BANTUL – Kelingan Garden Cafe menjadi salah satu cafe baru di wilayah Bantul, yang berlokasi di pinggiran Sawah di kawasan Bejen, Bantul kota. Cafe ini resmi dibuka pada tanggal 1 Desember 2025 lalu.

Berawal dari keinginan para pelaku seni-budaya yang ada di Bantul untuk bisa memiliki panggung sendiri dalam berkarya, tanpa perlu menyewa tempat atau berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat yang lain, akhirnya Kelingan Garden Cafe hadir untuk menjawab itu semua. Cafe ini berfokus menyediakan tempat bagi komunitas seni-budaya untuk berkarya, sekaligus menjajakan beberapa kuliner khas cafe pada umumnya.

Salah satu founder Kelingan Garden Cafe, Tedi Kusyairi menyampaikan bahwa cafe ini memang khusus diperuntukan bagi pelaku seni-budaya untuk bisa konsisten berkarya, sehingga tidak perlu khawatir harus menyewa tempat, lobi berlapis-lapis, dan seterusnya.

“Memang sejak awal kami ingin menyediakan tempat yang representatif bagi komunitas seni-budaya khususnya yang ada di Bantul, untuk bisa terus berkarya tanpa harus sewa tempat dan sebagainya,” ujar Tedi yang ditemui dalam acara Selasa Sastra bertema “Harapan Baru Dalam Bersastra” di Kelingan Garden Cafe, Selasa (6/1/2026).

Beberapa menu yang ditawarkan Kelingan Garden Cafe pun cukup beragam, yang dibagi dalam tiga kategori. Diantaranya makanan berat seperti mie goreng, mie rebus, nasi goreng, dan seterusnya. Lalu makanan ringan atau snack seperti kentang goreng, nugget, dan semacamnya, serta minuman yakni kopi sebagai salah satu menu andalan, seperti red velvet, matcha, dan berbagai minuman lainnya. Kelingan Garden Cafe buka setiap harinya mulai pukul 11.00 hingga 21.30 WIB.

Selain cafe dan tempat untuk komunitas seni-budaya, Kelingan Cafe juga bisa digunakan untuk berbagai acara lain di luar seni-budaya, seperti seminar, diskusi publik, hingga yang sifatnya personal seperti perayaan ulang tahun dan juga pesta pernikahan.

Mengingat usianya yang baru satu bulan, Tedi pun merasa cafe ini masih perlu peningkatan dalam beberapa hal.

“Kami masih perlu menambahkan beberapa bangunan agar bisa memberikan kesan estetik sekaligus ciri khas untuk cafe ini, beberapa menu lain juga masih akan ditambahkan, dan tentu saja branding acara-acara yang diselenggarakan disini juga masih perlu diperbanyak lagi,” tambah Tedi.

Beberapa acara unggulan yang sudah rutin diselenggarakan di Kelingan Garden Cafe sejauh ini adalah Selasa Sastra setiap minggu pertama di awal bulan, serta Selasa Sinema di minggu kedua. (zk)

BANTUL – Perhelatan Selasa Sastra pada awal tahun 2026 yang berlangsung di Kelingan Garden Cafe, Bejen, Bantul, Selasa (6/1/2026) ditandai sebagai salah satu momen yang bersejarah bagi R. Toto Sugiharto, seorang Sastrawan sekaligus Penulis buku. Karena pada hari itu, ia resmi meluncurkan novel terbarunya berjudul “Owel”.

Novel ini pun dikupas tuntas dalam Selasa Sastra bertajuk “Harapan Besar Dalam Bersastra”, dengan menghadirkan R. Toto Sugiharto sendiri sebagai narasumber, ditemani oleh jurnalis Kukuh Setyono sebagai pembedah, serta Redaktur Senior Senerai Ide Bangsa, Mariska Puspita Ningrum.

R. Toto Sugiharto menyampaikan bahwa cerita novel Owel sebenarnya adalah salah satu hasil karya yang dilombakan pada tahun 2005 silam. Bahkan novel ini meraih prestasi gemilang yakni juara 3 dari total enam pemenang.

“Panitia saat itu hanya mencetak untuk karya novel yang mendapat juara satu, tapi akhirnya malah bubar juga,” kata Toto, Selasa (6/1/2026).

Suatu ketika Toto pun bertemu dengan penerbit Senarai Ide Bangsa, dan berinisiatif untuk menerbitkan naskah tersebut untuk pertama kalinya pada Desember 2025 lalu, alias 20 tahun sejak keikutsertaannya pada lomba yang diselenggarakan oleh Pemerintah kabupaten Bantul saat itu.

Toto bahkan merasa ikut bertanggungjawab, apabila naskah Owel ini kemudian tidak sampai diterbitkan dalam bentuk buku fisik. Apalagi jika mengingat kerja keras panitia lomba pada saat itu.

Novel Owel sendiri menceritakan tentang tokoh yang lahir dan besar di pesisir selatan Bantul. Di sana ia terus-menerus menghadapi konflik tentang proses pencarian jati diri, gejolak terhadap tradisi setempat, serta pengalaman spiritual yang mengakar kuat. Toto turut melakukan riset di lokasi dengan menyambangi pantai dari Pandansimo hingga Parangkusumo.

Sementara Jurnalis Kukuh Setyono menyampaikan bahwa novel Owel mampu meramalkan perkembangan teknologi informasi sekaligus pertumbuhan ekonomi baru yang terjadi di wilayah Kretek, Sanden, dan Srandakan. Sekalipun itu sudah ditulis 20 tahun yang lalu.

Selain itu, Kukuh menilai kisah novel Owel merupakan literasi yang sangat penting, karena telah mendokumentasikan wajah Bantul selatan medio tahun 2000-an silam.

Senada dengan Kukuh Setyono, Redaktur Senior Senerai Ide Bangsa, Mariska Puspita Ningrum menganggap bahwa buku ini masih sangat relevan bagi para Gen Z atau generasi muda, karena tokoh yang ditampilkan juga merupakan generasi muda yang sarat akan pencarian jati diri ke berbagai tempat yang bisa dikatakan tidak lazim.

Buku ini dapat diperoleh di beberapa marketplace terkemuka dengan harga Rp54.000,-. (zk)

BANTUL – Awal tahun 2026 Selasa Sastra kembali hadir menyapa seluruh pemirsa baik secara daring maupun luring. Bertempat di Kelingan Garden Cafe, Bejen, Bantul, Selasa (6/1/2026), Selasa Sastra kali ini bertema “Harapan Baru Dalam Bersastra”.

Selasa Sastra edisi kali ini menampilkan beberapa penampilan sastra menarik, mulai dari pembacaan puisi, lagu puisi, akustik, hingga monolog. Selain itu momen Selasa Sastra awal tahun ini juga menandai peluncuran buku novel karya R. Toto Sugiharto berjudul “Owel”.

Founder Selasa Sastra Tedi Kusyairi, menyampaikan bahwa keberadaan Selasa Sastra di awal tahun 2026 ini menjadi sangat penting, karena ini menjadi momen di mana kita mampu menghidupi sastra, dan sastra pun akan mampu menghidupi kita.

“Salah satu cara yang bisa dilakukan (untuk menghidupi Sastra) adalah dengan melakukan pementasan rutin, membuat karya kreatif, sering mengupload ke media sosial, serta berjejaring. Sehingga nantinya diharapkan akan muncul kolaborasi yang memungkinkan karya sastra untuk dikomersilkan,” ujar Tedi Kusyairi di Kelingan Garden Cafe, Selasa (6/1/2026).

Selain itu, menurut Tedi, dengan perkembangan dunia sastra yang saat ini masih minim peminat, maka penting bagi siapapun pelakunya, untuk bisa benar-benar mengemas pertunjukan sastra tersebut secara lebih menarik dan mendetail, sehingga diharapkan akan lebih sustainable dalam berkarya.

“Seperti tadi pementasan monolog yang dibawakan oleh Agung Syamsu. Itu sebenarnya sangat bisa dijual ke publik, seandainya bisa di-create dengan lebih detail. Termasuk juga tadi musik puisi, lagu puisi, dan sebagainya tadi, jika itu populer maka bisa dijual ke publik dan mendapat pemasukan seperti dari ticketing dan seterusnya,” tambah Tedi.

Event Selasa Sastra selanjutnya akan dilangsungkan pada Selasa (20/1/2026), masih di Kelingan Garden Cafe, Bejen, Bantul. (zk)

MAGELANG – Wilayah Gunung Merbabu memegang peran penting sebagai kawasan konservasi dan daerah pengumpul air yang mendukung kebutuhan air bersih masyarakat di sekitarnya. Namun, tekanan terhadap lingkungan serta penurunan tutupan vegetasi telah menjadi tantangan yang cukup signifikan dalam menjaga kelangsungan ekosistem dan sumber air di wilayah tersebut.

Sebagai bentuk perhatian terhadap lingkungan, PT Sampah dan Harapan Indonesia bekerja sama dengan Desbin HMTG dari Universitas Gadjah Mada (UGM), Instellar, dan instansi lainnya dalam rangka program Capital Catalyst Ecosystem oleh Goto mengadakan kegiatan penanaman pohon bernama “Ngrumat Merbabu” di Kawasan Konservasi Merbabu. Kegiatan tersebut berlangsung di tiga desa yaitu Kapuhan, Wolunggunung, dan Batur dengan total pohon yang ditanam mencapai 1.500 batang, Senin (22/12/2025).

Program ini dirancang sebagai upaya rehabilitasi lingkungan dan memperkuat fungsi Kawasan Konservasi Merbabu sebagai daerah pengumpul air. Penanaman pohon dilakukan secara bersama-sama, melibatkan berbagai pihak termasuk masyarakat setempat, sebagai bentuk pembagian tanggung jawab dalam menjaga alam. Acara diawali dengan pembukaan secara seremonial di Kopi & Teh Janissary, dilanjutkan dengan penanaman secara bersama di kawasan konservasi Merbabu.

“Salah satu fokus penanaman pohon di kawasan konservasi adalah sekitar sumber air, untuk meningkatkan kapasitas tanah menyerap air serta memastikan tersedianya air bersih secara terus-menerus bagi masyarakat setempat,” kata salah satu pengelola acara.

Fokus pada Konservasi Sumber Air

Penanaman pohon di Kawasan Konservasi Merbabu berfokus di Desa Batur, khususnya sekitar sumber air atau tuk yang telah digunakan oleh masyarakat setempat. Lokasi ini dipilih karena peran strategisnya dalam menyediakan air bersih bagi penduduk sekitar, sehingga perlu dipertahankan melalui perbaikan tutupan vegetasi.

Di Kawasan Konservasi Merbabu, sebanyak 650 batang pohon ditanam dengan spesies endemik seperti puspa, aren, dan beringin. Jenis pohon ini dipilih karena kemampuannya yang baik dalam menjaga stabilitas tanah serta mendukung fungsi penyerapan air.

Kerja Sama antara Mahasiswa dan Masyarakat

Acara “Ngrumat Merbabu” dihadiri oleh 35 volunteer yang terdiri dari mahasiswa geologi UGM dan beberapa warga setempat. Selain itu, perwakilan dari Taman Nasional Merbabu juga turut serta sebagai bentuk dukungan dalam upaya konservasi.

Keterlibatan berbagai pihak dalam kegiatan ini diharapkan mampu memupuk kesadaran kolektif pentingnya menjaga kawasan konservasi dan sumber daya air. Pihak penyelenggara percaya bahwa kolaborasi antara sektor usaha, akademisi, pemerintah, serta masyarakat setempat merupakan langkah penting dalam mencapai preservasi lingkungan secara berkelanjutan di wilayah Gunung Merbabu. (zk)

 

BANTUL – Indonesia merupakan negara yang memiliki tingkat keberagaman yang sangat tinggi, baik dari segi agama, suku, budaya, maupun pandangan sosial-politik. Keberagaman tersebut merupakan kekayaan bangsa yang harus dijaga dan dirawat secara berkelanjutan. Namun demikian, dinamika sosial yang berkembang dewasa ini menunjukkan adanya tantangan serius berupa meningkatnya sikap eksklusivisme, intoleransi, serta polarisasi identitas yang berpotensi mengancam persatuan dan kesatuan bangsa.

Atas dasar pemikiran tersebut Pimpinan Wilayah Pergerakan Mahasiswa Moderasi Beragama dan Bela Negara (PMMBN) Daerah Istimewa Yogyakarta menyelenggarakan kegiatan diskusi publik tersebut pada Minggu (28/12/2025) di Kelingan Garden Café Bejen Bantul.

Menghadirkan narasumber Tedi Kusyairi (Sastrawan dan Wakil Ketua Bidang Parsenibud DPD KNPI Kabupaten Bantul), Derida A. Achmad Bil Haq, S.Psi., M.Psi. (Ketua Umum PMMBN), Wiji Nurasih (GUSDURian Yogyakarta), dan R. Abdy Restu Yudha Pinanggih, S.T. (Ketua PW PMMBN DIY).

“Melalui kegiatan ini, diharapkan tercipta ruang dialog yang konstruktif dan inklusif guna memperkuat pemahaman mengenai moderasi beragama sebagai fondasi penting dalam menjaga persatuan dan kesatuan bangsa. Selain itu, kegiatan ini juga diharapkan mampu mendorong lahirnya kesadaran kritis serta sikap toleran di kalangan mahasiswa dan pemuda sebagai generasi penerus bangsa, sehingga nilai-nilai kebangsaan dapat terus terinternalisasi dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara,” ungkap Yudha Ketua PW PMMBN DIY.

Sementara narasumber Tedi Kusyairi memaparkan perihal akar watak anti moderasi yang muncul dari dari dalam diri seseorang.

“Sebagai manusia memiliki ego, ingin menang, ingin juara,ingin memimpin, sudah merasa paling benar, dalam hal inilah seseorang mengolah rasa toleransi dan menumbuhkan moderasi beragama, sebenarnya upaya memupuk kesatuan bangsa itu masih punya PR melawan kebodohan dan kemiskinan,” kata Tedi yang berkecimpung dalam dunia sastra, teater, dan film.

Sementara itu Wiji Nurasih memaparkan nilai-nilai humanisme dan moderasi yang diajarkan oleh Gus Dur melalui tulisan dan tindakannya.

“Ada beberapa ajaran Gus Dur yang kemudian konkritnya menjadi nilai yang diimplentasikan dalam kehidupan, yakni ketauhidan, kemanusiaan, keadilan, kesetaraan, pebebasan, kesederhanaan, persaudaraan, kesatriaan, dan kearifan tradisi. Batasan dasar dalam konteks moderasi adalah nilai humanisme,” jelas Wiji peneliti GusDurian.

Derida A. Achmad Bil Haq menyampaikan bahwa hasil dari moderasi akan muncul dari orang lain, tidak bisa di klaim sendiri.

“Yang membuat moderasi beragama jalan dilihat dari luar diri kita, dari sika kita yang terasakan oleh orang lain, jadi pemahaman tidak berhenti dipikiran, tapi dalam tindakan,” ungkap Derida Ketua Umum PMMBN.

Acara ini diikuti oleh 70 orang dari anggota PW PMMBN DIY, tamu undangan mahasiswa perwakilan 18 universitas di Yogyakarta, dan perwakilan 11 organisasi mahasiswa dan organisasi kemasyarakatan pemuda di Bantul khususnya. Moderator oleh Esti Yulianingsih (PKBI Bantul) dan MC Vivin Rachmawati. (RYN).

KULON PROGO – Transformasi digital menjadi tantangan sekaligus peluang bagi Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di Indonesia. Selain kualitas produk, kemampuan membangun identitas merek yang kuat kini menjadi faktor penting dalam menjaga keberlanjutan usaha di tengah persaingan pasar yang semakin terbuka.

Sebagai bagian dari komitmen pengabdian masyarakat, Program Pemberdayaan Umat (PRODMAT) Universitas Ahmad Dahlan (UAD) menyelenggarakan kegiatan pendampingan bertema “Implementasi Visual Marketing (Banner) sebagai strategi Komunikasi Merek UMKM di Era Digital” yang dilaksanakan di kabupaten Kulon Progo, Minggu (14/12/2025).

Kegiatan ini dirancang untuk memperkuat kapasitas UMKM dalam memanfaatkan media visual sebagai sarana komunikasi merek, sekaligus memperkenalkan teknologi digital yang mudah diakses oleh pelaku usaha skala mikro dan kecil

“Pendampingan UMKM perlu diarahkan pada penguatan identitas dan komunikasi merek. Maka Visual marketing menjadi langkah awal agar pelaku usaha kecil dapat tampil lebih profesional dan siap beradaptasi dengan setiap perubahan,” ujar Anggono Ahyunianto, Ketua Tim Prodamat UAD.

Program ini diikuti oleh total 122 pendaftar dari berbagai sektor usaha. Dari jumlah tersebut, panitia kemudian menetapkan 50 UMKM terpilih melalui proses seleksi berbasis data, dengan mempertimbangkan kepemilikan media promosi visual, urutan pendaftaran, serta hasil penilaian formulir lanjutan yang memuat kondisi tempat usaha dan kebutuhan branding.

Pendekatan ini bertujuan untuk memastikan program tepat sasaran, dan memberikan manfaat nyata bagi pelaku usaha yang paling membutuhkan dukungan visual marketing.

Pelaksanaan kegiatan ini melibatkan kolaborasi anatara civitas akademika UAD dengan Konsultan PLUT KUMKM Kulon Progo serta Dinas Perindustrian Koperasi Usaha Kecil dan Menengah (Disperinkop UKM) Kulon Progo, dengan dukungan dari Resta Catering dan Lazismu Daerah Istimewa Yogyakarta sebagai sponsor utama kegiatan ini.

Selain membahas strategi visual marketing, pelaku usaha juga diperkenalkan dengan pemanfaatan teknologi Artificial Intelegence (AI) sebagai alat bantu penyusun konten promosi serta aplikasi desain berbasis digital, yang memungkinkan UMKM memproduksi materi visual secara mandiri.

Perwakilan Konsultan PLUT KUMKM Kulon Progo, Tri Wahyuni, menilai bahwa pendekatan edukatif seperti ini sangat relevan dengan kebutuhan saat ini.

“Banyak UMKM memiliki produk yang baik, namun belum mampu mengkomunikasikannya secara visual. Pendampingan seperti ini membantu para pelaku usaha memahami pentingnya tampilan dan pesan merek dalam menarik lebih banyak konsumen” jelasnya.

Sebagai bentuk dukungan konkret, peserta menerima fasilitas pembuatan banner usaha yang disesuaikan dengan karakter produk masing-masing. Inisiatif ini menandai langkah awal seluruh peserta dalam memperkuat identitas visual usaha mereka, bukan hanya sebagai klaim dampak ekonomi yang bersifat jangka pendek. (zk)

BANTUL – Peringatan hari anti korupsi se-dunia (Hakordia) yang jatuh pada 9 Desember mendatang, menjadi momentum yang tepat untuk dijadikan sebagai bahan refleksi bagi seluruh masyarakat, terkait penanganan korupsi yang masih membudaya di negeri ini. Dan, salah satu cara yang bisa dilakukan untuk mencegah tindakan korupsi, adalah dengan berkarya sastra. Seperti yang dilakukan Selasa Sastra pada Sabtu (6/12/2025) bertempat di Kelingan Garden & Cafe, Bantul.

Berikut adalah beberapa cuplikan momen menarik yang terjadi dalam Selasa Sastra edisi spesial Hakordia 2025 “Aksi Seni Berantas Korupsi”. (foto: Azka Qintory)

 

BANTUL – Perhelatan Selasa Sastra spesial Hakordia (Hari Anti Korupsi Se-Dunia) yang jatuh pada 9 Desember 2025 menjadi momentum kembalinya kompetisi ACCFEST (Anti Corruption Film Festival) 2025 yang tahun ini telah memasuki perhelatan ke-11 sejak pertama kali diselenggarakan pada tahun 2013 silam.

Pada edisi ke-11 tahun 2025 ini, ACCFEST memiliki satu segmentasi tambahan, yakni Film Pendek Pelajar, yakni kategori khusus untuk film-film pendek bagi siswa/i SMP/sederajat dan SMA/sederajat. Kategori ini diadakan untuk benar-benar mewadahi kreativitas para pelajar di seluruh Indonesia.

Program Director ACCFEST Medio Venda Sukarta, mengatakan bahwa ACCFEST merupakan salah satu film festival tertua yang diselenggarakan oleh institusi Pemerintah.

“Bahkan ACCFEST itu menjadi satu-satunya film festival di dunia yang memiliki concern (kekhawatiran) terkait anti korupsi,” kata Medio dalam acara Selasa Sastra spesial Hakordia di Kelingan Cafe & Garden, Sabtu (6/12/2025).

Pada kesempatan yang sama, Medio yang juga berasal dari KPK Jakarta juga berbagi tips-tips sederhana tentang membuat film pendek bertemakan anti korupsi, agar bisa diikutsertakan pada ACCFEST tahun depan (2026).

Film-film anti korupsi yang terlibat dalam ACCFEST juga tidak melulu tentang korupsi besar yang dilakukan oleh pejabat negara, tapi lebih tentang perilaku atau nilai-nilai dalam kehidupan sehari-hari yang berkaitan dengan korupsi. Seperti misalnya tentang kejujuran, mengembalikan uang kembalian belanjaan, terlambat masuk sekolah, dan seterusnya. Sehingga diharapkan bahwa masayarakat juga memiliki idenya tersendiri terkait perilaku korupsi (atau anti korupsi) dalam kehidupan sehari-hari.

“Sentilan-sentilan itu (yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari) akan lebih ngena atau masuk, ketika disampaikan melalui sebuah film, dibandingkan melalui ceramah atau berbicara secara langsung,” ujar Medio.

Untuk ACCFEST 2026 rencananya akan mulai dibuka pada April 2026, sehingga para pelajar dari seluruh Indonesia, termasuk Yogyakarta, berkesempatan mengikuti festival film ini.

Di akhir sesi, seluruh peserta yang berasal dari beberapa SMK se-derajat jurusan Multimedia ini, mendapat kesempatan untuk menyaksikan beberapa film anti korupsi yang berhasil menjadi pemenang ACCFEST pada tahun-tahun sebelumnya, diantaranya film pendek berjudul “Receh”, “Piknik Panik”, “Pembayun”. “Soto Ayam”, “Subuh”, “Baju Wasiat”, dan “How To Be An Actor”. (zk)

BANTUL – Peringatan hari anti korupsi se-dunia yang jatuh pada 9 Desember bisa dilakukan dengan berbagai cara, salah satunya dengan pentas seni.

Tak mau ketinggalan, Selasa Sastra juga turut memeriahkan hakordia (Hari Anti Korupsi Se-Dunia) dengan mengadakan Pentas Sastra berjudul “Aksi Seni Berantas Korupsi” yang diselenggarakan di Kelingan Cafe & Garden, Sabtu (6/12/2025).

Beberapa penampil turut memeriahkan Selasa Sastra kesempatan kali ini, diantaranya siswa/i dari MA Pamulangan Godean, Fitria Eranda, grup musik Bernada, SD Sokowaten Baru, Sanggar Sastra Mangir, dan masih banyak lagi.

Selain penampilan spesial berupa pembacaan puisi, musik puisi, dan juga cerpen yang bertemakan anti korupsi, acara Selasa Sastra bulan Desember ini juga menjadi momen launching beberapa karya sastra, diantaranya single berjudul “Mapan” dan “Rencana Wingi” dari grup musik Bernada, serta launching dua buku antologi cerpen dan puisi dari siswa/i MA Pamulangan Godean berjudul “Fabula Nostra” dan juga “Kalam Sunyi Penjara Suci”.

Selain itu, Selasa Sastra kali ini juga turut menampilkan beberapa film pilihan yang menjadi pemenang kompetisi ACCFEST (Anti Corruption Film Festival) 2025, sekaligus live streaming dari puncak acara Hakordia 2025 yang berlangsung di Titik Nol Kilometer kota Yogyakarta.

Plt Deputi Bidang Pencegahan & Monitoring KPK, Aminudin, dalam sambutannya pada Live streaming di Tiktik Nol Kilometer menyampaikan bahwa pencegahan korupsi tidak bisa hanya dilakukan oleh KPK semata, melainkan merupakan kerja bersama seluruh lapisan masyarakat.

“Masyarakat juga memiliki peran yang sangat penting dalam pencegahan korupsi, salah satunya dengan melaporkan aksi-aksi korupsi yang terjadi di lingkungannya masing-masing,” ujar Aminudin.

Menurut Aminudin, Hakordia tidak hanya disambut sebagai seremonial semata, tapi juga sebagai bentuk awareness (kesadaran), bahwa korupsi merupakan musuh bersama, dan harus dibasmi melalui kerja kolektif dari berbagai pihak. (zk)