Kota Yogyakarta – JT – Civitas di Griya Abhipraya melahirkan kelompok nulis pada senin (18/11/2024) di sekeretariat Jln. Pangurakan 1, Titik 0, Prawirodirjan, Gondokusuman, Kota Yogyakarta.

Pertemuan perdana berupa workshop menulis, menandai lahirnya Abhipraya Writing Club, dimana peserta merupakan klien pemasyarakatan yakni mantan napi, salah satunya ada yang baru seminggu kluar penjara sehingga belom mau difoto dalam kegiatan tersebut.

“Jumlah peserta perdana sejumlah 5 orang, terdiri dari 2 cowok, dan 3 cewek,” kata Awit Radiani selaku narasumber.

Kedepannya acara akan diselenggarakan secara rutin di Griya Abhipraya Purbonegoro. Agenda ini atas kolaborasi Sanggar Wani Migunani dan Bapas Kelas 1 Yogyakarta, dibimbing secara rutin oleh Awit Radiani, cerpenis.

Acara dibuka oleh Dandy Dhermawan, Kanwil Kemenkumham DIY, dan Ketua Komunitas Budaya GAP. Dengan penekanan kegiatan berupa praktek nulis cerpen.

“Setelah pemaparan mengenai cerpen, kemudian dikasih tema diteruskan dengan menulis dalam blocknotes yang sudah dibagikan,” ujar Awit.

Karya kemudian dibacakan sebagai review atas tulisan berbasis tema. Untuk pertemuan selanjutnya peserta diberi tugas menulis karya 500 kata, dengan tema ‘ikan’.

“Targetnya ya akan menerbitkan buku, masuk media, bisa jadi penulis handal,” harap Awit.

Harapannya Abhipraya Writing Club bisa menjadikan menulis bisa juga jadi peluang penghasilan dalamhidup, healing, dan juga terapi jiwa bagi peserta. (atg)

BANTUL – JT – Dalam rangka memperingati satu tahun berdirinya Teman Berjalan, Komnitas ini menggelar acara penanaman pohon dengan tema SHIELD (Selepamioro Hijaukan untuk Inisiatif Erosi dan Lingkungan dapat Terlindungi) pada hari Minggu (17/11/2024) di Selopamioro, Yogyakarta. Acara ini dihadiri lebih dari 100 peserta, 7 kolaborator komunitas yang selaras, serta 7 sponsor yang mendukung kegiatan tersebut, El Hotel Yogyakarta menjadi sponsor utama dalam acara ini.

Acara ini dimulai dengan sambutan dari Kepala Dusun Lemah Rubuh, Lumadi menyambut baik kegiatan penghijauan yang dilaksanakan oleh Teman Berjalan. Dalam sambutannya, Lumadi menekankan pentingnya kolaborasi antara masyarakat dan berbagai pihak untuk menjaga kelestarian lingkungan, khususnya di kawasan Sungai Oyo yang rawan erosi.

Sebagai bagian dari kegiatan puncak perayaan 1 tahun Teman Berjalan, peserta diajak untuk menanam 60 pohon Trembesi di sepanjang dataran Sungai Oyo. Pohon Trembesi dipilih karena kemampuannya dalam menahan erosi tanah, serta memberikan kontribusi positif bagi ekosistem lokal. Penanaman pohon ini menjadi simbol komitmen untuk melestarikan alam dan mengurangi dampak kerusakan lingkungan akibat erosi yang dapat mengancam kawasan tersebut.

Tema SHIELD yang diusung oleh Teman Berjalan menggambarkan upaya perlindungan terhadap lingkungan melalui penghijauan yang dapat menanggulangi erosi dan menjaga keberlanjutan alam. Dalam kesempatan ini, para peserta juga diajak untuk lebih peduli terhadap kondisi lingkungan dengan melakukan tindakan nyata, seperti penanaman pohon dan pengurangan sampah plastik.

Salah satu agenda menarik lainnya dalam acara ini adalah talkshow yang diadakan setelah penanaman pohon. Talkshow ini diisi oleh Emi Handayani dari Yayasan Bavana Foundation dan Wahyu Purwandono dari Agromulyo, yang membahas langkah-langkah konkret yang bisa diambil oleh masyarakat untuk menjaga keberlanjutan alam. Diskusi ini dimoderatori oleh Felix Krisnugroho, yang dengan cerdas mengarahkan percakapan untuk menggali solusi-solusi praktis dalam mengatasi isu-isu lingkungan yang semakin mendesak.

Dalam sambutannya, Project Manager Teman Berjalan, Muhammad Fahrezzy, menyampaikan bahwa acara ini bukan hanya sekadar perayaan, tetapi juga sebagai bentuk penghormatan terhadap hari-hari bersejarah di Indonesia.

“Tanggal 28 Oktober adalah Hari Sumpah Pemuda, 10 November adalah Hari Pahlawan, dan 17 November adalah Hari Pahlawan kita untuk melestarikan bumi. Mari bersama-sama kita menjadi pahlawan lingkungan dengan tindakan nyata dalam menjaga kelestarian alam,” tegasnya.

Salah satu hal yang patut dicatat dalam acara ini adalah upaya untuk mengurangi sampah plastik. Pada sesi snacking, para peserta dan relawan diharapkan membawa tumbler dan kotak makan pribadi sebagai bagian dari komitmen untuk minim plastik. Hal ini sejalan dengan visi Teman Berjalan untuk menciptakan acara yang ramah lingkungan dan mendukung gaya hidup yang lebih berkelanjutan.

Acara ini juga didukung oleh 7 sponsor yang berpartisipasi dalam mendanai dan menyediakan sumber daya untuk kelancaran acara. Dengan dukungan penuh dari berbagai pihak, kegiatan ini berjalan dengan lancar dan berhasil menginspirasi para peserta untuk lebih peduli terhadap pelestarian lingkungan.

Para peserta dan relawan yang hadir, yang terdiri dari berbagai kalangan masyarakat, sangat antusias mengikuti kegiatan ini. Mereka berharap bahwa inisiatif seperti ini dapat berlanjut dan memberikan dampak positif jangka panjang bagi Selopamioro dan Yogyakarta, serta mendorong lebih banyak orang untuk ikut berperan dalam menjaga bumi.

Dengan suksesnya acara ini, Teman Berjalan berharap dapat terus melibatkan lebih banyak individu dan komunitas dalam upaya pelestarian bumi serta menjadikan kegiatan penghijauan sebagai bagian dari gaya hidup sehari-hari. (daf-red)

BANTUL – JT – Ditengah perkembangan dunia digital saat ini, keterbukaan informasi sangat membantu untuk mendapatkan dan mempublikasikan suatu informasi. Saat ini media sosial (medsos) digunakan sebagai wadah untuk mendapatkan dan menyebarkan informasi. Contohnya yaitu swbagai media promosi, media edukasi, media hiburan dan lain sebagainya.

Guna mendukung diseminasi informasi pembangunan di Kabupaten Bantul, untuk kesekian kalinya Dinas Komunikasi dan Informatika (Kominfo) Kabupaten Bantul menggadakan kegiatan Forum Grup Discussion (FGD) pegiat media sosial yang ada di Kabupaten Bantul dan sekitarnya bersama Sekertaris Daerah Kabupaten Bantul di Pendopo Simak Guest House, Panggungharjo, Sewon, Bantul, pada hari Minggu, 10 Novemeber 2024. Kegiatan ini dihadiri kurang lebih 30 orang pegiat media sosial atau akun media sosial.

Kepala Bidang Pengelolaan Informasi dan Komunikasi Publik DisKomifo Kabupaten Bantul, Arif Darmawan, S.STP. menyampaikan bahwa kegiatan ini bertujuan untuk mengajak para pegiat media sosial yang ada di Bantul dan sekitarnya untuk bersinergi dengan Pemerintah Kabupaten Bantul untuk diseminasi informasi sekitar Kabupaten Bantul ke Khalayak luas.

“Perkembangan penyebaran informasi yang sangat terbuka saat ini, menurut kami penggunaan medsos merupakan cara yang efektif,”kata Arif.

Peran para pegiat medsos ini sangat penting sekali. Untuk itu, kami mohon untuk selalu bersinergi untuk ikut menyebarkan perkembangan pembangunan di Kabupaten Bantul, dan juga ikut mempromosikan potensi-potensi lokal yang ada di Kabupaten Bantul seperti kuliner, wisata, seni, budaya dan lain sebagainya.

“Kuliner yang viral, wisata yang ramai dikunjungi wisatawan merupakan hasil dari peran para pegiat medsos dalam mempromosikannya,” imbuhnya.

Sekretaris Daerah Kabupaten Bantul, Agus Budiraharja, SKM, M.Kes. menyampaikan bahwa, belum lama ini Kabupaten Bantul berhasil memperoleh Penghargaan Bhumandala Kanaka (Emas) kategori simpul jaringan dalam Penganugerahan Bhumandala Award Tahun 2024.

“Saya sepakat dengan Mas Arif, bahwa peran pegiat media sosial dalam penyebaran informasi tentang Kabupaten Bantul sangat penting sekali sehingga dapat menentukan langkah-langkah yang akan dilakukan suatu pemerintahan,” kata Agus.

Harapan Agus semoga jagongan santai ini harapannya bisa menjadikan sinergitas antara Pemkab Bantul dengan para pegiat media sosial bisa ditingkatkan dan menjadi lebih baik lagi demi kemajuan Kabupaten Bantul. (red)

BANTUL – Bagi anda yang gemar menulis, maka anda harus melakoni kegiatan ini secara konsisten, terus-menerus, dibaca lagi, diteliti lagi, dan yang paling utama adalah tidak bisa hanya dilakukan semaunya saja, apalagi jika anda ingin menjadikan kegemaran ini sebagai sesuatu yang menghasilkan pundi-pundi uang.

Begitulah kurang lebih intisari dalam Workshop Pembinaan Sastra 2024 “Penulisan Essai” yang digelar oleh Dinas Kebudayaan Kundha Kabudayan Bantul melalui Dana Keistimewaan, di Aula Balai Desa Trimulyo, Jetis, Bantul, Rabu (6/11/2024).

Dalam kesempatan tersebut, turut hadir Octo Lampito selaku Pemimpin redaksi Kedaulatan Rakyat (KR) dan sastrawan Jawa Sarworo Soeprapto sebagai narasumber yang menyampaikan tentang penulisan essai dan seluk-beluk di dalamnya.

Dalam pemaparannya, Octo Lampito menyampaikan bahwa dalam menulis essai itu boleh menggunakan opini pribadi, namun harus didukung oleh data yang memadai.

“Ketika menulis itu kita harus banyak-banyak menggunakan data (yang akurat), meskipun masih diperbolehkan menggunakan opini pribadi. Namun pastikan bahwa opininya itu juga kuat, bukan cuman asal-asalan,” ujar Octo kepada para peserta workshop penulisan essai, Rabu (6/10/2024).

Sementara Sarworo yang lebih fokus ke penulisan sastra Jawa, menilai bahwa penulisan essai akan sangat menarik, jika mampu melibatkan masyarakat lokal, khususnya yang berkaitan dengan sejarah.

“Sehingga disini mereka (masyarakat lokal) tidak hanya bertindak sebagai penonton di wilayahnya sendiri, tapi juga diberdayakan agar ikut andil dalam menghasilkan tulisan yang dapat dibaca generasi setelahnya,” kata Sarworo.

Bukan tidak mungkin, hasil workshop kali ini akan menghasilkan penulis essai baru di masa mendatang, yang bisa meraup cuan sekaligus terkenal di media massa. (zk)

YOGYAKARTA – Festival Ketoprak se-DIY tahun 2024 telah memasuki hari kedua sekaligus hari terakhir, Sabtu (26/10/2024). Pada kesempatan ini, giliran kontingen kabupaten Kulonprogo dan kota Yogyakarta yang turut menampilkan performance-nya diatas panggung Societet Militair Taman Budaya Yogyakarta (TBY). Masing-masing membawakan lakon ketoprak berjudul Singlon (Kulonprogo) dan Candani (kota Yogyakarta).

Setelah kedua kontingen tersebut selesai membawakan lakonnya masing-masing, kini saatnya tim juri yang terdiri dari Stefanus Prigel Siswanto, RM Altiyanto Henriyawan, Okie Surya Ikawati, Suminto A. Sayuti, dan Ki Murjana untuk membacakan hasil pengumuman pemenang, baik secara kolektif maupun individu.

Dalam putusan tim juri yang dibacakan oleh Okie Surya Ikawati selaku anggota, diputuskan bahwa lakon berjudul Glugut dari Gununungkidul berhasil meraih juara 1, disusul oleh Kembang Kesimpar dari kabupaten Sleman, Singlon dari Kulonprogo, Rupa Wineca dari kabupaten Bantul, serta Candani dari kota Yogyakarta yang menempati posisi terbawah alias posisi lima.

Sementara untuk penghargaan individu, yang terdiri dari Penata artistik terbaik, penata busana terbaik, aktor/aktris terbaik, pemeran pembantu pria/wanita terbaik, penata iringan terbaik, penulis naskah terbaik, serta Sutradara terbaik, berhasil didapatkan secara merata kepada perwakilan seluruh kontingen. Namun, kontingen Gunungkidul masih tetap mendominasi kategori penghargaan individu ini, dengan menyabet predikat penulis naskah serta Sutradara terbaik.

Dalam keterangannya sebelum membacakan hasil putusan, RM Altiyanto Henriyawan selaku anggota Tim Juri mengaku bahwa festival ini sudah mampu menghasilkan karya yang layak dinikmati oleh masyarakat dari berbagai kalangan, termasuk kalangan millenial.

“Mudah-mudahan ini bisa memunculkan potensi-potensi baru ke depannya, sehingga pertunjukan ketoprak ini dapat terus berkembang, mengikuti para pelakunya, publiknya, penikmatnya, serta penyelenggaranya,” ujar Altiyanto di Societet Militair TBY, Sabtu malam (26/10/2024).

Lebih lanjut, Altiyanto menyatakan bahwa festival ini bukan hanya tentang mencari siapa yang “paling” baik diantaranya yang terbaik (berkompetisi), namun juga “saling” mengisi, memberikan hiburan pertunjukan ketoprak kepada masyarakat, sekaligus melestarikan seni ketoprak itu sendiri agar terus berkembang dan meningkat kualitasnya. (zk)

YOGYAKARTA – Perhelatan Festival Ketoprak se-DIY kembali digelar pada tahun ini. Berlokasi di Societet Militair Taman Budaya Yogyakarta (TBY), festival ini kembali diikuti oleh kontingen seluruh kabupaten/kota se-DIY, guna memperebutkan hadiah total 15 juta, piagam, serta piala bergilir.

Penghargaan tidak hanya ditujukan secara kolektif saja, para peserta dari setiap kontingen juga berkesempatan mendapatkan sejumlah penghargaan individu, seperti Sutradara terbaik, penulis naskah terbaik, serta aktor/aktris terbaik, akan mendapatkan trofi, piagam, dan uang pembinaan sebesar 2 juta rupiah. Kemudian ada penata iringan terbaik, pemeran pembantu pria/wanita terbaik, penata busana terbaik, dan penata artistik terbaik, yang akan mendapatkan trofi, piagam, dan uang pembinaan sebesar 1,5 juta rupiah.

Festival ini pun resmi dibuka pada Jumat malam (25/10/2024), dimana kontingen Bantul, Gunungkidul, serta Sleman mengawali penampil festival di hari pertama. Masing-masing menampilkan lakon berjudul Kencana Rupa Wineca (Bantul), Glugut (Gunungkidul), dan Kembang Kesimpar (Sleman).

Kepala Bidang Pemeliharaan dan Pengembangan Adat Tradisi Lembaga Budaya dan Seni, Yuliana Eni Lestari, mengatakan bahwa tujuan diselenggarakannya festival ini adalah sebagai sarana penguatan identitas seni ketoprak, serta penguatan karakteristik ketoprak yang bersumber dari nilai-nilai tradisi yang ada di DIY.

“Melalui festival ini kami ingin memberikan ruang kreatif bagi para seniman dalam mengolah ide, menata, sekaligus menggelar pertunjukan yang dapat memberikan tontonan sekaligus tuntunan kepada masyarakat,” ucap Eni Lestari di Societet Militair TBY, Jumat (25/10/2024).

Sedangkan Kepala Dinas Kebudayaan DIY, Dian Lakshmi Pratiwi, yang juga hadir dalam pembukaan festival ketoprak ini, menyampaikan bahwa festival ini bisa dibilang cukup ikonik dan bersejarah, karena perjalanannya yang cukup panjang, yakni hampir mendekati 50 kali penyelenggaraan.

“Itulah komitmen kami di Pemda DIY (Dinas Kebudayaan DIY) yang bekerjasama dengan Dinas Kebudayaan kabupaten dan kota, untuk selalu mengiringi setiap langkah dan perkembangan dan pertumbuhan ketoprak di DIY, dengan melakukan pembinaan yang sudah dilakukan sejak jauh-jauh hari. Dan anda semua akan menjadi saksi dari hasil pembinaan tersebut,” ucap Dian dalam sambutannya di Societet Militair TBY, Jumat (25/10/2024).

Lebih lanjut, Dian berharap bahwa festival ini dapat semakin berkembang, baik dari segi kualitas maupun kuantitasnya.

“(Kami berharap) semakin banyak pelaku, semakin banyak penulis naskah yang nantinya dapat turut mengembangkan seni ketoprak di DIY.”

“Festival ini jangan hanya dianggap sebagai kompetisi semata, tapi lebih dimaknai sebagai “silaturrahmi budaya”, saling bertemu, yang nantinya akan saling transfer ide dan gagasan, yang dapat memunculkan kreasi baru untuk tahun-tahun selanjutnya,” tambah Dian.

Adapun tema yang dipilih dalam festival ketoprak kali ini adalah Panji Semirang, yang merupakan salah satu bagian dalam Memory of the World oleh UNESCO. Para peserta pun ditantang untuk dapat menerjemahkan karakter Panji Semirang ini dalah cerita lakon ketoprak yang tetap berlandaskan pada budaya dan kearifan lokal.

Festival ini masih akan berlanjut pada hari Sabtu ini (26/20/2024), dimana kontingen dari kabupaten Kulonprogo dan kota Yogyakarta akan menampilkan lakon mereka diatas panggung Societet Militair TBY. Pada hari kedua ini juga akan diumumkan seluruh pemenang, baik dari kategori kelompok maupun individu. (zk)

BANTUL – Workshop Jurnalistik diselenggarakan oleh SMP Negeri 2 Jetis dalam rangka bulan bahasa untuk menunjang kegiatan Gerakan Literasi Sekolah, bertempat di Aula pada Jumat, 18/10/2024.

Kegiatan workshop jurnalistik diikuti oleh 45 siswa perwakilan masing-masing kelas. Kegiatan dibuka oleh Kepala SMP Negeri 2 Jetis Gantyo Suhartono MSi MM. Dalam sambutannya diungkapkan bahwa dengan perkembangan jamannya, informasi bekembang juga dengan pesat seiring kemajuan teknologi. Dibalik arus informasi itu ada banyak wartawan yang bekerja menyampaikan berita. Berita menjadi bagian dari informasi berbasis kenyataan yang dihadapi saat peristiwa terjadi. Pada dasarnya pekerjaan wartawan adalah menulis sejarah.

“Masa depan adalah hari ini,” tegas Raden Gantyo Suhartono dalam  sambutannya membuka Workshop Jurnalistik.

Workshop menghadirkan narasumber Tedi Kusyairi owner website Suara Pemuda Jogja dan redaksi majalah Mentaok.

Dalam paparannya Tedi mengutarakan berbagai teori mengenai dunia jurnalitik dan bercerita pengalaman selama bekerja di media.

Menurut Tedi, ujung tombak sebuah media adalah para wartawannya, redaksi dan reporter yang mencari dan mengolah berita yang akan ditampilkan. Ada dua bagian penting dalam dunia media yakni manajemen dan redaksi. Para reporter di lapangan bertugas mengulik informasi dari sebuah peristiwa kemudian menyampaikannya kepada publik melalui media.

“Inti workshop jurnalistik kali ini adalah reportase, dimana nanti temen-temen menjadi reporter di lapangan yang mencari berita dari sebuah peristiwa atau kegiatan, wawancara dengan narasumber dan mencatat peristiwanya, dilengkapi dengan gambar kemudian dikirim kepada redaksi,” kata Tedi.

Semua orang pada dasarnya bisa menjadi citizen journalisme, meliput kegiatan di sekolah, di rumah atau berbagai kegiatan yang ditemui sehari-hari. Bagi yang tidak terhimpun dalam sebuah institusi berita bisa menjadi bahan di media sosial masing-masing.

Dalam tahapan lingkungan sekolah bisa menjadi bahan untuk majalah dinding, majalah atau buletin sekolah, website sekolah. Bahkan bisa menjadi kontributor lepas diberbagai media yang ada di Indonesia sesuai bahasa pengantar tulisannya.

“Kemampuan dasarnya adalah bisa menulis dan melakukan wawancara, menghubungi narasumber kemudian menuliskannya,” tegas Tedi.

Diwaktu tersebut juga diceritakan suka duka pengalaman saat menjadi reporter di lapangan, bisa bertemu dengan tokoh-tokoh penting, namun juga sulit menemukan waktunya yang tepat oleh narasumber.

Workshop didampingi juga oleh para guru, Ketua panitia Krismawati, dalam sambutannya menegaskan bahwa kegiatan Gerakan Literasi SEkolah ini menjadi bagian penting untuk meningkatkan pengethuan siswa selama Balan Bahasa 2024. (red)

Penulis: Fitria Eranda

 

Gianyar, Bali – Ubud Writers and Readers Festival (UWRF) resmi dibuka pada Rabu, 23 Oktober 2024, di Museum Puri Lukisan, Gianyar. Pada acara pembukaan yang penuh semangat ini, Ketua Yayasan Mudra Swari Saraswati, Drs. I Ketut Suardana, menyoroti tema tahun ini, *Satyam Vada Dharmam Chara: Speak the Truth, Practice Kindness*. Menurutnya, tema tersebut diharapkan dapat memancarkan energi kebaikan sepanjang festival, yang berlangsung hingga 27 Oktober mendatang.

 

Janet Deneefe, pendiri UWRF, turut ber

bagi kebahagiaan dalam sambutannya. Ia menyampaikan bahwa festival kali ini bukan sekadar ruang diskusi literasi, tetapi juga menyuguhkan pengalaman budaya Ubud yang kaya, melalui wisata berjalan ke desa-desa, diskusi literasi sambil makan siang, hingga penerbitan buku. Janet menjanjikan bahwa festival ini menawarkan “keajaiban” dalam setiap agenda, dari pertunjukan luar biasa hingga kesempatan untuk memperluas perspektif.

 

Goenawan Muhammad Terima Lifetime Achievement Award

 

Salah satu momen paling dinantikan dari festival ini adalah penghargaan lifetime achievement  yang diberikan kepada Goenawan Muhammad. Dalam sesi yang penuh kehangatan, Goenawan mengungkapkan rasa syukurnya, meski dengan humor ringan, “Mendapatkan penghargaan sebagai lifetime Achievement Writer itu mengingatkan saya bahwa saya sudah tua,” ujarnya, disambut tawa dari audiens. Meski saat ini ia lebih banyak berkecimpung di dunia seni lukis, Goenawan baru saja menerbitkan buku terbaru yang mena

mbah daftar panjang kontribusinya di dunia sastra.

Ia juga berbagi pandangannya tentang UWRF yang berbeda dari festival sastra lainnya, “Ubud has its own charm,” katanya, memuji daya tarik unik kota ini. Goenawan menambahkan, meski Indonesia kaya dengan sumber daya alam, karya sastra lokal masih kurang dikenal di dunia internasional. “Saatnya dunia tahu bahwa Indonesia juga memiliki penulis dan karya sastranya dapat bersaing di kancah internasional,” ujarnya menutup sesi dengan nada optimis.

 

Suara Penulis Internasional dan Perempuan Asia

Acara ini juga dimeriahkan oleh penulis-penulis internasional seperti Sara M. Saleh, penulis sekaligus pengacara hak asasi manusia. Dalam pe

sannya, Sara mengajak peserta untuk membuka pikiran dan menyerap ilmu dengan keberanian. Ia menekankan bahwa “kebenaran dan kebaikan itu kembar,” dan berharap festival ini dapat menjadi ruang untuk menggali perspektif baru terkait kepedulian pada komunitas marjinal.

 

Bora Chung, penulis asal Korea Selatan, juga berbicara tentang kebebasan berekspresi yang dimiliki oleh penulis perempuan Asia, menyoroti UWRF sebagai kesempatan langka untuk bertemu dengan penulis dari berbagai belahan dunia. Sementara itu, Jack Edwards, tokoh populer di BookTube dan BookTok, menyatakan bahwa media sosial kini menjadi platform penting untuk memperluas jaringan literasi dan memperkenalkan karya kreatif kepad

a audiens yang lebih luas.

 

Festival Sastra Terbesar di Bali

Dengan 250 lebih penulis dari 30 negara, UWRF 2024 menghadirkan lebih dari 200 program yang tersebar di 40 lokasi di Ubud, seperti Taman Baca, Indus Restaurant, dan NEKA Museum. Para peserta festival tidak hanya akan disuguhkan diskusi panel, tetapi juga kesempatan untuk menyaksikan pertunjukan sastra, menjelajahi desa-desa, dan terlibat dalam acara literasi yang interaktif.

 

Sebagai festival sastra terbesar di Bali, UWRF tahun ini menjanjikan pengalaman yang mendalam bagi para pencinta sastra dari seluruh dunia, dengan fokus utama pada kebenaran, kebaikan, dan keberanian untuk menyuarakan hal-hal yang penting di tengah perubahan global. Seno Gumira Ajidharma turut memberikan pandangan terkait acara tahunan yang kerap mengundangnya. Beliau berpesan bahwa dalam situasi politik saat ini, berbicara kebenaran dan kebaikan harus diimbangi dengan tujuan yang memurnikan.

YOGYAKARTA – Pameran lukis DIY-Kyoto kembali hadir pada tahun 2024 ini. Bertempat di Bentara Budaya Yogyakarta, pameran yang sudah ada sejak 1995 ini kembali menghadirkan lomba melukis dari anak-anak se-DIY mulai dari tingkat TK hingga SMA sederajat.

Acara pembukaan pun dilangsungkan di Bentara Budaya Yogyakarta, Senin (21/10/2024), yang sekaligus menjadi momen tepat bagi panitia untuk mengumumkan para pemenang dari masing-masing kategori (TK hingga SMA). Karya dari masing-masing pemenang nantinya akan dikirimkan langsung ke Kyoto, Jepang.

Pameran lukis DIY-Kyoto pada tahun ini mengusung tema “Menuju Indonesia Emas, Solusiku Untuk Indonesiaku”, dimana setiap peserta dari seluruh kategori diminta untuk melukis bagaimana wajah Indonesia Emas yang mereka inginkan pada tahun 2045 dan seterusnya.

Kepala Dinas Kebudayaan DIY, Dian Lakshmi Pratiwi, yang turut hadir pada acara pembukaan tersebut, menyampaikan apresiasinya terhadap pameran ini, terkait bagaimana anak-anak ini mampu memberikan solusi dan ide-ide menarik terhadap potensi Indonesia emas pada 2045 mendatang.

“Kita akan menyaksikan begitu banyak ide dan gagasan yang luar biasa dari anak-anak kita, yang mungkin akan memberikan pencerahan untuk kita semua, terkait bagaimana solusi kita ke depan untuk Indonesia tahun 2045,” ujar Dian dalam sambutannya di Bentara Budaya Yogyakarta, Senin (21/10/2024).

Sementara menurut salah satu juri, Yuswantoro Adhi, menyatakan bahwa pameran kali ini sebenarnya bukan hanya tentang adu kepintaran dalam melukis saja, namun juga bagaimana anak-anak ini dapat menggambarkan keinginan dan cita-cita mereka untuk Indonesia di masa mendatang.

“Lomba ini sebetulnya tidak hanya lomba pinter-pinteran gambar saja, melainkan lmba yang bisa menggambarkan keinginan kalian untuk Indonesia yang kita cintai ini,” kata Yuswantoro.

Pameran ini akan berlangsung selama kurang lebih satu minggu, yakni pada tanggal 21-27 Oktober 2024. Anda bisa ikut menyaksikan karya lukis dari generasi penerus bangsa ini secara langsung dan gratis di Bentara Budaya Yogyakarta. (zk)