GUNUNGKIDUL – Perhelatan Festival Kebudayaan Yogyakarta (FKY) tahun 2025 di Gunungkidul resmi berakhir pada Sabtu malam (18/10/2025), yang berlokasi di Lapangan Logandeng, Plumbon Lor, kelurahan Logandeng, Kec. Playen, Kabupaten Gunungkidul, DIY.
Berikut adalah sejumlah momen menarik yang terjadi selama malam penutupan FKY 2025 di Gunungkidul (foto: Azka Qintory/dokumentasi)
GUNUNGKIDUL – Setelah berlangsung selama kurang lebih delapan hari, perhelatan Festival Kebudayaan Yogyakarta (FKY) 2025 di Gunungkidul dengan tema “Adoh Ratu, Cedhak Watu” resmi ditutup pada Sabtu (18/10/2025).
Prosesi penutupan telah dimulai sejak siang hari di Lapangan Desa Logandeng, Plumbon Lor, Kelurahan Logandeng, kec. Playen, Kabupaten Gunungkidul, DIY. Dimulai dengan prosesi “Nandur Donga, Ngrumat Kajat” yang berlangsung di lokasi acara, kemudian ada Pawon Hajat Khasiat, dan ditutup oleh Galeri Olah Rupa. Seluruh prosesi ini merupakan doa bersama sebagai ungkapan rasa syukur atas kelancaran festival yang telah berlangsung sejak 11 Oktober 2025 lalu.
Dalam prosesi ini juga dilakukan penanaman pohon lo, yang merupakan asal nama desa Logandeng (pohon lo yang bergandengan)–di lapangan Logandeng. Kegiatan ini kemudian dilanjutkan dengan penutupan pameran Gelaran Olah Rupa secara simbolis, yang diakhiri dengan pertunjukan Wayang Beber oleh Mbah Waludeng.
Kepala Dinas Kebudayaan DIY, Dian Lakshmi Pratiwi dalam sambutannya menyampaikan ucapan terima kasih kepada seluruh pihak yang terlibat, termasuk juga masyarakat Gunungkidul khususnya di sekitaran lapangan Logandeng, pelaku seni, pelaku budaya, pelaku UMKM, panitia, komunitas, serta pemerintah daerah Gunungkidul.
“Segala dinamika, diskusi, dialog, selama pra, pelaksanaan, hingga sampai penutupan ini, benar-benar membuktikan bahwa kerja kebudayaan tidak semata-mata satu kerja dari satu bagian atau panggung pertunjukan, serta tidak hanya bagian dari birokrasi saja, melainkan adalah kerja yang mencoba untuk mengerahkan seluruh daya dan upaya untuk dapat membangkitkan kesadaran kebudayaan di tengah-tengah masyarakat,” tutur Dian di Lapangan Logandeng, Sabtu (18/10/2025).
Selain itu, Dian juga berharap bahwa hasil dari festival ini dapat menjadi wujud kongkrit untuk menghadirkan kebudayaan dalam proses sosial yang lebih terbuka, hidup, dan berdaya guna, serta dapat diteruskan dan dijalankan dengan kesetiaan dan kesadaran penuh di tengah masyarakat sehari-hari.
“Ini adalah bagian penting dimana pemerintah, komunitas, seniman, dan masyarakat berbaur menjadi satu, sesuai dengan peran dan porsinya masing-masing. FKY merupakan strategi internalisasi nilai-nilai budaya, terutama bagi generasi muda Jogja, agar kemudian dapat diwujudkan menjadi strategi kebudayaan,” tambah Dian.
Sedangkan dalam laporannya, Direktur FKY 2025, B.M. Anggana menyampaikan bahwa dampak ekonomi yang dihasilkan selama delapan hari berlangsungnya FKY di Gunungkidul mencapai Rp 460.304.500, dengan jumlah kunjungan sebanyak 72.644 orang, keterlibatan pelaku seni dan pelaku budaya sebanyak 2587 orang.
“Dari sisi komunikasi publik, FKY 2025 berhasil menjangkau lebih dari tiga juta penonton di ruang digital, dengan 155 konten yang ditonton di platform Instagram, 243 ribu penayangan di TikTok, serta lebih dari 12 ribu pengunjung ke website resmi FKY, dengan pengunjung digital terbanyak berasal dari Yogyakarta, Jawa Tengah, Jawa Timur, Jawa Barat, dan DKI Jakarta. Website resmi FKY 2025 juga diakses dari berbagai belahan dunia lain seperti Swedia, Irlandia, Belanda, Amerika Serikat, Thailand, dan Tiongkok,” kata B.M. Anggana.
B. M. Anggana menambahkan, bahwa kebudayaan tidak seharusnya eksis karena kekuasaan, melainkan rasa kasih sayang yang tumbuh diantara warganya.
“Semoga FKY akan terus hidup bukan karena dilindungi, tapi karena dirawat; bukan karena diperintah, tapi karena dicintai.” ujar BM Anggana menutup laporannya.
Prosesi selanjutnya adalah pengumuman Kompetisi FKY, diantaranya Panji Desa “Ngelmu Watu” dan Rajakaya Piala FKY 2025 “Angon Wedhus”, yang masing-masing terdiri dari 3 pemenang utama. Sementara, Sayembara Content Creator “Festivalnya Jogja, Cerita Kita Semua” telah berhasil memilih 10 konten terbaik dan satu konten terfavorit.
Seluruh rangkaian FKY 2025 secara resmi ditutup dengan prosesi Ritual Mindhang Pasar Kawak, yakni upacara adat yang bermakna “ngluwari nadar” (memenuhi janji), serta syukuran atau “ngrampungi pakaryan” (menyelesaikan pekerjaan). Selain itu di bagian panggung utama FKY juga dimeriahkan dengan penampilan spesial dari Orkes Keroncong Lintang Kanistha, Sigit Nurwanto, Sanggar Seni Rawikara Nari Bahuwana (SSRNB), Jumat Gombrong (Jumbrong), dan juga FSTVLST.
Setelah kabupaten Kulon Progo menjadi tuan rumah FKY pada 2023 silam, disusul kabupaten Bantul pada tahun 2024, dan Gunungkidul pada tahun 2025 ini, program rebranding lima tahunan FKY akan kembali berlanjut di kabupaten Sleman pada tahun 2026 mendatang. (zk)
GUNUNGKIDUL – Warga sekitar Lapangan Desa Logandeng ramai-ramai berdatangan ke Lapangan Desa Logandeng di kawasan Plembon Kidul, Kalurahan Logandeng, kecamatan Playen, Kabupaten Gunungkidul, DIY, Sabtu siang (11/10/2025), untuk menjadi saksi pembukaan Festival Kebudayaan Yogyakarta (FKY) 2025 di kabupaten Gunungkidul.
Rangkaian pembukaan dimulai dengan Pawai Rajakaya yang dilepas oleh Kepala Bidang Adat Tradisi, Lembaga Budaya, dan Seni Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) DIY, Padmodo Anggoro Prasetyo, didampingi oleh Rosanto Bima Pratama selaku Programmer Pawai. Pawai berangkat dari Pasar Ternak Siyono menuju Lapangan Desa Logandeng pada pukul 14.30 WIB. Warga setempat mulai dari anak-anak hingga dewasa pun turut antusias menyaksikan pawai di sepanjang rute.
Pawai Rajakaya yang diawali dengan upacara adat Gumbregan ini menghadirkan simbol agraris yang merefleksikan hubungan manusia, hewan dan alam, sekaligus memperlihatkan daya hidup tradisi di tengah festival. Pawai ini diikuti oleh 5 sapi dan 31 kambing dari empat kabupaten dan satu kota di DIY, yang turut dihiasi dengan ubo rampe dan kupat gantung, serta diiringi oleh para peternak, keluarga, dan komunitas lokal.
Setelah itu, para peserta pawai dan penampil mempersembahkan Ritus Gerak “Swasti Wijang”, yaitu doa yang diwujudkan dalam bentuk artistik, sekaligus merefleksikan hubungan suci antara manusia, hewan ternak, dan alam semesta. Selanjutnya pada sore hari, penampilan Campursari SRGK dan Dhimas Tedjo turut memeriahkan suasana pembukaan.
Dalam sambutannya, Gubernur DIY yang diwakili oleh Ni Made Dwipanti Indrayanti selaku Sekda DIY menyampaikan bahwa tema “Adoh Ratu, Cedhak Watu” yang diusung dalam FKY 2025 ini bukan sekadar permainan kata, melainkan cermin dari realitas yang terjadi di masyarakat sehari-hari.
“Tema ini (Adoh Ratu, Cedhak Watu) adalah tentang bagaimana kita sebagai manusia dapat saling mengisi satu sama lain, mengolah daya, membangun kemandirian, dan melahirkan kebudayaan yang berakar kuat namun tetap lentur menghadapi perubahan zaman,” ujar Ni Made.
Senada dengan Ni Made, Sekda Kabupaten Gunungkidul Sri Suhartanta menegaskan bahwa Kebudayaan bukan barang usang yang ditinggalkan di museum, melainkan adalah ruh kehidupan yang harus dihidupkan, diadaptasikan, dan dijadikan kekuatan untuk membangun masa depan.
“FKY menjadi ruang yang sangat baik untuk menjaga agar nilai-nilai luhur tetap hidup, berkembang, dan memberi manfaat dalam kehidupan sehari-hari, serta menunjukkan bahwa kebudayaan adalah sumber inspirasi, kreativitas, dan ketahanan bangsa,” kata Sri Suhartanta.
Selama FKY 2025 yang berlangsung dari tanggal 11-18 Oktober 2025 ini, para pengunjung dapat mengikuti berbagai program yang tersedia di Lapangan Logandeng maupun beberapa lokasi lainnya di sekitaran Logandeng, seperti Pameran Gelaran Olah Rupa yang telah dibuka sejak Jumat (10/10/2025). Lalu ada pula FKY Bugar, Panggung FKY, Pasaraya Adat Ruwang Berdaya, Pawon Hajat Khasiat, FKY Rembug, serta berbagai kompetisi seperti Panji Desa, Rajakaya, dan juga Jurnalisme Warga.
Seluruh program FKY 2025 bersifat terbuka dan gratis untuk umum. Pengunjung pun dapat melihat agenda harian festival melalui media sosial Instagram dan X di @infofky dan juga website FKY di fky.id. (zk)
GUNUNGKIDUL – Gelaran Olah Rupa sebagai salah satu bagian dari program pada Festival Kebudayaan Yogyakarta (FKY) 2025 resmi dibuka pada Jumat (10/10/2025) berlokasi Lapangan Desa Logandeng, Plembon Kidul, Kalurahan Logandeng, Kapanewon Playen, Kabupaten Gunungkidul, Provinsi DIY.
Pembukaan secara simbolis dilakukan dengan penancapan dupa oleh Kepala Dinas Kebudayaan Kundha Kabudayan DIY Dian Lakshmi Pratiwi, kurator pameran Karen Hardini dan Tomi Firdaus, co-kurator pameran Ghofur S, dan Lurah Desa Logandeng Suhardi.
Prosesi dimulai dengan pembawaan Tari Pisungsung dari Sanggar Swastiastuti, kemudian muncul lima penari perempuan yang naik ke atas panggung dengan membawa bakul kecil berisi bunga tabur. Pertunjukan ini adalah simbol makna kesinambungan antara manusia, alam, dan Tuhan.
Kepala Dinas Kebudayaan Kundha Kabudayan DIY Dian Lakshmi Pratiwi dalam sambutannya menyampaikan bahwa rebranding FKY yang memasuki tahun ketiga dengan Gunungkidul sebagai tuan rumah ini haruslah benar-benar melibatkan masyarakat setempat sebagai pemilik festival kebudayaan ini.
“Pada tahun ketiga rebranding FKY tahun ini di Gunungkidul, kami harus mampu menghadirkan festival kebudayaan yang dalam proses dan praktiknya benar-benar melibatkan masyarakat di mana festival itu berada, alias masyarakat Gunungkidul itu sendiri,” ujar Dian, Jumat (10/10/2025).
Pratiwi melanjutkan bahwa Pameran “Gelaran Olah Rupa” tidak hanya sebuah pesta yang bisa ditonton oleh masyarakat, tapi juga sebagai kolaborasi ide dan kerja yang diolah bersama antara seniman, kurator, masyarakat, dan lokasi festival berada, yang terbentuk secara intens dan terus berlangsung, termasuk setelah event FKY ini berakhir.
Pameran bertajuk “Gelaran Olah Rupa” ini menghadirkan seni visual dengan spirit Bertamu–Perjumpaan, yang di dalamnya mengadakan ruang untuk berdialog, berbagi kisah, dan merawat hubungan sosial. Tradisi bertamu dalam budaya Jawa menjadi latar belakang dari pameran ini. Bertamu ini pun tidak sekadar hanya kunjungan secara fisik, melainkan juga wujud tata krama, adab, dan penghormatan kepada tuan rumah. Melalui praktik bertamu, para seniman menegosiasikan batas antara yang lokal dan yang datang, dan antara pengetahuan sehari hari dan wacana seni kontemporer.
Sebagai salah satu program dari Festival Kebudayaan Yogyakarta, Pameran “Gelaran Olah Rupa” berlangsung dari tanggal 11-18 Oktober 2025 mulai pukul 10.00-21.00 WIB di Lapangan Desa Logandeng, Gunungkidul. Pameran ini terbuka untuk umum, di mana para seniman mengolah, menampilkan, dan mengundang publik untuk bertamu, bertemu, dan ikut terlibat ke dalam ruang kerja yang “hidup” para seniman ketika mereka mengolah karya. (zk)
Festival Sastra Yogyakarta (FSY) tahun 2024 yang berlangsung di Taman Budaya Embung Giwangan, kini telah memasuki hari kedua, Jumat (29/11/2024). Setelah hari pembuka kemarin diguyur hujan lebat, kali ini keadaan cuaca cukup mendukung, sehingga seluruh agenda kegiatan bisa terlaksana tanpa hambatan.
Berikut adalah sejumlah momen menarik yang terjadi dalam perhelatan FSY 2024 (foto: Azka)
BANTUL – Bagi anda yang gemar menulis, maka anda harus melakoni kegiatan ini secara konsisten, terus-menerus, dibaca lagi, diteliti lagi, dan yang paling utama adalah tidak bisa hanya dilakukan semaunya saja, apalagi jika anda ingin menjadikan kegemaran ini sebagai sesuatu yang menghasilkan pundi-pundi uang.
Begitulah kurang lebih intisari dalam Workshop Pembinaan Sastra 2024 “Penulisan Essai” yang digelar oleh Dinas Kebudayaan Kundha Kabudayan Bantul melalui Dana Keistimewaan, di Aula Balai Desa Trimulyo, Jetis, Bantul, Rabu (6/11/2024).
Dalam kesempatan tersebut, turut hadir Octo Lampito selaku Pemimpin redaksi Kedaulatan Rakyat (KR) dan sastrawan Jawa Sarworo Soeprapto sebagai narasumber yang menyampaikan tentang penulisan essai dan seluk-beluk di dalamnya.
Dalam pemaparannya, Octo Lampito menyampaikan bahwa dalam menulis essai itu boleh menggunakan opini pribadi, namun harus didukung oleh data yang memadai.
“Ketika menulis itu kita harus banyak-banyak menggunakan data (yang akurat), meskipun masih diperbolehkan menggunakan opini pribadi. Namun pastikan bahwa opininya itu juga kuat, bukan cuman asal-asalan,” ujar Octo kepada para peserta workshop penulisan essai, Rabu (6/10/2024).
Sementara Sarworo yang lebih fokus ke penulisan sastra Jawa, menilai bahwa penulisan essai akan sangat menarik, jika mampu melibatkan masyarakat lokal, khususnya yang berkaitan dengan sejarah.
“Sehingga disini mereka (masyarakat lokal) tidak hanya bertindak sebagai penonton di wilayahnya sendiri, tapi juga diberdayakan agar ikut andil dalam menghasilkan tulisan yang dapat dibaca generasi setelahnya,” kata Sarworo.
Bukan tidak mungkin, hasil workshop kali ini akan menghasilkan penulis essai baru di masa mendatang, yang bisa meraup cuan sekaligus terkenal di media massa. (zk)
YOGYAKARTA – Festival Ketoprak se-DIY tahun 2024 telah memasuki hari kedua sekaligus hari terakhir, Sabtu (26/10/2024). Pada kesempatan ini, giliran kontingen kabupaten Kulonprogo dan kota Yogyakarta yang turut menampilkan performance-nya diatas panggung Societet Militair Taman Budaya Yogyakarta (TBY). Masing-masing membawakan lakon ketoprak berjudul Singlon (Kulonprogo) dan Candani (kota Yogyakarta).
Setelah kedua kontingen tersebut selesai membawakan lakonnya masing-masing, kini saatnya tim juri yang terdiri dari Stefanus Prigel Siswanto, RM Altiyanto Henriyawan, Okie Surya Ikawati, Suminto A. Sayuti, dan Ki Murjana untuk membacakan hasil pengumuman pemenang, baik secara kolektif maupun individu.
Dalam putusan tim juri yang dibacakan oleh Okie Surya Ikawati selaku anggota, diputuskan bahwa lakon berjudul Glugut dari Gununungkidul berhasil meraih juara 1, disusul oleh Kembang Kesimpar dari kabupaten Sleman, Singlon dari Kulonprogo, Rupa Wineca dari kabupaten Bantul, serta Candani dari kota Yogyakarta yang menempati posisi terbawah alias posisi lima.
Sementara untuk penghargaan individu, yang terdiri dari Penata artistik terbaik, penata busana terbaik, aktor/aktris terbaik, pemeran pembantu pria/wanita terbaik, penata iringan terbaik, penulis naskah terbaik, serta Sutradara terbaik, berhasil didapatkan secara merata kepada perwakilan seluruh kontingen. Namun, kontingen Gunungkidul masih tetap mendominasi kategori penghargaan individu ini, dengan menyabet predikat penulis naskah serta Sutradara terbaik.
Dalam keterangannya sebelum membacakan hasil putusan, RM Altiyanto Henriyawan selaku anggota Tim Juri mengaku bahwa festival ini sudah mampu menghasilkan karya yang layak dinikmati oleh masyarakat dari berbagai kalangan, termasuk kalangan millenial.
“Mudah-mudahan ini bisa memunculkan potensi-potensi baru ke depannya, sehingga pertunjukan ketoprak ini dapat terus berkembang, mengikuti para pelakunya, publiknya, penikmatnya, serta penyelenggaranya,” ujar Altiyanto di Societet Militair TBY, Sabtu malam (26/10/2024).
Lebih lanjut, Altiyanto menyatakan bahwa festival ini bukan hanya tentang mencari siapa yang “paling” baik diantaranya yang terbaik (berkompetisi), namun juga “saling” mengisi, memberikan hiburan pertunjukan ketoprak kepada masyarakat, sekaligus melestarikan seni ketoprak itu sendiri agar terus berkembang dan meningkat kualitasnya. (zk)
YOGYAKARTA – Perhelatan Festival Ketoprak se-DIY kembali digelar pada tahun ini. Berlokasi di Societet Militair Taman Budaya Yogyakarta (TBY), festival ini kembali diikuti oleh kontingen seluruh kabupaten/kota se-DIY, guna memperebutkan hadiah total 15 juta, piagam, serta piala bergilir.
Penghargaan tidak hanya ditujukan secara kolektif saja, para peserta dari setiap kontingen juga berkesempatan mendapatkan sejumlah penghargaan individu, seperti Sutradara terbaik, penulis naskah terbaik, serta aktor/aktris terbaik, akan mendapatkan trofi, piagam, dan uang pembinaan sebesar 2 juta rupiah. Kemudian ada penata iringan terbaik, pemeran pembantu pria/wanita terbaik, penata busana terbaik, dan penata artistik terbaik, yang akan mendapatkan trofi, piagam, dan uang pembinaan sebesar 1,5 juta rupiah.
Festival ini pun resmi dibuka pada Jumat malam (25/10/2024), dimana kontingen Bantul, Gunungkidul, serta Sleman mengawali penampil festival di hari pertama. Masing-masing menampilkan lakon berjudul Kencana Rupa Wineca (Bantul), Glugut (Gunungkidul), dan Kembang Kesimpar (Sleman).
Kepala Bidang Pemeliharaan dan Pengembangan Adat Tradisi Lembaga Budaya dan Seni, Yuliana Eni Lestari, mengatakan bahwa tujuan diselenggarakannya festival ini adalah sebagai sarana penguatan identitas seni ketoprak, serta penguatan karakteristik ketoprak yang bersumber dari nilai-nilai tradisi yang ada di DIY.
“Melalui festival ini kami ingin memberikan ruang kreatif bagi para seniman dalam mengolah ide, menata, sekaligus menggelar pertunjukan yang dapat memberikan tontonan sekaligus tuntunan kepada masyarakat,” ucap Eni Lestari di Societet Militair TBY, Jumat (25/10/2024).
Sedangkan Kepala Dinas Kebudayaan DIY, Dian Lakshmi Pratiwi, yang juga hadir dalam pembukaan festival ketoprak ini, menyampaikan bahwa festival ini bisa dibilang cukup ikonik dan bersejarah, karena perjalanannya yang cukup panjang, yakni hampir mendekati 50 kali penyelenggaraan.
“Itulah komitmen kami di Pemda DIY (Dinas Kebudayaan DIY) yang bekerjasama dengan Dinas Kebudayaan kabupaten dan kota, untuk selalu mengiringi setiap langkah dan perkembangan dan pertumbuhan ketoprak di DIY, dengan melakukan pembinaan yang sudah dilakukan sejak jauh-jauh hari. Dan anda semua akan menjadi saksi dari hasil pembinaan tersebut,” ucap Dian dalam sambutannya di Societet Militair TBY, Jumat (25/10/2024).
Lebih lanjut, Dian berharap bahwa festival ini dapat semakin berkembang, baik dari segi kualitas maupun kuantitasnya.
“(Kami berharap) semakin banyak pelaku, semakin banyak penulis naskah yang nantinya dapat turut mengembangkan seni ketoprak di DIY.”
“Festival ini jangan hanya dianggap sebagai kompetisi semata, tapi lebih dimaknai sebagai “silaturrahmi budaya”, saling bertemu, yang nantinya akan saling transfer ide dan gagasan, yang dapat memunculkan kreasi baru untuk tahun-tahun selanjutnya,” tambah Dian.
Adapun tema yang dipilih dalam festival ketoprak kali ini adalah PanjiSemirang, yang merupakan salah satu bagian dalam Memory of the World oleh UNESCO. Para peserta pun ditantang untuk dapat menerjemahkan karakter Panji Semirang ini dalah cerita lakon ketoprak yang tetap berlandaskan pada budaya dan kearifan lokal.
Festival ini masih akan berlanjut pada hari Sabtu ini (26/20/2024), dimana kontingen dari kabupaten Kulonprogo dan kota Yogyakarta akan menampilkan lakon mereka diatas panggung Societet Militair TBY. Pada hari kedua ini juga akan diumumkan seluruh pemenang, baik dari kategori kelompok maupun individu. (zk)
YOGYAKARTA – Agenda Sambang Sastrawan edisi 2024 kembali digelar. Kali ini membahas tentang karya-karya yang telah dihasilkan oleh peserta Daulat Sastra Jogja (DSJ) program Temu Karya Sastra (TKS) selama tahun 2021-24.
Lokasi Sambang Sastrawan edisi kali ini berlokasi di Rumah salah satu Sastrawan, Niken Terate Sekar, atau yang lebih beken dengan sebutan “Ken Teratai”, di kawasan Mantrijeron, Yogyakarta.
Pada pelaksanaan hari pertama, Selasa (15/10/2024), turut hadir seorang mahasiswa Filsafat UGM, Muhammad Sheva, yang telah mampu menghasilkan sebanyak 74 karya sastra berupa puisi, yang kemudian dibukukan dengan judul Otsu. Karya-karyanya pun turut dianalisis sedemikian rupa oleh dua orang Sastrawan senior, yakni Krishna Miharja dan Dinar Saka.
Menurut Sheva, Otsu sendiri berarti “nama dari siapa”, yaitu nama dari salah satu tokoh dalam buku Edi Yosukawa yang berjudul Musasi.
“Dalam buku tersebut, Edi Yosukawa menggmbarkan Otsu sebagai wanita kesukaannya Musasi Miyamoto. Lalu yang membuat saya tertarik dengan nama itu adalah karena ternyata ada banyak hal yang bisa dibagi bersama-sama,” kata Sheva di Rumah Ken Teratai, Selasa (15/10/2024).
Sehingga bisa dikatakan, Otsu adalah sesosok perempuan yang disukai oleh Sheva, yang kemudian diangkat menjadi judul buku.
Sastrawan Krishna Miharja yang telah membaca karya puisi dalam buku Otsu dari Muhammad Sheva, menuturkan bahwa buku Otsu milik Muhammad Sheva masih belum memiliki titimangsa, atau keterangan lokasi dan tahun puisi tersebut dibuat, di bagian akhir puisi.
“Itu (tidak ada titimangsa) akan menjadi masalah nantinya. Karena tidak ada keterangan ini ditulis kapan, bahkan bulannya,” ujar Krishna.
Sedangkan menurut Dinar Saka, kumpulan puisi dalam buku Otsu ini menurutnya cukup menarik, dan rupanya banyak juga yang ia sukai.
“Disana saya menemukan salah satu puisi yang menarik sekali berjudul “Tidurlah Pahlawan”. Dalam puisi tersebut ada satu diksi yang diulang, namun kita tidak boleh terjebak pada teknik pengucapan yang sama. Nah inilah salah satu “kenalakan” dari seorang Sheva ini (dalam membuat puisi),” ucap Dinar Saka bersemangat.
Sementara sesi kedua dalam agenda Sambang Sastrawan hari pertama ini adalah membedah karya puisi dari karya yang dibuat selama perhelatan DSJ 2023 tahun lalu, yang berjudul “Ruang Kerja Tuhan”.
Menurut Krishna, antologi puisi “Ruang Kerja Tuhan” hasil DSJ tahun lalu merupakan kumpulan puisi yang pada dasarnya masih mentah pada saat itu.
“Jadi ketika misalnya hendak bererita tentang Tugu, ya kemudian Tugu itu diceritakan, dinarasikan, dan dideskripsikan sedemikian rupa pada saat itu juga. Sehingga bisa dikatakan masih belum terlalu matang,” sahut Krishna.
“Dengan adanya buku “Ruang Kerja Tuhan” yang merupakan hasil karya dari DSJ 2023 lalu, kemudian mas Sheva memiliki keinginan untuk akhirnya mengorbitkan bukunya sendiri (Otsu). Sehingga saya pikir, jika seluruh partisipan yang terlibat dalam buku “Ruang Kerja Tuhan” ini juga bisa memiliki karyanya masing-masing seperti yang dilakukan oleh mas Sheva, maka ini akan sangat luar biasa bagi dunia sastra di DIY ini,” tambah Dinar Saka mengenai antologi “Ruang Kerja Tuhan”.
Agenda Sambang Sastrawan TKS 2024 ini masih akan berlanjut pada Rabu ini (16/10/2024) yang membahas karya sastra unik dan menarik lainnya. (zk)