YOGYAKARTA – Dalam aktivitas kepenulisan, biasanya sulit bagi penulis untuk mengukur “seberapa bagus tulisan yang telah dibuat”, manakala tulisan tersebut hanya dibaca seorang diri, atau dinikmati oleh kalangannya sendiri, seperti orang tua/keluarga, teman, maupun followers di media sosial.

Padahal, masih ada cara lain yang bisa dilakukan, untuk menilai bagus tidaknya kualitas tulisan yang telah dihasilkan, tanpa perlu merasa sungkan atau tidak enakan kepada si pembuat tulisan tersebut, atau ketika menyerahkan penilaian kepada yang bukan ahlinya.

Adapun salah satu cara yang bisa dilakukan adalah dengan mengikuti lomba kepenulisan, yang diselenggarakan oleh pihak manapun.

Dengan mengikuti lomba kepenulisan, setiap penulis bisa menilai, sudah sejauh mana kualitas tulisannya yang telah dibuat, dan apa-apa saja yang masih harus ditingkatkan lagi pada kesempatan berikutnya, dan seterusnya.

Hal itulah yang turut dilakukan oleh sastrawan asal Bantul, Satmoko Budi Santoso. Baginya, mengikuti lomba kepenulisan adalah strategi yang ampuh untuk menguji kemampuan diri sendiri (dalam menulis).

“Kalau saya dulu senang memacu diri dengan ikut lomba, gitu. Dari situ, kalau misalnya kita bisa menang tanpa melakukan lobi atau semacamnya, maka itu akan semakin memacu diri kita untuk lebih intensif lagi (dalam menulis karya),”  papar Satmoko Budi Santoso, saat mengisi sesi diskusi bertajuk “Quo Vadis Sastrawan Jogja” dalam rangkaian kegiatan Festival Literasi Jogja 2026, di halaman kantor Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah, Yogyakarta, beberapa waktu lalu.

Selain itu, mengikuti lomba adalah sarana yang sangat baik, untuk mengukur sejauh mana penulis tersebut dapat terus berkembang, dan menaikkan level kepenulisannya agar menjadi lebih baik lagi ke depannya.

“Itu adalah salah satu kiat untuk menguji diri (dengan peserta lomba lainnya), dengan begitu kita akan tahu batas kemampuan kita sampai di mana. Dan dari sana kita bisa step up lagi supaya terus berkembang, seperti itu,” tambah Satmoko.

Keterlibatan dalam lomba pun hendaknya tidak hanya ditargetkan untuk mencari hadiah (juara) saja, melainkan juga pengalaman berharga yang bisa didapatkan, sekaligus menjalin koneksi baru dengan sesama peserta maupun juri atau mentor dalam lomba tersebut, dan seterusnya. (zk)

YOGYAKARTA – Di tengah arus modernisasi yang kian gencar seperti saat ini, salah satunya dengan kehadiran AI (Artificial Intelligence), membuat keberadaan sastra mulai dipertanyakan, dan tidak lagi dipandang sebagai sesuatu yang perlu dilakukan, apalagi dilestarikan kepada generasi selanjutnya.

Namun, sastra masih tetap memiliki tempat yang layak untuk generasi muda, karena sastra adalah cara bagi mereka untuk menyampaikan sesuatu, entah itu keluh kesah, curhat, kritik, pujian, dan lain sebagainya.

Bahkan melalui sastra, seseorang bisa lebih mudah dikenali oleh banyak orang, karena karya-karyanya yang mampu menggugah rasa penasaran, membangkitkan imajinasi, serta semangat untuk meniru atau melakukan, sesuai dengan karya sastra yang ditulis, dan seterusnya.

“Memang ada sesuatu yang harus disampaikan. Anda ingin menyampaikan sesuatu itu (dengan cara) apa? Yang menjadi identitas bagi karya Anda sendiri. Jadi kalau misalnya Anda punya obsesi berlebih di bidang kuliner, ya sudah tinggal dieksplorasi saja sampai tuntas di dalam karya sastra Anda. Sehingga Anda akan dikenal sebagai seorang penulis yang khas dengan tema-tema kuliner, seperti itu,” ucap sastrawan Satmoko Budi Santoso, dalam sesi diskusi bertajuk “Quo Vadis Sastrawan Muda Jogja”, merupakan bagian dari Festival Literasi Jogja 2026 yang digelar di Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah (DPAD), Yogyakarta, beberapa waktu lalu.

Dalam sesi bersama Satmoko Budi Santoso, ada juga sastrawan Latief Noor Rochmans dengan moderator Afifah Abasrin.

Satmoko menilai, bersastra adalah bagian dari memperjuangkan identitas seseorang, alias membangun personal branding.

Karena hal itu dapat mencerminkan pribadi dan karakter orang tersebut, untuk diperkenalkan kepada khalayak luas, sekaligus menjadi ciri khas yang terus dibawa hingga akhir hayat.

“Jadi menulis (sastra) itu memang memperjuangkan identitas. Karena bagi saya, karya sastra yang baik itu adalah yang mampu memotret jiwa zaman. Jadi jangan khawatir kita hidup di zaman apa pun, dan tidak usah pula membentur-benturkan dengan kondisi yang terjadi pada zaman tersebut (misalnya dengan hadirnya AI dan lain-lain). Karena di setiap zaman kita bisa memotretnya dengan baik (melalui tulisan karya sastra), apa saja hal yang menarik di zaman itu yang bisa diabadikan,” tambah Satmoko.

Dengan begitu, sastra adalah sesuatu yang selalu hidup di zaman apa pun, dalam kondisi apa pun, dan oleh siapa pun.

Karena hakikat dari sastra adalah memotret peradaban zaman, bukannya tenggelam oleh zaman, apalagi hanyut bersama zaman itu sendiri.

Tinggal bagaimana potret itu dilakukan, dan seperti apa dampak yang ditimbulkan kepada peradaban secara luas. (zk)

BANTUL – Selasa sastra kembali hadir di bulan Juli 2026 dengan sejumlah penampilan sastra menarik serta beberapa acara pendukung lainnya.

Mengambil tema “Sajak-sajak Arah Angin”, Selasa Sastra kali ini mencoba untuk merespon berbagai isu global yang terjadi di dunia saat ini, seperti peperangan di Timur Tengah, mahalnya harga minyak, melonjaknya nilai tukar rupiah, dan seterusnya.

Dengan tema ini, Selasa Sastra mencoba menyikapi berbagai dinamika tersebut, dengan menampilkan pertunjukan sastra, terutama puisi, sebagai “respons” atas perkembangan isu-isu tersebut.

“Selasa sastra kali ini mencoba hadir untuk merespons berbagai dinamika yang hadir di dunia saat ini. Seperti peperangan, harga minyak yang terus melonjak, dan seterusnya, yang secara tidak langsung juga berimbas kepada masyarakat di Indonesia. Misalnya saja kurs dollar yang terus meningkat, dan lain-lain. Jadi bagaimana kita menyikapi setiap dinamika tersebut dengan karya sastra yang turut dibacakan di panggung Selasa Sastra hari ini,” ucap Direktur Selasa Sastra, Tedi Kusyairi, Selasa (7/7/2026).

Selain itu, event Selasa Sastra kali ini juga memberikan kesempatan untuk menulis buku secara gratis, melalui sayembara khusus yang diadakan oleh penerbit Ananta Vidya. Penulis yang terpilih berkesempatan untuk meneribitkan buku digital (e-book) buatan sendiri secara gratis, dan menjual bukunya kepada khalayak luas.

Tidak hanya itu, Selasa Sastra kali ini juga menghadirkan diskusi buku antologi puisi, yang merupakan hasil karya dari dua peserta program Temu Karya Sastra (TKS) dari Dinas Kebudayaan “Kundha Kabudayan” DIY tahun 2025, yakni buku “Upaya Untuk Pulang” karya Djessica Yula, dan “Perjalanan Menuju-Mu” karya Winda Cahyati.

Selasa Sastra edisi Juli 2026 kali ini berlangsung di Kelingan Garden & Café, Bejen, Bantul, Selasa (7/7/2026). Acara ini menampilkan beberapa sastrawan ternama yang berasal dari Bantul, di antaranya Tedi Kusyairi, Syamsu Setiaji, Budi Baik Hati, Fathia Jayanti, Shinta Sigit, dan masih banyak lagi. (zk)

BANTUL – Selasa Sastra kembali hadir pada edisi Juni 2026 di Kelingan Garden & Cafe, Selasa (2/6/2026).

Dalam edisi kali ini, Selasa Sastra mengambil tema “Janji di Bulan Juni”. Tema ini mengacu pada bagaimana agar setiap orang selalu berkomitmen terhadap janji yang pernah disampaikan, dan berusaha untuk menepatinya, baik di bulan Juni maupun bulan-bulan lainnya.

Berikut adalah sejumlah keseruan yang terjadi dalam kegiatan Selasa Sastra tersebut. (Foto: Azka Qintory)

 

 

BANTUL – Selasa Sastra kembali hadir pada edisi Juni 2026 di Kelingan Garden & Cafe, Selasa (2/6/2026).

Dalam edisi kali ini, Selasa Sastra mengambil tema “Janji di Bulan Juni”.

Tema ini sengaja dipilih, sebagai cara untuk mengingat kembali setiap janji yang pernah disampaikan, baik itu di bulan Juni maupun bulan-bulan lainnya, sehingga ada semacam aksi yang harus dilakukan, untuk menepati setiap janji tersebut.

“.Setiap orang kan pasti punya banyak keinginan, punya cita-cita, nah di momentum Selasa Sastra bulan Juni ini, diharapkan setiap orang akan selalu setia (komitmen) terhadap janjinya masing-masing, dan mencapai seluruh cita-cita yang diimpikan,” ungkap Direktur Komunitas Selasa Sastra, Tedi Kusyairi, saat ditemui di Kelingan Garden & Cafe, Selasa (2/6/2026).

Selain itu, kehadiran Selasa Sastra juga diharapkan mampu menjembatani setiap janji yang pernah terucap, salah satunya melalui pembacaan puisi atau karya sastra lainnya, kepada audiens yang menyaksikan langsung di Kelingan Garden & Cafe, maupun yang menonton siaran langsung di kanal YouTube Bang Tedi Way secara live streaming, dan seterusnya.

“Tentunya momentum Selasa Sastra juga bisa menjadi bagian dari bagaimana orang-orang yang terlibat dalam kegiatan ini, mampu mencapai tujuan dalam hidupnya, terkait janji-janji personalnya dan lain-lain,” tambah Tedi.

Terdapat beberapa penampilan sastra spesial yang hadir dalam Selasa Sastra edisi “Janji di Bulan Juni” kali ini, di antaranya dari Tedi Kusyairi, Mirna Radilla, Sunawi, Fathia Jayanti, Nur Budi, dan masih banyak lagi.

Tidak hanya penampilan sastra, Selasa Sastra edisi Juni 2026 ini juga menghadirkan sesi diskusi sekaligus launching dua antologi cerpen, masing-masing berjudul Pencuri di Bulan Suci karya Salwa Aulia Az-zahra, dan Sinden Terakhir karya Siti Maha Dana, (zk)

YOGYAKARTA – Komunitas Satupena DIY resmi meluncurkan karya berupa kumpulan cerpen spektakuler berjudul “Cerita dari Yogya”, yang berlangsung di Keselatan, Kraton, Kota Yogyakarta, Selasa (5/5/2026). Merangkum karya penulis dari berbagai usia.

Buku kumpulan cerita para anggota Komunitas Satupena ini memuat tema unik, khususnya pengalaman dan kenangan yang pernah ada di Kota Yogyakarta.

Berikut adalah sejumlah momen menarik yang terjadi dalam acara peluncuran buku kumpulan cerpen tersebut. (Foto: Azka Qintory)

 

 

YOGYAKARTA – Komunitas Satupena DIY resmi meluncurkan karya berupa kumpulan cerpen berjudul “Cerita dari Yogya”, yang berlangsung di Keselatan, Kraton, Kota Yogyakarta, Selasa (5/5/2026).

Sesuai namanya, buku ini merupakan kumpulan cerita para anggota Komunitas Satupena tentang pengalaman dan kenangan di Kota Yogyakarta, khususnya tentang percintaan (dalam konteks yang lebih luas).

Dalam suasana sore yang cerah, para anggota Satupena yang karya cerpennya termuat di dalam buku tersebut membacakan satu per satu karya mereka di hadapan audiens. Sembari menikmati embusan angin dan hidangan yang telah disediakan.

Sekretaris Satupena DIY, Ana Ratri, menyampaikan bahwa momen launching ini adalah rencana yang sudah tertunda sejak sekian lama, yang akhirnya baru bisa diwujudkan di bulan kelima tahun 2026 ini.

“Acara ini sebenarnya adalah acara yang sudah ditunggu sejak lama sekali. Sejak kami berdiri pada 2023 lalu, kami baru menerbitkan buku sebanyak dua kali. Kan seharusnya cita-cita awalnya itu setidaknya satu tahun sekali atau dua kali kita akan menerbitkan buku. Tapi baru sampai tahun ketiga akhirnya bisa terbit juga,” ucap Ana Ratri, Selasa (5/5/2026).

Rencananya, Satupena akan berusaha menerbitkan buku-buku karya sastra selanjutnya secara lebih rutin, bahkan dalam tiga bulan sekali, sehingga konsistensi mereka dalam berkarya dan menulis akan selalu terjaga.

“Rencananya setiap tahun kami akan menepati komitmen untuk menerbitkan buku-buku selanjutnya. Tapi tadi ada usulan di tengah-tengah diskusi bahwa kita akan menerbitkan (buku) per tiga bulan,” tambah Ana Ratri.

Selain itu, Satupena DIY juga berencana membuat workshop kepenulisan kepada anak-anak generasi muda, agar dapat memperkenalkan sekaligus melestarikan dunia sastra kepada generasi penerus mereka di kemudian hari.

Banyak nama sastrawan dan jurnalis yang bergiat di Komunitas Satupena Yogyakarta, di antaranya Sutirman Eka Ardhana, YB Margantoro, Agus Istianto, Syamsu Setiaji, Pascalia WD, Dhenok Kristianti, Affan Safani Adham, Awit Radiani, Marwanto, Achmad Charris Zubair, Ons Untoro, dan lain-lain. (qin)

Sanggar sastra Regas mengawali pertemuan perdana di tahun 2026 dengan semangat baru, untuk bisa memajukan dunia sastra, khususnya di wilayah Kulon Progo, menjadi lebih maju dan semarak dibanding tahun-tahun sebelumnya.

Semangat baru Regas tersebut diwujudkan dalam pemilihan pengurus baru, yang akan bertugas di sepanjang tahun 2026 ini. Salah satunya adalah pemilihan Ketua Sanggar, yang langsung dilantik saat itu juga.

Berikut adalah momen-momen keseruan Sanggar Sastra Regas saat melakukan pergantian kepengurusan, yang berlangsung di sekretariat Sanggar Sastra Regas, yang berlokasi di Sogan, Wates, Kulon Progo, Sabtu (7/3/2026). (Foto: istimewa)

 

KULON PROGO – Sanggar sastra Regas mengawali pertemuan perdana di tahun 2026 dengan semangat baru, untuk bisa memajukan dunia sastra, khususnya di wilayah Kulon Progo, menjadi lebih maju dan semarak dibanding tahun-tahun sebelumnya.

Semangat baru Regas tersebut diwujudkan dalam pemilihan pengurus baru, yang akan bertugas di sepanjang tahun 2026 ini. Salah satunya adalah pemilihan Ketua Sanggar, yang langsung dilantik saat itu juga.

Kegiatan pemilihan sekaligus pelantikan ketua sanggar tersebut dilaksanakan pada Sabtu (7/3/2026), bertempat di Sanggar Sastra Regas, Sogan, Wates, Kulon Progo.

Adapun agenda utama dalam pertemuan ini adalah pemilihan ketua sanggar baru, yang dilakukan secara musyawarah oleh para pengurus yang telah lolos proses seleksi.

Dalam proses tersebut, diputuskan bahwa Ahmad Hibban Aunur Rahman terpilih sebagai ketua baru Sanggar Sastra Regas periode 2026, menggantikan kepemimpinan sebelumnya yang diemban oleh Tri Wahyuni.

Selain pemilihan ketua, kegiatan ini juga menjadi ajang pertemuan perdana para pengurus baru yang telah dinyatakan lolos seleksi.

Pertemuan ini juga sekaligus menjadi ajang silaturahmi pengurus baru, untuk membangun kekompakan, semangat baru, serta menumbuhkan komitmen bersama dalam mengembangkan kegiatan literasi dan sastra di lingkungan Sanggar Sastra Regas, serta Kulon Progo dan DIY secara umum.

Acara kemudian dilanjutkan dengan prosesi pelantikan pengurus baru secara langsung di lokasi yang sama. Prosesi pelantikan didampingi langsung oleh pembimbing Sanggar Sastra Regas, Tedi Kusyairi, yang juga memberikan arahan serta motivasi kepada para pengurus baru, agar dapat menjalankan amanah dengan penuh tanggung jawab dan semangat dalam berkarya.

Sebagai penutup, kegiatan dilanjutkan dengan buka bersama, yang berlangsung dalam suasana hangat dan kekeluargaan. Momen ini juga menjadi kesempatan bagi seluruh pengurus untuk semakin mempererat kebersamaan, serta meneguhkan semangat untuk terus menghidupkan ruang-ruang sastra di tengah-tengah masyarakat.

Melalui pertemuan perdana ini, diharapkan kepengurusan baru Sanggar Sastra Regas mampu membawa energi baru, memperkuat kegiatan literasi, serta terus menghadirkan karya-karya sastra yang memberi inspirasi bagi masyarakat, khususnya di Kulon Progo. (zk)

SLEMAN – Pada masa pra-kemerdekaan hingga orde baru, keberadaan sastra masih dijunjung tinggi oleh bangsa Indonesia. Hal ini terjadi lantaran karya-karya sastra seperti puisi, cerpen, novel, dan seterusnya, telah mampu menjadi penggerak suatu perubahan, sekaligus sebagai kritik terhadap rezim kepemimpinan yang berkuasa pada saat itu.

Namun kini, sastra seperti kehilangan roh-nya sebagai penggerak perubahan, karena para pejabat tidak lagi tertarik dengan karya sastra, tapi justru lebih sibuk memperkaya kroni-kroninya sendiri, dan seterusnya.

Dalam sosialisasi empat pilar kebangsaan MPR RI yang berlangsung di Puri Mataram, Tridadi, Sleman, Minggu (15/2/2026), Guru Besar UGM, PM Laksono menyatakan bahwa cita-cita bangsa ini sejatinya sudah pudar sejak tahun 50-an, karena pejabat sudah tidak lagi peduli terhadap kritik-kritik yang dilayangkan kepada mereka, salah satunya dituangkan melalui karya sastra.

“Sastra itu sudah berhenti mengilhami pemimpin di tahun 50-an. Bukan karena sastra-nya buruk, tapi karena pemimpinnya sudah tidak lagi membaca sastra,” ujar PM Laksono di Puri Mataram, Minggu (15/2/2026).

Lebih jauh, PM Laksono merasa bahwa hal itu juga dipengaruhi oleh kualitas pendidikan yang ada di Indonesia, bahkan sampai hari ini. Karena pendidikan yang ada saat ini tidak banyak memfasilitasi anak-anak bangsa untuk berpikir secara kritis.

“Saat saya masih menjadi dosen pun, problem pertama yang saya hadapi adalah ketika menerima mahasiswa baru, mereka sama sekali tidak bisa bertanya, bahkan sampai yang calon S3 sekalipun,” pungkas PM Laksono.

Ia pun dengan tegas menyatakan, apabila sekelas mahasiswa saja tidak mampu bertanya, maka ada sistem yang salah sejak di lingkungan keluarganya. Karena dengan begitu dunia tidak akan berkembang, jika generasi muda tidak memiliki kemampuan untuk bertanya, yang merupakan landasan dari berpikir kritis. (zk)