BANTUL– Perwujudan doa bisa datang dari mana saja. Salah satunya berasal dari karya sastra.

Salah satu siswi Madrasah Aliyah (MA) Pamulangan, Godean, Sleman, Frisca Nazula Pawestri, seperti terilhami untuk mengucapkan doa melalui buku cerpen yang ia tulis sendiri, dengan judul yang terkesan subjektif, namun sangat “gue banget”, yakni Frisca.

Cerpen berjudul Frisca adalah hasil kontemplasi panjang seorang Frisca Nazula Pawestri, terhadap sekelumit kisahnya di masa lalu, serta cita-citanya di masa depan, yang masih menjadi misteri bagi dirinya sendiri.

“Cerita di buku ini ada yang saya karang sendiri, dan ada sedikit cerita pribadi yang saya masukkan di dalam keseluruhan cerita,” ucap Frisca, dalam kegiatan Selasa Sastra spesial hari Kartini bertajuk “Memburu Biru, Mengeja Senja”, yang berlangsung di Kelingan Garden & Cafe, Bejen, Bantul, belum lama ini.

Frisca menambahkan bahwa dirinya sangat mendambakan menjadi orang sukses dan berguna bagi banyak orang, serta mampu mengenyam kuliah di perguruan tinggi ternama, meskipun berasal dari keluarga yang ekonominya kurang stabil.

“Ada satu cerita dunia perkuliahan, di situ saya karang, dengan harapan aku akan bisa seperti itu (sesuai yang dikarangnya sendiri). Itu jadi tentang pribadi saya, tapi ada yang aku sesuaikan sedikit. Dengan harapan aku bisa seperti itu di masa depan,” tambah Frisca.

Sementara bagi Endang Winarsih, guru pembimbing Frisca dalam proses penulisan cerpen ini, judul Frisca dianggap sangat menjual dan unik, sekaligus benar-benar mewakili “doa” maupun impian penulisnya sendiri, yang memang terbilang unik oleh orang-orang di lingkungan sekolahnya, termasuk bagi Endang sendiri.

“Mbak Frisca ini tipikalnya unik banget. Dia itu orangnya slowly but sure. Jadi santai tapi terarah, gitu. Jadi itulah kenapa saya meminta dia untuk membuat karangan sendiri. Kebetulan setelah saya baca naskah buku Frisca ini, isinya memang cukup ringan (mudah dimengerti oleh pembaca awam). Jadi menurut saya, Frisca ini sendiri memang sudah unik, termasuk namanya juga nggak ada satu pun di sekolah yang namanya sama dengan dia,” ujar Endang Winarsih, guru pembimbing Frisca dalam proses penulisan buku cerpen Frisca, pada kesempatan yang sama.

Meskipun sempat ingin menyerah dalam menyelesaikan “doa” ini, namun berkat dukungan dari pihak sekolah (MA Pamulangan) serta teman-teman di sekitarnya, Frisca akhirnya mampu menyelesaikan seluruh naskah di dalam buku ini, untuk kemudian “diaminkan” oleh para pembaca.

Selain sesi bedah buku, ada pula pertunjukan sastra spesial dari para siswi MA Pamulangan, dan masih banyak lagi. (zk)

SLEMAN – Jajaran kepolisian Daerah Istimewa Yogyakarta menggelar kegiatan pelepasan personel kepolisian, yang akan menunaikan ibadah haji tahun 1447 Hijriah. Kegiatan tersebut berlangsung di Gedung Anton Soedjarwo Polda DIY, Senin (20/4/2026).

Rangkaian acara diawali dengan pembacaan ayat suci Alquran, dilanjutkan dengan sesi pamitan calon jamaah haji, yang diwakili oleh Kapolresta Sleman yang baru, Kombes Pol Adhitya Panji Anom.

Selanjutnya Wakapolda DIY memberikan sambutan sekaligus doa dan harapan, bagi para personel yang akan berangkat menunaikan rukun Islam kelima tersebut. Selain itu, seluruh personel yang berjumlah 33 orang tersebut juga diberikan penyerahan surat izin, serta obat-obatan tertentu untuk mendukung kelancaran ibadah haji di Tanah Suci.

Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Polda DIY Kombes Pol Ihsan, S.I.K. berharap agar seluruh peserta haji dari jajaran kepolisian tahun ini dapat diberikan kelancaran dan kemudahan, selama menjalankan ibadah di Arab Saudi.

“Sebanyak 33 personel Polda DIY tahun ini berangkat sebagai calon jamaah haji. Kegiatan pelepasan ini merupakan bentuk perhatian dan dukungan institusi kepada personel yang akan menunaikan ibadah haji, sekaligus sebagai doa bersama agar seluruh rangkaian ibadah dapat berjalan lancar,” ujar Komisaris Besar Polisi Ihsan, S.I.K, Senin (20/4/2026).

Ia juga berharap agar seluruh personel yang berangkat dapat melaksanakan ibadah dengan khusyuk, serta kembali ke tanah air dalam keadaan sehat dan selamat.

“Kami berharap seluruh jamaah selalu diberikan kesehatan serta kemudahan dalam menjalankan ibadah, serta kembali ke tanah air dengan selamat dan menjadi haji yang mabrur,” tambahnya.

Pelaksanaan ibadah haji sendiri pada tahun 2026 atau 1447 Hijriah ini, akan dimulai pada 21 April untuk berkumpul di Asrama haji yang sudah ditentukan. Selanjutnya keberangkatan jamaah akan dimulai pada keesokan harinya (22 April) hingga 7 Mei.

Sementara puncak wukuf di Arafah diperkirakan akan terjadi pada 26 Mei. Sedangkan untuk pemulangan jamaah akan dimulai pada 1 Juni.

Meskipun diterpa situasi geopolitik di Timur Tengah dalam beberapa waktu terakhir, namun pemerintah Arab Saudi memastikan bahwa pelaksanaan ibadah haji tahun 2026 (1447 Hijriah) akan tetap berjalan sesuai jadwal yang telah ditentukan. (zk)

BANTUL – Bertempat di Kelingan Garden & Café Bejen Bantul, DPD KNPI Kabupaten Bantul melaksanakan kegiatan syawalan dan rapat koordinasi program kerja tahun 2026 hari Jumat (10/4/2026), dihadiri jajaran pengurus, Disdikpora Bantul, Majelis Pemuda Indonesia, dan alumni kepengurusan sebelumnya.

Agenda syawalan dihelat pada bulan ini mengingat masih masuk waktunya untuk silaturahim dan saling memaafkan pasca lebaran 1447 H. selanjutnya agenda berupa rapat koordinasi kegiatan yang akan dilaksanakan DPD KNPI Kabupaten Bantul.

Agenda terdiri dalam beberapa sesi, sesi pertama diisi oleh Ketua DPD KNPI Kabupaten Bantul, kawan Durori, dilanjutkan pengarahan dari Kabid Pora Disdikpora Kabupaten Bantul Titik Zunaidah, dan DPRD DIY Arni Tyas Palupi.

Durori menyampaikan bahwa sebagai organisasi kepemudaan maka KNPI harus memiliki rasa peka terhadap isu lingkungan dan sosial, ini bisa menjadi salah satu bagian program kegiatan yang dikerjakan pemuda.

“Sebagai contoh nanti akan kita lakukan simbolis penanaman pohon buah, untuk penghijauan, dimana kondisi alam yang mengalami pemnasan global, sehingga peran kita salah satunya bagaimana mengolah lahan menjadi lebih subur dan hijau,” kata Durori.

Selain memaparkan kegiatan pembinaan kepemudaan yang dilakukan oelh Disdikpora Kabuapten Bantul, Titik Zuanaidah juga menyampaikan bahwa kegiatan kepemudaan itu sangat penting, sebagai bentuk regenerasi kepemimpinan bangsa, maka apa yang dilakukan pemuda untuk menjaga lingkungan itu penting dan perlu di dukung.

“Menyoal isu lingkungan tadi, memang sangat tepat jika para pemuda melakukan aksi peduli lingkungan, selain tanam pohon, kita juga harus melihat mengenai kebersihan lingkungan, sampah merupakan problem sosial masyarkat, tidak hanya di sungai yang banyak sampahnya, tapi juga di kebun dan jalan, ini perlu kepedulian para pemuda,” kata Titik Zunaidah.

Kegiatan dilanjutkan dengan penyerahan tanaman ke perwakilan tamu undangan untuk ditanam di rumah, dilanjutkan simbolis penanaman pohon buah di lingkungan Kelingan Garden & Café. Usai itu dilanjutkan sesi diskusi menyoal kepemudaan dan program kerja dengan narasumber Ahmad Sudrajat, sekjen KNPI Bantul, Muhammad Farid Hadiyanto Ketua MPI (Majelis Pemuda Indonesia) Kabupaten Bantul, dan Arni Tyas Palupi DPRD DIY.

Sudrajat mengatakan bahwa dalam organisasi banyak dinamika antar pengurus dan anggota, sehingga kegiatan KNPI Bantul khususnya menghadapi beberapa kendala yang harus disiasati bersama.

“Periode kepengurusan ini mungkin kurang maksimal, bukan hanya karena suport system yang masih minim, namun memang banyak kendala antar pengurus dan anggota, salah satunya kurangnya kegiatan dan koordinasi, ini kedepan akan diperbaiki,” kata Sudrajat.

Lanjut Arni Tyas Palupi yang mengedepankan aspek regenerasi kepemudaan, dimana salah satu tujuan organisasi kepemudaan, OKP salah satunya, Organisasi Kemasyarakatan Pemuda memang menjadi wadah bagi regenerasi kepemimpinan di masyarakat.

“Harapannya dengan banyaknya kader pemimpin bangsa dari OKP-OKP yang berhimpun di KNPI, bisa membereikan alternatif pemimpin negeri yang lebih baik,” tegas Arni.

Sementara itu M. Farid Hadiyanto lebh menekankan pada tradisi, bahwa KNPI Bantul sampai waktu ini masih dipandang sebagai organisasi KNPI teladan di wilayah DIY, harapannya bisa dipertahankan dan ditingkatkan.

“KNPI Bantul kan masih jadi rujukan untuk KNPI di wilayah lain, karena tertib adminstrasi dan banyak kegiatannya, nah ini potensi positif, sebaiknya tidak hanya dipertahankan, tapi ditingkatkan,” ujar Farid. (TKS)

BANTUL – Dalam rangka memeriahkan malam Paskah, komunitas Orang Muda Katolik (OMK) Gereja Katolik St. Theresia Sedayu menggelar visualisasi dramatik Jalan Salib kisah sengsara Yesus Kristus. Visualisasi Tablo ini bertajuk “Hanya Ada Satu Cinta: Penebusan”, Jumat (3/4/2026) yang berlangsung di Taman Doa Maria Bunda, Gereja Jurang Metes.

Visualisasi ini melibatkan anggota OMK sebagai para pemeran yang menghadirkan kembali perjalanan Yesus menuju Bukit Golgota. Bukan hanya sekadar penampilan dramatik, tetapi juga sebagai bentuk doa bersama yang mengajak umat untuk masuk dalam suasana permenungan Jalan Salib.

Berikut adalah sejumlah keseruan yang tersaji dalam acara tersebut (Foto: istimewa)

 

 

Ada sebuah pemandangan yang selalu terulang, setiap kali Indonesia melaksanakan pesta demokrasi.

Banyak spanduk-spanduk berwarna-warni yang memenuhi jalan, lagu-lagu kampanye mengalun keras, dan para kandidat berlomba-lomba menampilkan wajah terbaik mereka demi mencari massa.

Namun disisi lain Sebagian warga memilih untuk tetap di rumah, menutup pintu, menjauh dari bilik suuara dan berkegiatan seperti hari-hari biasanya.

Orang-orang ini disebut dengan “golongan putih”, atau yang lebih dikenal dengan sebutan golput.

Pemilu serentak pada tahun 2024 lalu, mencatat angka partisipasai sekitar 81%, dari total pemilih yang terdaftar.

Angka tersebut mungkin terdengar cukup baik, bahkan bisa juga dianggap membanggakan, jika dibandingkan dengan beberapa demokrasi di negara lain.

Namun jika ditelaah lebih jauh, hal ini juga menandakan bahwa setidaknya satu dari lima warga negara memilih untuk tidak hadir, atau mungkin tetap hadir, namun tidak menggunakan hak suaranya dengan baik.

Jika ditinjau dari skala populasi di Indonesia, angka tersebut bukan hanya sekedar statistik. Itu adalah angka puluhan juta suara yang hilang begitu saja.

Pertanyaannya bukan sekedar “mengapa mereka tidak memilih?” Namun pertanyaan yang lebih penting adalah, apakah kita sebagai warga negara benar-benar menyadari, tentang apa yang kita lewatkan ketika memilih golput?

Konstitusi kita berbicara dengan jelas, yang terkandung pada pasal 22E UUD NRI 1945, yang menjamin bahwa pemilu diselenggarakan secara langsung, umum, bebas, rahasia, jujur, dan adil (luberjurdil).

Hak untuk memilih bukanlah hadiah dari penguasa, ia adalah hak konstitusional yang melekat pada setiap warga negara.

Namun, hak sebagaimana yang diajarkan dalam Pendidikan Kewarganegaraan, selalu berjalan dengan tanggung jawab yang mengiringinya. Hak memilih yang tidak digunakan bukan sekedar pilihan personal yang netral, namun juga memiliki sebuah konsekuensi kolektif yang nyata.

Menurut Jimly Asshiddiqie, konstitusi hanya akan bermakna ketika warga negara tersebut menghidupkannya (alias melakukan pencoblosan di bilik suara).

Sistem demokrasi juga bukan sekedar sistem yang bisa berjalan sendiri layaknya mesin otomatis. Ia membutuhkan bahan bakar berupa partisipasi rakyat. Partisipasi itu pun tidak hanya terjadi setiap lima tahun sekali di balik bilik suara, melainkan juga terjadi dalam keseharian warga negara, yang melek dan kritis terhadap jalannya sebuah kekuasaan.

Sebagian dari orang-orang yang memilih golput juga bukan berarti mereka tidak peduli, namun pada dasarnya mereka hanyalah kecewa. Mereka kecewa terhadap sistem pemilu yang dirasa tidak pernah benar-benar berubah.

Banyak kandidat hanya sanggup menawarkan janji, tapi tidak benar-benar bersedia menepatinya, dengan berbagai alasan klise. Pesta demokrasi yang diharapkan jadi ajang perubahan bangsa, justru hanya menjadi tontonan sia-sia yang tidak memberi makna apa-apa.

Kekecewaan itu sah dan harus diakui benar adanya. Namun ada perbedaan mendasar dari golput sebagai bentuk protes, yang berarti bahwa golput adalah pelarian dari tanggung jawabnya sebagai warga negara.

Pertama golput bisa diperdebatkan adalah sebagai bentuk ekspresi politik, kedua golput banyak terjadi di kalangan anak muda, yang merupakan hasil dari kemalasan berpikir, serta apatisme yang kita normalisasikan tanpa sadar.

Dalam Pendidikan kewarganegaraan, apatisme bukan kondisi yang netral, ia merupakan pilihan aktif untuk menyerahkan nasib kepada orang lain. Ketika kita memilih diam (alias golput), kita justru  membiarkan sistem berjalan tanpa suara kita di dalamnya, dan sistem itu akan tetap kita tanggung mau tidak mau.

Hal yang lebih mengkhawatirkan lagi adalah, ketika golput dianggap sebagai sikap yang “keren” atau realistis, serta adanya sinisme yang terselubung, bahwa “siapapun yang menang, tidak akan ada yang berubah.”

Narasi ini akan sangat berbahaya, karena sistem memang tidak sempurna, tetapi karena ia menghentikan percakapan sebelum benar-benar dimulai, maka ia dapat mengubah warga negara yang seharusnya kritis, lalu berubah menjadi penonton yang pasif.

Pendidikan Kewarganegaraan mengajarkan adanya konsep yang disebut civic responsibility atau tanggung jawab warga negara. Bukan tanggung jawab yang dipaksakan oleh aturan yang mengikat, melainkan yang tumbuh dari kesadaran bahwa kita adalah bagian dari sebuah komunitas besar yang saling mempengaruhi.

Memilih dengan cerdas, mempertimbangkan rekam jejak, membaca dan memahami visi-misi, dan bukan hanya membaca namanya (berdasarkan citra politik). Itulah wujud nyata dari sebuah tanggung jawab dalam berwarga negara.

Demokrasi dapat dinilai sehat tidak hanya diukur dari apakah pemilu berlangsung tepat waktu dan aman dari kecurangan, namun juga dapat diukur dari seberapa banyak warganya yang benar-benar hadir, berpikir, dan terlibat di dalamnya.

Pemilu bisa saja berjalan sempurna secara teknis, namun tetap terasa hambar apabila warganya hanya hadir secara prosedural tanpa kesadaran. Memang benar bahwa suara satu orang terasa sangat kecil, seperti layaknya korban keracunan MBG, yang menurut presiden Prabowo hanya 0,0006% dari total 100% penerima manfaat.

Namun dalam konstitusi, tidak ada perbedaan antara suara kecil dan besar (rakyat biasa ataupun pejabat), karena mereka dihitung sama dan bermakna. Golput bukan hanya soal tidak memilih, ia adalah persoalan siapa yang akhirnya menentukan arah dari negara ini. Dan apakah kita mau menjadi bagian dari keputusan itu, atau hanya menjadi saksi bisu dari pilihan orang lain.

Opini ditulis oleh Lutfi Nuraini, Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Negeri Yogyakarta

YOGYAKARTA – JT – Film horor Aku Harus Mati mengisahkan tentang Mala (Hana Saraswati), seorang perempuan yang terjebak dalam gaya hidup hedon di kota besar. Demi mendapatkan validasi, ia rela terlilit utang untuk memenuhi keinginannya, ini dapat dilihat dari postingan medsos pribadinya, ternyata demi gaya hidup ia punya banyak hutang dan dikejar debtcollector.

Merasa lelah dengan kehidupannya, Mala memutuskan kembali ke panti asuhan tempat ia dibesarkan. Di sana, ia bertemu kembali dengan sahabat lamanya, Tiwi (Amara Sophie) dan Nugra (Prasetya Agni), serta Ki Jogo (Bambang Paningron), sosok pengasuh yang sudah ia anggap sebagai orang tua sendiri.

Tujuan pulang ke rumah untuk ketenangan, namun yang diharapkan berubah menjadi pengalaman mencekam. Sebuah peristiwa aneh membuat Mala terseret dalam perjalanan penuh misteri untuk menemukan jati dirinya. Bersama Tiwi dan Nugra, Mala melakukan perjalanan menuju rumah misterius di tengah hutan. Di tempat tersebut, mereka diteror oleh gangguan roh jahat yang terus menghantui.

Perjalanan itu perlahan mengungkap rahasia kelam masa lalu sebuah keluarga yang berkaitan erat dengan kehidupan Mala. Dalam Film ini menggambarkan bagaimana seseorang bisa melakukan apa saja, bahkan menjual jiwanya, demi harta dan ambisi.

“Film ini masuk genre horor, harapannya film Aku Harus Mati menjadi salah satu film horor yang siap menarik perhatian pecinta film dengan genre seram di tanah air, akan tayang serempak di bioskop Indonesia mulai 2 April 2026,” ungkap Hestu Saputra sutradara film saat berdiskusi dengan kawan-kawan Forkom Jaff, Paguyuban Sineas Bantul, dan Cinemartani di Kampung Kopi Ambarukmo, Rabu (1/4/2026).

Aku Harus Mati merupakan film horor yang diproduksi oleh Rollink Action dengan cerita yang mengangkat sisi gelap ambisi manusia di tengah kehidupan modern. Film ini disutradarai oleh Hestu Saputra yang juga berperan sebagai produser bersama Irsan Yapto dan Nadya Yapto.

Sementara itu, naskah film horor Indonesia ini ditulis oleh Aroe Ama dan Astrid Savitri. Dengan jajaran kru tersebut, film horor 2026 ini diharapkan mampu menghadirkan kisah yang tidak hanya menegangkan, tetapi juga relevan dengan kehidupan sehari-hari.

“Ramuanya adalah ingin menampilkan cerita urban untuk anak muda kekinian, semoga mampu mencapai penonton yang banyak dan bisa bersaing dengan berbagai film nasional baik genre komedi, drama, dan horor lainnya,” pungkas Hestu. (TKS)

BANTUL – Seniman asal Palembang, Syahrizal Pahlevi resmi membuka rangkaian Pameran Lukis cukil kayu bertajuk “Grafis Lintas Jogja-Palembang (1990-2026)” yang berlangsung di Museum dan Tanah Liat (MDTL), Tirtonirmolo, Kasihan, Bantul, Jumat (13/3/2026).

Pameran ini menampilkan lebih dari 50 karya lukis Pahlevi, yang menceritakan perjalanan hidup Pahlevi, khususnya di dua tempat, yakni Yogyakarta sebagai tempatnya berkarya seni rupa dan grafis serta Palembang sebagai kota kelahirannya.

Seluruh karya ini dihasilkan menggunakan media cukil kayu (woodcut paint), sebagai salah satu spesialisasi Pahlevi dalam menghasilkan karya seni.

Dalam acara pembukaan tersebut, Pahlevi juga turut menampilkan demo melukis dengan cukil kayu, yang hanya memakan waktu sekitar 15 menit.

Pahlevi dalam sambutannya mengatakan, karya-karya yang dihasilkannya ini adalah salah satu caranya untuk “mudik” ke Palembang, karena ia sudah lama tidak mudik ke kampung halamannya.

“Saya juga berencana membawa karya-karya grafis saya ini mudik (ke Palembang), karena saya sudah lama tidak mudik. Jadi saya akan mudik bersama keluarga saya, dan sebagian dari karya yang ada di sini (MDTL) juga akan saya bawa ke Palembang, untuk dipamerkan disana,” pungkas Pahlevi dalam pembukaan Pameran Lukisan Cukil Kayu berjudul “Grafis Lintas Jogja-Palembang (1990-2026)” yang berlangsung di Museum dan Tanah Liat (MDTL), Tirtonirmolo, Kasihan, Bantul, Jumat (13/3/2026).

Pameran ini juga menjadi momen retrospeksi seorang Pahlevi, yang ingin mengenang setiap perjalanan hidupnya bersama banyak orang, yang dimulai sejak awal tahun 90-an silam.

Tidak hanya display lukisan cukil kayu, pameran ini juga turut menampilkan workshop praktik cukil kayu secara gratis kepada masyarakat.

Selanjutnya ada Talkshow “ART TALK” tentang dunia seni grafis dan seni rupa, dan masih banyak lagi.

Pameran ini masih akan berlangsung hingga Kamis, 19 Maret 2026 mendatang, bertempat di Museum dan Tanah Liat (MDTL), Jeblog, Tirtonirmolo, Kasihan, Bantul. (zk)

BANTUL – Seniman asal Palembang, Syahrizal Pahlevi resmi membuka rangkaian Pameran Lukis cukil kayu bertajuk “Grafis Lintas Jogja-Palembang (1990-2026)” yang berlangsung di Museum dan Tanah Liat (MDTL), Tirtonirmolo, Kasihan, Bantul, Jumat (13/3/2026).

Pameran ini menampilkan lebih dari 50 karya lukis Pahlevi, yang menceritakan perjalanan hidup Pahlevi, khususnya di dua tempat, yakni Yogyakarta sebagai tempatnya berkarya seni rupa dan grafis serta Palembang sebagai kota kelahirannya.

Seluruh karya ini dihasilkan menggunakan media cukil kayu (woodcut paint), sebagai salah satu spesialisasi Pahlevi dalam menghasilkan karya seni.

Dalam acara tersebut, Pahlevi turut memamerkan keahliannya melakukan demo melukis dengan cukil kayu, yang hanya berlangsung selama 15 menit. Penonton pun antusias menyaksikan bagaimana Pahlevi mampu menghasilkan karya cukil kayu, dalam waktu yang tergolong singkat.

Berikut adalah sejumlah momen menarik yang terjadi dalam acara pembukaan tersebut, serta pertunjukan demo melukis cukil kayu dari Pahlevi. (Foto: Azka Qintory)

 

 

YOGYAKARTA – JT – Upaya meningkatkan pengetahuan siswa mengenai literasi dalam dunia industri kreatif ditempuh oleh Madrasah Aliyah Negeri 1 Yogyakarta dengan penyelenggaraan agenda kegiatan Kokurikuler, khususnya bagi kelas XI tahun pelajaran 2025/2026, hal ini ditempuh dengan kegiatan Pelatihan Karya Tulis Ilmiah dan Produksi Video Kreatif bagi Murid yang diselenggarakan pada hari kamis, tanggal 11 Maret 2026, mulai pukul 09.00 hingga 11.00 WIB.

Pelatihan Karya Tulis Ilmiah diampu oleh narasumber R. Toto Sugiharto dan dipandu oleh guru Ely Rahmawati bertempat di Ruang Perpus Lt. 2. Sementara ‘Produksi Video Kreatif bagi Murid’ menghadirkan narasumber Tedi Kusyairi didampingi guru Suci Ambarwati bertempat di Ruang SBSN.

Kepala MAN 1 Yogyakarta, Edi Triyanto, S.Ag., S.Pd., M.Pd., dalam sambutannya menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan upaya madrasah untuk mengembangkan kemampuan literasi ilmiah sekaligus kreativitas murid di era digital.

“Melalui pelatihan ini, kami berharap murid MAN 1 Yogyakarta tidak hanya mampu menulis karya ilmiah dengan baik, tetapi juga mampu menyampaikan gagasan secara kreatif melalui media video. Keduanya merupakan keterampilan penting yang dibutuhkan di masa depan,” ujarnya.

Sementara itu, Wakil Kepala Madrasah bidang Humas, Apriyata Dzikry R., S.Hum., menegaskan bahwa kegiatan ini juga menjadi sarana untuk membangun kemampuan komunikasi dan publikasi karya murid.

“Di era informasi seperti sekarang, kemampuan menyampaikan ide secara menarik dan komunikatif sangat penting. Kami berharap murid mampu menghasilkan karya ilmiah yang berkualitas sekaligus mengemasnya dalam bentuk konten kreatif yang inspiratif,” ungkapnya.

Secara umum tujuan pelatihan untuk membekali murid dalam pembuatan laporan kegiatan studi budaya dalam bentu video dan karya tulis Ilmiah, terang Tuslikhatun Amimah, sebagai Koordinator Kokurikuler kelas XI.

“Output yang diharapkan nantinya, setelah studi budaya akan ada bentuk laporan sesuai dengan kaidah yang benar dan dapat dipertanggungjawabkan,” tegasnya.

Pasca kelas ini, diharapkan bisa melatih kreativitas murid dalam menyampaikan informasi melalui media video. Mengembangkan kemampuan bekerja sama dalam kelompok. Melatih keterampilan komunikasi, riset sederhana, dan storytelling, serta menghasilkan karya video yang informatif, menarik, dan edukatif.

Dalam pemaparannya, R. Toto Sugiharto menekankan bahwa kemampuan menulis karya ilmiah merupakan bekal penting bagi murid dalam mengembangkan pola pikir yang kritis dan sistematis.

“Menulis karya ilmiah melatih murid untuk berpikir logis, sistematis, serta berbasis data dan fakta. Dengan keterampilan ini, murid dapat menuangkan ide dan gagasan mereka secara terstruktur dan dapat dipertanggungjawabkan,” jelasnya.

Sementara itu, Tedi Kusyairi menyampaikan bahwa produksi video kreatif dapat menjadi sarana bagi murid untuk mengekspresikan ide dan menyampaikan pesan secara lebih menarik.

“Konten video saat ini menjadi media yang sangat efektif untuk menyampaikan informasi. Dengan memahami teknik dasar produksi video, murid dapat membuat karya yang kreatif, informatif, dan memiliki nilai edukatif,” tuturnya.

Meskipun kegiatan ini sebagai bentuk isian pengetahuan siswa sebelum acara studi budaya dilakukan, namun harapannya bisa digunakan oleh siswa diluar kegiatan sekolah.

“Semoga ilmu video kreatif ini bisa membekali siswa, misalnya menjadi seorang influencer, atau jika punya usaha atau jasa bisa tau cara mempromosikannya dengan baik,” ungkap Suci Ambarwati, moderator kelas video kreatif.

Setelah sesi pelatihan, murid melanjutkan penyelesaian tugas Studi Budaya secara berkelompok mulai pukul 11.00–11.30 WIB. Kegiatan kemudian dilanjutkan setelah istirahat dan salat zuhur berjamaah hingga pukul 13.40 WIB dengan pendampingan guru, imbuh Kristanto Raharjo salah satu panitia.

Melalui kegiatan ini, MAN 1 Yogyakarta berharap murid dapat semakin terampil dalam mengembangkan literasi ilmiah sekaligus kreativitas dalam memanfaatkan media digital sebagai sarana pembelajaran dan publikasi karya. (ryn)

BANTUL – Dalam dunia seni lukis, sebuah lukisan bisa dihargai dengan sangat mahal, lantaran memiliki nilai seni (estetika) yang tinggi, keunikan/kelangkaan (originalitas), reputasi seniman yang cukup mentereng, serta nilai sejarah atau emosional yang mendalam.

Salah satu yang cukup menjadi perbincangan publik, adalah ketika mantan presiden SBY (Susilo Bambang Yudhoyono) berhasil menjual lukisannya yang berjudul Mantan Presiden RI ke-6, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), berhasil menjual lukisannya yang berjudul “Kuat dan Energik Laksana Kuda Api” seharga Rp6,5 miliar, dalam sebuah lelang amal pada Perayaan Imlek Demokrat, pada Februari 2026 lalu.

Di saat yang bersamaan, masih ada jenis-jenis seni lukis lainnya, yang masih kurang mendapat perhatian, apalagi jika dibeli dengan harga miliaran seperti yang dialami oleh SBY.

Salah satunya adalah seni lukis menggunakan cukil kayu (woodcut).

Meskipun memiliki tingkat kesulitan yang jauh lebih tinggi, namun nyatanya jenis seni lukis yang satu ini justru belum begitu menarik para konglomerat di luar sana, untuk berinvestasi atau membelanjakan uangnya, sebagai bentuk apresiasi atas karya yang telah dihasilkan.

Padahal jika ditelisik lebih jauh, tidak ada perbedaan mencolok antara seni lukis kontemporer dengan seni lukis dengan cukil kayu. Keduanya memiliki kebebasan berekspresi yang tinggi, fokus pada penyampaian ide atau konsep, dan tidak terikat pada pakem artistik tradisional tertentu.

Syahrizal Pahlevi memandangi lukisan cukil kayu miliknya dalam Pameran Lukis Cukil Kayu di Musem dan Tanah Liat (MDTL) (Foto: Azka Qintory)

Bagi seorang Syahrizal Pahlevi, seniman yang fokus di bidang lukis cukil kayu, hal itu merupakan selera setiap individu, yang juga dipengaruhi oleh beberapa faktor, seperti popularitas pelukis, acara yang diikuti, maupun siapa saja yang dilibatkan di dalam project tersebut.

“Persoalan seni rupa itu sederhana, apakah visual itu punya impact (dampak) terhadap audiens-nya, termasuk cerita-ceritanya. Dan saya pikir seni cukil kayu belum mampu meng-impact hal tersebut kepada audiens,” ucap Pahlevi saat ditemui dalam Pameran Lukis Cukil Kayu “Grafis Lintas Jogja-Palembang (1990-2026)”, yang berlangsung di Museum Dan Tanah Liat (MDTL), Tirtonirmolo, Kasihan, Bantul, Senin (9/3/2026).

Pahlevi pun hanya berusaha untuk sekadar berkarya, dan tidak terlalu memusingkan soal kurangnya minat masyarakat terhadap seni cukil kayu.

“Tentunya saya juga berusaha mempromosikan seni cukil kayu ini, baik dengan saya sendiri atau melalui rekanan, untuk membantu ini (mempromosikan seni cukil kayu),” tambah Pahlevi.

Sementara di kesempatan yang sama, Rain Rosidi, penulis pameran cukil kayu tersebut, mengaku bahwa nilai ekonomi memang menjadi salah satu faktor penting, dalam pembuatan sebuah karya lukis, meskipun bukan satu-satunya patokan. Hanya saja, tidak sepantasnya sebuah lukisan hanya dinilai berdasarkan nilai ekonominya saja, tanpa melihat aspek-aspek lain, yang sebetulnya juga tidak kalah penting.

“Sayangnya memang isu lukisan berjual mahal (seperti lukisan SBY) itu terasa lebih menarik, ketimbang isu nilai dari lukisan itu terhadap seni dan budaya. Akhirnya yang terjadi orang hanya berusaha menjual lukisan itu semahal mungkin, tanpa mempertimbangkan esensi atau makna dari lukisan tersebut,” ujar Rain.

Keduanya berharap, lukisan cukil kayu seperti yang dipamerkan di MDTL ini, dapat diapresiasi setinggi-tingginya oleh masyarakat, tidak harus dari kalangan pencinta seni.

Karena pada dasarnya, seni (termasuk seni lukis menggunakan cukil kayu) adalah milik siapa saja, dan layak mendapat apresiasi yang setimpal, atas proses kerja rumit dan berkualitas tinggi yang telah dihasilkan. (zk)