YOGYAKARTA – Perhelatan Festival Ketoprak se-DIY kembali digelar pada tahun ini. Berlokasi di Societet Militair Taman Budaya Yogyakarta (TBY), festival ini kembali diikuti oleh kontingen seluruh kabupaten/kota se-DIY, guna memperebutkan hadiah total 15 juta, piagam, serta piala bergilir.

Penghargaan tidak hanya ditujukan secara kolektif saja, para peserta dari setiap kontingen juga berkesempatan mendapatkan sejumlah penghargaan individu, seperti Sutradara terbaik, penulis naskah terbaik, serta aktor/aktris terbaik, akan mendapatkan trofi, piagam, dan uang pembinaan sebesar 2 juta rupiah. Kemudian ada penata iringan terbaik, pemeran pembantu pria/wanita terbaik, penata busana terbaik, dan penata artistik terbaik, yang akan mendapatkan trofi, piagam, dan uang pembinaan sebesar 1,5 juta rupiah.

Festival ini pun resmi dibuka pada Jumat malam (25/10/2024), dimana kontingen Bantul, Gunungkidul, serta Sleman mengawali penampil festival di hari pertama. Masing-masing menampilkan lakon berjudul Kencana Rupa Wineca (Bantul), Glugut (Gunungkidul), dan Kembang Kesimpar (Sleman).

Kepala Bidang Pemeliharaan dan Pengembangan Adat Tradisi Lembaga Budaya dan Seni, Yuliana Eni Lestari, mengatakan bahwa tujuan diselenggarakannya festival ini adalah sebagai sarana penguatan identitas seni ketoprak, serta penguatan karakteristik ketoprak yang bersumber dari nilai-nilai tradisi yang ada di DIY.

“Melalui festival ini kami ingin memberikan ruang kreatif bagi para seniman dalam mengolah ide, menata, sekaligus menggelar pertunjukan yang dapat memberikan tontonan sekaligus tuntunan kepada masyarakat,” ucap Eni Lestari di Societet Militair TBY, Jumat (25/10/2024).

Sedangkan Kepala Dinas Kebudayaan DIY, Dian Lakshmi Pratiwi, yang juga hadir dalam pembukaan festival ketoprak ini, menyampaikan bahwa festival ini bisa dibilang cukup ikonik dan bersejarah, karena perjalanannya yang cukup panjang, yakni hampir mendekati 50 kali penyelenggaraan.

“Itulah komitmen kami di Pemda DIY (Dinas Kebudayaan DIY) yang bekerjasama dengan Dinas Kebudayaan kabupaten dan kota, untuk selalu mengiringi setiap langkah dan perkembangan dan pertumbuhan ketoprak di DIY, dengan melakukan pembinaan yang sudah dilakukan sejak jauh-jauh hari. Dan anda semua akan menjadi saksi dari hasil pembinaan tersebut,” ucap Dian dalam sambutannya di Societet Militair TBY, Jumat (25/10/2024).

Lebih lanjut, Dian berharap bahwa festival ini dapat semakin berkembang, baik dari segi kualitas maupun kuantitasnya.

“(Kami berharap) semakin banyak pelaku, semakin banyak penulis naskah yang nantinya dapat turut mengembangkan seni ketoprak di DIY.”

“Festival ini jangan hanya dianggap sebagai kompetisi semata, tapi lebih dimaknai sebagai “silaturrahmi budaya”, saling bertemu, yang nantinya akan saling transfer ide dan gagasan, yang dapat memunculkan kreasi baru untuk tahun-tahun selanjutnya,” tambah Dian.

Adapun tema yang dipilih dalam festival ketoprak kali ini adalah Panji Semirang, yang merupakan salah satu bagian dalam Memory of the World oleh UNESCO. Para peserta pun ditantang untuk dapat menerjemahkan karakter Panji Semirang ini dalah cerita lakon ketoprak yang tetap berlandaskan pada budaya dan kearifan lokal.

Festival ini masih akan berlanjut pada hari Sabtu ini (26/20/2024), dimana kontingen dari kabupaten Kulonprogo dan kota Yogyakarta akan menampilkan lakon mereka diatas panggung Societet Militair TBY. Pada hari kedua ini juga akan diumumkan seluruh pemenang, baik dari kategori kelompok maupun individu. (zk)

YOGYAKARTA – Cerita berjudul Ngathabagama dari kabupaten Sleman berhasil meraih juara umum dalam Festival Teater se-DIY tahun 2024. Mereka unggul atas kota Yogyakarta yang meraih peringkat ke-2, kabupaten Bantul di posisi 3, kabupaten Kulon Progo di posisi 4, dan kontingen kabupaten Gunungkidul di posisi terbawah atau ke-5.

Pengumuman itu disampaikan oleh Landung Simatupang, selaku salah satu juri dalam Festival Teater DIY 2024 ini, Minggu malam (20/10/2024) di Societet Taman Budaya Yogyakarta (TBY). Hari Minggu ini juga merupakan hari kedua dari perhelatan Festival Teater DIY 2024 yang berlangsung di TBY, dengan menampilkan kontingen Gunungkidul dan juga kontingen Sleman.

Tidak hanya terkait pemenang kontingen, Landung juga mengumumkan para pemenang individu, mulai dari Sutradara terbaik, penulis naskah terbaik, penata musik terbaik, aktor/aktris terbaik, tata artistik terbaik, serta ansambel terbaik 1 dan 2. Dari beberapa kategori individu tersebut, kabupaten Sleman tercatat masih mendominasi, dengan menyabet penghargaan Sutradara terbaik, artistik terbaik, serta penata musik terbaik.

Selain soal pengumuman pemenang, Nanang Arisona selaku juri utama, menyampaikan bahwa festival ini selayaknya dapat menghidupkan kembali komunitas-komunitas teater di berbagai pelosok daerah, sehingga bibit-bibit baru dapat terus bermunculan.

“Ketika komunitas (teater) di setiap daerah itu tidak tumbuh, maka tidak akan ada satu proses pembelajaran disana, tidak akan ada ruang eksplorasi, dan sebagainya. Maka disitulah kita tidak akan pernah sampai pada satu proses teknis yang kita harapkan bisa mengantarkan pertunjukan ini ke arah yang kita harapkan (memberikan value kepada audience),” kata Nanang di Societet TBY, Minggu (20/10/2024).

Lebih lanjut, Nanang juga mengharapkan agar festival ini tidak hanya menjadi sekedar rutinitas belaka, melainkan juga mampu menumbuhkan pertunjukan seni teater di setiap daerah, melalui kegiatan berbasis komunitas dan seterusnya. (zk)

YOGYAKARTA – Festival Teater tingkat DIY kembali digelar pada tahun 2024 ini. Mengusung tema Panji, yang merujuk pada hasil rumusan kongres Jawa ke-3 di DIY beberapa waktu lalu, Festival kali ini mencoba untuk kembali menguatkan marwah teater sebagai ekspresi budaya, sekaligus sebagai sarana mewujudkan pengembangan dan pemanfaatan teater sebagai sarana pembacaan situasi dan penuturan sejarah.

Festival ini berlangsung di Gedung Societet, Taman Budaya Yogyakarta (TBY), dan digelar selama dua hari, Sabtu dan Minggu (19-20 Oktober 2024), diikuti oleh perwakilan kabupaten/kota se-DIY.

Kepala Dinas Kebudayaan DIY, Dian Lakshmi Pratiwi, dalam sambutannya menyatakan bahwa festival ini merupakan komitmen dari Dinas Kebudayaan seluruh kabupaten/kota di DIY, untuk bersama-sama memelihara SDM di bidang seni budaya khususnya teater.

“Tahapan yang telah dilakukan oleh Kundha Kabudayan di kabupaten/kota, adalah tahapan pembinaan, yang dilakukan mulai dari tingkat lokal, hingga ke tingkat provinsi DIY,” ucap Dian di Societet TBY, Sabtu (19/10/2024).

Lebih lanjut, Dian menyampaikan bahwa pengambilan tema Panji ini diharapkan akan mampu menjadi inspirasi bagi seluruh masyarakat, yang dapat dikontekstualisasikan dalam kehidupan bermasyarakat sehari-hari.

“Kami harapkan tema Panji ini akan menjadi sumur ide dan gagasan, yang dapat dikontekstualisasi dengan fenomena kehidupan sosial budaya di masyarakat saat ini,” tambah Dian.

Festival ini memperebutkan hadiah Piala bergilir, piagam, trofi dan uang pembinaan sebesar 15 juta rupiah untuk juara 1, 14 juta rupiah untuk juara 2, 13 juta rupiah untuk juara 3, 12 juta rupiah untuk juara 4, dan 11 juta rupiah untuk peringkat ke-5 atau yang terbawah.

Penghargaan tidak hanya ditujukan untuk kontingen (kolektif) saja, karena beberapa individu terpilih juga berkesempatan mendapatkan sejumlah penghargaan, diantaranya penulis naskah terbaik, Sutradara terbaik, penata musik terbaik, penata artistik terbaik, aktor/aktris terbaik, serta ensamble terbaik 1 dan 2, akan memperoleh masing-masing piagam, trofi dan uang pembinaan sebesar 1,5 juta rupiah.

Pada hari pertama ini, Sabtu (19/10/2024), terdapat tiga kontingen yang menampilkan performance-nya, yakni dari kontingen Kabupaten Bantul, Gunungkidul, dan kota Yogyakarta. Sementara untuk kontingen Gunungkidul dan Sleman akan melakukan aksi teatrikal-nya pada keesokan harinya, Minggu (20/10/2024) masih di tempat yang sama. (zk)