YOGYAKARTA – Generasi muda Yogyakarta kini semakin banyak diberikan kesempatan untuk berkarya di bidang industri kreatif, salah satunya dalam peresmian program “Muda-Mudi Kreatif Jogja 2026” yang digelar di Jawir Creative Communal Space, Minggu (30/11/2025). Program ini dirancang sebagai ruang aktualisasi diri sekaligus peluang bagi anak-anak muda yang ingin menembus dunia industri kreatif.

Dengan tema “Merajut Ekosistem Kreatif Jogja melalui Kolaborasi Hexa Helix”, program ini menekankan pentingnya kerja sama antara kampus, seniman, startup, media, pemerintah, investor, hingga masyarakat dalam mendukung kreativitas anak muda, agar dapat menghasilkan karya yang memiliki nilai ekonomi.

Dua sosok muda, Tsaqif Al Adzin Imanulloh dan Nidhana Raisa Sabikah, resmi dipilih sebagai Icon Pertama Muda-Mudi Kreatif Jogja 2026. Pengukuhan mereka dilakukan melalui prosesi penyelempangan oleh Mohammad Sofyan, Ketua Komisi B DPRD Kota Yogyakarta, dan Iwan Pramana, Kepala Bidang Pengembangan Ekonomi Kreatif Dinas Pariwisata DIY.

Dalam sambutannya, Mohammad Sofyan menyampaikan bahwa potensi anak muda Jogja sudah diakui secara nasional, tetapi perlu dukungan dari berbagai pihak agar bisa terus berkembang.

“Jogja itu gudangnya talenta kreatif. Maka dari itu kami ingin memberi lebih banyak ruang agar anak-anak muda ini bisa menembus pasar kreatif yang lebih luas,” katanya, Minggu (30/11/2025).

Acara ini merupakan salah satu rangkaian dari Otentik The Show #2, sebuah ruang untuk mengapresiasi para model, desainer, make up artist (MUA), dan pelaku kreatif lainnya.

Kehadiran program Muda-Mudi Kreatif Jogja ini diharapkan menjadi wadah munculnya generasi kreatif baru yang tidak hanya sekedar berkarya, tetapi juga mampu membangun dampak ekonomi bagi masyarakat di lingkungan sekitarnya.

Citizen Journalism by: Tsaqif Al Adzin Imanulloh

Redaktur: Azka Qintory

SLEMAN – Hari Minggu tanggal 30 November 2025 menjadi enkulturasi kedua di Gereja Paroki Santo Mikael Pangkalan-Adisutjipto, dalam rangka Misa Mingguan Berbahasa Jawa dengan Iringan Gamelan dan Tarian.

Sebagai satu-satunya Gereja Katolik yang berada di Lingkup Militer Yogyakarta, tepatnya di Kompleks TNI AU Adisutjipto, pihak Gereja Paroki Santo Mikael tetap berupaya untuk selalu nguri-nguri kabudayan Jawa. Salah satunya dengan mengadakan perayaan ekaristi diiringi gamelan berbahasa Jawa yang dibawakan oleh orang dewasa, yang sudah eksis sejak 2022 silam.

Namun, memasuki tahun 2025 ini, perayaan Ekaristi bahasa Jawa kini tidak hanya diiringi oleh gamelan dewasa (Ngesthi Pada), tapi juga turut diiringi oleh gamelan anak, dilengkapi dengan tarian pengiring yang juga berasal dari anak-anak.

Hal ini menggambarkan implementasi kebudayaan (Jawa) dalam bidang keagamaan, termasuk dalam lingkup militer sekalipun.

 

Keindahan budaya dalam Ekaristi ini dipercantik dengan adanya para penari cilik yang dengan semangat mempersembahkan diri dalam wujud tarian sederhana yang memukau. Hal ini dapat menumbuhkan cinta budaya (tari dan kostum budaya) yang diusung dalam Ekaristi. Sehingga tarian tidak hanya dinikmati sebagai tontonan di luar liturgi (ibadah), tetapi dapat dikolaborasikan dalam perayaan Ekaristi dengan penyesuaian alur, agar tidak mengganggu proses liturgi Ekaristi.

Hal yang unik dalam enkulturasi Ekaristi kali ini adalah hadirnya dua lagu (Persembahan ‘Atur Pisungsung’ dan Bapa Kami) yang diberi sentuhan budaya Sunda yang dipersembahkan oleh niyaga dewasa (Ngesthi Pada). Selain itu, lagu Penutup ‘Gusti Jeksa Kawula’ juga diberi sentuhan budaya Bali yang dipersembahkan oleh niyaga anak.

Keanekaragaman yang disatukan dalam rangkaian Ekaristi ini semakin menambah kekayaan dan kecintaan terhadap budaya Indonesia.

Harapannya perayaan Ekaristi enkulturasi ini dapat membantu semua umat dalam meningkatkan kekhusyukan berdoa, jauh lebih dalam merasakan kehadiran Tuhan, dan terus mencintai budaya Jawa. (zk)

YOGYAKARTA – Menyambut kelulusan kelas OtentikLab Batch 2 dan 3, OtentikLab akan merayakan keberhasilan mereka dengan menggelar Otentik The Show #2 yang akan berlangsung pada Minggu (30/11/2025) di Jawir Creative Communal Space.

Selain sebagai perayaan kelulusan, acara ini juga menjadi bentuk penghargaan terhadap kreativitas para desainer di industri fashion lokal.

Founder OtentikLab, Aji Bayu, menuturkan bahwa acara ini adalah medium yang tepat bagi para desainer, untuk dapat menyampaikan identitas dan cerita melalui hasil karya mereka, tidak hanya menyiapkan busana yang siap pakai.

“Kami ingin menjadikan panggung ini sebagai tempat bertemunya gagasan dan ekspresi. Setiap karya desainer membawa cerita tersendiri, dan kami merasa bangga dapat memberikan ruang untuk itu,” papar Aji

Sementara itu Show Director Otentik The Show #2, Agus Pratitis, menambahkan bahwa kontribusi para desainer dalam acara ini menjadi elemen penting, yang dapat melengkapi pertunjukan secara keseluruhan.

“Banyak desainer yang menghadirkan karya dengan detail dan karakter kuat. Melalui acara ini, kami ingin memberi bentuk apresiasi yang nyata terhadap upaya dan kreativitas mereka,” ungkapnya.

Acara ini juga akan melibatkan puluhan model, yang akan memperagakan karya desainer bertajuk “Pop Out: The Casual Street Parade”. Tema tersebut diusung sebagai bentuk pendekatan visual yang memadukan unsur streetwear dengan gaya presentasi yang lebih bebas dan ekspresif.

Pertunjukan ini dijadwalkan berlangsung mulai pukul 14.00 WIB dan terbuka untuk umum.

Penyelenggara berharap acara ini dapat menjadi ruang perjumpaan antara desainer, model, penikmat fashion, dan komunitas kreatif.

Melalui semangat kolaborasi dan apresiasi, Otentik The Show #2 diharapkan menjadi salah satu panggung penting yang memperlihatkan kekayaan ide kreatif di Yogyakarta.

 

Jurnalis: Tsaqif Al Adzin Imanulloh

Redaktur: Azka Qintory

BANTUL – Event musik jazz bertajuk Ngayogjazz kembali hadir pada tahun 2025 ini, tepatnya pada Sabtu (15/11/2025). Mengusung tema “Jazz Diundang Mbokmu”, perhelatan Ngayogjazz kali ini adalah yang ke-19 kalinya sejak pertama kali diselenggarakan pada tahun 2007 silam.

Pada edisi ke-19 atau tahun 2025 ini, Ngayogjazz mengambil tempat di perkampungan warga yang berada di Dusun Paduresan, kecamatan Imogiri, kabupaten Bantul. Lokasi ini memang sengaja dipilih untuk bisa lebih mendekatkan musik jazz dengan masyarakat lokal, sejalan dengan ciri khas Ngayogjazz sendiri yang selalu berusaha memperkenalkan musik jazz ke semua kalangan, tidak sekedar penikmat musik saja.

Mengusung konsep pesta rakyat, Ngayogjazz tidak hanya menampilkan pertunjukan musik jazz saja, tapi juga banyak acara menarik lainnya, seperti bazaar dari beberapa produk, jajanan kuliner, fun games, dan lain sebagainya.

Board of Creative Ngayogjazz 2025. Aji Wartono, mengakui event Ngayogjazz ini banyak diminati oleh kalangan musisi jazz muda, yang kebetulan juga ingin menampilkan karyanya secara langsung kepada publik.

“Kita sangat mendorong kehadiran para musisi muda di Ngayogjazz kali ini, agar sekaligus menjadi bagian dari regenerasi musisi jazz baru. Itu akan selalu kita dorong ke depannya (agar Ngayogjazz menjadi wadah musisi baru bermunculan, red),” tutur Aji Wartono dalam keterangannya sebelum acara Ngayogjazz dimulai, Sabtu (15/11/2025)

Adapun beberapa musisi jazz yang tampil dalam Ngayogjazz 2025 ini antara lain Etawa Jazz Society, Bulan Jingga, Avner Winatra Quartet, Doa Sore, dan masih banyak lagi. Mereka tampil di beberapa panggung yang berbeda, seperti Panggung Ibu, Panggung Simbok, Panggung Biyung, dan Panggung Simak. Banyaknya panggung yang tersedia memungkinkan lebih banyak musisi yang terlibat, sekaligus memberi kesempatan pada masyarakat untuk menonton musisi favorit mereka, sambil menikmati kegiatan menarik lainnya yang tersedia dalam event Ngayogjazz 2025.

Lebih lanjut, Aji juga mengajak masyarakat Imogiri dan sekitarnya untuk berpartisipasi aktif dalam kegiatan Ngayogjazz ini, karena pada dasarnya kegiatan ini adalah kerja kolaboratif antara Ngayogjazz dan masyarakat Paduresan, Imogiri selaku tuan rumah.

Salah satu penonton Ngayogjazz, Livia, bahkan datang jauh-jauh dari Prancis untuk bisa menyaksikan langsung perhelatan Ngayogjazz 2025 di Imogiri, Bantul. Ia mengaku terkesan dengan pengalaman menyaksikan pertunjukan jazz di tengah perkampungan seperti ini.

“Pengalaman yang menyenangkan bisa menyaksikan event musik jazz yang terbagi dalam beberapa lokasi yang berbeda, panggung yang berbeda, banyak makanan disini, musik disini sangat menarik dan orang-orangnya juga ramah,” ujar Livia kepada SPJ.com, Sabtu (15/11/2025).

Livia pun mengaku ingin lebih banyak mengeksplor acara musik yang ada di Indonesia, mengingat Ngayogjazz 2025 adalah event musik pertama yang ia kunjungi sejak datang ke Indonesia beberapa bulan lalu.

Hal senada juga diungkapkan penonton lainnya bernama Iwan, yang berasal dari Medan. Ia mengaku terkesan dengan pengalamannya menyaksikan Ngayogjazz 2025 dengan nuansa pesta rakyat semacam ini. Bahkan ia berharap agar ada acara dengan konsep serupa di daerah asalnya. (zk)

BANTUL – Tahun ini, event Ngayogjazz memasuki edisi ke-19 sejak pertama kali digelar pada 2007 silam. Kawasan perkampungan di Dusun Paduresan Imogiri dipilih menjadi venue acara yang berlangsung pada Sabtu (15/11/2025) tersebut.

Ngayogjazz 2025 tidak hanya sekedar pertunjukan musik jazz, melainkan juga pesta seluruh lapisan masyarakat, khususnya di Imogiri, untuk bersama-sama merayakan akhir pekan dengan menikmati musik jazz, sekaligus melakukan aktivitas seru lainnya bersama keluarga maupun orang terdekat.

Berikut adalah cuplikan beberapa momen menarik dalam Ngayogjazz 2025 yang berlangsung di Dusun Paduresan, Imogiri, Bantul, Sabtu (15/11/2025). (foto: Azka Qintory)

SLEMAN – Menghadapi meningkatnya potensi bencana hidrometeorologi pada puncak musim hujan, Polda Daerah Istimewa Yogyakarta menggelar Apel Kesiapsiagaan Tanggap Darurat Bencana di Stadion Maguwoharjo Sleman, Rabu (5/11/2025).

Apel dipimpin oleh Wakapolda DIY Brigjen Pol Eddy Djunaedi, S.I.K., dan dihadiri _Stakeholder_ terkait antara lain dari unsur TNI, Basarnas, BPBD, Dinas Kesehatan, Dinas Sosial, PMI, Satpol PP, Damkar, Tagana dan  relawan bencana serta para Pejabat Utama Polda DIY.

Kegiatan ini dilaksanakan serentak di seluruh Indonesia sebagai tindak lanjut arahan Kapolri Jenderal Polisi Drs. Listyo Sigit Prabowo, M.Si., yang menekankan pentingnya kesiapan personel dan sarana prasarana dalam menghadapi ancaman bencana alam di masa peralihan cuaca ekstrem.

“Apel ini merupakan bentuk pengecekan terhadap kesiapan personel maupun sarana prasarana dalam pencegahan dan penanggulangan bencana alam. Diharapkan seluruh unsur dapat bersinergi secara sigap, cepat, dan tepat dalam menghadapi berbagai potensi bencana demi menjamin terlindunginya keamanan dan keselamatan masyarakat,” demikian amanat Kapolri yang dibacakan oleh Wakapolda DIY.

Kapolri dalam amanatnya juga mengingatkan bahwa Indonesia menempati peringkat ketiga negara dengan potensi bencana alam tertinggi di dunia, berdasarkan laporan World Risk Index 2025. Hingga 19 Oktober 2025, BNPB mencatat 2.606 kejadian bencana, mulai dari banjir, cuaca ekstrem, kebakaran hutan dan lahan, tanah longsor, hingga erupsi gunung berapi.

Sementara itu, data BMKG menunjukkan bahwa 43,8 persen wilayah Indonesia telah memasuki musim hujan, dengan puncak curah hujan diperkirakan terjadi antara November 2025 hingga Februari 2026. Kondisi ini berpotensi meningkatkan risiko bencana hidrometeorologi seperti banjir, tanah longsor, angin puting beliung, dan gelombang tinggi, termasuk di wilayah DIY.

“Perkiraan BMKG terkait fenomena La Niña kategori lemah akan mulai terjadi pada November hingga Februari mendatang, yang dapat memperkuat intensitas hujan di wilayah selatan Indonesia”, ujar Kapolri dalam amanatnya.

Lebih lanjut, Kapolri menekankan bahwa kecepatan dan ketepatan respons merupakan kunci keberhasilan penanganan bencana.

“Karena itu, seluruh unsur TNI–Polri, pemerintah daerah, dan lembaga terkait diminta untuk meningkatkan koordinasi, simulasi tanggap darurat, serta memastikan kesiapan logistik dan peralatan evakuasi”, pungkasnya.

Sementara itu Kabidhumas Polda DIY, Kombes Pol Ihsan, S.I.K., saat ditemui awak media menyampaikan bahwa usai pelaksanaan apel, Wakapolda DIY bersama unsur Forkopimda melakukan pengecekan langsung terkait kesiapan personel serta sarana dan prasarana yang akan digunakan dalam pencegahan dan penanggulangan bencana di wilayah DIY.

Kombes Pol Ihsan juga menegaskan pentingnya kewaspadaan dan kesiapan seluruh lapisan masyarakat dalam menghadapi potensi bencana di musim hujan. Dirinya menekankan bahwa keberhasilan upaya pencegahan dan penanggulangan bencana tidak hanya bergantung pada kesiapan petugas dan sarana prasarananya, tetapi juga pada peran aktif masyarakat dalam menjaga lingkungan serta peka dan tanggap terhadap peringatan dini.

“Kami mengimbau seluruh masyarakat untuk selalu waspada terhadap potensi bencana di lingkungan masing-masing, serta apabila terjadi bencana agar selalu mematuhi imbauan dan petunjuk dari pemerintah dan petugas di lapangan,” pungkasnya. (zk)

KULON PROGO – Komunitas Sastra Regas adalah organisasi kepemudaan di bidang sastra yang aktif berkegiatan di Kulon Progo. Sebagai komunitas yang fokus di bidang sastra, Regas memberikan ruang kepada anak-anak, remaja hingga pemuda untuk mengenal, mempelajari dan melestarikan sastra. Seperti halnya yang dilakukan pada Selasa (4/11/2025) kemarin, dimana komunitas sastra Regas sukses mengadakan lomba baca puisi anak tingkat kabupaten Kulon Progo tahun 2025.

Lomba baca puisi anak ini diadakan dalam rangka memeriahkan Festival Literasi Kulon Progo 2025, dimana komunitas sastra Regas bekerja sama dengan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kulon Progo.

Terdapat total 50 peserta yang berpartisipasi dalam lomba ini, dengan para Juri yang diwakili oleh Hayu Avang Darmawan (Dinas Kebudayaan DIY), Tedi Kusyairi (Sastrawan Jogja), dan Dwi Riswanto (Pustakawan Kulon Progo).

Adapun beberapa unsur yang dinilai dalam lomba baca puisi ini antara lain berdasarkan penghayatan, vokal, gestur dan juga penampilan. Setelah melalui sidang juri, diputuskan juara satu diraih oleh Angger Abdhe Amiluhur dari SD Muhammadiyah Temon, Juara dua atau runner-up diraih oleh Irdina Calya Saputri dari SD N Kranggan, lalu Juara tiga oleh Ramadhania Alisha Puri dari SD N Kokap.

Selanjutnya Juara harapan 1 diraih oleh Raisa Shafina Khairin dari SD N Brosot, dan terakhir Juara harapan 2 berhasil didapatkan oleh Nafia Mysha Sofidhina dari SD N Sidakan.

Tri Wahyuni dari Komunitas Regas berharap bahwa program semacam ini mampu menjadi ruang pembelajaran sekaligus apresiasi bagi bakat anak-anak di bidang sastra, khususnya di kabupaten Kulon Progo. (zk)

Sleman – JT – Polda DIY bersama DPD Perkumpulan Penggilingan Padi dan Pengusaha Beras Indonesia (Perpadi) DIY, memberikan bantuan benih padi kepada petani di Moyudan Sleman, Senin (20/10/2025).

Ketua Perpadi DIY Arif Yunianto Kurniawan mengatakan, pemberian bantuan benih padi jenis inpari 32 ini dilakukan untuk mendukung ketahanan pangan nasional, dan membantu petani meningkatkan produksinya.

“Tentunya kita Perpadi juga menampung hasilnya ketika panen,” kata Arif di sela acara pemberian bantuan benih padi.

Sebanyak 150 kilo benih padi, benih jagung 100 kg, pupuk urea dan npk 2,4 ton diberikan kepada kelompok tani di Kapanewon Moyudan. Dengan bantuan ini bertujuan untuk meningkatkan produktivitas pertanian lokal.

“Dengan adanya bantuan benih padi ini, kami berharap dapat memberikan kontribusi nyata dalam mewujudkan ketahanan pangan yang lebih kuat dan petani sejahtera,” harapnya.

Ketua Gapoktan Sumberrahayu di Kalurahan Sumberrahayu, Moyudan, Nugraha Ningwidi mengapresiasi bantuan yang diberikan. Diharapkan program ini dapat memberikan dampak positif bagi para petani.

“Gapoktan Sumberrahayu memiliki 15 kelompok tani. Dengan bantuan yang diberikan ini kita akan tanam secara serentak untuk mendapatkan hasil panen yang baik,” ucapnya.

Sementara itu Kasubdit 2 Ditintelkam Polda DIY, AKBP Sandhy W.G Suawa, SP. SIK, MH menambahkan bahwa selain mewujudkan swasembada pangan nasional ada juga program prioritas nasional yang berhubungan dengan stok bahan pokok penting yaitu program Makan Bergizi Gratis.

“Adanya kolaborasi yang harmonis dan berkelanjutan antara DPD Perpadi DIY, petani dan Polda DIY diharapkan mampu meningkatkan hasil produksi pertanian yang mana harga dan pasokan bahan pokok dapat terus stabil baik di pasaran maupun untuk konsumsi masyarakat,” tandasnya.

Sandhy juga berharap nantinya selain Perpadi dapat memberikan kerjasama dan bantuan kepada petani maupun kelompok tani, juga mampu membina anggotanya untuk tidak melakukan kegiatan yang melanggar dalam usaha penyediaan beras dan bahan pokok lainnya. (ryn)

PADANG, SPJ – Tim robot terbang Gadjah Mada Flying Object Research Center (GAMAFORCE) Universitas Gadjah Mada kembali menunjukkan dominasinya di ajang Kontes Robot Terbang Indonesia (KRTI) 2025 dengan sukses mempertahankan gelar Juara Umum untuk kedelapan kalinya. Kompetisi bergengsi tingkat nasional ini berlangsung di Lanud Sutan Syahrir, Padang, pada 16–21 Oktober 2025, dengan Universitas Andalas sebagai tuan rumah.

Tahun ini, KRTI diikuti oleh 87 tim dari 38 universitas di seluruh Indonesia yang berhasil lolos ke tahap nasional setelah menyingkirkan 168 tim dari seleksi wilayah. Lomba dibagi menjadi lima kategori, yaitu Racing Plane, Fixed Wing, Vertical Take-Off and Landing (VTOL), Technology Development, serta Long Endurance Low Altitude (LELA).

Dalam kompetisi tersebut, GAMAFORCE tampil luar biasa dengan menyabet tiga medali emas dari berbagai kategori. Tim Fiachra Aeromapper memenangkan kategori Fixed Wing, Tim Vayuastra menjuarai kategori Vertical Take-Off and Landing (VTOL), sementara Tim Virachakra menjadi yang terbaik di kategori Long Endurance Low Altitude (LELA). Prestasi ini sekaligus meneguhkan posisi GAMAFORCE sebagai tim UAV paling konsisten dan berprestasi di Indonesia.

Ketua Umum GAMAFORCE 2025, Adam Ampu Tua Siahaan, mengungkapkan rasa bangganya atas hasil yang diraih.

“Kami sangat bersyukur atas capaian ini. Keberhasilan ini adalah buah kerja keras seluruh anggota tim, bimbingan dosen, dan dukungan sponsor yang selalu percaya pada kemampuan kami,” ujar Adam. “Kami berharap prestasi ini bisa menjadi motivasi bagi generasi berikutnya untuk terus berinovasi di bidang teknologi pesawat tanpa awak.”

Direktur Jenderal Pembelajaran dan Kemahasiswaan (Belmawa) Kemdikbudristek, Dr. Benny Bandanadjaja, dalam sambutannya juga menyampaikan apresiasi terhadap semangat para peserta.

“KRTI bukan hanya ajang kompetisi, tetapi juga wadah kolaborasi dan inovasi. Dari ajang seperti inilah lahir bibit-bibit unggul bangsa yang siap membawa nama Indonesia ke tingkat global,” ungkapnya seperti dikutip dari laman Universitas Andalas.

Ke depan, GAMAFORCE berkomitmen untuk terus mengembangkan riset dan teknologi Unmanned Aerial Vehicle (UAV) yang dapat diterapkan di berbagai bidang, seperti pemetaan udara, mitigasi bencana, dan pemantauan lingkungan.

“Kami ingin setiap riset yang kami lakukan bisa memberi manfaat nyata bagi masyarakat,” tambah Adam. “Kemenangan ini hanyalah langkah awal untuk terus berkarya dan berkontribusi bagi kemajuan teknologi Indonesia.” (ist)

BANTUL – Pelaksanaan pemilihan kepala daerah (Pilkada) pada 2024 lalu, sama seperti pelaksanaan Pilpres dan Pemilu pada tahun-tahun sebelumnya, masih hanya dipahami sebagai kegiatan yang bersifat prosedural semata, alias hanya kegiatan mencoblos di bilik suara yang tersedia di TPS (Tempat Pemungutan Suara), tanpa ada substansi atau makna yang lebih rinci di dalamnya.

Biasanya, setelah proses pencoblosan selesai, otomatis hubungan para pejabat yang terpilih dengan rakyatnya yang telah mencoblos pun seketika hilang, seolah sudah lupa bahwa kemenangannya dalam pemilihan suara adalah hasil dari banyaknya rakyat yang mencoblos.

Selain itu, beberapa program yang sebelumnya dijanjikan pun seperti lenyap (tidak ditepati) begitu saja, dan tidak tahu harus ditagih lewat mana, hingga akhirnya demonstrasi besar-besaran seperti yang terjadi pada akhir Agustus lalu, adalah cara paling ampuh untuk menyadarkan mereka, bahwa jabatan yang mereka tempati sekarang bukanlah untuk bersantai-santai semata, melainkan bekerja sepenuh hati untuk rakyat yang telah memilihnya.

Itulah yang menjadi intisari dari hasil riset yang dilakukan oleh Yayasan LKiS (Lembaga Kajian Islam dan Sosial) yang dipublikasikan kepada warga sipil di DIY maupun petugas Pemilu baik KPU maupun Bawaslu, di salah satu hotel di kawasan Bangunharjo, Sewon, Bantul, Kamis (30/10/2025).

Dalam kesempatan itu, LKiS yang melakukan riset terkait Pilkada 2024 dengan sampel di kota Yogyakarta dan Kulon Progo dalam kurun Maret hingga September 2025 lalu, menemukan fakta bahwa partisipasi masyarakat dalam Pemilu dan Pilkada cenderung mengalami penurunan sebanyak 71%, dibandingkan Pilkada sebelumnya yang hanya 33%. Begitu pun dalam Pemilu 2024 pada 14 Februari 2024 silam, dimana partisipasinya jauh menurun hingga 81,78%.

“Penurunan partisipasi ini menjadi sorotan kami, karena banyak pihak yang menyampaikan bahwa tren penurunan ini disebabkan karena ketidakpercayaan publik terhadap proses politik yang berlangsung, kemudian minimnya keterlibatan masyarakat dalam proses politik maupun pengambilan kebijakan,” kata Titi Alfina Ratih, salah satu tim peneliti dari Yayasan LKiS, Kamis (30/10/2025).

Selain itu, pelaksanaan Pemilu dan Pilkada yang sama-sama dilangsungkan pada 2024, membuat seluruh prosesnya menjadi tidak begitu maksimal seperti yang diharapkan.

“Belum lagi jarak antara pelaksanaan Pemilu dan Pilkada yang relatif cukup dekat, yang membuat kampanye hanya dilakukan secara singkat dan masyarakat juga kurang mengenali calon kandidat, baik itu Bupati atau Walikota,” tambahnya.

Masalah lain yang timbul dalam pelaksanaan Pilkada 2024 lalu, sama seperti Pemilu, adalah sulitnya menagih janji politik yang disampaikan oleh para kandidat selama masa kampanye. Akhirnya banyak masyarakat sipil yang berinisiatif untuk membuat forum sendiri, yang bertujuan untuk mengumpulkan aspirasi masyarakat terkait janji-janji politik yang telah disampaikan berulang kali oleh para kandidat selama masa kampanye, namun nyatanya tak kunjung ditepati setelah kandidat tersebut berhasil terpilih.

“Dalam riset ini kita bisa mengetahui bahwa ternyata demokrasi itu masih sebatas kegiatan prosedural saja, sehingga penting diperlukan pendidikan politik untuk publik, serta membuka ruang-ruang untuk dialog yang lebih substantif dan mendekati kebutuhan warga yang paling dasar, agar mereka bisa lebih mengenali siapa pilihannya,” ujar Tri Noviana, peneliti lainnya dari Yayasan LKiS.

Sedangkan dari pihak KPU dan Bawaslu kota Yogyakarta dan Kulon Progo, yang turut hadir dalam kesempatan tersebut, tidak banyak menanggapi hasil riset dari LKiS secara spesifik, namun menegaskan bahwa memang tugas mereka adalah di ranah prosedural (angka pemilih, sosialisasi calon pemilih, tidak ada/minim pelanggaran, dan seterusnya), yang mana itu sudah merupakan sesuatu yang cukup melelahkan.

“Kami turut mengapresiasi hasil riset dari kawan-kawan LKiS, karena harus diakui memang banyak benarnya. Ini juga menjadi tantangan bagi kami sebagai penyelenggara,” kata Ketua Divisi Hukum dan Pengawasan KPU kota Yogyakarta, Ratna Mustika Sari.

“Kalau tadi disebutkan bahwa Pilkada ini hanyalah proses demokrasi secara prosedural, ya memang disitulah ranah kami, tapi itu bukan berarti kami tidak khawatir dengan capaian substantif dari seluruh proses demokrasi ini,” ujar Ratna menambahkan.

Beberapa rekomendasi yang diusulkan dalam hasil riset dari LKiS tersebut antara lain agar bisa mengubah sistem pemilu secara menyeluruh (revisi UU Pemilu dan Pilkada), termasuk tanpa melibatkan politik uang, titip jabatan, dan seterusnya, lalu menyediakan forum khusus untuk menagih janji dari para kandidat terpilih, agar publik bisa mengawasi setiap kebijakan yang diambil agar sesuai dengan kepentingan publik.

Rekomendasi selanjutnya adalah memperluas partisipasi publik dalam setiap proses pemilu, tidak hanya sekedar mencoblos di TPS saat hari-H. Kemudian mempertahankan sistem pemilu secara langsung dan terbuka, agar publik dapat senantiasa mengawasi setiap proses yang terjadi di dalamnya, serta agar tidak semakin menurunkan kepercayaan publik, yang saat ini juga sudah kian merosot. Selain itu agar lebih memberi ruang bagi pemilih disabilitas, lansia, transpuan, maupun kelompok rentan dan marjinal, untuk bisa mendapatkan akses memilih yang sesuai dengan kebutuhan mereka.

Bawaslu juga diminta untuk diberikan kewenangan lebih untuk menindak setiap pelanggaran yang terjadi selama masa pemilu maupun Pilkada (pra, selama, dan sesudah). Karena yang selama ini terjadi hanya berupa laporan yang bersifat rekomendasi, tanpa tindak lanjut nyata sesuai dengan maksud dan tujuan laporan tersebut dibuat. (zk)