BANTUL, JT – Rindu tokoh perempuan dalam novel ‘Suara Rindu’ yang ditulis oleh Dila Sari Octaviana, mengalami peristiwa yang sangat tragis, mengalami kekerasan seksual oleh lelaki di rumahnya sendiri. Novel dengan tema kekerasan seksual jarang diangkat oleh penulis pada umumnya. Ada beberapa isu terkait kekerasan seksual dalam novel ini, pemerkosaan sedarah, dan yang menjadi isu hangat mengenai pernikahan siri yang merugikan pihak perempuan.

Dila penulis novel anggota Selasa sastra sudah menerbitkan novel sebelumnya, namun baginya novel ‘Suara Rindu’ menjadi puncak capaian kepenulisannya.

“Jika di buku sebelumnya novel ‘Cinta yang Sebenarnya’, merupakan tulisan di masa muda dulu, dirasa kurang berbobot, di novel inipun awalnya menulis seperti kurang greget, hingga harus melakukan riset lagi untuk memperkuat kisah bagi sang tokoh di novel ini, melihat kenyataan disekitar dan berbagai berita di media mengenai kekerasan seksual dari sudut pandang perempuan, akhirnya meyakinkan diri menyelesaikan novel ini,” kata Dila yang sehari-hari sebagai guru di Informatika dan Seni Budaya di MTs Saintek Nurul Quran HDWR, Brajan, Wonokromo, Pleret, Bantul.

Launching, diskusi dan bedah novel ‘Suara Rindu’ Bunga yang Mekar di Tengah Badai, dihelat dalam agenda rutin Selasa Sastra pada minggu, 15 Februari 2026 mulai pukul 15.30 wib di Kelingan Garden & Café Bantul. Menghadirkan narasumber pembedah buku penulis novel Muyassarotul Hafidzoh yang memang fokus menulis cerita dengan tema kekerasan seksual, selain ia sebagai aktivis advokasi korban kekerasan seksual.

“Saya sangat bangga akhirnya novel ini terbit, karena sedikit novel yang berani mengangkat isu kekerasan seksual, apalagi dari sudut pandang perempuan. Novel ini menarik karena dari sudut pandang korban kekerasan seksual, perempuan khususnya, berani speak up dan kemudian melakukan transformasi diri, menjadi konselor pendamping bagi korban kekerasan seksual,” jelas Muyas panggilan akrabnya.

Nur Hidayat, Lurah Bangunharjo Sewon Bantul yang juga sekretaris PCNU Bantul, merasa bangga oleh Dila yang juga anggota Fatayat NU Bantul.

“Kami bangga, karena ada kader NU yang masuk usia Gen Z, mau membuat karya yang kekinian, ini jarang dilakukan kader NU, menuliskan karya sastra yang berkualitas, semoga karyanya mendunia,” jelas Nur Hidayat.

Selasa Sastra kali ini mengusung tema ‘Tapak Batas Rindu’ berisi pementasan karya sastra oleh Rika Rif’atil Hilmah, Faza Aulia Rahma, Muhammad Ilham Izzul Mutho, Nikta Azilda, Sabatina RW, Bang Tedi Way, dan Muyassarotul Hafidzoh. Selain sastra juga ada musik dari DMR Band, Dikki & Friends, Rhakustik, dan group Kiki Ratna Heri.

“Dila Sari salah satu anggota Selsa Sastra yang sudah lama berkegiatan dan menulis karya sastra, melalui novel yang membahas inner child semoga menjadi kontribusi dalam trauma healing bagi para korban kekerasan seksual, melalui launching ini diharapkan anggota yang lain juga termotivasi menerbitkan buku,” kata Tedi Kusyairi koordinator Selasa Sastra. (*)

BANTUL – Event Selasa Sastra kembali merayakan hari jadinya. Awal Februari 2026 ini menjadi penanda usia Selasa Sastra yang genap berusia satu lusin, atau 12 tahun.

Perayaan ulang tahun ke-12 ini dirayakan secara sederhana, namun tetap dirayakan melalui pertunjukkan sastra, yang dilangsungkan di Kelingan Garden Cafe, Selasa (3/2/2026).

Mengusung tema “Isyarat Awan, Mendung, dan Rintik Hujan”, Selasa Sastra kali ini turut mengundang sejumlah sastrawan ternama yang sudah malang-melintang berkarya di Bantul maupun provinsi DIY, sebut saja Satmoko Budi Santoso, Endang Winarsih, Tedi Kusyairi, Sri Wijayati, Rudiyati, dan masih banyak lagi.

Selain itu Selasa Sastra edisi ulang tahun ke-12 ini juga menampilkan sesi bedah novel, yang kali ini membahas tentang novel ber-genre romansa berjudul “Mendung Yang Singgah Di Matamu” karya Hanif TT.

Noel ini berceria tentang kisah percintaan Arka, yang harus menelan pil pahit akibat terus menerus dikhianati oleh pacar-pacarnya karena berbagai alasan, seperti selingkuh dan seterusnya.

Sesi bedah novel ini sekaligus menjadi launching novel terbitan CV Hidra tersebut ke pasaran. Novel romansa sebanyak 257 halaman ini bisa didapatkan di toko buku maupun marketplace ternama dengan harga Rp84.000. (zk)

BANTUL – Kelingan Garden Cafe menjadi salah satu cafe baru di wilayah Bantul, yang berlokasi di pinggiran Sawah di kawasan Bejen, Bantul kota. Cafe ini resmi dibuka pada tanggal 1 Desember 2025 lalu.

Berawal dari keinginan para pelaku seni-budaya yang ada di Bantul untuk bisa memiliki panggung sendiri dalam berkarya, tanpa perlu menyewa tempat atau berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat yang lain, akhirnya Kelingan Garden Cafe hadir untuk menjawab itu semua. Cafe ini berfokus menyediakan tempat bagi komunitas seni-budaya untuk berkarya, sekaligus menjajakan beberapa kuliner khas cafe pada umumnya.

Salah satu founder Kelingan Garden Cafe, Tedi Kusyairi menyampaikan bahwa cafe ini memang khusus diperuntukan bagi pelaku seni-budaya untuk bisa konsisten berkarya, sehingga tidak perlu khawatir harus menyewa tempat, lobi berlapis-lapis, dan seterusnya.

“Memang sejak awal kami ingin menyediakan tempat yang representatif bagi komunitas seni-budaya khususnya yang ada di Bantul, untuk bisa terus berkarya tanpa harus sewa tempat dan sebagainya,” ujar Tedi yang ditemui dalam acara Selasa Sastra bertema “Harapan Baru Dalam Bersastra” di Kelingan Garden Cafe, Selasa (6/1/2026).

Beberapa menu yang ditawarkan Kelingan Garden Cafe pun cukup beragam, yang dibagi dalam tiga kategori. Diantaranya makanan berat seperti mie goreng, mie rebus, nasi goreng, dan seterusnya. Lalu makanan ringan atau snack seperti kentang goreng, nugget, dan semacamnya, serta minuman yakni kopi sebagai salah satu menu andalan, seperti red velvet, matcha, dan berbagai minuman lainnya. Kelingan Garden Cafe buka setiap harinya mulai pukul 11.00 hingga 21.30 WIB.

Selain cafe dan tempat untuk komunitas seni-budaya, Kelingan Cafe juga bisa digunakan untuk berbagai acara lain di luar seni-budaya, seperti seminar, diskusi publik, hingga yang sifatnya personal seperti perayaan ulang tahun dan juga pesta pernikahan.

Mengingat usianya yang baru satu bulan, Tedi pun merasa cafe ini masih perlu peningkatan dalam beberapa hal.

“Kami masih perlu menambahkan beberapa bangunan agar bisa memberikan kesan estetik sekaligus ciri khas untuk cafe ini, beberapa menu lain juga masih akan ditambahkan, dan tentu saja branding acara-acara yang diselenggarakan disini juga masih perlu diperbanyak lagi,” tambah Tedi.

Beberapa acara unggulan yang sudah rutin diselenggarakan di Kelingan Garden Cafe sejauh ini adalah Selasa Sastra setiap minggu pertama di awal bulan, serta Selasa Sinema di minggu kedua. (zk)

BANTUL – Awal tahun 2026 Selasa Sastra kembali hadir menyapa seluruh pemirsa baik secara daring maupun luring. Bertempat di Kelingan Garden Cafe, Bejen, Bantul, Selasa (6/1/2026), Selasa Sastra kali ini bertema “Harapan Baru Dalam Bersastra”.

Selasa Sastra edisi kali ini menampilkan beberapa penampilan sastra menarik, mulai dari pembacaan puisi, lagu puisi, akustik, hingga monolog. Selain itu momen Selasa Sastra awal tahun ini juga menandai peluncuran buku novel karya R. Toto Sugiharto berjudul “Owel”.

Founder Selasa Sastra Tedi Kusyairi, menyampaikan bahwa keberadaan Selasa Sastra di awal tahun 2026 ini menjadi sangat penting, karena ini menjadi momen di mana kita mampu menghidupi sastra, dan sastra pun akan mampu menghidupi kita.

“Salah satu cara yang bisa dilakukan (untuk menghidupi Sastra) adalah dengan melakukan pementasan rutin, membuat karya kreatif, sering mengupload ke media sosial, serta berjejaring. Sehingga nantinya diharapkan akan muncul kolaborasi yang memungkinkan karya sastra untuk dikomersilkan,” ujar Tedi Kusyairi di Kelingan Garden Cafe, Selasa (6/1/2026).

Selain itu, menurut Tedi, dengan perkembangan dunia sastra yang saat ini masih minim peminat, maka penting bagi siapapun pelakunya, untuk bisa benar-benar mengemas pertunjukan sastra tersebut secara lebih menarik dan mendetail, sehingga diharapkan akan lebih sustainable dalam berkarya.

“Seperti tadi pementasan monolog yang dibawakan oleh Agung Syamsu. Itu sebenarnya sangat bisa dijual ke publik, seandainya bisa di-create dengan lebih detail. Termasuk juga tadi musik puisi, lagu puisi, dan sebagainya tadi, jika itu populer maka bisa dijual ke publik dan mendapat pemasukan seperti dari ticketing dan seterusnya,” tambah Tedi.

Event Selasa Sastra selanjutnya akan dilangsungkan pada Selasa (20/1/2026), masih di Kelingan Garden Cafe, Bejen, Bantul. (zk)

BANTUL – Peringatan hari anti korupsi se-dunia (Hakordia) yang jatuh pada 9 Desember mendatang, menjadi momentum yang tepat untuk dijadikan sebagai bahan refleksi bagi seluruh masyarakat, terkait penanganan korupsi yang masih membudaya di negeri ini. Dan, salah satu cara yang bisa dilakukan untuk mencegah tindakan korupsi, adalah dengan berkarya sastra. Seperti yang dilakukan Selasa Sastra pada Sabtu (6/12/2025) bertempat di Kelingan Garden & Cafe, Bantul.

Berikut adalah beberapa cuplikan momen menarik yang terjadi dalam Selasa Sastra edisi spesial Hakordia 2025 “Aksi Seni Berantas Korupsi”. (foto: Azka Qintory)

 

BANTUL – Perhelatan Selasa Sastra spesial Hakordia (Hari Anti Korupsi Se-Dunia) yang jatuh pada 9 Desember 2025 menjadi momentum kembalinya kompetisi ACCFEST (Anti Corruption Film Festival) 2025 yang tahun ini telah memasuki perhelatan ke-11 sejak pertama kali diselenggarakan pada tahun 2013 silam.

Pada edisi ke-11 tahun 2025 ini, ACCFEST memiliki satu segmentasi tambahan, yakni Film Pendek Pelajar, yakni kategori khusus untuk film-film pendek bagi siswa/i SMP/sederajat dan SMA/sederajat. Kategori ini diadakan untuk benar-benar mewadahi kreativitas para pelajar di seluruh Indonesia.

Program Director ACCFEST Medio Venda Sukarta, mengatakan bahwa ACCFEST merupakan salah satu film festival tertua yang diselenggarakan oleh institusi Pemerintah.

“Bahkan ACCFEST itu menjadi satu-satunya film festival di dunia yang memiliki concern (kekhawatiran) terkait anti korupsi,” kata Medio dalam acara Selasa Sastra spesial Hakordia di Kelingan Cafe & Garden, Sabtu (6/12/2025).

Pada kesempatan yang sama, Medio yang juga berasal dari KPK Jakarta juga berbagi tips-tips sederhana tentang membuat film pendek bertemakan anti korupsi, agar bisa diikutsertakan pada ACCFEST tahun depan (2026).

Film-film anti korupsi yang terlibat dalam ACCFEST juga tidak melulu tentang korupsi besar yang dilakukan oleh pejabat negara, tapi lebih tentang perilaku atau nilai-nilai dalam kehidupan sehari-hari yang berkaitan dengan korupsi. Seperti misalnya tentang kejujuran, mengembalikan uang kembalian belanjaan, terlambat masuk sekolah, dan seterusnya. Sehingga diharapkan bahwa masayarakat juga memiliki idenya tersendiri terkait perilaku korupsi (atau anti korupsi) dalam kehidupan sehari-hari.

“Sentilan-sentilan itu (yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari) akan lebih ngena atau masuk, ketika disampaikan melalui sebuah film, dibandingkan melalui ceramah atau berbicara secara langsung,” ujar Medio.

Untuk ACCFEST 2026 rencananya akan mulai dibuka pada April 2026, sehingga para pelajar dari seluruh Indonesia, termasuk Yogyakarta, berkesempatan mengikuti festival film ini.

Di akhir sesi, seluruh peserta yang berasal dari beberapa SMK se-derajat jurusan Multimedia ini, mendapat kesempatan untuk menyaksikan beberapa film anti korupsi yang berhasil menjadi pemenang ACCFEST pada tahun-tahun sebelumnya, diantaranya film pendek berjudul “Receh”, “Piknik Panik”, “Pembayun”. “Soto Ayam”, “Subuh”, “Baju Wasiat”, dan “How To Be An Actor”. (zk)

BANTUL – Peringatan hari anti korupsi se-dunia yang jatuh pada 9 Desember bisa dilakukan dengan berbagai cara, salah satunya dengan pentas seni.

Tak mau ketinggalan, Selasa Sastra juga turut memeriahkan hakordia (Hari Anti Korupsi Se-Dunia) dengan mengadakan Pentas Sastra berjudul “Aksi Seni Berantas Korupsi” yang diselenggarakan di Kelingan Cafe & Garden, Sabtu (6/12/2025).

Beberapa penampil turut memeriahkan Selasa Sastra kesempatan kali ini, diantaranya siswa/i dari MA Pamulangan Godean, Fitria Eranda, grup musik Bernada, SD Sokowaten Baru, Sanggar Sastra Mangir, dan masih banyak lagi.

Selain penampilan spesial berupa pembacaan puisi, musik puisi, dan juga cerpen yang bertemakan anti korupsi, acara Selasa Sastra bulan Desember ini juga menjadi momen launching beberapa karya sastra, diantaranya single berjudul “Mapan” dan “Rencana Wingi” dari grup musik Bernada, serta launching dua buku antologi cerpen dan puisi dari siswa/i MA Pamulangan Godean berjudul “Fabula Nostra” dan juga “Kalam Sunyi Penjara Suci”.

Selain itu, Selasa Sastra kali ini juga turut menampilkan beberapa film pilihan yang menjadi pemenang kompetisi ACCFEST (Anti Corruption Film Festival) 2025, sekaligus live streaming dari puncak acara Hakordia 2025 yang berlangsung di Titik Nol Kilometer kota Yogyakarta.

Plt Deputi Bidang Pencegahan & Monitoring KPK, Aminudin, dalam sambutannya pada Live streaming di Tiktik Nol Kilometer menyampaikan bahwa pencegahan korupsi tidak bisa hanya dilakukan oleh KPK semata, melainkan merupakan kerja bersama seluruh lapisan masyarakat.

“Masyarakat juga memiliki peran yang sangat penting dalam pencegahan korupsi, salah satunya dengan melaporkan aksi-aksi korupsi yang terjadi di lingkungannya masing-masing,” ujar Aminudin.

Menurut Aminudin, Hakordia tidak hanya disambut sebagai seremonial semata, tapi juga sebagai bentuk awareness (kesadaran), bahwa korupsi merupakan musuh bersama, dan harus dibasmi melalui kerja kolektif dari berbagai pihak. (zk)

GUNUNGKIDUL – Acara rutin bulanan #Selasastra kali ini digelar di kabupaten Gunungkidul yang berkolaborasi dengan Komunitas PlayOn pada Selasa (1/7/2025), bertempat di Mrikiniki Angkringan and Gallery, Wonosari, Gunungkidul, DIY.

Acara ini juga turut dihadiri langsung oleh Perwakilan dari Dinas Kebudayaan Gunungkidul, serta beberapa komunitas lain seperti Sanggar Sastra Jawa Presaja Gunungkidul, Komunitas REGAS, Playlis, Sanggar Pujo Sumakno dan TBM Gubug Pintar.

“Semoga ini bisa menjadi pemantik kita bersama agar kedepannya kita bisa semakin berkiprah dan berlanjut di bidang kebahasaan dan kesastraan di Gunungkidul,” kata perwakilan Dinas Kebudayaan Gunungkidul, Seksi Bahasa dan Sastra dalam sambutannya.

Acara dimulai dengan tembang macapat oleh perwakilan Seksi Bahasa dan Sastra Dinas Kebudayaan Gunungkidul, dilanjutkan sesi pembacaan puisi, geguritan, cerpen dan penampilan musik. Suasana di Mrikiniki Angkringan and Gallery terasa akrab, hangat, dan penuh antusiasme.

Tidak hanya sekadar melakukan pentas sastra, forum ini juga menjadi ruang bertukar pikiran dan wacana lintas komunitas. Momen ini diharapkan menjadi titik temu dan penguat jejaring antarkomunitas, baik di Gunungkidul dan sekitarnya.

Apresiasi Selasa Sastra ini diadakan sebagai ruang untuk saling mendukung, menghargai, merayakan kreatifitas sekaligus kelokalan di bidang sastra. (zk)