BANTUL – Ada banyak cara yang bisa dilakukan untuk menuliskan pengalaman hidup, salah satunya melalui kumpulan antologi puisi.

Oleh sebab itulah, menjadi cara yang dilakukan oleh seorang Winda Cahyati, salah satu lulusan program Temu Karya Sastra (TKS) dari Dinas Kebudayaan “Kundha Kabudayan” DIY tahun 2025, yang baru saja me-launching buku antologi puisi terbarunya yang berjudul “Perjalanan Menuju-Mu”.

Bagi Winda, setiap manusia pasti memiliki perjalanan hidup yang berbeda-beda. Namun apapun dan bagaimanapun perjalanan tersebut dilalui, semuanya pasti akan tetap kembali kepada-Nya, sebagai tujuan akhir dari seluruh kehidupan.

“Jadi buku ‘Perjalanan Menuju-Mu’ ini memang terdiri dari beberapa chapter atau suatu perjalanan gitu. Bahwa di dalam hidup ini kita akan mengalami beberapa fase (perjalanan hidup), dan kita tidak boleh lupa bahwa tujuan akhir kita itu adalah Tuhan, seperti itu,” ungkap Winda Cahyati, dalam sesi diskusi buku di acara Selasa Sastra bertajuk “Sajak-sajak Arah Angin” yang berlangsung di Kelingan Garden & Cafe, Bejen, Bantul, Selasa (7/7/2026).

Adapun buku “Perjalanan Menuju-Mu” ini merupakan karya tunggal pertama seorang Winda Cahyati. Selebihnya ia hanya berkontribusi dalam antologi kolektif bersama teman-teman lainnya di berbagai tempat.

“Untuk antologi puisi mandiri atau karya sendiri, buku ini (Perjalanan Menuju-Mu) ini baru yang pertama kali. Tapi memang sebelumnya sudah pernah menerbitkan beberapa antologi bersama, gitu. Pernah juga diterbitkan di koran, waktu itu,” sambung Winda.

Bagi Winda, proses membuat puisi sama halnya dengan meluapkan sesuatu, alias “curhat” tentang keresahan pribadi. Sehingga antologi puisi ciptaannya ini merupakan bagian dari isi hatinya, yang kemudian dituangkan dalam bentuk buku antologi puisi.

Selain buku antologi puisi berjudul “Perjalanan Menuju-Mu” karya Winda Cahyati, sesi diskusi yang sama juga membedah buku antologi puisi lainnya yang berjudul “Upaya untuk Pulang”. Buku ini juga merupakan karya dari salah satu lulusan program TKS lainnya, yakni Djessica Yula.

Sesi diskusi kedua buku ini merupakan rangkaian dari acara Selasa Sastra bertajuk “Sajak-sajak Arah Angin” pada Selasa (7/7/2026), yang berlangsung di Kelingan Garden & Cafe, Bejen, Bantul. (zk)

BANTUL – Menulis buku adalah kesempatan untuk semua orang, baik dari kalangan manapun, dan usia berapapun.

Kesempatan inilah yang dibuka oleh Penerbit Ananta Vidya, yang digawangi oleh Direkturnya, Anastasia Arsiwi Anggita Dewi, melalui program tahunan yang diberi nama “Nulis Bareng Ananta” (Nubaran).

Dalam acara Selasa Sastra bertajuk “Sajak-sajak Arah Angin” yang berlangsung di Kelingan Garden & Cafe, Bejen, Bantul, Selasa (7/7/2026), Gita, panggilan akrabnya, membuka kesempatan seluas-luasnya kepada siapa saja untuk bergabung dalam program “Nubaran” ini, agar bisa menerbitkan buku indie secara digital, serta dapat diperjualbelikan ke khalayak luas, alias menjadi seorang “writerpreneur“.

“KIta memang ada tantangan-tantangan khusus sih. Jadi kalau misalnya temen-temen di sini sudah biasa menulis puisi, maka tantangannya nanti akan diminta untuk menulis buku nonfiksi, dan semacamnya. Nanti teman-teman tinggal bagaimana caranya untuk keluar dari zona nyaman itu (menulis genre yang berbeda dari biasanya),” ujar Gita, dalam acara Selasa Sastra bertajuk “Sajak-sajak Arah Angin” yang berlangsung di Kelingan Garden & Cafe, Selasa (7/7/2026).

Adapun untuk tahun ini, “Nubaran” memfokuskan tantangan kepenulisan pada genre Komedi dan Budaya, di mana setiap peserta bisa memilih salah satu dari keduanya. Dua tema ini juga bisa ditulis dalam bentuk fiksi maupun nonfiksi, dengan beberapa persyaratan teknis di dalamnya.

“Sekarang kan lagi musimnya parodi kan ya. Jadi ada banyak bahan yang mulai dijadikan semacam slang gitu ya. Dan konten-konten semacam itu biasanya dibuat dalam bentuk video (yang diunggah di media sosial). Nah gimana caranya supaya bisa membuat parodi itu dalam bentuk teks, misalnya. Jadi ada semacam tantangan imajinasinya agar teks itu bisa jadi lucu, gitu,” tambah Gita.

Program “Nubaran” ini sendiri dibuka selama satu bulan, mulai 6 Juli hingga 6 Agustus 2026, dengan ketentuan menulis minimal 50 halaman A5 (hanya mencakup isi/inti utama dari buku, tidak termasuk kata pengantar, daftar isi, dan lain-lain), format file Microsoft Word font Times New Roman ukuran 12, spasi 1,15, dan margin 2 cm rata tengah.

Peserta dapat mengirimkan draf naskah, prakata, sinopsis, sampul buku, dan alasan mengapa buku tersebut layak diterbitkan, melalui alamat email [email protected].

Penulis yang naskahnya terpilih alias lolos proses kurasi, akan mendapatkan sejumlah fasilitas menarik, di antaranya penyuntingan (editing), tata letak (layout), penerbitan (ISBN elektronik), dukungan promosi, serta yang paling dinanti-nantikan yakni royalti penulis.

Informasi selengkapnya mengenai program “Nubaran” ini bisa dilihat di akun Instagram @ananta.writer(zk)

BANTUL – Jika selama ini kita sering mendengar istilah populer yakni banyak jalan menuju Roma, yang berarti banyak cara yang bisa dilakukan untuk mencapai hasil yang sama, maka hal itu juga berlaku pada sosok Dea Chairunnisa, seorang Master of Ceremony (MC) atau public speaker yang baru saja menerapkan istilah “banyak jalan menuju sastra” dalam hidupnya.

Meskipun bukan berlatar belakang seniman atau sastrawan, Dea terjun ke dunia sastra dengan semangat positif dan keinginan kuat untuk belajar, serta tak ketinggalan menghasilkan karya demi karya yang bisa dinikmati oleh banyak orang.

Perkenalannya dengan dunia sastra pun bisa dibilang juga tidak disengaja, ketika ia bertemu dengan Direktur Selasa Sastra, Tedi Kusyairi, dalam sebuah acara pada awal tahun ini.

“Aku kenal Mas Tedi itu pas aku jadi host-nya podcast PKBI (Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia), di situ aku bercerita ke beliau bahwa aku punya sekolah public speaking dan MC, namanya Gema Academy. Dan aku saat itu juga sedang mencari acara untuk anak-anakku agar bisa tampil dan berlatih dalam situasi acara yang resmi.

Mas Tedi pun bercerita bahwa beliau juga meng-handle komunitas sastra (Selasa Sastra), yang diselenggarakan di kafenya yaitu Kelingan Garden & Cafe setiap hari Selasa, dan selalu butuh MC. Akhirnya Mas Tedi minta ke aku untuk jadi MC di sini, dan juga ikut mengirimkan siswa-siswa MC aku ke acara ini,” ucap Dea, saat ditemui di Kelingan Garden & Cafe, Bejen, Bantul, Selasa (7/7/2026).

Sejak saat itu, sastra membuka banyak kesempatan baginya untuk belajar lebih dalam tentang seni dan kehidupan secara lebih luas.

“Ternyata sastra itu luas ya. Padahal dulu waktu aku dengar kata “sastra” itu, yang terpikirkan di kepalaku adalah tentang bahasa Indonesia.

Setelah aku berkecimpung di acara Selasa Sastra ini sebagai moderator, akhirnya mau nggak mau aku juga belajar. Ternyata sastra itu juga ada kepenulisannya, film, puisi, bahkan bahasanya juga nggak cuma bahasa Indonesia, tapi juga ada dalam bahasa Jawa, dan seterusnya,” tambah Dea.

Dea pun tidak menutup kemungkinan untuk benar-benar “nyemplung” ke dalam dunia sastra secara keseluruhan, dan menghasilkan berbagai karya sastra yang bisa disaksikan oleh teman-teman maupun murid-muridnya di Gema Academy, sekaligus menghasilkan pundi-pundi dari sana. (qin)

Dinamika hidup yang semakin luas dalam beberapa waktu terakhir, seperti konflik di Timur Tengah, harga minyak yang terus melonjak, dan lain-lain, membuat banyak pihak mulai bereaksi sesuai dengan cara dan kreativitas masing-masing.

Bagi para sastrawan, cara terbaik untuk merespons berbagai dinamika tersebut adalah dengan membuat karya sastra.

Itulah yang mendasari hadirnya event bulanan Selasa Sastra di bulan Juli 2026, yang berlangsung di Kelingan Garden & Cafe, Selasa (7/7/2026), dengan menghadirkan sejumlah penampilan sastra menarik dari beberapa sastrawan di Bantul, serta beberapa acara pendukung lainnya.

Berikut adalah sejumlah momen menarik yang terjadi dalam perhelatan Selasa Sastra tersebut, yang bertajuk “Sajak-sajak Arah Angin”. (Foto: Azka Qintory)

 

 

BANTUL – Selasa sastra kembali hadir di bulan Juli 2026 dengan sejumlah penampilan sastra menarik serta beberapa acara pendukung lainnya.

Mengambil tema “Sajak-sajak Arah Angin”, Selasa Sastra kali ini mencoba untuk merespon berbagai isu global yang terjadi di dunia saat ini, seperti peperangan di Timur Tengah, mahalnya harga minyak, melonjaknya nilai tukar rupiah, dan seterusnya.

Dengan tema ini, Selasa Sastra mencoba menyikapi berbagai dinamika tersebut, dengan menampilkan pertunjukan sastra, terutama puisi, sebagai “respons” atas perkembangan isu-isu tersebut.

“Selasa sastra kali ini mencoba hadir untuk merespons berbagai dinamika yang hadir di dunia saat ini. Seperti peperangan, harga minyak yang terus melonjak, dan seterusnya, yang secara tidak langsung juga berimbas kepada masyarakat di Indonesia. Misalnya saja kurs dollar yang terus meningkat, dan lain-lain. Jadi bagaimana kita menyikapi setiap dinamika tersebut dengan karya sastra yang turut dibacakan di panggung Selasa Sastra hari ini,” ucap Direktur Selasa Sastra, Tedi Kusyairi, Selasa (7/7/2026).

Selain itu, event Selasa Sastra kali ini juga memberikan kesempatan untuk menulis buku secara gratis, melalui sayembara khusus yang diadakan oleh penerbit Ananta Vidya. Penulis yang terpilih berkesempatan untuk meneribitkan buku digital (e-book) buatan sendiri secara gratis, dan menjual bukunya kepada khalayak luas.

Tidak hanya itu, Selasa Sastra kali ini juga menghadirkan diskusi buku antologi puisi, yang merupakan hasil karya dari dua peserta program Temu Karya Sastra (TKS) dari Dinas Kebudayaan “Kundha Kabudayan” DIY tahun 2025, yakni buku “Upaya Untuk Pulang” karya Djessica Yula, dan “Perjalanan Menuju-Mu” karya Winda Cahyati.

Selasa Sastra edisi Juli 2026 kali ini berlangsung di Kelingan Garden & Café, Bejen, Bantul, Selasa (7/7/2026). Acara ini menampilkan beberapa sastrawan ternama yang berasal dari Bantul, di antaranya Tedi Kusyairi, Syamsu Setiaji, Budi Baik Hati, Fathia Jayanti, Shinta Sigit, dan masih banyak lagi. (zk)

BANTUL – Dalam dunia yang serba mengandalkan konten seperti saat ini, skill keaktoran atau akting sangatlah dibutuhkan, guna mendukung keberhasilan sebuah konten dalam mendeliver pesan kepada audiens.

Atas dasar itulah, Kelingan Garden & Cafe bersama Teater Amarta berinisiatif menyelenggarakan Kelas Keaktoran khusus, yang diperuntukkan bagi generasi muda dan masyarakat umum, yang diselenggarakan di Kelingan Garden & Cafe, Bejen, Bantul kota, Jumat (26/6/2026).

Adapun kelas tersebut turut diampu oleh seorang seniman dan artis teater, Nunung Deni Puspitasari, yang juga pendiri Teater Amarta.

Pada kesempatan tersebut, Nunung mengajarkan teknik-teknik dasar dalam dunia keaktoran, seperti olah tubuh, olah vokal, dan juga olah rasa.

Di dalam ketiga teknik dasar tersebut, setiap aktor harus mampu merawat dan melatih tubuhnya, karena tubuh adalah medium utama yang memerankan sebuah tokoh tertentu. Selain itu, setiap aktor juga harus mengasah artikulasi kata, mengatur napas perut, memainkan intonasi dan jeda, serta membangun rasa imajinasi, untuk dapat menjiwai setiap karakter yang diperankan.

Tidak hanya itu, ketika sudah tampil di atas panggung, setiap aktor juga harus melupakan dirinya sendiri, dan sepenuhnya menjadi tokoh yang diperankan (menjadi “orang lain”), agar tidak terlihat ragu atau tertawa sendiri saat melakukan penokohan.

Lebih lanjut, Nunung menganggap bahwa perkembangan dunia keaktoran sangatlah luas dan bisa diaplikasikan dalam berbagai industri. Mengingat industri konten sendiri juga sangat luas, dan terus berkembang dari waktu ke waktu.

Kehadiran kelas keaktoran ini tentunya diharapkan akan mampu melahirkan talenta-talenta aktor baru dari Bantul di masa depan, sebagai penerus generasi aktor dan aktris masa kini.

Dengan banyaknya peluang mengisi peran keaktoran dalam berbagai konten digital, maka peluang untuk mendapatkan cuan dari profesi ini juga cukup besar, sekaligus memungkinkan banyak kerjasama yang menguntungkan di masa depan. (zk)

Event tahunan ARTJOG 2026 yang berlangsung di Jogja National Museum (JNM) turut merayakan salah satu momen bersejarah dunia, yakni peringatan hari musik internasional (Fête de la Musique), yang jatuh setiap tanggal 21 Juni.

Bekerjasama dengan Kedutaan Besar Prancis di Indonesia (Institut Français d’Indonésie – IFI), ARTJOG mendatangkan salah satu musisi electro-pop asal Prancis, Violet Indigo, dalam tur pertamanya di Indonesia.

Berikut adalah sejumlah keseruan penampilan Violet di panggung ARTJOG yang berlangsung di JNM. (Foto: Azka Qintory)

 

YOGYAKARTA – Seperti yang diketahui, tanggal 21 Juni diperingati sebagai Hari Musik internasional (Fete de la Musique).

Peringatan ini berasal dari gagasan mantan Menteri Kebudayaan Prancis, Jack Lang, bersama komposer dan direktur musik Maurice Fleuret pada 1982 silam, di mana mereka ingin mendemokratisasi konsep hiburan musik, agar bisa diakses dan dinikmati oleh seluruh lapisan masyarakat secara gratis tanpa kecuali.

Tahun ini, event ARTJOG 2026 yang berlangsung di Jogja National Museum (JNM), turut merayakan hari musik internasional tersebut, dengan menghadirkan salah satu musisi electro-pop asal Prancis, Violet Indigo, dalam tur pertamanya di Indonesia.

Violet Indigo adalah seorang penyanyi, penulis lagu, produser, dan DJ berkebangsaan Prancis-Amerika, yang berdomisili di Paris dan Rouen.

Ia menyempatkan diri untuk hadir di panggung ARTJOG 2026, dan menghibur puluhan pasang mata yang singgah di JNM, dengan membawakan sejumlah single andalannya, seperti ToxicOne StepLast Call, dan masih banyak lagi.

Di sela-sela pertunjukan, Violet pun mengucapkan terima kasih kepada para pengunjung ARTJOG, yang bersedia meluangkan waktunya untuk menyaksikan dirinya tampil, sekaligus merayakan Fete de la Musique bersama-sama dengan masyarakat dari seluruh dunia dan berbagai kalangan.

“Terima kasih banyak kepada kalian semua. Pengalaman pertama saya di Indonesia sejauh ini sangatlah berkesan. Dan semoga kalian menikmati sajian malam ini di ARTJOG,” ujar Violet di JNM, Kamis (25/6/2026).

Kehadiran Violet sendiri merupakan hasil kerjasama antara Kedutaan Besar Prancis di Indonesia (Institut Français d’Indonésie – IFI), yang bekerja sama dengan mitra lokal di seluruh negeri, salah satunya adalah ARTJOG di Yogyakarta.

Selain di Jogja, Violet juga turut menyambangi beberapa kota lainnya dalam turnya kali ini, di antaranya Jakarta, Bandung, Surabaya, Medan, dan Denpasar.

Momen ini kembali menegaskan bahwa Fête de la Musique (Hari Musik Sedunia) 2026 adalah perayaan milik semua orang, karena musik adalah bahasa universal yang mengedepankan kreativitas, inklusi, dan dialog secara terbuka. (zk)

Pasar Kangen Jogja kembali hadir pada tahun ini di Taman Budaya Yogyakarta (TBY).

Pada edisi 2026 kali ini, Pasar Kangen menghadirkan sekitar 300-an stan atau booth di kompleks TBY dan di sepanjang ruas Jalan Sriwedani.

Seperti biasa, Pasar Kangen menghadirkan banyak koleksi barang-barang antik zaman dahulu, yang bisa kembali dikoleksi atau bahkan digunakan oleh masyarakat saat ini. Misalnya saja uang kertas cetakan lama, telepon umum, handphone merek lawas (seperti Nokia dan Sonny Ericsson), jam tangan klasik, kamera analog, majalah lawas, buku-buku bacaan sejarah, dan masih banyak lagi.

Selain bernostalgia dengan barang-barang klasik, Pasar Kangen Jogja juga menyediakan jajanan pasar khas Yogyakarta, dengan sajian-sajian menarik namun tetap bernuansa lokal serta kekinian.

Berikut adalah sejumlah koleksi barang-barang antik yang dijual di Pasar Kangen Jogja tersebut (Foto: Azka Qintory)

 

 

YOGYAKARTA – Pasar Kangen Jogja kembali hadir pada tahun ini di Taman Budaya Yogyakarta (TBY). Di edisi kali ini, Pasar Kangen menghadirkan sekitar 300-an stan atau booth di kompleks TBY dan di sepanjang ruas Jalan Sriwedani.

Sesuai trade mark, Pasar Kangen menghadirkan banyak koleksi barang-barang antik zaman dahulu, yang bisa kembali dikoleksi atau bahkan digunakan oleh masyarakat saat ini.

Seperti uang kertas cetakan lama, telepon umum, handphone merek lawas (seperti Nokia dan Sonny Ericsson), jam tangan klasik, kamera analog, majalah lawas, buku-buku bacaan sejarah, dan masih banyak lagi.

Selain bernostalgia dengan barang-barang klasik, Pasar Kangen Jogja juga menyediakan jajanan pasar khas Yogyakarta, dengan sajian-sajian menarik namun tetap bernuansa lokal serta kekinian.

Menurut Penanggungjawab Produksi Pasar Kangen, Triana, Pasar Kangen kali ini juga turut diikuti oleh para kolektor barang antik dari luar Jogja, seperti Surabaya, Malang, Bandung, Jakarta, dan seterusnya.

“Mereka (orang-orang dari luar daerah itu) membawa patung, pernik-pernik, keris, perangko, buku, dokumen, dan banyak lagi,” ujar Triana, saat ditemui di Taman Budaya Yogyakarta, Kamis (25/6/2026).

Triana berharap, hadirnya Pasar Kangen di pertengahan tahun ini dapat menjadi alternatif bagi masyarakat Yogyakarta dan sekitarnya, untuk mengoleksi barang-barang antik dari berbagai lintas zaman, yang saat ini sudah tidak lagi tersedia di pasaran, namun masih tersedia di Pasar Kangen Jogja.

“Di sini masyarakat bisa mencari banyak barang antik yang mungkin selama ini sudah tidak lagi ditemukan di mana-mana. Padahal mungkin value-nya masih cukup bagus untuk dikoleksi, dan banyak juga yang masih bisa digunakan atau berfungsi dengan baik. Jadi semuanya komplit ada di Pasar Kangen Jogja,” tambah Triana. (zk)