BANTUL – Ada banyak cara maupun ide yang bisa dituangkan untuk menjadi sebuah karya sastra. Salah satunya melalui pengalaman pribadi di masa lalu.

Apalagi jika berbicara tentang pengalaman asmara. Manusia tidak akan pernah kehabisan ide dan cerita, untuk mendeskripsikan peristiwa yang satu ini, termasuk ke dalam karya sastra.

Mungkin itulah yang menjadi inspirasi seorang Ayuna Felicia, yang hendak menuangkan perasaan mendalamnya di masa lalu, untuk dituliskan dalam sebuah antologi puisi, dengan judul Kota yang Terbakar Sebilah Rindu.

Dalam acara Selasa Sastra spesial Kartini “Memburu Biru, Mengeja Senja” yang berlangsung di Kelingan Garden & Cafe, Selasa (21/4/2026), Yuna, panggilan akrabnya, mengaku masih memendam rasa sayang kepada sosok pujaan hatinya tersebut.

Untuk menuangkan “sisa-sisa” rasa sayangnya kepada si doi, terbitlah antologi puisi berjudul Kota yang Terbakar Sebilah Rindu.

“Dulu saya pernah jatuh cinta pada seseorang pada tahun 2019 lalu. Saya jatuh cinta pada dia, tapi sayangnya hubungan kami harus berakhir tanpa pernah memulai. Karena kami berdua masih kecil dan saya juga tidak diperbolehkan sama orang tua, dan diharuskan untuk fokus pendidikan dan karier dulu. Setelah itu saya menyadari bahwa saya sangat tulus untuk mencintainya,” ungkap Yuna, dalam acara Selasa Sastra spesial hari Kartini bertajuk “Memburu Biru, Mengeja Senja”, sebagaimana dilansir dari kanal YouTube Bang Tedi Way, Selasa (21/4/2026).

Tidak hanya mengenai pengalaman asmara, Yuna juga ikut menuliskan seluruh pengalaman hidupnya yang berasal dari bidang lain, seperti keluarga, perasaan hati (senang/sedih), dan seterusnya.

“Yang menjadi pemantik saya untuk menulis buku ini juga berasal dari pengalaman lainnya. Apapun itu (perasaan yang dialami) langsung saya torehkan ke dalam kertas. Misalnya tentang keluarga, saat SMP dulu saya punya adik baru, itu juga saya tuliskan dalam buku ini. Pokoknya semuanya saya tuliskan disini biar jadi buku,” tambah Yuna.

Sesi bedah buku Kota yang Terbakar Sebilah Rindu ini merupakan salah satu rangkaian dar kegiatan Selasa Sastra edisi spesial Kartini bertajuk “Memburu Biru, Mengeja Senja”, yang berlangsung di Kelingan Garden & Cafe, Bejen, Bantul, Selasa (21/4/2026).

Selain bedah buku, ada pula pertunjukan sastra spesial dari para siswi MA Pamulangan, dan masih banyak lagi. (zk)

BANTUL – Imajinasi manusia bisa melahirkan banyak peluang baru. Salah satunya peluang menghasilkan karya sastra.

Mungkin itulah yang mengilhami Rizqi Nur Sholikha (Leha), seorang siswi di Madrasah Aliyah (MA) Pamulangan, Godean, Sleman, Yogyakarta, untuk dapat membuat antologi cerpen berjudul -20 Hz.

Dari judulnya saja, sudah bisa ditebak bahwa buku ini tampak bukan antologi cerpen biasa. Melainkan sebuah karya imajinatif yang merupakan hasil khayalan sang penulis, yang belum tentu bisa dipahami oleh orang awam.

“Munculnya kata “-20 Hz” itu kan dari Pak Eka sebenarnya (pembuat buku -20 Hz). Dan kata itu bermakna bahwa ‘orang lain nggak akan berpikiran seperti itu, kok dia (Leha) bisa (kepikiran)?’ Makanya dialah yang bisa mendengar perkataan samudra dengan senja, kemudian bintang dengan apa atau apa, yang orang lain tidak bisa dengar,” ungkap Endang Winarsih, guru Bahasa Indonesia di Madrasah Aliyah (MA) Pamulangan, guru yang ikut membimbing Leha dalam memproduksi antologi cerpen -20 Hz ini, dalam acara Selasa Sastra spesial hari Kartini bertajuk “Memburu Biru, Mengeja Senja”, sebagaimana dilansir dari kanal YouTube Bang Tedi Way, Selasa (21/4/2026).

Antologi ini sendiri bercerita tentang kisah romansa fiksi antara Samudra dan Senja. Senja digambarkan sebagai sosok yang memiliki hati yang lembut, sehingga mampu melindungi seluruh manusia yang ada di alam semesta ini.

“Rasenja Jingga (Senja) memiliki hati yang lembut, dia juga sosok yang melindungi kita di alam semesta ini. Kalau dia punya kekuasaan, dia sanggup melindungi kita dari sengatan panas matahari, dengan ketulusan hati yang dimilikinya. Dialah yang menjaga semua planet. Dia selalu melindungi kita di dalam orbit, akhirnya Samudra pun merasakan cinta yang luar biasa ke Rasenja Jingga,” sebut Leha, sang penulis buku antologi cerpen -20 Hz, pada kesempatan yang sama.

Sesi bedah buku -20 Hz ini merupakan salah satu rangkaian dar kegiatan Selasa Sastra edisi spesial Kartini bertajuk “Memburu Biru, Mengeja Senja”, yang berlangsung di Kelingan Garden & Cafe, Bejen, Bantul, Selasa (21/4/2026).

Selain bedah buku, ada pula pertunjukan sastra spesial dari para siswi MA Pamulangan, dan masih banyak lagi. (zk)

BANTUL – Dari seluruh fase kehidupan, bisa dibilang fase remaja adalah periode terindah yang pernah dialami oleh manusia. Sebab usia remaja (10-18 tahun) merupakan masa-masa di mana manusia sedang dalam pencarian jati diri, transisi menuju kedewasaan, mulai merasakan jatuh cinta, serta munculnya pertemanan yang solid.

Poin terakhir menjadi salah satu titik krusial, karena pertemanan yang solid akan mampu menghasilkan kreativitas-kreativitas baru, kegiatan menarik, maupun perbincangan terkait masa depan yang tiada habisnya.

Setidaknya itulah yang menjadi pemikiran dari sejumlah siswi di Madrasah Aliyah (MA) Pamulangan, Godean, Sleman.

Pertemanan yang solid di antara mereka telah mampu menghasilkan karya sastra, yang dapat menggambarkan realitas kehidupan pertemanan mereka sebagai pertemanan yang “berisik”.

Sampai akhirnya pertemanan mereka sanggup melahirkan sebuah antologi puisi berjudul Berbisik di Balik Bilik.

Dalam kegiatan Selasa Sastra spesial hari Kartini lalu yang bertajuk “Memburu Biru, Mengeja Senja” dan berlangsung di Kelingan Garden & Cafe, Bejen, Bantul, belum lama ini, para pembuat antologi puisi ini menceritakan lika-liku perjuangan mereka menghasilkan buku tersebut yang ditulis hanya dalam waktu dua bulan.

“Kami itu aslinya orang-orang yang berisik banget, suka nelponin Pak Eka (desainer cover buku dan pemberi ide judul Berbisik di Balik Bilik) buat VC (Video Call). Apalagi lokasi kelas kita juga di paling pojok, dan isinya perempuan semua,” ungkap Elisa Sevy Geanica, salah satu penulis antologi puisi ini.

Meskipun mereka adalah kumpulan orang-orang yang “berisik”, namun kata “berbisik” lebih dipilih untuk mewakili judul buku, lantaran berisiknya mereka adalah sesuatu yang hanya terjadi di kelas itu saja, dan tidak diketahui sama sekali oleh orang-orang di luar mereka.

Selain itu, kata “berisik” juga dianggap kurang etis jika digunakan sebagai terminologi sebuah judul buku. Namun ketika ditambah huruf ‘b’ (menjadi “berbisik”), makna yang terbangun menjadi lebih puitis, sekaligus mewakili suasana yang lebih intim.

Sementara penulis lainnya, Yanuwarin Waastuti, mengatakan, bahwa setelah ia menjalani proses penulisan puisi dalam buku ini, ia bisa merasakan kelegaan di dalam hatinya. Karena di situlah ia mampu menuangkan apa yang menjadi isi hatinya, sekaligus ungkapan kasih sayang terhadap orang-orang yang telah berjasa di dalam hidupnya.

“Iya, menulis puisi dalam buku ini bikin saya jadi banyak lega. Karena di sini saya mampu mengungkapkan perasaan saya kepada orang-orang yang berjasa di hidup saya, terutama keluarga. Jadi menulis puisi sangatlah membantu sekali,” ujar Yanuwarin Waastuti, pada kesempatan yang sama.

Sementara bagi Endang Winarsih, sebagai guru pembimbing mereka dalam berkarya, mengatakan bahwa anak-anak harus mampu menciptakan karya sastra maupun tulisan mereka sendiri, sehingga tidak perlu lagi menjadi “penonton” bagi karya sastra orang lain, baik sebagai referensi bacaan dan lain sebagainya.

“Jadi saya memang menuntut anak-anak untuk ‘ayo dong masa sih kalian cuman membaca karya orang terus?’ Ayolah, sekarang giliran karya kalian yang dibaca orang. Sehingga kalian yang akan jadi objeknya, bukan lagi cuma subjeknya saja’,” kata Endang Winarsih.

Sesi bedah buku antologi puisi berjudul Berbisik di Balik Bilik ini merupakan salah satu rangkaian dari kegiatan Selasa Sastra edisi spesial Kartini bertajuk “Memburu Biru, Mengeja Senja”, yang berlangsung di Kelingan Garden & Cafe, Bejen, Bantul, belum lama ini.

Selain bedah buku, ada pula pertunjukan sastra spesial dari para siswi MA Pamulangan, dan masih banyak lagi. (zk)

BANTUL– Perwujudan doa bisa datang dari mana saja. Salah satunya berasal dari karya sastra.

Salah satu siswi Madrasah Aliyah (MA) Pamulangan, Godean, Sleman, Frisca Nazula Pawestri, seperti terilhami untuk mengucapkan doa melalui buku cerpen yang ia tulis sendiri, dengan judul yang terkesan subjektif, namun sangat “gue banget”, yakni Frisca.

Cerpen berjudul Frisca adalah hasil kontemplasi panjang seorang Frisca Nazula Pawestri, terhadap sekelumit kisahnya di masa lalu, serta cita-citanya di masa depan, yang masih menjadi misteri bagi dirinya sendiri.

“Cerita di buku ini ada yang saya karang sendiri, dan ada sedikit cerita pribadi yang saya masukkan di dalam keseluruhan cerita,” ucap Frisca, dalam kegiatan Selasa Sastra spesial hari Kartini bertajuk “Memburu Biru, Mengeja Senja”, yang berlangsung di Kelingan Garden & Cafe, Bejen, Bantul, belum lama ini.

Frisca menambahkan bahwa dirinya sangat mendambakan menjadi orang sukses dan berguna bagi banyak orang, serta mampu mengenyam kuliah di perguruan tinggi ternama, meskipun berasal dari keluarga yang ekonominya kurang stabil.

“Ada satu cerita dunia perkuliahan, di situ saya karang, dengan harapan aku akan bisa seperti itu (sesuai yang dikarangnya sendiri). Itu jadi tentang pribadi saya, tapi ada yang aku sesuaikan sedikit. Dengan harapan aku bisa seperti itu di masa depan,” tambah Frisca.

Sementara bagi Endang Winarsih, guru pembimbing Frisca dalam proses penulisan cerpen ini, judul Frisca dianggap sangat menjual dan unik, sekaligus benar-benar mewakili “doa” maupun impian penulisnya sendiri, yang memang terbilang unik oleh orang-orang di lingkungan sekolahnya, termasuk bagi Endang sendiri.

“Mbak Frisca ini tipikalnya unik banget. Dia itu orangnya slowly but sure. Jadi santai tapi terarah, gitu. Jadi itulah kenapa saya meminta dia untuk membuat karangan sendiri. Kebetulan setelah saya baca naskah buku Frisca ini, isinya memang cukup ringan (mudah dimengerti oleh pembaca awam). Jadi menurut saya, Frisca ini sendiri memang sudah unik, termasuk namanya juga nggak ada satu pun di sekolah yang namanya sama dengan dia,” ujar Endang Winarsih, guru pembimbing Frisca dalam proses penulisan buku cerpen Frisca, pada kesempatan yang sama.

Meskipun sempat ingin menyerah dalam menyelesaikan “doa” ini, namun berkat dukungan dari pihak sekolah (MA Pamulangan) serta teman-teman di sekitarnya, Frisca akhirnya mampu menyelesaikan seluruh naskah di dalam buku ini, untuk kemudian “diaminkan” oleh para pembaca.

Selain sesi bedah buku, ada pula pertunjukan sastra spesial dari para siswi MA Pamulangan, dan masih banyak lagi. (zk)

BANTUL, JT – Rindu tokoh perempuan dalam novel ‘Suara Rindu’ yang ditulis oleh Dila Sari Octaviana, mengalami peristiwa yang sangat tragis, mengalami kekerasan seksual oleh lelaki di rumahnya sendiri. Novel dengan tema kekerasan seksual jarang diangkat oleh penulis pada umumnya. Ada beberapa isu terkait kekerasan seksual dalam novel ini, pemerkosaan sedarah, dan yang menjadi isu hangat mengenai pernikahan siri yang merugikan pihak perempuan.

Dila penulis novel anggota Selasa sastra sudah menerbitkan novel sebelumnya, namun baginya novel ‘Suara Rindu’ menjadi puncak capaian kepenulisannya.

“Jika di buku sebelumnya novel ‘Cinta yang Sebenarnya’, merupakan tulisan di masa muda dulu, dirasa kurang berbobot, di novel inipun awalnya menulis seperti kurang greget, hingga harus melakukan riset lagi untuk memperkuat kisah bagi sang tokoh di novel ini, melihat kenyataan disekitar dan berbagai berita di media mengenai kekerasan seksual dari sudut pandang perempuan, akhirnya meyakinkan diri menyelesaikan novel ini,” kata Dila yang sehari-hari sebagai guru di Informatika dan Seni Budaya di MTs Saintek Nurul Quran HDWR, Brajan, Wonokromo, Pleret, Bantul.

Launching, diskusi dan bedah novel ‘Suara Rindu’ Bunga yang Mekar di Tengah Badai, dihelat dalam agenda rutin Selasa Sastra pada minggu, 15 Februari 2026 mulai pukul 15.30 wib di Kelingan Garden & Café Bantul. Menghadirkan narasumber pembedah buku penulis novel Muyassarotul Hafidzoh yang memang fokus menulis cerita dengan tema kekerasan seksual, selain ia sebagai aktivis advokasi korban kekerasan seksual.

“Saya sangat bangga akhirnya novel ini terbit, karena sedikit novel yang berani mengangkat isu kekerasan seksual, apalagi dari sudut pandang perempuan. Novel ini menarik karena dari sudut pandang korban kekerasan seksual, perempuan khususnya, berani speak up dan kemudian melakukan transformasi diri, menjadi konselor pendamping bagi korban kekerasan seksual,” jelas Muyas panggilan akrabnya.

Nur Hidayat, Lurah Bangunharjo Sewon Bantul yang juga sekretaris PCNU Bantul, merasa bangga oleh Dila yang juga anggota Fatayat NU Bantul.

“Kami bangga, karena ada kader NU yang masuk usia Gen Z, mau membuat karya yang kekinian, ini jarang dilakukan kader NU, menuliskan karya sastra yang berkualitas, semoga karyanya mendunia,” jelas Nur Hidayat.

Selasa Sastra kali ini mengusung tema ‘Tapak Batas Rindu’ berisi pementasan karya sastra oleh Rika Rif’atil Hilmah, Faza Aulia Rahma, Muhammad Ilham Izzul Mutho, Nikta Azilda, Sabatina RW, Bang Tedi Way, dan Muyassarotul Hafidzoh. Selain sastra juga ada musik dari DMR Band, Dikki & Friends, Rhakustik, dan group Kiki Ratna Heri.

“Dila Sari salah satu anggota Selsa Sastra yang sudah lama berkegiatan dan menulis karya sastra, melalui novel yang membahas inner child semoga menjadi kontribusi dalam trauma healing bagi para korban kekerasan seksual, melalui launching ini diharapkan anggota yang lain juga termotivasi menerbitkan buku,” kata Tedi Kusyairi koordinator Selasa Sastra. (*)

BANTUL – Event Selasa Sastra kembali merayakan hari jadinya. Awal Februari 2026 ini menjadi penanda usia Selasa Sastra yang genap berusia satu lusin, atau 12 tahun.

Perayaan ulang tahun ke-12 ini dirayakan secara sederhana, namun tetap dirayakan melalui pertunjukkan sastra, yang dilangsungkan di Kelingan Garden Cafe, Selasa (3/2/2026).

Mengusung tema “Isyarat Awan, Mendung, dan Rintik Hujan”, Selasa Sastra kali ini turut mengundang sejumlah sastrawan ternama yang sudah malang-melintang berkarya di Bantul maupun provinsi DIY, sebut saja Satmoko Budi Santoso, Endang Winarsih, Tedi Kusyairi, Sri Wijayati, Rudiyati, dan masih banyak lagi.

Selain itu Selasa Sastra edisi ulang tahun ke-12 ini juga menampilkan sesi bedah novel, yang kali ini membahas tentang novel ber-genre romansa berjudul “Mendung Yang Singgah Di Matamu” karya Hanif TT.

Noel ini berceria tentang kisah percintaan Arka, yang harus menelan pil pahit akibat terus menerus dikhianati oleh pacar-pacarnya karena berbagai alasan, seperti selingkuh dan seterusnya.

Sesi bedah novel ini sekaligus menjadi launching novel terbitan CV Hidra tersebut ke pasaran. Novel romansa sebanyak 257 halaman ini bisa didapatkan di toko buku maupun marketplace ternama dengan harga Rp84.000. (zk)

BANTUL – Kelingan Garden Cafe menjadi salah satu cafe baru di wilayah Bantul, yang berlokasi di pinggiran Sawah di kawasan Bejen, Bantul kota. Cafe ini resmi dibuka pada tanggal 1 Desember 2025 lalu.

Berawal dari keinginan para pelaku seni-budaya yang ada di Bantul untuk bisa memiliki panggung sendiri dalam berkarya, tanpa perlu menyewa tempat atau berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat yang lain, akhirnya Kelingan Garden Cafe hadir untuk menjawab itu semua. Cafe ini berfokus menyediakan tempat bagi komunitas seni-budaya untuk berkarya, sekaligus menjajakan beberapa kuliner khas cafe pada umumnya.

Salah satu founder Kelingan Garden Cafe, Tedi Kusyairi menyampaikan bahwa cafe ini memang khusus diperuntukan bagi pelaku seni-budaya untuk bisa konsisten berkarya, sehingga tidak perlu khawatir harus menyewa tempat, lobi berlapis-lapis, dan seterusnya.

“Memang sejak awal kami ingin menyediakan tempat yang representatif bagi komunitas seni-budaya khususnya yang ada di Bantul, untuk bisa terus berkarya tanpa harus sewa tempat dan sebagainya,” ujar Tedi yang ditemui dalam acara Selasa Sastra bertema “Harapan Baru Dalam Bersastra” di Kelingan Garden Cafe, Selasa (6/1/2026).

Beberapa menu yang ditawarkan Kelingan Garden Cafe pun cukup beragam, yang dibagi dalam tiga kategori. Diantaranya makanan berat seperti mie goreng, mie rebus, nasi goreng, dan seterusnya. Lalu makanan ringan atau snack seperti kentang goreng, nugget, dan semacamnya, serta minuman yakni kopi sebagai salah satu menu andalan, seperti red velvet, matcha, dan berbagai minuman lainnya. Kelingan Garden Cafe buka setiap harinya mulai pukul 11.00 hingga 21.30 WIB.

Selain cafe dan tempat untuk komunitas seni-budaya, Kelingan Cafe juga bisa digunakan untuk berbagai acara lain di luar seni-budaya, seperti seminar, diskusi publik, hingga yang sifatnya personal seperti perayaan ulang tahun dan juga pesta pernikahan.

Mengingat usianya yang baru satu bulan, Tedi pun merasa cafe ini masih perlu peningkatan dalam beberapa hal.

“Kami masih perlu menambahkan beberapa bangunan agar bisa memberikan kesan estetik sekaligus ciri khas untuk cafe ini, beberapa menu lain juga masih akan ditambahkan, dan tentu saja branding acara-acara yang diselenggarakan disini juga masih perlu diperbanyak lagi,” tambah Tedi.

Beberapa acara unggulan yang sudah rutin diselenggarakan di Kelingan Garden Cafe sejauh ini adalah Selasa Sastra setiap minggu pertama di awal bulan, serta Selasa Sinema di minggu kedua. (zk)

BANTUL – Awal tahun 2026 Selasa Sastra kembali hadir menyapa seluruh pemirsa baik secara daring maupun luring. Bertempat di Kelingan Garden Cafe, Bejen, Bantul, Selasa (6/1/2026), Selasa Sastra kali ini bertema “Harapan Baru Dalam Bersastra”.

Selasa Sastra edisi kali ini menampilkan beberapa penampilan sastra menarik, mulai dari pembacaan puisi, lagu puisi, akustik, hingga monolog. Selain itu momen Selasa Sastra awal tahun ini juga menandai peluncuran buku novel karya R. Toto Sugiharto berjudul “Owel”.

Founder Selasa Sastra Tedi Kusyairi, menyampaikan bahwa keberadaan Selasa Sastra di awal tahun 2026 ini menjadi sangat penting, karena ini menjadi momen di mana kita mampu menghidupi sastra, dan sastra pun akan mampu menghidupi kita.

“Salah satu cara yang bisa dilakukan (untuk menghidupi Sastra) adalah dengan melakukan pementasan rutin, membuat karya kreatif, sering mengupload ke media sosial, serta berjejaring. Sehingga nantinya diharapkan akan muncul kolaborasi yang memungkinkan karya sastra untuk dikomersilkan,” ujar Tedi Kusyairi di Kelingan Garden Cafe, Selasa (6/1/2026).

Selain itu, menurut Tedi, dengan perkembangan dunia sastra yang saat ini masih minim peminat, maka penting bagi siapapun pelakunya, untuk bisa benar-benar mengemas pertunjukan sastra tersebut secara lebih menarik dan mendetail, sehingga diharapkan akan lebih sustainable dalam berkarya.

“Seperti tadi pementasan monolog yang dibawakan oleh Agung Syamsu. Itu sebenarnya sangat bisa dijual ke publik, seandainya bisa di-create dengan lebih detail. Termasuk juga tadi musik puisi, lagu puisi, dan sebagainya tadi, jika itu populer maka bisa dijual ke publik dan mendapat pemasukan seperti dari ticketing dan seterusnya,” tambah Tedi.

Event Selasa Sastra selanjutnya akan dilangsungkan pada Selasa (20/1/2026), masih di Kelingan Garden Cafe, Bejen, Bantul. (zk)

BANTUL – Peringatan hari anti korupsi se-dunia (Hakordia) yang jatuh pada 9 Desember mendatang, menjadi momentum yang tepat untuk dijadikan sebagai bahan refleksi bagi seluruh masyarakat, terkait penanganan korupsi yang masih membudaya di negeri ini. Dan, salah satu cara yang bisa dilakukan untuk mencegah tindakan korupsi, adalah dengan berkarya sastra. Seperti yang dilakukan Selasa Sastra pada Sabtu (6/12/2025) bertempat di Kelingan Garden & Cafe, Bantul.

Berikut adalah beberapa cuplikan momen menarik yang terjadi dalam Selasa Sastra edisi spesial Hakordia 2025 “Aksi Seni Berantas Korupsi”. (foto: Azka Qintory)

 

BANTUL – Perhelatan Selasa Sastra spesial Hakordia (Hari Anti Korupsi Se-Dunia) yang jatuh pada 9 Desember 2025 menjadi momentum kembalinya kompetisi ACCFEST (Anti Corruption Film Festival) 2025 yang tahun ini telah memasuki perhelatan ke-11 sejak pertama kali diselenggarakan pada tahun 2013 silam.

Pada edisi ke-11 tahun 2025 ini, ACCFEST memiliki satu segmentasi tambahan, yakni Film Pendek Pelajar, yakni kategori khusus untuk film-film pendek bagi siswa/i SMP/sederajat dan SMA/sederajat. Kategori ini diadakan untuk benar-benar mewadahi kreativitas para pelajar di seluruh Indonesia.

Program Director ACCFEST Medio Venda Sukarta, mengatakan bahwa ACCFEST merupakan salah satu film festival tertua yang diselenggarakan oleh institusi Pemerintah.

“Bahkan ACCFEST itu menjadi satu-satunya film festival di dunia yang memiliki concern (kekhawatiran) terkait anti korupsi,” kata Medio dalam acara Selasa Sastra spesial Hakordia di Kelingan Cafe & Garden, Sabtu (6/12/2025).

Pada kesempatan yang sama, Medio yang juga berasal dari KPK Jakarta juga berbagi tips-tips sederhana tentang membuat film pendek bertemakan anti korupsi, agar bisa diikutsertakan pada ACCFEST tahun depan (2026).

Film-film anti korupsi yang terlibat dalam ACCFEST juga tidak melulu tentang korupsi besar yang dilakukan oleh pejabat negara, tapi lebih tentang perilaku atau nilai-nilai dalam kehidupan sehari-hari yang berkaitan dengan korupsi. Seperti misalnya tentang kejujuran, mengembalikan uang kembalian belanjaan, terlambat masuk sekolah, dan seterusnya. Sehingga diharapkan bahwa masayarakat juga memiliki idenya tersendiri terkait perilaku korupsi (atau anti korupsi) dalam kehidupan sehari-hari.

“Sentilan-sentilan itu (yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari) akan lebih ngena atau masuk, ketika disampaikan melalui sebuah film, dibandingkan melalui ceramah atau berbicara secara langsung,” ujar Medio.

Untuk ACCFEST 2026 rencananya akan mulai dibuka pada April 2026, sehingga para pelajar dari seluruh Indonesia, termasuk Yogyakarta, berkesempatan mengikuti festival film ini.

Di akhir sesi, seluruh peserta yang berasal dari beberapa SMK se-derajat jurusan Multimedia ini, mendapat kesempatan untuk menyaksikan beberapa film anti korupsi yang berhasil menjadi pemenang ACCFEST pada tahun-tahun sebelumnya, diantaranya film pendek berjudul “Receh”, “Piknik Panik”, “Pembayun”. “Soto Ayam”, “Subuh”, “Baju Wasiat”, dan “How To Be An Actor”. (zk)