BANTUL –  Kegiatan melestarikan budaya memang menyenangkan bagi sebagian orang, terutama bagi mereka yang benar-benar menyukainya, sekaligus menggelutinya sebagai bagian dari mata pencaharian sehari-hari.

Namun, masih banyak orang yang lupa menjaga kesehatan tubuh dan pikirannya, ketika melakukan aktivitas pelestarian kebudayaan tersebut.

Untuk itulah, Dinas Kebudayaan DIY bersama Kelingan Garden & Cafe dan budayawan Fajar Suharno, berinisiatif menyelenggarakan kegiatan “Sambang Komunitas”, beberapa waktu lalu, sebagai salah satu upaya untuk dapat melestarikan kebudayaan, sambil tetap menjaga kesehatan diri.

Karena kegiatan pelestarian budaya juga tidak akan mampu berjalan optimal, apabila tubuh tidak fit, dan pikiran juga kurang rileks.

Dalam kesempatan tersebut, Fajar Suharno yang telah berusia 81 tahun, sempat menimba ilmu di PGB (Persatuan Gerak Badan) Bangau Putih di Bogor, Jawa Barat, tentang bagaimana melakukan gerak olah tubuh yang tepat, untuk dapat menjaga kesehatan meski sudah berusia senja.

“Saya bukanlah seorang paramedis, saya juga bukan dokter, saya bukan sarjana biologi, tapi saya hanya sebagai murid di PGB (Persatuan Gerak Badan) Bangau Putih di Bogor, yang pernah mengajarkan kepada saya tentang menjaga kesehatan melalui gerak olah tubuh, yang masih terus saya praktekkan sampai saat ini,” tutur Fajar Suharno, dalam pemaparannya di Kelingan Garden & Cafe, Kamis (25/6/2026).

Salah satu aspek yang turut menjadi perhatian seorang Fajar Suharno adalah pernapasan. Karena pernapasan adalah aktivitas alami manusia yang dilakukan setiap harinya, tanpa pernah diajarkan oleh siapapun.

Namun, apabila pernapasan terhambat atau mengalami masalah, seluruh aktivitas bisa terganggu, masuk rumah sakit, bahkan sampai meninggal dunia. Padahal ketika masih sehat, aktivitas bernapas seperti dianggap enteng begitu saja, lantaran sudah biasa dilakukan sejak lahir.

“Menurut saya napas itu adalah sesuatu yang bukan main (pentingnya untuk manusia). Padahal selama ini kita menganggap napas adalah sesuatu yang biasa-biasa saja. Napas itu sesuatu yang sudah diterima dan tidak perlu dipersoalkan. Sementara dalam mekanisme berlatih (yang diajarkan di PGB Bangau Putih), ternyata napas memegang peranan yang sangat penting terkait bagaimana kita menjalani hidup ini,” sambung Fajar.

Di akhir acara, Fajar pun memberikan praktik langsung bagaimana menerapkan gerakan relaksasi olah tubuh yang bisa dilakukan di rumah, hanya dengan memanfaatkan badan sendiri.

Seluruh gerakan tersebut cukup dilakukan sekitar 15 sampai 20 menit setiap harinya, agar para budayawan, sastrawan, dan sejenisnya bisa tetap sehat dan bugar dalam menjalani aktivitas pelestarian budaya di manapun dan kapanpun. (zk)

BANTUL – Selasa Sastra kembali hadir pada edisi Juni 2026 di Kelingan Garden & Cafe, Selasa (2/6/2026).

Dalam edisi kali ini, Selasa Sastra mengambil tema “Janji di Bulan Juni”. Tema ini mengacu pada bagaimana agar setiap orang selalu berkomitmen terhadap janji yang pernah disampaikan, dan berusaha untuk menepatinya, baik di bulan Juni maupun bulan-bulan lainnya.

Berikut adalah sejumlah keseruan yang terjadi dalam kegiatan Selasa Sastra tersebut. (Foto: Azka Qintory)

 

 

BANTUL – Selasa Sastra kembali hadir pada edisi Juni 2026 di Kelingan Garden & Cafe, Selasa (2/6/2026).

Dalam edisi kali ini, Selasa Sastra mengambil tema “Janji di Bulan Juni”.

Tema ini sengaja dipilih, sebagai cara untuk mengingat kembali setiap janji yang pernah disampaikan, baik itu di bulan Juni maupun bulan-bulan lainnya, sehingga ada semacam aksi yang harus dilakukan, untuk menepati setiap janji tersebut.

“.Setiap orang kan pasti punya banyak keinginan, punya cita-cita, nah di momentum Selasa Sastra bulan Juni ini, diharapkan setiap orang akan selalu setia (komitmen) terhadap janjinya masing-masing, dan mencapai seluruh cita-cita yang diimpikan,” ungkap Direktur Komunitas Selasa Sastra, Tedi Kusyairi, saat ditemui di Kelingan Garden & Cafe, Selasa (2/6/2026).

Selain itu, kehadiran Selasa Sastra juga diharapkan mampu menjembatani setiap janji yang pernah terucap, salah satunya melalui pembacaan puisi atau karya sastra lainnya, kepada audiens yang menyaksikan langsung di Kelingan Garden & Cafe, maupun yang menonton siaran langsung di kanal YouTube Bang Tedi Way secara live streaming, dan seterusnya.

“Tentunya momentum Selasa Sastra juga bisa menjadi bagian dari bagaimana orang-orang yang terlibat dalam kegiatan ini, mampu mencapai tujuan dalam hidupnya, terkait janji-janji personalnya dan lain-lain,” tambah Tedi.

Terdapat beberapa penampilan sastra spesial yang hadir dalam Selasa Sastra edisi “Janji di Bulan Juni” kali ini, di antaranya dari Tedi Kusyairi, Mirna Radilla, Sunawi, Fathia Jayanti, Nur Budi, dan masih banyak lagi.

Tidak hanya penampilan sastra, Selasa Sastra edisi Juni 2026 ini juga menghadirkan sesi diskusi sekaligus launching dua antologi cerpen, masing-masing berjudul Pencuri di Bulan Suci karya Salwa Aulia Az-zahra, dan Sinden Terakhir karya Siti Maha Dana, (zk)

BANTUL – Selama enam hari, mulai dari 25 hingga 30 April 2026, bertempat di Bejen Sinemacamp Bantul (Kelingan Garden & Cafe), Forum Desa Sinema berkolaborasi dengan berbagai komunitas film desa di Jateng-DIY, yakni Komunitas Film Magelang, Komunitas Film Klaten, Produksi Film Dinas Kebudayaan DIY, produksi film Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah X, Komunitas Film Mahasiswa ISI Yogyakarta, dan Paguyuban Sineas Bantul, untuk mengadakan acara nonton bareng (nobar) film-film pendek yang merupakan hasil karya mereka dalam beberapa tahun terakhir, yang telah dikurasi oleh masing-masing komunitas, dan kemudian dikurasi lagi oleh tim dari Forum Desa Sinema.

Acara nobar ini dikemas dalam sebuah kegiatan bertajuk “Pekan Sinema Desa”.

Pekan Sinema Desa sendiri merupakan rangkaian kegiatan berupa ‘Kelas Film Making‘ untuk anak muda desa, pelajar, dan masyarakat umum.

Ketua Forum Desa Sinema, Haryanto, mengaku bangga dengan penyelenggaraan Pekan Sinema Desa kali ini, karena antusiasme peserta sangatlah luar biasa.

“Saya merasa bangga karena ternyata antusias peserta lumayan banyak. Dimana acara ini diikuti oleh hampir 30 peserta, dengan 80% diantaranya selalu mengikuti kegiatan secara aktif, datang dan melakukan tugas kelas,” kata Haryanto di sela-sela kegiatan, Kamis (30/4/2026).

Meskipun berlokasi di Bantul, peserta kelas film making yang hadir ternyata tidak hanya berasal dari Bantul saja, melainkan juga berasal dari Sleman, Rongkop Gunung Kidul, Magelang, dan kota Yogyakarta.

Beberapa diantaranya bahkan ada yang bersedia menginap atau ngelaju secara mandiri, meskipun panitia tidak menyiapkan fasilitas uang transport.

Adapun sesi kelas film making ini diampu oleh Tedi Kusyairi, Naufal Cakradara, Agung Lilik Prasetyo, dan Fitria Eranda.

Kegiatan yang tersaji dalam Pekan Sinema Desa tidak hanya berupa kelas film making maupun nobar saja. Ada pula agenda diskusi film desa dalam berbagai perspektif yang beragam, dengan menghadirkan narasumber seperti Yoga Cinematani, Tedi Kusyairi, Aswarun Barera, Gepeng Nugroho, Aan Rahmanto, Ninda Filasputri, Ridho Darusman, Shafa, Bakti Saputra, Yulius P. Jati, Tonny Trimarsanto, dan Ahmad Yani.

Sebelum melakukan sesi diskusi mengenai dunia perfilman di desa dalam berbagai perspektif, film-film yang sudah dikurasi tadi di-screening (nobar) di hadapan seluruh peserta, untuk bisa dinikmati dan dinilai bersama-sama.

“Pekan Sinema Desa menjadi wadah bertemunya filmaker yang berbasis di desa dengan masyarakat apresiannya, sehingga bisa meningkatkan daya saing hasil karya film di desa untuk jangkauan yang lebih luas,” tambah Haryanto.

Melalui seluruh rangkaian ini, diharapkan para sineas atau filmaker yang berbasis di desa akan menjadi lebih kreatif dan mandiri dalam berkarya, sekaligus mampu mendistribusikannya kepada masyarakat luas.

“Umumnya produk film yang dibuat temen-temen desa ditujukan untuk mengikuti kegiatan seperti pembinaan dinas atau perlombaan festival, kemudian setelah itu hanya tersimpan saja di komputer maupun hape. Padahal film itu harusnya bisa ditemukan dengan publiknya (audiens), diapresiasi, dan jadi bagian riset atas dinamika sosial, untuk itulah kegiatan ini diupayakan oleh Forum Desa Sinema,” tegas Haryanto.

Sementara itu, Tedi Kusyairi selaku pendiri Forum Desa Sinema, berharap agar gerakan sinema di desa bisa terus berjalan dan konsisten memberikan dampak yang nyata bagi masyarakat sekitar.

“Sejak tahun 2007 hingga kini sudah banyak inisiasi yang dilakukan, seperti membuat organisasi Sineas Muda Bantul (OKP-Organisasi Kemasyarakatan Pemuda), Sineas Muda Indonesia (polrigram film Karang Taruna), program rutin Selasa Sinema, menginisiasi Paguyuban Sineas Bantul (tahun 2017), hingga mendorong lahirnya kampung sinema seperti Polaman Kampung Sinema, dan lain-lain. Semoga jejaring semacam ini bisa terus berjalan secara kolaboratif, dalam kerja bareng memajukan perfilman dengan sudut pandang dari masyarakat desa,” kata Tedi Kusyairi. (tks/zk)

BANTUL – Forum Desa Sinema berkolaborasi dengan berbagai komunitas film desa di Jateng-DIY, untuk mengadakan kegiatan pembelajaran pembuatan film berbasis masyarakat desa, sekaligus acara nonton bareng (nobar) film-film pendek yang telah diproduksi oleh berbagai komunitas tersebut, yang dikemas dalam sebuah kegiatan bertajuk “Pekan Sinema Desa”, yang dilangsungkan di Bejen Sinemacamp Bantul (Kelingan Garden & Cafe), mulai 25 hingga 30 April 2026.

Berikut adalah berbagai keseruan yang terjadi selama pelaksanaan Pekan Sinema Desa tersebut. (Foto: Tedi Kusyairi)

 

 

 

BANTUL – Dari seluruh fase kehidupan, bisa dibilang fase remaja adalah periode terindah yang pernah dialami oleh manusia. Sebab usia remaja (10-18 tahun) merupakan masa-masa di mana manusia sedang dalam pencarian jati diri, transisi menuju kedewasaan, mulai merasakan jatuh cinta, serta munculnya pertemanan yang solid.

Poin terakhir menjadi salah satu titik krusial, karena pertemanan yang solid akan mampu menghasilkan kreativitas-kreativitas baru, kegiatan menarik, maupun perbincangan terkait masa depan yang tiada habisnya.

Setidaknya itulah yang menjadi pemikiran dari sejumlah siswi di Madrasah Aliyah (MA) Pamulangan, Godean, Sleman.

Pertemanan yang solid di antara mereka telah mampu menghasilkan karya sastra, yang dapat menggambarkan realitas kehidupan pertemanan mereka sebagai pertemanan yang “berisik”.

Sampai akhirnya pertemanan mereka sanggup melahirkan sebuah antologi puisi berjudul Berbisik di Balik Bilik.

Dalam kegiatan Selasa Sastra spesial hari Kartini lalu yang bertajuk “Memburu Biru, Mengeja Senja” dan berlangsung di Kelingan Garden & Cafe, Bejen, Bantul, belum lama ini, para pembuat antologi puisi ini menceritakan lika-liku perjuangan mereka menghasilkan buku tersebut yang ditulis hanya dalam waktu dua bulan.

“Kami itu aslinya orang-orang yang berisik banget, suka nelponin Pak Eka (desainer cover buku dan pemberi ide judul Berbisik di Balik Bilik) buat VC (Video Call). Apalagi lokasi kelas kita juga di paling pojok, dan isinya perempuan semua,” ungkap Elisa Sevy Geanica, salah satu penulis antologi puisi ini.

Meskipun mereka adalah kumpulan orang-orang yang “berisik”, namun kata “berbisik” lebih dipilih untuk mewakili judul buku, lantaran berisiknya mereka adalah sesuatu yang hanya terjadi di kelas itu saja, dan tidak diketahui sama sekali oleh orang-orang di luar mereka.

Selain itu, kata “berisik” juga dianggap kurang etis jika digunakan sebagai terminologi sebuah judul buku. Namun ketika ditambah huruf ‘b’ (menjadi “berbisik”), makna yang terbangun menjadi lebih puitis, sekaligus mewakili suasana yang lebih intim.

Sementara penulis lainnya, Yanuwarin Waastuti, mengatakan, bahwa setelah ia menjalani proses penulisan puisi dalam buku ini, ia bisa merasakan kelegaan di dalam hatinya. Karena di situlah ia mampu menuangkan apa yang menjadi isi hatinya, sekaligus ungkapan kasih sayang terhadap orang-orang yang telah berjasa di dalam hidupnya.

“Iya, menulis puisi dalam buku ini bikin saya jadi banyak lega. Karena di sini saya mampu mengungkapkan perasaan saya kepada orang-orang yang berjasa di hidup saya, terutama keluarga. Jadi menulis puisi sangatlah membantu sekali,” ujar Yanuwarin Waastuti, pada kesempatan yang sama.

Sementara bagi Endang Winarsih, sebagai guru pembimbing mereka dalam berkarya, mengatakan bahwa anak-anak harus mampu menciptakan karya sastra maupun tulisan mereka sendiri, sehingga tidak perlu lagi menjadi “penonton” bagi karya sastra orang lain, baik sebagai referensi bacaan dan lain sebagainya.

“Jadi saya memang menuntut anak-anak untuk ‘ayo dong masa sih kalian cuman membaca karya orang terus?’ Ayolah, sekarang giliran karya kalian yang dibaca orang. Sehingga kalian yang akan jadi objeknya, bukan lagi cuma subjeknya saja’,” kata Endang Winarsih.

Sesi bedah buku antologi puisi berjudul Berbisik di Balik Bilik ini merupakan salah satu rangkaian dari kegiatan Selasa Sastra edisi spesial Kartini bertajuk “Memburu Biru, Mengeja Senja”, yang berlangsung di Kelingan Garden & Cafe, Bejen, Bantul, belum lama ini.

Selain bedah buku, ada pula pertunjukan sastra spesial dari para siswi MA Pamulangan, dan masih banyak lagi. (zk)

BANTUL – Bertempat di Kelingan Garden & Café Bejen Bantul, DPD KNPI Kabupaten Bantul melaksanakan kegiatan syawalan dan rapat koordinasi program kerja tahun 2026 hari Jumat (10/4/2026), dihadiri jajaran pengurus, Disdikpora Bantul, Majelis Pemuda Indonesia, dan alumni kepengurusan sebelumnya.

Agenda syawalan dihelat pada bulan ini mengingat masih masuk waktunya untuk silaturahim dan saling memaafkan pasca lebaran 1447 H. selanjutnya agenda berupa rapat koordinasi kegiatan yang akan dilaksanakan DPD KNPI Kabupaten Bantul.

Agenda terdiri dalam beberapa sesi, sesi pertama diisi oleh Ketua DPD KNPI Kabupaten Bantul, kawan Durori, dilanjutkan pengarahan dari Kabid Pora Disdikpora Kabupaten Bantul Titik Zunaidah, dan DPRD DIY Arni Tyas Palupi.

Durori menyampaikan bahwa sebagai organisasi kepemudaan maka KNPI harus memiliki rasa peka terhadap isu lingkungan dan sosial, ini bisa menjadi salah satu bagian program kegiatan yang dikerjakan pemuda.

“Sebagai contoh nanti akan kita lakukan simbolis penanaman pohon buah, untuk penghijauan, dimana kondisi alam yang mengalami pemnasan global, sehingga peran kita salah satunya bagaimana mengolah lahan menjadi lebih subur dan hijau,” kata Durori.

Selain memaparkan kegiatan pembinaan kepemudaan yang dilakukan oelh Disdikpora Kabuapten Bantul, Titik Zuanaidah juga menyampaikan bahwa kegiatan kepemudaan itu sangat penting, sebagai bentuk regenerasi kepemimpinan bangsa, maka apa yang dilakukan pemuda untuk menjaga lingkungan itu penting dan perlu di dukung.

“Menyoal isu lingkungan tadi, memang sangat tepat jika para pemuda melakukan aksi peduli lingkungan, selain tanam pohon, kita juga harus melihat mengenai kebersihan lingkungan, sampah merupakan problem sosial masyarkat, tidak hanya di sungai yang banyak sampahnya, tapi juga di kebun dan jalan, ini perlu kepedulian para pemuda,” kata Titik Zunaidah.

Kegiatan dilanjutkan dengan penyerahan tanaman ke perwakilan tamu undangan untuk ditanam di rumah, dilanjutkan simbolis penanaman pohon buah di lingkungan Kelingan Garden & Café. Usai itu dilanjutkan sesi diskusi menyoal kepemudaan dan program kerja dengan narasumber Ahmad Sudrajat, sekjen KNPI Bantul, Muhammad Farid Hadiyanto Ketua MPI (Majelis Pemuda Indonesia) Kabupaten Bantul, dan Arni Tyas Palupi DPRD DIY.

Sudrajat mengatakan bahwa dalam organisasi banyak dinamika antar pengurus dan anggota, sehingga kegiatan KNPI Bantul khususnya menghadapi beberapa kendala yang harus disiasati bersama.

“Periode kepengurusan ini mungkin kurang maksimal, bukan hanya karena suport system yang masih minim, namun memang banyak kendala antar pengurus dan anggota, salah satunya kurangnya kegiatan dan koordinasi, ini kedepan akan diperbaiki,” kata Sudrajat.

Lanjut Arni Tyas Palupi yang mengedepankan aspek regenerasi kepemudaan, dimana salah satu tujuan organisasi kepemudaan, OKP salah satunya, Organisasi Kemasyarakatan Pemuda memang menjadi wadah bagi regenerasi kepemimpinan di masyarakat.

“Harapannya dengan banyaknya kader pemimpin bangsa dari OKP-OKP yang berhimpun di KNPI, bisa membereikan alternatif pemimpin negeri yang lebih baik,” tegas Arni.

Sementara itu M. Farid Hadiyanto lebh menekankan pada tradisi, bahwa KNPI Bantul sampai waktu ini masih dipandang sebagai organisasi KNPI teladan di wilayah DIY, harapannya bisa dipertahankan dan ditingkatkan.

“KNPI Bantul kan masih jadi rujukan untuk KNPI di wilayah lain, karena tertib adminstrasi dan banyak kegiatannya, nah ini potensi positif, sebaiknya tidak hanya dipertahankan, tapi ditingkatkan,” ujar Farid. (TKS)

BANTUL, JT – Rindu tokoh perempuan dalam novel ‘Suara Rindu’ yang ditulis oleh Dila Sari Octaviana, mengalami peristiwa yang sangat tragis, mengalami kekerasan seksual oleh lelaki di rumahnya sendiri. Novel dengan tema kekerasan seksual jarang diangkat oleh penulis pada umumnya. Ada beberapa isu terkait kekerasan seksual dalam novel ini, pemerkosaan sedarah, dan yang menjadi isu hangat mengenai pernikahan siri yang merugikan pihak perempuan.

Dila penulis novel anggota Selasa sastra sudah menerbitkan novel sebelumnya, namun baginya novel ‘Suara Rindu’ menjadi puncak capaian kepenulisannya.

“Jika di buku sebelumnya novel ‘Cinta yang Sebenarnya’, merupakan tulisan di masa muda dulu, dirasa kurang berbobot, di novel inipun awalnya menulis seperti kurang greget, hingga harus melakukan riset lagi untuk memperkuat kisah bagi sang tokoh di novel ini, melihat kenyataan disekitar dan berbagai berita di media mengenai kekerasan seksual dari sudut pandang perempuan, akhirnya meyakinkan diri menyelesaikan novel ini,” kata Dila yang sehari-hari sebagai guru di Informatika dan Seni Budaya di MTs Saintek Nurul Quran HDWR, Brajan, Wonokromo, Pleret, Bantul.

Launching, diskusi dan bedah novel ‘Suara Rindu’ Bunga yang Mekar di Tengah Badai, dihelat dalam agenda rutin Selasa Sastra pada minggu, 15 Februari 2026 mulai pukul 15.30 wib di Kelingan Garden & Café Bantul. Menghadirkan narasumber pembedah buku penulis novel Muyassarotul Hafidzoh yang memang fokus menulis cerita dengan tema kekerasan seksual, selain ia sebagai aktivis advokasi korban kekerasan seksual.

“Saya sangat bangga akhirnya novel ini terbit, karena sedikit novel yang berani mengangkat isu kekerasan seksual, apalagi dari sudut pandang perempuan. Novel ini menarik karena dari sudut pandang korban kekerasan seksual, perempuan khususnya, berani speak up dan kemudian melakukan transformasi diri, menjadi konselor pendamping bagi korban kekerasan seksual,” jelas Muyas panggilan akrabnya.

Nur Hidayat, Lurah Bangunharjo Sewon Bantul yang juga sekretaris PCNU Bantul, merasa bangga oleh Dila yang juga anggota Fatayat NU Bantul.

“Kami bangga, karena ada kader NU yang masuk usia Gen Z, mau membuat karya yang kekinian, ini jarang dilakukan kader NU, menuliskan karya sastra yang berkualitas, semoga karyanya mendunia,” jelas Nur Hidayat.

Selasa Sastra kali ini mengusung tema ‘Tapak Batas Rindu’ berisi pementasan karya sastra oleh Rika Rif’atil Hilmah, Faza Aulia Rahma, Muhammad Ilham Izzul Mutho, Nikta Azilda, Sabatina RW, Bang Tedi Way, dan Muyassarotul Hafidzoh. Selain sastra juga ada musik dari DMR Band, Dikki & Friends, Rhakustik, dan group Kiki Ratna Heri.

“Dila Sari salah satu anggota Selsa Sastra yang sudah lama berkegiatan dan menulis karya sastra, melalui novel yang membahas inner child semoga menjadi kontribusi dalam trauma healing bagi para korban kekerasan seksual, melalui launching ini diharapkan anggota yang lain juga termotivasi menerbitkan buku,” kata Tedi Kusyairi koordinator Selasa Sastra. (*)

BANTUL – Event Selasa Sastra kembali merayakan hari jadinya. Awal Februari 2026 ini menjadi penanda usia Selasa Sastra yang genap berusia satu lusin, atau 12 tahun.

Perayaan ulang tahun ke-12 ini dirayakan secara sederhana, namun tetap dirayakan melalui pertunjukkan sastra, yang dilangsungkan di Kelingan Garden Cafe, Selasa (3/2/2026).

Mengusung tema “Isyarat Awan, Mendung, dan Rintik Hujan”, Selasa Sastra kali ini turut mengundang sejumlah sastrawan ternama yang sudah malang-melintang berkarya di Bantul maupun provinsi DIY, sebut saja Satmoko Budi Santoso, Endang Winarsih, Tedi Kusyairi, Sri Wijayati, Rudiyati, dan masih banyak lagi.

Selain itu Selasa Sastra edisi ulang tahun ke-12 ini juga menampilkan sesi bedah novel, yang kali ini membahas tentang novel ber-genre romansa berjudul “Mendung Yang Singgah Di Matamu” karya Hanif TT.

Noel ini berceria tentang kisah percintaan Arka, yang harus menelan pil pahit akibat terus menerus dikhianati oleh pacar-pacarnya karena berbagai alasan, seperti selingkuh dan seterusnya.

Sesi bedah novel ini sekaligus menjadi launching novel terbitan CV Hidra tersebut ke pasaran. Novel romansa sebanyak 257 halaman ini bisa didapatkan di toko buku maupun marketplace ternama dengan harga Rp84.000. (zk)

BANTUL – Kelingan Garden Cafe menjadi salah satu cafe baru di wilayah Bantul, yang berlokasi di pinggiran Sawah di kawasan Bejen, Bantul kota. Cafe ini resmi dibuka pada tanggal 1 Desember 2025 lalu.

Berawal dari keinginan para pelaku seni-budaya yang ada di Bantul untuk bisa memiliki panggung sendiri dalam berkarya, tanpa perlu menyewa tempat atau berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat yang lain, akhirnya Kelingan Garden Cafe hadir untuk menjawab itu semua. Cafe ini berfokus menyediakan tempat bagi komunitas seni-budaya untuk berkarya, sekaligus menjajakan beberapa kuliner khas cafe pada umumnya.

Salah satu founder Kelingan Garden Cafe, Tedi Kusyairi menyampaikan bahwa cafe ini memang khusus diperuntukan bagi pelaku seni-budaya untuk bisa konsisten berkarya, sehingga tidak perlu khawatir harus menyewa tempat, lobi berlapis-lapis, dan seterusnya.

“Memang sejak awal kami ingin menyediakan tempat yang representatif bagi komunitas seni-budaya khususnya yang ada di Bantul, untuk bisa terus berkarya tanpa harus sewa tempat dan sebagainya,” ujar Tedi yang ditemui dalam acara Selasa Sastra bertema “Harapan Baru Dalam Bersastra” di Kelingan Garden Cafe, Selasa (6/1/2026).

Beberapa menu yang ditawarkan Kelingan Garden Cafe pun cukup beragam, yang dibagi dalam tiga kategori. Diantaranya makanan berat seperti mie goreng, mie rebus, nasi goreng, dan seterusnya. Lalu makanan ringan atau snack seperti kentang goreng, nugget, dan semacamnya, serta minuman yakni kopi sebagai salah satu menu andalan, seperti red velvet, matcha, dan berbagai minuman lainnya. Kelingan Garden Cafe buka setiap harinya mulai pukul 11.00 hingga 21.30 WIB.

Selain cafe dan tempat untuk komunitas seni-budaya, Kelingan Cafe juga bisa digunakan untuk berbagai acara lain di luar seni-budaya, seperti seminar, diskusi publik, hingga yang sifatnya personal seperti perayaan ulang tahun dan juga pesta pernikahan.

Mengingat usianya yang baru satu bulan, Tedi pun merasa cafe ini masih perlu peningkatan dalam beberapa hal.

“Kami masih perlu menambahkan beberapa bangunan agar bisa memberikan kesan estetik sekaligus ciri khas untuk cafe ini, beberapa menu lain juga masih akan ditambahkan, dan tentu saja branding acara-acara yang diselenggarakan disini juga masih perlu diperbanyak lagi,” tambah Tedi.

Beberapa acara unggulan yang sudah rutin diselenggarakan di Kelingan Garden Cafe sejauh ini adalah Selasa Sastra setiap minggu pertama di awal bulan, serta Selasa Sinema di minggu kedua. (zk)