BANTUL – Yogyakarta atau provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) secara umum, sejak lama sudah dikenal memiliki ekosistem sastra yang cukup baik, dan mampu melestarikannya melalui berbagai event dan komunitas, yang diikuti masyarakat dari lintas generasi, dan seterusnya.

Meski demikian, Yogyakarta justru harus “disalip” oleh ibu kota Jakarta, yang berhasil mendapatkan predikat sebagai kota sastra dunia (city of literature) oleh UNESCO pada akhir 2021 lalu.

Jakarta pun menjadi satu dari 53 kota di seluruh dunia, yang berhasil mendapatkan predikat prestisius ini. Sedangkan di Indonesia, Jakarta adalah satu-satunya kota yang mampu meraih predikat ini.

Hal itu tentu saja tidak mengherankan. Sebab dengan statusnya sebagai ibu kota, Jakarta adalah pusat dari berbagai kegiatan literasi yang ada di Indonesia, dan selalu mendapat dukungan penuh dari pemerintah setempat.

Selain itu, Jakarta juga kerap menyelenggarakan berbagai acara dan festival sastra bertaraf internasional, serta menjadi pusat industri penerbitan dan perbukuan nasional.

Di sisi lain, meskipun ekosistem sastra di Yogya tumbuh dan berkembang dengan cukup baik, namun pemerintah daerah pada saat itu lebih banyak memfokuskan diri pada penetapan Sumbu Filosofis Yogyakarta, sebagai Warisan Budaya Dunia (World Heritage), yang akhirnya disahkan oleh UNESCO pada 2023 lalu.

Melihat dinamika ini, sastrawan asal Bantul, R. Toto Sugiharto, menganggap bahwa Yogya sebetulnya sudah bisa disetarakan dengan Jakarta, untuk bisa menjadi kota kedua di Indonesia yang masuk dalam kategori kota sastra dunia.

Hanya saja, Yogyakarta tetap memiliki sejumlah kekurangan tertentu, jika dibandingkan dengan Jakarta. Karena dengan statusnya sebagai ibu kota, masyarakat dunia pastinya akan lebih melirik Jakarta, sebagai acuan literasi sastra di Indonesia.

Apalagi ketika Jakarta menjadi kota pertama yang meraih predikat kota sastra dunia ini, dan masih satu-satunya hingga saat ini.

“Nah ini ternyata kriterianya (agar Yogyakarta bisa dinobatkan sebagai kota sastra dunia), yaitu kualitas, kuantitas, dan keragaman penerbitan di kota tersebut. Selanjutnya rutin menyelenggarakan acara dan festival sastra yang mempromosikan karya sastra, baik di dalam maupun luar negeri.

Keberadaan perpustakaan, toko buku, dan pusat kebudayaan pemerintah atau swasta, yang melestarikan, mempromosikan, dan menyebarluaskan literatur dalam dan luar negeri,” ucap R. Toto Sugiharto, saat mengisi kegiatan Sambang Komunitas edisi ke-19 yang berlangsung di halaman kompleks Grhtama Pustaka, Banguntapan, Bantul, DIY, Senin (7/9/2026).

Baginya, untuk bisa mensejajarkan diri dengan Jakarta dan 52 kota lainnya di seluruh dunia, Yogyakarta setidaknya perlu lebih banyak mengadakan event-event sastra berbasis internasional.

Dengan begitu, dunia akan melihat bagaimana Yogyakarta benar-benar serius untuk mendapatkan predikat yang satu ini. Sekaligus mampu menjaga predikat ini dengan sebaik-baiknya, serta terus dilestarikan dari generasi ke generasi.

“Nah menurut saya yang perlu diprioritaskan adalah terciptanya atmosfer budaya literasi di kota Yogyakarta, dengan menghidupkan perpustakaan, kalau perlu pelayanan publik dibuka selama 24 jam. kedua, penerjemahan karya sastra penulis dari Yogyakarta ke dalam bahasa asing. Ketiga penyelenggaraan event sastra dan budaya, mulai dari tingkat budaya lokal, berbahasa Jawa, berbahasa Indonesia, maupun berbahasa asing, seperti Inggris, dan yang lainnya, yang terbuka dan bisa diikuti oleh setiap warga negara, baik di wilayah DIY maupun dari pelosok Nusantara,” lanjut R. Toto Sugiharto.

Secara umum, ia juga menyarankan adanya kolaborasi yang solid dari berbagai komunitas, sanggar, maupun lintas generasi yang menjadi pegiat sastra di daerahnya masing-masing.

Sehingga kemudian pihak UNESCO maupun dunia internasional dapat menilai bahwa Yogyakarta merupakan sebuah kota atau wilayah yang “sastra banget”, dan pantas meraih predikat sebagai kota sastra dunia. (zk)

BANTUL – Tak bisa dipungkiri bahwa AI (Artificial Intelligence) adalah sebuah alat yang kini telah menjadi bagian yang tak terpisahkan dalam kehidupan manusia. Tak terkecuali di bidang sastra.

Di bidang sastra, AI mampu menjadi tools yang dapat memudahkan pembuatan karya, memunculkan ide baru, sampai membuat karya akhir, untuk ditampilkan kepada khalayak luas, dan sebagainya.

Hal itu pun turut diamini secara langsung oleh sastrawan asal Bantul, Tedi Kusyairi. Menurutnya, di balik segala pro kontra sampai sekarang, penggunaan AI dalam dunia sastra tetaplah sesuatu yang tidak bisa dihindari, alias menjadi suatu keniscayaan. Karena memang tools ini sudah tersedia di mana-mana.

“Harus diakui bahwa kita memang tidak bisa menghindari AI. Tapi tinggal bagaimana kita sebagai pengampu atau pengajar itu juga mau tidak mau harus ikut bisa (menggunakan AI). Harus lebih tahu, harus adaptasi, harus mengerti, dan juga harus mampu mengajarkan pemahaman bahwa ‘jangan sekadar menggunakan AI sebagai alat, tapi bagaimana kamu sebagai kreator, dalam hal ini dari menuliskan prompt sampai hasil jadinya, itu merupakan tanggung jawabmu sendiri’, seperti itu,” tutur Tedi Kusyairi, saat mengisi kegiatan Sambang Komunitas edisi ke-19 yang berlangsung di halaman kompleks Grhtama Pustaka, Banguntapan, Bantul, DIY, Senin (7/9/2026).

Bagi Tedi, satu hal yang masih menjadi persoalan adalah ketika para sastrawan senior maupun lembaga pendidikan tertentu tidak bisa mendeteksi, apakah karya ini merupakan hasil dari AI atau bukan.

Untuk itu, setiap sastrawan senior maupun lembaga pendidikan sejatinya perlu melakukan semacam training atau pembekalan khusus, agar tidak membebaskan anak-anak muda menggunakan AI secara membabi buta. Namun tetap mengedepankan etika dan tanggung jawab yang sesuai dengan norma profesi, dan lain sebagainya.

“Yang agak repot sebenarnya adalah bagaimana kemudian institusi pendidikan misalnya, untuk membekali bapak-ibu guru, agar bisa ngecek ini produk dari AI atau bukan. Lalu bagaimana training-nya supaya si anak (generasi muda) itu tidak sekadar istilahnya tinggal nge-prompt di AI lalu selesai gitu aja. Enggak. Tapi bagaimana orang itu mampu mempertanggungjawabkan apa yang dia lakukan. Jadi biar etika dan moralitasnya tetap terasah, dan tidak terkesan nggampangke sesuatu,” sambung Tedi.

Melalui kehadiran AI, ada semacam pergeseran nilai dalam membuat sebuah karya sastra, yang seolah bisa dilakukan dengan begitu mudah dan cepat.

Padahal, proses pembuatan karya sastra juga memiliki esensi lain yang tidak kalah penting, dan proses itu harus tetap dialami oleh para generasi muda. Sekalipun mereka sudah begitu dimanjakan dengan kehadiran AI, dan seterusnya. (zk)

BANTUL – Kegiatan Sambang Komunitas kini memasuki edisi yang ke-19, yang dilangsungkan di Halaman Dinas Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah (DPAD DIY), kompleks Grhatama Pustaka, Jalan Janti, Banguntapan, Bantul, Senin (7/9/2026).

Sambang Komunitas #19 kali ini mengambil tema “Mereka-reka Mimpi Jogja sebagai Kota Sastra Dunia”, dengan pemateri R. Toto Sugiharto (redaktur, editor, sastrawan), dan Tedi Kusyairi (penulis, editor, pegiat sastra), dan dipandu oleh moderator Niken Puji Lestari.

Ketika melihat segala potensi dan infrastruktur sastra yang dimiliki Jogja sampai saat ini, Jogja dianggap sudah memiliki segala yang dibutuhkan, untuk bisa menembus dunia internasional lewat bidang sastra.

Apalagi jika melihat dari sisi historis maupun ekosistem yang ada, Jogja sudah dianggap mampu menjadi kiblat sastra nasional. Karena Jogja selalu menjadi rujukan bagi masyarakat dari berbagai daerah, sebagai tempat untuk belajar, menimba ilmu, menambah pengalaman, dan menambah relasi baru melalui bidang yang satu ini.

“Jogja kan punya banyak potensi ya (di bidang sastra). Sastrawannya banyak, terkenal, dan karya sastranya juga banyak, penerbitan banyak, sekolah-sekolah sastra, universitas atau kampus-kampus sastranya juga bagus-bagus dan luar biasa. Lalu komunitas dan sanggar sastranya juga banyak. Anak-anak muda yang suka sastra juga banyak. Nah semua ini kan menjadi sebuah potensi yang bisa kita upgrade lebih jauh,” papar salah satu pembicara, Tedi Kusyairi, saat ditemui di sela-sela acara, Senin (7/9/2026).

Dengan segala potensi dan infrastruktur tersebut, Tedi meyakini bahwa langkah selanjutnya adalah bagaimana menyatukan seluruh elemen pelaku sastra dari berbagai generasi, untuk kemudian bisa menciptakan satu kerjasama yang bersifat kolaboratif, agar dapat membawa Jogja melangkah jauh ke dunia internasional, dan mendapat predikat sebagai “kota sastra dunia”.

“Tentu saja harapan kami agar sastra tidak hanya berhenti di komunitas, atau berhenti di kelompok masing-masing, tapi sastra juga bisa kita kenalkan ke publik yang lebih luas, baik skala nasional maupun internasional. Nah salah satu bentuk yang bisa dikembangkan adalah bagaimana mengkolaborasikan seluruh iklim ekosistem sastra yang ada di Jogja, untuk dapat membuat gerakan sastra bersama-sama (kolaboratif), yang isinya adalah memperkenalkan Jogja sebagai kota sastra dunia.

Selanjutnya bagaimana mengemas setiap karya sastra di Jogja itu agar lebih go international. Misalnya melalui alih media, termasuk diterjemahkan dalam bahasa asing, dijual (ke audiens internasional), membuat event-event (berskala) internasional, dan sebagainya, yang kemudian dapat mengangkat potensi sastra di Jogja,” tambah Tedi.

Di zaman yang serba canggih dan modern seperti saat ini, tentu saja salah satu cara yang paling mudah dilakukan untuk membuat sastra go international adalah terus mem-publish kegiatan sastra di media sosial.

Dengan begitu, dunia akan melihat bagaimana Yogyakarta terus tumbuh dan lestari melalui sastra, yang diharapkan akan mampu menarik minat dunia internasional, untuk mulai mempelajari sastra, mendalami sastra, membuat karya sastra, dan bahkan ikut menjadikan sastra sebagai bagian dari keseharian “para bule” di kehidupan mereka sehari-hari. (zk)

BANTUL – Bekerjasama dengan Dinas Kebudayaan “Kundha Kabudayan” DIY, kegiatan Sambang Komunitas kini memasuki edisi yang ke-19, yang dilangsungkan di Halaman Dinas Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah (DPAD DIY), kompleks Grhatama Pustaka, Jalan Janti, Banguntapan, Bantul, Senin (7/9/2026).

Sambang Komunitas #19 kali ini mengambil tema “Mereka-reka Mimpi Jogja sebagai Kota Sastra Dunia”, dengan pemateri R. Toto Sugiharto (redaktur, editor, sastrawan), dan Tedi Kusyairi (penulis, editor, pegiat sastra), dan dipandu oleh moderator Niken Puji Lestari.

Tema ini mengacu pada peluang besar Yogyakarta, atau Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) secara umum, agar bisa mendunia melalui sastra.

Karena segala infrastruktur sastra dan budaya telah tersedia lengkap di DIY. Tinggal bagaimana menyebarluaskannya ke dunia internasional, alias “sastra go-international”.

Berikut adalah beberapa momen menarik yang terjadi dalam kegiatan Sambang Komunitas tersebut. (Foto: Azka Qintory)