BANTUL – JT – Sebagai sekolah kejuruan unggulan yang mengintegrasikan pendidikan karakter dan kedisiplinan, SMKN 1 Pleret Bantul kembali menunjukkan komitmennya dalam membentuk generasi muda yang tangguh dan berintegritas. Pada Kamis (22/5/2025), sebanyak 260 Taruna Mandala Widya mengikuti kegiatan kenaikan tingkat 3 dengan bentuk kegiatan long march sejauh 10 kilometer dari kampus SMKN 1 Pleret menuju Kodim 0729 Bantul.
Long march ini bukan sekadar kegiatan fisik, melainkan bagian dari proses pembentukan mental, kedisiplinan, dan semangat juang taruna. Sepanjang rute, para peserta menunjukkan semangat tinggi, kerja sama tim, serta etika yang mencerminkan nilai-nilai Mandala Widya: berani, berbakti, dan berprestasi.
Setibanya di Kodim 0729 Bantul, para taruna disambut hangat oleh perwakilan TNI dalam upacara penyematan tanda kenaikan tingkat. Momen ini menjadi tonggak penting dalam perjalanan pembinaan karakter siswa di SMKN 1 Pleret, sekaligus menjadi ajang pembuktian kualitas siswa sebagai calon pemimpin masa depan yang berdaya saing tinggi.
Kepala SMKN 1 Pleret, Elyas S.Pd.,M.Eng, menegaskan bahwa kegiatan ini merupakan bagian integral dari visi sekolah untuk mencetak lulusan yang unggul dalam kompetensi kejuruan dan berjiwa kepemimpinan.
“Kami tidak hanya fokus pada keterampilan teknis, tetapi juga pada pembinaan mental, karakter, dan nasionalisme. Taruna Mandala Widya adalah representasi dari semangat SMKN 1 Pleret: kuat dalam kompetensi, kokoh dalam karakter,” ujarnya.
Melalui kegiatan ini, SMKN 1 Pleret kembali membuktikan diri sebagai sekolah kejuruan yang berorientasi masa depan, siap mencetak lulusan profesional, disiplin, dan siap menghadapi tantangan global.
“Kegiatan ini mewujudkan slogan SMKN 1 Pleret, tempat tumbuhnya pemimpin tangguh dan profesional!,” pungkas Elyas. (RYN)
YOGYAKARTA – JT – Pusat Layanan Difabel UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, dalam rangka Dies Natalisnya yang ke-18, menyelenggarakan Festival Difabel yang berisi berbagai event diantaranya; E-sport, Lomba Cipta Baca Puisi, Lomba Menyanyi, Lomba Video Kreatif, dan Lomba Cover Lagu Isyarat.
Dicky Damanhuri, ketua pelaksana lomba, dalam sambutannya saat final lomba menyanyi dan lomba puisi pada hari Selasa (20/5/2025) di auditorium gedung FDK UIN Sunan Kalijaga mengatakan rasa syukur dan terimakasih atas antusias para peserta dari seluruh Indonesia.
“Kami ucapkan terimakasih atas antusias peserta, dan selamat berlomba bagi para finalis yang telah mengalahkan puluhan peserta lainnya,” terang Dicky.
Salah satu cabang lomba yaitu lomba puisi, terdiri dari lomba nulis dan baca puisi. Refika Cintya Sari dari panitia lomba puisi menjelaskan bahwa tahapan lomba puisi sendiri diikuti belasan peserta dari berbagai daerah di Indonesia.
“Tahap awalnya para peserta mengirimkan naskah puisi dan video pembacaan puisi, kemudian setelah dinilai juri dipilih lima finalis yang dinilai pada hari ini, penentuan urutan pemenang kejuaraan lomba dilakukan dengan baca puisi secara luring dihadapan juri lomba puisi Tedi Kusyairi salah satu sastrawan Yogyakarta,” terang Refika Selasa (20/5/2025) di ruang teater Fakultas Ushuluddin UIN Sunan Kalijaga.
Sementara itu, hasil akhir finalis lima besar lomba puisi yaitu Juara I Dhia Ritaj Rahmadani (Universitas Muhammadiyah Ahmad Dahlan Palembang), Juara II M. Riko Yudianto (UMY), dan Juara III Ibnu Nur Adin Fadilah (UNSOED Purwakarta), serta para finalis, Febri Alfatah (UNS), dan Nurul Liwaul Hamdiyah (UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta).
Penilaian lomba puisi terdiri atas; kreativitas dan originalitas puisi (30%), retorika: vokal, artikulasi dan intonasi (25%), interaksi: Mimik wajah, penghayatan, dan bodylanguage (25%), dan bahasa dan struktur puisi (20%).
“Peserta umumnya sudah bisa menuliskan puisi terkait tema mimpi dan harapan, kebahagiaan dan masa depan, bersyukur dan bersabar, jadilah diri sendiri, atau berani berinovasi dan berprestasi, sebagaimana diharapkan panitia. Dari sisi video baca puisi untuk penyisihan dan kemudian penampilan luring finalis semua peserta bisa membaca puisi dengan baik untuk menyampaikan pesan puisi, penilaian akhir menekankan pada keutuhan, penghayatan, dan meminimalisir kekuraangan saat baca puisi seperti kebulatan vokal, kekuatan power, dan gestur,” terang Tedi Kusyairi, founder Gerakan Literasi #SelasaSastra di Yogyakarta.
Puncak acara Festival Difabel sendiri akan diselenggarakan pada hari Rabu, 28 Mei 2025, mulai pukul 18.00 WIB – selesai, bertempat di Gedung Societet Militair, Taman Budaya Yogyakarta.
Akan ada beberpa penampilan seru yakni pentas tari daerah, paduan suara Inklusif, teater Inklusif, dan pengumuman pemenang lomba dengan penyerahan hadian berupa uang tunai jutaan rupiah, sertifikat dan piala.
“Harapan atas kegiatan ini yaitu meningkatkan kesadaran dan apresiasi terhadap komunitas difabel melalui ekspresi seni, kreativitas, dan edukasi. Dengan mengedepankan inklusivitas. Semoga festival ini bisa menjadi wadah bagi mahasiswa, akademisi, dan masyarakat luas untuk bersama-sama menciptakan lingkungan yang lebih ramah dan setara bagi semua orang. Melalui festival ini bermaksud mengajak semua pihak untuk berpartisipasi dalam membangun dunia yang lebih inklusif, merayakan keberagaman, serta mendukung setiap individu dalam mewujudkan mimpinya,” jelas Dicky Damanhuri. (HSL)
YOGYAKARTA – JT – Temu Karya Sastra (TKS) tahun 2025 diselenggarakan lagi oleh Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) DIY sebagai tindak lanjut dan penerusan roadmap program tahun sebelumnya. Untuk tahun kelima, mengambil tema utama ‘Meta Sastra: Panen Karya dan Ekranisasi’.
Menurut Kepala Bahasa dan Sastra Dinas Kebudayaan DIY, Setya Amrih Prasaja, mengatakan bahwa di tahun kelima ini memiliki muatan yang cukup sarat bagi para peserta, mengingat setiap tahun memiliki persyaratan khusus untuk mengikutinya.
“Pada tahun pertama terbuka bebas untuk umum dibatasi usia muda, tahun kedua persyartan ditambahi dengan melampirkan karya untuk menjadi peserta, tahun ketiga melampirkan karya sastra yang sudah dipublikasi, tahun keempat melampirkan karya yang sudah dipublikasi dan juga rekomendasi komunitas, lantas di tahun kelima ini syarat utamanya adalah alumnus TKS dari tahun 1-4, di seleksi dengan karya yang akan dijadikan buku sastra perseorangan, dan publikasi karya. Bagi yang pernah menerbitkan buku dalam kurun 2 tahun terakhir, otomatis menjadi peserta,” ungkap Amrih, (20/5/2025) di kantor Dinas Kebudayaan DIY.
Tahun 2025 ini TKS menekankan soal kualitas hasil yang dijalani peserta selama 4 tahun terakhir. Sebagaimana tema ‘Meta Sastra: Panen Karya dan Ekranisasi’, menggabungkan refleksi kreatif, apresiasi hasil karya, dan transformasi karya sastra ke media visual. Kegiatan ini tidak hanya menjadi ajang selebrasi atas produktivitas peserta selama empat tahun terakhir, tetapi juga merupakan momentum strategis untuk membawa karya ke dunia industri kreatif.
Pelaksanaan kegiatan terdiri; lokakarya pada akhir bulan Juni 2025 dengan menghadirkan mentor untuk peserta menggodok karya sastra, essai dan konsep alih media. Dilanjutkan pada bulan juli dan agustus; para peserta membuat produk alih media sastra dan menerbitkan buku, diakhiri september berupa launching buku, pameran alih media, dan pementasan karya sastra.
“Panen karya sastra adalah sebuah pengejawantahan dari sebuah perjalanan panjang pembinaan dan pengembangan sastra di Daerah Istimewa Yogyakarta. Melalui program Temu karya Sastra (TKS) selama 4 tahun, para talenta potensial di DIY dikumpulkan untuk “digodog” untuk lebih mampu berkiprah dan berolah sastra dalam ranah kreasi dan apresiasi. Seiring perkembangan zaman, sastra menjadi sendi zaman yang tak bakal terpisahkan. Dengan demikian, peranti-peranti fungsional sastra sangat perlu disiapkan. Jadi untuk seleksi peserta memang ketat, di peras dari ratusan peserta tahun sebelumnya,” jelas Budi Husada, Kepala Bidang Sejarah, Bahasa, Sastra dan Permuseuman Dinas Kebudayaan DIY.
Peserta adalah alumni FSY/TKS dari tahun 2021–2024, mendapatkan rekomendasi dari komunitas/sanggar sastra, mengumpulkan dokumen seleksi sebagaimana dalam link googledrive: kraya sastra, draft esai, portofolio dan bahan untuk penrbitan buku.
Nantinya para peserta yang mendaftar berbasis pada karya sastra puisi, cerpen, dan naskah lakon. Kemudian saat lokakarya, usai mendetailkan karya sastra dilanjutkan dengan kelas esai dan diakhiri masuk kelas alih media; lagu puisi, seni lukis, audiobooks, dan film. Selama proses lokakarya residensi peserta akan banyak mengikuti sesi secara Focus Group Discussion dan mentoring, untuk memperkuat wacana khususnya dalam rangka sastra memasuki era industri.
“Karena panen karya, maka tahun ini diharapkan semua peserta bisa menghasilkan buku antologi karya sastra pribadi dan produk alih media. Ini menjadi tolok ukur utama dalam upaya Dinas Kebudayaan mengantarkan peserta ke ranah industri keatif untuk mewujudkan kemandirian,” tegas Amrih.
Sementara Budi Husada menitikberatkan pada upaya pemerintah untuk menghasilkan peserta dengan kemampuan unggul dalam hal sastra, serta turut memajukan jagad satra Daerah Istimewa Yogyakarta.
“Dikemudian hari, nantinya peserta bisa jadi bibit unggul, melahirkan talenta-talenta sastrawan muda DIY,” pungkas Budi Husada.
Bagi para peserta, alumnus TKS yang ingin mengikuti seleksi peserta tahun 2025 bisa mendapatkan informasi di nomor 0895402040201 (Ayun) atau klik di link sebagai berikut https://bit.ly/DAFTARTKS2025 dengan batas akhir pendaftaran 31 Mei 2025. (HSL)
YOGYAKARTA – Forka Films yang biasanya memproduksi film-film pendek, kini mendapat tantangan baru untuk memproduksi film panjang perdana. Mereka pun sepakat untuk membuat film perjuangan ber-genre rural horror, atau horror bernuansa lokal, yang berlokasi di bukit lereng gunung Merapi, Sleman, DIY.
Berjudul “Angkara Murka”, film karya Produser Ifa Isfansyah serta Sutradara sekaligus penulis Eden Junjung ini mengkisahkan perlawanan para buruh lereng merapi yang terus ditindas oleh para penguasa, yang hendak menguasai daerah tambang di kawasan tersebut, dan sekaligus berambisi menjadi kepala daerah di wilayah tersebut. Konon kabarnya, daerah tersebut memang terkenal angker, dan memiliki demit (iblis) di dalamnya.
Dalam perjalanannya, para buruh dan penguasa saling berebut berlian yang ada di tambang tersebut, sampai akhirnya mereka saling adu argumen sekaligus saling membunuh satu sama lain. Di akhir cerita, anak dari salah satu pekerja perempuan bernama Ambar pun ikut dijadikan tumbal agar bisa mengusir demit keluar dari wilayah lereng Merapi tersebut. Namun aksi itu berhasil digagalkan oleh para buruh, yang saling bekerjasama untuk membasmi penguasa licik tersebut.
Film ini rencananya akan tayang di seluruh Indonesia pada tanggal 22 Mei 2025 mendatang. Namun sebelumnya, film ini sudah bisa disaksikan melalui special screening yang tersebar di beberapa daerah, salah satunya di Yogyakarta, yang merupakan “kampung halaman” dari film “Angkara Murka” ini.
Bagaimana tidak, 90% lokasi syuting film ini dilakukan di lokasi yang nyaris sama, yakni di bukit lereng Merapi, Sleman, DIY, serta sebagian besar pemainnya juga berasal dari Yogyakarta.
Special Screening di Yogyakarta pun dilaksanakan pada Jumat (16/5/2025), bertempat di Cinepolis Lippo Plaza, Yogyakarta. Para pemain, Produser Ifa Isfansyah serta Sutradara Eden Junjung pun turut hadir dalam momen “pulang kampung” ini.
Para pemain dan kru film “Angkara Murka” (foto: Azka)
Dalam pemaparannya kepada awak media pasca screening film, produser Ifa Isfansyah menjelaskan bahwa Yogyakarta merupakan lokasi screening ketiga untuk pemutaran film “Angkara Murka” setelah sebelumnya premiere di Udine, Italia, dan juga Jakarta satu hari sebelumnya.
“Jadi disini (dalam pemutaran ini, red) kita ingin mengetahui respon pertama dari orang-orang yang telah menonton film ini, sebelum nantinya akan tayang serentak tanggal 22 (Mei) nanti,” kata Ifa Isfansyah, Produser film “Angkara Murka”, di Lippo Plaza, Jumat (16/5/2025).
Mengenai pemilihan Yogyakarta dan khususnya Merapi sebagai latar film, Ifa mengaku bahwa hal ini merupakan pilihan yang “logis”, sesuai dengan karakter Yogyakarta di dunia film.
“Yogyakarta selalu memiliki karakter sinema yang berbeda (dari daerah lain), baik itu dari tekstur, lokasi, bahasa, pemain, dan lain sebagainya. Nah kemudian tinggal tugas kami di Forka Film agar dapat membawa isu yang sangat global (penindasan terhadap buruh, red). Tetap ada nuansa lokal tapi juga sekaligus global (isunya),” tambah Ifa Isfansyah.
Sementara itu sang Sutradara Eden Junjung menambahkan, pemilihan set di Merapi merupakan sebuah tantangan tersendiri, yang kebetulan juga belum pernah tersentuh oleh content creator manapun, apalagi untuk suatu produksi film.
“Karena disini kita ingin mengangkat isu pekerja yang ada di Tambang Pasir. Di Sleman sendiri banyak sekali area tambang pasir. Dimana area-area tersebut menurut kami belum pernah tersentuh untuk pembuatan sebuah konten termasuk film. Disitulah kita ingin mencoba mengambil momen yang kebetulan dekat dengan kehidupan kita sendiri,” kata Eden Junjung.
Film ber-genre rural horror “Angkara Murka” dapat disaksikan serentak di Bioskop kesayangan anda mulai Kamis, 22 Mei 2025. (zk)
KULON PROGO – SPJ – Kepolisian Daerah (Polda) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) bersinergi dengan Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) DIY untuk mendorong peran petani milenial dalam mewujudkan ketahanan pangan. Melalui berbagai inovasi di era digital, kolaborasi ini diharapkan mampu meningkatkan produktivitas pertanian sekaligus menjaga keberlanjutan sumber daya manusia (SDM) pertanian di Yogyakarta.
Kegiatan bertajuk Kumpul Konco Tani yang digelar di Jogja Agro Park (JAP), Kemiri, Wijimulyo, Nanggulan, Kulon Progo, pada Kamis, 27 Februari 2025, menjadi wadah strategis untuk merumuskan langkah-langkah pendampingan dan pemberdayaan petani milenial. Acara ini menghadirkan narasumber inspiratif, Pukka Simbolon, S.P., yang dikenal sebagai Capcapung, seorang YouTuber kreatif di bidang agribisnis.
Petani Milenial: Tulang Punggung Masa Depan Pertanian DIY
Jumlah petani milenial di DIY mencapai 1.400 orang, tersebar di Sleman (528 petani), Kulon Progo (331), Gunungkidul (265), Bantul (236) dan Kota Yogyakarta (40). Dalam kegiatan ini, para petani menerima bantuan alat pertanian dan bibit buah gratis sebagai bentuk dukungan konkret untuk meningkatkan produktivitas mereka.
Ketua Forum Komunikasi (Forkom) Petani Milenial Koordinator Wilayah (Korwil) DIY, Muhammad Lukman Nur Hakim, S.Pt., menekankan pentingnya sinergi antara petani milenial, Polda DIY dan DPKP.
“Kolaborasi dan sinergi dengan Polda DIY penting untuk menciptakan situasi dan kondisi keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas) yang kondusif agar petani bisa melakukan usaha taninya dengan tenteram dan damai agar kesejahteraan meningkat,” jelasnya.
Tantangan dan Solusi Untuk Petani Milenial
Menurut Lukman, meski memiliki semangat tinggi, petani milenial di DIY masih menghadapi berbagai kendala, seperti serangan hama, teknik budidaya yang kurang tepat dan ketergantungan pada metode konvensional. Untuk itu, peran aktif penyuluh pertanian sangat dibutuhkan dalam memberikan pendampingan dan peningkatan kapasitas petani.
“Penyuluhan pertanian menjadi sarana penting untuk meningkatkan pengetahuan, keterampilan dan sikap petani. Dengan dukungan ini, petani milenial diharapkan mampu menjadi regenerasi petani yang membawa citra pertanian lebih maju, mandiri dan modern,” terangnya.
Digitalisasi Pertanian: Peluang dan Tantangan di Era Modern
Kasubdit 2 Ditintelkam Polda DIY Ajun Komisaris Besar Polisi (AKBP) Sandhy W.G. Suawa, S.P., S.I.K., M.H., menuturkan, kegiatan ini membuka peluang kolaborasi antara petani milenial dengan berbagai stakeholder. “Kami berharap sinergi ini dapat memperkuat kerjasama dalam mewujudkan swasembada pangan dan keberlanjutan petani milenial,” ujarnya.
Polda DIY juga memfasilitasi pelatihan digital marketing dengan narasumber YouTuber. Petani milenial diharapkan mampu memanfaatkan platform digital untuk memasarkan produk pertanian mereka. “Di era digitalisasi ekonomi, petani milenial harus bisa berinovasi, baik dalam teknologi pertanian maupun manajemen keuangan dan pemasaran,” imbuh Sandhy.
Masa Depan Pertanian DIY: Modern, Mandiri dan Berkelanjutan
Menurut Sandhy, sinergi antara Polda DIY, DPKP dan petani milenial menjadi langkah strategis untuk mewujudkan ketahanan pangan dan keberlanjutan SDM pertanian. Dengan dukungan teknologi, pendampingan intensif dan kolaborasi antar-stakeholder, petani milenial diharapkan mampu menjadi motor penggerak ekonomi daerah dan nasional.
“Petani adalah pilar ketahanan pangan. Mari bersama-sama mengembangkan sektor pertanian sebagai pilar kedaulatan bangsa,” ungkapnya.
Dukungan Pemerintah dan Visi Swasembada Pangan
Kepala DPKP DIY Ir. Syam Arjayanti, M.P.A., menyambut baik langkah Polda DIY dalam menggandeng petani milenial. “Petani milenial harus terus berinovasi dan konsisten di dunia pertanian. Peluang kesuksesan di bidang ini terbuka lebar,” tegasnya.
Program ini sejalan dengan visi Presiden RI Prabowo Subianto untuk mendorong kemandirian bangsa melalui swasembada pangan. DPKP DIY berkomitmen mendukung petani milenial dengan pendampingan intensif dan pengenalan permodalan melalui perbankan.
Inspirasi dari Capcapung: Konten Kreatif Untuk Petani Muda
Pukka Simbolon atau Capcapung menyatakan, kegiatan Kumpul Konco Tani memiliki dampak positif bagi petani milenial. “Ini adalah wadah untuk berdiskusi dan bertukar informasi terkait masalah dan solusi di sektor pertanian,” ucapnya.
Dia juga menekankan pentingnya konten kreatif berbasis storytelling untuk menarik minat generasi muda. “Video pertanian yang menarik dan tidak kaku akan lebih disukai anak muda. Ini adalah cara efektif untuk mengatasi krisis regenerasi petani,” kata dia. (*)
KEBUMEN, JT – Pada tanggal 4-6 Februari 2025 lalu, sekelompok mahasiswa program Kuliah Kerja Nyata (KKN) Reguler Periode ke-138 Unit I.A.3 dari Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Yogyakarta telah melaksanakan pelatihan pemanfaatan sampah di Desa Banyurata, Kecamatan Adimulyo, Kebumen, Jawa Tengah.
Dalam kegiatan tersebut, para mahasiswa KKN turut memberikan pemahaman mengenai proses penguraian sampah, serta cara mengolah limbah sampah agar memiliki nilai guna.
Proses pelatihan dimulai dengan pengolahan sampah botol plastik dan kain perca, yang dibuat menjadi kursi ramah lingkungan. Warga Desa Banyurata pun sangat antusias mengikuti pelatihan pemanfaatan sampah tersebut, terlebih masih banyak warga di desa tersebut yang masih membakar semua sampah yang ada, serta tidak memilah sampah dengan baik.
“Baru pertama kali ada mahasiswa KKN yang bersedia memberikan pelatihan memanfaatkan sampah dari sampah botol plastik dan kain perca begini. Ibu-ibu disini jadi lebih semangat untuk memanfaatkan pakaian-pakaian bekas biar nggak menumpuk di rumah,” tutur Wina, salah satu warga RW 7 Desa Sruwo, Banyurata.
Sementara Danung selaku ketua KKN unit I.A.3 di Desa Banyurata menyampaikan, pelatihan semacam ini sangat penting dilakukan di daerah-daerah terpencil seperti di Banyurata ini.
“Pelatihan pengolahan sampah ini sangat penting, agar warga di Desa Banyurata bisa lebih peduli dengan lingkungan. Apalagi jika sampah tersebut dapat terselesaikan di rumah tangga masing-masing. Sehingga tidak hanya menumpuk di TPA dan menyebabkan polusi visual di jalanan,’” tutur Danung.
Selain itu, mahasiswa KKN juga turut membuat papan informatif tentang berapa tahun penguraian sampah di RW 7, RW 8, dan RW 9 di Dusun Rawadadap, Desa Banyurata, kecamatan Adimulyo, Kebumen, Jawa Tengah.
Kegiatan pengelolaan sampah dan pembuatan papan informatif sampah ini diharapkan dapat meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya pengelolaan sampah sekaligus pemanfaatannya agar dapat diolah menjadi barang yang lebih berguna. (zk)
KULON PROGO – JT – Akhir tahun menjadi waktu yang tepat untuk merayakan sastra, seperti halnya program pameran sastra. Pameran sastra yang diadakan oleh komunitas sastra REGAS (Remaja Geblek Bersastra) yang bekerja sama dengan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kulon Progo, Kuncup Mekar, Wih Production, Kabar Burung dan Padhang jinglang art. Pameran sastra bertajuk “Kembang Sastra Jogja 2024”
Pameran sastra berlangsung selama 3 hari yaitu tanggal 28, 29, dan 30 Desember 2024. Pameran ini memamerkan karya sastra dari para penulis se-DIY yang karyanya telah dikurasi. Pameran berlangsung ramai karna dibarengi dengan beberapa rangkaian acara.
Acara hari pertama adalah pembukaan dan regas apresiasi karya. Dalam hal ini terdapat penampilan spesial dari sanggar wiwitan, komunitas samudra dan anggota komunitas regas.
Pada hari kedua dilaksanakan acara workshop aksara Jawa digital yang diisi oleh komunitas Segajabung. Program ini dinilai sukses karna antusias peserta yang luar biasa karena peserta melebihi kuota yang ada.
Selanjutnya pada hari ketiga terdapat launching buku antologi geguritan karya Tri Wahyuni (pendiri komunitas regas). Dilanjutkan dengan acara penutup yaitu sarasehan sastra bersama Bang Tedi Kusyairi selaku pembina Regas, Ahmad Hibban selaku ketua panitia dan Tri Wahyuni.
“Pameran sastra ini diharapkan mampu memberikan ruang untuk berkarya. Selain itu kami juga ingin mengapresiasi karya sastra. Semoga dengan adanya pameran kembang sastra Jogja dapat memberikan inspirasi, motivasi dan bermanfaat untuk para pecinta sastra mau pun masyarakat luas” jelas Tri Wahyuni, Senin (30/12/2024)
Pameran sastra: kembang sastra Jogja berjalan dengan lancar. Semoga sastra selalu dicintai dan literasi semakin meningkat. (TKS)
Para pengunjung diskusi Komunitas Satupena Yogyakarta. Foto: Istimewa
Kota Yogyakarta – JT – Sastrawan Satmoko Budi Santoso dan Awit Radiani hadir dalam acara Bincang Sastra yang digelar Komunitas Sastra Satupena Yogyakarta di Griya Abhipraya, Yogyakarta, Minggu, 22 Desember 2024.
Acara yang dimoderatori Pascalia WD tersebut sangat meriah didukung dengan penampilan baca puisi Sabatina RW dan penampilan baca cerpen Karl Hank.
Dalam diskusi, Satmoko Budi Santoso menyampaikan bahwa pengalamannya menulis lebih banyak karena berdasarkan imajinasi.
“Saya terpengaruh buku Bakat Alam dan Intelektualisme karya Subagio Sastrowardoyo dan esai Sastra Ide dan Pikiran yang Dinyatakan karya Adi Wicaksono,” ujar Satmoko Budi Santoso.
Awit Radiani pun menyatakan, ternyata dalam proses kreatif menulis karya sastra juga lebih suka memaparkan hal yang imajinatif.
“Dunia imajiner itu mengasyikkan dan saya menulis happy-happy saja,” tutur Awit Radiani.
Dalam diskusi tersebut juga hadir Sastrawan Dhenok Kristianti yang menyampaikan pentingnya literasi sastra masuk sekolah-sekolah.
“Banyak kalangan pendidik yang ingin bisa menulis karya sastra. Tentu saja mereka perlu pendampingan dan apresiasi yang memadai,” ucap Dhenok Kristianti. (QIN)*
SLEMAN – JT – Forum Komunikasi Pengurus Osis Kabupaten Sleman (FKPO Sleman) menginisiasi kegiatan SOLETA (Sleman Youth Leadership Talkshow) pada Minggu (8/12/2024) di Ruang UMKM DPRD Kab. Sleman. Dalam kesempatan ini, Ketua DPRD Kabupaten Sleman, Y. Gustan Ganda memberikan materi inspiratif mengenai kepemudaan. Beliau menyoroti perbedaan pola pikir yang signifikan antara generasi Z dengan generasi sebelumnya, khususnya generasi kolonial. Menurut Gustan Ganda, pemahaman akan perbedaan ini sangat penting dalam membangun komunikasi yang efektif antar generasi.
“Generasi Z memiliki karakteristik yang unik, mereka lebih terbuka, kritis, dan inovatif. Namun, kita perlu memahami bahwa mereka tumbuh dalam konteks yang berbeda dengan generasi sebelumnya, mulai dari cara mengatur perlengkapan kamar, cara belajar, hingga kebiasaan dalam bersosial. Oleh karena itu, penting bagi kita untuk membangun jembatan komunikasi yang kuat,” ujar Gustan Ganda Ketua DPRD Kabupaten Sleman.
Pada acara ini juga diisi oleh influencer Danang Giri Sadewa, Danang menyampaikan pentingnya personal branding bagi kaum muda.
“Personal branding itu tidak harus menjadi influencer atau public figure, tetapi bisa dengan menunjukkan keistimewaan daripada orang lain,” tutur Danang.
Danang menyebutkan bahwa pelajar di Kabupaten Sleman memiliki semangat untuk membangun personal branding.
Founder Yogyakarta Future Leader, Emmanuel Prince, juga turut mengisi acara pada hari ini, menurutnya, pemimpin tidak ada yang diciptakan, tapi dibentuk.
“Pemimpin itu bukan diciptakan, tidak ada pemimpin yang diciptakan, namun pemimpin itu dibentuk dan di latih, menjadi pemimpin bukan hal yang mudah, dibutuhkan keterampilan dan pengalaman untuk menjadi pemimpin,” ucap Emmanuel.
FKPO Sleman menginisiasi SOLETA 2024 untuk membuka wawasan pelajar di Kabupaten Sleman untuk lebih dekat mengenal anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Sleman dan guna mempersiapkan pelajar Sleman untuk menghadapi tantangan Indonesia Emas 2045. FKPO Sleman yakin bahwa Kabupaten Sleman tidak pernah kekurangan orang hebat, namun pelajar Sleman harus mempersiapkan diri dan bersungguh-sungguh untuk menghadapi tantangan yang besar pada 2045. (jnd-atg-red)
Sleman – JT – Pengurus Wilayah Pergerakan Mahasiswa Moderasi Beragama dan bela Negara Daerah Istimewa Yogyakarta (PW PMMBN DIY) sukses laksanakan Training of Leadership Moderasi Beragama dan Bela Negara Perguruan Tinggi Umum.
Training of Leadership Moderasi Beragama dan bela Negara oleh PW PMMBN DIY ini mengusung tema “Membangun Kepemimpinan yang Moderat dan Berwawasan Bela Negara Dalam Bingkai Keharmonisan Sosial”
Program Training of Leadership Moderasi Beragama dan Bela Negara yang diselenggarakan oleh PW PMMBN DIY ini berlangsung pada Hari Minggu, 1 Desember 2024 di Ruang Persatuan Lantai 3 Gedung Fakultas Filsafat Universitas Gadjah Mada Yogyakarta.
Pada Prakteknya, Acara Training of Leadership Moderasi Beragama dan Bela Negara PW PMMBN DIY Ini dihadiri oleh mahasiswa lebih dari 15 Perguruan Tinggi Umum (PTU) di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta.
Program Training of Leadership ini menghadirkan Bapak Dr. Adimin Diens, S.Ag., M.Pd. (PTP Ahli Muda pada Seksi Bina Keagamaan Mahasiswa Subdirektorat PAI pada PTU Direktorat PAI Ditjend Pendis Kementerian Agama Republik Indonesia) sebagai Key Note Speaker.
Dalam Penyampaianya, beliau mengatakan bahwa Indonesia adalah negara yang majemuk, dan pancasila adalah pelindung dari keberagaman itu serta dari sudut pandang agama, Keragaman adalah anugerah dan kehendak tuhan.
“Indonesia adalah negara majemuk dan pancasila adalah pelindung keberagaman itu. Indonesia terdiri dari 17.504 pulau, 250an agama dan kepercayaan, 1340 suku bangsa, dan 546 bahasa. Serta dari sudut pandang agama, keragaman adalah anugerah dan kehendak tuhan”, ujarnya.
Adimin juga menjelaskan bahwa perbedaan-perbedaan tersebut dapat menimbulkan potensi konflik ataupun disintegrasi yang bersbumber dari kebudayaan dan keagamaan yang eksklusif, Intoleran, dan Semangat keberagamaan tidak selaras denga sikap cinta terhadap tanah air.
“Perbedaan- perbedaan ini dapat menimbulkan potensi konflik dan disintegrasi yang bersumber dari kebudayaan dan keagamaan yang cenderung ekslusif, intoleran, dan berkembangnya semangat beragama yang tidak selaras dengan sikap kecintaan dalam berbangsa dalam bingkai NKRI,” pungkasnya.
Adimin juga mengatakan bahwa moderasi beragama sesungguhnya adalah kunci terciptanya toleransi dan kerukunan baik di tingkat lokal, nasional, maupun global dengan empat indikator nilai dalam moderasi beragama yaitu, komitmen kebangsaan, anti kekerasan, toleransi, dan adaptif terhadap kebudayaan lokal.
“Moderasi beragama sesungguhnya merupakan kunci terciptanya toleransi dan kerukunan baik tingkat lokal, nasional, maupun global. Dan empat indikator nilai dalam moderasi beragama yaitu, komitmen kebangsaan, antikekerasan, toleransi, dan adaptif terhadap kebudayaan lokal”, ujar Adimin.
Dalam pelaksanaan acara ini, Mirna Radila (Duta Museum DIY 2022-2023) selaku MC memandu perjalanan acara bersama Bagas Pramukti (Mahasiswa ITY) yang berperan sebagai moderator dalam kegiatan diskusi dalam acara tersebut.
Wakil Ketua PW PMMBN DIY R. Abdy Restu Yudha Pinanggih, S.T. juga menyampaikan tentang pentingnya moderasi beragama dalam sambutan dalam acara Training of Leadership Moderasi Beragama dan Bela Negara tersebut.
“Moderasi beragama adalah program prioritas Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RJPMN) yang salah satunya bertujuan untuk menjaga persatuan dan mengantisipasi disintegrasi melalui toleransi beragama bersama semangat kebangsaan”, ucap Yudha.
Kemudian dilanjutkan oleh Ketua Bidang Kaderisasi Pengurus Pusat PMMBN, Mohammad Derry Jamaludin, S. Hum. Yang memberikan penjelasan tentang arti pentingnya Implementasi nilai moderasi beragama dalam sambutanya.
“Moderasi beragama adalah pendekatan dalam praktik keagamaan yang menekankan pada toleransi dan penghargaan terhadap perbedaan”, ungkapnya.
Derry menjelaskan, moderasi beragama sangat penting karena dapat menjaga stabilitas sosial dan politik, serta menciptakan kerukunan antarumat beragama. Selain itu juga merupakan perekat antara semangat beragama dengan komitmen berbangsa dan bernegara.
Training of Leadership ini diisi oleh Dosen Filsafat UGM, Bapak Syarif Hidayatullah, S.Ag., M. Ag., M. A. dan Fatih Ilfi (Gusdurian Jogja) sebagai Pembicara. (red)