YOGYAKARTA – Festival Ketoprak se-DIY tahun 2024 telah memasuki hari kedua sekaligus hari terakhir, Sabtu (26/10/2024). Pada kesempatan ini, giliran kontingen kabupaten Kulonprogo dan kota Yogyakarta yang turut menampilkan performance-nya diatas panggung Societet Militair Taman Budaya Yogyakarta (TBY). Masing-masing membawakan lakon ketoprak berjudul Singlon (Kulonprogo) dan Candani (kota Yogyakarta).

Setelah kedua kontingen tersebut selesai membawakan lakonnya masing-masing, kini saatnya tim juri yang terdiri dari Stefanus Prigel Siswanto, RM Altiyanto Henriyawan, Okie Surya Ikawati, Suminto A. Sayuti, dan Ki Murjana untuk membacakan hasil pengumuman pemenang, baik secara kolektif maupun individu.

Dalam putusan tim juri yang dibacakan oleh Okie Surya Ikawati selaku anggota, diputuskan bahwa lakon berjudul Glugut dari Gununungkidul berhasil meraih juara 1, disusul oleh Kembang Kesimpar dari kabupaten Sleman, Singlon dari Kulonprogo, Rupa Wineca dari kabupaten Bantul, serta Candani dari kota Yogyakarta yang menempati posisi terbawah alias posisi lima.

Sementara untuk penghargaan individu, yang terdiri dari Penata artistik terbaik, penata busana terbaik, aktor/aktris terbaik, pemeran pembantu pria/wanita terbaik, penata iringan terbaik, penulis naskah terbaik, serta Sutradara terbaik, berhasil didapatkan secara merata kepada perwakilan seluruh kontingen. Namun, kontingen Gunungkidul masih tetap mendominasi kategori penghargaan individu ini, dengan menyabet predikat penulis naskah serta Sutradara terbaik.

Dalam keterangannya sebelum membacakan hasil putusan, RM Altiyanto Henriyawan selaku anggota Tim Juri mengaku bahwa festival ini sudah mampu menghasilkan karya yang layak dinikmati oleh masyarakat dari berbagai kalangan, termasuk kalangan millenial.

“Mudah-mudahan ini bisa memunculkan potensi-potensi baru ke depannya, sehingga pertunjukan ketoprak ini dapat terus berkembang, mengikuti para pelakunya, publiknya, penikmatnya, serta penyelenggaranya,” ujar Altiyanto di Societet Militair TBY, Sabtu malam (26/10/2024).

Lebih lanjut, Altiyanto menyatakan bahwa festival ini bukan hanya tentang mencari siapa yang “paling” baik diantaranya yang terbaik (berkompetisi), namun juga “saling” mengisi, memberikan hiburan pertunjukan ketoprak kepada masyarakat, sekaligus melestarikan seni ketoprak itu sendiri agar terus berkembang dan meningkat kualitasnya. (zk)

YOGYAKARTA – Perhelatan Festival Ketoprak se-DIY kembali digelar pada tahun ini. Berlokasi di Societet Militair Taman Budaya Yogyakarta (TBY), festival ini kembali diikuti oleh kontingen seluruh kabupaten/kota se-DIY, guna memperebutkan hadiah total 15 juta, piagam, serta piala bergilir.

Penghargaan tidak hanya ditujukan secara kolektif saja, para peserta dari setiap kontingen juga berkesempatan mendapatkan sejumlah penghargaan individu, seperti Sutradara terbaik, penulis naskah terbaik, serta aktor/aktris terbaik, akan mendapatkan trofi, piagam, dan uang pembinaan sebesar 2 juta rupiah. Kemudian ada penata iringan terbaik, pemeran pembantu pria/wanita terbaik, penata busana terbaik, dan penata artistik terbaik, yang akan mendapatkan trofi, piagam, dan uang pembinaan sebesar 1,5 juta rupiah.

Festival ini pun resmi dibuka pada Jumat malam (25/10/2024), dimana kontingen Bantul, Gunungkidul, serta Sleman mengawali penampil festival di hari pertama. Masing-masing menampilkan lakon berjudul Kencana Rupa Wineca (Bantul), Glugut (Gunungkidul), dan Kembang Kesimpar (Sleman).

Kepala Bidang Pemeliharaan dan Pengembangan Adat Tradisi Lembaga Budaya dan Seni, Yuliana Eni Lestari, mengatakan bahwa tujuan diselenggarakannya festival ini adalah sebagai sarana penguatan identitas seni ketoprak, serta penguatan karakteristik ketoprak yang bersumber dari nilai-nilai tradisi yang ada di DIY.

“Melalui festival ini kami ingin memberikan ruang kreatif bagi para seniman dalam mengolah ide, menata, sekaligus menggelar pertunjukan yang dapat memberikan tontonan sekaligus tuntunan kepada masyarakat,” ucap Eni Lestari di Societet Militair TBY, Jumat (25/10/2024).

Sedangkan Kepala Dinas Kebudayaan DIY, Dian Lakshmi Pratiwi, yang juga hadir dalam pembukaan festival ketoprak ini, menyampaikan bahwa festival ini bisa dibilang cukup ikonik dan bersejarah, karena perjalanannya yang cukup panjang, yakni hampir mendekati 50 kali penyelenggaraan.

“Itulah komitmen kami di Pemda DIY (Dinas Kebudayaan DIY) yang bekerjasama dengan Dinas Kebudayaan kabupaten dan kota, untuk selalu mengiringi setiap langkah dan perkembangan dan pertumbuhan ketoprak di DIY, dengan melakukan pembinaan yang sudah dilakukan sejak jauh-jauh hari. Dan anda semua akan menjadi saksi dari hasil pembinaan tersebut,” ucap Dian dalam sambutannya di Societet Militair TBY, Jumat (25/10/2024).

Lebih lanjut, Dian berharap bahwa festival ini dapat semakin berkembang, baik dari segi kualitas maupun kuantitasnya.

“(Kami berharap) semakin banyak pelaku, semakin banyak penulis naskah yang nantinya dapat turut mengembangkan seni ketoprak di DIY.”

“Festival ini jangan hanya dianggap sebagai kompetisi semata, tapi lebih dimaknai sebagai “silaturrahmi budaya”, saling bertemu, yang nantinya akan saling transfer ide dan gagasan, yang dapat memunculkan kreasi baru untuk tahun-tahun selanjutnya,” tambah Dian.

Adapun tema yang dipilih dalam festival ketoprak kali ini adalah Panji Semirang, yang merupakan salah satu bagian dalam Memory of the World oleh UNESCO. Para peserta pun ditantang untuk dapat menerjemahkan karakter Panji Semirang ini dalah cerita lakon ketoprak yang tetap berlandaskan pada budaya dan kearifan lokal.

Festival ini masih akan berlanjut pada hari Sabtu ini (26/20/2024), dimana kontingen dari kabupaten Kulonprogo dan kota Yogyakarta akan menampilkan lakon mereka diatas panggung Societet Militair TBY. Pada hari kedua ini juga akan diumumkan seluruh pemenang, baik dari kategori kelompok maupun individu. (zk)

BANTUL – Workshop Jurnalistik diselenggarakan oleh SMP Negeri 2 Jetis dalam rangka bulan bahasa untuk menunjang kegiatan Gerakan Literasi Sekolah, bertempat di Aula pada Jumat, 18/10/2024.

Kegiatan workshop jurnalistik diikuti oleh 45 siswa perwakilan masing-masing kelas. Kegiatan dibuka oleh Kepala SMP Negeri 2 Jetis Gantyo Suhartono MSi MM. Dalam sambutannya diungkapkan bahwa dengan perkembangan jamannya, informasi bekembang juga dengan pesat seiring kemajuan teknologi. Dibalik arus informasi itu ada banyak wartawan yang bekerja menyampaikan berita. Berita menjadi bagian dari informasi berbasis kenyataan yang dihadapi saat peristiwa terjadi. Pada dasarnya pekerjaan wartawan adalah menulis sejarah.

“Masa depan adalah hari ini,” tegas Raden Gantyo Suhartono dalam  sambutannya membuka Workshop Jurnalistik.

Workshop menghadirkan narasumber Tedi Kusyairi owner website Suara Pemuda Jogja dan redaksi majalah Mentaok.

Dalam paparannya Tedi mengutarakan berbagai teori mengenai dunia jurnalitik dan bercerita pengalaman selama bekerja di media.

Menurut Tedi, ujung tombak sebuah media adalah para wartawannya, redaksi dan reporter yang mencari dan mengolah berita yang akan ditampilkan. Ada dua bagian penting dalam dunia media yakni manajemen dan redaksi. Para reporter di lapangan bertugas mengulik informasi dari sebuah peristiwa kemudian menyampaikannya kepada publik melalui media.

“Inti workshop jurnalistik kali ini adalah reportase, dimana nanti temen-temen menjadi reporter di lapangan yang mencari berita dari sebuah peristiwa atau kegiatan, wawancara dengan narasumber dan mencatat peristiwanya, dilengkapi dengan gambar kemudian dikirim kepada redaksi,” kata Tedi.

Semua orang pada dasarnya bisa menjadi citizen journalisme, meliput kegiatan di sekolah, di rumah atau berbagai kegiatan yang ditemui sehari-hari. Bagi yang tidak terhimpun dalam sebuah institusi berita bisa menjadi bahan di media sosial masing-masing.

Dalam tahapan lingkungan sekolah bisa menjadi bahan untuk majalah dinding, majalah atau buletin sekolah, website sekolah. Bahkan bisa menjadi kontributor lepas diberbagai media yang ada di Indonesia sesuai bahasa pengantar tulisannya.

“Kemampuan dasarnya adalah bisa menulis dan melakukan wawancara, menghubungi narasumber kemudian menuliskannya,” tegas Tedi.

Diwaktu tersebut juga diceritakan suka duka pengalaman saat menjadi reporter di lapangan, bisa bertemu dengan tokoh-tokoh penting, namun juga sulit menemukan waktunya yang tepat oleh narasumber.

Workshop didampingi juga oleh para guru, Ketua panitia Krismawati, dalam sambutannya menegaskan bahwa kegiatan Gerakan Literasi SEkolah ini menjadi bagian penting untuk meningkatkan pengethuan siswa selama Balan Bahasa 2024. (red)

Penulis: Fitria Eranda

 

Gianyar, Bali – Ubud Writers and Readers Festival (UWRF) resmi dibuka pada Rabu, 23 Oktober 2024, di Museum Puri Lukisan, Gianyar. Pada acara pembukaan yang penuh semangat ini, Ketua Yayasan Mudra Swari Saraswati, Drs. I Ketut Suardana, menyoroti tema tahun ini, *Satyam Vada Dharmam Chara: Speak the Truth, Practice Kindness*. Menurutnya, tema tersebut diharapkan dapat memancarkan energi kebaikan sepanjang festival, yang berlangsung hingga 27 Oktober mendatang.

 

Janet Deneefe, pendiri UWRF, turut ber

bagi kebahagiaan dalam sambutannya. Ia menyampaikan bahwa festival kali ini bukan sekadar ruang diskusi literasi, tetapi juga menyuguhkan pengalaman budaya Ubud yang kaya, melalui wisata berjalan ke desa-desa, diskusi literasi sambil makan siang, hingga penerbitan buku. Janet menjanjikan bahwa festival ini menawarkan “keajaiban” dalam setiap agenda, dari pertunjukan luar biasa hingga kesempatan untuk memperluas perspektif.

 

Goenawan Muhammad Terima Lifetime Achievement Award

 

Salah satu momen paling dinantikan dari festival ini adalah penghargaan lifetime achievement  yang diberikan kepada Goenawan Muhammad. Dalam sesi yang penuh kehangatan, Goenawan mengungkapkan rasa syukurnya, meski dengan humor ringan, “Mendapatkan penghargaan sebagai lifetime Achievement Writer itu mengingatkan saya bahwa saya sudah tua,” ujarnya, disambut tawa dari audiens. Meski saat ini ia lebih banyak berkecimpung di dunia seni lukis, Goenawan baru saja menerbitkan buku terbaru yang mena

mbah daftar panjang kontribusinya di dunia sastra.

Ia juga berbagi pandangannya tentang UWRF yang berbeda dari festival sastra lainnya, “Ubud has its own charm,” katanya, memuji daya tarik unik kota ini. Goenawan menambahkan, meski Indonesia kaya dengan sumber daya alam, karya sastra lokal masih kurang dikenal di dunia internasional. “Saatnya dunia tahu bahwa Indonesia juga memiliki penulis dan karya sastranya dapat bersaing di kancah internasional,” ujarnya menutup sesi dengan nada optimis.

 

Suara Penulis Internasional dan Perempuan Asia

Acara ini juga dimeriahkan oleh penulis-penulis internasional seperti Sara M. Saleh, penulis sekaligus pengacara hak asasi manusia. Dalam pe

sannya, Sara mengajak peserta untuk membuka pikiran dan menyerap ilmu dengan keberanian. Ia menekankan bahwa “kebenaran dan kebaikan itu kembar,” dan berharap festival ini dapat menjadi ruang untuk menggali perspektif baru terkait kepedulian pada komunitas marjinal.

 

Bora Chung, penulis asal Korea Selatan, juga berbicara tentang kebebasan berekspresi yang dimiliki oleh penulis perempuan Asia, menyoroti UWRF sebagai kesempatan langka untuk bertemu dengan penulis dari berbagai belahan dunia. Sementara itu, Jack Edwards, tokoh populer di BookTube dan BookTok, menyatakan bahwa media sosial kini menjadi platform penting untuk memperluas jaringan literasi dan memperkenalkan karya kreatif kepad

a audiens yang lebih luas.

 

Festival Sastra Terbesar di Bali

Dengan 250 lebih penulis dari 30 negara, UWRF 2024 menghadirkan lebih dari 200 program yang tersebar di 40 lokasi di Ubud, seperti Taman Baca, Indus Restaurant, dan NEKA Museum. Para peserta festival tidak hanya akan disuguhkan diskusi panel, tetapi juga kesempatan untuk menyaksikan pertunjukan sastra, menjelajahi desa-desa, dan terlibat dalam acara literasi yang interaktif.

 

Sebagai festival sastra terbesar di Bali, UWRF tahun ini menjanjikan pengalaman yang mendalam bagi para pencinta sastra dari seluruh dunia, dengan fokus utama pada kebenaran, kebaikan, dan keberanian untuk menyuarakan hal-hal yang penting di tengah perubahan global. Seno Gumira Ajidharma turut memberikan pandangan terkait acara tahunan yang kerap mengundangnya. Beliau berpesan bahwa dalam situasi politik saat ini, berbicara kebenaran dan kebaikan harus diimbangi dengan tujuan yang memurnikan.

YOGYAKARTA – Pameran lukis DIY-Kyoto kembali hadir pada tahun 2024 ini. Bertempat di Bentara Budaya Yogyakarta, pameran yang sudah ada sejak 1995 ini kembali menghadirkan lomba melukis dari anak-anak se-DIY mulai dari tingkat TK hingga SMA sederajat.

Acara pembukaan pun dilangsungkan di Bentara Budaya Yogyakarta, Senin (21/10/2024), yang sekaligus menjadi momen tepat bagi panitia untuk mengumumkan para pemenang dari masing-masing kategori (TK hingga SMA). Karya dari masing-masing pemenang nantinya akan dikirimkan langsung ke Kyoto, Jepang.

Pameran lukis DIY-Kyoto pada tahun ini mengusung tema “Menuju Indonesia Emas, Solusiku Untuk Indonesiaku”, dimana setiap peserta dari seluruh kategori diminta untuk melukis bagaimana wajah Indonesia Emas yang mereka inginkan pada tahun 2045 dan seterusnya.

Kepala Dinas Kebudayaan DIY, Dian Lakshmi Pratiwi, yang turut hadir pada acara pembukaan tersebut, menyampaikan apresiasinya terhadap pameran ini, terkait bagaimana anak-anak ini mampu memberikan solusi dan ide-ide menarik terhadap potensi Indonesia emas pada 2045 mendatang.

“Kita akan menyaksikan begitu banyak ide dan gagasan yang luar biasa dari anak-anak kita, yang mungkin akan memberikan pencerahan untuk kita semua, terkait bagaimana solusi kita ke depan untuk Indonesia tahun 2045,” ujar Dian dalam sambutannya di Bentara Budaya Yogyakarta, Senin (21/10/2024).

Sementara menurut salah satu juri, Yuswantoro Adhi, menyatakan bahwa pameran kali ini sebenarnya bukan hanya tentang adu kepintaran dalam melukis saja, namun juga bagaimana anak-anak ini dapat menggambarkan keinginan dan cita-cita mereka untuk Indonesia di masa mendatang.

“Lomba ini sebetulnya tidak hanya lomba pinter-pinteran gambar saja, melainkan lmba yang bisa menggambarkan keinginan kalian untuk Indonesia yang kita cintai ini,” kata Yuswantoro.

Pameran ini akan berlangsung selama kurang lebih satu minggu, yakni pada tanggal 21-27 Oktober 2024. Anda bisa ikut menyaksikan karya lukis dari generasi penerus bangsa ini secara langsung dan gratis di Bentara Budaya Yogyakarta. (zk)

YOGYAKARTA – Cerita berjudul Ngathabagama dari kabupaten Sleman berhasil meraih juara umum dalam Festival Teater se-DIY tahun 2024. Mereka unggul atas kota Yogyakarta yang meraih peringkat ke-2, kabupaten Bantul di posisi 3, kabupaten Kulon Progo di posisi 4, dan kontingen kabupaten Gunungkidul di posisi terbawah atau ke-5.

Pengumuman itu disampaikan oleh Landung Simatupang, selaku salah satu juri dalam Festival Teater DIY 2024 ini, Minggu malam (20/10/2024) di Societet Taman Budaya Yogyakarta (TBY). Hari Minggu ini juga merupakan hari kedua dari perhelatan Festival Teater DIY 2024 yang berlangsung di TBY, dengan menampilkan kontingen Gunungkidul dan juga kontingen Sleman.

Tidak hanya terkait pemenang kontingen, Landung juga mengumumkan para pemenang individu, mulai dari Sutradara terbaik, penulis naskah terbaik, penata musik terbaik, aktor/aktris terbaik, tata artistik terbaik, serta ansambel terbaik 1 dan 2. Dari beberapa kategori individu tersebut, kabupaten Sleman tercatat masih mendominasi, dengan menyabet penghargaan Sutradara terbaik, artistik terbaik, serta penata musik terbaik.

Selain soal pengumuman pemenang, Nanang Arisona selaku juri utama, menyampaikan bahwa festival ini selayaknya dapat menghidupkan kembali komunitas-komunitas teater di berbagai pelosok daerah, sehingga bibit-bibit baru dapat terus bermunculan.

“Ketika komunitas (teater) di setiap daerah itu tidak tumbuh, maka tidak akan ada satu proses pembelajaran disana, tidak akan ada ruang eksplorasi, dan sebagainya. Maka disitulah kita tidak akan pernah sampai pada satu proses teknis yang kita harapkan bisa mengantarkan pertunjukan ini ke arah yang kita harapkan (memberikan value kepada audience),” kata Nanang di Societet TBY, Minggu (20/10/2024).

Lebih lanjut, Nanang juga mengharapkan agar festival ini tidak hanya menjadi sekedar rutinitas belaka, melainkan juga mampu menumbuhkan pertunjukan seni teater di setiap daerah, melalui kegiatan berbasis komunitas dan seterusnya. (zk)

YOGYAKARTA – Festival Teater tingkat DIY kembali digelar pada tahun 2024 ini. Mengusung tema Panji, yang merujuk pada hasil rumusan kongres Jawa ke-3 di DIY beberapa waktu lalu, Festival kali ini mencoba untuk kembali menguatkan marwah teater sebagai ekspresi budaya, sekaligus sebagai sarana mewujudkan pengembangan dan pemanfaatan teater sebagai sarana pembacaan situasi dan penuturan sejarah.

Festival ini berlangsung di Gedung Societet, Taman Budaya Yogyakarta (TBY), dan digelar selama dua hari, Sabtu dan Minggu (19-20 Oktober 2024), diikuti oleh perwakilan kabupaten/kota se-DIY.

Kepala Dinas Kebudayaan DIY, Dian Lakshmi Pratiwi, dalam sambutannya menyatakan bahwa festival ini merupakan komitmen dari Dinas Kebudayaan seluruh kabupaten/kota di DIY, untuk bersama-sama memelihara SDM di bidang seni budaya khususnya teater.

“Tahapan yang telah dilakukan oleh Kundha Kabudayan di kabupaten/kota, adalah tahapan pembinaan, yang dilakukan mulai dari tingkat lokal, hingga ke tingkat provinsi DIY,” ucap Dian di Societet TBY, Sabtu (19/10/2024).

Lebih lanjut, Dian menyampaikan bahwa pengambilan tema Panji ini diharapkan akan mampu menjadi inspirasi bagi seluruh masyarakat, yang dapat dikontekstualisasikan dalam kehidupan bermasyarakat sehari-hari.

“Kami harapkan tema Panji ini akan menjadi sumur ide dan gagasan, yang dapat dikontekstualisasi dengan fenomena kehidupan sosial budaya di masyarakat saat ini,” tambah Dian.

Festival ini memperebutkan hadiah Piala bergilir, piagam, trofi dan uang pembinaan sebesar 15 juta rupiah untuk juara 1, 14 juta rupiah untuk juara 2, 13 juta rupiah untuk juara 3, 12 juta rupiah untuk juara 4, dan 11 juta rupiah untuk peringkat ke-5 atau yang terbawah.

Penghargaan tidak hanya ditujukan untuk kontingen (kolektif) saja, karena beberapa individu terpilih juga berkesempatan mendapatkan sejumlah penghargaan, diantaranya penulis naskah terbaik, Sutradara terbaik, penata musik terbaik, penata artistik terbaik, aktor/aktris terbaik, serta ensamble terbaik 1 dan 2, akan memperoleh masing-masing piagam, trofi dan uang pembinaan sebesar 1,5 juta rupiah.

Pada hari pertama ini, Sabtu (19/10/2024), terdapat tiga kontingen yang menampilkan performance-nya, yakni dari kontingen Kabupaten Bantul, Gunungkidul, dan kota Yogyakarta. Sementara untuk kontingen Gunungkidul dan Sleman akan melakukan aksi teatrikal-nya pada keesokan harinya, Minggu (20/10/2024) masih di tempat yang sama. (zk)

BANTUL – Penyelenggaraan Festival Kebudayaan Yogyakarta (FKY) 2024 resmi berakhir pada Jumat malam (18/10/2024).

Sejumlah pengisi acara turut meramaikan malam penutupan yang berlangsung di Lapangan Bawuran, Pleret, Bantul ini, diantaranya Pentas Kesenian Jathilan (Fasilitas Komunitas Seni), Pentas Kesenian Reog Wayang, Tari & Gamelan Anak-anak, Pentas Kesenian Sendratari “Prabawangi Prabasa Jenggala”, Pentas Kesenian Tari Garapan “Bandung Bondowoso”, Kesenian Musik Kontemporer Plentong Konslet, Flashmob Jathilan Diponegoro, Kesenian Tari Fire Dance Sanggar Flownesia, TTM Akustik,serta Shaggydog.

Selain itu, penutupan juga dilakukan oleh para stakeholder terkait, seperti Dinas Kebudayaan DIY, Pemerintah Kabupaten Bantul, dan juga Pemerintah kelurahan Bawuran, Pleret, Bantul selaku tuan rumah.

Dalam sambutannya, Kepala Dinas Kebudayaan DIY, Dian Lakshmi Pratiwi turut mengapresiasi penyelenggaraan FKY di kawasan Bawuran dan sekitarnya, beserta dukungan yang sangat tinggi dari Pemerintah kabupaten Bantul.

“Kami sangat mengapresiasi bagaimana masyarakat Bawuan turut diajak berpartisipasi dalam mensukseskan acara ini, yang mana ini menegaskan sekali lagi bahwa kebudayaan adalah milik seluruh masyarakat,” ujar Dian di Lapangan Bawuran, Jumat (18/10/2024).

Sementara menurut Lurah Bawuran, Supardiono, dirinya mengaku bangga dengan pelaksanaan FKY di wilayahnya pada tahun ini.

“Saya sangat bangga dengan adanya FKY di Bawuran ini. Apalagi saya tahu betul bagamana sejarah FKY ini sejak beberapa tahun lalu, karena saya dulunya juga merupakan panitia, volunteer, sekaligus pemerhati dari FKY ini selama bertahun-tahun,” kata Supardiono.

Sedangkan menurut Pelaksana jabatan sementara (Pjs) Bupati Bantul yang diwakili oleh Sekda Bantul, Agus Budi Raharjo, menyampaikan bahwa penyelenggaraan FKY tahun ini perlu mendapat apresiasi khusus, terutama terkait pengelolaan sampah yang tersebar selama event ini berlangsung.

“Kegiatan seperti ini sudah dilengkapi dengan pengelolaan sampah yang luar biasa, bersih, dan tidak ada sama sekali sampah yang menumpuk di sekitar lokasi,” sebut Agus.

Di sisi lain, Ketua pelaksana FKY 2024, BM Anggana, mengaku bahwa penyelenggaraan FKY tahun ini membawa dampak ekonomi yang begitu besar bagi masyarakat Bawuran dan sekitarnya.

“Tercatat sampai dengan hari ini (18 Oktober, red) sudah ada dampak ekonomi yang dirasakan yakni sebesar Rp324.937.475,” ucap BM Anggana.

FKY akan kembali pada tahun 2025 mendatang, dengan tema besarnya adalah tentang Adat Istiadat, Bahasa, dan Nilai-nilai Budaya. (zk)