YOGYAKARTA – Event Yogyakarta Komik Weeks 2024 kembali hadir di Langgeng Art Space, 11-20 Oktober 2024. Event ini menghadirkan total 60 karya komik dari beberapa komikus di Indonesia dan khususnya di Yogyakarta, untuk kemudian dipajang selama pameran ini berlangsung.

Memasuki hari kedua penyelenggaraan, Sabtu (12/10/2024), Yogyakarta Komik Weeks kedatangan tamu spesial yakni seorang Komikus dari Seattle, Washington, Amerika Serikat bernama Rod Driver. Ia tercatat telah menghasilkan beberapa komik yang bercerita tentang kebudayaan di Indonesia.

Dalam kesempatan tersebut, Rod turut membagikan pengalamannya dalam membuat komik-komik tentang Indonesia tersebut, serta terkait bagaimana ia bisa bertahan hidup dengan menjadi seorang Komikus. Di akhir sesi diadakan pula sesi jam strip, dimana ia bersama para peserta turut melakukan praktek menggambar komik secara sederhana, yang dilakukan di secarik kertas putih.

Selain itu, ada juga giveaway buku “Komik-komik Sama-sama” karya Rod yang diberikan kepada 10 penanya dalam sesi tersebut.

Rod Driver yang ditemui pasca sesi pun merasa senang dengan antusiasme dari para peserta, serta terkesan dengan bagaimana sambutan mereka terhadap presentasi yang diberikan Rod tentang komiknya.

“Saya begitu senang dengan jalannya event Yogyakarta Komik Weeks ini. Mereka (para peserta) punya kreativitas yang cukup tinggi, dan begitu bersemangat dengan presentasi (tentang Komik karya Rod) yang saya bawakan,” ujar Rod, Sabtu (12/10/2024).

Sedangkan Koordinator Acara Yogyakarta Komik Week, Yudha Sandy, turut mengapresiasi hasil karya para peserta dalam membuat cerita kartun sederhana dalam secarik kertas.

“Yang diutamakan disini adalah have fun (senang menggambar komik, red),” kata Yudha. Di samping menghadirkan pameran, Yogyakarta Komik Weeks 2024 jug menghadirkan sejumlah side event (event tambahan). Selain sesi jam strip bersama Rod Driver, ada juga diskusi komik, launching komik, pembacaan komik, drama komikal, Koswalk, Melodi Komik, Bazaar Komik, dan lain sebagainya. (zk)

YOGYAKARTA – Dunia komik yang kerap identik dengan anak-anak, kini mulai ikut digandrungi oleh generasi-generasi diatasnya, terutama bagi mereka yang memang sudah menyukai dunia komik sejak masih kecil. Terlebih lagi, cerita dalam komik di era sekarang tidak hanya melulu tentang tokoh kartun televisi yang kemudian dituangkan dalam versi kartun. Melainkan komik juga bisa menjadi sarana menceritakan kepahlawanan (heroisme), budaya, dan juga kisah-kisah inspiratif lainnya, yang mana cerita-cerita tersebut memang benar-benar terjadi, alias bersifat nonfiksi.

Disitulah event Yogyakarta Komik Weeks 2024 hadir sebagai ajang berkumpulnya para pecinta komik serta para komikus dari wilayah Yogyakarta dan sekitarnya. Event ini dilangsungkan di Langgeng Art Space, Mantrijeron, Yogyakarta, 11-20 Oktober 2024.

Event ini menghadirkan pameran komik hasil karya 60 peserta sebagai sajian utama, lalu ada beberapa side event (event tambahan) seperti diskusi komik, launching komik, pembacaan komik, drama komikal, Koswalk, melodi komik, bazaar komik, serta jam strip (menggambar komik di sebuah kertas).

Koordinator event Yogyakarta Komik Weeks 2024, Yudha Sandy, menjelaskan bahwa event ini adalah ajang literasi atau berkumpulnya para pegiat komik di Yogyakarta, baik itu pembuat maupun para pembaca, untuk bisa menyalurkan bakat dan hobinya di bidang komik.

“Dengan hadirnya event ini, kami mengupayakan agar literasi terhadap komik semakin meningkat. Dan kami juga ingin kembali melahirkan komikus-komikus baru dari Yogyakarta, untuk dapat meneruskan estafet sejarah perkomikan di Yogyakarta,” kata Yudha Sandy, Sabtu (12/10/2024).

Lebih lanjut, Yudha Sandy mengungkapkan keinginannya agar event-event terkait komik semacam ini dapat digelar dalam jumlah yang lebih banyak, sehingga anak-anak muda akan semakin banyak dilibatkan dalam kegiatan berkomik, yang kemudian dapat menumbuhkan kecintaan mereka terhadap komik.

“Anak-anak muda ini jangan hanya dilibatkan sebagai penggembira (penonton) saja, melainkan juga sebagai peserta yang dapat menyumbangkan pemikirannya tentang komik, seperti dengan mengikuti lomba, lokakarya, workshop, dan sebagainya,” tambah Yudha Sandy. (zk)

Berlokasi di Langgeng Art Space, Mantrijeron, kota Yogyakarta, Yogyakarta Komik Weeks kembali hadir pada tahun ini, yang berlangsung pada 11-20 Oktober 2024. Sejumlah cerita komik pilihan pun telah terpajang rapi di ruang pameran.

Berikut adalah beberapa cuplikan komik pilihan yang terpampang di Yogyakarta Komik Weeks 2024. (foto: Azka)

BANTUL – Rangkaian acara Festival Kebudayaan Yogyakarta (FKY) 2024 yang berlangsung pada 10 hingga 18 Oktober 2024, tidak hanya dipusatkan di Lapangan Bawuran, Pleret, Bantul saja. Melainkan juga berlangsung di beberapa tempat strategis lainnya, yang letaknya masih cukup dekat dengan Lapangan Bawuran.

Salah satunya ada di MCC Tepi Sabin, yang menjadi lokasi dari Pameran bertajuk “Azimat Siasat”. Pameran ini juga merupakan salah satu rangkaian dari acara FKY 2024. yang berlangsung dari tanggal 10 hingga 17 Oktober 2024.

Istilah “Azimat Siasat” ini sendiri mengacu pada tema FKY 2024 yaitu terkait ke-benda-an, yang secara sederhana dapat diartikan sebagai “jimat” (pelindung), atau segala sesuatu yang dipercaya memiliki kekuatan yang dapat menjadikan individunya menjadi lebih baik dari sebelumnya. Sehingga bisa dikatakan, “Azimat siasat” adalah siasat atau trik bagi para seniman untuk menjadi lebih baik lagi ke depannya.

Tomi Firdaus selaku Programmer Pameran Azimat Siasat, mengungkapkan bahwa pameran ini diikuti oleh total 52 seniman dari berbagai genre, seperti karya lukis, patung, instalasi, kriya, hingga multimedia.

“Para seniman (yang memamerkan karya di Pameran Azimat Siasatred) diperoleh melalui dua jalur, yakni jalur undangan dan juga jalur panggilan terbuka, yakni panggilan bagi mereka (para seniman) yang berdomisili di DIY dari berbagai usia,” pungkas Tomi yang ditemui di sela-sela pameran, Jumat (11/10/2024).

Tomi pun berharap, keberadaan pameran Azimat Siasat dalam rangkaian FKY 2024 kali ini dapat mengajak masyarakat sekitar, untuk dapat melihat dan memaknai karya seni yang disajikan dalam berbagai bentuk. Dan setiap orang juga dapat membuat karya seninya masing-masing dari benda-benda yang ada di sekitar mereka, tanpa harus menggunakan alat-alat yang sifatnya eksklusif seperti kuas, kanvas, dan lain sebagainya. (zk)

BANTUL – Di samping menampilkan puluhan karya dari para seniman, Pameran Azimat Siasat yang diselenggarakan di MCC Tepi Sabin, kawasan Bawuran, Pleret, Bantul ini juga turut memamerkan beberapa arsip Sastra Yogyakarta sejak tahun 1940-an. Arsip-arsip tersebut diantaranya berupa buku, koran, majalah, media massa, mesin ketik jadul, dan artefak-artefak lainnya.

Dipamerkannya benda-benda atau arsip para sastrawan tersebut bukannya tanpa alasan. Hal ini lantaran Yogyakarta sampai saat ini belum memiliki Museum Sastra, padahal Yogyakarta sangat dikenal sebagai kota (atau provinsi) penghasil seniman-seniman kondang, yang namanya telah melegenda bahkan sampai ke mancanegara. Namun sayangnya, karya-karya atau eksistensi mereka pada masanya tidak pernah diarsipkan secara rapi dan terstruktur dalam satu wadah yang profesional dan dikelola dengan baik. Hingga pada akhirnya karya-karya para Sastrawan tersebut hanya “eksis” melalui cerita dari mulut ke mulut saja.

Terkait hal ini, Fathurahman Ramadhan selaku Staff Sastra dari Pameran Azimat Siasat ini, menekankan bahwa memiliki Museum Sastra adalah impian bagi seluruh elemen Sastra di Yogyakarta.

“Itulah mengapa tulisan itu (Andaikan Yogyakarta Punya Museum Sastra) kami mural di depan ruang pameran. Karena dari program sastra sendiri, kami ingin menampilkan program untuk mengarsipkan karya-karya sastra yang masih tersimpan sejak zaman dahulu,” ujar Fathurahman.

Tulisan itu tentu saja bukan hanya sekedar mural, melainkan juga sebuah pesan kepada para stakeholder terkait, entah itu dari Pemerintah, Dinas Kebudayaan, atau yang lainnya, untuk dapat merealisasikan berdirinya Museum Sastra di Yogyakarta.

“Harapannya agar seluruh elemen masyarakat bisa menyatukan visi-misinya agar bisa mewujudkan ruang untuk terciptanya Museum Sastra ini ke depannya,” tambah Fathurahman. (zk)

Pameran Azimat Siasat merupakan salah satu rangkaian acara dalam gelaran Festival Kebudayaan Yogyakarta (FKY) 2024, yang berlangsung pada 10-17 Oktober 2024 di MCC Tepi Sabin, kawasan Bawuran, Pleret, Bantul, DIY. Berikut adalah beberapa koleksi unik (dan antik) yang ada di dalam pameran tersebut. (foto: Azka)

BANTUL- Pembukaan Festival Kebudayaan Yogyakarta (FKY) 2024 yang berlangsung di Lapangan Bawuran, Pleret, Bantul, pada Kamis (10/10/2024) juga turut dimeriahkan oleh penampilan spesial flashmob Jamasan Pusaka. Dimana flashmob ini adalah ungkapan ekspresi terhadap benda-benda pusaka warga, yaitu benda-benda yang dianggap penting untuk kegiatan sehari-hari.

Salah satu peserta flashmob bernama Aulia Febriana, yang ditemui usai acara pembukaan, mengaku senang bisa menjadi bagian dari sejarah perhelatan FKY tahun ini. Ia mendapat kesempatan karena tergabung di dalam Sanggar Seni RNB (Rawikara Nari Bahuwarna) yang diasuh oleh Bima Rosanto Bima dan Rea.

Sebagai salah satu pengisi acara pada FKY tahun ini, lantas Aulia berharap bahwa FKY 2024 bertajuk “Umpak Buka” ini dapat dimeriahkan oleh seluruh masyarakat DIY, khususnya yang berada di Bantul.

“Harapan saya agar masyarakat bisa ikut memeriahkan rangkaian acara kebudayaan yang ada FKY kali ini, karena FKY merupakan salah satu tempat untuk dapat merayakan kebudayaan bersama-sama,” kata Aulia.

Kegiatan FKY 2024 masih akan berlangsung hingga 18 Oktober mendatang, berpusat di Lapangan Bawuran, Pleret, Bantul. (zk)

BANTUL – Gelaran Festival Kebudayaan Yogyakarta (FKY) tahun 2024 akhirnya resmi dibuka di Lapangan Bawuran, Pleret, Bantul, DIY, Kamis (10/10/2024). Dalam kesempatan tersebut, para pejabat dari lima kabupaten-kota serta provinsi di DIY turut hadir pada acara ini.

Mengusung tema “Umpak Buka”, FKY tahun ini berusaha untuk menghubungkan pengalaman yang terjadi di masa lalu dengan masa sekarang, sekaligus di masa mendatang. Karena setiap peristiwa akan selalu memiliki keterkaitan satu sama lain.

Momen pembukaan FKY 2024 ini dibuka dengan sejumlah performance, mulai dari Pawai Pusaka dari lima kabupaten-kota, flashmob Jamasan Pusaka, serta penampilan spesial dari Ansamble Tiup Yogyakarta Royal Orchestra.

Kepala Dinas Kebudayaan Kundha Kabudayan DIY, Dian Lakshmi Pratiwi, yang turut hadir pada kesempatan ini, dalam sambutannya mengatakan bahwa Festival ini dapat dijadikan platform untuk menelusuri kembali asal-usul peradaban manusia dalam hidup ini.

“Kami menyusun FKY sebagai wadah untuk menelusuri kembali darimana kita berasal, dan kemana kita harus kembali, serta membaca kembali apa-apa saja yang telah ditinggalkan (warisan, red) oleh mereka yang telah mendahului kita” kata Dian dalam sambutannya di hadapan para hadirin di Lapangan Bawuran, Kamis (10/10/2024).

Lebih lanjut, Dian juga menyatakan bahwa keberadaan FKY di daerah pelosok seperti Pleret, Bantul ini menegaskan kembali, bahwa kebudayaan adalah milik seluruh masyarakat dari seluruh kalangan.

“Ini adalah acara kita bersama. Ini bukan hanya acara milik pemerintah, seniman, stakeholder terkait, apalagi Dinas Kebudayaan. Ini adalah acara milik kita bersama,” tambah Dian.

Sementara itu di kesempatan yang sama, Wakil Gubernur DIY, KGPAA Paku Alam X berharap bahwa event FKY ini dapat membawa manfaat yang besar bagi seluruh lapisan masyarakat di DIY, khususnya di Bantul sebagai tuan rumah.

“Semoga festival ini dapat membawa manfaat yang sebesar-besarnya, tidak hanya bagi kebudayaan, tapi juga kehidupan social untuk seluruh masyarakat di DIY,” ucap KGPAA Paku Alam X yang mewakili Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengku Buwono X selaku perwakilan dari Provinsi.

Sedangkan Penjabat Sementara (Pjs) Bupati Bantul, Adi Bayu Kristanto, mengungkapkan bahwa FKY selayaknya menjadi refleksi dari kebudayaan itu sendiri, agar tetap bergerak dinamis mengikuti perkembangan zaman.

“Sebagai kata benda, budaya adalah warisan luhur, yang patut dijaga dan dilestarikan. Namun sebagai kata kerja, budaya juga harus bergerak, dan berkembang. Budaya yang dikembangkan pun harus menuju ke strata adiluhung, artinya mampu mensejahterakan masyarakat,” ujar Adi dalam sambutannya.

Perhelatan FKY 2024 di Lapangan Bawuran masih akan berlangsung sampai 18 Oktober mendatang, Seluruh masyarakat dipersilahkan untuk hadir meramaikan event ini, karena kegiatan ini terbuka untuk umum dan juga gratis. (zk)

Festival Kebudayaan Yogyakarta (FKY) 2024 resmi dibuka pada Kamis (10/10/2024) di Lapangan Bawuran, Pleret, Bantul. Berikut adalah sejumlah momen menarik yang telah terekam selama berlangsungnya acara tersebut (Foto: Azka Qintory)

BANTUL – Rangkaian acara FFPJ (Festival Film Pelajar Jogja) XV 2024 telah resmi ditutup di Kawasan Wisata Sri Keminut, Sriharjo, Imogiri, Bantul, Minggu (6/10/2024).

Hari terakhir FFPJ XV 2024 diisi dengan sejumlah kegiatan, seperti Outbond, apresiasi lingkungan, pemutaran karya film terpilih, serta bedah karya dan kelas ahli dari para Juri.

Memasuki puncak acara, para pemenang festival pun akhirnya diumumkan melalui sesi Awarding ceremony, baik dari kategori Saraswati (film Fiksi), Dewantara (film Dokumenter), dan Kelir (karya Eksperimental).

Adapun para pemenang untuk kategori Saraswati adalah Pepali dari SMK 7 Yogyakarta untuk Juara 5 (Harapan 2), Kekancan dari SMK PGRI 3 Malang untuk Juara 4 (Harapan 1), Urai dari SMK Prestasi Prima Jakarta Timur untuk Juara 3, Perbedaan Menyatukan Semua dari SMAN 3 Singkawang Kalimantan Barat menduduki runner-up atau peringkat kedua, dan Prestasi Berdarah dari SMA Kristen Eben Haezar Manado yang berhasil menjadi juara umum di kategori fiksi ini.

Selanjutnya di kategori Dewantara atau Dokumenter terbaik ada Nyusuh dari SMAN 60 Jakarta Selatan di posisi 3, lalu film Bendera Sholawat dari SMK Al Fatah Banjarnegara di peringkat kedua, dan film Mentari Sang Penakluk Gelombang sebagai Juara Umum untuk kategori film Dokumenter terbaik dalam FFPJ tahun ini.

Sedangkan untuk satu kategori tambahan yaitu karya eksperimental atau disebut juga Kelir, berhasil dimenangkan oleh film berjudul Atirath dari SMKN 1 Wonosari, Gunungkidul.

Para pemenang yang telah disebutkan diatas berhak mendapatkan piagam dan juga piala, serta tentu saja sertifikat penghargaan, dan juga sertifikat atas keikutsertaan mereka selama FFPJ XV 2024 kali ini.

Dengan berakhirnya FFPJ tahun ini, tentunya diharapkan agar ilmu dan pengalaman yang telah didapatkan oleh para peserta tidak hanya berhenti di mereka saja, tapi juga semangat itu dapat ditularkan lagi ke teman-temannya di sekolah maupun di lingkungan sekitarnya.

FFPJ akan kembali hadir pada tahun depan (2025), yang akan memasuki tahun penyelenggaraan ke-16. Tema FFPJ untuk tahun depan adalah “Gugur Gunung” atau Gotong royong. (zk)