BANTUL – Selasa sastra kembali hadir di bulan Juli 2026 dengan sejumlah penampilan sastra menarik serta beberapa acara pendukung lainnya.

Mengambil tema “Sajak-sajak Arah Angin”, Selasa Sastra kali ini mencoba untuk merespon berbagai isu global yang terjadi di dunia saat ini, seperti peperangan di Timur Tengah, mahalnya harga minyak, melonjaknya nilai tukar rupiah, dan seterusnya.

Dengan tema ini, Selasa Sastra mencoba menyikapi berbagai dinamika tersebut, dengan menampilkan pertunjukan sastra, terutama puisi, sebagai “respons” atas perkembangan isu-isu tersebut.

“Selasa sastra kali ini mencoba hadir untuk merespons berbagai dinamika yang hadir di dunia saat ini. Seperti peperangan, harga minyak yang terus melonjak, dan seterusnya, yang secara tidak langsung juga berimbas kepada masyarakat di Indonesia. Misalnya saja kurs dollar yang terus meningkat, dan lain-lain. Jadi bagaimana kita menyikapi setiap dinamika tersebut dengan karya sastra yang turut dibacakan di panggung Selasa Sastra hari ini,” ucap Direktur Selasa Sastra, Tedi Kusyairi, Selasa (7/7/2026).

Selain itu, event Selasa Sastra kali ini juga memberikan kesempatan untuk menulis buku secara gratis, melalui sayembara khusus yang diadakan oleh penerbit Ananta Vidya. Penulis yang terpilih berkesempatan untuk meneribitkan buku digital (e-book) buatan sendiri secara gratis, dan menjual bukunya kepada khalayak luas.

Tidak hanya itu, Selasa Sastra kali ini juga menghadirkan diskusi buku antologi puisi, yang merupakan hasil karya dari dua peserta program Temu Karya Sastra (TKS) dari Dinas Kebudayaan “Kundha Kabudayan” DIY tahun 2025, yakni buku “Upaya Untuk Pulang” karya Djessica Yula, dan “Perjalanan Menuju-Mu” karya Winda Cahyati.

Selasa Sastra edisi Juli 2026 kali ini berlangsung di Kelingan Garden & Café, Bejen, Bantul, Selasa (7/7/2026). Acara ini menampilkan beberapa sastrawan ternama yang berasal dari Bantul, di antaranya Tedi Kusyairi, Syamsu Setiaji, Budi Baik Hati, Fathia Jayanti, Shinta Sigit, dan masih banyak lagi. (zk)

BANTUL – Selasa Sastra kembali hadir pada edisi Juni 2026 di Kelingan Garden & Cafe, Selasa (2/6/2026).

Dalam edisi kali ini, Selasa Sastra mengambil tema “Janji di Bulan Juni”. Tema ini mengacu pada bagaimana agar setiap orang selalu berkomitmen terhadap janji yang pernah disampaikan, dan berusaha untuk menepatinya, baik di bulan Juni maupun bulan-bulan lainnya.

Berikut adalah sejumlah keseruan yang terjadi dalam kegiatan Selasa Sastra tersebut. (Foto: Azka Qintory)

 

 

BANTUL – Selasa Sastra kembali hadir pada edisi Juni 2026 di Kelingan Garden & Cafe, Selasa (2/6/2026).

Dalam edisi kali ini, Selasa Sastra mengambil tema “Janji di Bulan Juni”.

Tema ini sengaja dipilih, sebagai cara untuk mengingat kembali setiap janji yang pernah disampaikan, baik itu di bulan Juni maupun bulan-bulan lainnya, sehingga ada semacam aksi yang harus dilakukan, untuk menepati setiap janji tersebut.

“.Setiap orang kan pasti punya banyak keinginan, punya cita-cita, nah di momentum Selasa Sastra bulan Juni ini, diharapkan setiap orang akan selalu setia (komitmen) terhadap janjinya masing-masing, dan mencapai seluruh cita-cita yang diimpikan,” ungkap Direktur Komunitas Selasa Sastra, Tedi Kusyairi, saat ditemui di Kelingan Garden & Cafe, Selasa (2/6/2026).

Selain itu, kehadiran Selasa Sastra juga diharapkan mampu menjembatani setiap janji yang pernah terucap, salah satunya melalui pembacaan puisi atau karya sastra lainnya, kepada audiens yang menyaksikan langsung di Kelingan Garden & Cafe, maupun yang menonton siaran langsung di kanal YouTube Bang Tedi Way secara live streaming, dan seterusnya.

“Tentunya momentum Selasa Sastra juga bisa menjadi bagian dari bagaimana orang-orang yang terlibat dalam kegiatan ini, mampu mencapai tujuan dalam hidupnya, terkait janji-janji personalnya dan lain-lain,” tambah Tedi.

Terdapat beberapa penampilan sastra spesial yang hadir dalam Selasa Sastra edisi “Janji di Bulan Juni” kali ini, di antaranya dari Tedi Kusyairi, Mirna Radilla, Sunawi, Fathia Jayanti, Nur Budi, dan masih banyak lagi.

Tidak hanya penampilan sastra, Selasa Sastra edisi Juni 2026 ini juga menghadirkan sesi diskusi sekaligus launching dua antologi cerpen, masing-masing berjudul Pencuri di Bulan Suci karya Salwa Aulia Az-zahra, dan Sinden Terakhir karya Siti Maha Dana, (zk)

YOGYAKARTA – Komunitas Satupena DIY resmi meluncurkan karya berupa kumpulan cerpen spektakuler berjudul “Cerita dari Yogya”, yang berlangsung di Keselatan, Kraton, Kota Yogyakarta, Selasa (5/5/2026). Merangkum karya penulis dari berbagai usia.

Buku kumpulan cerita para anggota Komunitas Satupena ini memuat tema unik, khususnya pengalaman dan kenangan yang pernah ada di Kota Yogyakarta.

Berikut adalah sejumlah momen menarik yang terjadi dalam acara peluncuran buku kumpulan cerpen tersebut. (Foto: Azka Qintory)

 

 

YOGYAKARTA – Komunitas Satupena DIY resmi meluncurkan karya berupa kumpulan cerpen berjudul “Cerita dari Yogya”, yang berlangsung di Keselatan, Kraton, Kota Yogyakarta, Selasa (5/5/2026).

Sesuai namanya, buku ini merupakan kumpulan cerita para anggota Komunitas Satupena tentang pengalaman dan kenangan di Kota Yogyakarta, khususnya tentang percintaan (dalam konteks yang lebih luas).

Dalam suasana sore yang cerah, para anggota Satupena yang karya cerpennya termuat di dalam buku tersebut membacakan satu per satu karya mereka di hadapan audiens. Sembari menikmati embusan angin dan hidangan yang telah disediakan.

Sekretaris Satupena DIY, Ana Ratri, menyampaikan bahwa momen launching ini adalah rencana yang sudah tertunda sejak sekian lama, yang akhirnya baru bisa diwujudkan di bulan kelima tahun 2026 ini.

“Acara ini sebenarnya adalah acara yang sudah ditunggu sejak lama sekali. Sejak kami berdiri pada 2023 lalu, kami baru menerbitkan buku sebanyak dua kali. Kan seharusnya cita-cita awalnya itu setidaknya satu tahun sekali atau dua kali kita akan menerbitkan buku. Tapi baru sampai tahun ketiga akhirnya bisa terbit juga,” ucap Ana Ratri, Selasa (5/5/2026).

Rencananya, Satupena akan berusaha menerbitkan buku-buku karya sastra selanjutnya secara lebih rutin, bahkan dalam tiga bulan sekali, sehingga konsistensi mereka dalam berkarya dan menulis akan selalu terjaga.

“Rencananya setiap tahun kami akan menepati komitmen untuk menerbitkan buku-buku selanjutnya. Tapi tadi ada usulan di tengah-tengah diskusi bahwa kita akan menerbitkan (buku) per tiga bulan,” tambah Ana Ratri.

Selain itu, Satupena DIY juga berencana membuat workshop kepenulisan kepada anak-anak generasi muda, agar dapat memperkenalkan sekaligus melestarikan dunia sastra kepada generasi penerus mereka di kemudian hari.

Banyak nama sastrawan dan jurnalis yang bergiat di Komunitas Satupena Yogyakarta, di antaranya Sutirman Eka Ardhana, YB Margantoro, Agus Istianto, Syamsu Setiaji, Pascalia WD, Dhenok Kristianti, Affan Safani Adham, Awit Radiani, Marwanto, Achmad Charris Zubair, Ons Untoro, dan lain-lain. (qin)

Sanggar sastra Regas mengawali pertemuan perdana di tahun 2026 dengan semangat baru, untuk bisa memajukan dunia sastra, khususnya di wilayah Kulon Progo, menjadi lebih maju dan semarak dibanding tahun-tahun sebelumnya.

Semangat baru Regas tersebut diwujudkan dalam pemilihan pengurus baru, yang akan bertugas di sepanjang tahun 2026 ini. Salah satunya adalah pemilihan Ketua Sanggar, yang langsung dilantik saat itu juga.

Berikut adalah momen-momen keseruan Sanggar Sastra Regas saat melakukan pergantian kepengurusan, yang berlangsung di sekretariat Sanggar Sastra Regas, yang berlokasi di Sogan, Wates, Kulon Progo, Sabtu (7/3/2026). (Foto: istimewa)

 

KULON PROGO – Sanggar sastra Regas mengawali pertemuan perdana di tahun 2026 dengan semangat baru, untuk bisa memajukan dunia sastra, khususnya di wilayah Kulon Progo, menjadi lebih maju dan semarak dibanding tahun-tahun sebelumnya.

Semangat baru Regas tersebut diwujudkan dalam pemilihan pengurus baru, yang akan bertugas di sepanjang tahun 2026 ini. Salah satunya adalah pemilihan Ketua Sanggar, yang langsung dilantik saat itu juga.

Kegiatan pemilihan sekaligus pelantikan ketua sanggar tersebut dilaksanakan pada Sabtu (7/3/2026), bertempat di Sanggar Sastra Regas, Sogan, Wates, Kulon Progo.

Adapun agenda utama dalam pertemuan ini adalah pemilihan ketua sanggar baru, yang dilakukan secara musyawarah oleh para pengurus yang telah lolos proses seleksi.

Dalam proses tersebut, diputuskan bahwa Ahmad Hibban Aunur Rahman terpilih sebagai ketua baru Sanggar Sastra Regas periode 2026, menggantikan kepemimpinan sebelumnya yang diemban oleh Tri Wahyuni.

Selain pemilihan ketua, kegiatan ini juga menjadi ajang pertemuan perdana para pengurus baru yang telah dinyatakan lolos seleksi.

Pertemuan ini juga sekaligus menjadi ajang silaturahmi pengurus baru, untuk membangun kekompakan, semangat baru, serta menumbuhkan komitmen bersama dalam mengembangkan kegiatan literasi dan sastra di lingkungan Sanggar Sastra Regas, serta Kulon Progo dan DIY secara umum.

Acara kemudian dilanjutkan dengan prosesi pelantikan pengurus baru secara langsung di lokasi yang sama. Prosesi pelantikan didampingi langsung oleh pembimbing Sanggar Sastra Regas, Tedi Kusyairi, yang juga memberikan arahan serta motivasi kepada para pengurus baru, agar dapat menjalankan amanah dengan penuh tanggung jawab dan semangat dalam berkarya.

Sebagai penutup, kegiatan dilanjutkan dengan buka bersama, yang berlangsung dalam suasana hangat dan kekeluargaan. Momen ini juga menjadi kesempatan bagi seluruh pengurus untuk semakin mempererat kebersamaan, serta meneguhkan semangat untuk terus menghidupkan ruang-ruang sastra di tengah-tengah masyarakat.

Melalui pertemuan perdana ini, diharapkan kepengurusan baru Sanggar Sastra Regas mampu membawa energi baru, memperkuat kegiatan literasi, serta terus menghadirkan karya-karya sastra yang memberi inspirasi bagi masyarakat, khususnya di Kulon Progo. (zk)

SLEMAN – Pada masa pra-kemerdekaan hingga orde baru, keberadaan sastra masih dijunjung tinggi oleh bangsa Indonesia. Hal ini terjadi lantaran karya-karya sastra seperti puisi, cerpen, novel, dan seterusnya, telah mampu menjadi penggerak suatu perubahan, sekaligus sebagai kritik terhadap rezim kepemimpinan yang berkuasa pada saat itu.

Namun kini, sastra seperti kehilangan roh-nya sebagai penggerak perubahan, karena para pejabat tidak lagi tertarik dengan karya sastra, tapi justru lebih sibuk memperkaya kroni-kroninya sendiri, dan seterusnya.

Dalam sosialisasi empat pilar kebangsaan MPR RI yang berlangsung di Puri Mataram, Tridadi, Sleman, Minggu (15/2/2026), Guru Besar UGM, PM Laksono menyatakan bahwa cita-cita bangsa ini sejatinya sudah pudar sejak tahun 50-an, karena pejabat sudah tidak lagi peduli terhadap kritik-kritik yang dilayangkan kepada mereka, salah satunya dituangkan melalui karya sastra.

“Sastra itu sudah berhenti mengilhami pemimpin di tahun 50-an. Bukan karena sastra-nya buruk, tapi karena pemimpinnya sudah tidak lagi membaca sastra,” ujar PM Laksono di Puri Mataram, Minggu (15/2/2026).

Lebih jauh, PM Laksono merasa bahwa hal itu juga dipengaruhi oleh kualitas pendidikan yang ada di Indonesia, bahkan sampai hari ini. Karena pendidikan yang ada saat ini tidak banyak memfasilitasi anak-anak bangsa untuk berpikir secara kritis.

“Saat saya masih menjadi dosen pun, problem pertama yang saya hadapi adalah ketika menerima mahasiswa baru, mereka sama sekali tidak bisa bertanya, bahkan sampai yang calon S3 sekalipun,” pungkas PM Laksono.

Ia pun dengan tegas menyatakan, apabila sekelas mahasiswa saja tidak mampu bertanya, maka ada sistem yang salah sejak di lingkungan keluarganya. Karena dengan begitu dunia tidak akan berkembang, jika generasi muda tidak memiliki kemampuan untuk bertanya, yang merupakan landasan dari berpikir kritis. (zk)

BANTUL, JT – Upayakan meningkatknya kemampuan literasi siswa, SMP Negeri 1 Piyungan Bantul Yogyakarta mengadakan Bimbingan Teknis (Bimtek) Penulisan Buku bagi Siswa.

Sebanyak 30 siswa mengikuti acara yang digelar dalam beberapa tahap. Tiga bidang yang diberikan: penulisan buku nonfiksi dengan pemateri Tedi Kusyairi, puisi diampu Latief Noor Rochmans, dan geguritan oleh Hidratmoko Andritamtomo.

Kepala SMP Negeri 1 Piyungan Dra Sri Lestari MPd menerangkan, bahwa Bimtek tahun ini yang keempat. Sudah tergelar tiga kali di tahun sebelumnya.

“Kalo tahun sebelumnya berupa antologi bersama, yang membedakan, tahun ini hasil akhir tiap anak menghasilkan satu buku kumpulan karya. Jadi nanti akan ada 30 judul buku karya siswa, terbagi puisi, geguritan, dan nonfiksi. Kalau tahun-tahun sebelumnya,” ujar Sri Lestari.

Peserta dijaring melalui audisi yang kemudian dipilih berdasar kemampuan siswa.

“Kami punya komunitas duta literasi. Mereka mendaftar, dan kami pilih,” terang Sri Lestari.

Setelah mengikuti bimbingan, para peserta akan menulis karya yang kemudian dikumpulkan. Bimtek dilaksanakan mulai 9-13 Februari 2026, dilanjutkan dengan mentoring karya hingga penerbitan buku.

“Juni naskah sudah masuk semua dan dieditori. Bulan Juli naik cetak, Agustus kami luncurkan di acara Lustrum sekolah,” tambah Sri Lestari.

Branding SMP Negeri 1 Piyungan adalah sekolah literasi. Lewat pembuatan buku karya siswa ini diharap bisa mendongkrak kegemaran membaca dan menulis.

Menurut Sri Lestari, rapor literasi siswa mendapat nilai 100.

“Karena itu saya berpesan, jangan sampai turun. Di sekolah kami, sebelum kegiatan belajar mengajar, ada literasi berbasis HP. Ada juga yang membaca buku. Ada siswa yang membaca cerpen, puisi atau geguritan. Didengar, kemudian mereka menulis,” ucap Sri Lestari.

Hampir semua peserta sangat menikmati bimtek ini. Tedi Kusyairi, Latief Noor Rohmans dan Hindratmoko menyebut para peserta sangat antusias.

Tak kalah heboh dan antusias dari kelas puisi dan geguritan yang berbasis fiksi, peserta kelas penulisan buku nonfiksi juga sangat aktif.

“Mulai dari diperkenalkan dengan dunia buku nonfiksi, mencari ide yang menarik pembaca, konsep buku, draft outline, hingga perencanaan riset dan penulisan, mereka sangat concern dan aktif mengerjakannya,” ujar Tedi Kusyairi mentor kelas buku nonfiksi di SMPN 1 Piyungan (13/2/2026).

Jika di tahun sebelumnya ada kelas essay maka kali ini kelas buku nonfiksi menghadapi tantangan penulisan yang lebih komlkes karena menulis sekitar 70 halaman bahan untuk buku yang diterbitkan memerlukan semangat dan konsentrasi peserta yang luar biasa.

“Yang luar biasa dari para peserta adalah, tak hanya bisa mengkonsep sebuah buku dengan memilih judul buku yang menarik, tapi sudah bisa menjabarkan outline draft isi buku yang akan ditulisnya dengan diperkirakan mencapai 70 halaman, bagi usia SMP ini sangat menarik,” ungkap Tedi lebih lanjut.

Bimtek kelas nonfiksi diikuti oleh 10 peserta: Reza, Aqila, Elviana, Atika, Isnaini, Rizka, Khaila, Nia, Nurmalita, dan Wildan, didampingi Guru Tyas dan Nur Hamidah.

“Banyak aturan menulis buku yang baru aku tau, terus baru tahu kalo buku nonfiksi itu harus bener-bener perhatiin sumber info, topik buku nya, sama audiensnya, pokonya seru,” kata Nia yang akan menulis buku dengan rencana judul ‘Suara yang Penah Diam’.

Sementara menurut Wildan yang rencananya akan menulis buku dengan judul ‘Kapan Terakhir Kali Kamu Gagal?’, mengatakan bahwa tantangan menulis buku nonfiksi yang baru pertama kali dialaminya ini merupakan kesempatan yang luar biasa untuk masuk kedunia penulisan yang sesungguhnya, karena akan berhubungan dengan dunia penerbitan buku. (*)

BANTUL – Event Selasa Sastra kembali merayakan hari jadinya. Awal Februari 2026 ini menjadi penanda usia Selasa Sastra yang genap berusia satu lusin, atau 12 tahun.

Perayaan ulang tahun ke-12 ini dirayakan secara sederhana, namun tetap dirayakan melalui pertunjukkan sastra, yang dilangsungkan di Kelingan Garden Cafe, Selasa (3/2/2026).

Mengusung tema “Isyarat Awan, Mendung, dan Rintik Hujan”, Selasa Sastra kali ini turut mengundang sejumlah sastrawan ternama yang sudah malang-melintang berkarya di Bantul maupun provinsi DIY, sebut saja Satmoko Budi Santoso, Endang Winarsih, Tedi Kusyairi, Sri Wijayati, Rudiyati, dan masih banyak lagi.

Selain itu Selasa Sastra edisi ulang tahun ke-12 ini juga menampilkan sesi bedah novel, yang kali ini membahas tentang novel ber-genre romansa berjudul “Mendung Yang Singgah Di Matamu” karya Hanif TT.

Noel ini berceria tentang kisah percintaan Arka, yang harus menelan pil pahit akibat terus menerus dikhianati oleh pacar-pacarnya karena berbagai alasan, seperti selingkuh dan seterusnya.

Sesi bedah novel ini sekaligus menjadi launching novel terbitan CV Hidra tersebut ke pasaran. Novel romansa sebanyak 257 halaman ini bisa didapatkan di toko buku maupun marketplace ternama dengan harga Rp84.000. (zk)