SLEMAN – Mantan Ketua BEM UGM periode 2025-26, Tiyo Ardianto, berkomitmen akan tetap bersuara di berbagai forum, guna mengkritik rezim pemerintahan yang saat ini sedang berkuasa, sekalipun sudah berstatus purna sebagai Ketua BEM UGM.

Menurut Tiyo, tugas untuk bersuara adalah hal yang harus dilakukan sepanjang hayat, dan tidak hanya didasarkan pada saat menduduki jabatan tertentu saja.

“Saya kira bersuara itu adalah tanggung jawab sosial kita sebagai rakyat Indonesia. Kalau misalnya kita melihat rumah kita terbakar, kalau kita diam saja, apa itu namanya kalau bukan bodoh atau kita jadi salah satu bagian yang menyebabkan kebakaran tersebut. Bersuara itu artinya kita ngomong kalau rumah kita terbakar. Bersuara itu artinya kita berusaha supaya rumah yang terbakar itu pada apinya,” ucap Tiyo Ardianto saat ditemui setelah mengisi acara Konferensi “Bangunlah Kekuatan Politik Anak Muda”, yang berlangsung di Selasar Barat Fisipol UGM, Selasa (19/5/2026).

Menurut Tiyo, dengan kondisi bangsa dan negara hari ini, tindakan untuk bersuara menjadi suatu keniscayaan, yang harus terus dilakukan sampai kapanpun.

“Saya kira bersuara itu bukan lagi sebuah pilihan, tapi itu keniscayaan, yang harus dilakukan sampai kapanpun, dengan cara apapun, meskipun sudah tidak lagi menjabat Ketua BEM UGM,” tambah Tiyo.

Usai berstatus purna sebagai Ketua BEM UGM, Tiyo tercatat masih aktif melakukan kegiatan bersuara dan mengkritik pemerintah dalam berbagai forum, salah satunya dalam forum Konferensi ini, yang menjadi tonggak munculnya gerakan anak muda untuk melawan kekuasaan yang sudah terlampau dzalim. (zk)

SLEMAN – Menyempitnya ruang berekspresi dan berpendapat di ruang publik belakangan ini, membuat anak muda, khususnya kalangan mahasiswa, berusaha melawan dengan cara yang lebih elegan.

Mereka turut membangun berbagai jaringan baru di berbagai tempat, untuk menyusun kekuatan baru secara kolektif, sebagai langkah untuk melawan rezim yang berkuasa saat ini.

Atas dasar itulah, POLGOV bersama Social Movement Institute dari Fisipol (Fakultas Ilmu Politik) UGM menyelenggarakan Konferensi bertajuk “Bangunlah Kekuatan Politik Anak Muda!” yang berlangsung di Selasar Barat Fisipol UGM, Selasa (19/5/2026).

Momen ini juga sekaligus menjadi peluncuran dokumenter baru karya Watchdoc dan Dandhy Dwi Laksono (Sutradara Dokumenter ‘Pesta Babi’) berjudul Jalan Pedang.

Film ini mencuplik tentang beberapa sejarah kelam bangsa yang coba dikaburkan oleh para pejabat saat ini, terkait kekejaman para penguasa yang sudah berlangsung sejak puluhan tahun silam.

Konferensi ini menghadirkan tiga orang narasumber, yakni mantan Ketua BEM UGM, Tiyo Ardianto, Guru besar Ilmu Politik, Amalinda Savirani, dan Koordinator Komisi KontraS (Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan), Dimas Bagus Arya.

Ketiganya sepakat bahwa rezim Prabowo-Gibran beserta “antek-anteknya” sudah terlalu offside dalam mengelola negeri ini, sehingga rakyat harus benar-benar melawan dengan sekeras-kerasnya namun tetap dengan cara yang elegan.

Karena sudah sekian lama rakyat diinjak-injak sedemikian rupa oleh penguasa, yang seolah tidak tahu-menahu dengan kondisi sulit yang dialami oleh rakyatnya sendiri.

Ketua Panitia Penyelenggara Konferensi, Nuh Izzul Haq, menyampaikan bahwa konferensi ini adalah bentuk konsolidasi serta membangun solidaritas anak muda, kepada seluruh tahanan politik yang ditangkap dalam rangkaian peristiwa demonstrasi Agustus 2025, dan lain sebagainya.

“Kita mencoba untuk mengkonsolidasikan para anak muda, terutama yang telah ditahan dalam peristiwa Agustus (2025), atau yang telah menjadi tahanan politik. Kita di sini membentuk semacam solidaritas bersama, karena kami merasa bahwa bangsa ini sudah terlalu lama dikuasai dan juga dipimpin oleh generasi yang sudah usang, pemikirannya tidak lagi layak (untuk diterapkan di zaman modern seperti sekarang), miskin akan gagasan, pikirannya tidak ada kebaruan, dan tidak ada progresivitasnya,” ucap Jule, sapaan akrabnya, Selasa (19/5/2026).

Melalui konferensi ini, Jule berharap agar ke depannya anak-anak muda di Indonesia bisa turut mengkonsolidasikan diri, agar berani melawan kekejaman penguasa, dan tidak gentar dengan segala ancaman yang berpotensi terjadi, entah itu diteror, disiram air keras, video medsos-nya (yang berisi kritik terhadap kekejaman penguasa) di-take down oleh Komdigi, dilaporkan ke polisi, dan seterusnya.

“Harapannya konferensi ini bisa menjadi konsolidasi bagi anak-anak muda yang resah dan gelisah melihat kondisi (negara) saat ini. Baik ketika melihat ketidakadilan, melihat ketimpangan, melihat korupsi, kemiskinan, dan semacamnya,” lanjut Jule.

Sementara itu mantan Ketua BEM UGM, Tiyo Ardianto, yang juga salah satu pembicara dalam konferensi ini, mengatakan bahwa konferensi ini adalah momentum yang tepat untuk mempersatukan anak-anak muda, yang pada dasarnya memiliki rasa cinta kepada tanah air yang begitu besar.

“Kita semua sama-sama menyadari bahwa situasi yang terjadi hari ini, baik secara politik maupun ekonomi, itu mau tidak mau memaksa anak-anak muda untuk melakukan sesuatu yang lebih besar dari yang selama ini sudah pernah dilakukan. Karena kekejaman penguasa hari ini, itu lebih (kejam) dari yang sebelumnya, maka perlawanan yang harusnya dilakukan oleh anak-anak muda, mestinya juga lebih (keras) dari yang sebelumnya sudah dilakukan oleh senior-seniornya,” ucap Tiyo Ardianto, saat ditemui seusai acara.

Di tengah berbagai kesulitan dan tantangan yang dihadapi saat ini, Tiyo masih merasa optimis, bahwa anak-anak muda yang bergerak secara kolektif dan mampu membangun kekuatan baru (salah satunya melalui konferensi ini), akan sanggup menjadi penggerak perubahan dalam skala nasional, untuk benar-benar menciptakan “Indonesia baru” yang benar-benar reformatif, dan tidak lagi terjebak dalam bayang-bayang orde baru, oligarki, otoriter, dan semacamnya. (zk)