KULON PROGO – JT – Akhir tahun menjadi waktu yang tepat untuk merayakan sastra, seperti halnya program pameran sastra. Pameran sastra yang diadakan oleh komunitas sastra REGAS (Remaja Geblek Bersastra) yang bekerja sama dengan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kulon Progo, Kuncup Mekar, Wih Production, Kabar Burung dan Padhang jinglang art. Pameran sastra bertajuk “Kembang Sastra Jogja 2024”
Pameran sastra berlangsung selama 3 hari yaitu tanggal 28, 29, dan 30 Desember 2024. Pameran ini memamerkan karya sastra dari para penulis se-DIY yang karyanya telah dikurasi. Pameran berlangsung ramai karna dibarengi dengan beberapa rangkaian acara.
Acara hari pertama adalah pembukaan dan regas apresiasi karya. Dalam hal ini terdapat penampilan spesial dari sanggar wiwitan, komunitas samudra dan anggota komunitas regas.
Pada hari kedua dilaksanakan acara workshop aksara Jawa digital yang diisi oleh komunitas Segajabung. Program ini dinilai sukses karna antusias peserta yang luar biasa karena peserta melebihi kuota yang ada.
Selanjutnya pada hari ketiga terdapat launching buku antologi geguritan karya Tri Wahyuni (pendiri komunitas regas). Dilanjutkan dengan acara penutup yaitu sarasehan sastra bersama Bang Tedi Kusyairi selaku pembina Regas, Ahmad Hibban selaku ketua panitia dan Tri Wahyuni.
“Pameran sastra ini diharapkan mampu memberikan ruang untuk berkarya. Selain itu kami juga ingin mengapresiasi karya sastra. Semoga dengan adanya pameran kembang sastra Jogja dapat memberikan inspirasi, motivasi dan bermanfaat untuk para pecinta sastra mau pun masyarakat luas” jelas Tri Wahyuni, Senin (30/12/2024)
Pameran sastra: kembang sastra Jogja berjalan dengan lancar. Semoga sastra selalu dicintai dan literasi semakin meningkat. (TKS)
Para pengunjung diskusi Komunitas Satupena Yogyakarta. Foto: Istimewa
Kota Yogyakarta – JT – Sastrawan Satmoko Budi Santoso dan Awit Radiani hadir dalam acara Bincang Sastra yang digelar Komunitas Sastra Satupena Yogyakarta di Griya Abhipraya, Yogyakarta, Minggu, 22 Desember 2024.
Acara yang dimoderatori Pascalia WD tersebut sangat meriah didukung dengan penampilan baca puisi Sabatina RW dan penampilan baca cerpen Karl Hank.
Dalam diskusi, Satmoko Budi Santoso menyampaikan bahwa pengalamannya menulis lebih banyak karena berdasarkan imajinasi.
“Saya terpengaruh buku Bakat Alam dan Intelektualisme karya Subagio Sastrowardoyo dan esai Sastra Ide dan Pikiran yang Dinyatakan karya Adi Wicaksono,” ujar Satmoko Budi Santoso.
Awit Radiani pun menyatakan, ternyata dalam proses kreatif menulis karya sastra juga lebih suka memaparkan hal yang imajinatif.
“Dunia imajiner itu mengasyikkan dan saya menulis happy-happy saja,” tutur Awit Radiani.
Dalam diskusi tersebut juga hadir Sastrawan Dhenok Kristianti yang menyampaikan pentingnya literasi sastra masuk sekolah-sekolah.
“Banyak kalangan pendidik yang ingin bisa menulis karya sastra. Tentu saja mereka perlu pendampingan dan apresiasi yang memadai,” ucap Dhenok Kristianti. (QIN)*
SLEMAN – JT – Forum Komunikasi Pengurus Osis Kabupaten Sleman (FKPO Sleman) menginisiasi kegiatan SOLETA (Sleman Youth Leadership Talkshow) pada Minggu (8/12/2024) di Ruang UMKM DPRD Kab. Sleman. Dalam kesempatan ini, Ketua DPRD Kabupaten Sleman, Y. Gustan Ganda memberikan materi inspiratif mengenai kepemudaan. Beliau menyoroti perbedaan pola pikir yang signifikan antara generasi Z dengan generasi sebelumnya, khususnya generasi kolonial. Menurut Gustan Ganda, pemahaman akan perbedaan ini sangat penting dalam membangun komunikasi yang efektif antar generasi.
“Generasi Z memiliki karakteristik yang unik, mereka lebih terbuka, kritis, dan inovatif. Namun, kita perlu memahami bahwa mereka tumbuh dalam konteks yang berbeda dengan generasi sebelumnya, mulai dari cara mengatur perlengkapan kamar, cara belajar, hingga kebiasaan dalam bersosial. Oleh karena itu, penting bagi kita untuk membangun jembatan komunikasi yang kuat,” ujar Gustan Ganda Ketua DPRD Kabupaten Sleman.
Pada acara ini juga diisi oleh influencer Danang Giri Sadewa, Danang menyampaikan pentingnya personal branding bagi kaum muda.
“Personal branding itu tidak harus menjadi influencer atau public figure, tetapi bisa dengan menunjukkan keistimewaan daripada orang lain,” tutur Danang.
Danang menyebutkan bahwa pelajar di Kabupaten Sleman memiliki semangat untuk membangun personal branding.
Founder Yogyakarta Future Leader, Emmanuel Prince, juga turut mengisi acara pada hari ini, menurutnya, pemimpin tidak ada yang diciptakan, tapi dibentuk.
“Pemimpin itu bukan diciptakan, tidak ada pemimpin yang diciptakan, namun pemimpin itu dibentuk dan di latih, menjadi pemimpin bukan hal yang mudah, dibutuhkan keterampilan dan pengalaman untuk menjadi pemimpin,” ucap Emmanuel.
FKPO Sleman menginisiasi SOLETA 2024 untuk membuka wawasan pelajar di Kabupaten Sleman untuk lebih dekat mengenal anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Sleman dan guna mempersiapkan pelajar Sleman untuk menghadapi tantangan Indonesia Emas 2045. FKPO Sleman yakin bahwa Kabupaten Sleman tidak pernah kekurangan orang hebat, namun pelajar Sleman harus mempersiapkan diri dan bersungguh-sungguh untuk menghadapi tantangan yang besar pada 2045. (jnd-atg-red)
Sleman – JT – Pengurus Wilayah Pergerakan Mahasiswa Moderasi Beragama dan bela Negara Daerah Istimewa Yogyakarta (PW PMMBN DIY) sukses laksanakan Training of Leadership Moderasi Beragama dan Bela Negara Perguruan Tinggi Umum.
Training of Leadership Moderasi Beragama dan bela Negara oleh PW PMMBN DIY ini mengusung tema “Membangun Kepemimpinan yang Moderat dan Berwawasan Bela Negara Dalam Bingkai Keharmonisan Sosial”
Program Training of Leadership Moderasi Beragama dan Bela Negara yang diselenggarakan oleh PW PMMBN DIY ini berlangsung pada Hari Minggu, 1 Desember 2024 di Ruang Persatuan Lantai 3 Gedung Fakultas Filsafat Universitas Gadjah Mada Yogyakarta.
Pada Prakteknya, Acara Training of Leadership Moderasi Beragama dan Bela Negara PW PMMBN DIY Ini dihadiri oleh mahasiswa lebih dari 15 Perguruan Tinggi Umum (PTU) di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta.
Program Training of Leadership ini menghadirkan Bapak Dr. Adimin Diens, S.Ag., M.Pd. (PTP Ahli Muda pada Seksi Bina Keagamaan Mahasiswa Subdirektorat PAI pada PTU Direktorat PAI Ditjend Pendis Kementerian Agama Republik Indonesia) sebagai Key Note Speaker.
Dalam Penyampaianya, beliau mengatakan bahwa Indonesia adalah negara yang majemuk, dan pancasila adalah pelindung dari keberagaman itu serta dari sudut pandang agama, Keragaman adalah anugerah dan kehendak tuhan.
“Indonesia adalah negara majemuk dan pancasila adalah pelindung keberagaman itu. Indonesia terdiri dari 17.504 pulau, 250an agama dan kepercayaan, 1340 suku bangsa, dan 546 bahasa. Serta dari sudut pandang agama, keragaman adalah anugerah dan kehendak tuhan”, ujarnya.
Adimin juga menjelaskan bahwa perbedaan-perbedaan tersebut dapat menimbulkan potensi konflik ataupun disintegrasi yang bersbumber dari kebudayaan dan keagamaan yang eksklusif, Intoleran, dan Semangat keberagamaan tidak selaras denga sikap cinta terhadap tanah air.
“Perbedaan- perbedaan ini dapat menimbulkan potensi konflik dan disintegrasi yang bersumber dari kebudayaan dan keagamaan yang cenderung ekslusif, intoleran, dan berkembangnya semangat beragama yang tidak selaras dengan sikap kecintaan dalam berbangsa dalam bingkai NKRI,” pungkasnya.
Adimin juga mengatakan bahwa moderasi beragama sesungguhnya adalah kunci terciptanya toleransi dan kerukunan baik di tingkat lokal, nasional, maupun global dengan empat indikator nilai dalam moderasi beragama yaitu, komitmen kebangsaan, anti kekerasan, toleransi, dan adaptif terhadap kebudayaan lokal.
“Moderasi beragama sesungguhnya merupakan kunci terciptanya toleransi dan kerukunan baik tingkat lokal, nasional, maupun global. Dan empat indikator nilai dalam moderasi beragama yaitu, komitmen kebangsaan, antikekerasan, toleransi, dan adaptif terhadap kebudayaan lokal”, ujar Adimin.
Dalam pelaksanaan acara ini, Mirna Radila (Duta Museum DIY 2022-2023) selaku MC memandu perjalanan acara bersama Bagas Pramukti (Mahasiswa ITY) yang berperan sebagai moderator dalam kegiatan diskusi dalam acara tersebut.
Wakil Ketua PW PMMBN DIY R. Abdy Restu Yudha Pinanggih, S.T. juga menyampaikan tentang pentingnya moderasi beragama dalam sambutan dalam acara Training of Leadership Moderasi Beragama dan Bela Negara tersebut.
“Moderasi beragama adalah program prioritas Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RJPMN) yang salah satunya bertujuan untuk menjaga persatuan dan mengantisipasi disintegrasi melalui toleransi beragama bersama semangat kebangsaan”, ucap Yudha.
Kemudian dilanjutkan oleh Ketua Bidang Kaderisasi Pengurus Pusat PMMBN, Mohammad Derry Jamaludin, S. Hum. Yang memberikan penjelasan tentang arti pentingnya Implementasi nilai moderasi beragama dalam sambutanya.
“Moderasi beragama adalah pendekatan dalam praktik keagamaan yang menekankan pada toleransi dan penghargaan terhadap perbedaan”, ungkapnya.
Derry menjelaskan, moderasi beragama sangat penting karena dapat menjaga stabilitas sosial dan politik, serta menciptakan kerukunan antarumat beragama. Selain itu juga merupakan perekat antara semangat beragama dengan komitmen berbangsa dan bernegara.
Training of Leadership ini diisi oleh Dosen Filsafat UGM, Bapak Syarif Hidayatullah, S.Ag., M. Ag., M. A. dan Fatih Ilfi (Gusdurian Jogja) sebagai Pembicara. (red)
YOGYAKARTA – Komunitas Sakatoya akan menghadirkan proyek teater “Soerjopranoto: 6 Tubuh si Raja Mogok” yang akan dipentaskan selama enam hari, pada 3 s.d 8 Desember 2024 dalam enam situs di Yogyakarta dengan enam sutradara yang berbeda. Proyek teater yang didukung oleh Kementerian Kebudayaan melalui program Fasilitasi Bidang Kebudayaan Teater Kepahlawanan 2024 ini, akan menghadirkan teater situs spesifik dengan pengalaman imersif-partisipatoris yang dialami oleh penonton sebagai siasat mengalami biografi Soerjopranoto dan kelindan peristiwa yang menyertainya.
Teater situs spesifik adalah siasat mencipta karya pertunjukan di lokasi khusus yang mempunyai makna substansial dan kesejarahan tersendiri. Sedangkan, melalui pendekatan imersif-partisipatoris, para penonton akan mengalami keterlibatan yang mendalam sebagai bagian dari pertunjukan.
Konsep karya “Soerjopranoto: 6 Tubuh si Raja Mogok” akan menggunakan enam situs di Yogyakarta sebagai lokus pengetahuan yang merekam jejak perjalanan hidup Soerjopranoto dengan beragam pendekatan artistik, seperti: spekulasi fiksi, partisipatoris, aktivasi arsip dan reenactment sejarah.
Soerjopranoto adalah tokoh pahlawan negeri ini yang terlahir pada 11 Januari 1871 di lingkungan Puro Pakualaman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Sebagai bangsawan Jawa, ia adalah anak dari Kanjeng Pangeran Harya (KPH) Soerjaningrat, putra tertua dari Pakualam III, sekaligus kakak dari Ki Hajar Dewantara. Ia memanfaatkan privilesenya untuk membela kaum tertindas dengan cara bergabung di beberapa organisasi pemuda dan pekerja, seperti: Boedi Oetomo, Serikat Buruh Pegawai Negeri, hingga Sarekat Islam. Puncaknya adalah ia mendapat julukan “De Stakings Koning” alias Si Raja Mogok, karena berhasil mengorganisir aksi mogok kerja massal yang menjadi ancaman kolonial Belanda. Ia juga mendirikan sekolah Adhi Dharma yang membantu kelas pekerja dengan pendidikan keterampilan yang memiliki ribuan siswa. Soerjopranoto meninggal pada 15 Oktober 1959, dan dimakamkan di Makam Rachmat Jati, Kotagede, Yogyakarta. Sukarno pun menetapkan Soerjopranoto sebagai pahlawan nasional pada 30 November 1959.
Proyek teater ini akan melibatkan 120 partisipan setiap harinya yang berasal dari berbagai kalangan, seperti: para siswa sekolah, komunitas sejarah, persatuan tuna netra, akademisi, keluarga ahli waris, hingga serikat buruh dan perkumpulan guru. Para partisipan itu akan berperan sebagai spectactor, baik sebagai penonton maupun elemen pertunjukan. Setiap harinya, seluruh partisipan akan dikumpulkan di satu titik temu, untuk mengalami jelajah tiga situs dengan bersama-sama berangkat menuju lokasi situs menggunakan bus yang telah disiapkan.
Pertunjukan pembuka dari proyek teater ini telah dimulai pada 3 Desember lalu, dengan pertunjukan “R.M Soerjopranoto” di SMK Ibu Pawiyatan Tamansiswa yang disutradarai oleh Mifathul Maghfira Simanjuntak. Pertunjukan ini mengisahkan tentang biografi masa kecil Soerjopranoto yang dituturkan melalui perspektif sang istri, R.A Jauharin Insiyah.
Selanjutnya pada 4 Desember ada pertunjukan bertajuk “(Denmas Landung) Suryapranoto Bertukar Jalan” yang disutradarai oleh Irfanuddien Ghozali, sebagai tafsir ulang atas buku biografi Suryapranoto yang ditulis oleh Budiawan, “Anak Bangsawan Bertukar Jalan” (LKiS, 2006). Pertunjukan ini memadukan serangkaian praktik seni dan laku keseharian untuk mengonstruksi biografi Suryopranoto dalam bentuk kontemporer, kritis, dan reflektif yang akan digelar di 3 situs pengetahuan, seperti: Kompleks Makam Raja-Raja Mataram Islam Kotagede,
Lalu, pada 5 Desember ini, akan hadir pertunjukan “Via Soerjopranoto” yang disutradarai oleh Darryl Haryanto akan menggunakan Aula Boedi Oetomo di SMA N 11 Yogyakarta. Pertunjukan ini menitiktemukan ketidaksepakatan Soerjopranoto atas kongres pertama Boedi Oetomo mengenai kolonialisme, kapitalisme, dan feodalisme. Variabel itu menjadi landasan, lensa, sekaligus taktik untuk menjelajahi peta sosial-politik Indonesia hari ini dengan dipertemukan pada biografi dan realitas harian para perfomer.
Pada 6 Desember, dengan sutradara Gilang “Gilbo” dan asisten sutradara, Galuh Putri S. akan membawakan pertunjukan “Wiyata Adhi Dharma” di Rumah Suryoputran, Kalurahan Panembahan, Yogyakarta. Akan menghadirkan sebuah pertunjukan yang terinspirasi dari lembaga pendidikan Adhi Dharma, pertunjukan ini hendak menampilkan spekulasi fiksi dengan menghadirkan situasi kelas terbuka yang dapat memantik penonton mengalami pertunjukan secara langsung dan mendalam.
Selanjutnya, pada 7 Desember, pertunjukan “Vergadering Sarekat Islam (Suatu Hari Sebelum Indonesia)” dengan sutradara Shohifur Ridho’i yang bertempat di Amphitheatre TBY, akan menghadirkan pertunjukan spekulatif yang mereka ulang situasi kongres Sarekat Islam dengan menampilkan pemaparan Soerjopranoto atas hak-hak buruh dan feodalisme. Pertunjukan ini mengartikulasikan dinamika gagasan dan perdebatan di era pergerakan nasional.
Rangkaian proyek teater ini pun akan ditutup oleh pertunjukan “Merapal Piwulang Sampai Pulang” yang disutradarai Amalia Rizqi Fitriani, pertunjukan ini bertempat di Makam Rachmat Jati, Kotagede, Yogyakarta. Dengan menggunakan dramaturgi ziarah, pertunjukan ini akan menghadirkan narasi kebijaksanaan dari akhir hayat Soerjopranoto sebagai bentuk penghormatan, melalui bentuk ritual pemakaman yang menghadirkan pertunjukan ceramah, teater objek, doa bersama, hingga ziarah bergilir.
B.M Anggana, selaku Produser dan Dramaturg Soerjopranoto: 6 Tubuh si Raja Mogok ini menyampaikan bahwa: “proyek pertunjukan ini dirancang guna membicarakan kembali nilai-nilai perjuangan Soerjopranoto yang masihlah sangat relevan dengan dinamika hari ini, terutama terkait persoalan sosial-ekonomi yang dihadapi oleh kaum buruh dan pekerja di Indonesia.
Bentuk pertunjukan sendiri dipilih sebagai upaya untuk tidak memaksakan pemampatan biografi sejarah dalam satu durasi pertunjukan bernalar prosenium, yang acapkali mereduksi narasi kecil yang penting untuk dipercakapkan”, tutupnya. Komunitas Sakatoya berharap generasi muda dapat merasakan dan mengeksplorasi relevansi nilai-nilai Soerjopranoto dalam konteks Indonesia saat ini. Nilai-nilai keberanian dan keadilan yang mendorong peran individu dalam menciptakan perubahan sosial. Sekaligus, mendorong pembelajaran sejarah yang lebih hidup dan interaktif melalui teater, serta meningkatkan kesadaran akan pelestarian ruang publik dan situs bersejarah sebagai bagian aktif dari kehidupan kita yang memberikan edukasi dan refleksi masa kini. (zk)
Penampilan Frau membawakan empat lagu diiringi keybord yang diberi nama ‘Teddy’. Foto: Istimewa.
BANTUL – JT – Hujan deras yang mengguyur lapangan Taman Kuliner Imogiri sejak sore hari tak menyurutkan para sastrawan untuk tampil dalam agendaq Gelar Sastra Bantul 2024 pada Sabtu (30/11/24). Acara diselenggarakan oleh Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) Kabupaten Bantul melalui Bidang Sejarah, Permuseuman, Bahasa dan Sastra, Seksi Bahasa dan sastra.
Menurut Trijaka Suhartaka Kasie Bahasa dan Sastra, para penampil Gelar Sastra Bantul diambil dari berbagai komunitas seni berbasis bahasa dan Sastra yang ada di Kabupaten Bantul, seperti; Paguyuban Pendongeng Bantul, Angklung Gandhes Luwes Karangtalun Imogiri, Komunitas Teater Remaja Bantul ‘KomaTera’, Macapat Karna Laras, Mantra Surya Sakethi, Tari Golek Ayun-ayun, PSJB Paramarta, Musik Kepal SPI, Gerakan Literasi #SelasaSastra, Komunitas Sastra Bantul, Gamelan Puisi Omah Nglaras, dengan bintang tamu Frau dan Sri Redjeki.
Yanatun Yunadiana Kepala Dinas Kebudayaan Kabupaten Bantul dalam sambutannya mengatakan bahwa kegiatan ini merupakan upaya Kundha Kabudayan Bantul untuk melestarikan potensi kearifan lokal melalui kegiatan bahasa dan sastra, bahwa nilai-nilai luhur bisa diwariskan kepada generasi muda melalui sastra.
“Tradisi dan budaya masyarakat Bantul bisa diwariskan kepada generasi muda melalui bahasa dan sastra,” kata Yanatun Yunadiana.
Pada acara ini juga diselenggarakan peneguhan kepada para juara lomba bahasa dan sastra yang mewakili Kabupaten Bantul di kancah lomba DIY.
Penampilan Evi Idawati, Ikun Sri Kuncoro, Satmoko Budi Santoso. Foto: BTW.
Tedi Kusyairi yang ditunjuk sebagai sutradara pementasan, bersama Dinas Kebudayaan Kabupaten Bantul menguhubungi komunitas seni sastra yang ada di Bantul untuk bisa mempersiapkan diri dalam pementasan sastra tersebut.
“Proses latihan masing-masing penampil kira-kira satu bulan, ada yang kembali mementaskan naskah dan konsep yang pernah digarap, namun banyak juga yang membuat atau mengolah naskah baru, misalnya #SelasaSastra, KomaTera, Paramarta, Omah Nglaras, dan Komunitas Sastra Bantul membuat naskah sastra baru untuk dipentaskan. Maka sebelumnya mereka latihan secara kontinyu,” jelas Tedi yang sering menyambangi komunitas untuk latihan persiapan pentas Gelar Sastra Bantul.
Sri Redjeki menutup acara GSB 2024 dengan meriah. Foto: Istimewa.
Gelar Sastra Bantul 2024 mengangkat tema ‘Damai Sejuk Dalam Sastra’, sebanyak 13 kelompok penampil digelar hingga semua melaksanakan aksinya di atas panggung, semakin dinihari semakin meriah karena gerimis mulai reda.
Para sastrawan senior turut memeriahkan Gelar Sastra Bantul yakni Evi Idawati, Satmoko Budi Santoso, Ikun Sri Kuncoro yang diiringi musik oleh Doni dan Egi. Satmoko beberapa hari sebelumnya mendapatkan Anugerah Kebudayaan 2024 dari Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta. (QIN)
Para pelaku budaya penerima Anugerah Kebudayaan 2024. Foto: Istimewa
DIY – JT – Gubernur DIY menyerahkan secara langsung Anugerah Kebudayaan 2024 kepada 28 pelaku budaya, salah satunya sastrawan Satmoko Budi Santoso dari Komunitas Selasa Sastra, Bantul, Yogyakarta. Penyerahan Anugerah Kebudayaan 2024 kepada 28 pelaku budaya tersebut dilaksanakan di Bangsal Kepatihan, Kompleks Kantor Gubernur DIY, Kamis (30/11/2024) lalu.
Selain penyerahan Anugerah Kebudayaan 2024 kepada sastrawan Satmoko Budi Santoso dari Komunitas Selasa Sastra, Bantul, Yogyakarta, juga kepada 27 pelaku budaya lainnya sesuai bidangnya masing-masing, yaitu: Soimah Pancawati, Daud Aris Tanudirdjo, Matheus Sal Murgiyanto, Agus Dermawan T, FM Djamis Carolina, Suharjoso SK, Nur Ahmadi, Abdul Rachman, Zainal Arifin, Wasiran, Theresia Mujinah, Suti Rahayu, Y. Sutopo, Priyana Jatmika Salim, RM Nurhadi, dan Y. Sumandiyo Hadi.
Selain itu ada juga Forum Film Dokumenter, RM. H. Gembong Danudiningrat, Bekti Budi Hastuti, Afif Syakur, Nyoman Kertia, Awit Radiani, Perpustakaan Universitas Sanata Dharma, Agus Budi Nugroho, Joko Kuncoro, Anom Sucondro, dan R Sujarwanto.
Menurut Gubernur DIY, Sri Sultan HB X, para penerima itu dianggap berhasil menciptakan harmoni antara tradisi dan inovasi di tengah tantangan modernitas.
“Hal ini sekaligus menjadi pengingat bahwa pelestarian budaya bukan hanya tugas pemerintah, tetapi juga tanggung jawab bersama masyarakat untuk menjaga kekayaan budaya Yogyakarta tetap hidup dan relevan,” papar Gubernur DIY.
Program Anugerah Kebudayaan sendiri memang digelar setiap tahun oleh Dinas Kebudayaan DIY. Menurut Kepala Dinas Kebudayaan DIY, Dian Lakshmi Pratiwi, penghargaan ini terbagi menjadi empat kategori utama.
Anugerah Maha Adi Dharma Budaya merupakan penghargaan tertinggi yang diberikan kepada individu dengan kontribusi di tingkat internasional. Anugerah Maha Bakti Budaya ditujukan bagi mereka yang berjasa di tingkat nasional dan regional. Sementara itu, Anugerah Adikara Cipta Budaya diberikan kepada pencipta karya budaya yang inspiratif. Terakhir, Anugerah Upakarya Budaya mengapresiasi individu atau lembaga yang berjasa di berbagai bidang kebudayaan.
Menurut Sastrawan Satmoko Budi Santoso sebagai salah satu penerima Anugerah Kebudayaan 2024 kategori Upakarya Budaya Bidang Sastra, program ini sangat bagus dan sudah selayaknya berlanjut.
“Sebab dari program semacam ini juga ikut membangun ekosistem berkebudayaan yang baik, sastrawan menjadi semakin terpacu untuk senantiasa berkarya,” tutur Satmoko Budi Santoso.
Karya-karya Satmoko Budi Santoso sendiri sudah beredar luas secara internasional. Cerpennya ada yang diterjemahkan dalam bahasa Inggris dan bahasa Slovenia. Buku kumpulan cerpennya Uang yang Terselip di Peci (2022) juga menjadi bahan pembelajaran bahasa Indonesia yang diajarkan Akiko Iwata, dosen Fakultas Bahasa Asing, Universitas Meijo, Nagoya, Jepang. Cerpen-cerpen Satmoko Budi Santoso memang khas ada yang mengangkat cerita soal wayang dan keris. (red)
Festival Sastra Yogyakarta (FSY) tahun 2024 yang berlangsung di Taman Budaya Embung Giwangan, kini telah memasuki hari kedua, Jumat (29/11/2024). Setelah hari pembuka kemarin diguyur hujan lebat, kali ini keadaan cuaca cukup mendukung, sehingga seluruh agenda kegiatan bisa terlaksana tanpa hambatan.
Berikut adalah sejumlah momen menarik yang terjadi dalam perhelatan FSY 2024 (foto: Azka)
YOGYAKARTA – Keberadaan sastra masih belum begitu digandrungi oleh masyarakat secara umum, termasuk generasi muda atau Gen Z. Hanya saja, sebagai “ibukota Sastra”, kota Yogyakarta tentunya perlu menggiatkan lagi kegiatan bersastra kepada masyarakat umum, agar dapat menjaga eksistensi sastra hingga ke generasi berikutnya.
Untuk itulah, Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta bersama stakeholder terkait, berinisiatif untuk menyelenggarakan kembali Festival Sastra Yogyakarta (FSY), yang akan berlangsung pada 28-30 November 2024 di Taman Budaya Embung Giwangan. Sebagai catatan, perhelatan FSY kali ini sudah memasuki tahun keempat (sejak tahun 2021).
Pada tahun keempat ini, FSY mengambil tema “Siyaga”, yang berarti selalu bersikap “Siyaga” (siap) dengan segala macam situasi dan perubahan yang terjadi di sekitar kita.
Kepala Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta, Yetti Martanti, mengungkapkan bahwa festival sastra ini selayaknya dapat menggairahkan lagi eksistensi sastra di kota Yogyakarta.
“Festival ini tentunya akan sangat bagus untuk meneguhkan kembali keberadaan sastra di Yogyakarta, apalagi kan kota Yogyakarta ini juga dijuluki sebagai “ibukota Sastra”,” ungkap Yetti dalam konferensi pers terkait FSY di Yogyakarta, Senin (25/11/2024).
Selain itu, menurut Yetti, event FSY tahun ini juga dapat menjadi kesempatan yang baik untuk meningkatkan literasi sastra di kalangan generasi muda, yang selama ini dianggap masih belum memadai.
Pemotongan tumpeng sebagai bagian dari rasa syukur Festival Sastra Yogyakarta yang masih eksis hingga tahun keempat (foto: Azka)
Sementara menurut Ketua Pawiyatan FSY 2024, Paksi Raras Alit, FSY merupakan momentum yang tepat untuk kembali menggiatkan sastra kepada masyarakat umum. Mengingat event-event bernuansa sastra masih cukup kurang di Yogyakarta ini, sekalipun Yogyakarta dijuluki sebagai “ibukota Sastra”.
“Sebenarnya kalo dilihat lebih jauh, event-event sastra yang bermunculan ini masih cukup kurang, apabila dibandingkan dengan event-event seni pertunjukan seperti musik dan sebagainya, yang dalam seminggu bisa ada 5-7 kali. Sementara event sastra yang aslinya merupakan pokok pengetahuan dalam urusan kebudayaan, justru hanya ada sedikit, padahal ini sangat penting sekali untuk terus eksis,” ucap Paksi pada kesempatan yang sama.
Sedangkan Direktur Artistik FSY, Hendra Himawan, menegaskan bahwa perhelatan FSY tahun ini akan lebih mendekatkan diri dengan kehidupan masyarakat, dalam artian kebutuhan utama masyarakat terkait literasi dan sastra, akan ditampilkan selama tiga hari perhelatan FSY 2024.
“Salah satu yang kita tonjolkan adalah Pasar Buku Sastra, karena meskipun katanya minat baca buku itu terus menurun, tapi nyatanya menurut mereka (para produsen buku cetak, red) penjualan buku justru mengalami peningkatan, terlebih setelah pandemi. Nah ini yang ingin kita perdalam lagi seperti apa realitanya,” kata Hendra Himawan.
Selain acara konferensi pers, momen ini juga dimanfaatkan untuk melaksanakan tradisi Tumpengan sekaligus doa bersama, guna merayakan keberhasilan FSY yang masih eksis hingga tahun keempat. (zk)
KULON PROGO – JT – Sebagai sebuah komunitas sastra di Kulon Progo, Regas pada hari Sabtu (23/11/2024), mengadakan puncak acara HUT ke-3. Kegiatan berlangsung meriah dan mengesankan. Kegiatan dimulai dengan pembukaan, dilanjutkan sambutan-sambutan, launching buku antologi karya, pemotongan tumpeng, bincang sastra, penampilan sobat regas dan penyerahan hadiah Olimpiade Puisi Regas tingkat DIY.
Perayaan HUT Regas diawali dengan pemotongan tumpeng. Tumpeng dipotong oleh ketua regas lalu diberikan kepada pembina-pembina regas, salah satunya adalah Bang Tedi Kusyairi. Selanjutnya juga ada prosesi peluncuran buku antologi karya para peserta Olimpiade Puisi Regas tingkat DIY.
Untuk meningkatkan kesadaran terhadap literasi, komunitas regas juga mengadakan bincang sastra. Bincang sastra dimoderatori oleh Mufti Putri, seorang anggota regas dan Duta Pemuda Kulon Progo. Sedangkan narasumber yang bertugas adalah Ibu Barokatussolihah, S. Ag., M. Si dan Bapak Ngadiri, S. Pd., M. Pd. Bincang sastra membahas tentang peningkatan literasi, peran sastra dan motivasi untuk bersastra.
“Perayaan HUT sebagai wujud syukur dan apresiasi kepada Regas. Semoga dengan rangkaian perayaan HUT regas dapat memberikan inspirasi dan manfaat,” kata Tri Wahyuni Ketua Regas.
Seperti halnya tema perayaan yaitu ‘Aku, kamu dan Regas’. Semoga 3 tahun Regas dapat memberikan kesan dan manfaat khususnya dalam bidang sastra. Semoga regas selalu jaya! (tks)