsan Yapto dan Nadya Yapto.

Sementara itu, naskah film horor Indonesia ini ditulis oleh Aroe Ama dan Astrid Savitri. Dengan jajaran kru tersebut, film horor 2026 ini diharapkan mampu menghadirkan kisah yang tidak hanya menegangkan, tetapi juga relevan dengan kehidupan sehari-hari.

“Ramuanya adalah ingin menampilkan cerita urban untuk anak muda kekinian, semoga mampu mencapai penonton yang banyak dan bisa bersaing dengan berbagai film nasional baik genre komedi, drama, dan horor lainnya,” pungkas Hestu. (TKS)

BANTUL – Seniman asal Palembang, Syahrizal Pahlevi resmi membuka rangkaian Pameran Lukis cukil kayu bertajuk “Grafis Lintas Jogja-Palembang (1990-2026)” yang berlangsung di Museum dan Tanah Liat (MDTL), Tirtonirmolo, Kasihan, Bantul, Jumat (13/3/2026).

Pameran ini menampilkan lebih dari 50 karya lukis Pahlevi, yang menceritakan perjalanan hidup Pahlevi, khususnya di dua tempat, yakni Yogyakarta sebagai tempatnya berkarya seni rupa dan grafis serta Palembang sebagai kota kelahirannya.

Seluruh karya ini dihasilkan menggunakan media cukil kayu (woodcut paint), sebagai salah satu spesialisasi Pahlevi dalam menghasilkan karya seni.

Dalam acara pembukaan tersebut, Pahlevi juga turut menampilkan demo melukis dengan cukil kayu, yang hanya memakan waktu sekitar 15 menit.

Pahlevi dalam sambutannya mengatakan, karya-karya yang dihasilkannya ini adalah salah satu caranya untuk “mudik” ke Palembang, karena ia sudah lama tidak mudik ke kampung halamannya.

“Saya juga berencana membawa karya-karya grafis saya ini mudik (ke Palembang), karena saya sudah lama tidak mudik. Jadi saya akan mudik bersama keluarga saya, dan sebagian dari karya yang ada di sini (MDTL) juga akan saya bawa ke Palembang, untuk dipamerkan disana,” pungkas Pahlevi dalam pembukaan Pameran Lukisan Cukil Kayu berjudul “Grafis Lintas Jogja-Palembang (1990-2026)” yang berlangsung di Museum dan Tanah Liat (MDTL), Tirtonirmolo, Kasihan, Bantul, Jumat (13/3/2026).

Pameran ini juga menjadi momen retrospeksi seorang Pahlevi, yang ingin mengenang setiap perjalanan hidupnya bersama banyak orang, yang dimulai sejak awal tahun 90-an silam.

Tidak hanya display lukisan cukil kayu, pameran ini juga turut menampilkan workshop praktik cukil kayu secara gratis kepada masyarakat.

Selanjutnya ada Talkshow “ART TALK” tentang dunia seni grafis dan seni rupa, dan masih banyak lagi.

Pameran ini masih akan berlangsung hingga Kamis, 19 Maret 2026 mendatang, bertempat di Museum dan Tanah Liat (MDTL), Jeblog, Tirtonirmolo, Kasihan, Bantul. (zk)

BANTUL – Seniman asal Palembang, Syahrizal Pahlevi resmi membuka rangkaian Pameran Lukis cukil kayu bertajuk “Grafis Lintas Jogja-Palembang (1990-2026)” yang berlangsung di Museum dan Tanah Liat (MDTL), Tirtonirmolo, Kasihan, Bantul, Jumat (13/3/2026).

Pameran ini menampilkan lebih dari 50 karya lukis Pahlevi, yang menceritakan perjalanan hidup Pahlevi, khususnya di dua tempat, yakni Yogyakarta sebagai tempatnya berkarya seni rupa dan grafis serta Palembang sebagai kota kelahirannya.

Seluruh karya ini dihasilkan menggunakan media cukil kayu (woodcut paint), sebagai salah satu spesialisasi Pahlevi dalam menghasilkan karya seni.

Dalam acara tersebut, Pahlevi turut memamerkan keahliannya melakukan demo melukis dengan cukil kayu, yang hanya berlangsung selama 15 menit. Penonton pun antusias menyaksikan bagaimana Pahlevi mampu menghasilkan karya cukil kayu, dalam waktu yang tergolong singkat.

Berikut adalah sejumlah momen menarik yang terjadi dalam acara pembukaan tersebut, serta pertunjukan demo melukis cukil kayu dari Pahlevi. (Foto: Azka Qintory)