YOGYAKARTA – Bicara soal komik, tentunya tak bisa lepas dari salah satu negara penghasil komik terbesar di dunia. Ya, selain Jepang dengan film kartunnya, Amerika Serikat juga merupakan salah satu negara penghasil komik dalam jumlah yang cukup besar, terutama yang berkaitan dengan Superhero.

Di tengah banyaknya komik yang bertebaran di Amerika, rupanya ada satu komikus asal Amerika Serikat yang memiliki ketertarikan mempelajari budaya Indonesia, yang kemudian dikonversi menjadi cerita komik.

Dia adalah Rod Driver, komikus asal Seattle, Washington DC, yang memulai dunia perkomikan di masa kuliahnya pada tahun 2019. Saat itu, Rod yang hendak memulai penelitian di bidang komik, menemukan Indonesia dan Yogyakarta sebagai destinasi yang menarik untuk diteliti.

Hingga akhirnya, ia pun memutuskan untuk melakukan penelitian lebih jauh tentang budaya di Yogyakarta, dan mengunjungi kota istimewa ini hingga beberapa kali.

“Saya selalu memiliki ketertarikan terhadap komik sejak kecil. Lalu ketika saya mahasiswa, saya mulai mempelajari komik ini dengan lebih serius, hingga saya pun bergabung ke komunitas komik yang ada di kampus saya. Disitulah saya merasa ini akan menjadi bagian penting dalam hidup saya suatu saat nanti,” ujar Rod ketika ditemui dalam event Yogyakarta Komik Weeks di Langgeng Art Space, Sabtu (12/10/2024).

Lebih lanjut, Rod merasa bahwa pertemuannya dengan Indonesia khususnya Yogyakarta telah membuatnya ingin terus mempelajarinya lebih jauh, terutama setelah ia menyelesaikan studinya beberapa tahun silam.

“Setelah lulus kuliah, saya berhasil mendapatkan dana hibah dari Watson Foundation, yang sejenis dengan Fullbright. Dan bidang penelitian saya saat itu adalah tentang komunitas komik di seluruh dunia. Saya telah berkeliling ke Jepang, Jerman, Singapura, Australia, dan juga Indonesia. Namun saya merasa bahwa peneltiian saya paling membuahkan hasil saat berada di Indonesia.”

“Disini saya sangat beruntung karena menemukan banyak orang yang tertarik bekerjasama dengan saya di bidang komik. Jadi disitulah saya mulai menulis banyak hal tentang Indonesia, dan selalu membuat saya ingin kembali ke Indonesia,” tambah Rod.

Kini, pengalaman Rod Driver tentang Indonesia tidak hanya melulu tentang Yogyakarta saja, lantaran ia juga telah mengunjungi beberapa kota besar lainnya, seperti Jakarta dan Bali. Disana ia juga bercerita tentang pengalamannya di dunia komik, dan membagikannya kepada generasi muda di Indonesia.

Rod juga baru saja menyelesaikan komik terbarunya, yang bisa disebut sebagai dokmenter komik, yang berjudul “Komik-komik Sama-sama”. Komik ini pun mulai dipresentasikan di beberapa daerah di Indonesia, dimana salah satunya adalah di Yogyakarta. (zk)

YOGYAKARTA – Membaca komik seringkali diartikan sebagai suatu hiburan yang hanya membuang-buang waktu. Oleh sebab itu, banyak orang tua yang melarang anaknya membeli komik atau membaca komik. Mereka lebih suka anak-anaknya membaca buku-buku pelajaran atau buku yang bersifat pengetahuan.

Namun, menurut Yudha Sandy, selaku Koordinator event Yogyakarta Komik Weeks 2024, hal itu tidak sepenuhnya benar, karena membaca komik juga erat kaitannya dengan menambah pengetahuan baru, meningkatkan minat baca, serta tentu saja bersifat menghibur, apalagi dengan hadirnya gambar-gambar menarik di dalamnya.

“Ketika misalnya melihat kita sibuk menggambar, bagi orang itu ngapain sih. Mungkin itu kelihatannya seperti membuang waktu, tapi bagi dia yang menggambar, mungkin saat itu dia sedang menghasilka sebuah karya, atau sedang latihan,” ujar Yudha Sandy yang ditemui dalam acara Yogyakarta Komik Weeks di Langgeng Art Space, Sabtu (12/10/2024).

Selain itu, menurut Yudha, perkembangan industri komik saat ini sebenarnya sudah menuju ke arah yang baik. Karena masih banyak anak yang memiliki ketertarikan terhadap komik, dan bahkan juga bisa membacanya dimana saja, tanpa harus melalui buku fisik/cetak.

“Sebelum bicara tentang industri, ada baiknya kita tumbuhkan ekosistem berkomik di Indonesia terlebih dahulu. karena kalo ekosistemnya sudah maju, yang bikin komik banyak, yang baca komik juga banyak, maka kita akan bisa menyaingi negara-negara maju lainnya,” tambah Yudha.

Yudha pun meyakini, masa depan industri komik masih akan tetap baik, dan tentu saja masih bisa dijadikan sebagai pegangan hidup sehari-hari.

Berbeda dengan Yudha Sandy, menurut Komikus Rod Driver, menjadi seorang Komikus di zaman sekarang akan cukup sulit untuk bertahan, jika tidak dibarengi dengan kemampuan komunikasi dan marketing yang mumpuni.

“Jawaban singkatnya adalah tidak (terkait membuat komik dapat dijadikan sebagai penghasilan utama untuk bertahan hidup). Ketika komik sudah menjadi komoditas seperti bidang yang lainnya, maka semestinya kita bisa saling support satu sama lain. Itulah mengapa saya menyarankan para komikus muda untuk menemukan jejaring mereka sendiri, karena pada akhirnya anda tidak hanya bisa bergantung pada penerbit atau sejenisnya,” kata Rod ketika ditemui di tempat yang sama. (zk)