BANTUL – Seniman asal Palembang, Syahrizal Pahlevi resmi membuka rangkaian Pameran Lukis cukil kayu bertajuk “Grafis Lintas Jogja-Palembang (1990-2026)” yang berlangsung di Museum dan Tanah Liat (MDTL), Tirtonirmolo, Kasihan, Bantul, Jumat (13/3/2026).

Pameran ini menampilkan lebih dari 50 karya lukis Pahlevi, yang menceritakan perjalanan hidup Pahlevi, khususnya di dua tempat, yakni Yogyakarta sebagai tempatnya berkarya seni rupa dan grafis serta Palembang sebagai kota kelahirannya.

Seluruh karya ini dihasilkan menggunakan media cukil kayu (woodcut paint), sebagai salah satu spesialisasi Pahlevi dalam menghasilkan karya seni.

Dalam acara pembukaan tersebut, Pahlevi juga turut menampilkan demo melukis dengan cukil kayu, yang hanya memakan waktu sekitar 15 menit.

Pahlevi dalam sambutannya mengatakan, karya-karya yang dihasilkannya ini adalah salah satu caranya untuk “mudik” ke Palembang, karena ia sudah lama tidak mudik ke kampung halamannya.

“Saya juga berencana membawa karya-karya grafis saya ini mudik (ke Palembang), karena saya sudah lama tidak mudik. Jadi saya akan mudik bersama keluarga saya, dan sebagian dari karya yang ada di sini (MDTL) juga akan saya bawa ke Palembang, untuk dipamerkan disana,” pungkas Pahlevi dalam pembukaan Pameran Lukisan Cukil Kayu berjudul “Grafis Lintas Jogja-Palembang (1990-2026)” yang berlangsung di Museum dan Tanah Liat (MDTL), Tirtonirmolo, Kasihan, Bantul, Jumat (13/3/2026).

Pameran ini juga menjadi momen retrospeksi seorang Pahlevi, yang ingin mengenang setiap perjalanan hidupnya bersama banyak orang, yang dimulai sejak awal tahun 90-an silam.

Tidak hanya display lukisan cukil kayu, pameran ini juga turut menampilkan workshop praktik cukil kayu secara gratis kepada masyarakat.

Selanjutnya ada Talkshow “ART TALK” tentang dunia seni grafis dan seni rupa, dan masih banyak lagi.

Pameran ini masih akan berlangsung hingga Kamis, 19 Maret 2026 mendatang, bertempat di Museum dan Tanah Liat (MDTL), Jeblog, Tirtonirmolo, Kasihan, Bantul. (zk)

BANTUL – Seniman asal Palembang, Syahrizal Pahlevi resmi membuka rangkaian Pameran Lukis cukil kayu bertajuk “Grafis Lintas Jogja-Palembang (1990-2026)” yang berlangsung di Museum dan Tanah Liat (MDTL), Tirtonirmolo, Kasihan, Bantul, Jumat (13/3/2026).

Pameran ini menampilkan lebih dari 50 karya lukis Pahlevi, yang menceritakan perjalanan hidup Pahlevi, khususnya di dua tempat, yakni Yogyakarta sebagai tempatnya berkarya seni rupa dan grafis serta Palembang sebagai kota kelahirannya.

Seluruh karya ini dihasilkan menggunakan media cukil kayu (woodcut paint), sebagai salah satu spesialisasi Pahlevi dalam menghasilkan karya seni.

Dalam acara tersebut, Pahlevi turut memamerkan keahliannya melakukan demo melukis dengan cukil kayu, yang hanya berlangsung selama 15 menit. Penonton pun antusias menyaksikan bagaimana Pahlevi mampu menghasilkan karya cukil kayu, dalam waktu yang tergolong singkat.

Berikut adalah sejumlah momen menarik yang terjadi dalam acara pembukaan tersebut, serta pertunjukan demo melukis cukil kayu dari Pahlevi. (Foto: Azka Qintory)

 

 

BANTUL – Dalam dunia seni lukis, sebuah lukisan bisa dihargai dengan sangat mahal, lantaran memiliki nilai seni (estetika) yang tinggi, keunikan/kelangkaan (originalitas), reputasi seniman yang cukup mentereng, serta nilai sejarah atau emosional yang mendalam.

Salah satu yang cukup menjadi perbincangan publik, adalah ketika mantan presiden SBY (Susilo Bambang Yudhoyono) berhasil menjual lukisannya yang berjudul Mantan Presiden RI ke-6, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), berhasil menjual lukisannya yang berjudul “Kuat dan Energik Laksana Kuda Api” seharga Rp6,5 miliar, dalam sebuah lelang amal pada Perayaan Imlek Demokrat, pada Februari 2026 lalu.

Di saat yang bersamaan, masih ada jenis-jenis seni lukis lainnya, yang masih kurang mendapat perhatian, apalagi jika dibeli dengan harga miliaran seperti yang dialami oleh SBY.

Salah satunya adalah seni lukis menggunakan cukil kayu (woodcut).

Meskipun memiliki tingkat kesulitan yang jauh lebih tinggi, namun nyatanya jenis seni lukis yang satu ini justru belum begitu menarik para konglomerat di luar sana, untuk berinvestasi atau membelanjakan uangnya, sebagai bentuk apresiasi atas karya yang telah dihasilkan.

Padahal jika ditelisik lebih jauh, tidak ada perbedaan mencolok antara seni lukis kontemporer dengan seni lukis dengan cukil kayu. Keduanya memiliki kebebasan berekspresi yang tinggi, fokus pada penyampaian ide atau konsep, dan tidak terikat pada pakem artistik tradisional tertentu.

Syahrizal Pahlevi memandangi lukisan cukil kayu miliknya dalam Pameran Lukis Cukil Kayu di Musem dan Tanah Liat (MDTL) (Foto: Azka Qintory)

Bagi seorang Syahrizal Pahlevi, seniman yang fokus di bidang lukis cukil kayu, hal itu merupakan selera setiap individu, yang juga dipengaruhi oleh beberapa faktor, seperti popularitas pelukis, acara yang diikuti, maupun siapa saja yang dilibatkan di dalam project tersebut.

“Persoalan seni rupa itu sederhana, apakah visual itu punya impact (dampak) terhadap audiens-nya, termasuk cerita-ceritanya. Dan saya pikir seni cukil kayu belum mampu meng-impact hal tersebut kepada audiens,” ucap Pahlevi saat ditemui dalam Pameran Lukis Cukil Kayu “Grafis Lintas Jogja-Palembang (1990-2026)”, yang berlangsung di Museum Dan Tanah Liat (MDTL), Tirtonirmolo, Kasihan, Bantul, Senin (9/3/2026).

Pahlevi pun hanya berusaha untuk sekadar berkarya, dan tidak terlalu memusingkan soal kurangnya minat masyarakat terhadap seni cukil kayu.

“Tentunya saya juga berusaha mempromosikan seni cukil kayu ini, baik dengan saya sendiri atau melalui rekanan, untuk membantu ini (mempromosikan seni cukil kayu),” tambah Pahlevi.

Sementara di kesempatan yang sama, Rain Rosidi, penulis pameran cukil kayu tersebut, mengaku bahwa nilai ekonomi memang menjadi salah satu faktor penting, dalam pembuatan sebuah karya lukis, meskipun bukan satu-satunya patokan. Hanya saja, tidak sepantasnya sebuah lukisan hanya dinilai berdasarkan nilai ekonominya saja, tanpa melihat aspek-aspek lain, yang sebetulnya juga tidak kalah penting.

“Sayangnya memang isu lukisan berjual mahal (seperti lukisan SBY) itu terasa lebih menarik, ketimbang isu nilai dari lukisan itu terhadap seni dan budaya. Akhirnya yang terjadi orang hanya berusaha menjual lukisan itu semahal mungkin, tanpa mempertimbangkan esensi atau makna dari lukisan tersebut,” ujar Rain.

Keduanya berharap, lukisan cukil kayu seperti yang dipamerkan di MDTL ini, dapat diapresiasi setinggi-tingginya oleh masyarakat, tidak harus dari kalangan pencinta seni.

Karena pada dasarnya, seni (termasuk seni lukis menggunakan cukil kayu) adalah milik siapa saja, dan layak mendapat apresiasi yang setimpal, atas proses kerja rumit dan berkualitas tinggi yang telah dihasilkan. (zk)

BANTUL – Seniman selalu memiliki cara tersendiri dalam mengekspresikan ide dan gagasannya, untuk dituangkan menjadi sebuah mahakarya yang layak disaksikan oleh banyak orang.

Menurut Syahrizal Pahlevi, seorang seniman asal Palembang, Sumatera Selatan, yang sehari-hari menggeluti seni grafis maupun seni rupa, menganggap bahwa menghasilkan karya seni haruslah memiliki ciri khas tersendiri, yang tidak banyak dimiliki atau dilakukan oleh orang lain.

Salah satunya adalah karya seni rupa menggunakan cukil kayu.

Teknik melukis cukil kayu diketahui bukanlah teknik yang bisa sembarangan dilakukan orang, termasuk seniman sekalipun. Lukisan semacam ini membutuhkan bahan-bahan berupa papan kayu (matriks), kayu lunak, pisau cukil, tinta cetak grafis, rol karet, serta kertas/kain sebagai media cetak. Proses pengerjaannya membutuhkan waktu berhari-hari, hanya untuk menyelesaikan satu jenis karya.

Meskipun terdengar sangat sulit, namun Pahlevi justru menyukainya, karena dengan melukis menggunakan cukil kayu, ia tahu kapan harus berhenti, atau sampai mana ia harus mengakhiri sebuah karya grafisnya. Berbeda dengan karya lukis menggunakan kanvas dan media kertas, yang bisa asal coret dimana saja dan tak ada habisnya.

“Saya pernah punya pengalaman stress dulu, ketika tidak tahu kapan berhenti menggoreskan kuas di atas media kertas. Tapi di cukil kayu ini beda. Saya tahu kapan mulai dan juga kapan untuk berhentinya,” ucap Pahlevi dalam sesi jumpa media terkait Pameran Lukis Cukil Kayu bertajuk “Pameran Grafis Lintas Batas Jogja-Palembang (1990-2026)” yang berlangsung di Museum dan Tanah Liat (MDTL), Tirtonirmolo, Kasihan, Bantul, Senin (9/3/2026).

Pahlevi menambahkan, dengan melukis menggunakan cukil kayu, ia lebih mampu mengekspresikan ide dan perasaannya, ke dalam bentuk yang lebih realistis sekaligus sulit (namun hasilnya lebih memuaskan), ketimbang seni lukis biasa yang hanya menggunakan kanvas dan lain sebagainya.

“Bagi saya melukis dengan cukil kayu itu punya tantangan tersendiri, tapi justru lebih menyenangkan. Nggak tahu juga kenapa, kayak asik aja gitu. Kalau melukis dengan kanvas kan sudah terlalu biasa buat saya,” tambah Pahlevi.

Pameran lukisan cukil kayu karya Syahrizal Pahlevi ini memuat lebih dari 50 karya lukis Pahlevi, yang merupakan rangkuman perjalanan hidupnya di beberapa tempat, terutama di Palembang, yang merupakan kota kelahirannya, serta Yogyakarta, tempatnya menghasilkan karya seni sekaligus merangkai hidup di bidang kesenian bersama para rekan sejawat.

Tidak hanya Palembang dan Jogja, Pahlevi juga turut menghadirkan kisah-kisah hidupnya saat berada di luar negeri, salah satunya di Jepang.

Seluruh karya lukis cukil kayu Syahrizal Pahlevi bisa disaksikan di Museum dan Tanah Liat (MDTL), Tirtonirmolo, Kasihan, Bantul, pada 10-19 Maret 2026. (zk)

BANTUL – Syahrizal Pahlevi, seorang seniman asal Palembang, Sumatra Selatan, memendam perasaan yang dalam terhadap kota kelahirannya tersebut. Ia sudah bertahun-tahun tidak pulang ke Palembang, setelah berkelana di luar kota sekaligus luar negeri, dalam usahanya menemukan jati diri, makna hidup, sekaligus berkarya seni dalam berbagai bentuk, salah satunya seni grafis menggunakan cukil kayu.

Perasaan Pahlevi yang begitu dalam terhadap Palembang, sekaligus Yogyakarta, sebagai tempat ia berkarya seni, menjadi perpaduan yang menarik untuk dijadikan sebuah pameran karya lukis.

Melalui pameran lukis bertajuk “Pameran Grafis Lintas Batas Jogja-Palembang (1990-2026)” yang berlangsung di Museum dan Tanah Liat (MDTL), Tirtonirmolo, Kasihan, Bantul, yang berlangsung pada 10-19 Maret 2026, Pahlevi bercerita tentang perjalanan hidupnya selama di Palembang maupun Jogja, serta tempat-tempat lainnya yang pernah ia kunjungi, seperti di Jepang, dan sebagainya.

Berikut adalah sejumlah karya lukisan Pahlevi, yang terangkum sempurna di Museum dan Tanah Liat (MDTL), Tirtonirmolo, Kasihan, Bantul. (Foto: Azka Qintory)