SLEMAN – Pada masa pra-kemerdekaan hingga orde baru, keberadaan sastra masih dijunjung tinggi oleh bangsa Indonesia. Hal ini terjadi lantaran karya-karya sastra seperti puisi, cerpen, novel, dan seterusnya, telah mampu menjadi penggerak suatu perubahan, sekaligus sebagai kritik terhadap rezim kepemimpinan yang berkuasa pada saat itu.

Namun kini, sastra seperti kehilangan roh-nya sebagai penggerak perubahan, karena para pejabat tidak lagi tertarik dengan karya sastra, tapi justru lebih sibuk memperkaya kroni-kroninya sendiri, dan seterusnya.

Dalam sosialisasi empat pilar kebangsaan MPR RI yang berlangsung di Puri Mataram, Tridadi, Sleman, Minggu (15/2/2026), Guru Besar UGM, PM Laksono menyatakan bahwa cita-cita bangsa ini sejatinya sudah pudar sejak tahun 50-an, karena pejabat sudah tidak lagi peduli terhadap kritik-kritik yang dilayangkan kepada mereka, salah satunya dituangkan melalui karya sastra.

“Sastra itu sudah berhenti mengilhami pemimpin di tahun 50-an. Bukan karena sastra-nya buruk, tapi karena pemimpinnya sudah tidak lagi membaca sastra,” ujar PM Laksono di Puri Mataram, Minggu (15/2/2026).

Lebih jauh, PM Laksono merasa bahwa hal itu juga dipengaruhi oleh kualitas pendidikan yang ada di Indonesia, bahkan sampai hari ini. Karena pendidikan yang ada saat ini tidak banyak memfasilitasi anak-anak bangsa untuk berpikir secara kritis.

“Saat saya masih menjadi dosen pun, problem pertama yang saya hadapi adalah ketika menerima mahasiswa baru, mereka sama sekali tidak bisa bertanya, bahkan sampai yang calon S3 sekalipun,” pungkas PM Laksono.

Ia pun dengan tegas menyatakan, apabila sekelas mahasiswa saja tidak mampu bertanya, maka ada sistem yang salah sejak di lingkungan keluarganya. Karena dengan begitu dunia tidak akan berkembang, jika generasi muda tidak memiliki kemampuan untuk bertanya, yang merupakan landasan dari berpikir kritis. (zk)

BANTUL, JT – Upayakan meningkatknya kemampuan literasi siswa, SMP Negeri 1 Piyungan Bantul Yogyakarta mengadakan Bimbingan Teknis (Bimtek) Penulisan Buku bagi Siswa.

Sebanyak 30 siswa mengikuti acara yang digelar dalam beberapa tahap. Tiga bidang yang diberikan: penulisan buku nonfiksi dengan pemateri Tedi Kusyairi, puisi diampu Latief Noor Rochmans, dan geguritan oleh Hidratmoko Andritamtomo.

Kepala SMP Negeri 1 Piyungan Dra Sri Lestari MPd menerangkan, bahwa Bimtek tahun ini yang keempat. Sudah tergelar tiga kali di tahun sebelumnya.

“Kalo tahun sebelumnya berupa antologi bersama, yang membedakan, tahun ini hasil akhir tiap anak menghasilkan satu buku kumpulan karya. Jadi nanti akan ada 30 judul buku karya siswa, terbagi puisi, geguritan, dan nonfiksi. Kalau tahun-tahun sebelumnya,” ujar Sri Lestari.

Peserta dijaring melalui audisi yang kemudian dipilih berdasar kemampuan siswa.

“Kami punya komunitas duta literasi. Mereka mendaftar, dan kami pilih,” terang Sri Lestari.

Setelah mengikuti bimbingan, para peserta akan menulis karya yang kemudian dikumpulkan. Bimtek dilaksanakan mulai 9-13 Februari 2026, dilanjutkan dengan mentoring karya hingga penerbitan buku.

“Juni naskah sudah masuk semua dan dieditori. Bulan Juli naik cetak, Agustus kami luncurkan di acara Lustrum sekolah,” tambah Sri Lestari.

Branding SMP Negeri 1 Piyungan adalah sekolah literasi. Lewat pembuatan buku karya siswa ini diharap bisa mendongkrak kegemaran membaca dan menulis.

Menurut Sri Lestari, rapor literasi siswa mendapat nilai 100.

“Karena itu saya berpesan, jangan sampai turun. Di sekolah kami, sebelum kegiatan belajar mengajar, ada literasi berbasis HP. Ada juga yang membaca buku. Ada siswa yang membaca cerpen, puisi atau geguritan. Didengar, kemudian mereka menulis,” ucap Sri Lestari.

Hampir semua peserta sangat menikmati bimtek ini. Tedi Kusyairi, Latief Noor Rohmans dan Hindratmoko menyebut para peserta sangat antusias.

Tak kalah heboh dan antusias dari kelas puisi dan geguritan yang berbasis fiksi, peserta kelas penulisan buku nonfiksi juga sangat aktif.

“Mulai dari diperkenalkan dengan dunia buku nonfiksi, mencari ide yang menarik pembaca, konsep buku, draft outline, hingga perencanaan riset dan penulisan, mereka sangat concern dan aktif mengerjakannya,” ujar Tedi Kusyairi mentor kelas buku nonfiksi di SMPN 1 Piyungan (13/2/2026).

Jika di tahun sebelumnya ada kelas essay maka kali ini kelas buku nonfiksi menghadapi tantangan penulisan yang lebih komlkes karena menulis sekitar 70 halaman bahan untuk buku yang diterbitkan memerlukan semangat dan konsentrasi peserta yang luar biasa.

“Yang luar biasa dari para peserta adalah, tak hanya bisa mengkonsep sebuah buku dengan memilih judul buku yang menarik, tapi sudah bisa menjabarkan outline draft isi buku yang akan ditulisnya dengan diperkirakan mencapai 70 halaman, bagi usia SMP ini sangat menarik,” ungkap Tedi lebih lanjut.

Bimtek kelas nonfiksi diikuti oleh 10 peserta: Reza, Aqila, Elviana, Atika, Isnaini, Rizka, Khaila, Nia, Nurmalita, dan Wildan, didampingi Guru Tyas dan Nur Hamidah.

“Banyak aturan menulis buku yang baru aku tau, terus baru tahu kalo buku nonfiksi itu harus bener-bener perhatiin sumber info, topik buku nya, sama audiensnya, pokonya seru,” kata Nia yang akan menulis buku dengan rencana judul ‘Suara yang Penah Diam’.

Sementara menurut Wildan yang rencananya akan menulis buku dengan judul ‘Kapan Terakhir Kali Kamu Gagal?’, mengatakan bahwa tantangan menulis buku nonfiksi yang baru pertama kali dialaminya ini merupakan kesempatan yang luar biasa untuk masuk kedunia penulisan yang sesungguhnya, karena akan berhubungan dengan dunia penerbitan buku. (*)

BANTUL – Event Selasa Sastra kembali merayakan hari jadinya. Awal Februari 2026 ini menjadi penanda usia Selasa Sastra yang genap berusia satu lusin, atau 12 tahun.

Perayaan ulang tahun ke-12 ini dirayakan secara sederhana, namun tetap dirayakan melalui pertunjukkan sastra, yang dilangsungkan di Kelingan Garden Cafe, Selasa (3/2/2026).

Mengusung tema “Isyarat Awan, Mendung, dan Rintik Hujan”, Selasa Sastra kali ini turut mengundang sejumlah sastrawan ternama yang sudah malang-melintang berkarya di Bantul maupun provinsi DIY, sebut saja Satmoko Budi Santoso, Endang Winarsih, Tedi Kusyairi, Sri Wijayati, Rudiyati, dan masih banyak lagi.

Selain itu Selasa Sastra edisi ulang tahun ke-12 ini juga menampilkan sesi bedah novel, yang kali ini membahas tentang novel ber-genre romansa berjudul “Mendung Yang Singgah Di Matamu” karya Hanif TT.

Noel ini berceria tentang kisah percintaan Arka, yang harus menelan pil pahit akibat terus menerus dikhianati oleh pacar-pacarnya karena berbagai alasan, seperti selingkuh dan seterusnya.

Sesi bedah novel ini sekaligus menjadi launching novel terbitan CV Hidra tersebut ke pasaran. Novel romansa sebanyak 257 halaman ini bisa didapatkan di toko buku maupun marketplace ternama dengan harga Rp84.000. (zk)

BANTUL – Awal tahun 2026 Selasa Sastra kembali hadir menyapa seluruh pemirsa baik secara daring maupun luring. Bertempat di Kelingan Garden Cafe, Bejen, Bantul, Selasa (6/1/2026), Selasa Sastra kali ini bertema “Harapan Baru Dalam Bersastra”.

Selasa Sastra edisi kali ini menampilkan beberapa penampilan sastra menarik, mulai dari pembacaan puisi, lagu puisi, akustik, hingga monolog. Selain itu momen Selasa Sastra awal tahun ini juga menandai peluncuran buku novel karya R. Toto Sugiharto berjudul “Owel”.

Founder Selasa Sastra Tedi Kusyairi, menyampaikan bahwa keberadaan Selasa Sastra di awal tahun 2026 ini menjadi sangat penting, karena ini menjadi momen di mana kita mampu menghidupi sastra, dan sastra pun akan mampu menghidupi kita.

“Salah satu cara yang bisa dilakukan (untuk menghidupi Sastra) adalah dengan melakukan pementasan rutin, membuat karya kreatif, sering mengupload ke media sosial, serta berjejaring. Sehingga nantinya diharapkan akan muncul kolaborasi yang memungkinkan karya sastra untuk dikomersilkan,” ujar Tedi Kusyairi di Kelingan Garden Cafe, Selasa (6/1/2026).

Selain itu, menurut Tedi, dengan perkembangan dunia sastra yang saat ini masih minim peminat, maka penting bagi siapapun pelakunya, untuk bisa benar-benar mengemas pertunjukan sastra tersebut secara lebih menarik dan mendetail, sehingga diharapkan akan lebih sustainable dalam berkarya.

“Seperti tadi pementasan monolog yang dibawakan oleh Agung Syamsu. Itu sebenarnya sangat bisa dijual ke publik, seandainya bisa di-create dengan lebih detail. Termasuk juga tadi musik puisi, lagu puisi, dan sebagainya tadi, jika itu populer maka bisa dijual ke publik dan mendapat pemasukan seperti dari ticketing dan seterusnya,” tambah Tedi.

Event Selasa Sastra selanjutnya akan dilangsungkan pada Selasa (20/1/2026), masih di Kelingan Garden Cafe, Bejen, Bantul. (zk)

KULON PROGO – Komunitas Sastra Regas adalah organisasi kepemudaan di bidang sastra yang aktif berkegiatan di Kulon Progo. Sebagai komunitas yang fokus di bidang sastra, Regas memberikan ruang kepada anak-anak, remaja hingga pemuda untuk mengenal, mempelajari dan melestarikan sastra. Seperti halnya yang dilakukan pada Selasa (4/11/2025) kemarin, dimana komunitas sastra Regas sukses mengadakan lomba baca puisi anak tingkat kabupaten Kulon Progo tahun 2025.

Lomba baca puisi anak ini diadakan dalam rangka memeriahkan Festival Literasi Kulon Progo 2025, dimana komunitas sastra Regas bekerja sama dengan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kulon Progo.

Terdapat total 50 peserta yang berpartisipasi dalam lomba ini, dengan para Juri yang diwakili oleh Hayu Avang Darmawan (Dinas Kebudayaan DIY), Tedi Kusyairi (Sastrawan Jogja), dan Dwi Riswanto (Pustakawan Kulon Progo).

Adapun beberapa unsur yang dinilai dalam lomba baca puisi ini antara lain berdasarkan penghayatan, vokal, gestur dan juga penampilan. Setelah melalui sidang juri, diputuskan juara satu diraih oleh Angger Abdhe Amiluhur dari SD Muhammadiyah Temon, Juara dua atau runner-up diraih oleh Irdina Calya Saputri dari SD N Kranggan, lalu Juara tiga oleh Ramadhania Alisha Puri dari SD N Kokap.

Selanjutnya Juara harapan 1 diraih oleh Raisa Shafina Khairin dari SD N Brosot, dan terakhir Juara harapan 2 berhasil didapatkan oleh Nafia Mysha Sofidhina dari SD N Sidakan.

Tri Wahyuni dari Komunitas Regas berharap bahwa program semacam ini mampu menjadi ruang pembelajaran sekaligus apresiasi bagi bakat anak-anak di bidang sastra, khususnya di kabupaten Kulon Progo. (zk)

YOGYAKARTA – Keberadaan sastra masih belum begitu digandrungi oleh masyarakat secara umum, termasuk generasi muda atau Gen Z. Hanya saja, sebagai “ibukota Sastra”, kota Yogyakarta tentunya perlu menggiatkan lagi kegiatan bersastra kepada masyarakat umum, agar dapat menjaga eksistensi sastra hingga ke generasi berikutnya.

Untuk itulah, Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta bersama stakeholder terkait, berinisiatif untuk menyelenggarakan kembali Festival Sastra Yogyakarta (FSY), yang akan berlangsung pada 28-30 November 2024 di Taman Budaya Embung Giwangan. Sebagai catatan, perhelatan FSY kali ini sudah memasuki tahun keempat (sejak tahun 2021).

Pada tahun keempat ini, FSY mengambil tema “Siyaga”, yang berarti selalu bersikap “Siyaga” (siap) dengan segala macam situasi dan perubahan yang terjadi di sekitar kita.

Kepala Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta, Yetti Martanti, mengungkapkan bahwa festival sastra ini selayaknya dapat menggairahkan lagi eksistensi sastra di kota Yogyakarta.

“Festival ini tentunya akan sangat bagus untuk meneguhkan kembali keberadaan sastra di Yogyakarta, apalagi kan kota Yogyakarta ini juga dijuluki sebagai “ibukota Sastra”,” ungkap Yetti dalam konferensi pers terkait FSY di Yogyakarta, Senin (25/11/2024).

Selain itu, menurut Yetti, event FSY tahun ini juga dapat menjadi kesempatan yang baik untuk meningkatkan literasi sastra di kalangan generasi muda, yang selama ini dianggap masih belum memadai.

Pemotongan tumpeng sebagai bagian dari rasa syukur Festival Sastra Yogyakarta yang masih eksis hingga tahun keempat (foto: Azka)

Sementara menurut Ketua Pawiyatan FSY 2024, Paksi Raras Alit, FSY merupakan momentum yang tepat untuk kembali menggiatkan sastra kepada masyarakat umum. Mengingat event-event bernuansa sastra masih cukup kurang di Yogyakarta ini, sekalipun Yogyakarta dijuluki sebagai “ibukota Sastra”.

“Sebenarnya kalo dilihat lebih jauh, event-event sastra yang bermunculan ini masih cukup kurang, apabila dibandingkan dengan event-event seni pertunjukan seperti musik dan sebagainya, yang dalam seminggu bisa ada 5-7 kali. Sementara event sastra yang aslinya merupakan pokok pengetahuan dalam urusan kebudayaan, justru hanya ada sedikit, padahal ini sangat penting sekali untuk terus eksis,” ucap Paksi pada kesempatan yang sama.

Sedangkan Direktur Artistik FSY, Hendra Himawan, menegaskan bahwa perhelatan FSY tahun ini akan lebih mendekatkan diri dengan kehidupan masyarakat, dalam artian kebutuhan utama masyarakat terkait literasi dan sastra, akan ditampilkan selama tiga hari perhelatan FSY 2024.

“Salah satu yang kita tonjolkan adalah Pasar Buku Sastra, karena meskipun katanya minat baca buku itu terus menurun, tapi nyatanya menurut mereka (para produsen buku cetak, red) penjualan buku justru mengalami peningkatan, terlebih setelah pandemi. Nah ini yang ingin kita perdalam lagi seperti apa realitanya,” kata Hendra Himawan.

Selain acara konferensi pers, momen ini juga dimanfaatkan untuk melaksanakan tradisi Tumpengan sekaligus doa bersama, guna merayakan keberhasilan FSY yang masih eksis hingga tahun keempat. (zk)

BANTUL – Bagi anda yang gemar menulis, maka anda harus melakoni kegiatan ini secara konsisten, terus-menerus, dibaca lagi, diteliti lagi, dan yang paling utama adalah tidak bisa hanya dilakukan semaunya saja, apalagi jika anda ingin menjadikan kegemaran ini sebagai sesuatu yang menghasilkan pundi-pundi uang.

Begitulah kurang lebih intisari dalam Workshop Pembinaan Sastra 2024 “Penulisan Essai” yang digelar oleh Dinas Kebudayaan Kundha Kabudayan Bantul melalui Dana Keistimewaan, di Aula Balai Desa Trimulyo, Jetis, Bantul, Rabu (6/11/2024).

Dalam kesempatan tersebut, turut hadir Octo Lampito selaku Pemimpin redaksi Kedaulatan Rakyat (KR) dan sastrawan Jawa Sarworo Soeprapto sebagai narasumber yang menyampaikan tentang penulisan essai dan seluk-beluk di dalamnya.

Dalam pemaparannya, Octo Lampito menyampaikan bahwa dalam menulis essai itu boleh menggunakan opini pribadi, namun harus didukung oleh data yang memadai.

“Ketika menulis itu kita harus banyak-banyak menggunakan data (yang akurat), meskipun masih diperbolehkan menggunakan opini pribadi. Namun pastikan bahwa opininya itu juga kuat, bukan cuman asal-asalan,” ujar Octo kepada para peserta workshop penulisan essai, Rabu (6/10/2024).

Sementara Sarworo yang lebih fokus ke penulisan sastra Jawa, menilai bahwa penulisan essai akan sangat menarik, jika mampu melibatkan masyarakat lokal, khususnya yang berkaitan dengan sejarah.

“Sehingga disini mereka (masyarakat lokal) tidak hanya bertindak sebagai penonton di wilayahnya sendiri, tapi juga diberdayakan agar ikut andil dalam menghasilkan tulisan yang dapat dibaca generasi setelahnya,” kata Sarworo.

Bukan tidak mungkin, hasil workshop kali ini akan menghasilkan penulis essai baru di masa mendatang, yang bisa meraup cuan sekaligus terkenal di media massa. (zk)