BANTUL – Berawal dari pertemuan di salah satu padepokan dalam project workshop, Nunung Deni Puspitasari dan Regina Gandes Mutiary memiliki banyak kesamaan yang seolah tidak disengaja.

Misalnya sama-sama berzodiak Scorpio, punya semangat berkarya seni yang sama, dan eksplorasi karya dalam berbagai bentuk dan ekspresi yang juga cukup identik.

Semua itu menjadi alasan kuat bagi keduanya untuk menyatukan diri dalam sebuah grup bernama Duo Ordo. Grup ini berkarya dengan menampilkan karya musikal story telling, yang disadur dari naskah cerita, cerpen, maupun puisi.

Tidak hanya itu, kolaborasi ini juga memungkinkan terciptanya ruang ekspresi baru di bidang seni, yang memadukan akting, narasi, dan musikalitas, dalam satu pengalaman artistik yang utuh dan autentik.

Mulai dibentuk sejak Mei 2026, Duo Ordo sejauh ini sudah tampil dalam tiga kesempatan berbeda. Mulai dari acara perayaan 75 tahun Sawung Jabo, pekan Yabbiekarta, dan yang terbaru adalah tampil di pentas Selasa Sastra, Kelingan Garden Cafe, Bejen, Bantul, pada 4 Agustus 2026.

Sejalan dengan perkembangan zaman yang terus bergerak maju dan dinamis, Duo Ordo juga tampil sebagai salah satu “pembeda” dalam dunia seni pertunjukkan di Yogyakarta, maupun di Indonesia pada umumnya.

Jika selama ini karya cerpen, puisi, dan naskah cerita (dialog dan semacamnya) hanya dibawakan secara monolog atau teatrikal di atas panggung, Duo Ordo mencoba mengeksplorasinya dalam kemasan pertunjukan seni yang lebih fresh, menghibur, dan mampu membangun semangat baru bagi semua orang, untuk terus berkarya dan berkontribusi bagi bangsa Indonesia, khususnya lewat bidang seni budaya.

Di usianya yang baru hitungan bulan, Duo Ordo mencoba untuk lebih banyak menelurkan karya demi karya inspiratif lainnya, yang berasal dari naskah cerita, puisi, maupun cerpen. Baik yang sudah dikenal luas, maupun yang diproduksi sendiri oleh Duo Ordo, dan sebagainya.

Dengan chemistry yang sudah terbangun sangat kuat, Nunung dan Regina yakin bahwa kehadiran mereka akan mampu diterima dengan baik oleh berbagai kalangan, baik kalangan pegiat seni, pecinta seni, maupun masyarakat umum.

Karena dunia seni adalah dunia yang terus berkembang dan bergerak secara dinamis serta kreatif. Di situlah Duo Ordo tampil dan memberikan nuansa baru bagi dunia seni budaya di Yogyakarta maupun Indonesia, agar terus lestari.

Hidup di tengah-tengah masyarakat sekaligus menggerakkan ekonomi bagi setiap pelaku di dalamnya. (zk)

Bulan Agustus selalu menjadi momen yang ditunggu-tunggu setiap tahunnya. Pasalnya bulan yang satu ini merupakan momen perayaan kemerdekaan Republik Indonesia, yang kerap dimeriahkan dengan berbagai acara, dan dibungkus dengan istilah “Agustusan”.

Selasa Sastra juga tak ketinggalan ikut meramaikan perayaan kemerdekaan Indonesia di bulan Agustus, alias merayakan momen “Agustusan” tersebut.

Mengambil tema “Sajak-sajak Meraih Putih”, Selasa Sastra edisi Agustus kali ini mencoba untuk memanfaatkan momentum perayaan “Agustusan”, dengan pertunjukan sastra yang dapat menjadi pemicu untuk terus berkarya, bergerak, dan mewujudkan kemerdekaan berkreativitas dalam kehidupan sehari-hari.

Berikut adalah sejumlah keseruan yang terjadi di acara Selasa Sastra “Sajak-sajak Meraih Putih” tersebut, yang berlangsung di Kelingan Garden & Cafe, Bejen, Bantul, Selasa (4/8/2026). (Foto: Azka Qintory)

 

 

 

BANTUL – Bulan Agustus selalu menjadi momen yang ditunggu-tunggu setiap tahunnya. Pasalnya bulan yang satu ini merupakan momen perayaan kemerdekaan Republik Indonesia, yang kerap dimeriahkan dengan berbagai acara, dan dibungkus dengan istilah “Agustusan”.

Selasa Sastra juga tak ketinggalan ikut meramaikan perayaan kemerdekaan Indonesia di bulan Agustus, alias merayakan momen “Agustusan” tersebut.

Apalagi di tahun 2026 ini, Indonesia telah memasuki usia yang ke-81 tahun. Sebuah usia yang bisa dibilang “cukup senior” bagi sebuah bangsa, untuk bisa menentukan arah tujuannya sendiri di masa kini dan masa mendatang.

Mengambil tema “Sajak-sajak Meraih Putih”, Selasa Sastra edisi Agustus kali ini mencoba untuk memanfaatkan momentum perayaan “Agustusan”, dengan pertunjukkan sastra yang dapat menjadi pemicu untuk terus berkarya, bergerak, dan mewujudkan kemerdekaan berkreativitas dalam kehidupan sehari-hari.

“Memasuki bulan Agustus ini kita akan memperingati HUT RI yang ke-81, yang mana warna identitasnya (bendera Indonesia) adalah merah dan putih. Dalam hal ini merahnya kita ganti menjadi “meraih” ya (meraih putih). Itu bisa berarti meraih kesucian, kesuksesan, impian, dan seterusnya, yang berkaitan dengan makna kemerdekaan itu sendiri,” ungkap Direktur Selasa Sastra, Tedi Kusyairi, Selasa (4/8/2026).

Memulai Harapan Baru Di Bulan Kemerdekaan

Suasana diskusi antologi cerpen berjudul “Matahari 1/4 Lingkar” karya Irfanda Azka Muzaki, yang menjadi salah satu rangkaian kegiatan Selasa Sastra di Kelingan Garden & Cafe (Foto: Azka Qintory)

Selain tentang perayaan kemerdekaan, Selasa Sastra edisi kali ini juga mencoba untuk memberikan semacam pengharapan kepada segenap generasi muda, untuk terus berjuang dan meniti masa depan sesuai bidangnya masing-masing, yang juga bisa dikemas dalam pertunjukkan sastra.

“Semoga teman-teman bisa terus berkarya sastra dengan lebih kreatif, produktif, maju, dan sebagainya. Sehingga teman-teman dari generasi muda akan mampu menghasilkan karya yang lebih hebat lagi, dan tentunya “meraih putih” itu tadi, yaitu meraih kejayaan, kemakmuran, dan mimpi-mimpinya bisa terwujud,” tambah Tedi.

Selain pertunjukkan sastra dari para sastrawan kondang di Bantul seperti Tedi Kusyairi, Sunawi, Sri WIjayati, Fathia Jayanti, dan seterusnya, Selasa Sastra edisi kali ini juga menampilkan dua sesi diskusi buku.

Diantaranya membahas satu antologi cerpen yang berjudul “Matahari 1/4 Lingkar” karya Irfanda Azka Muzaki, dan satu antologi puisi berjudul “Cara Paling Sendu Untuk Merindu” karya Isaura Erina Rahma Putri. Kebetulan keduanya merupakan lulusan dari program Temu Karya Sastra (TKS), yang diinisiasi oleh DInas Kebudayaan (Disbud) “Kundha Kabudayan” DIY, dalam kurun lima tahun terakhir.

Ada pula satu pertunjukkan spesial dari “Duo Ordo”, yang membawakan dua buah karya musik puisi spesial di bulan Agustus. (zk)