Bantul – JT – Balai Penyuluhan KB Kapanewon Bantul bekerja sama dengan Pemerintah Kalurahan Sabdodadi, melaunching Gerakan Ayah Teladan Indonesia (GATI). Kegiatan ini merupakan salah satu program percepatan (quick win) Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga. Kehadiran quick win GATI ini mencoba memberi dorongan agar para ayah dan calon ayah mulai memiliki kepedulian untuk melibatkan diri dalam pengasuhan anak serta pendampingan remaja. Kegiatan dilaksanakan hari minggu, 28 September 2025 (25/9/2025) mulai pukul bertempat di Aula Kalurahan Sabdodadi, Bantul.

Kegiatan ini menjadi penting karena menurut data UNICEF tahun 2021 menunjukkan 20,9% anak di Indonesia tidak memiliki figur ayah dan survei dari Badan Pusat Statistik (BPS) pada tahun yang sama menunjukkan bahwa hanya 37,17% anak usia 0–5 tahun yang dibesarkan oleh kedua orang tua secara bersamaan.

“Padahal, peran ayah dalam keluarga memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap perkembangan anak, baik secara emosional, kognitif dan sosial. Anak cenderung mengalami masalah akademik,” tegas Koordinator PKB Kap. Bantul Nurwendah Dwi R., S.T.P., M.M. dalam sambutannya.

Lebih lanjut Kepala Perwakilan BKKBN DIY Mohammad Iqbal Apriansyah, S.Sos., M.P.H. mengatakan bahwa pelaksanaan Program GATI diukur dengan 5 indikator, yaitu kegiatan pelayanan konseling dan konsultasi, membentuk konsorsium ayah teladan, pendekatan berbasis komunitas di tingkat kalurahan, pendekatan melalui sekolah (SEBAYA), serta cakupan ayah dan calon ayah yang mendapatkan materi terkait pengasuhan anak dan pendampingan remaja.

“Berdasarkan laporan evaluasi capaian GATI DIY bulan Juli 2025 menunjukkan data capaian ayah dan calon ayah yang memperoleh pengetahuan pengasuhan balita dan pendampingan remaja di Kabupaten Bantul hingga awal bulan Juli 2025 sebesar 5,56% dan untuk Kapanewon Bantul 17,78%. Dari laporan evaluasi tersebut juga belum ditemukan komunitas ayah teladan di Kabupaten Bantul. Komunitas penggiat Ayah Teladan di Kabupaten Bantul baru terdapat 1 komunitas yang dilaunching bersamaan dengan peringatan World Contraceptive Day di di bulan September,” jelas M. Iqbal Apriansyah.

Lebih lanjut Apriasnyah mengungkapkan bahwa orang tua khususnya Ayah memiliki tugas yang mungkin hanya 27% bagi anak, namun yang sejumlah tersebut menjadi penting, sebagai salah satu figur yang dicontoh anak-anaknya. Kesadaran sosok ayah yang sangat berpengaruh pada emosional anak, yang mengerikan adalah banhwa tindak kriminalitas usianya semakin muda, ini menjadi indikator terkait berbagi peran ayah dan ibu dalam sebuah keluarga.

“Jangan menjadi kebiasaan ibu memarahi anak, kok ayah juga memarahi anak, ini akan erpengaruh pada psikologi anak, harapannya kegiatan ini bisa menjadi pelecut bagi para ayah untuk berperan aktif dalam keluarga,” kata Apriansyah lebih lanjut.

Melihat pentingnya pengasuhan oleh ayah bagi balita dan remaja serta pencapain terhadap kualitas pelayanan dan kinerja organisasi, maka Penyuluh KB perlu melaksanakan program GATI dengan serius. Perlu adanya inovasi pelaksanaan program agar program dapat terealisasi maksimal dan secara nyata memberikan manfaat untuk masyarakat.

Menurut Lurah Sabdodadi, Siti Fatimah mengatakan bahwa Tim Penyuluh KB Kapanewon Bantul bersama Pemerintah Kalurahan Sabdodadi, Babinsa, dan Bhabinkamtibmas Sabdodadi telah melaksanakan Komunikasi, Informasi, dan Edukasi (KIE) Program GATI secara masif selama bulan Agustus dan September di wilayah Kalurahan Sabdodadi.

“KIE dilaksanakan kepada seluruh lapisan masyarakat melalui berbagai komunitas masyarakat desa seperti paguyuban linmas, paguyuban bamuskal, paguyuban dukuh, musyawarah kampung, pertemuan arisan bapak-bapak, rapat RT, kelompok dzikir, hingga karangtaruna. Melalui kegiatan KIE dimaksud, telah berhasil menggugah semangat masyarakat untuk membentuk sebuah komunitas penggiat ayah teladan yang anggotanya berasal dari wakil masing-masing kelompok yang sudah mendapatkan KIE,” ungkap Fatimah.

Komunitas ini mengambil nama “GADJAH MADA” yang merupakan akronim dari Gerakan Ayah demi Kesejahteraan Masa Depan Anak. Selanjutnya komunitas ini perlu untuk segera dikukuhkan sehingga keberadaannya akan kuat secara hukum. Selain itu, perlu diberikan penguatan materi sehingga anggota komunitas akan memiliki modal kuat dalam menyebarluaskan Gerakan Ayah Teladan Indonesia (GATI).

“Komunitas ini merupakan respon aktif masyarakat atas program Komunikasi, Informasi, dan Edukasi oleh Tim Penyuluhan KB Kapanewon Bantul yang sudah dilaksanakan pada waktu sebelumnya,” ungkap Penyuluh KB Sabdodadi Rohmaida Lestari, S.E.

Tujuan kegiatan ini diantaranya untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat dan mitra tentang Gerakan Ayah Teladan Indonesia (GATI), memberikan pengakuan dan penghargaan kepada masyarakat yang tergabung dalam komunitas penggiat ayah teladan.

Kegiatan ini nantinya diharapkan bisa menghasilkan peningkatan pengetahuan masyarakat dan mitra tentang Gerakan Ayah Teladan Indonesia (GATI), terbentuknya secara resmi komunitas penggiat ayah teladan di kalurahan Sabdodadi dan terlaksananya peningkatan KIE terkait peran ayah dalam pengasuhan anak oleh komunitas “GADJAH MADA” di wilayah Sabdodadi khususnya dan Kapanewon Bantul umumnya.

Kegiatan ditutup dengan pemaparan materi dengan tema ‘Penguatan Peran Ayah dan Peran Komunitas Dalam Pengasuhan Anak Balita dan Pendampingan Remaja’, dengan narasumber Prof. Dr. Dody Hartanto, M.Pd (Guru Besar Ilmu Bimbingan dan Konseling Keluarga Universitas Ahmad Dahlan).

“Perlu cara yang lebih pas dalam menyampaikan informasi ke anak, dalam hal marah juga, karena anak jaman ini berbeda dengan masa lalu, cara memberikan nasehat juga lain bagi anak generasi media sosial yang penuh gambaran posistif dan negatif, anak lebih banyak menyerap info dari gadget, ketimbang dari orang tua,” jelas Dody Hartanto.

Kedepannya diharapkan banyak komunitas Gerakan Ayah Teladan Indonesia ini, bisa menjamur di seluruh DIY khususnya dan Indonesia pada umumnya. (TKS)

 

Sleman – JT – Ratusan Ormas yang tergabung dalam Komunitas Satuan Tim Anti Kriminalitas (STAK) Yogyakarta menggelar apel bersama. Acara di gelar di Taman Kuliner Condongcatur. Sabtu (13/9/2025).
Sigit Susanto atau Cemo saat dikonfirmasi awak media menjelaskan bahwa kegiatan April ini sebagai bentuk untuk menciptakan harkamtibmas di wilayah Yogyakarta khususnya dan wilayah masing masing-masing masing pada umumnya.

“Hari ini apel paling besar selama ada kegiatan apel,” jelasnya.

Sementara itu Kapolresta Sleman yang diwakili oleh Kabag Ops. Polresta Sleman Kompol Masnoto saat memberikan pengarahan menyampaikan ucapan terimakasih kepada STAK yang telah berhasil dalam membantu menciptakan suasana Kamtibmas di Wilayah Yogyakarta khusunya di Sleman.

“Kapolresta Sleman mengucapkan terimakasih kepada STAK yang telah turut serta membantu dalam menciptakan suasana kamtibmas di lingkungan sampai saat ini,” jelasnya.

Lebih lanjut Masnoto juga mengajak kepada seluruh anggota STAK saat ini memang harus selektif dalam bermedia sosial.

”Kita harus selektif dalam bermedia sosial semoga nantinya STAK bisa turut menyampaikan informasi yang benar dan sesuai dengan fakta dilapangan,” pesannya.

Sementara itu Kasat Pol PP Sleman dalam arahan juga menyampaikan bahwa dalam menjalankan tugas dilapangan nantinya juga berpedoman pada 4J.

”Pedoman 4J diantaranya Jaga Diri, Jaga keluarga, Jaga Warga, dan yang terakhir Jaga Negara,” imbuhnya.

Senanda hal tersebut, juga disampaikan oleh perwakilan Kodim Sleman menyampaikan relawan nantinya bisa berkerja sesuai dengan AD/RT masing–masing. Relawan memang menjadi garda terdepan dalam membantu dan menjaga keutuhan NKRI.

Dalam apel sendiri selain dihadiri oleh perwakilan dari Dandim Sleman, Polsek Depok, Panewu, Kabagops Polresta Sleman, Kasat Pol PP Sleman, dan juga ormas yang tergabung dalam STAK baik dari Yogyakarta maupun dari Jateng. (ATG)

BANTUL – Sebuah gagasan kreatif dari Komunitas Omah Moco berhasil menyatukan hobi membaca dengan keindahan alam. Kegiatan yang diberi nama “Baca Bareng” ini mengajak kita untuk melepaskan diri sejenak dari rutinitas, dan menyelami dunia literasi sekaligus dekat dengan suasana alam.

Kegiatan unik ini berlangsung di Muara Sungai Progo, sebuah lokasi di perbatasan Kulon Progo dan Bantul, yang kian populer berkat hadirnya Jembatan Baru Pandansimo yang tengah viral. Acara ini bukan sekadar ajang berkumpul, melainkan undangan untuk menikmati pengalaman membaca yang berbeda dari biasanya, ditemani hembusan angin sepoi-sepoi dan pemandangan jembatan ikonis sebagai latar.

Digelar pada Sabtu (13/9/2025) mulai pukul 16.00 WIB, peserta cukup membawa buku favorit masing-masing, lalu duduk santai sambil membaca. Konsepnya sederhana: setelah menikmati waktu membaca secara personal, peserta diajak berdiskusi ringan, berbagi wawasan, atau sekadar bercerita tentang bacaan yang menenangkan hati di tengah kebisingan rutinitas.

“Kami ingin menciptakan suasana baru yang asyik dan menarik bagi para peserta. Selain itu, kami juga menawarkan jeda dari kebisingan sehari-hari, serta memberikan kesempatan bagi para peserta untuk mendapatkan ketenangan hati melalui interaksi dan diskusi yang bermanfaat,” tutur Ikhsan, salah satu penggagas kegiatan “Baca Bareng” ini.

Ikhsan menambahkan, tujuan utama kegiatan ini adalah menunjukkan bahwa membaca bukanlah aktivitas membosankan, melainkan cara untuk memperluas wawasan, membangun komunitas, dan menemukan ketenangan diri.

“Seluruh prosesnya dirancang sederhana. Siapa pun boleh ikut, cukup bergabung melalui grup WhatsApp atau datang langsung ke lokasi. Peserta bebas memilih tempat duduk yang nyaman di sekitar area muara sungai, menghabiskan sore bersama buku, lalu berinteraksi dengan sesama pencinta literasi lainnya,” tambah Ikhsan.

Kegiatan “Baca Bareng” akan digelar secara rutin setiap dua pekan sekali. Komunitas Omah Moco pun mengajak siapa pun yang ingin menemukan teman baru, suasana baru, sekaligus ketenangan diri untuk ikut dalam agenda berikutnya. Untuk informasi lebih lanjut dapat dipantau melalui akun Instagram @omahmoco atau Facebook Komunitas Omah Moco.

Ada banyak cara yang bisa dilakukan untuk menumbuhkan kembali kecintaan terhadap literasi, salah satunya adalah dengan melakukannya di alam terbuka, seperti yang dilakukan oleh Komunitas Omah Moco ini. Kreativitas mereka bisa menjadi contoh yang baik, bahwa hal sederhana bisa membawa dampak yang cukup signifikan, kaitannya dalam hal menumbuhkan budaya literasi di kalangan generasi muda, agar bisa kembali mencintai buku. (Saryanti, S.Pd/zk)

SLEMAN – Selama ini, masyarakat khususnya pemeluk agama Kristen atau Katolik mengenal kegiatan peribadatan di gereja di Indonesia yang dominan dengan menggunakan bahasa Indonesia dan iringan organ. Hal ini sangat lazim dilaksanakan di setiap gereja. Namun ternyata, ada beberapa gereja yang memiliki konsep yang cukup berbeda, salah satunya di Daerah Istimewa Yogyakarta. Gereja tersebut adalah Gereja Hati Kudus Yesus Ganjuran, yang kental dengan tradisi enkulturasi dalam peribadatan (misa/Ekaristi), yaitu dengan menggunakan bahasa Jawa dan diiringi oleh alat musik gamelan.

Enkulturasi di Gereja Ganjuran sudah menjadi tradisi rutin dalam perayaan Ekaristi. Berbeda dengan tradisi enkulturasi di Gereja Santo Mikael Pangkalan-Adisutjipto Yogyakarta, yang baru melaksanakan enkulturasi ini sejak 2022 silam. Pelaksanaan enkulturasi ini dilaksanakan tepat di minggu kelima pada bulan yang ditentukan. Sebenarnya, proses enkulturasi sudah dilaksanakan sejak sebelum pandemi (2019), tetapi hanya dilakukan dengan iringan gamelan, serta tidak berbahasa Jawa.

Dalam proses enkulturasi memerlukan niyaga. Niyaga yang bertugas pun tidak hanya dari kalangan orang tua, tetapi juga anak-anak. Namun, ada yang berbeda pada tahun 2025 ini, tepatnya pada Minggu (31/8/2025) lalu. Enkulturasi dalam perayaan Ekaristi yang dilakukan tidak hanya dengan berbahasa Jawa dan diiringi gamelan semata, tapi juga diiringi oleh tarian pada pengiring pembuka dan pengiring persembahan yang ditarikan oleh anggota gamelan anak, yang notabene baru dibentuk pada Januari 2025 lalu.

Niyaga yang tergabung dalam gamelan dewasa, Gamelan Ngesthi Pada, mengiringi hampir seluruh iringan dalam misa, kecuali iringan Komuni. Hal ini karena Iringan Komuni diiringi oleh niyaga gamelan anak. Gamelan anak sendiri adalah program yang baru berjalan tahun ini, seiring dengan pembentukannya yang baru dimulai pada Januari lalu. Meskipun sejatinya sudah pernah eksis pada rentang 2009-2012 silam.

Perayaan ekaristi pada 31 Agustus ini menjadi awal enkulturasi yang langsung menyentuh beberapa aspek budaya sekaligus, yakni bahasa Jawa, gamelan, tarian, dan busana Jawa. Enkulturasi ini menggerakkan semua jenjang usia, mulai dari TK, SD, SMP, SMA, hingga orang tua.

Enkulturasi dengan memasukkan unsur bahasa Jawa ini berawal dari ide Rama Paroki Gereja Santo Mikael Pangkalan-Adisutjipto Yogyakarta pada 2022 lalu, dimana Rm. Martinus Joko Lelono menunjuk Cicilia Nian Erika untuk menghidupkan kembali gamelan dewasa yakni Gamelan Ngesthi Pada.

Setelah itu, pada tahun 2025 ini, program selanjutnya adalah menghidupkan kembali Gamelan Anak Gereja, serta program kerja tari di dalam Gereja. Akhirnya, keempat aspek budaya tadi berhasil dienkulturasikan di Gereja Santo Mikael Pangkalan Adisutjipto Yogyakarta pada akhir Agustus lalu.

Proses enkulturasi selanjutnya masih akan berlanjut pada Minggu (30/11/2025) pukul 08.00 WIB secara luring (offline) di Gereja Santo Mikael Pangkalan-Adisutjipto dan juga secara daring (online) di live streaming channel YouTube Gereja Pangkalan. (zk)

SLEMAN – Perilaku korupsi di negeri ini sudah sangat massif, bahkan cenderung sudah menjadi “budaya” tersendiri, terutama di kalangan pejabat elit.

Namun siapa sangka, aktivitas korupsi tidak hanya terjadi di kalangan pejabat elit saja, tapi juga sudah menyasar ke tingkatan bawah, alias di daerah-daerah terpencil, sekalipun jumlahnya tidak terlalu besar, namun itu juga sudah termasuk ke dalam perilaku korupsi.

Atas dasar itulah, Yayasan Lembaga Kajian Islam dan Sosial (LKiS) mencoba menginisiasi diskusi yang membahas tentang korupsi dari sudut pandang yang berbeda, utamanya tentang korupsi “kecil-kecilan” yang kerap terjadi di daerah, dengan melibatkan masyarakat sipil dari berbagai kalangan.

Dalam kesempatan tersebut, LKiS turut mengundang akademisi, Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), mahasiswa, media, dan pegiat sipil lainnya, dalam diskusi yang bertajuk “Refleksi Partisipasi Masyarakat dalam Transparansi Anti Korupsi” yang berlangsung di kawasan Gamping, Sleman, Selasa (26/8/2025).

Secara khusus, diskusi ini merujuk pada bagaimana praktek-praktek korupsi yang ternyata sudah banyak terjadi di daerah selama bertahun-tahun, namun seolah luput dari perhatian karena jumlahnya yang kecil, maupun cakupannya yang hanya di daerah saja, sehingga kurang menarik bagi pemberitaan nasional.

Menurut salah satu pemateri, Baskoro Waskitho, diskusi ini adalah sarana untuk menginvestigasi lebih jauh tentang cara kerja pemberantasan korupsi, serta mengulik sejauh mana rasa empati publik terhadap penanganan anti korupsi yang sudah berjalan selama ini.

“Disini kita mencoba untuk memantik kembali rasa empati kita terhadap anti korupsi di Indonesia, agar mereka bisa mengetahui bagaimana strategi investigasi penanganan anti korupsi itu sejak awal seperti apa, dan bagaimana peran kita sebagai pelapor untuk penindakan korupsi di lingkup terkecil,.” kata Baskoro yang juga alumni IM-ACA (Indonesia Memanggil Anti Corruption Academy) Batch 3, Selasa (26/8/2025).

Lebih lanjut Baskoro menyampaikan, diskusi ini bertujuan untuk membangkitkan lagi motivasi dari para masyarakat sipil, khususnya di tingkat daerah, untuk ikut mengawasi pergerakan korupsi yang kemungkinan terjadi di lingkungan sekitar.

“Setidaknya (gerakan anti korupsi) itu dimulai dari lingkungan kita sendiri, khususnya yang berpotensi menjadi besar di kemudian hari,” tambah Baskoro.

Selanjutnya, hasil dari diskusi ini akan diteruskan dengan pertemuan lanjutan terhadap pihak-pihak terkait, agar aspirasi dari seluruh masyarakat sipil bisa ikut didengarkan oleh para petinggi yang ada di pusat. (zk)

YOGYAKARTA – Festival Film Pelajar Jogja (FFPJ) tahun 2025 akan kembali digelar. Masih mengusung nuansa perkemahan seperti tahun-tahun sebelumnya, kali ini FFPJ edisi ke XVI atau 16 akan diikuti oleh 50 pembelajar seni film dari berbagai sekolah selama dua hari, yakni pada Sabtu-Minggu, 13-14 September 2025, bertempat di Bumi Perkemahan Wonolelo, Pleret, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, Seluruh partisipan merupakan perwakilan sekolah/komunitas yang karyanya telah terpilih menjadi Nomine Program Kompetisi Nasional FFPJ XVI 2025 serta sejumlah undangan khusus.

Meskipun berlokasi di Jogja, sekolah yang berpartisipasi tidak hanya dari Jogja saja, melainkan juga dari seluruh Indonesia, seperti dari Aceh, Jakarta, Cimahi, Pekalongan, Kebumen, Pati, Klaten, Malang, Batu, Tulungagung, serta tentu saja tuan rumah yakni Bantul, Gunungkidul, Kulon Progo, Sleman dan Yogyakarta. Adapun tidak semua Nomine mengirimkan perwakilannya untuk hadir ke Yogyakarta, karena memiliki kegiatan yang bersamaan di tempat lain.

“Panitia mengundang dan mengharapkan seluruh Nomine untuk bisa hadir. Tetapi tidak semuanya bisa. Ada yang memiliki kegiatan bersamaan. Ada juga faktor lainnya. Yang jelas, hal ini tidak mempengaruhi penilaian terhadap karya mereka yang saat ini masuk penilaian final oleh dewan juri utama,” kata Rahmi, Direktur Eksekutif FFPJ XVI.

Sebelum pelaksanaan perkemahan, rangkaian kegiatan FFPJ XVI akan dimulai sejak tanggal 1 sampai 9 September 2025, dibuka dengan program Sinema Silaturahmi. Kegiatan ini adalah pemutaran film pendek terpilih dari Nomine FFPJ XVI, dan dialog interaktif pasca sesi pemutaran film, dengan menghadirkan narasumber praktisi/akademisi seni film dari Fakultas Seni Media Rekam Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta. Tim panitia melakukan program Sinema Silaturahmi dengan berkeliling ke lima sekolah di wilayah Yogyakarta, yaitu SMKN 1 Pleret Bantul, SMAN 2 Wates Kulon Progo, SMK Muhammadiyah 1 Sleman, SMKN 1 Purwosari Gunungkidul, dan SMA Bopkri 1 Yogyakarta.

Suasana perkemahan FFPJ edisi XV tahun 2024

Rangkaian kegiatan selanjutnya adalah diselenggarakan adalah Sarasehan Film, yang akan membahas Artificial Intelligence (AI) dan Tantangan Produksi Kreasi Film. Narasumber berasal dari akademisi ISI Yogyakarta Latief Rahman Hakim dan aktor film profesional, Dinar Roos. Partisipan kegiatan ini adalah para pelajar tingkat SMA/SMK/MA di Yogyakarta dan sekitarnya. Sarasehan akan diselenggarakan di Kampus Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Yogyakarta, Jumat 12 September 2025.

Partisipan FFPJ XVI sebelum berangkat ke lokasi perkemahan akan mengikuti kegiatan pemutaran film pendek terpilih di Kampus UNU Yogyakarta. Kemudian dilanjutkan dengan pembukaan festival. Setelahnya, partisipan berangkat berbarengan menggunakan bus ke Kampus ISI Yogyakarta. Di Kampus ISI, partisipan akan diajak berdialog tentang Studi Film di Perguruan Tinggi. Tim dari Program Studi Film FSMR ISI Yogyakarta akan memfasilitasi kegiatan. Seluruh kegiatan ini diselenggarakan sejak pagi sampai menjelang sore hari pada Sabtu, 13 September 2025.

Perkemahan FFPJ XVI sendiri akan dimulai pada sore hari pada Sabtu, 13 September 2025. Perkemahan dirancang untuk memfasilitasi partisipan agar proses belajar bersama berjalan lebih santai. Selain itu, kegiatan perkemahan ini juga dapat menghadirkan suasana silaturahmi antarpartisipan yang lebih intensif, sekaligus dapat lebih fokus, karena berkumpul di satu tempat selama dua hari. Nilai-nilai yang terdapat di dalam tema festival tahun ini yaitu Gugur Gunung, akan dipraktikkan selama kegiatan perkemahan ini.

Selama perkemahan, panitia telah menyiapkan rangkaian acara. Di antaranya adalah temu komunitas, lokakarya, sarasehan, studi lingkungan, apresiasi seni, serta pemberian penghargaan untuk karya terpilih dalam program kompetisi nasional. Dua fasilitator dan narasumber utama di perkemahan ini adalah Ghalif Putra Sadewa dan Pius Rino Pungkiawan, praktisi dan akademisi film ISI Yogyakarta.

“Panitia berupaya menyelenggarakan perkemahan film pelajar ini semaksimal mungkin. Harapannya partisipan memperoleh manfaat, tidak hanya tentang segala sesuatu yang berhubungan dengan seni film, tetapi juga nilai-nilai baik yang ada di sebuah perkemahan yang lazim. Salah satunya ya sesuai tema festival tahun ini, Gugur Gunung,” kata Rahmi.

Penyelenggaraan FFPJ XVI 2025 didukung penuh oleh Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta, Kampus ISI Yogyakarta, Kampus UNU Yogyakarta, dan kolaborasi dengan lembaga serta komunitas lainnya. Selain itu juga dibantu oleh para volunteer yang memiliki latar belakang beragam. Kegiatan perkemahan film pelajar nasional diharapkan menjadi salah satu aktivitas yang memberi warna di FFPJ XVI 2025 dan penyelenggaraan di tahun-tahun berikutnya. (zk)

 

MAGELANG, SPJ – Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Padepokan 48 Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa (UST) Yogyakarta berhasil menggagas inovasi Bank Sampah Merah Putih di Dusun Pandean, Desa Jerukagung, Kecamatan Srumbung, Kabupaten Magelang. Program ini hadir sebagai solusi nyata terhadap kebiasaan masyarakat yang sebelumnya kerap membakar sampah, sehingga berkontribusi pada pencemaran udara yang terjadi di wilayah tersebut dalam beberapa waktu terakhir.

Berdasarkan pemantauan IQAir 2024, kualitas udara di Kabupaten Magelang berada pada level sedang (indeks 54), dengan konsentrasi PM2.5 mencapai 13 µg/m³ alias lebih dari dua kali lipat ambang batas yang direkomendasikan WHO. Situasi ini mengindikasikan bahwa praktik pengelolaan sampah di kabupaten Magelang masih belum optimal. Ini belum termasuk dengan pembakaran terbuka, yang ikut berkontribusi terhadap meningkatnya polusi udara di kawasan tersebut.

Bank Sampah Merah Putih yang digagas oleh mahasiswa UST ini mengajak warga untuk memilah sampah bernilai ekonomi ke dalam 8 galon pemilah (plastik, kertas, besi, kaca, sisa makanan, kaleng, daun, dan kulit buah) sebagai simbol bulan kemerdekaan serta mengisinya dengan aksi nyata dan karakter berbasis ekologis atau lingkungan. Sampah tersebut kemudian ditukar dengan poin yang bisa dikonversikan menjadi uang atau barang kebutuhan sehari-hari. Hasil dari penjualan sampah yang telah dipilah juga dapat menambah pendapatan masyarakat sekitar, sehingga selain membantu menjaga lingkungan, program ini mampu meningkatkan perekonomian warga.

“Kami berharap Bank Sampah Merah Putih ini mampu mengubah kebiasaan warga yang dulu seringkali membakar sampah, menjadi lebih peduli pada lingkungan. Selain mengurangi pencemaran, sistem ini juga memberi manfaat ekonomi bagi masyarakat,” ujar salah satu anggota KKN Padepokan 48.

Manfaat nyata Bank Sampah Merah Putih juga dirasakan langsung oleh warga. Salah satunya Widodo (60), warga Dusun Pandean, yang mengaku sangat terbantu dengan adanya program ini.

“Saya sangat terbantu oleh adanya Bank Sampah Merah Putih dari para mahasiswa UST ini. Selain bisa menambah ekonomi keluarga, polusi dari pembakaran sampah juga berkurang. Lingkungan pun jadi lebih bersih,” ungkapnya.

Selain warga, organisasi kepemudaan pun turut merasakan dampak positifnya. Helmi, Ketua Karang Taruna Dusun Pandean, menyampaikan bahwa Bank Sampah Merah Putih ikut membantu menambah kas organisasi dan kreativitas warga dengan pemanfaatan barang bekas untuk ditempelkan di buku sehingga menjadi sebuah cerita.

“Bank Sampah Merah Putih ini turut membantu kas karang taruna bertambah karena ada pemasukan dari penjualan sampah. Uang tersebut bisa digunakan untuk mendukung kegiatan pemuda di dusun Pandean dan Pemuda agar lebih kreatif dalam menyalurkan ide lewat penempelan barang bekas di kertas sehingga mampu membentuk sebuah cerita.” jelas Helmi.

Program ini juga melibatkan karang taruna Dusun Pandean sebagai mitra dalam sosialisasi dan pengelolaan. Sejak diluncurkan pada 22 Juli lalu, partisipasi warga semakin hari semakin meningkat. Warga mulai rutin menabung sampah setiap minggu. Dampaknya lingkungan menjadi lebih bersih, udara lebih sehat, dan warga pun semakin kreatif.

Dengan adanya inovasi ini, mahasiswa UST berharap Dusun Pandean bisa menjadi contoh desa ramah lingkungan, berdaya ekonomi, dan berkreasi melalui sintax 17-08-1945 di Indonesia.

 

Nama Penulis: Karolina Arina Mira, Dewanti Pramudyasari, Lindawati, Agatha Salma Sasikirana, Amanda Serli Bria, Muhamad Ferdy Antoro, Widya Wulandari, Rezi Pauri, Putri Fasyah Rani, Zildan Himawan, Adha Wildan Naufal Ardha Gunung Mainaka.

MAGELANG, SPJ – Suasana kemerdekaan menghiasi Dusun Wates, Desa Jerukagung, Kecamatan Srumbung, kabupaten Magelang, Jawa Tengah, pada Sabtu malam (16/8/2025). Warga setempat bersama mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa (UST) Yogyakarta menggelar Pentas Seni (Pensi) dalam rangka memperingati Hari Jadi Republik Indonesia ke-80. Tidak hanya sekadar hiburan semata, acara ini juga menjadi wadah kebudayaan yang memperkuat kebersamaan antarwarga, sekaligus mempererat hubungan dengan mahasiswa KKN yang sedang mengabdi di wilayah Dusun Wates kabupaten Magelang.

Sejak sore hari, warga berbondong-bondong datang ke halaman dusun yang telah dihias penuh warna khas kemerdekaan. Salah satu halaman rumah warga disulap menjadi panggung utama, dengan area di sekitarnya dijadikan sebagai pendukung panggung dan lokasi berkumpulnya penonton. Berbagai penampilan meriah ditampilkan, mulai dari tari tradisional, musik akustik, hingga drama perjuangan yang dimainkan oleh pemuda dusun. Anak-anak pun tampil percaya diri menyanyikan lagu kebangsaan dan lagu perjuangan lainnya, yang semakin menambah khidmat suasana sekaligus sarat akan makna.

Pada malam harinya ditampilkan pentas seni, yang menghadirkan beragam penampilan khas seperti tari Angguk, Warok, Goyang Tobelo, dan tarian Dayakan Topeng Ireng yang paling dinanti warga. Tarian ini, berasal dari Magelang, dikenal dengan gerakannya yang enerjik, kompak, dan penuh semangat. Para penari mengenakan kostum mencolok: hiasan kepala menyerupai bulu, cat wajah ekspresif, dan busana berwarna-warni dengan motif unik.

Sebelumnya, anak-anak SD juga tampil membawakan tari Angguk dengan kostum tradisional warna-warni. Karang Taruna dan mahasiswa KKN UST pun turut membantu riasan dan kostum sederhana yang digunakan oleh anak-anak tersebut. Usai tampil, anak-anak mendapat apresiasi dari warga dan perangkat desa setempat.

Kepala Dusun Wates, Maryono, dalam sambutannya mengapresiasi antusiasme warganya sekaligus peran mahasiswa KKN UST yang sedang mengabdi di wilayahnya.

“Peringatan Dirgahayu RI tahun ini terasa lebih meriah dan berkesan. Semangat gotong royong warga ditambah dengan ide-ide kreatif mahasiswa KKN UST membuat acara semakin hidup,” ujarnya, Sabtu (16/8/2025).

Sebagai bagian dari inovasi budaya, mahasiswa KKN UST selama bulan Agustus 2025 ini juga memperkenalkan sosialisasi dan pelatihan bentuk mural alternatif bukan di dinding, melainkan di kertas plano, yang dapat dipadukan dengan memanfaatkan media dari barang bekas. Mural ini dilengkapi dengan QR code yang bisa dipindai, sehingga gambar-gambar yang dibuat warga dapat “berbicara” melalui suara yang muncul saat dipindai. Gagasan ini terinspirasi dari pendekatan DPL KKN, Luky Tiasari, yang menekankan pentingnya kesenian sebagai budaya yang kontekstual dan bisa diakses oleh semua kalangan.

Rangkaian program KKN UST di Dusun Wates, diantaranya Lumbung Ilmu Tri-Nga, pengembangan UMKM salak gula jawa, serta berbagai kegiatan lainnya, diharapkan terus berjalan secara optimal. Upaya ini bertujuan menjaga semangat persatuan yang telah tumbuh di tengah masyarakat, sekaligus memperkuat peran Dusun Wates, sebagai desa kecil yang konsisten menyalakan api kebudayaan dalam setiap langkahnya.

 

Penulis: Friske Krisioani S. Tena (PGSD), Devita Puspita Sari (Manajemen), Titin Dwi Lestari (Manajemen), Ardina Eriska Efendi (PBSI), Aprilla Fatima Ratnaningtyas (PGSD), Rosdiana Pasutung (Psikologi), Dedi Irawan (Manajemen), Wilandi (PVTM), Yoppy Yunda Mahesa (Teknik Sipil), Alfreda Shandy Ardhana (Teknik Industri), Robertus Desta Bayu Waskitho (Pend. Seni Rupa)

JAKARTA, SPJ – Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia (DPD RI) menegaskan komitmennya untuk mempercepat pembangunan infrastruktur di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dan Jawa Tengah Selatan (Jasela), sebagai pengungkit pemerataan ekonomi, peningkatan konektivitas, serta penguatan ketahanan pangan nasional.

Wakil Ketua DPD RI GKR Hemas menekankan, pembangunan infrastruktur harus menjadi instrumen pemerataan kesempatan dan penguatan sektor strategis di daerah.

“Kami ingin memastikan tidak ada satu pun wilayah di Indonesia yang tertinggal dalam arus kemajuan dan kesejahteraan,” tegas GKR Hemas dalam Rapat Koordinasi dan Konferensi Pembangunan Infrastruktur yang berfokus pada wilayah DIY dan Jasela di Nusantara V, Rabu (13/8/2025).

Dalam kegiatan tersebut, GKR Hemas menyebut bahwa kawasan DIY dan Jasela, yang mencakup Banjarnegara, Purbalingga, Banyumas, Cilacap, Kebumen, Purworejo, dan Wonosobo, memiliki potensi menjadi model kawasan terintegrasi berbasis pertanian, maritim, dan pariwisata.

Menurut GKR Hemas, keberhasilan pengembangan wilayah-wilayah ini memerlukan sinergi lintas sektor antara pemerintah pusat, daerah, BUMN, dunia usaha, akademisi, organisasi profesi, dan masyarakat sipil.

“DPD RI akan mengawal hasil Rapat Koordinasi dan Konferensi Pembangunan Infrastruktur ini melalui fungsi konstitusionalnya, dengan memberikan pertimbangan kebijakan, dukungan anggaran, serta melakukan pengawasan implementasi program,” ucap Senator dari DIY ini.

Sementara itu, Senator Abdul Kholik yang juga hadir dalam rapat koordinasi tersebut menegaskan, pertemuan ini menjadi wadah strategis untuk menyerap aspirasi masyarakat, sekaligus mempertemukan para pemangku kepentingan.

“Rapat koordinasi ini diharapkan menghasilkan kolaborasi konkret yang berdampak langsung pada pembangunan daerah,” ujarnya di kesempatan yang sama.

Adapun Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), yang juga hadir dalam kegiatan ini, turut mengapresiasi langkah yang dilakukan oleh DPD RI dalam pengembangan kawasan DIY dan Jasela. Dirinya bersama Kementerian yang dipimpinnya pun siap untuk berkolaborasi dalam pembangunan kawasan tersebut.

“Saya selaku Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan menyambut baik inisiatif dari DPD RI untuk menghadirkan sinergi dan kolaborasi ini.Seringkali kita sampaikan di berbagai kesempatan bahwa kunci dari keberhasilan pembangunan di semua sektor, terutama infrastruktur, adalah bertemunya Asta Cita, dengan agenda prioritas yang juga diusung oleh para pemimpin di daerah, baik tingkat provinsi maupun kabupaten/kota,” ucapnya. (zk)

BANTUL – Yayasan Lembaga Kajian Islam dan Sosial (LKiS) yang berkantor di Bantul baru-baru ini meluncurkan buku berjudul “Suara Demokrasi Dari Akar Rumput; Problematika, Praktik Baik dan Peta Jalan Demokrasi di DIY”, buku ini memuat tentang pengalaman LKiS menahan laju regresi demokrasi, khususnya di DIY. Buku ini tidak hanya menyajikan kritik dan analisis terhadap berbagai tantangan demokrasi di tingkat lokal, namun juga menawarkan gagasan dan rekomendasi sebagai langkah konkret untuk membangun sistem yang lebih inklusif dan berkeadilan.

Untuk membahas isi buku ini secara lebih mendalam, sekaligus menyikapi persoalan demokrasi yang terjadi pada hari ini, pada Minggu (10/8/2025) di kawasan Sonopakis Lor, Kasihan, Bantul, Yayasan LKiS mengadakan diskusi terbuka kepada seluruh lapisan masyarakat, baik dari aktivis, Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Mahasiswa, Ormas, Wartawan, dan sebagainya, untuk bersama-sama membahas dinamika demokrasi yang terjadi di masa sekarang ini, dan strategi apa saja yang perlu dilakukan untuk bisa menjadikan demokrasi ini lebih baik ke depannya.

Arah diskusi ini mengacu pada bagaimana peran demokrasi dalam bernegara, yang semakin kesini sudah semakin memudar, yang kemudian digantikan dengan oligarki kekuasaan yang kian membabi buta. Hal ini ditandai dengan beberapa kebijakan yang terkesan semena-mena, seperti pemblokiran rekening bank yang tidak aktif selama 3 bulan, penyitaan tanah yang nganggur selama 2 tahun berturut-turut, dan seterusnya.

Terdapat tiga elemen kunci yang difokuskan dalam diskusi kali ini, diantaranya tentang bagaimana penerapan demokrasi dalam berkampanye politik, advokasi terhadap kebijakan pemerintah yang belakangan ini terkesan semakin tidak memihak rakyat, serta bagaimana penyampaian edukasi demokrasi terhadap masyarakat atau publik secara luas.

Para peserta yang berjumlah sekitar 20 orang pun diminta menyampaikan pandangannya masing-masing terkait dinamika demokrasi yang terjadi saat ini, dan apa saja solusi yang bisa ditawarkan untuk membuat demokrasi di Indonesia bisa lebih sesuai dengan peruntukannya, selayaknya yang telah dicita-citakan sejak masa lampau.

Menurut Yayasan LKiS, hasil dari diskusi terbuka ini rencananya akan dijadikan laporan RTL (Rencana Tindak Lanjut) atau follow-up secara sistematis dan rapi, untuk kemudian diteruskan dengan pertemuan lanjutan secara lebih teknis dengan pihak-pihak terkait, utamanya adalah Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta, sesuai dengan usulan yang telah didiskusikan sebelumnya. (zk)