BANTUL – Jika selama ini kita sering mendengar istilah populer yakni banyak jalan menuju Roma, yang berarti banyak cara yang bisa dilakukan untuk mencapai hasil yang sama, maka hal itu juga berlaku pada sosok Dea Chairunnisa, seorang Master of Ceremony (MC) atau public speaker yang baru saja menerapkan istilah “banyak jalan menuju sastra” dalam hidupnya.

Meskipun bukan berlatar belakang seniman atau sastrawan, Dea terjun ke dunia sastra dengan semangat positif dan keinginan kuat untuk belajar, serta tak ketinggalan menghasilkan karya demi karya yang bisa dinikmati oleh banyak orang.

Perkenalannya dengan dunia sastra pun bisa dibilang juga tidak disengaja, ketika ia bertemu dengan Direktur Selasa Sastra, Tedi Kusyairi, dalam sebuah acara pada awal tahun ini.

“Aku kenal Mas Tedi itu pas aku jadi host-nya podcast PKBI (Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia), di situ aku bercerita ke beliau bahwa aku punya sekolah public speaking dan MC, namanya Gema Academy. Dan aku saat itu juga sedang mencari acara untuk anak-anakku agar bisa tampil dan berlatih dalam situasi acara yang resmi.

Mas Tedi pun bercerita bahwa beliau juga meng-handle komunitas sastra (Selasa Sastra), yang diselenggarakan di kafenya yaitu Kelingan Garden & Cafe setiap hari Selasa, dan selalu butuh MC. Akhirnya Mas Tedi minta ke aku untuk jadi MC di sini, dan juga ikut mengirimkan siswa-siswa MC aku ke acara ini,” ucap Dea, saat ditemui di Kelingan Garden & Cafe, Bejen, Bantul, Selasa (7/7/2026).

Sejak saat itu, sastra membuka banyak kesempatan baginya untuk belajar lebih dalam tentang seni dan kehidupan secara lebih luas.

“Ternyata sastra itu luas ya. Padahal dulu waktu aku dengar kata “sastra” itu, yang terpikirkan di kepalaku adalah tentang bahasa Indonesia.

Setelah aku berkecimpung di acara Selasa Sastra ini sebagai moderator, akhirnya mau nggak mau aku juga belajar. Ternyata sastra itu juga ada kepenulisannya, film, puisi, bahkan bahasanya juga nggak cuma bahasa Indonesia, tapi juga ada dalam bahasa Jawa, dan seterusnya,” tambah Dea.

Dea pun tidak menutup kemungkinan untuk benar-benar “nyemplung” ke dalam dunia sastra secara keseluruhan, dan menghasilkan berbagai karya sastra yang bisa disaksikan oleh teman-teman maupun murid-muridnya di Gema Academy, sekaligus menghasilkan pundi-pundi dari sana. (qin)

Dinamika hidup yang semakin luas dalam beberapa waktu terakhir, seperti konflik di Timur Tengah, harga minyak yang terus melonjak, dan lain-lain, membuat banyak pihak mulai bereaksi sesuai dengan cara dan kreativitas masing-masing.

Bagi para sastrawan, cara terbaik untuk merespons berbagai dinamika tersebut adalah dengan membuat karya sastra.

Itulah yang mendasari hadirnya event bulanan Selasa Sastra di bulan Juli 2026, yang berlangsung di Kelingan Garden & Cafe, Selasa (7/7/2026), dengan menghadirkan sejumlah penampilan sastra menarik dari beberapa sastrawan di Bantul, serta beberapa acara pendukung lainnya.

Berikut adalah sejumlah momen menarik yang terjadi dalam perhelatan Selasa Sastra tersebut, yang bertajuk “Sajak-sajak Arah Angin”. (Foto: Azka Qintory)

 

 

BANTUL – Selasa sastra kembali hadir di bulan Juli 2026 dengan sejumlah penampilan sastra menarik serta beberapa acara pendukung lainnya.

Mengambil tema “Sajak-sajak Arah Angin”, Selasa Sastra kali ini mencoba untuk merespon berbagai isu global yang terjadi di dunia saat ini, seperti peperangan di Timur Tengah, mahalnya harga minyak, melonjaknya nilai tukar rupiah, dan seterusnya.

Dengan tema ini, Selasa Sastra mencoba menyikapi berbagai dinamika tersebut, dengan menampilkan pertunjukan sastra, terutama puisi, sebagai “respons” atas perkembangan isu-isu tersebut.

“Selasa sastra kali ini mencoba hadir untuk merespons berbagai dinamika yang hadir di dunia saat ini. Seperti peperangan, harga minyak yang terus melonjak, dan seterusnya, yang secara tidak langsung juga berimbas kepada masyarakat di Indonesia. Misalnya saja kurs dollar yang terus meningkat, dan lain-lain. Jadi bagaimana kita menyikapi setiap dinamika tersebut dengan karya sastra yang turut dibacakan di panggung Selasa Sastra hari ini,” ucap Direktur Selasa Sastra, Tedi Kusyairi, Selasa (7/7/2026).

Selain itu, event Selasa Sastra kali ini juga memberikan kesempatan untuk menulis buku secara gratis, melalui sayembara khusus yang diadakan oleh penerbit Ananta Vidya. Penulis yang terpilih berkesempatan untuk meneribitkan buku digital (e-book) buatan sendiri secara gratis, dan menjual bukunya kepada khalayak luas.

Tidak hanya itu, Selasa Sastra kali ini juga menghadirkan diskusi buku antologi puisi, yang merupakan hasil karya dari dua peserta program Temu Karya Sastra (TKS) dari Dinas Kebudayaan “Kundha Kabudayan” DIY tahun 2025, yakni buku “Upaya Untuk Pulang” karya Djessica Yula, dan “Perjalanan Menuju-Mu” karya Winda Cahyati.

Selasa Sastra edisi Juli 2026 kali ini berlangsung di Kelingan Garden & Café, Bejen, Bantul, Selasa (7/7/2026). Acara ini menampilkan beberapa sastrawan ternama yang berasal dari Bantul, di antaranya Tedi Kusyairi, Syamsu Setiaji, Budi Baik Hati, Fathia Jayanti, Shinta Sigit, dan masih banyak lagi. (zk)

BANTUL – Dalam dunia yang serba mengandalkan konten seperti saat ini, skill keaktoran atau akting sangatlah dibutuhkan, guna mendukung keberhasilan sebuah konten dalam mendeliver pesan kepada audiens.

Atas dasar itulah, Kelingan Garden & Cafe bersama Teater Amarta berinisiatif menyelenggarakan Kelas Keaktoran khusus, yang diperuntukkan bagi generasi muda dan masyarakat umum, yang diselenggarakan di Kelingan Garden & Cafe, Bejen, Bantul kota, Jumat (26/6/2026).

Adapun kelas tersebut turut diampu oleh seorang seniman dan artis teater, Nunung Deni Puspitasari, yang juga pendiri Teater Amarta.

Pada kesempatan tersebut, Nunung mengajarkan teknik-teknik dasar dalam dunia keaktoran, seperti olah tubuh, olah vokal, dan juga olah rasa.

Di dalam ketiga teknik dasar tersebut, setiap aktor harus mampu merawat dan melatih tubuhnya, karena tubuh adalah medium utama yang memerankan sebuah tokoh tertentu. Selain itu, setiap aktor juga harus mengasah artikulasi kata, mengatur napas perut, memainkan intonasi dan jeda, serta membangun rasa imajinasi, untuk dapat menjiwai setiap karakter yang diperankan.

Tidak hanya itu, ketika sudah tampil di atas panggung, setiap aktor juga harus melupakan dirinya sendiri, dan sepenuhnya menjadi tokoh yang diperankan (menjadi “orang lain”), agar tidak terlihat ragu atau tertawa sendiri saat melakukan penokohan.

Lebih lanjut, Nunung menganggap bahwa perkembangan dunia keaktoran sangatlah luas dan bisa diaplikasikan dalam berbagai industri. Mengingat industri konten sendiri juga sangat luas, dan terus berkembang dari waktu ke waktu.

Kehadiran kelas keaktoran ini tentunya diharapkan akan mampu melahirkan talenta-talenta aktor baru dari Bantul di masa depan, sebagai penerus generasi aktor dan aktris masa kini.

Dengan banyaknya peluang mengisi peran keaktoran dalam berbagai konten digital, maka peluang untuk mendapatkan cuan dari profesi ini juga cukup besar, sekaligus memungkinkan banyak kerjasama yang menguntungkan di masa depan. (zk)

Kegiatan melestarikan budaya memang menyenangkan bagi sebagian orang, terutama bagi mereka yang benar-benar menyukainya, sekaligus menggelutinya sebagai bagian dari mata pencaharian sehari-hari.

Namun, masih banyak orang yang lupa menjaga kesehatan tubuh dan pikirannya, ketika melakukan aktivitas pelestarian kebudayaan tersebut.

Atas dasar itulah, Dinas Kebudayaan DIY bersama Kelingan Garden & Cafe dan budayawan Fajar Suharno, berinisiatif menyelenggarakan kegiatan “Sambang Komunitas”, beberapa waktu lalu, sebagai salah satu upaya untuk dapat melestarikan kebudayaan, sambil tetap menjaga kesehatan diri.

Berikut adalah sejumlah keseruan yang terjadi dalam kegiatan Sambang Komunitas tersebut. (Foto: Azka Qintory)

 

 

BANTUL –  Kegiatan melestarikan budaya memang menyenangkan bagi sebagian orang, terutama bagi mereka yang benar-benar menyukainya, sekaligus menggelutinya sebagai bagian dari mata pencaharian sehari-hari.

Namun, masih banyak orang yang lupa menjaga kesehatan tubuh dan pikirannya, ketika melakukan aktivitas pelestarian kebudayaan tersebut.

Untuk itulah, Dinas Kebudayaan DIY bersama Kelingan Garden & Cafe dan budayawan Fajar Suharno, berinisiatif menyelenggarakan kegiatan “Sambang Komunitas”, beberapa waktu lalu, sebagai salah satu upaya untuk dapat melestarikan kebudayaan, sambil tetap menjaga kesehatan diri.

Karena kegiatan pelestarian budaya juga tidak akan mampu berjalan optimal, apabila tubuh tidak fit, dan pikiran juga kurang rileks.

Dalam kesempatan tersebut, Fajar Suharno yang telah berusia 81 tahun, sempat menimba ilmu di PGB (Persatuan Gerak Badan) Bangau Putih di Bogor, Jawa Barat, tentang bagaimana melakukan gerak olah tubuh yang tepat, untuk dapat menjaga kesehatan meski sudah berusia senja.

“Saya bukanlah seorang paramedis, saya juga bukan dokter, saya bukan sarjana biologi, tapi saya hanya sebagai murid di PGB (Persatuan Gerak Badan) Bangau Putih di Bogor, yang pernah mengajarkan kepada saya tentang menjaga kesehatan melalui gerak olah tubuh, yang masih terus saya praktekkan sampai saat ini,” tutur Fajar Suharno, dalam pemaparannya di Kelingan Garden & Cafe, Kamis (25/6/2026).

Salah satu aspek yang turut menjadi perhatian seorang Fajar Suharno adalah pernapasan. Karena pernapasan adalah aktivitas alami manusia yang dilakukan setiap harinya, tanpa pernah diajarkan oleh siapapun.

Namun, apabila pernapasan terhambat atau mengalami masalah, seluruh aktivitas bisa terganggu, masuk rumah sakit, bahkan sampai meninggal dunia. Padahal ketika masih sehat, aktivitas bernapas seperti dianggap enteng begitu saja, lantaran sudah biasa dilakukan sejak lahir.

“Menurut saya napas itu adalah sesuatu yang bukan main (pentingnya untuk manusia). Padahal selama ini kita menganggap napas adalah sesuatu yang biasa-biasa saja. Napas itu sesuatu yang sudah diterima dan tidak perlu dipersoalkan. Sementara dalam mekanisme berlatih (yang diajarkan di PGB Bangau Putih), ternyata napas memegang peranan yang sangat penting terkait bagaimana kita menjalani hidup ini,” sambung Fajar.

Di akhir acara, Fajar pun memberikan praktik langsung bagaimana menerapkan gerakan relaksasi olah tubuh yang bisa dilakukan di rumah, hanya dengan memanfaatkan badan sendiri.

Seluruh gerakan tersebut cukup dilakukan sekitar 15 sampai 20 menit setiap harinya, agar para budayawan, sastrawan, dan sejenisnya bisa tetap sehat dan bugar dalam menjalani aktivitas pelestarian budaya di manapun dan kapanpun. (zk)

BANTUL – Selasa Sastra kembali hadir pada edisi Juni 2026 di Kelingan Garden & Cafe, Selasa (2/6/2026).

Dalam edisi kali ini, Selasa Sastra mengambil tema “Janji di Bulan Juni”. Tema ini mengacu pada bagaimana agar setiap orang selalu berkomitmen terhadap janji yang pernah disampaikan, dan berusaha untuk menepatinya, baik di bulan Juni maupun bulan-bulan lainnya.

Berikut adalah sejumlah keseruan yang terjadi dalam kegiatan Selasa Sastra tersebut. (Foto: Azka Qintory)

 

 

BANTUL – Selasa Sastra kembali hadir pada edisi Juni 2026 di Kelingan Garden & Cafe, Selasa (2/6/2026).

Dalam edisi kali ini, Selasa Sastra mengambil tema “Janji di Bulan Juni”.

Tema ini sengaja dipilih, sebagai cara untuk mengingat kembali setiap janji yang pernah disampaikan, baik itu di bulan Juni maupun bulan-bulan lainnya, sehingga ada semacam aksi yang harus dilakukan, untuk menepati setiap janji tersebut.

“.Setiap orang kan pasti punya banyak keinginan, punya cita-cita, nah di momentum Selasa Sastra bulan Juni ini, diharapkan setiap orang akan selalu setia (komitmen) terhadap janjinya masing-masing, dan mencapai seluruh cita-cita yang diimpikan,” ungkap Direktur Komunitas Selasa Sastra, Tedi Kusyairi, saat ditemui di Kelingan Garden & Cafe, Selasa (2/6/2026).

Selain itu, kehadiran Selasa Sastra juga diharapkan mampu menjembatani setiap janji yang pernah terucap, salah satunya melalui pembacaan puisi atau karya sastra lainnya, kepada audiens yang menyaksikan langsung di Kelingan Garden & Cafe, maupun yang menonton siaran langsung di kanal YouTube Bang Tedi Way secara live streaming, dan seterusnya.

“Tentunya momentum Selasa Sastra juga bisa menjadi bagian dari bagaimana orang-orang yang terlibat dalam kegiatan ini, mampu mencapai tujuan dalam hidupnya, terkait janji-janji personalnya dan lain-lain,” tambah Tedi.

Terdapat beberapa penampilan sastra spesial yang hadir dalam Selasa Sastra edisi “Janji di Bulan Juni” kali ini, di antaranya dari Tedi Kusyairi, Mirna Radilla, Sunawi, Fathia Jayanti, Nur Budi, dan masih banyak lagi.

Tidak hanya penampilan sastra, Selasa Sastra edisi Juni 2026 ini juga menghadirkan sesi diskusi sekaligus launching dua antologi cerpen, masing-masing berjudul Pencuri di Bulan Suci karya Salwa Aulia Az-zahra, dan Sinden Terakhir karya Siti Maha Dana, (zk)

BANTUL – Selama enam hari, mulai dari 25 hingga 30 April 2026, bertempat di Bejen Sinemacamp Bantul (Kelingan Garden & Cafe), Forum Desa Sinema berkolaborasi dengan berbagai komunitas film desa di Jateng-DIY, yakni Komunitas Film Magelang, Komunitas Film Klaten, Produksi Film Dinas Kebudayaan DIY, produksi film Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah X, Komunitas Film Mahasiswa ISI Yogyakarta, dan Paguyuban Sineas Bantul, untuk mengadakan acara nonton bareng (nobar) film-film pendek yang merupakan hasil karya mereka dalam beberapa tahun terakhir, yang telah dikurasi oleh masing-masing komunitas, dan kemudian dikurasi lagi oleh tim dari Forum Desa Sinema.

Acara nobar ini dikemas dalam sebuah kegiatan bertajuk “Pekan Sinema Desa”.

Pekan Sinema Desa sendiri merupakan rangkaian kegiatan berupa ‘Kelas Film Making‘ untuk anak muda desa, pelajar, dan masyarakat umum.

Ketua Forum Desa Sinema, Haryanto, mengaku bangga dengan penyelenggaraan Pekan Sinema Desa kali ini, karena antusiasme peserta sangatlah luar biasa.

“Saya merasa bangga karena ternyata antusias peserta lumayan banyak. Dimana acara ini diikuti oleh hampir 30 peserta, dengan 80% diantaranya selalu mengikuti kegiatan secara aktif, datang dan melakukan tugas kelas,” kata Haryanto di sela-sela kegiatan, Kamis (30/4/2026).

Meskipun berlokasi di Bantul, peserta kelas film making yang hadir ternyata tidak hanya berasal dari Bantul saja, melainkan juga berasal dari Sleman, Rongkop Gunung Kidul, Magelang, dan kota Yogyakarta.

Beberapa diantaranya bahkan ada yang bersedia menginap atau ngelaju secara mandiri, meskipun panitia tidak menyiapkan fasilitas uang transport.

Adapun sesi kelas film making ini diampu oleh Tedi Kusyairi, Naufal Cakradara, Agung Lilik Prasetyo, dan Fitria Eranda.

Kegiatan yang tersaji dalam Pekan Sinema Desa tidak hanya berupa kelas film making maupun nobar saja. Ada pula agenda diskusi film desa dalam berbagai perspektif yang beragam, dengan menghadirkan narasumber seperti Yoga Cinematani, Tedi Kusyairi, Aswarun Barera, Gepeng Nugroho, Aan Rahmanto, Ninda Filasputri, Ridho Darusman, Shafa, Bakti Saputra, Yulius P. Jati, Tonny Trimarsanto, dan Ahmad Yani.

Sebelum melakukan sesi diskusi mengenai dunia perfilman di desa dalam berbagai perspektif, film-film yang sudah dikurasi tadi di-screening (nobar) di hadapan seluruh peserta, untuk bisa dinikmati dan dinilai bersama-sama.

“Pekan Sinema Desa menjadi wadah bertemunya filmaker yang berbasis di desa dengan masyarakat apresiannya, sehingga bisa meningkatkan daya saing hasil karya film di desa untuk jangkauan yang lebih luas,” tambah Haryanto.

Melalui seluruh rangkaian ini, diharapkan para sineas atau filmaker yang berbasis di desa akan menjadi lebih kreatif dan mandiri dalam berkarya, sekaligus mampu mendistribusikannya kepada masyarakat luas.

“Umumnya produk film yang dibuat temen-temen desa ditujukan untuk mengikuti kegiatan seperti pembinaan dinas atau perlombaan festival, kemudian setelah itu hanya tersimpan saja di komputer maupun hape. Padahal film itu harusnya bisa ditemukan dengan publiknya (audiens), diapresiasi, dan jadi bagian riset atas dinamika sosial, untuk itulah kegiatan ini diupayakan oleh Forum Desa Sinema,” tegas Haryanto.

Sementara itu, Tedi Kusyairi selaku pendiri Forum Desa Sinema, berharap agar gerakan sinema di desa bisa terus berjalan dan konsisten memberikan dampak yang nyata bagi masyarakat sekitar.

“Sejak tahun 2007 hingga kini sudah banyak inisiasi yang dilakukan, seperti membuat organisasi Sineas Muda Bantul (OKP-Organisasi Kemasyarakatan Pemuda), Sineas Muda Indonesia (polrigram film Karang Taruna), program rutin Selasa Sinema, menginisiasi Paguyuban Sineas Bantul (tahun 2017), hingga mendorong lahirnya kampung sinema seperti Polaman Kampung Sinema, dan lain-lain. Semoga jejaring semacam ini bisa terus berjalan secara kolaboratif, dalam kerja bareng memajukan perfilman dengan sudut pandang dari masyarakat desa,” kata Tedi Kusyairi. (tks/zk)

BANTUL – Forum Desa Sinema berkolaborasi dengan berbagai komunitas film desa di Jateng-DIY, untuk mengadakan kegiatan pembelajaran pembuatan film berbasis masyarakat desa, sekaligus acara nonton bareng (nobar) film-film pendek yang telah diproduksi oleh berbagai komunitas tersebut, yang dikemas dalam sebuah kegiatan bertajuk “Pekan Sinema Desa”, yang dilangsungkan di Bejen Sinemacamp Bantul (Kelingan Garden & Cafe), mulai 25 hingga 30 April 2026.

Berikut adalah berbagai keseruan yang terjadi selama pelaksanaan Pekan Sinema Desa tersebut. (Foto: Tedi Kusyairi)