BANTUL – Berawal dari pertemuan di salah satu padepokan dalam project workshop, Nunung Deni Puspitasari dan Regina Gandes Mutiary memiliki banyak kesamaan yang seolah tidak disengaja.

Misalnya sama-sama berzodiak Scorpio, punya semangat berkarya seni yang sama, dan eksplorasi karya dalam berbagai bentuk dan ekspresi yang juga cukup identik.

Semua itu menjadi alasan kuat bagi keduanya untuk menyatukan diri dalam sebuah grup bernama Duo Ordo. Grup ini berkarya dengan menampilkan karya musikal story telling, yang disadur dari naskah cerita, cerpen, maupun puisi.

Tidak hanya itu, kolaborasi ini juga memungkinkan terciptanya ruang ekspresi baru di bidang seni, yang memadukan akting, narasi, dan musikalitas, dalam satu pengalaman artistik yang utuh dan autentik.

Mulai dibentuk sejak Mei 2026, Duo Ordo sejauh ini sudah tampil dalam tiga kesempatan berbeda. Mulai dari acara perayaan 75 tahun Sawung Jabo, pekan Yabbiekarta, dan yang terbaru adalah tampil di pentas Selasa Sastra, Kelingan Garden Cafe, Bejen, Bantul, pada 4 Agustus 2026.

Sejalan dengan perkembangan zaman yang terus bergerak maju dan dinamis, Duo Ordo juga tampil sebagai salah satu “pembeda” dalam dunia seni pertunjukkan di Yogyakarta, maupun di Indonesia pada umumnya.

Jika selama ini karya cerpen, puisi, dan naskah cerita (dialog dan semacamnya) hanya dibawakan secara monolog atau teatrikal di atas panggung, Duo Ordo mencoba mengeksplorasinya dalam kemasan pertunjukan seni yang lebih fresh, menghibur, dan mampu membangun semangat baru bagi semua orang, untuk terus berkarya dan berkontribusi bagi bangsa Indonesia, khususnya lewat bidang seni budaya.

Di usianya yang baru hitungan bulan, Duo Ordo mencoba untuk lebih banyak menelurkan karya demi karya inspiratif lainnya, yang berasal dari naskah cerita, puisi, maupun cerpen. Baik yang sudah dikenal luas, maupun yang diproduksi sendiri oleh Duo Ordo, dan sebagainya.

Dengan chemistry yang sudah terbangun sangat kuat, Nunung dan Regina yakin bahwa kehadiran mereka akan mampu diterima dengan baik oleh berbagai kalangan, baik kalangan pegiat seni, pecinta seni, maupun masyarakat umum.

Karena dunia seni adalah dunia yang terus berkembang dan bergerak secara dinamis serta kreatif. Di situlah Duo Ordo tampil dan memberikan nuansa baru bagi dunia seni budaya di Yogyakarta maupun Indonesia, agar terus lestari.

Hidup di tengah-tengah masyarakat sekaligus menggerakkan ekonomi bagi setiap pelaku di dalamnya. (zk)

BANTUL – Menghasilkan karya sastra seperti puisi bisa terinspirasi dari mana saja, termasuk pengalaman personal.

Bagi Isaura Erina Rahma Putri, salah satu lulusan program Temu Karya Sastra (TKS) dari Dinas Kebudayaan “Kundha Kabudayan” Yogyakarta periode 2024, sosok mendiang “ayah” (bukan kandung) menjadi pemantik bagi dirinya untuk menelurkan karya antologi puisi, yang diberi judul “Cara Paling Sendu, untuk Merindu”.

Dalam acara Selasa Sastra edisi Agustus 2026 bertema “Sajak-sajak Meraih Putih”, Isa, panggilan akrabnya, menceritakan bagaimana sosok “ayah” yang pernah singgah di hidupnya, benar-benar menjadi figur yang sangat dicintai dan dirindukan, khususnya setelah kepergiannya pada 2021 lalu.

“Karena aku kehilangan sosok yang jadi ‘ayah’ aku, bukan ayah (kandung) tapi sosok yang berperan jadi ‘ayah’ aku. Dia meninggalnya tahun 2021, tapi sampai sekarang aku masih belum ikhlas. rasanya berat banget untuk ngikhlasin kepergian dia.

Terus terlintas di pikiran aku, kalau kita sayang sama seseorang, cinta sama seseorang, itu bukan berarti kita harus mengikhlaskan dia pergi, tapi kita bisa mengabadikan dia dalam karya (sastra), agar selamanya bisa dibaca sama orang terdekat,” ucap Isa, dalam rangkaian acara Selasa Sastra edisi Agustus 2026 bertajuk “Sajak-sajak Meraih Putih”, yang berlangsung di Kelingan Garden & Cafe, Bejen, Bantul, belum lama ini.

Demi benar-benar menghayati seluruh puisi yang ia buat, Isa pun rela menuliskan puisi-puisi tersebut tepat di samping makam sang “ayah”. Semua itu demi mengenang sosok yang benar-benar dicintainya, sekaligus menjadi kenangan yang tak akan pernah dilupakan bagi dirinya, dan orang-orang di sekitarnya.

“Aku waktu nulis puisi itu persis di sebelah makamnya ‘ayah’, sekitar jam 4 sore. Karena dia selama nemanin aku hidup itu nggak pernah yang namanya ngebentak aku sama sekali. Dia orangnya nggak pernah marah, dan selalu lindungin aku dalam situasi apa pun,” tambah Isa.

Selain diskusi buku “Cara Paling Sendu, untuk Merindu” karya Isaura Erina Rahma Putri, kegiatan Selasa Sastra edisi Agustus kali ini juga menghadirkan diskusi karya sastra lainnya, yakni antologi cerpen berjudul “Matahari 1/4 Lingkar” karya Irfanda Azka Muzaki.

Selain itu, acara ini juga menghadirkan sejumlah penampilan sastra menarik lainnya, seperti pembacaan puisi dari sastrawan Tedi Kusyairi, Sri Wijayati, Sunawi, Fathia Jayanti, penampilan spesial dari grup “Duo Ordo”, dan masih banyak lagi. (zk)

BANTUL – Dalam setiap pembuatan karya sastra seperti antologi cerpen maupun puisi, seseorang biasanya akan mengacu pada sesuatu yang dekat dengan kehidupannya sehari-hari, atau pengalaman tertentu yang pernah dialami, dan seterusnya.

Namun bagi Irfanda Azka Muzaki, salah satu lulusan program Temu Karya Sastra (TKS) dari Dinas Kebudayaan “Kundha Kabudayan” DIY tahun 2024, ia tidak ingin berpikiran “mainstream” dengan menirukan seniman-seniman lainnya dalam hal inspirasi menghasilkan karya sastra.

Baginya, sesuatu yang “absurd” seperti sosok sastrawan bernama Danarto, adalah celah yang bisa dimanfaatkan oleh Azis, panggilan akrabnya, untuk menghasilkan karya antologi cerpen yang tidak biasa, alias berbeda dengan kebanyakan seniman lainnya di luar sana.

Ia pun resmi me-launching buku antologi cerpen berjudul “Matahari 1/4 Lingkar”, yang merujuk pada penokohan dari benda-benda mati seperti matahari, rembulan, bintang, dan sebagainya, yang menjadi representasi dari absuditas ala Danarto tadi.

“Saya orangnya suka baca-baca tipikal seperti itu (penokohan yang bukan manusia). Salah satunya dari sastrawan bernama Danarto. Jadi dari sosok seperti Danarto ini, sisi absurditasnya sangat-sangat kental. Dan karena dia aneh, maka saya pikir ini sangat menarik, karena dia mampu membuat suatu karya yang berbeda dari yang lain, Cara pembahasaannya itu sederhana, tapi kok bisa dimelencengkan ke sana ke mari, seperti itu,” tutur Azis, dalam sesi diskusi buku antologi cerpen berjudul “Matahari 1/4 Lingkar”, dalam rangkaian Selasa Sastra edisi Agustus 2026 bertema “Sajak-sajak Meraih Putih”, yang berlangsung di Kelingan Garden & Cafe, belum lama ini.

Kekaguman Azis terhadap Danarto pun terindikasi dari caranya dalam mendeskripsikan suatu persitiwa dalam kehidupan sehari-hari, menjadi sebuah cerita (cerpen) yang menarik dan mudah dimengerti oleh banyak orang, termasuk Azis sendiri.

“Salah satu karya Danarto itu kan ada yang menggambarkan kadal minyak dan gedebok pisang, kok bisa gitu lho? Padahal aku sendiri juga cukup dekat dengan keduanya. Tapi kok dia (Danarto) bisa menuliskan karya sastra dengan tokoh berupa benda seperti itu? Aku tuh kurang apa sebenarnya, gitu loh? Jadi aku mencoba menggali lebih dalam, gimana sih caranya untuk bisa membuat (karya sastra) seperti ini (yang dilakukan Danarto), dan seterusnya,” tambah Azis.

Selain diskusi buku antologi cerpen berjudul “Matahari 1/4 Lingkar”, rangkaian acara Selasa Sastra edisi Agustus 2026 kali ini juga menghadirkan diskusi buku lainnya yakni antologi puisi berjudul “Cara Paling Sendu, untuk Merindu”, serta beberapa penampilan sastra spesial dari beberapa sastrawan ternama.

Sebut saja Tedi Kusyairi, Sri Wijayati, Sunawi, Fathia Jayanti, lalu penampilan spesial dari grup “Duo Ordo”, dan masih banyak lagi. (zk)

Bulan Agustus selalu menjadi momen yang ditunggu-tunggu setiap tahunnya. Pasalnya bulan yang satu ini merupakan momen perayaan kemerdekaan Republik Indonesia, yang kerap dimeriahkan dengan berbagai acara, dan dibungkus dengan istilah “Agustusan”.

Selasa Sastra juga tak ketinggalan ikut meramaikan perayaan kemerdekaan Indonesia di bulan Agustus, alias merayakan momen “Agustusan” tersebut.

Mengambil tema “Sajak-sajak Meraih Putih”, Selasa Sastra edisi Agustus kali ini mencoba untuk memanfaatkan momentum perayaan “Agustusan”, dengan pertunjukan sastra yang dapat menjadi pemicu untuk terus berkarya, bergerak, dan mewujudkan kemerdekaan berkreativitas dalam kehidupan sehari-hari.

Berikut adalah sejumlah keseruan yang terjadi di acara Selasa Sastra “Sajak-sajak Meraih Putih” tersebut, yang berlangsung di Kelingan Garden & Cafe, Bejen, Bantul, Selasa (4/8/2026). (Foto: Azka Qintory)

 

 

 

BANTUL – Bulan Agustus selalu menjadi momen yang ditunggu-tunggu setiap tahunnya. Pasalnya bulan yang satu ini merupakan momen perayaan kemerdekaan Republik Indonesia, yang kerap dimeriahkan dengan berbagai acara, dan dibungkus dengan istilah “Agustusan”.

Selasa Sastra juga tak ketinggalan ikut meramaikan perayaan kemerdekaan Indonesia di bulan Agustus, alias merayakan momen “Agustusan” tersebut.

Apalagi di tahun 2026 ini, Indonesia telah memasuki usia yang ke-81 tahun. Sebuah usia yang bisa dibilang “cukup senior” bagi sebuah bangsa, untuk bisa menentukan arah tujuannya sendiri di masa kini dan masa mendatang.

Mengambil tema “Sajak-sajak Meraih Putih”, Selasa Sastra edisi Agustus kali ini mencoba untuk memanfaatkan momentum perayaan “Agustusan”, dengan pertunjukkan sastra yang dapat menjadi pemicu untuk terus berkarya, bergerak, dan mewujudkan kemerdekaan berkreativitas dalam kehidupan sehari-hari.

“Memasuki bulan Agustus ini kita akan memperingati HUT RI yang ke-81, yang mana warna identitasnya (bendera Indonesia) adalah merah dan putih. Dalam hal ini merahnya kita ganti menjadi “meraih” ya (meraih putih). Itu bisa berarti meraih kesucian, kesuksesan, impian, dan seterusnya, yang berkaitan dengan makna kemerdekaan itu sendiri,” ungkap Direktur Selasa Sastra, Tedi Kusyairi, Selasa (4/8/2026).

Memulai Harapan Baru Di Bulan Kemerdekaan

Suasana diskusi antologi cerpen berjudul “Matahari 1/4 Lingkar” karya Irfanda Azka Muzaki, yang menjadi salah satu rangkaian kegiatan Selasa Sastra di Kelingan Garden & Cafe (Foto: Azka Qintory)

Selain tentang perayaan kemerdekaan, Selasa Sastra edisi kali ini juga mencoba untuk memberikan semacam pengharapan kepada segenap generasi muda, untuk terus berjuang dan meniti masa depan sesuai bidangnya masing-masing, yang juga bisa dikemas dalam pertunjukkan sastra.

“Semoga teman-teman bisa terus berkarya sastra dengan lebih kreatif, produktif, maju, dan sebagainya. Sehingga teman-teman dari generasi muda akan mampu menghasilkan karya yang lebih hebat lagi, dan tentunya “meraih putih” itu tadi, yaitu meraih kejayaan, kemakmuran, dan mimpi-mimpinya bisa terwujud,” tambah Tedi.

Selain pertunjukkan sastra dari para sastrawan kondang di Bantul seperti Tedi Kusyairi, Sunawi, Sri WIjayati, Fathia Jayanti, dan seterusnya, Selasa Sastra edisi kali ini juga menampilkan dua sesi diskusi buku.

Diantaranya membahas satu antologi cerpen yang berjudul “Matahari 1/4 Lingkar” karya Irfanda Azka Muzaki, dan satu antologi puisi berjudul “Cara Paling Sendu Untuk Merindu” karya Isaura Erina Rahma Putri. Kebetulan keduanya merupakan lulusan dari program Temu Karya Sastra (TKS), yang diinisiasi oleh DInas Kebudayaan (Disbud) “Kundha Kabudayan” DIY, dalam kurun lima tahun terakhir.

Ada pula satu pertunjukkan spesial dari “Duo Ordo”, yang membawakan dua buah karya musik puisi spesial di bulan Agustus. (zk)

BANTUL – Perkembangan teknologi informasi yang begitu pesat dan cepat telah mampu mengubah berbagai sektor dalam kehidupan, salah satunya adalah bidang seni dan sastra.

Belum lagi dengan kemunculan AI (Artificial Intelligence) seperti saat ini, yang membuat segala sesuatunya terasa lebih mudah dari sebelumnya. Termasuk dalam membuat karya sastra seperti lukisan, cerpen, puisi, dan semacamnya.

Namun bagi Sastrawan senior Joni Ariadinata, hal itu tidak perlu dipersoalkan sedikitpun. Karena AI tidak akan benar-benar menggantikan para seniman seutuhnya, mengingat seni adalah sesuatu yang bersifat tidak presisi, alias sangat bergantung dari selera manusia yang membuat karya tersebut. Sedangkan AI adalah robot atau mesin yang tidak memiliki perasaan sama sekali.

“Sepertinya karya sastra seperti lukisan, atau seni secara umum, itu adalah hal paling akhir yang bisa digantikan sepenuhnya oleh AI. Karena kalau manajemen, arsitektur, bahkan dokter pun sudah bisa digantikan oleh AI. Karena kan ada exact-nya disitu, artinya harus ada data yang presisi. Tetapi seni itu sama sekali tidak presisi. AI itu juga bingung, bagaimana caranya untuk bener-bener hadir dan menggantikan peran manusia seutuhnya? Tapi emang ternyata nggak bisa,” ungkap Sastrawan Joni Ariadinata, saat mengisi diskusi bertajuk “Relevansi Cerpen di Mata Gen Z”, yang berlangsung di Kelingan Garden & Cafe, Bejen, Bantul, beberapa waktu lalu.

Joni pun meyakini, bahwa profesi seniman akan selalu eksis sampai kapanpun, karena profesi semacam ini sangat lekat dengan perasaan manusia, dan merupakan sesuatu yang sangat subjektif. Sehingga tidak bisa sembarangan ditiru oleh siapapun, termasuk mesin secanggih AI sekalipun.

“Jadi saya tidak khawatir dengan AI. Orang seni itu nggak usah khawatir, karena pekerjaan seni itu bukan sesuatu yang presisi, dan bisa dengan mudah digantikan oleh AI,” tambah Joni.

Meski demikian, Joni tetap memandang perlunya para seniman untuk tetap menggunakan intuisinya dengan baik dan bijak, sehingga tidak perlu sedikit-sedikit menggunakan alat bantu seperti AI untuk mencari data tertentu, dan seterusnya. (zk)

BANTUL – Dewasa ini, setiap peristiwa bisa dengan mudah menyebar di media sosial dalam kurun waktu yang sangat cepat. Setiap peristiwa (yang menjadi viral) datang silih berganti setiap saat, seolah menjadi tren baru yang harus diikuti oleh siapa saja, dan seterusnya.

Anak-anak kelahiran 2000-an atau yang disebut Gen Alpha, adalah orang-orang beruntung yang mampu menyerap berbagai peristiwa alias informasi yang tersebar di media sosial dengan sangat cepat, dan tidak pernah ketinggalan sedikitpun informasi yang beredar dari seluruh dunia.

Hal inilah yang tidak sanggup diikuti oleh generasi X, atau orang-orang yang lahir pada tahun 90-an ke belakang. Di mana mereka harus mencerna setiap informasi dengan sangat detail terlebih dahulu, sebelum akhirnya take action atau membagikannya kepada teman-temannya, dan seterusnya.

Terlebih media sosial memang muncul di saat orang-orang ini sudah beranjak dewasa, sehingga adaptasi yang diperlukan memang sedikit lebih lama, dan butuh kesadaran lebih untuk bisa mengikuti arus informasi yang begitu deras di media sosial seperti saat ini.

“Sekarang itu kan hampir semua peristiwa, semua kejadian itu kan selalu serba cepat ya. Dan memang benar bahwa kalau telat mengupload itu sudah nggak update lagi. Makanya saya itu kagum, jangan-jangan, dna memang faktanya bahwa kecerdasan para penulis generasi alpha itu berbeda dengan kecerdasan generasi kami,” ungkap Sastrawan Joni Ariadinata, saat mengisi diskusi bertajuk “Relevansi Cerpen di Mata Gen Z”, yang berlangsung di Kelingan Garden & Cafe, Bejen, Bantul, beberapa waktu lalu.

Salah satu indikator yang mudah dilihat oleh Joni adalah kecenderungan generasi X untuk membaca referensi fisik seperti buku atau semacamnya. Sementara anak-anak muda alias gen Alpha bisa langsung mengecek aplikasi AI yang tersedia di ponselnya masing-masing, untuk memantau referensi pada topik yang sama.

“Karena mereka bisa merespons segala sesuatu (peristiwa) dengan sangat cepat, dan juga menuliskannya dengan sangat cepat. Sementara generasi kami responnya lambat, kemudian untuk mencari referensi bahan itu ke buku-buku yang tebel itu. Sementara untuk generasi alpha, mereka itu kan mencari referensinya langsung pakai AI gitu kan. Walaupun kedalamannya (AI) memang kurang,” tambah Joni.

Joni menilai, anak-anak muda saat ini lebih mementingkan unsur peristiwanya, alias cukup mengetahui “apa yang terjadi?”, ketimbang benar-benar mendalami peristiwa tersebut dengan rinci, atau “mengapa bisa begitu?” dan seterusnya. (zk)

BANTUL – Seiring dengan perkembangan dunia teknologi informasi yang begitu pesat, dunia sastra juga turut mengalami perkembangan yang cukup signifikan.

Salah satunya adalah kehadiran platform cerpen atau sastra secara umum, yang mampu mewadahi setai karya sastra dari para generasi muda, yang bisa dijadikan sumber penghasilan secara rutin setiap bulannya.

Bahkan di aplikasi seperti KBM (Komunitas Bisa Menulis) App, penulis bisa dibayar royalti mencapai miliaran rupiah, yang didasarkan pada jumlah koin yang berasal dari Bab berbayar, dikalikan dengan jumlah views dari karya sastra tersebut.

“Ada beberapa penulis dari kalangan Gen Z dan Gen Alpha, yang mendapat royalti (dari aplikasi KBM) sebesar Rp2 Miliar setiap bulannya, kemudian ratusan penulis di-rate antara Rp200 sampai Rp600 juta, kemudian ribuan penulis lainnya ada yang di-rate antara Rp2 juta sampa Rp30 juta per bulannya,” ungkap Sastrawan Joni Ariadinata, saat mengisi diskusi bertajuk “Relevansi Cerpen di Mata Gen Z”, yang berlangsung di Kelingan Garden & Cafe, Bejen, Bantul, beberapa waktu lalu.

Joni pun tak pernah membayangkan, bahwa generasi tua sepertinya bisa mengalami periode di mana sebuah karya sastra bisa dihargai hingga miliaran rupiah setiap bulannya. Hanya dengan memanfaatkan platform digital.

“Maka sebagai generasi tua yang purba, hal itu tentunya tidak pernah terbayangkan di dalam imajinasi saya, bahwa pasar sastra itu ternyata berkembang sedemikian luar biasa di generasi digital seperti sekarang. Nah itulah tugas saya saat ini, untuk menjembatani generasi purba dengan generasi alpha,” sambung Joni Ariadinata.

Joni menilai, karakteristik pembaca millenial adalah faktor kuat yang dapat mendorong pihak aplikasi untuk menerbitkan karya sastra digital sebanyak-banyaknya, sekaligus membayar mereka dengan angka yang terbilang fantastis. (zk)

BANTUL – Inspirasi menulis buku bisa lahir dari mana saja, termasuk dari lingkungan sekitar.

Itulah yang menjadi awal mula seorang Djessica Yula, seorang lulusan program Temu Karya Sastra (TKS) dari Dinas Kebudayaan “Kundha Kabudayan” DIY tahun 2023, untuk mulai menerbitkan buku antologi puisi karyanya sendiri, yang berjudul “Upaya untuk Pulang”.

Buku ini merupakan kumpulan puisi yang terinspirasi dari kondisi lingkungan sekitar Djessica, yang penuh dengan hiruk-pikuk dan dinamikanya masing-masing. Sehingga hal itu menurutnya layak dijadikan konten puisi yang ia tulis dalam buku antologi satu ini.

Dalam mencari ide atau inspirasi, Djessica biasanya mendapatkan dari lingkungan di sekitarnya, atau pun ketika ada isu-isu tertentu yang sedang booming di media sosial, dan sebagainya.

Dari situlah, Djessica memulai visualisasi tentang apa-apa saja yang sudah dilihatnya, untuk kemudian dituangkan dalam bentuk tulisan, hingga menghasilkan sebuah karya, seperti buku antologi “Upaya untuk Pulang” yang ikut di-launching pada kesempatan ini.

“Biasanya ketika saya melihat sesuatu di sekitar saya, atau mungkin lingkungan sosial yang sedang naik-naiknya. Dari situ tiba-tiba saja saya langsung nulis (tentang apa yang saya lihat), gitu. Cuman itu timbul karena spontanitas saja, kayak kecewa terhadap sesuatu, atau merasa ‘enggak (gue) banget’ dengan keadaan seperti ini, gitu, dan semacamnya,” papar Djessica Yula, dalam sesi diskusi buku antologi puisi berjudul “Upaya untuk Pulang” di acara Selasa Sastra bertajuk “Sajak-sajak Arah Angin”, yang berlangsung di Kelingan Garden & Cafe, Selasa (7/7/2026).

Dalam perjalanannya menulis buku antologi ini, Djessica banyak menemui sejumlah hambatan, di antaranya sulitnya membagi waktu, menulis yang masih sering dikejar waktu (deadline atau the power of kepepet), distraksi dari ponsel dan piranti digital lainnya, serta tantangan teknis dalam kepenulisan puisi.

“Saya tuh orangnya tipikal deadliners gitu, atau sering menerapkan “the power of kepepet“. Jadi semakin dekat dengan batas deadline itu rasanya jadi semakin mudah (untuk mengerjakan sesuatu). Apalagi kalau mengerjakannya itu di toilet. Malah inspirasinya jadi lebih dapet kalau mengerjakan di situ,” tambah Djessica.

Buku antologi puisi “Upaya untuk Pulang” karya Djessica Yula ini bisa dibeli di beberapa platform, seperti Diandra Kreatif untuk versi cetaknya, atau gramedia.com dan juga bacabuku.com untuk versi E-book atau buku digitalnya.

Selain buku antologi puisi berjudul “Upaya untuk Pulang” karya Djessica Yula, sesi diskusi yang sama juga membedah buku antologi puisi lainnya yang berjudul “Perjalanan Menuju-Mu”. Buku ini juga merupakan karya dari salah satu lulusan program TKS lainnya, yakni Winda Cahyati. (zk)

BANTUL – Ada banyak cara yang bisa dilakukan untuk menuliskan pengalaman hidup, salah satunya melalui kumpulan antologi puisi.

Oleh sebab itulah, menjadi cara yang dilakukan oleh seorang Winda Cahyati, salah satu lulusan program Temu Karya Sastra (TKS) dari Dinas Kebudayaan “Kundha Kabudayan” DIY tahun 2025, yang baru saja me-launching buku antologi puisi terbarunya yang berjudul “Perjalanan Menuju-Mu”.

Bagi Winda, setiap manusia pasti memiliki perjalanan hidup yang berbeda-beda. Namun apapun dan bagaimanapun perjalanan tersebut dilalui, semuanya pasti akan tetap kembali kepada-Nya, sebagai tujuan akhir dari seluruh kehidupan.

“Jadi buku ‘Perjalanan Menuju-Mu’ ini memang terdiri dari beberapa chapter atau suatu perjalanan gitu. Bahwa di dalam hidup ini kita akan mengalami beberapa fase (perjalanan hidup), dan kita tidak boleh lupa bahwa tujuan akhir kita itu adalah Tuhan, seperti itu,” ungkap Winda Cahyati, dalam sesi diskusi buku di acara Selasa Sastra bertajuk “Sajak-sajak Arah Angin” yang berlangsung di Kelingan Garden & Cafe, Bejen, Bantul, Selasa (7/7/2026).

Adapun buku “Perjalanan Menuju-Mu” ini merupakan karya tunggal pertama seorang Winda Cahyati. Selebihnya ia hanya berkontribusi dalam antologi kolektif bersama teman-teman lainnya di berbagai tempat.

“Untuk antologi puisi mandiri atau karya sendiri, buku ini (Perjalanan Menuju-Mu) ini baru yang pertama kali. Tapi memang sebelumnya sudah pernah menerbitkan beberapa antologi bersama, gitu. Pernah juga diterbitkan di koran, waktu itu,” sambung Winda.

Bagi Winda, proses membuat puisi sama halnya dengan meluapkan sesuatu, alias “curhat” tentang keresahan pribadi. Sehingga antologi puisi ciptaannya ini merupakan bagian dari isi hatinya, yang kemudian dituangkan dalam bentuk buku antologi puisi.

Selain buku antologi puisi berjudul “Perjalanan Menuju-Mu” karya Winda Cahyati, sesi diskusi yang sama juga membedah buku antologi puisi lainnya yang berjudul “Upaya untuk Pulang”. Buku ini juga merupakan karya dari salah satu lulusan program TKS lainnya, yakni Djessica Yula.

Sesi diskusi kedua buku ini merupakan rangkaian dari acara Selasa Sastra bertajuk “Sajak-sajak Arah Angin” pada Selasa (7/7/2026), yang berlangsung di Kelingan Garden & Cafe, Bejen, Bantul. (zk)