BANTUL – Mengasah kreativitas anak bisa dilakukan melalui banyak cara, salah satunya membuat seni patung. Melalui pameran Art Fun PAS For Children yang diselenggarakan di Pendhapa Art Space pada 18-31 Oktober 2025, anak-anak rentang usia 6-12 tahun dari berbagai TK dan sekolah dasar yang ada di Bantul dan sekitarnya mendapat kesempatan untuk mengekspresikan daya kreativitasnya membuat seni patung dalam berbagai bentuk, seperti clay (tanah liat), bola pingpong, styrofoam, hingga botol bekas.

Berikut adalah keseruan pameran Art Fun PAS for Children 2025 sekaligus kumpulan karya unik dari anak-anak peserta pameran. (foto: Azka Qintory)

 

SLEMAN – Atikah Wulandari, seorang mahasiswi Program Studi Teknik Geodesi, Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada (UGM), baru-baru ini berhasil menorehkan prestasi gemilang dengan meraih Runner Up III Duta Generasi Berencana (GenRe) Sleman 2025. Dalam ajang yang diselenggarakan oleh Dinas P3AP2KB Kabupaten Sleman di bawah koordinasi BKKBN (Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional) ini, Atikah berhasil menarik apresiasi dewan juri melalui ide, karakter, dan kepemimpinannya sebagai remaja inspiratif.

Perjalanan Atikah menuju gelar tersebut tidaklah mudah. Tampil mewakili UGM, ia harus melewati serangkaian seleksi yang panjang dan kompetitif. Mulai dari administrasi berkas, uji bakat, psikotes, karantina intensif, hingga Grand Final yang menantang dengan sesi QnA berdurasi 30 detik dan pidato inspiratif yang hanya berdurasi dua menit di hadapan dewan juri.

Atikah mengaku, setiap tahap seleksi bukan hanya tentang kompetisi, tetapi juga tentang bagaimana menemukan jati diri, serta memaknai peran remaja dalam pembangunan bangsa.

“Melalui proses ini, saya belajar bahwa kepemimpinan itu harus dimulai dari rasa empati kepada sesama,” kata Atikah.

Menurut Atikah, menjadi Duta GenRe bukan hanya sekadar gelar, melainkan sebagai pengingat, bahwa satu suara bisa menjadi sebuah inspirasi, dan satu cerita bisa menjadi obat untuk kesembuhan orang lain.

Merantau Dari Solo ke Sleman

Perjalanan Atikah menuju panggung Duta GenRe bukanlah hal yang instan. Sejak remaja, ia aktif dalam berbagai kegiatan sosial dan advokasi anak di kampung halamannya, kota Solo. Sebagai aktivis Forum Anak Surakarta, ia terlibat dalam kampanye pemenuhan hak anak, literasi digital, hingga edukasi anti kekerasan terhadap perempuan dan remaja. Atikah juga menjabat sebagai Ketua Posyandu Remaja Mangkubumen, yang membuka akses pelayanan kesehatan fisik dan mental bagi remaja. Ia juga rutin mengadakan pemeriksaan kesehatan, konseling remaja, serta edukasi gaya hidup sehat agar menjadikan posyandu sebagai ruang ramah remaja yang aktif dan inspiratif. Selain aktif dalam kegiatan sosial, Atikah juga dikenal sebagai public speaker muda yang sering dipercaya menjadi MC, moderator, maupun pengisi materi di berbagai forum remaja, sekolah, dan komunitas.

Semangat sosial, prestasi akademik dan kemampuan komunikasinya itu berhasil membawa Atikah menembus program nasional Glow & Lovely Bintang Beasiswa, salah satu program yang mendukung perempuan muda berprestasi di seluruh Indonesia. Berkat konsistensinya dalam prestasi akademik dan non-akademik, Atikah berhasil terpilih sebagai penerima beasiswa tersebut setelah menyingkirkan lebih dari 11.000 pendaftar lainnya. Ia kemudian dipercaya menjadi Mini Ambassador Glow & Lovely Bintang Beasiswa, bekal penting yang memperkuat langkahnya hingga ke panggung Duta GenRe Sleman 2025

RUMAH RASA: Inovasi Digital Untuk Menumbuhkan Rasa Empati

Memasuki malam Grand Final Duta GenRe Sleman 2025, dalam sesi Top Five Speech , Atikah mendapat pertanyaan reflektif tentang makna “Olahrasa” bagi remaja masa kini. Dengan percaya diri dan ketulusan, ia menjawab bahwa Olahrasa bukan hanya tentang mengendalikan perasaan, melainkan tentang menyadari, memahami, dan mengelola rasa agar tumbuh menjadi remaja yang lebih empatik dan harmonis. Dalam kesempatan yang sama, Atikah juga memperkenalkan program kerjanya yang bertajuk “RUMAH RASA” (Remaja Unggul, Mandiri, dan Harmoni dalam Rasa) , sebuah website interaktif yang menjadi ruang aman digital bagi remaja untuk belajar mengenali diri, mengelola emosi, dan menumbuhkan empati.

“Olahrasa mengajarkan kita untuk tidak menolak rasa, tapi mengenalinya. Melalui RUMAH RASA, saya ingin mengubah kesadaran menjadi suatu aksi nyata, yakni rumah digital dimana remaja dapat belajar tentang rasa empati, sekaligus dapat bertumbuh bersama,” ujar Atikah.

Program ini semakin menonjol karena menggabungkan pendekatan teknologi dan psikososial, mencerminkan sinergi antara analytical thinking khas mahasiswa teknik dengan social empathy yang menjadi ruh dari Duta GenRe.

Teknologi, Empati, dan Perjuangan Perempuan Muda

Sebagai mahasiswi Teknik Geodesi, Atikah membuktikan bahwa dunia teknik juga bisa menjadi jembatan menuju perubahan sosial. Ia menggabungkan ketelitian ilmiah yang ia pelajari di kampus dengan kepekaan sosial yang telah ia asah melalui pengalaman organisasi dan advokasi remaja.

“Disini saya belajar bahwa peta bukan hanya tentang bumi, tapi juga tentang rasa. Setiap remaja punya peta hidupnya sendiri, dan tugasku adalah membantu mereka untuk menemukannya,” tutur Atikah dengan senyum hangat.

Melalui prestasinya ini, Atikah ingin menunjukkan bahwa perempuan di bidang STEM (Science, Technology, Engineering, and Mathematics) juga mampu menjadi pemimpin yang peka dan inspiratif bagi generasi muda. (zk)

GUNUNGKIDUL – Perhelatan Festival Kebudayaan Yogyakarta (FKY) tahun 2025 di Gunungkidul resmi berakhir pada Sabtu malam (18/10/2025), yang berlokasi di Lapangan Logandeng, Plumbon Lor, kelurahan Logandeng, Kec. Playen, Kabupaten Gunungkidul, DIY.

Berikut adalah sejumlah momen menarik yang terjadi selama malam penutupan FKY 2025 di Gunungkidul (foto: Azka Qintory/dokumentasi)

GUNUNGKIDUL – Setelah berlangsung selama kurang lebih delapan hari, perhelatan Festival Kebudayaan Yogyakarta (FKY) 2025 di Gunungkidul dengan tema “Adoh Ratu, Cedhak Watu” resmi ditutup pada Sabtu (18/10/2025).

Prosesi penutupan telah dimulai sejak siang hari di Lapangan Desa Logandeng, Plumbon Lor, Kelurahan Logandeng, kec. Playen, Kabupaten Gunungkidul, DIY. Dimulai dengan prosesi “Nandur Donga, Ngrumat Kajat” yang berlangsung di lokasi acara, kemudian ada Pawon Hajat Khasiat, dan ditutup oleh Galeri Olah Rupa. Seluruh prosesi ini merupakan doa bersama sebagai ungkapan rasa syukur atas kelancaran festival yang telah berlangsung sejak 11 Oktober 2025 lalu.

Dalam prosesi ini juga dilakukan penanaman pohon lo, yang merupakan asal nama desa Logandeng (pohon lo yang bergandengan)–di lapangan Logandeng. Kegiatan ini kemudian dilanjutkan dengan penutupan pameran Gelaran Olah Rupa secara simbolis, yang diakhiri dengan pertunjukan Wayang Beber oleh Mbah Waludeng.

Kepala Dinas Kebudayaan DIY, Dian Lakshmi Pratiwi dalam sambutannya menyampaikan ucapan terima kasih kepada seluruh pihak yang terlibat, termasuk juga masyarakat Gunungkidul khususnya di sekitaran lapangan Logandeng, pelaku seni, pelaku budaya, pelaku UMKM, panitia, komunitas, serta pemerintah daerah Gunungkidul.

“Segala dinamika, diskusi, dialog, selama pra, pelaksanaan, hingga sampai penutupan ini, benar-benar membuktikan bahwa kerja kebudayaan tidak semata-mata satu kerja dari satu bagian atau panggung pertunjukan, serta tidak hanya bagian dari birokrasi saja, melainkan adalah kerja yang mencoba untuk mengerahkan seluruh daya dan upaya untuk dapat membangkitkan kesadaran kebudayaan di tengah-tengah masyarakat,” tutur Dian di Lapangan Logandeng, Sabtu (18/10/2025).

Selain itu, Dian juga berharap bahwa hasil dari festival ini dapat menjadi wujud kongkrit untuk menghadirkan kebudayaan dalam proses sosial yang lebih terbuka, hidup, dan berdaya guna, serta dapat diteruskan dan dijalankan dengan kesetiaan dan kesadaran penuh di tengah masyarakat sehari-hari.

“Ini adalah bagian penting dimana pemerintah, komunitas, seniman, dan masyarakat berbaur menjadi satu, sesuai dengan peran dan porsinya masing-masing. FKY merupakan strategi internalisasi nilai-nilai budaya, terutama bagi generasi muda Jogja, agar kemudian dapat diwujudkan menjadi strategi kebudayaan,” tambah Dian.

Sedangkan dalam laporannya, Direktur FKY 2025, B.M. Anggana menyampaikan bahwa dampak ekonomi yang dihasilkan selama delapan hari berlangsungnya FKY di Gunungkidul mencapai Rp 460.304.500, dengan jumlah kunjungan sebanyak 72.644 orang, keterlibatan pelaku seni dan pelaku budaya sebanyak 2587 orang.

“Dari sisi komunikasi publik, FKY 2025 berhasil menjangkau lebih dari tiga juta penonton di ruang digital, dengan 155 konten yang ditonton di platform Instagram, 243 ribu penayangan di TikTok, serta lebih dari 12 ribu pengunjung ke website resmi FKY, dengan pengunjung digital terbanyak berasal dari Yogyakarta, Jawa Tengah, Jawa Timur, Jawa Barat, dan DKI Jakarta. Website resmi FKY 2025 juga diakses dari berbagai belahan dunia lain seperti Swedia, Irlandia, Belanda, Amerika Serikat, Thailand, dan Tiongkok,” kata B.M. Anggana.

B. M. Anggana menambahkan, bahwa kebudayaan tidak seharusnya eksis karena kekuasaan, melainkan rasa kasih sayang yang tumbuh diantara warganya.

“Semoga FKY akan terus hidup bukan karena dilindungi, tapi karena dirawat; bukan karena diperintah, tapi karena dicintai.” ujar BM Anggana menutup laporannya.

Prosesi selanjutnya adalah pengumuman Kompetisi FKY, diantaranya Panji Desa “Ngelmu Watu” dan Rajakaya Piala FKY 2025 “Angon Wedhus”, yang masing-masing terdiri dari 3 pemenang utama. Sementara, Sayembara Content Creator “Festivalnya Jogja, Cerita Kita Semua” telah berhasil memilih 10 konten terbaik dan satu konten terfavorit.

Seluruh rangkaian FKY 2025 secara resmi ditutup dengan prosesi Ritual Mindhang Pasar Kawak, yakni upacara adat yang bermakna “ngluwari nadar” (memenuhi janji), serta syukuran atau “ngrampungi pakaryan” (menyelesaikan pekerjaan). Selain itu di bagian panggung utama FKY juga dimeriahkan dengan penampilan spesial dari Orkes Keroncong Lintang Kanistha, Sigit Nurwanto, Sanggar Seni Rawikara Nari Bahuwana (SSRNB), Jumat Gombrong (Jumbrong), dan juga FSTVLST.

Setelah kabupaten Kulon Progo menjadi tuan rumah FKY pada 2023 silam, disusul kabupaten Bantul pada tahun 2024, dan Gunungkidul pada tahun 2025 ini, program rebranding lima tahunan FKY akan kembali berlanjut di kabupaten Sleman pada tahun 2026 mendatang. (zk)

BANTUL – Meskipun sudah berlangsung secara rutin setiap 5 tahun sekali, nyatanya sistem Pemilu yang berlangsung di Indonesia masih menyimpan banyak kecacatan dalam berbagai aspek.

Hal itulah yang turut disampaikan Warga Sipil dari kalangan millenial kepada petugas Pemilu dalam acara “Suara Warga – Menata Ulang Regulasi Pemilu Yang Demokratis Dan Inklusif” yang digagas oleh Yayasan LKiS ( Lembaga Kajian Islam Sosial) yang berlangsung di salah satu hotel di kawasan Sewon, Bantul, Sabtu (18/10/2025).

Kegiatan ini turut mengundang beberapa stakeholder yang bertugas saat Pemilu 2024 lalu, baik secara daring (dalam jaringan — online) maupun luring (luar jaringan — offline). Diantaranya KPU DIY, KPU Bantul, Bawaslu DIY, Mahkamah Konstitusi RI, dan lain sebagainya.

Dalam pemaparannya, sejumlah warga sipil yang tergabung dalam beberapa organisasi ini, menyampaikan bahwa Pemilu yang telah berlangsung selama ini cenderung hanya bersifat formalitas dalam memilih pemimpin, alias hanya untuk prosedural mencoblos saja.

“Sejauh ini pendidikan politik dan demokrasi yang ada cenderung masih bersifat prosedural, jadi masih berputar di hal-hal teknis, seperti bagaimana proses pelaksanaan pemilu, proses mencoblos, dan seterusnya. Padahal masyarakat belum memahami bagaimana caranya untuk berpartisipasi aktif sebagai warga negara, bagaimana cara mereka menyuarakan aspirasi mereka, apa saja hak-hak yang bisa mereka lakukan (dan dapatkan) sebagai warga negara,” pungkas Tria salah satu anggota jejaring masyarakat sipil di Yogyakarta.

Dalam aspek partisipasi bermakna dalam pemilu, Firda Ainun dari Forum Remaja Nasional menyampaikan bahwa proses demokrasi yang terjadi selama ini terkesan tidak substantif sama sekali.

“Keterlibatan masyarakat hanya menonjol saat pemungutan suara saja, pemilu masih hanya dipahami sekedar kegiatan mencoblos atau memilih pemimpin (legislatif, eksekutif, yudikatif) untuk lima tahun ke depan, bukan suatu proses politik yang melibatkan warga sejak perumusan kebijakan hingga pengawasan pasca pemilu,” kata Firda di kesempatan yang sama.

Selain itu, menurut Firda, desain sistem pemilu dan penyusunan regulasi masih didominasi oleh lembaga penyelenggara dan partai politik, serta mekanisme konsultasi publik seringkali bersifat formalitas tanpa ruang dialog yang bermakna bagi masyarakat sipil.

“Sayangnya partisipasi masyarakat dalam perumusan visi-misi dan program calon masih begitu rendah, kandidat jarang melibatkan warga dalam penyusunan agenda politik, sehingga program kampanye seringkali tidak mencerminkan aspirasi publik, dan cenderung bersifat elitis (mementingkan penguasa). Sehingga kebanyakan gen Z (rakyat) lebih memilih untuk membuat forum sendiri agar memastikan aspirasi publik ini dapat tercapai.”

“Belum lagi pengawasan terhadap komitmen dan janji politik dari kandidat belum berjalan sama sekali, khususnya setelah kandidat tersebut berhasil terpilih. Masyarakat pun sampai saat ini belum memiliki saluran formal untuk menagih janji atau menilai kinerja pejabat terpilih, Itulah sebabnya belakangan ini kita sering melihat berita mengenai aksi ataupun demo masyarakat yang turun ke jalan, karena ketiadaan saluran formal tadi (untuk menagih janji politik), ” tambah Firda.

Adapun beberapa rekomendasi yang ditawarkan diantaranya melakukan penyusunan pendidikan politik yang komprehensif, inklusif, dan substantif, baik sebelum pemilu, selama pemilu berlangsung, dan setelah pemilu itu selesai (setelah pemimpin baru dilantik), agar bisa terus berkelanjutan. Serta menegaskan makna partisipasi substantif yang tidak hanya terjadi dibalik bilik suara, melainkan juga keterlibatan aktif dalam seluruh proses penyelenggaraan pemilu, mendorong pemerintah menyediakan ruang partisipasi warga, yang harus dimulai dari pra-pemilu, masa pemilu, dan pasca-pemilu, agar pemilu menjadi lebih demokratis dan inklusif, melalui ruang pertemuan antara warga dengan calon pemimpin maupun pemimpin daerah yang nantinya terpilih. (zk)

YOGYAKARTA – Tim ABC Kreatif, yang merupakan hasil kolaborasi peserta Kelas Film Temu Karya Sastra Dinas Kebudayaan DIY 2025, resmi menayangkan film perdana mereka berjudul “Mangsa Ketiga” pada Minggu (12/10/2025) di Joglo Panembahan, Yogyakarta. Film ini menjadi tonggak awal tim ABC Kreatif dalam mengangkat kekayaan budaya, mitologi, dan kearifan lokal Yogyakarta melalui medium sinema.

Terbentuk sejak Juli 2025 di Grand Rohan Yogyakarta, Tim ABC Kreatif menjadi komunitas kolaborasi berbagai institusi, di antaranya ISI Yogyakarta, UNY, UGM, UPNVY, STMM, POLTEKES YK, ITB, SMA N 1 Kalasan, dan SMK 2 Depok Yogyakarta. Sebagai karya perdana, film “Mangsa Ketiga” yang berdurasi 35 menit ini, muncul sebagai bentuk semangat kolaborasi lintas kampus. Film tersebut mendapat dukungan penuh dari Fakultas Seni Media Rekam (FSMR) Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta.

“Kolaborasi dengan ISI Yogyakarta sangat membantu dalam proses penggarapan film Mangsa Ketiga ini,” ungkap Hibban, produser film “Mangsa Ketiga”.

Sementara asisten Produser Arin menyampaikan bahwa keterlibatan mahasiswa ISI dalam berbagai aspek produksi, membuat film ini dapat dieksekusi dengan lebih maksimal.

“Selain dari segi fasilitas, keterlibatan mahasiswa ISI dalam bidang tata kamera, artistik, tata suara, dan penyuntingan memperkaya eksekusi visual film,” ujar Arin.

Proses penggarapan film ini dimulai dari pra-produksi pada Juli 2025, dilanjut dengan proses syuting yang dilakukan pada 1-3 Agustus 2025 di Desa Wisata Kalakijo, Bantul. Sedangkan tahap pasca-produksi berlangsung hingga akhir September 2025.

Film “Mangsa Ketiga” merupakan film yang diadaptasi dari naskah lakon yang mengeksplorasi mitos Watu Gajah di Kabupaten Gunungkidul. Kisah ini mengikuti perjalanan Mursid, seorang jurnalis yang ingin mengembalikan nama baiknya, bersama rekannya Ami untuk menyelami misteri Watu Gajah. Perjalanan mereka penuh dengan penolakan adat, batasan, dan misteri alam, hingga membuat Mursid harus menghadapi ritual terakhir seorang diri.

Pemutaran perdana “Mangsa Ketiga” disambut antusias. Sejumlah penonton memuji kepekaan tim dalam mengolah mitologi dan hubungan manusia dengan alam.

Tim ABC Kreatif berharap film ini menjadi pemantik gerakan alih media sastra ke sinema, sekaligus menghadirkan lebih banyak narasi budaya yang hidup dan relevan di era sekarang. (zk)

GUNUNGKIDUL – Warga sekitar Lapangan Desa Logandeng ramai-ramai berdatangan ke Lapangan Desa Logandeng di kawasan Plembon Kidul, Kalurahan Logandeng, kecamatan Playen, Kabupaten Gunungkidul, DIY, Sabtu siang (11/10/2025), untuk menjadi saksi pembukaan Festival Kebudayaan Yogyakarta (FKY) 2025 di kabupaten Gunungkidul.

Rangkaian pembukaan dimulai dengan Pawai Rajakaya yang dilepas oleh Kepala Bidang Adat Tradisi, Lembaga Budaya, dan Seni Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) DIY, Padmodo Anggoro Prasetyo, didampingi oleh Rosanto Bima Pratama selaku Programmer Pawai. Pawai berangkat dari Pasar Ternak Siyono menuju Lapangan Desa Logandeng pada pukul 14.30 WIB. Warga setempat mulai dari anak-anak hingga dewasa pun turut antusias menyaksikan pawai di sepanjang rute.

Pawai Rajakaya yang diawali dengan upacara adat Gumbregan ini menghadirkan simbol agraris yang merefleksikan hubungan manusia, hewan dan alam, sekaligus memperlihatkan daya hidup tradisi di tengah festival. Pawai ini diikuti oleh 5 sapi dan 31 kambing dari empat kabupaten dan satu kota di DIY, yang turut dihiasi dengan ubo rampe dan kupat gantung, serta diiringi oleh para peternak, keluarga, dan komunitas lokal.

Setelah itu, para peserta pawai dan penampil mempersembahkan Ritus Gerak “Swasti Wijang”, yaitu doa yang diwujudkan dalam bentuk artistik, sekaligus merefleksikan hubungan suci antara manusia, hewan ternak, dan alam semesta. Selanjutnya pada sore hari, penampilan Campursari SRGK dan Dhimas Tedjo turut memeriahkan suasana pembukaan.

Dalam sambutannya, Gubernur DIY yang diwakili oleh Ni Made Dwipanti Indrayanti selaku Sekda DIY menyampaikan bahwa tema “Adoh Ratu, Cedhak Watu” yang diusung dalam FKY 2025 ini bukan sekadar permainan kata, melainkan cermin dari realitas yang terjadi di masyarakat sehari-hari.

“Tema ini (Adoh Ratu, Cedhak Watu) adalah tentang bagaimana kita sebagai manusia dapat saling mengisi satu sama lain, mengolah daya, membangun kemandirian, dan melahirkan kebudayaan yang berakar kuat namun tetap lentur menghadapi perubahan zaman,” ujar Ni Made.

Senada dengan Ni Made, Sekda Kabupaten Gunungkidul Sri Suhartanta menegaskan bahwa Kebudayaan bukan barang usang yang ditinggalkan di museum, melainkan adalah ruh kehidupan yang harus dihidupkan, diadaptasikan, dan dijadikan kekuatan untuk membangun masa depan.

“FKY menjadi ruang yang sangat baik untuk menjaga agar nilai-nilai luhur tetap hidup, berkembang, dan memberi manfaat dalam kehidupan sehari-hari, serta menunjukkan bahwa kebudayaan adalah sumber inspirasi, kreativitas, dan ketahanan bangsa,” kata Sri Suhartanta.

Selama FKY 2025 yang berlangsung dari tanggal 11-18 Oktober 2025 ini, para pengunjung dapat mengikuti berbagai program yang tersedia di Lapangan Logandeng maupun beberapa lokasi lainnya di sekitaran Logandeng, seperti Pameran Gelaran Olah Rupa yang telah dibuka sejak Jumat (10/10/2025). Lalu ada pula FKY Bugar, Panggung FKY, Pasaraya Adat Ruwang Berdaya, Pawon Hajat Khasiat, FKY Rembug, serta berbagai kompetisi seperti Panji Desa, Rajakaya, dan juga Jurnalisme Warga.

Seluruh program FKY 2025 bersifat terbuka dan gratis untuk umum. Pengunjung pun dapat melihat agenda harian festival melalui media sosial Instagram dan X di @infofky dan juga website FKY di fky.id. (zk)

GUNUNGKIDUL – Gelaran Olah Rupa sebagai salah satu bagian dari program pada Festival Kebudayaan Yogyakarta (FKY) 2025 resmi dibuka pada Jumat (10/10/2025) berlokasi Lapangan Desa Logandeng, Plembon Kidul, Kalurahan Logandeng, Kapanewon Playen, Kabupaten Gunungkidul, Provinsi DIY.

Pembukaan secara simbolis dilakukan dengan penancapan dupa oleh Kepala Dinas Kebudayaan Kundha Kabudayan DIY Dian Lakshmi Pratiwi, kurator pameran Karen Hardini dan Tomi Firdaus, co-kurator pameran Ghofur S, dan Lurah Desa Logandeng Suhardi.

Prosesi dimulai dengan pembawaan Tari Pisungsung dari Sanggar Swastiastuti, kemudian muncul lima penari perempuan yang naik ke atas panggung dengan membawa bakul kecil berisi bunga tabur. Pertunjukan ini adalah simbol makna kesinambungan antara manusia, alam, dan Tuhan.

Kepala Dinas Kebudayaan Kundha Kabudayan DIY Dian Lakshmi Pratiwi dalam sambutannya menyampaikan bahwa rebranding FKY yang memasuki tahun ketiga dengan Gunungkidul sebagai tuan rumah ini haruslah benar-benar melibatkan masyarakat setempat sebagai pemilik festival kebudayaan ini.

“Pada tahun ketiga rebranding FKY tahun ini di Gunungkidul, kami harus mampu menghadirkan festival kebudayaan yang dalam proses dan praktiknya benar-benar melibatkan masyarakat di mana festival itu berada, alias masyarakat Gunungkidul itu sendiri,” ujar Dian, Jumat (10/10/2025).

Pratiwi melanjutkan bahwa Pameran “Gelaran Olah Rupa” tidak hanya sebuah pesta yang bisa ditonton oleh masyarakat, tapi juga sebagai kolaborasi ide dan kerja yang diolah bersama antara seniman, kurator, masyarakat, dan lokasi festival berada, yang terbentuk secara intens dan terus berlangsung, termasuk setelah event FKY ini berakhir.

Pameran bertajuk “Gelaran Olah Rupa” ini menghadirkan seni visual dengan spirit Bertamu–Perjumpaan, yang di dalamnya mengadakan ruang untuk berdialog, berbagi kisah, dan merawat hubungan sosial. Tradisi bertamu dalam budaya Jawa menjadi latar belakang dari pameran ini. Bertamu ini pun tidak sekadar hanya kunjungan secara fisik, melainkan juga wujud tata krama, adab, dan penghormatan kepada tuan rumah. Melalui praktik bertamu, para seniman menegosiasikan batas antara yang lokal dan yang datang, dan antara pengetahuan sehari hari dan wacana seni kontemporer.

Sebagai salah satu program dari Festival Kebudayaan Yogyakarta, Pameran “Gelaran Olah Rupa” berlangsung dari tanggal 11-18 Oktober 2025 mulai pukul 10.00-21.00 WIB di Lapangan Desa Logandeng, Gunungkidul. Pameran ini terbuka untuk umum, di mana para seniman mengolah, menampilkan, dan mengundang publik untuk bertamu, bertemu, dan ikut terlibat ke dalam ruang kerja yang “hidup” para seniman ketika mereka mengolah karya. (zk)

BANTUL – Perhelatan Festival Kebudayaan Yogyakarta (FKY) akan kembali digelar pada tahun 2025 ini, atau yang ke-36 sejak pertama kali diselenggarakan pada 1989 silam. FKY 2025 akan berpusat di Lapangan Logandeng, kecamatan Playen, kabupaten Gunungkidul, DIY pada 11-18 Oktober 2025 mendatang.

Pada edisi tahun ini, FKY mengangkat tema besar “adat istiadat” dengan tajuk “Adoh Ratu, Cedhak Watu”, yang berarti jauh dari raja/pemimpin, tapi dekat dengan batu (alam).

Dalam pemaparannya, Kepala Dinas Kebudayaan DIY, Dhian Lakshmi Pratiwi, sebagai stakeholder inti dari penyelenggaraan FKY, mengaku siap kembali menyelenggarakan FKY 2025 di Gunungkidul, sebagai bagian dari selebrasi budaya yang melibatkan seluruh lapisan masyarakat dari berbagai usia.

“Kegiatan apapun yang kemudian menjadi bagian dari adat istiadat dan tradisi, pada dasarnya adalah satu upaya untuk memaknai dan menguatkan kembali hubungan antar manusia, manusia dengan alam, dan tentu saja manusia dengan Tuhannya,” ujar Dhian dalam konferensi pers di salah satu hotel di kawasan Banguntapan Bantul, Sabtu (4/10/2025).

Dhian menambahkan, meskipun tajuk FKY adalah festival budaya, namun FKY tidak semata-mata hanya sebuah festival budaya, melainkan juga bagaimana seluruh masyarakat, dalam hal ini masyarakat DIY khususnya Gunungkidul sebagai tuan rumah, dapat berkumpul bersama-sama melaksanakan aktivitas budaya yang dapat mempererat persaudaraan dan juga persatuan.

“Ini akan menjadi tantangan besar bagi kita semua, bagaimana kemudian menterjemahkan festival dengan tematik adat dan tradisi, tetapi tidak melulu hanya sesuatu yang bisa dilihat secara visual saja, melainkan juga dapat dirasakan, dimaknai secara mendalam, sekaligus menjadi perayaan bersama seluruh masyarakat, agar seluruh ide dan gagasan yang ada dapat dituangkan dalam sebuah produk festival yang utuh dan dapat diimplementasikan oleh seluruh masyarakat yang terlibat di dalamnya,” tambah Dhian.

Pada kesempatan yang sama, Ketua Pelaksana FKY 2025, BM Anggana menuturkan selama tanggal 11-18 Oktober pelaksanaan FKY 2025, terdapat beberapa sub-acara unggulan, yakni Pawai Pembukaan, Kompetisi FKY diantaranya Panji Desa, Ternak Sehat, Jurnalisme Warga, Jelajah Budaya yang terdiri dari Telusur Tutur, Lokakarya, dan Sandiswara, Pameran FKY, Panggung FKY, FKY Bugar, Pasaraya Adat “Ruwang Berdaya”, Pawon Hajat Khasiat, dan juga FKY Rembug yang berisi program bernama Wicara, Siniar, dan Wedangan.

“Tahun ini adalah tahun ketiga dari roadmap rebranding lima tahun FKY, jadi sejak 2023 kami melakukan formulasi bagaimana festival yang sudah berumur 36 tahun ini, dari yang awalnya festival kesenian kemudian berubah menjadi kebudayaan, agar tetap selalu up-to-date dengan situasi terkini yang terjadi di masyarakat,” tutur BM Anggana.

Menurut BM Anggana, pemilihan Gunungkidul sebagai lokasi berikutnya dari roadmap lima tahunan FKY adalah sesuatu yang sangat tepat untuk penyelenggaraan tahun ini, karena persoalan tentang adat istiadat ini sudah menjadi jatahnya kabupaten Gunungkidul.

Sementara itu, Kus Yuliadi dari Steering Comitee FKY 2025 menyampaikan bahwa setelah berdiskusi panjang dengan BM Anggana selaku Ketua Pelaksana FKY dan juga teman-teman panitia yang lain, disimpulkan bahwa Gunungkidul masih memegang erat budaya tradisi dan adat istiadat, serta kecenderungan bahwa adat istiadat masih sangat dibutuhkan untuk bisa menyatukan kembali masyarakat Jogja secara keseluruhan, khususnya di tengah situasi politik yang masih cukup panas.

“Salah satu yang ditawarkan dalam FKY 2025 nanti adalah karnaval budaya, dimana kegiatan ini dapat menawarkan satu pelajaran penting agar masyarakat bisa kembali pada ekosistem adat istiadat untuk menemukan jati diri atau identitasnya yang sebenarnya,” kata Kus Yuliadi.

Melalui kerja bersama seluruh lapisan masyarakat diantaranya panitia pelaksana/programmer, pelaku budaya/seniman, serta komunitas lokal di Gunungkidul dan juga stakeholder terkait. Semua pihak saling bersinergi untuk mensukseskan penyelenggaraan FKY di Gunungkidul tahun ini. Sehingga warga sekitar tidak sekedar menjadi penonton pasif yang hanya menikmati jalannya festival, melainkan juga turut aktif menghidupkan dan mengimplementasikan pengetahuan adat istiadat yang tumbuh di tanah mereka sendiri. (zk)

YOGYAKARTA – SPJ – Dinas Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (Dinkop UKM) DIY bersama Polda DIY, memberikan pendampingan terhadap perwakilan pengurus Koperasi Desa Merah Putih, Kamis (25/9/2025).

Kepala Dinkop UKM DIY, Agus Mulyono mengatakan pelatihan dan pendampingan ini terkait dengan kelembagaan dan pembekalan. Sehingga operasional di lapangan berjalan sesuai dengan yang direncanakan.

“Pendampingan ini sebagai upaya peningkatan dan penguatan kelembagaan Kopdes Merah Putih di DIY,” kata Agus, di sela acara.

Menurutnya, saat ini kelembagaan sudah terbentuk di semua kelurahan, di 438 kalurahan se-DIY.

Ke depan, pihaknya terus mendorong untuk bagaimana nanti unit usaha yang ada di koperasi itu bisa berjalan.

Agus berpesan Koperasi Merah Putih bisa berjalan dengan penuh kehati-hatian, serta jangan sampai masuk ke ranah hukum.

Sehingga pendampingan dari Polda sangat penting, agar menyentuh ranah hukum.

Tantangan ke depan, menurut Agus seluruh Koperasi Desa Merah Putih harus memenuhi tujuh unit kegiatan usaha yang harus dikembangkan dengan skema dari masyarakat untuk masyarakat.

“Pengurus koperasi Merah Putih jangan terburu-buru meminjam pembiayaan ke perbankan dan sebagainya. Usaha yang ada dulu walaupun itu kecil, itu bagian yang dikembangkan, diusahakan dan diupayakan,” tandasnya.

Sementara itu, Kasubdit 2 Ditintelkam Polda DIY AKBP Shandy W.G Suawa, SP, SIK, MH menambahkan Polda DIY mendukung penuh program Presiden Prabowo Subianto terkait Koperasi Merah Putih.

“Salah satu wujud dukungannya yakni melakukan asistensi dan pendampingan kepada pengurus Koperasi Merah Putih yang ada di tingkat desa. Ini untuk menghindari hal-hal berkaitan dengan hukum,” pungkasnya. (TKS)