BANTUL – Dewasa ini, setiap peristiwa bisa dengan mudah menyebar di media sosial dalam kurun waktu yang sangat cepat. Setiap peristiwa (yang menjadi viral) datang silih berganti setiap saat, seolah menjadi tren baru yang harus diikuti oleh siapa saja, dan seterusnya.

Anak-anak kelahiran 2000-an atau yang disebut Gen Alpha, adalah orang-orang beruntung yang mampu menyerap berbagai peristiwa alias informasi yang tersebar di media sosial dengan sangat cepat, dan tidak pernah ketinggalan sedikitpun informasi yang beredar dari seluruh dunia.

Hal inilah yang tidak sanggup diikuti oleh generasi X, atau orang-orang yang lahir pada tahun 90-an ke belakang. Di mana mereka harus mencerna setiap informasi dengan sangat detail terlebih dahulu, sebelum akhirnya take action atau membagikannya kepada teman-temannya, dan seterusnya.

Terlebih media sosial memang muncul di saat orang-orang ini sudah beranjak dewasa, sehingga adaptasi yang diperlukan memang sedikit lebih lama, dan butuh kesadaran lebih untuk bisa mengikuti arus informasi yang begitu deras di media sosial seperti saat ini.

“Sekarang itu kan hampir semua peristiwa, semua kejadian itu kan selalu serba cepat ya. Dan memang benar bahwa kalau telat mengupload itu sudah nggak update lagi. Makanya saya itu kagum, jangan-jangan, dna memang faktanya bahwa kecerdasan para penulis generasi alpha itu berbeda dengan kecerdasan generasi kami,” ungkap Sastrawan Joni Ariadinata, saat mengisi diskusi bertajuk “Relevansi Cerpen di Mata Gen Z”, yang berlangsung di Kelingan Garden & Cafe, Bejen, Bantul, beberapa waktu lalu.

Salah satu indikator yang mudah dilihat oleh Joni adalah kecenderungan generasi X untuk membaca referensi fisik seperti buku atau semacamnya. Sementara anak-anak muda alias gen Alpha bisa langsung mengecek aplikasi AI yang tersedia di ponselnya masing-masing, untuk memantau referensi pada topik yang sama.

“Karena mereka bisa merespons segala sesuatu (peristiwa) dengan sangat cepat, dan juga menuliskannya dengan sangat cepat. Sementara generasi kami responnya lambat, kemudian untuk mencari referensi bahan itu ke buku-buku yang tebel itu. Sementara untuk generasi alpha, mereka itu kan mencari referensinya langsung pakai AI gitu kan. Walaupun kedalamannya (AI) memang kurang,” tambah Joni.

Joni menilai, anak-anak muda saat ini lebih mementingkan unsur peristiwanya, alias cukup mengetahui “apa yang terjadi?”, ketimbang benar-benar mendalami peristiwa tersebut dengan rinci, atau “mengapa bisa begitu?” dan seterusnya. (zk)

BANTUL – Seiring dengan perkembangan dunia teknologi informasi yang begitu pesat, dunia sastra juga turut mengalami perkembangan yang cukup signifikan.

Salah satunya adalah kehadiran platform cerpen atau sastra secara umum, yang mampu mewadahi setai karya sastra dari para generasi muda, yang bisa dijadikan sumber penghasilan secara rutin setiap bulannya.

Bahkan di aplikasi seperti KBM (Komunitas Bisa Menulis) App, penulis bisa dibayar royalti mencapai miliaran rupiah, yang didasarkan pada jumlah koin yang berasal dari Bab berbayar, dikalikan dengan jumlah views dari karya sastra tersebut.

“Ada beberapa penulis dari kalangan Gen Z dan Gen Alpha, yang mendapat royalti (dari aplikasi KBM) sebesar Rp2 Miliar setiap bulannya, kemudian ratusan penulis di-rate antara Rp200 sampai Rp600 juta, kemudian ribuan penulis lainnya ada yang di-rate antara Rp2 juta sampa Rp30 juta per bulannya,” ungkap Sastrawan Joni Ariadinata, saat mengisi diskusi bertajuk “Relevansi Cerpen di Mata Gen Z”, yang berlangsung di Kelingan Garden & Cafe, Bejen, Bantul, beberapa waktu lalu.

Joni pun tak pernah membayangkan, bahwa generasi tua sepertinya bisa mengalami periode di mana sebuah karya sastra bisa dihargai hingga miliaran rupiah setiap bulannya. Hanya dengan memanfaatkan platform digital.

“Maka sebagai generasi tua yang purba, hal itu tentunya tidak pernah terbayangkan di dalam imajinasi saya, bahwa pasar sastra itu ternyata berkembang sedemikian luar biasa di generasi digital seperti sekarang. Nah itulah tugas saya saat ini, untuk menjembatani generasi purba dengan generasi alpha,” sambung Joni Ariadinata.

Joni menilai, karakteristik pembaca millenial adalah faktor kuat yang dapat mendorong pihak aplikasi untuk menerbitkan karya sastra digital sebanyak-banyaknya, sekaligus membayar mereka dengan angka yang terbilang fantastis. (zk)

YOGYAKARTA – Dalam aktivitas kepenulisan, biasanya sulit bagi penulis untuk mengukur “seberapa bagus tulisan yang telah dibuat”, manakala tulisan tersebut hanya dibaca seorang diri, atau dinikmati oleh kalangannya sendiri, seperti orang tua/keluarga, teman, maupun followers di media sosial.

Padahal, masih ada cara lain yang bisa dilakukan, untuk menilai bagus tidaknya kualitas tulisan yang telah dihasilkan, tanpa perlu merasa sungkan atau tidak enakan kepada si pembuat tulisan tersebut, atau ketika menyerahkan penilaian kepada yang bukan ahlinya.

Adapun salah satu cara yang bisa dilakukan adalah dengan mengikuti lomba kepenulisan, yang diselenggarakan oleh pihak manapun.

Dengan mengikuti lomba kepenulisan, setiap penulis bisa menilai, sudah sejauh mana kualitas tulisannya yang telah dibuat, dan apa-apa saja yang masih harus ditingkatkan lagi pada kesempatan berikutnya, dan seterusnya.

Hal itulah yang turut dilakukan oleh sastrawan asal Bantul, Satmoko Budi Santoso. Baginya, mengikuti lomba kepenulisan adalah strategi yang ampuh untuk menguji kemampuan diri sendiri (dalam menulis).

“Kalau saya dulu senang memacu diri dengan ikut lomba, gitu. Dari situ, kalau misalnya kita bisa menang tanpa melakukan lobi atau semacamnya, maka itu akan semakin memacu diri kita untuk lebih intensif lagi (dalam menulis karya),”  papar Satmoko Budi Santoso, saat mengisi sesi diskusi bertajuk “Quo Vadis Sastrawan Jogja” dalam rangkaian kegiatan Festival Literasi Jogja 2026, di halaman kantor Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah, Yogyakarta, beberapa waktu lalu.

Selain itu, mengikuti lomba adalah sarana yang sangat baik, untuk mengukur sejauh mana penulis tersebut dapat terus berkembang, dan menaikkan level kepenulisannya agar menjadi lebih baik lagi ke depannya.

“Itu adalah salah satu kiat untuk menguji diri (dengan peserta lomba lainnya), dengan begitu kita akan tahu batas kemampuan kita sampai di mana. Dan dari sana kita bisa step up lagi supaya terus berkembang, seperti itu,” tambah Satmoko.

Keterlibatan dalam lomba pun hendaknya tidak hanya ditargetkan untuk mencari hadiah (juara) saja, melainkan juga pengalaman berharga yang bisa didapatkan, sekaligus menjalin koneksi baru dengan sesama peserta maupun juri atau mentor dalam lomba tersebut, dan seterusnya. (zk)

YOGYAKARTA – Dunia kepenulisan karya sastra ibarat ruang alternatif bagi rekreasi intelektual.

Dalam rekreasi intelektual khususnya dalam proses penulisan karya sastra, bisa saja tidak lepas dari yang namanya stuck atau buntu. Penulis seringkali mengalami rasa bosan, jenuh, kehilangan motivasi, atau sulit menemukan ide baru ketika menjalani proses menulis.

Namun untuk mengatasi hal tersebut, semuanya harus kembali pada diri sendiri. Karena diri sendirilah yang mengetahui seberapa stuck dirinya di dalam proses penulisan karya sastra, dan bagaimana ia melewati setiap hambatan tersebut.

Bagi sastrawan asal Sleman, Latief Noor Rochmans, aktivitas menulis adalah bagaimana memacu diri sendiri untuk selalu konsisten, dan tidak pernah menyerah dengan keadaan apa pun, meskipun di tengah perjalanan kadangkala menemukan rasa bosan dan lain sebagainya.

“Jadi kuncinya kalau ingin jadi penulis yang bagus itu ya berproses sejak awal, dinikmati, dan jangan mengeluh, lalu tidak putus asa. Dan yang pasti juga dilakukan (segera menulis), jangan ditunda,” ungkap Latief Noor Rochmans, saat mengisi sesi diskusi bertajuk “Quo Vadis Sastrawan Jogja” dalam rangkaian kegiatan Festival Literasi Jogja 2026, di halaman kantor Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah, Yogyakarta, beberapa waktu lalu.

Latief menambahkan, satu hal lain yang tak kalah penting dari proses menulis adalah rajin membaca. Karena setiap penulis hebat pasti juga rajin membaca, sekaligus mempraktikkan apa yang dibacanya tersebut, untuk diterapkan dalam gaya kepenulisannya di kesempatan berikutnya.

“Yang tak kalah penting juga harus banyak membaca. Buku apa saja boleh (untuk dibaca), buku ‘sampah’ pun nggak papa. Kan nanti kalau sudah terbiasa (membaca), maka buku ‘sampah’ pasti akan ditinggalkan. Dan jangan lupa isi buku tersebut diimplementasikan, dan mengimplementasikannya kalau bisa jangan di medsos, tapi di media. Misalnya media online, supaya nama kita nanti nyantol di Google pas dicari,” tambah Latief.

Latief juga membuka kesempatan bagi siapa saja yang ingin belajar menulis, untuk bisa belajar darinya dan teman-teman sastrawan lainnya, agar bisa menerapkan konsistensi tersebut dalam setiap aktivitas kepenulisan yang dilakukan.

Sehingga ketika benar-benar ditekuni dan diseriusi dengan sungguh-sungguh, hasil yang diperoleh akan benar-benar menakjubkan, bahkan di luar ekspektasi awal, dan seterusnya. (zk)

YOGYAKARTA – Kehadiran teknologi informasi yang begitu masif di era saat ini, seperti misalnya AI (Artificial Intelligence), rupanya telah ikut mengubah cara manusia dalam beraktivitas, termasuk dalam membuat karya sastra.

Banyak sastrawan muda yang kini menggantungkan AI sebagai tools dalam menciptakan ide-ide baru, sekaligus sebagai alat untuk menghasilkan karya sastra itu sendiri, sebagai hasil akhir yang akan dibaca atau diperlihatkan kepada masyarakat luas.

Hal ini sebenarnya tidak sepenuhnya salah, karena teknologi memang diciptakan untuk memudahkan pekerjaan manusia.

Namun penggunaannya tetap harus dengan kehati-hatian yang sangat tinggi. Karena AI tidak didesain untuk benar-benar menggantikan pekerjaan manusia seutuhnya, apalagi pekerjaan dalam menghasilkan karya sastra.

“Kalau menurut saya AI tetap bisa saja difungsikan, tapi hanya sebagai alat bantu, untuk merangsang tumbuhnya ide-ide. Tapi tidak untuk membuatkan (hasil akhir karya sastra), gitu loh. Jadi batasannya di situ,” papar sastrawan asal Bantul, Satmoko Budi Santoso, dalam sesi diskusi bertajuk “Quo Vadis Sastrawan Muda Jogja”, yang merupakan salah satu bagian dari Festival Literasi Jogja 2026, yang digelar di halaman depan Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah (DPAD), Yogyakarta, beberapa waktu lalu.

Sementara bagi Latief Noor Rochmans, yang juga hadir sebagai pembicara dalam sesi diskusi tersebut, justru mengharamkan total penggunaan AI, sekalipun hanya sebagai pemantik ide atau semacamnya.

“Kalau saya sama sekali mengharamkan (penggunaan AI). Karena saya sebagai redaktur dan juga penulis, tidak pernah menggunakan itu (AI) sama sekali. Kenapa? Banyak data yang salah. Dan kenyataannya, banyak teman penulis yang juga nulis pakai AI, dan datanya itu selalu salah, padahal cuman hal-hal sepele loh,” ucap Latief di kesempatan yang sama.

Bagi Latief, keaslian atau orisinalitas sebuah karya sangatlah penting bagi sastrawan muda. Karena dari sanalah namanya akan dikenal luas oleh masyarakat, dan tentu saja bukan karena hasil bantuan dari AI dan semacamnya. (zk)

YOGYAKARTA – Selama ini, banyak dari sastrawan atau penyair yang terkenal adalah mereka yang sudah berusia lanjut, atau bahkan yang sudah tiada, seperti Chairil Anwar, Taufiq Ismail, Pramoedya Ananta Toer, W.S. Rendra, Sapardi Joko Damono, Joko Pinurbo, dan lain sebagainya.

Setelah nama-nama tersebut, tidak banyak sastrawan muda yang meneruskan jejak mereka, untuk menghidupkan sastra di ruang-ruang publik, atau setidaknya menjadi sosok yang dikenal berkat sastra, melalui karya-karyanya yang begitu legendaris sampai hari ini.

Hal itu pula yang disayangkan oleh Latief Noor Rochmans, seorang sastrawan asal Yogyakarta.

Ia merasakan adanya “diskonektivitas” atau ketidakberlanjutan dari tokoh-tokoh sastrawan pada masanya dengan generasi muda era modern saat ini.

Karena mereka lebih sibuk membangun hal-hal yang berurusan dengan teknologi, membuat konten yang cepat viral (ikut-ikutan yang sedang tren), hingga sesuatu yang berkaitan dengan kenakalan remaja, entah itu klitih dan semacamnya.

“Masalahnya, anak-anak muda saat ini kadang-kadang mereka tidak mengenal (sastrawan) yang usianya di atas mereka. Kenapa sastrawan-sastrawan senior itu tidak didatangi? Kan bisa datang, dolan, golek ilmu, dan sayangnya itu tidak dilakukan,” papar Latief Noor Rochmans, saat mengisi sesi diskusi bertajuk “Quo Vadis Sastrawan Jogja” dalam rangkaian kegiatan Festival Literasi Jogja 2026, di halaman kantor Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah, Yogyakarta, beberapa waktu lalu.

Menurut Latief, kegiatan “sowan” atau mendatangi sastrawan senior sangatlah penting, guna mempelajari segala sesuatu yang bisa dipetik dari seniornya tersebut, untuk diaplikasikan bagi generasi muda dalam kegiatan sastra di kesempatan berikutnya.

“Padahal kalau zaman dulu kalau ingin jadi penulis (sastrawan) yang handal, maka kita itu harus berguru ke penulis yang sudah punya nama. Jadi kita ikuti setiap kegiatan mereka ke mana-mana, sehingga nanti feel-nya (dalam membuat karya sastra) akan ketemu dengan sendirinya. Dan juga supaya yang sepuh-sepuh itu paham, bahwa eksistensi anak muda di bidang sastra itu memang masih tumbuh, begitu,” tambah Latief.

Ada pun salah satu upaya yang bisa dilakukan untuk menjembatani hubungan sastrawan lintas generasi tersebut, adalah dengan mengadakan semacam event sastra, atau perlombaan yang melibatkan generasi muda.

Seperti yang dilakukan oleh Dinas Kebudayaan DIY dengan program Temu Karya Sastra (TKS) selama lima tahun, serta event bulanan bernama Selasa Sastra, yang diselenggarakan di Bantul, dan seterusnya. (zk)

YOGYAKARTA – Di tengah arus modernisasi yang kian gencar seperti saat ini, salah satunya dengan kehadiran AI (Artificial Intelligence), membuat keberadaan sastra mulai dipertanyakan, dan tidak lagi dipandang sebagai sesuatu yang perlu dilakukan, apalagi dilestarikan kepada generasi selanjutnya.

Namun, sastra masih tetap memiliki tempat yang layak untuk generasi muda, karena sastra adalah cara bagi mereka untuk menyampaikan sesuatu, entah itu keluh kesah, curhat, kritik, pujian, dan lain sebagainya.

Bahkan melalui sastra, seseorang bisa lebih mudah dikenali oleh banyak orang, karena karya-karyanya yang mampu menggugah rasa penasaran, membangkitkan imajinasi, serta semangat untuk meniru atau melakukan, sesuai dengan karya sastra yang ditulis, dan seterusnya.

“Memang ada sesuatu yang harus disampaikan. Anda ingin menyampaikan sesuatu itu (dengan cara) apa? Yang menjadi identitas bagi karya Anda sendiri. Jadi kalau misalnya Anda punya obsesi berlebih di bidang kuliner, ya sudah tinggal dieksplorasi saja sampai tuntas di dalam karya sastra Anda. Sehingga Anda akan dikenal sebagai seorang penulis yang khas dengan tema-tema kuliner, seperti itu,” ucap sastrawan Satmoko Budi Santoso, dalam sesi diskusi bertajuk “Quo Vadis Sastrawan Muda Jogja”, merupakan bagian dari Festival Literasi Jogja 2026 yang digelar di Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah (DPAD), Yogyakarta, beberapa waktu lalu.

Dalam sesi bersama Satmoko Budi Santoso, ada juga sastrawan Latief Noor Rochmans dengan moderator Afifah Abasrin.

Satmoko menilai, bersastra adalah bagian dari memperjuangkan identitas seseorang, alias membangun personal branding.

Karena hal itu dapat mencerminkan pribadi dan karakter orang tersebut, untuk diperkenalkan kepada khalayak luas, sekaligus menjadi ciri khas yang terus dibawa hingga akhir hayat.

“Jadi menulis (sastra) itu memang memperjuangkan identitas. Karena bagi saya, karya sastra yang baik itu adalah yang mampu memotret jiwa zaman. Jadi jangan khawatir kita hidup di zaman apa pun, dan tidak usah pula membentur-benturkan dengan kondisi yang terjadi pada zaman tersebut (misalnya dengan hadirnya AI dan lain-lain). Karena di setiap zaman kita bisa memotretnya dengan baik (melalui tulisan karya sastra), apa saja hal yang menarik di zaman itu yang bisa diabadikan,” tambah Satmoko.

Dengan begitu, sastra adalah sesuatu yang selalu hidup di zaman apa pun, dalam kondisi apa pun, dan oleh siapa pun.

Karena hakikat dari sastra adalah memotret peradaban zaman, bukannya tenggelam oleh zaman, apalagi hanyut bersama zaman itu sendiri.

Tinggal bagaimana potret itu dilakukan, dan seperti apa dampak yang ditimbulkan kepada peradaban secara luas. (zk)

BANTUL – Tanaman pohon joho dikenal sebagai salah satu bahan pewarna batik alami, yang dapat menghasilkan batik berkualitas dan tahan lama hingga ratusan tahun.

Selain mampu menghasilkan warna batik yang awet dan berkualitas, tanaman joho (Jolaweni/Terminalia bellirica) juga dikenal mampu menghasilkan bahan obat-obatan herbal, jamu, serta memiliki nilai spiritual yang cukup tinggi.

Ketua Sanggar Wani Migunani, Awit Radiani, yang telah berhasil membudidayakan tanaman joho di kebunnya di kawasan Ambarbinangun, Kasihan, Bantul, mengatakan bahwa tanaman dari pohon joho memang memiliki banyak khasiat yang berfungsi untuk banyak hal. Serta mampu menjadi peluang ekonomi kreatif bagi banyak pihak, yang bersedia ikut membudidayakannya di halaman rumahnya masing-masing, dan sebagainya.

“Orang di Gunungkidul yang punya pohonnya (joho) itu ada yang menjual kulit buahnya. Kalau di pasar itu bisa laku 30 sampai 40 ribu untuk satu kilonya. Nah bijinya itu malah dibuang sama dia. Padahal kalau di India, biji kayak gitu tuh juga dipakai, karena itu adalah obat, jadi belleric oil namanya. Dan kalau dimakan pun enak loh, saya udah pernah nyobain juga,” ungkap Ketua Sanggar Wani Migunani, Awit Radiani, beberapa waktu lalu.

Awit menambahkan, beberapa pihak akhirnya mulai berkeinginan untuk mempelajari cara menanam atau membudidayakan pohon joho tersebut, karena adanya potensi ekonomi yang bisa dihasilkan dari sana.

“Mereka akhirnya juga pengin punya pohonnya di rumah, hehe. Pengin ikutan nanam (pohon joho) juga. Saya kan memang sengaja (memperlihatkan budidaya pohon joho supaya orang-orang tertarik). Ini kan bisa juga ditanam di rumahnya masing-masing, nanti sekitar enam sampai delapan tahun nanti berbuah. Nah buahnya nanti bisa dipakai untuk jamu, atau pewarna batik, atau kalau mau djiual ke pasar nanti juga pasti laku. Bahkan kalau mau diminum sendiri pun juga bisa, untuk pengobatan sendiri pun juga bisa, Itu kan sebenarnya juga (obat) pelangsing ya,” tambah Awit.

Meskipun memiliki nilai ekonomi yang cukup menjanjikan, namun Awit beserta Sanggar Wani Migunani belum berkeinginan untuk menjual hasil bibit tanamannya tersebut kepada masyarakat luas.

Karena baginya yang terpenting saat ini adalah bagaimana agar eksistensi pohon joho tidak segera punah, dan bisa ikut dibudidayakan oleh banyak orang, dan seterusnya. (zk)

BANTUL – Masyarakat masih belum banyak yang mengetahui, bahwa tanaman dari pohon joho bermanfaat sebagai pewarna batik alami, dan bisa bertahan hingga ratusan tahun lamanya. Termasuk di kalangan pembatik sekalipun.

Sanggar Wani Migunani, yang terletak di Ambarbinangun, Kasihan, Bantul, Yogyakarta, menjadi salah satu pihak yang berhasil menemukan cara membudidayakan pohon joho, setelah konsisten melakukan riset dan uji coba sejak 2020 lalu.

Kini, mereka telah berhasil menanam ribuan polybag tanaman joho, yang siap dibagikan kepada para pembatik di wilayah DIY, maupun masyarakat umum yang membutuhkan tanaman ini sebagai bahan utama pewarna batik.

Ketua Sanggar Wani Migunani, Awit Radiani, menjelaskan secara gamblang bagaimana tanaman joho tersebut sangat berkhasiat sebagai penghasil warna alami batik, serta mampu menghasilkan batik berkualitas tinggi dan awet hingga ratusan tahun.

“.Jadi kalau (budidaya pohon) joho ini, sekilo bahan itu bisa dipakai untuk tiga lembar kain (besar) aja. Dan kebun ini (Wani Migunani) adalah semacam laboratorium kita untuk menyimpan hasil baru yang kita ambil dari pohon joho di Gunungkidul dan juga di Bantul. Jadi kita di sini (Kebun Wani Migunani) banyak nanam tanaman yang untuk batik kayak lerak, terus Jati Afrika, dan lain-lain.

Setelah hampir setahun kita di sini (Kebun Wani Migunani), kita udah bisa numbuhin lumayan banyak. Walaupun ada juga satu-dua yang bijinya mati atau busuk ketika ditanam, itu udah biasa di sini. Karena si joho ini kalau ditanam tanpa perlakuan khusus, dia nggak akan mau tumbuh. Nah setelah kita kasih perlakuan khusus, misalnya cangkangnya dibuka dulu, terus kita kasih macam-macam obat, gitu ya. Ada ZPT, anti-jamur, dan segala macemnya, akhirnya dia mulai berangsur-angsur tumbuh dalam jumlah yang lebih banyak.

Beberapa orang itu ada juga yang sudah punya pohonnya (joho), tapi dia tidak bisa menumbuhkan. Sementara kita yang tidak punya pohonnya malah sudah bisa menumbuhkan sampai segini banyak,” ungkap Awit Radiani, beberapa waktu lalu.

Kombinasi Kaya Warna

Awit Radiani mengamati tanaman jati Afrika yang berasal dari pohon joho di Kebun Wani Migunani (Foto: Azka Qintory)

Dengan teknik tersebut, para pembatik dapat menciptakan kombinasi palet warna yang beragam, hanya dari satu sumber bahan alami, yakni pohon joho.

“Jadi dia (tanaman dari pohon joho) ini bisa jadi (menghasilkan warna) hitam. Warna aslinya sendiri begitu direbus, atau diambil ekstraknya begitu, itu warna aslinya adalah kuning kecoklatan. Terus ketika nanti difiksasi kan bisa dikasih tambahan kapur, dikasih tunjung, atau dikasih tawas, maka warnanya akan berubah lagi.

Kalau dikasih tawas akan sesuai warna aslinya, kalau dikasih tunjung nanti akan jadi abu-abu sampai hitam. Nah kalau dikasih kapur bakalan jadi coklat kemerahan. Jadi setiap pewarna alam itu bisa (berubah) menjadi banyak warna,” tambah Awit.

Dengan status Yogyakarta sebagai kota batik, Awit sangat menyayangkan apabila bahan pewarna alami dari sumber daya alam seperti pohon joho harus punah atau ditebang begitu saja oleh masyarakat ataupun pemerintah.

Karena batik tidak hanya soal kain serta motifnya saja, melainkan juga dari mana ukiran motif tersebut berasal. Apakah dari bahan pewarna alami seperti pohon joho, atau dari pewarna sintetis (kimiawi), seperti yang selama ini beredar di kalangan masyarakat, termasuk bagi para pembatik sekalipun.

Sehingga yang perlu dilestarikan tidak hanya kain dan motif batik saja, tapi juga bahan pewarna alaminya, yang kini sudah semakin langka, dan sulit ditemui di berbagai tempat. (zk)

BANTUL – Keberadaan pewarna batik alami kini semakin sulit ditemukan dalam kehidupan sehari-hari. Apalagi proses pembuatannya juga cenderung rumit, membutuhkan waktu yang cukup lama, serta masih kalah saing dengan pewarna sintetis atau printing.

Adapun salah satu sumber pewarna batik alami yang masih bisa dimanfaatkan adalah pohon joho. Pohon yang satu ini memiliki khasiat pewarna yang sangat baik untuk batik, sebagai salah satu warisan Nusantara yang telah diakui oleh UNESCO sejak 2009 lalu.

Dengan maraknya pewarna sintetis maupun printing, keberadaan pohon joho menjadi sangat penting untuk terus dirawat oleh masyarakat setempat. Apalagi jumlahnya juga terus menipis dalam beberapa tahun terakhir.

Salah satu pihak yang terbukti berhasil membudidayakan pohon joho sebagai pewarna batik alami adalah Sanggar Wani Migunani, yang berlokasi di Ambarbinangun, Kasihan, Bantul, Yogyakarta.

Mereka telah berhasil menemukan cara yang tepat untuk membudidayakan pohon joho, dan menanamnya kembali di kebun milik mereka. Sehingga khasiat dari pohon joho benar-benar mampu menghasilkan pewarna batik alami, sebagai bahan pewarna yang sangat dibutuhkan oleh para pembatik di Yogyakarta maupun seluruh Indonesia.

“Kita sudah selama dua tahun mulai melakukan penelitian dan ujicoba segala macem, yang dimulai dari Gunungkidul pada saat COVID. Kita dapet ada 10 pohon yang kebanyakan di sekitar makam, jadi usianya sudah pasti ratusan tahun. Jadi kita ambil bijinya dari pohon-pohon tersebut, untuk kemudian kita tanam di sini (Kebun Wani Migunani). Alhamdulillah di tahun ini kita sudah berhasil (menanam pohon joho),” ungkap Ketua Sanggar Wani Migunani, Awit Radiani, beberapa waktu lalu.

Awit pun merasa bahwa masyarakat (khususnya pembatik) sebaiknya mengikuti jejaknya dalam membudidayakan pohon atau tanaman joho di lingkungannya masing-masing.

Hal itu semata-mata agar keberlangsungan pohon joho tidak segera punah atau rusak (akibat ditebang dan lain-lain), sekaligus menjaga pewarna batik alami tetap lestari di tengah-tengah masyarakat pembatik di seluruh Nusantara. Alih-alih terus menggunakan pewarna sintetis atau printing dalam menghasilkan produk batik.

“Rencananya selain kita akan menanam (lebih banyak tanaman dari pohon joho di kebun), kita juga akan membagikan tanaman ini ke komunitas, pembatik, atau siapa aja yang mau nanam deh, ke sekolah kek, atau ke mana gitu, mau kita kasih, kita bagikan supaya nggak punah, gitu aja,” sambung Awit.

Awit pun mengaku belum memiliki keinginan untuk menjual tanaman joho tersebut kepada masyarakat. Karena yang terpenting baginya adalah bagaimana agar pohon joho tetap lestari, dan membawa manfaat bagi seluruh masyarakat, khususnya kalangan pembatik. (zk)