YOGYAKARTA – Komunitas Sakatoya akan menghadirkan proyek teater “Soerjopranoto: 6 Tubuh si Raja Mogok” yang akan dipentaskan selama enam hari, pada 3 s.d 8 Desember 2024 dalam enam situs di Yogyakarta dengan enam sutradara yang berbeda. Proyek teater yang didukung oleh Kementerian Kebudayaan melalui program Fasilitasi Bidang Kebudayaan Teater Kepahlawanan 2024 ini, akan menghadirkan teater situs spesifik dengan pengalaman imersif-partisipatoris yang dialami oleh penonton sebagai siasat mengalami biografi Soerjopranoto dan kelindan peristiwa yang menyertainya.

Teater situs spesifik adalah siasat mencipta karya pertunjukan di lokasi khusus yang mempunyai makna substansial dan kesejarahan tersendiri. Sedangkan, melalui pendekatan imersif-partisipatoris, para penonton akan mengalami keterlibatan yang mendalam sebagai bagian dari pertunjukan.

Konsep karya “Soerjopranoto: 6 Tubuh si Raja Mogok” akan menggunakan enam situs di Yogyakarta sebagai lokus pengetahuan yang merekam jejak perjalanan hidup Soerjopranoto dengan beragam pendekatan artistik, seperti: spekulasi fiksi, partisipatoris, aktivasi arsip dan reenactment sejarah.

Soerjopranoto adalah tokoh pahlawan negeri ini yang terlahir pada 11 Januari 1871 di lingkungan Puro Pakualaman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Sebagai bangsawan Jawa, ia adalah anak dari Kanjeng Pangeran Harya (KPH) Soerjaningrat, putra tertua dari Pakualam III, sekaligus kakak dari Ki Hajar Dewantara. Ia memanfaatkan privilesenya untuk membela kaum tertindas dengan cara bergabung di beberapa organisasi pemuda dan pekerja, seperti: Boedi Oetomo, Serikat Buruh Pegawai Negeri, hingga Sarekat Islam. Puncaknya adalah ia mendapat julukan “De Stakings Koning” alias Si Raja Mogok, karena berhasil mengorganisir aksi mogok kerja massal yang menjadi ancaman kolonial Belanda. Ia juga mendirikan sekolah Adhi Dharma yang membantu kelas pekerja dengan pendidikan keterampilan yang memiliki ribuan siswa. Soerjopranoto meninggal pada 15 Oktober 1959, dan dimakamkan di Makam Rachmat Jati, Kotagede, Yogyakarta. Sukarno pun menetapkan Soerjopranoto sebagai pahlawan nasional pada 30 November 1959.

Proyek teater ini akan melibatkan 120 partisipan setiap harinya yang berasal dari berbagai kalangan, seperti: para siswa sekolah, komunitas sejarah, persatuan tuna netra, akademisi, keluarga ahli waris, hingga serikat buruh dan perkumpulan guru. Para partisipan itu akan berperan sebagai spectactor, baik sebagai penonton maupun elemen pertunjukan. Setiap harinya, seluruh partisipan akan dikumpulkan di satu titik temu, untuk mengalami jelajah tiga situs dengan bersama-sama berangkat menuju lokasi situs menggunakan bus yang telah disiapkan.

Pertunjukan pembuka dari proyek teater ini telah dimulai pada 3 Desember lalu, dengan pertunjukan “R.M Soerjopranoto” di SMK Ibu Pawiyatan Tamansiswa yang disutradarai oleh Mifathul Maghfira Simanjuntak. Pertunjukan ini mengisahkan tentang biografi masa kecil Soerjopranoto yang dituturkan melalui perspektif sang istri, R.A Jauharin Insiyah.

Selanjutnya pada 4 Desember ada pertunjukan bertajuk “(Denmas Landung) Suryapranoto Bertukar Jalan” yang disutradarai oleh Irfanuddien Ghozali, sebagai tafsir ulang atas buku biografi Suryapranoto yang ditulis oleh Budiawan, “Anak Bangsawan Bertukar Jalan” (LKiS, 2006). Pertunjukan ini memadukan serangkaian praktik seni dan laku keseharian untuk mengonstruksi biografi Suryopranoto dalam bentuk kontemporer, kritis, dan reflektif yang akan digelar di 3 situs pengetahuan, seperti: Kompleks Makam Raja-Raja Mataram Islam Kotagede,

Lalu, pada 5 Desember ini, akan hadir pertunjukan “Via Soerjopranoto” yang disutradarai oleh Darryl Haryanto akan menggunakan Aula Boedi Oetomo di SMA N 11 Yogyakarta. Pertunjukan ini menitiktemukan ketidaksepakatan Soerjopranoto atas kongres pertama Boedi Oetomo mengenai kolonialisme, kapitalisme, dan feodalisme. Variabel itu menjadi landasan, lensa, sekaligus taktik untuk menjelajahi peta sosial-politik Indonesia hari ini dengan dipertemukan pada biografi dan realitas harian para perfomer.

Pada 6 Desember, dengan sutradara Gilang “Gilbo” dan asisten sutradara, Galuh Putri S. akan membawakan pertunjukan “Wiyata Adhi Dharma” di Rumah Suryoputran, Kalurahan Panembahan, Yogyakarta. Akan menghadirkan sebuah pertunjukan yang terinspirasi dari lembaga pendidikan Adhi Dharma, pertunjukan ini hendak menampilkan spekulasi fiksi dengan menghadirkan situasi kelas terbuka yang dapat memantik penonton mengalami pertunjukan secara langsung dan mendalam.

Selanjutnya, pada 7 Desember, pertunjukan “Vergadering Sarekat Islam (Suatu Hari Sebelum Indonesia)” dengan sutradara Shohifur Ridho’i yang bertempat di Amphitheatre TBY, akan menghadirkan pertunjukan spekulatif yang mereka ulang situasi kongres Sarekat Islam dengan menampilkan pemaparan Soerjopranoto atas hak-hak buruh dan feodalisme. Pertunjukan ini mengartikulasikan dinamika gagasan dan perdebatan di era pergerakan nasional.

Rangkaian proyek teater ini pun akan ditutup oleh pertunjukan “Merapal Piwulang Sampai Pulang” yang disutradarai Amalia Rizqi Fitriani, pertunjukan ini bertempat di Makam Rachmat Jati, Kotagede, Yogyakarta. Dengan menggunakan dramaturgi ziarah, pertunjukan ini akan menghadirkan narasi kebijaksanaan dari akhir hayat Soerjopranoto sebagai bentuk penghormatan, melalui bentuk ritual pemakaman yang menghadirkan pertunjukan ceramah, teater objek, doa bersama, hingga ziarah bergilir.

B.M Anggana, selaku Produser dan Dramaturg Soerjopranoto: 6 Tubuh si Raja Mogok ini menyampaikan bahwa: “proyek pertunjukan ini dirancang guna membicarakan kembali nilai-nilai perjuangan Soerjopranoto yang masihlah sangat relevan dengan dinamika hari ini, terutama terkait persoalan sosial-ekonomi yang dihadapi oleh kaum buruh dan pekerja di Indonesia.

Bentuk pertunjukan sendiri dipilih sebagai upaya untuk tidak memaksakan pemampatan biografi sejarah dalam satu durasi pertunjukan bernalar prosenium, yang acapkali mereduksi narasi kecil yang penting untuk dipercakapkan”, tutupnya. Komunitas Sakatoya berharap generasi muda dapat merasakan dan mengeksplorasi relevansi nilai-nilai Soerjopranoto dalam konteks Indonesia saat ini. Nilai-nilai keberanian dan keadilan yang mendorong peran individu dalam menciptakan perubahan sosial. Sekaligus, mendorong pembelajaran sejarah yang lebih hidup dan interaktif melalui teater, serta meningkatkan kesadaran akan pelestarian ruang publik dan situs bersejarah sebagai bagian aktif dari kehidupan kita yang memberikan edukasi dan refleksi masa kini. (zk)

Penampilan Frau membawakan empat lagu diiringi keybord yang diberi nama ‘Teddy’. Foto: Istimewa.

BANTUL – JT – Hujan deras yang mengguyur lapangan Taman Kuliner Imogiri sejak sore hari tak menyurutkan para sastrawan untuk tampil dalam agendaq Gelar Sastra Bantul 2024 pada Sabtu (30/11/24). Acara diselenggarakan oleh Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) Kabupaten Bantul melalui Bidang Sejarah, Permuseuman, Bahasa dan Sastra, Seksi Bahasa dan sastra.

Menurut Trijaka Suhartaka Kasie Bahasa dan Sastra, para penampil Gelar Sastra Bantul diambil dari berbagai komunitas seni berbasis bahasa dan Sastra yang ada di Kabupaten Bantul, seperti; Paguyuban Pendongeng Bantul, Angklung Gandhes Luwes Karangtalun Imogiri, Komunitas Teater Remaja Bantul ‘KomaTera’, Macapat Karna Laras, Mantra Surya Sakethi, Tari Golek Ayun-ayun, PSJB Paramarta, Musik Kepal SPI, Gerakan Literasi #SelasaSastra, Komunitas Sastra Bantul, Gamelan Puisi Omah Nglaras, dengan bintang tamu Frau dan Sri Redjeki.

Yanatun Yunadiana Kepala Dinas Kebudayaan Kabupaten Bantul dalam sambutannya mengatakan bahwa kegiatan ini merupakan upaya Kundha Kabudayan Bantul untuk melestarikan potensi kearifan lokal melalui kegiatan bahasa dan sastra, bahwa nilai-nilai luhur bisa diwariskan kepada generasi muda melalui sastra.

“Tradisi dan budaya masyarakat Bantul bisa diwariskan kepada generasi muda melalui bahasa dan sastra,” kata Yanatun Yunadiana.

Pada acara ini juga diselenggarakan peneguhan kepada para juara lomba bahasa dan sastra yang mewakili Kabupaten Bantul di kancah lomba DIY.

Penampilan Evi Idawati, Ikun Sri Kuncoro, Satmoko Budi Santoso. Foto: BTW.

Tedi Kusyairi yang ditunjuk sebagai sutradara pementasan, bersama Dinas Kebudayaan Kabupaten Bantul menguhubungi komunitas seni sastra yang ada di Bantul untuk bisa mempersiapkan diri dalam pementasan sastra tersebut.

“Proses latihan masing-masing penampil kira-kira satu bulan, ada yang kembali mementaskan naskah dan konsep yang pernah digarap, namun banyak juga yang membuat atau mengolah naskah baru, misalnya #SelasaSastra, KomaTera, Paramarta, Omah Nglaras, dan Komunitas Sastra Bantul membuat naskah sastra baru untuk dipentaskan. Maka sebelumnya mereka latihan secara kontinyu,” jelas Tedi yang sering menyambangi komunitas untuk latihan persiapan pentas Gelar Sastra Bantul.

Sri Redjeki menutup acara GSB 2024 dengan meriah. Foto: Istimewa.

Gelar Sastra Bantul 2024 mengangkat tema ‘Damai Sejuk Dalam Sastra’, sebanyak 13 kelompok penampil digelar hingga semua melaksanakan aksinya di atas panggung, semakin dinihari semakin meriah karena gerimis mulai reda.

Para sastrawan senior turut memeriahkan Gelar Sastra Bantul yakni Evi Idawati, Satmoko Budi Santoso, Ikun Sri Kuncoro yang diiringi musik oleh Doni dan Egi. Satmoko beberapa hari sebelumnya mendapatkan Anugerah Kebudayaan 2024 dari Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta. (QIN)

Para pelaku budaya penerima Anugerah Kebudayaan 2024. Foto: Istimewa

DIY – JT – Gubernur DIY menyerahkan secara langsung Anugerah Kebudayaan 2024 kepada 28 pelaku budaya, salah satunya sastrawan Satmoko Budi Santoso dari Komunitas Selasa Sastra, Bantul, Yogyakarta. Penyerahan Anugerah Kebudayaan 2024 kepada 28 pelaku budaya tersebut dilaksanakan di Bangsal Kepatihan, Kompleks Kantor Gubernur DIY, Kamis (30/11/2024) lalu.

Selain penyerahan Anugerah Kebudayaan 2024 kepada  sastrawan Satmoko Budi Santoso dari Komunitas Selasa Sastra, Bantul, Yogyakarta, juga kepada 27 pelaku budaya lainnya sesuai bidangnya masing-masing, yaitu: Soimah Pancawati, Daud Aris Tanudirdjo, Matheus Sal Murgiyanto, Agus Dermawan T, FM Djamis Carolina, Suharjoso SK, Nur Ahmadi, Abdul Rachman, Zainal Arifin, Wasiran, Theresia Mujinah, Suti Rahayu, Y. Sutopo, Priyana Jatmika Salim, RM Nurhadi, dan Y. Sumandiyo Hadi.

Selain itu ada juga Forum Film Dokumenter, RM. H. Gembong Danudiningrat, Bekti Budi Hastuti, Afif Syakur, Nyoman Kertia, Awit Radiani, Perpustakaan Universitas Sanata Dharma, Agus Budi Nugroho, Joko Kuncoro, Anom Sucondro, dan R Sujarwanto.

Menurut Gubernur DIY, Sri Sultan HB X, para penerima itu dianggap berhasil menciptakan harmoni antara tradisi dan inovasi di tengah tantangan modernitas.

“Hal ini sekaligus menjadi pengingat bahwa pelestarian budaya bukan hanya tugas pemerintah, tetapi juga tanggung jawab bersama masyarakat untuk menjaga kekayaan budaya Yogyakarta tetap hidup dan relevan,” papar Gubernur DIY.

Program Anugerah Kebudayaan sendiri memang digelar setiap tahun oleh Dinas Kebudayaan DIY. Menurut Kepala Dinas Kebudayaan DIY, Dian Lakshmi Pratiwi, penghargaan ini terbagi menjadi empat kategori utama.
Anugerah Maha Adi Dharma Budaya merupakan penghargaan tertinggi yang diberikan kepada individu dengan kontribusi di tingkat internasional. Anugerah Maha Bakti Budaya ditujukan bagi mereka yang berjasa di tingkat nasional dan regional. Sementara itu, Anugerah Adikara Cipta Budaya diberikan kepada pencipta karya budaya yang inspiratif. Terakhir, Anugerah Upakarya Budaya mengapresiasi individu atau lembaga yang berjasa di berbagai bidang kebudayaan.

Menurut Sastrawan Satmoko Budi Santoso sebagai salah satu penerima Anugerah Kebudayaan 2024 kategori Upakarya Budaya Bidang Sastra, program ini sangat bagus dan sudah selayaknya berlanjut.
“Sebab dari program semacam ini juga ikut membangun ekosistem berkebudayaan yang baik, sastrawan menjadi semakin terpacu untuk senantiasa berkarya,” tutur Satmoko Budi Santoso.

Karya-karya Satmoko Budi Santoso sendiri sudah beredar luas secara internasional. Cerpennya ada yang diterjemahkan dalam bahasa Inggris dan bahasa Slovenia. Buku kumpulan cerpennya Uang yang Terselip di Peci (2022) juga menjadi bahan pembelajaran bahasa Indonesia yang diajarkan Akiko Iwata, dosen Fakultas Bahasa Asing, Universitas Meijo, Nagoya, Jepang. Cerpen-cerpen Satmoko Budi Santoso memang khas ada yang mengangkat cerita soal wayang dan keris. (red)

Festival Sastra Yogyakarta (FSY) tahun 2024 yang berlangsung di Taman Budaya Embung Giwangan, kini telah memasuki hari kedua, Jumat (29/11/2024). Setelah hari pembuka kemarin diguyur hujan lebat, kali ini keadaan cuaca cukup mendukung, sehingga seluruh agenda kegiatan bisa terlaksana tanpa hambatan.

Berikut adalah sejumlah momen menarik yang terjadi dalam perhelatan FSY 2024 (foto: Azka)

YOGYAKARTA – Keberadaan sastra masih belum begitu digandrungi oleh masyarakat secara umum, termasuk generasi muda atau Gen Z. Hanya saja, sebagai “ibukota Sastra”, kota Yogyakarta tentunya perlu menggiatkan lagi kegiatan bersastra kepada masyarakat umum, agar dapat menjaga eksistensi sastra hingga ke generasi berikutnya.

Untuk itulah, Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta bersama stakeholder terkait, berinisiatif untuk menyelenggarakan kembali Festival Sastra Yogyakarta (FSY), yang akan berlangsung pada 28-30 November 2024 di Taman Budaya Embung Giwangan. Sebagai catatan, perhelatan FSY kali ini sudah memasuki tahun keempat (sejak tahun 2021).

Pada tahun keempat ini, FSY mengambil tema “Siyaga”, yang berarti selalu bersikap “Siyaga” (siap) dengan segala macam situasi dan perubahan yang terjadi di sekitar kita.

Kepala Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta, Yetti Martanti, mengungkapkan bahwa festival sastra ini selayaknya dapat menggairahkan lagi eksistensi sastra di kota Yogyakarta.

“Festival ini tentunya akan sangat bagus untuk meneguhkan kembali keberadaan sastra di Yogyakarta, apalagi kan kota Yogyakarta ini juga dijuluki sebagai “ibukota Sastra”,” ungkap Yetti dalam konferensi pers terkait FSY di Yogyakarta, Senin (25/11/2024).

Selain itu, menurut Yetti, event FSY tahun ini juga dapat menjadi kesempatan yang baik untuk meningkatkan literasi sastra di kalangan generasi muda, yang selama ini dianggap masih belum memadai.

Pemotongan tumpeng sebagai bagian dari rasa syukur Festival Sastra Yogyakarta yang masih eksis hingga tahun keempat (foto: Azka)

Sementara menurut Ketua Pawiyatan FSY 2024, Paksi Raras Alit, FSY merupakan momentum yang tepat untuk kembali menggiatkan sastra kepada masyarakat umum. Mengingat event-event bernuansa sastra masih cukup kurang di Yogyakarta ini, sekalipun Yogyakarta dijuluki sebagai “ibukota Sastra”.

“Sebenarnya kalo dilihat lebih jauh, event-event sastra yang bermunculan ini masih cukup kurang, apabila dibandingkan dengan event-event seni pertunjukan seperti musik dan sebagainya, yang dalam seminggu bisa ada 5-7 kali. Sementara event sastra yang aslinya merupakan pokok pengetahuan dalam urusan kebudayaan, justru hanya ada sedikit, padahal ini sangat penting sekali untuk terus eksis,” ucap Paksi pada kesempatan yang sama.

Sedangkan Direktur Artistik FSY, Hendra Himawan, menegaskan bahwa perhelatan FSY tahun ini akan lebih mendekatkan diri dengan kehidupan masyarakat, dalam artian kebutuhan utama masyarakat terkait literasi dan sastra, akan ditampilkan selama tiga hari perhelatan FSY 2024.

“Salah satu yang kita tonjolkan adalah Pasar Buku Sastra, karena meskipun katanya minat baca buku itu terus menurun, tapi nyatanya menurut mereka (para produsen buku cetak, red) penjualan buku justru mengalami peningkatan, terlebih setelah pandemi. Nah ini yang ingin kita perdalam lagi seperti apa realitanya,” kata Hendra Himawan.

Selain acara konferensi pers, momen ini juga dimanfaatkan untuk melaksanakan tradisi Tumpengan sekaligus doa bersama, guna merayakan keberhasilan FSY yang masih eksis hingga tahun keempat. (zk)

KULON PROGO – JT – Sebagai sebuah komunitas sastra di Kulon Progo, Regas pada hari Sabtu (23/11/2024), mengadakan puncak acara HUT ke-3. Kegiatan berlangsung meriah dan mengesankan. Kegiatan dimulai dengan pembukaan, dilanjutkan sambutan-sambutan, launching buku antologi karya, pemotongan tumpeng, bincang sastra, penampilan sobat regas dan penyerahan hadiah Olimpiade Puisi Regas tingkat DIY.

Perayaan HUT Regas diawali dengan pemotongan tumpeng. Tumpeng dipotong oleh ketua regas lalu diberikan kepada pembina-pembina regas, salah satunya adalah Bang Tedi Kusyairi. Selanjutnya juga ada prosesi peluncuran buku antologi karya para peserta Olimpiade Puisi Regas tingkat DIY.

Untuk meningkatkan kesadaran terhadap literasi, komunitas regas juga mengadakan bincang sastra. Bincang sastra dimoderatori oleh Mufti Putri, seorang anggota regas dan Duta Pemuda Kulon Progo. Sedangkan narasumber yang bertugas adalah Ibu Barokatussolihah, S. Ag., M. Si dan Bapak Ngadiri, S. Pd., M. Pd. Bincang sastra membahas tentang peningkatan literasi, peran sastra dan motivasi untuk bersastra.

“Perayaan HUT sebagai wujud syukur dan apresiasi kepada Regas. Semoga dengan rangkaian perayaan HUT regas dapat memberikan inspirasi dan manfaat,” kata Tri Wahyuni Ketua Regas.

Seperti halnya tema perayaan yaitu ‘Aku, kamu dan Regas’. Semoga 3 tahun Regas dapat memberikan kesan dan manfaat khususnya dalam bidang sastra. Semoga regas selalu jaya! (tks)

Kota Yogyakarta – JT – Civitas di Griya Abhipraya melahirkan kelompok nulis pada senin (18/11/2024) di sekeretariat Jln. Pangurakan 1, Titik 0, Prawirodirjan, Gondokusuman, Kota Yogyakarta.

Pertemuan perdana berupa workshop menulis, menandai lahirnya Abhipraya Writing Club, dimana peserta merupakan klien pemasyarakatan yakni mantan napi, salah satunya ada yang baru seminggu kluar penjara sehingga belom mau difoto dalam kegiatan tersebut.

“Jumlah peserta perdana sejumlah 5 orang, terdiri dari 2 cowok, dan 3 cewek,” kata Awit Radiani selaku narasumber.

Kedepannya acara akan diselenggarakan secara rutin di Griya Abhipraya Purbonegoro. Agenda ini atas kolaborasi Sanggar Wani Migunani dan Bapas Kelas 1 Yogyakarta, dibimbing secara rutin oleh Awit Radiani, cerpenis.

Acara dibuka oleh Dandy Dhermawan, Kanwil Kemenkumham DIY, dan Ketua Komunitas Budaya GAP. Dengan penekanan kegiatan berupa praktek nulis cerpen.

“Setelah pemaparan mengenai cerpen, kemudian dikasih tema diteruskan dengan menulis dalam blocknotes yang sudah dibagikan,” ujar Awit.

Karya kemudian dibacakan sebagai review atas tulisan berbasis tema. Untuk pertemuan selanjutnya peserta diberi tugas menulis karya 500 kata, dengan tema ‘ikan’.

“Targetnya ya akan menerbitkan buku, masuk media, bisa jadi penulis handal,” harap Awit.

Harapannya Abhipraya Writing Club bisa menjadikan menulis bisa juga jadi peluang penghasilan dalamhidup, healing, dan juga terapi jiwa bagi peserta. (atg)

BANTUL – JT – Dalam rangka memperingati satu tahun berdirinya Teman Berjalan, Komnitas ini menggelar acara penanaman pohon dengan tema SHIELD (Selepamioro Hijaukan untuk Inisiatif Erosi dan Lingkungan dapat Terlindungi) pada hari Minggu (17/11/2024) di Selopamioro, Yogyakarta. Acara ini dihadiri lebih dari 100 peserta, 7 kolaborator komunitas yang selaras, serta 7 sponsor yang mendukung kegiatan tersebut, El Hotel Yogyakarta menjadi sponsor utama dalam acara ini.

Acara ini dimulai dengan sambutan dari Kepala Dusun Lemah Rubuh, Lumadi menyambut baik kegiatan penghijauan yang dilaksanakan oleh Teman Berjalan. Dalam sambutannya, Lumadi menekankan pentingnya kolaborasi antara masyarakat dan berbagai pihak untuk menjaga kelestarian lingkungan, khususnya di kawasan Sungai Oyo yang rawan erosi.

Sebagai bagian dari kegiatan puncak perayaan 1 tahun Teman Berjalan, peserta diajak untuk menanam 60 pohon Trembesi di sepanjang dataran Sungai Oyo. Pohon Trembesi dipilih karena kemampuannya dalam menahan erosi tanah, serta memberikan kontribusi positif bagi ekosistem lokal. Penanaman pohon ini menjadi simbol komitmen untuk melestarikan alam dan mengurangi dampak kerusakan lingkungan akibat erosi yang dapat mengancam kawasan tersebut.

Tema SHIELD yang diusung oleh Teman Berjalan menggambarkan upaya perlindungan terhadap lingkungan melalui penghijauan yang dapat menanggulangi erosi dan menjaga keberlanjutan alam. Dalam kesempatan ini, para peserta juga diajak untuk lebih peduli terhadap kondisi lingkungan dengan melakukan tindakan nyata, seperti penanaman pohon dan pengurangan sampah plastik.

Salah satu agenda menarik lainnya dalam acara ini adalah talkshow yang diadakan setelah penanaman pohon. Talkshow ini diisi oleh Emi Handayani dari Yayasan Bavana Foundation dan Wahyu Purwandono dari Agromulyo, yang membahas langkah-langkah konkret yang bisa diambil oleh masyarakat untuk menjaga keberlanjutan alam. Diskusi ini dimoderatori oleh Felix Krisnugroho, yang dengan cerdas mengarahkan percakapan untuk menggali solusi-solusi praktis dalam mengatasi isu-isu lingkungan yang semakin mendesak.

Dalam sambutannya, Project Manager Teman Berjalan, Muhammad Fahrezzy, menyampaikan bahwa acara ini bukan hanya sekadar perayaan, tetapi juga sebagai bentuk penghormatan terhadap hari-hari bersejarah di Indonesia.

“Tanggal 28 Oktober adalah Hari Sumpah Pemuda, 10 November adalah Hari Pahlawan, dan 17 November adalah Hari Pahlawan kita untuk melestarikan bumi. Mari bersama-sama kita menjadi pahlawan lingkungan dengan tindakan nyata dalam menjaga kelestarian alam,” tegasnya.

Salah satu hal yang patut dicatat dalam acara ini adalah upaya untuk mengurangi sampah plastik. Pada sesi snacking, para peserta dan relawan diharapkan membawa tumbler dan kotak makan pribadi sebagai bagian dari komitmen untuk minim plastik. Hal ini sejalan dengan visi Teman Berjalan untuk menciptakan acara yang ramah lingkungan dan mendukung gaya hidup yang lebih berkelanjutan.

Acara ini juga didukung oleh 7 sponsor yang berpartisipasi dalam mendanai dan menyediakan sumber daya untuk kelancaran acara. Dengan dukungan penuh dari berbagai pihak, kegiatan ini berjalan dengan lancar dan berhasil menginspirasi para peserta untuk lebih peduli terhadap pelestarian lingkungan.

Para peserta dan relawan yang hadir, yang terdiri dari berbagai kalangan masyarakat, sangat antusias mengikuti kegiatan ini. Mereka berharap bahwa inisiatif seperti ini dapat berlanjut dan memberikan dampak positif jangka panjang bagi Selopamioro dan Yogyakarta, serta mendorong lebih banyak orang untuk ikut berperan dalam menjaga bumi.

Dengan suksesnya acara ini, Teman Berjalan berharap dapat terus melibatkan lebih banyak individu dan komunitas dalam upaya pelestarian bumi serta menjadikan kegiatan penghijauan sebagai bagian dari gaya hidup sehari-hari. (daf-red)

BANTUL – JT – Ditengah perkembangan dunia digital saat ini, keterbukaan informasi sangat membantu untuk mendapatkan dan mempublikasikan suatu informasi. Saat ini media sosial (medsos) digunakan sebagai wadah untuk mendapatkan dan menyebarkan informasi. Contohnya yaitu swbagai media promosi, media edukasi, media hiburan dan lain sebagainya.

Guna mendukung diseminasi informasi pembangunan di Kabupaten Bantul, untuk kesekian kalinya Dinas Komunikasi dan Informatika (Kominfo) Kabupaten Bantul menggadakan kegiatan Forum Grup Discussion (FGD) pegiat media sosial yang ada di Kabupaten Bantul dan sekitarnya bersama Sekertaris Daerah Kabupaten Bantul di Pendopo Simak Guest House, Panggungharjo, Sewon, Bantul, pada hari Minggu, 10 Novemeber 2024. Kegiatan ini dihadiri kurang lebih 30 orang pegiat media sosial atau akun media sosial.

Kepala Bidang Pengelolaan Informasi dan Komunikasi Publik DisKomifo Kabupaten Bantul, Arif Darmawan, S.STP. menyampaikan bahwa kegiatan ini bertujuan untuk mengajak para pegiat media sosial yang ada di Bantul dan sekitarnya untuk bersinergi dengan Pemerintah Kabupaten Bantul untuk diseminasi informasi sekitar Kabupaten Bantul ke Khalayak luas.

“Perkembangan penyebaran informasi yang sangat terbuka saat ini, menurut kami penggunaan medsos merupakan cara yang efektif,”kata Arif.

Peran para pegiat medsos ini sangat penting sekali. Untuk itu, kami mohon untuk selalu bersinergi untuk ikut menyebarkan perkembangan pembangunan di Kabupaten Bantul, dan juga ikut mempromosikan potensi-potensi lokal yang ada di Kabupaten Bantul seperti kuliner, wisata, seni, budaya dan lain sebagainya.

“Kuliner yang viral, wisata yang ramai dikunjungi wisatawan merupakan hasil dari peran para pegiat medsos dalam mempromosikannya,” imbuhnya.

Sekretaris Daerah Kabupaten Bantul, Agus Budiraharja, SKM, M.Kes. menyampaikan bahwa, belum lama ini Kabupaten Bantul berhasil memperoleh Penghargaan Bhumandala Kanaka (Emas) kategori simpul jaringan dalam Penganugerahan Bhumandala Award Tahun 2024.

“Saya sepakat dengan Mas Arif, bahwa peran pegiat media sosial dalam penyebaran informasi tentang Kabupaten Bantul sangat penting sekali sehingga dapat menentukan langkah-langkah yang akan dilakukan suatu pemerintahan,” kata Agus.

Harapan Agus semoga jagongan santai ini harapannya bisa menjadikan sinergitas antara Pemkab Bantul dengan para pegiat media sosial bisa ditingkatkan dan menjadi lebih baik lagi demi kemajuan Kabupaten Bantul. (red)

BANTUL – Bagi anda yang gemar menulis, maka anda harus melakoni kegiatan ini secara konsisten, terus-menerus, dibaca lagi, diteliti lagi, dan yang paling utama adalah tidak bisa hanya dilakukan semaunya saja, apalagi jika anda ingin menjadikan kegemaran ini sebagai sesuatu yang menghasilkan pundi-pundi uang.

Begitulah kurang lebih intisari dalam Workshop Pembinaan Sastra 2024 “Penulisan Essai” yang digelar oleh Dinas Kebudayaan Kundha Kabudayan Bantul melalui Dana Keistimewaan, di Aula Balai Desa Trimulyo, Jetis, Bantul, Rabu (6/11/2024).

Dalam kesempatan tersebut, turut hadir Octo Lampito selaku Pemimpin redaksi Kedaulatan Rakyat (KR) dan sastrawan Jawa Sarworo Soeprapto sebagai narasumber yang menyampaikan tentang penulisan essai dan seluk-beluk di dalamnya.

Dalam pemaparannya, Octo Lampito menyampaikan bahwa dalam menulis essai itu boleh menggunakan opini pribadi, namun harus didukung oleh data yang memadai.

“Ketika menulis itu kita harus banyak-banyak menggunakan data (yang akurat), meskipun masih diperbolehkan menggunakan opini pribadi. Namun pastikan bahwa opininya itu juga kuat, bukan cuman asal-asalan,” ujar Octo kepada para peserta workshop penulisan essai, Rabu (6/10/2024).

Sementara Sarworo yang lebih fokus ke penulisan sastra Jawa, menilai bahwa penulisan essai akan sangat menarik, jika mampu melibatkan masyarakat lokal, khususnya yang berkaitan dengan sejarah.

“Sehingga disini mereka (masyarakat lokal) tidak hanya bertindak sebagai penonton di wilayahnya sendiri, tapi juga diberdayakan agar ikut andil dalam menghasilkan tulisan yang dapat dibaca generasi setelahnya,” kata Sarworo.

Bukan tidak mungkin, hasil workshop kali ini akan menghasilkan penulis essai baru di masa mendatang, yang bisa meraup cuan sekaligus terkenal di media massa. (zk)