YOGYAKARTA – Sastra Bulan Purnama (SPB) kembali hadir dalam edisi yang ke-176 pada Sabtu (23/5/2026), bertempat di Museum Sandi, Kotabaru, kota Yogyakarta.

Kegiatan ini merupakan rangkaian dari Sosialisasi Empat Pilar Kebangsaan MPR RI, yang berlangsung pada 15 Februari lalu.

Selain itu, kegiatan ini juga sekaligus menjadi momentum peluncuran buku antologi puisi berjudul “Manuskrip Indonesia”, yang diikuti oleh ratusan peserta yang hadir pada acara sosialisasi tersebut, dan telah lolos kurasi oleh tim dewan juri.

“Sore ini, Sastra Bulan Purnama meluncurkan satu buku kumpulan puisi, judulnya “Manuskrip Indonesia”, rangkaian dari Sosialisasi Empat Pilar MPR RI bulan Februari lalu. Kemudian kita teruskan dengan penulisan puisi yang kita beri tema ‘Kebangsaan’, seperti itu,” ungkap Pendiri sekaligus koordinator SBP, Ons Untoro, dalam sambutannya, Sabtu (23/5/2026).

Ons menambahkan, antologi puisi ini merupakan karya pertama yang menjadi “kado” bagi para anggota MPR RI dalam rangkaian sosialisasi empat pilar kebangsaan. Mengingat sebelum-sebelumnya, kegiatan ini hanya berlangsung dalam bentuk pertemuan biasa, lalu setelah itu selesai begitu saja.

“Bagi MPR, setidaknya bagi Wakil Ketua Sosialisasi (Abidin Fikri), buku puisi ini adalah kali pertama setelah sosialisasi ada buku. Karena selama ini kalau habis sosialisasi selesai yaudah mungkin dilupakan. Nah untuk sekarang ada buku yang terbit. Ini adalah sesuatu yang baru bagi MPR,” tambah Ons.

Ke depannya, SBP akan kembali berkolaborasi dengan pihak MPR RI, untuk mengadakan sosialisasi serupa, yang kemudian diikuti dengan penerbitan buku selanjutnya, baik berupa buku puisi lagi, atau buku esai, dan seterusnya. (zk)

YOGYAKARTA – Sastra Bulan Purnama kembali hadir dalam edisi yang ke-176 pada Sabtu (23/5/2026), bertempat di Museum Sandi, Kotabaru, kota Yogyakarta.

Kegiatan ini merupakan rangkaian dari Sosialisasi Empat Pilar Kebangsaan MPR RI, yang berlangsung pada 15 Februari lalu.

Selain itu, kegiatan ini juga sekaligus menjadi momentum peluncuran buku antologi puisi berjudul “Manuskrip Indonesia”, yang diikuti oleh ratusan peserta yang hadir pada acara sosialisasi tersebut, dan telah lolos kurasi oleh tim dewan juri.

Berikut adalah sejumlah keseruan yang terjadi dalam kegiatan Sastra Bulan Purnama tersebut. (Foto: Azka Qintory)

 

 

SLEMAN – Salah satu pilar kebangsaan yang diterapkan di Republik Indonesia, yakni pancasila, merupakan salah satu hal dasar yang selayaknya menjadi dasar hidup berbangsa dan bernegara bagi seluruh rakyat Indonesia. Karena pancasila sendiri merupakan dasar negara Indonesia, yang telah ditetapkan sejak 18 Agustus 1945 silam.

Hanya saja, dalam penerapannya, rakyat Indonesia belum benar-benar menerapkan pancasila itu sendiri, termasuk pemerintahnya. Karena pemerintah selama ini sangat terkenal dengan unsur “kekuasaan”, dan kerap memanfaatkan kekuasannya untuk kepentingannya sendiri.

Dalam sosialisasi empat pilar MPR RI yang berlangsung di Puri Mataram, Minggu (15/2/2026), Wakil Ketua Badan Sosialisasi MPR RI, Abidin Fikri, menyatakan bahwa pancasila memang urusan dari seluruh warga negara Indonesia, termasuk para pejabat itu sendiri.

“Memang sejatinya pancasila itu harus dirumuskan dalam kebijakan politik, karena pada akhrinya kebijakan itu berdampak secara keseluruhan kepada seluruh rakyat Indonesia,” ucap Abidin di Puri Mataram, Minggu (15/2/2026).

Abidin menambahkan, ketika pancasila tidak benar-benar dirumuskan, terutama oleh para pejabat negara, maka yang terjadi adalah pancasila hanya bertindak sebagai ilmu pengetahuan saja.

“Dulu di zaman orde baru, pancasila dikenal dengan istilah BP7 (Badan Pembinaan Pendidikan Pelaksanaan Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila), nah sekarang kan itu nggak ada yang bertanggung jawab. Pedomannya nggak ada, yang dihayati nggak tahu, yang diamalkan apalagi,” tambah Abidin.

Menurut Abidin, pancasila memang seharusnya diperjuangkan oleh seluruh elemen bangsa dan negara, tidak hanya pemerintah semata. Sehingga penerapannya bisa benar-benar sesuai dengan makna dari pancasila itu sendiri, yang sebenarnya begitu filosofis dan sarat akan nilai perjuangan di dalamnya. (zk)