BANTUL – Inspirasi menulis buku bisa lahir dari mana saja, termasuk dari lingkungan sekitar.

Itulah yang menjadi awal mula seorang Djessica Yula, seorang lulusan program Temu Karya Sastra (TKS) dari Dinas Kebudayaan “Kundha Kabudayan” DIY tahun 2023, untuk mulai menerbitkan buku antologi puisi karyanya sendiri, yang berjudul “Upaya untuk Pulang”.

Buku ini merupakan kumpulan puisi yang terinspirasi dari kondisi lingkungan sekitar Djessica, yang penuh dengan hiruk-pikuk dan dinamikanya masing-masing. Sehingga hal itu menurutnya layak dijadikan konten puisi yang ia tulis dalam buku antologi satu ini.

Dalam mencari ide atau inspirasi, Djessica biasanya mendapatkan dari lingkungan di sekitarnya, atau pun ketika ada isu-isu tertentu yang sedang booming di media sosial, dan sebagainya.

Dari situlah, Djessica memulai visualisasi tentang apa-apa saja yang sudah dilihatnya, untuk kemudian dituangkan dalam bentuk tulisan, hingga menghasilkan sebuah karya, seperti buku antologi “Upaya untuk Pulang” yang ikut di-launching pada kesempatan ini.

“Biasanya ketika saya melihat sesuatu di sekitar saya, atau mungkin lingkungan sosial yang sedang naik-naiknya. Dari situ tiba-tiba saja saya langsung nulis (tentang apa yang saya lihat), gitu. Cuman itu timbul karena spontanitas saja, kayak kecewa terhadap sesuatu, atau merasa ‘enggak (gue) banget’ dengan keadaan seperti ini, gitu, dan semacamnya,” papar Djessica Yula, dalam sesi diskusi buku antologi puisi berjudul “Upaya untuk Pulang” di acara Selasa Sastra bertajuk “Sajak-sajak Arah Angin”, yang berlangsung di Kelingan Garden & Cafe, Selasa (7/7/2026).

Dalam perjalanannya menulis buku antologi ini, Djessica banyak menemui sejumlah hambatan, di antaranya sulitnya membagi waktu, menulis yang masih sering dikejar waktu (deadline atau the power of kepepet), distraksi dari ponsel dan piranti digital lainnya, serta tantangan teknis dalam kepenulisan puisi.

“Saya tuh orangnya tipikal deadliners gitu, atau sering menerapkan “the power of kepepet“. Jadi semakin dekat dengan batas deadline itu rasanya jadi semakin mudah (untuk mengerjakan sesuatu). Apalagi kalau mengerjakannya itu di toilet. Malah inspirasinya jadi lebih dapet kalau mengerjakan di situ,” tambah Djessica.

Buku antologi puisi “Upaya untuk Pulang” karya Djessica Yula ini bisa dibeli di beberapa platform, seperti Diandra Kreatif untuk versi cetaknya, atau gramedia.com dan juga bacabuku.com untuk versi E-book atau buku digitalnya.

Selain buku antologi puisi berjudul “Upaya untuk Pulang” karya Djessica Yula, sesi diskusi yang sama juga membedah buku antologi puisi lainnya yang berjudul “Perjalanan Menuju-Mu”. Buku ini juga merupakan karya dari salah satu lulusan program TKS lainnya, yakni Winda Cahyati. (zk)

BANTUL – Ada banyak cara yang bisa dilakukan untuk menuliskan pengalaman hidup, salah satunya melalui kumpulan antologi puisi.

Oleh sebab itulah, menjadi cara yang dilakukan oleh seorang Winda Cahyati, salah satu lulusan program Temu Karya Sastra (TKS) dari Dinas Kebudayaan “Kundha Kabudayan” DIY tahun 2025, yang baru saja me-launching buku antologi puisi terbarunya yang berjudul “Perjalanan Menuju-Mu”.

Bagi Winda, setiap manusia pasti memiliki perjalanan hidup yang berbeda-beda. Namun apapun dan bagaimanapun perjalanan tersebut dilalui, semuanya pasti akan tetap kembali kepada-Nya, sebagai tujuan akhir dari seluruh kehidupan.

“Jadi buku ‘Perjalanan Menuju-Mu’ ini memang terdiri dari beberapa chapter atau suatu perjalanan gitu. Bahwa di dalam hidup ini kita akan mengalami beberapa fase (perjalanan hidup), dan kita tidak boleh lupa bahwa tujuan akhir kita itu adalah Tuhan, seperti itu,” ungkap Winda Cahyati, dalam sesi diskusi buku di acara Selasa Sastra bertajuk “Sajak-sajak Arah Angin” yang berlangsung di Kelingan Garden & Cafe, Bejen, Bantul, Selasa (7/7/2026).

Adapun buku “Perjalanan Menuju-Mu” ini merupakan karya tunggal pertama seorang Winda Cahyati. Selebihnya ia hanya berkontribusi dalam antologi kolektif bersama teman-teman lainnya di berbagai tempat.

“Untuk antologi puisi mandiri atau karya sendiri, buku ini (Perjalanan Menuju-Mu) ini baru yang pertama kali. Tapi memang sebelumnya sudah pernah menerbitkan beberapa antologi bersama, gitu. Pernah juga diterbitkan di koran, waktu itu,” sambung Winda.

Bagi Winda, proses membuat puisi sama halnya dengan meluapkan sesuatu, alias “curhat” tentang keresahan pribadi. Sehingga antologi puisi ciptaannya ini merupakan bagian dari isi hatinya, yang kemudian dituangkan dalam bentuk buku antologi puisi.

Selain buku antologi puisi berjudul “Perjalanan Menuju-Mu” karya Winda Cahyati, sesi diskusi yang sama juga membedah buku antologi puisi lainnya yang berjudul “Upaya untuk Pulang”. Buku ini juga merupakan karya dari salah satu lulusan program TKS lainnya, yakni Djessica Yula.

Sesi diskusi kedua buku ini merupakan rangkaian dari acara Selasa Sastra bertajuk “Sajak-sajak Arah Angin” pada Selasa (7/7/2026), yang berlangsung di Kelingan Garden & Cafe, Bejen, Bantul. (zk)

BANTUL – Menulis buku adalah kesempatan untuk semua orang, baik dari kalangan manapun, dan usia berapapun.

Kesempatan inilah yang dibuka oleh Penerbit Ananta Vidya, yang digawangi oleh Direkturnya, Anastasia Arsiwi Anggita Dewi, melalui program tahunan yang diberi nama “Nulis Bareng Ananta” (Nubaran).

Dalam acara Selasa Sastra bertajuk “Sajak-sajak Arah Angin” yang berlangsung di Kelingan Garden & Cafe, Bejen, Bantul, Selasa (7/7/2026), Gita, panggilan akrabnya, membuka kesempatan seluas-luasnya kepada siapa saja untuk bergabung dalam program “Nubaran” ini, agar bisa menerbitkan buku indie secara digital, serta dapat diperjualbelikan ke khalayak luas, alias menjadi seorang “writerpreneur“.

“KIta memang ada tantangan-tantangan khusus sih. Jadi kalau misalnya temen-temen di sini sudah biasa menulis puisi, maka tantangannya nanti akan diminta untuk menulis buku nonfiksi, dan semacamnya. Nanti teman-teman tinggal bagaimana caranya untuk keluar dari zona nyaman itu (menulis genre yang berbeda dari biasanya),” ujar Gita, dalam acara Selasa Sastra bertajuk “Sajak-sajak Arah Angin” yang berlangsung di Kelingan Garden & Cafe, Selasa (7/7/2026).

Adapun untuk tahun ini, “Nubaran” memfokuskan tantangan kepenulisan pada genre Komedi dan Budaya, di mana setiap peserta bisa memilih salah satu dari keduanya. Dua tema ini juga bisa ditulis dalam bentuk fiksi maupun nonfiksi, dengan beberapa persyaratan teknis di dalamnya.

“Sekarang kan lagi musimnya parodi kan ya. Jadi ada banyak bahan yang mulai dijadikan semacam slang gitu ya. Dan konten-konten semacam itu biasanya dibuat dalam bentuk video (yang diunggah di media sosial). Nah gimana caranya supaya bisa membuat parodi itu dalam bentuk teks, misalnya. Jadi ada semacam tantangan imajinasinya agar teks itu bisa jadi lucu, gitu,” tambah Gita.

Program “Nubaran” ini sendiri dibuka selama satu bulan, mulai 6 Juli hingga 6 Agustus 2026, dengan ketentuan menulis minimal 50 halaman A5 (hanya mencakup isi/inti utama dari buku, tidak termasuk kata pengantar, daftar isi, dan lain-lain), format file Microsoft Word font Times New Roman ukuran 12, spasi 1,15, dan margin 2 cm rata tengah.

Peserta dapat mengirimkan draf naskah, prakata, sinopsis, sampul buku, dan alasan mengapa buku tersebut layak diterbitkan, melalui alamat email [email protected].

Penulis yang naskahnya terpilih alias lolos proses kurasi, akan mendapatkan sejumlah fasilitas menarik, di antaranya penyuntingan (editing), tata letak (layout), penerbitan (ISBN elektronik), dukungan promosi, serta yang paling dinanti-nantikan yakni royalti penulis.

Informasi selengkapnya mengenai program “Nubaran” ini bisa dilihat di akun Instagram @ananta.writer(zk)

BANTUL – Jika selama ini kita sering mendengar istilah populer yakni banyak jalan menuju Roma, yang berarti banyak cara yang bisa dilakukan untuk mencapai hasil yang sama, maka hal itu juga berlaku pada sosok Dea Chairunnisa, seorang Master of Ceremony (MC) atau public speaker yang baru saja menerapkan istilah “banyak jalan menuju sastra” dalam hidupnya.

Meskipun bukan berlatar belakang seniman atau sastrawan, Dea terjun ke dunia sastra dengan semangat positif dan keinginan kuat untuk belajar, serta tak ketinggalan menghasilkan karya demi karya yang bisa dinikmati oleh banyak orang.

Perkenalannya dengan dunia sastra pun bisa dibilang juga tidak disengaja, ketika ia bertemu dengan Direktur Selasa Sastra, Tedi Kusyairi, dalam sebuah acara pada awal tahun ini.

“Aku kenal Mas Tedi itu pas aku jadi host-nya podcast PKBI (Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia), di situ aku bercerita ke beliau bahwa aku punya sekolah public speaking dan MC, namanya Gema Academy. Dan aku saat itu juga sedang mencari acara untuk anak-anakku agar bisa tampil dan berlatih dalam situasi acara yang resmi.

Mas Tedi pun bercerita bahwa beliau juga meng-handle komunitas sastra (Selasa Sastra), yang diselenggarakan di kafenya yaitu Kelingan Garden & Cafe setiap hari Selasa, dan selalu butuh MC. Akhirnya Mas Tedi minta ke aku untuk jadi MC di sini, dan juga ikut mengirimkan siswa-siswa MC aku ke acara ini,” ucap Dea, saat ditemui di Kelingan Garden & Cafe, Bejen, Bantul, Selasa (7/7/2026).

Sejak saat itu, sastra membuka banyak kesempatan baginya untuk belajar lebih dalam tentang seni dan kehidupan secara lebih luas.

“Ternyata sastra itu luas ya. Padahal dulu waktu aku dengar kata “sastra” itu, yang terpikirkan di kepalaku adalah tentang bahasa Indonesia.

Setelah aku berkecimpung di acara Selasa Sastra ini sebagai moderator, akhirnya mau nggak mau aku juga belajar. Ternyata sastra itu juga ada kepenulisannya, film, puisi, bahkan bahasanya juga nggak cuma bahasa Indonesia, tapi juga ada dalam bahasa Jawa, dan seterusnya,” tambah Dea.

Dea pun tidak menutup kemungkinan untuk benar-benar “nyemplung” ke dalam dunia sastra secara keseluruhan, dan menghasilkan berbagai karya sastra yang bisa disaksikan oleh teman-teman maupun murid-muridnya di Gema Academy, sekaligus menghasilkan pundi-pundi dari sana. (qin)

Dinamika hidup yang semakin luas dalam beberapa waktu terakhir, seperti konflik di Timur Tengah, harga minyak yang terus melonjak, dan lain-lain, membuat banyak pihak mulai bereaksi sesuai dengan cara dan kreativitas masing-masing.

Bagi para sastrawan, cara terbaik untuk merespons berbagai dinamika tersebut adalah dengan membuat karya sastra.

Itulah yang mendasari hadirnya event bulanan Selasa Sastra di bulan Juli 2026, yang berlangsung di Kelingan Garden & Cafe, Selasa (7/7/2026), dengan menghadirkan sejumlah penampilan sastra menarik dari beberapa sastrawan di Bantul, serta beberapa acara pendukung lainnya.

Berikut adalah sejumlah momen menarik yang terjadi dalam perhelatan Selasa Sastra tersebut, yang bertajuk “Sajak-sajak Arah Angin”. (Foto: Azka Qintory)

 

 

BANTUL – Selasa sastra kembali hadir di bulan Juli 2026 dengan sejumlah penampilan sastra menarik serta beberapa acara pendukung lainnya.

Mengambil tema “Sajak-sajak Arah Angin”, Selasa Sastra kali ini mencoba untuk merespon berbagai isu global yang terjadi di dunia saat ini, seperti peperangan di Timur Tengah, mahalnya harga minyak, melonjaknya nilai tukar rupiah, dan seterusnya.

Dengan tema ini, Selasa Sastra mencoba menyikapi berbagai dinamika tersebut, dengan menampilkan pertunjukan sastra, terutama puisi, sebagai “respons” atas perkembangan isu-isu tersebut.

“Selasa sastra kali ini mencoba hadir untuk merespons berbagai dinamika yang hadir di dunia saat ini. Seperti peperangan, harga minyak yang terus melonjak, dan seterusnya, yang secara tidak langsung juga berimbas kepada masyarakat di Indonesia. Misalnya saja kurs dollar yang terus meningkat, dan lain-lain. Jadi bagaimana kita menyikapi setiap dinamika tersebut dengan karya sastra yang turut dibacakan di panggung Selasa Sastra hari ini,” ucap Direktur Selasa Sastra, Tedi Kusyairi, Selasa (7/7/2026).

Selain itu, event Selasa Sastra kali ini juga memberikan kesempatan untuk menulis buku secara gratis, melalui sayembara khusus yang diadakan oleh penerbit Ananta Vidya. Penulis yang terpilih berkesempatan untuk meneribitkan buku digital (e-book) buatan sendiri secara gratis, dan menjual bukunya kepada khalayak luas.

Tidak hanya itu, Selasa Sastra kali ini juga menghadirkan diskusi buku antologi puisi, yang merupakan hasil karya dari dua peserta program Temu Karya Sastra (TKS) dari Dinas Kebudayaan “Kundha Kabudayan” DIY tahun 2025, yakni buku “Upaya Untuk Pulang” karya Djessica Yula, dan “Perjalanan Menuju-Mu” karya Winda Cahyati.

Selasa Sastra edisi Juli 2026 kali ini berlangsung di Kelingan Garden & Café, Bejen, Bantul, Selasa (7/7/2026). Acara ini menampilkan beberapa sastrawan ternama yang berasal dari Bantul, di antaranya Tedi Kusyairi, Syamsu Setiaji, Budi Baik Hati, Fathia Jayanti, Shinta Sigit, dan masih banyak lagi. (zk)

BANTUL – Selasa Sastra kembali hadir pada edisi Juni 2026 di Kelingan Garden & Cafe, Selasa (2/6/2026).

Dalam edisi kali ini, Selasa Sastra mengambil tema “Janji di Bulan Juni”. Tema ini mengacu pada bagaimana agar setiap orang selalu berkomitmen terhadap janji yang pernah disampaikan, dan berusaha untuk menepatinya, baik di bulan Juni maupun bulan-bulan lainnya.

Berikut adalah sejumlah keseruan yang terjadi dalam kegiatan Selasa Sastra tersebut. (Foto: Azka Qintory)

 

 

BANTUL – Selasa Sastra kembali hadir pada edisi Juni 2026 di Kelingan Garden & Cafe, Selasa (2/6/2026).

Dalam edisi kali ini, Selasa Sastra mengambil tema “Janji di Bulan Juni”.

Tema ini sengaja dipilih, sebagai cara untuk mengingat kembali setiap janji yang pernah disampaikan, baik itu di bulan Juni maupun bulan-bulan lainnya, sehingga ada semacam aksi yang harus dilakukan, untuk menepati setiap janji tersebut.

“.Setiap orang kan pasti punya banyak keinginan, punya cita-cita, nah di momentum Selasa Sastra bulan Juni ini, diharapkan setiap orang akan selalu setia (komitmen) terhadap janjinya masing-masing, dan mencapai seluruh cita-cita yang diimpikan,” ungkap Direktur Komunitas Selasa Sastra, Tedi Kusyairi, saat ditemui di Kelingan Garden & Cafe, Selasa (2/6/2026).

Selain itu, kehadiran Selasa Sastra juga diharapkan mampu menjembatani setiap janji yang pernah terucap, salah satunya melalui pembacaan puisi atau karya sastra lainnya, kepada audiens yang menyaksikan langsung di Kelingan Garden & Cafe, maupun yang menonton siaran langsung di kanal YouTube Bang Tedi Way secara live streaming, dan seterusnya.

“Tentunya momentum Selasa Sastra juga bisa menjadi bagian dari bagaimana orang-orang yang terlibat dalam kegiatan ini, mampu mencapai tujuan dalam hidupnya, terkait janji-janji personalnya dan lain-lain,” tambah Tedi.

Terdapat beberapa penampilan sastra spesial yang hadir dalam Selasa Sastra edisi “Janji di Bulan Juni” kali ini, di antaranya dari Tedi Kusyairi, Mirna Radilla, Sunawi, Fathia Jayanti, Nur Budi, dan masih banyak lagi.

Tidak hanya penampilan sastra, Selasa Sastra edisi Juni 2026 ini juga menghadirkan sesi diskusi sekaligus launching dua antologi cerpen, masing-masing berjudul Pencuri di Bulan Suci karya Salwa Aulia Az-zahra, dan Sinden Terakhir karya Siti Maha Dana, (zk)

BANTUL – Ada banyak cara maupun ide yang bisa dituangkan untuk menjadi sebuah karya sastra. Salah satunya melalui pengalaman pribadi di masa lalu.

Apalagi jika berbicara tentang pengalaman asmara. Manusia tidak akan pernah kehabisan ide dan cerita, untuk mendeskripsikan peristiwa yang satu ini, termasuk ke dalam karya sastra.

Mungkin itulah yang menjadi inspirasi seorang Ayuna Felicia, yang hendak menuangkan perasaan mendalamnya di masa lalu, untuk dituliskan dalam sebuah antologi puisi, dengan judul Kota yang Terbakar Sebilah Rindu.

Dalam acara Selasa Sastra spesial Kartini “Memburu Biru, Mengeja Senja” yang berlangsung di Kelingan Garden & Cafe, Selasa (21/4/2026), Yuna, panggilan akrabnya, mengaku masih memendam rasa sayang kepada sosok pujaan hatinya tersebut.

Untuk menuangkan “sisa-sisa” rasa sayangnya kepada si doi, terbitlah antologi puisi berjudul Kota yang Terbakar Sebilah Rindu.

“Dulu saya pernah jatuh cinta pada seseorang pada tahun 2019 lalu. Saya jatuh cinta pada dia, tapi sayangnya hubungan kami harus berakhir tanpa pernah memulai. Karena kami berdua masih kecil dan saya juga tidak diperbolehkan sama orang tua, dan diharuskan untuk fokus pendidikan dan karier dulu. Setelah itu saya menyadari bahwa saya sangat tulus untuk mencintainya,” ungkap Yuna, dalam acara Selasa Sastra spesial hari Kartini bertajuk “Memburu Biru, Mengeja Senja”, sebagaimana dilansir dari kanal YouTube Bang Tedi Way, Selasa (21/4/2026).

Tidak hanya mengenai pengalaman asmara, Yuna juga ikut menuliskan seluruh pengalaman hidupnya yang berasal dari bidang lain, seperti keluarga, perasaan hati (senang/sedih), dan seterusnya.

“Yang menjadi pemantik saya untuk menulis buku ini juga berasal dari pengalaman lainnya. Apapun itu (perasaan yang dialami) langsung saya torehkan ke dalam kertas. Misalnya tentang keluarga, saat SMP dulu saya punya adik baru, itu juga saya tuliskan dalam buku ini. Pokoknya semuanya saya tuliskan disini biar jadi buku,” tambah Yuna.

Sesi bedah buku Kota yang Terbakar Sebilah Rindu ini merupakan salah satu rangkaian dar kegiatan Selasa Sastra edisi spesial Kartini bertajuk “Memburu Biru, Mengeja Senja”, yang berlangsung di Kelingan Garden & Cafe, Bejen, Bantul, Selasa (21/4/2026).

Selain bedah buku, ada pula pertunjukan sastra spesial dari para siswi MA Pamulangan, dan masih banyak lagi. (zk)

BANTUL – Imajinasi manusia bisa melahirkan banyak peluang baru. Salah satunya peluang menghasilkan karya sastra.

Mungkin itulah yang mengilhami Rizqi Nur Sholikha (Leha), seorang siswi di Madrasah Aliyah (MA) Pamulangan, Godean, Sleman, Yogyakarta, untuk dapat membuat antologi cerpen berjudul -20 Hz.

Dari judulnya saja, sudah bisa ditebak bahwa buku ini tampak bukan antologi cerpen biasa. Melainkan sebuah karya imajinatif yang merupakan hasil khayalan sang penulis, yang belum tentu bisa dipahami oleh orang awam.

“Munculnya kata “-20 Hz” itu kan dari Pak Eka sebenarnya (pembuat buku -20 Hz). Dan kata itu bermakna bahwa ‘orang lain nggak akan berpikiran seperti itu, kok dia (Leha) bisa (kepikiran)?’ Makanya dialah yang bisa mendengar perkataan samudra dengan senja, kemudian bintang dengan apa atau apa, yang orang lain tidak bisa dengar,” ungkap Endang Winarsih, guru Bahasa Indonesia di Madrasah Aliyah (MA) Pamulangan, guru yang ikut membimbing Leha dalam memproduksi antologi cerpen -20 Hz ini, dalam acara Selasa Sastra spesial hari Kartini bertajuk “Memburu Biru, Mengeja Senja”, sebagaimana dilansir dari kanal YouTube Bang Tedi Way, Selasa (21/4/2026).

Antologi ini sendiri bercerita tentang kisah romansa fiksi antara Samudra dan Senja. Senja digambarkan sebagai sosok yang memiliki hati yang lembut, sehingga mampu melindungi seluruh manusia yang ada di alam semesta ini.

“Rasenja Jingga (Senja) memiliki hati yang lembut, dia juga sosok yang melindungi kita di alam semesta ini. Kalau dia punya kekuasaan, dia sanggup melindungi kita dari sengatan panas matahari, dengan ketulusan hati yang dimilikinya. Dialah yang menjaga semua planet. Dia selalu melindungi kita di dalam orbit, akhirnya Samudra pun merasakan cinta yang luar biasa ke Rasenja Jingga,” sebut Leha, sang penulis buku antologi cerpen -20 Hz, pada kesempatan yang sama.

Sesi bedah buku -20 Hz ini merupakan salah satu rangkaian dar kegiatan Selasa Sastra edisi spesial Kartini bertajuk “Memburu Biru, Mengeja Senja”, yang berlangsung di Kelingan Garden & Cafe, Bejen, Bantul, Selasa (21/4/2026).

Selain bedah buku, ada pula pertunjukan sastra spesial dari para siswi MA Pamulangan, dan masih banyak lagi. (zk)