BANTUL – Ada banyak cara maupun ide yang bisa dituangkan untuk menjadi sebuah karya sastra. Salah satunya melalui pengalaman pribadi di masa lalu.

Apalagi jika berbicara tentang pengalaman asmara. Manusia tidak akan pernah kehabisan ide dan cerita, untuk mendeskripsikan peristiwa yang satu ini, termasuk ke dalam karya sastra.

Mungkin itulah yang menjadi inspirasi seorang Ayuna Felicia, yang hendak menuangkan perasaan mendalamnya di masa lalu, untuk dituliskan dalam sebuah antologi puisi, dengan judul Kota yang Terbakar Sebilah Rindu.

Dalam acara Selasa Sastra spesial Kartini “Memburu Biru, Mengeja Senja” yang berlangsung di Kelingan Garden & Cafe, Selasa (21/4/2026), Yuna, panggilan akrabnya, mengaku masih memendam rasa sayang kepada sosok pujaan hatinya tersebut.

Untuk menuangkan “sisa-sisa” rasa sayangnya kepada si doi, terbitlah antologi puisi berjudul Kota yang Terbakar Sebilah Rindu.

“Dulu saya pernah jatuh cinta pada seseorang pada tahun 2019 lalu. Saya jatuh cinta pada dia, tapi sayangnya hubungan kami harus berakhir tanpa pernah memulai. Karena kami berdua masih kecil dan saya juga tidak diperbolehkan sama orang tua, dan diharuskan untuk fokus pendidikan dan karier dulu. Setelah itu saya menyadari bahwa saya sangat tulus untuk mencintainya,” ungkap Yuna, dalam acara Selasa Sastra spesial hari Kartini bertajuk “Memburu Biru, Mengeja Senja”, sebagaimana dilansir dari kanal YouTube Bang Tedi Way, Selasa (21/4/2026).

Tidak hanya mengenai pengalaman asmara, Yuna juga ikut menuliskan seluruh pengalaman hidupnya yang berasal dari bidang lain, seperti keluarga, perasaan hati (senang/sedih), dan seterusnya.

“Yang menjadi pemantik saya untuk menulis buku ini juga berasal dari pengalaman lainnya. Apapun itu (perasaan yang dialami) langsung saya torehkan ke dalam kertas. Misalnya tentang keluarga, saat SMP dulu saya punya adik baru, itu juga saya tuliskan dalam buku ini. Pokoknya semuanya saya tuliskan disini biar jadi buku,” tambah Yuna.

Sesi bedah buku Kota yang Terbakar Sebilah Rindu ini merupakan salah satu rangkaian dar kegiatan Selasa Sastra edisi spesial Kartini bertajuk “Memburu Biru, Mengeja Senja”, yang berlangsung di Kelingan Garden & Cafe, Bejen, Bantul, Selasa (21/4/2026).

Selain bedah buku, ada pula pertunjukan sastra spesial dari para siswi MA Pamulangan, dan masih banyak lagi. (zk)

BANTUL – Imajinasi manusia bisa melahirkan banyak peluang baru. Salah satunya peluang menghasilkan karya sastra.

Mungkin itulah yang mengilhami Rizqi Nur Sholikha (Leha), seorang siswi di Madrasah Aliyah (MA) Pamulangan, Godean, Sleman, Yogyakarta, untuk dapat membuat antologi cerpen berjudul -20 Hz.

Dari judulnya saja, sudah bisa ditebak bahwa buku ini tampak bukan antologi cerpen biasa. Melainkan sebuah karya imajinatif yang merupakan hasil khayalan sang penulis, yang belum tentu bisa dipahami oleh orang awam.

“Munculnya kata “-20 Hz” itu kan dari Pak Eka sebenarnya (pembuat buku -20 Hz). Dan kata itu bermakna bahwa ‘orang lain nggak akan berpikiran seperti itu, kok dia (Leha) bisa (kepikiran)?’ Makanya dialah yang bisa mendengar perkataan samudra dengan senja, kemudian bintang dengan apa atau apa, yang orang lain tidak bisa dengar,” ungkap Endang Winarsih, guru Bahasa Indonesia di Madrasah Aliyah (MA) Pamulangan, guru yang ikut membimbing Leha dalam memproduksi antologi cerpen -20 Hz ini, dalam acara Selasa Sastra spesial hari Kartini bertajuk “Memburu Biru, Mengeja Senja”, sebagaimana dilansir dari kanal YouTube Bang Tedi Way, Selasa (21/4/2026).

Antologi ini sendiri bercerita tentang kisah romansa fiksi antara Samudra dan Senja. Senja digambarkan sebagai sosok yang memiliki hati yang lembut, sehingga mampu melindungi seluruh manusia yang ada di alam semesta ini.

“Rasenja Jingga (Senja) memiliki hati yang lembut, dia juga sosok yang melindungi kita di alam semesta ini. Kalau dia punya kekuasaan, dia sanggup melindungi kita dari sengatan panas matahari, dengan ketulusan hati yang dimilikinya. Dialah yang menjaga semua planet. Dia selalu melindungi kita di dalam orbit, akhirnya Samudra pun merasakan cinta yang luar biasa ke Rasenja Jingga,” sebut Leha, sang penulis buku antologi cerpen -20 Hz, pada kesempatan yang sama.

Sesi bedah buku -20 Hz ini merupakan salah satu rangkaian dar kegiatan Selasa Sastra edisi spesial Kartini bertajuk “Memburu Biru, Mengeja Senja”, yang berlangsung di Kelingan Garden & Cafe, Bejen, Bantul, Selasa (21/4/2026).

Selain bedah buku, ada pula pertunjukan sastra spesial dari para siswi MA Pamulangan, dan masih banyak lagi. (zk)

BANTUL – Dari seluruh fase kehidupan, bisa dibilang fase remaja adalah periode terindah yang pernah dialami oleh manusia. Sebab usia remaja (10-18 tahun) merupakan masa-masa di mana manusia sedang dalam pencarian jati diri, transisi menuju kedewasaan, mulai merasakan jatuh cinta, serta munculnya pertemanan yang solid.

Poin terakhir menjadi salah satu titik krusial, karena pertemanan yang solid akan mampu menghasilkan kreativitas-kreativitas baru, kegiatan menarik, maupun perbincangan terkait masa depan yang tiada habisnya.

Setidaknya itulah yang menjadi pemikiran dari sejumlah siswi di Madrasah Aliyah (MA) Pamulangan, Godean, Sleman.

Pertemanan yang solid di antara mereka telah mampu menghasilkan karya sastra, yang dapat menggambarkan realitas kehidupan pertemanan mereka sebagai pertemanan yang “berisik”.

Sampai akhirnya pertemanan mereka sanggup melahirkan sebuah antologi puisi berjudul Berbisik di Balik Bilik.

Dalam kegiatan Selasa Sastra spesial hari Kartini lalu yang bertajuk “Memburu Biru, Mengeja Senja” dan berlangsung di Kelingan Garden & Cafe, Bejen, Bantul, belum lama ini, para pembuat antologi puisi ini menceritakan lika-liku perjuangan mereka menghasilkan buku tersebut yang ditulis hanya dalam waktu dua bulan.

“Kami itu aslinya orang-orang yang berisik banget, suka nelponin Pak Eka (desainer cover buku dan pemberi ide judul Berbisik di Balik Bilik) buat VC (Video Call). Apalagi lokasi kelas kita juga di paling pojok, dan isinya perempuan semua,” ungkap Elisa Sevy Geanica, salah satu penulis antologi puisi ini.

Meskipun mereka adalah kumpulan orang-orang yang “berisik”, namun kata “berbisik” lebih dipilih untuk mewakili judul buku, lantaran berisiknya mereka adalah sesuatu yang hanya terjadi di kelas itu saja, dan tidak diketahui sama sekali oleh orang-orang di luar mereka.

Selain itu, kata “berisik” juga dianggap kurang etis jika digunakan sebagai terminologi sebuah judul buku. Namun ketika ditambah huruf ‘b’ (menjadi “berbisik”), makna yang terbangun menjadi lebih puitis, sekaligus mewakili suasana yang lebih intim.

Sementara penulis lainnya, Yanuwarin Waastuti, mengatakan, bahwa setelah ia menjalani proses penulisan puisi dalam buku ini, ia bisa merasakan kelegaan di dalam hatinya. Karena di situlah ia mampu menuangkan apa yang menjadi isi hatinya, sekaligus ungkapan kasih sayang terhadap orang-orang yang telah berjasa di dalam hidupnya.

“Iya, menulis puisi dalam buku ini bikin saya jadi banyak lega. Karena di sini saya mampu mengungkapkan perasaan saya kepada orang-orang yang berjasa di hidup saya, terutama keluarga. Jadi menulis puisi sangatlah membantu sekali,” ujar Yanuwarin Waastuti, pada kesempatan yang sama.

Sementara bagi Endang Winarsih, sebagai guru pembimbing mereka dalam berkarya, mengatakan bahwa anak-anak harus mampu menciptakan karya sastra maupun tulisan mereka sendiri, sehingga tidak perlu lagi menjadi “penonton” bagi karya sastra orang lain, baik sebagai referensi bacaan dan lain sebagainya.

“Jadi saya memang menuntut anak-anak untuk ‘ayo dong masa sih kalian cuman membaca karya orang terus?’ Ayolah, sekarang giliran karya kalian yang dibaca orang. Sehingga kalian yang akan jadi objeknya, bukan lagi cuma subjeknya saja’,” kata Endang Winarsih.

Sesi bedah buku antologi puisi berjudul Berbisik di Balik Bilik ini merupakan salah satu rangkaian dari kegiatan Selasa Sastra edisi spesial Kartini bertajuk “Memburu Biru, Mengeja Senja”, yang berlangsung di Kelingan Garden & Cafe, Bejen, Bantul, belum lama ini.

Selain bedah buku, ada pula pertunjukan sastra spesial dari para siswi MA Pamulangan, dan masih banyak lagi. (zk)

BANTUL– Perwujudan doa bisa datang dari mana saja. Salah satunya berasal dari karya sastra.

Salah satu siswi Madrasah Aliyah (MA) Pamulangan, Godean, Sleman, Frisca Nazula Pawestri, seperti terilhami untuk mengucapkan doa melalui buku cerpen yang ia tulis sendiri, dengan judul yang terkesan subjektif, namun sangat “gue banget”, yakni Frisca.

Cerpen berjudul Frisca adalah hasil kontemplasi panjang seorang Frisca Nazula Pawestri, terhadap sekelumit kisahnya di masa lalu, serta cita-citanya di masa depan, yang masih menjadi misteri bagi dirinya sendiri.

“Cerita di buku ini ada yang saya karang sendiri, dan ada sedikit cerita pribadi yang saya masukkan di dalam keseluruhan cerita,” ucap Frisca, dalam kegiatan Selasa Sastra spesial hari Kartini bertajuk “Memburu Biru, Mengeja Senja”, yang berlangsung di Kelingan Garden & Cafe, Bejen, Bantul, belum lama ini.

Frisca menambahkan bahwa dirinya sangat mendambakan menjadi orang sukses dan berguna bagi banyak orang, serta mampu mengenyam kuliah di perguruan tinggi ternama, meskipun berasal dari keluarga yang ekonominya kurang stabil.

“Ada satu cerita dunia perkuliahan, di situ saya karang, dengan harapan aku akan bisa seperti itu (sesuai yang dikarangnya sendiri). Itu jadi tentang pribadi saya, tapi ada yang aku sesuaikan sedikit. Dengan harapan aku bisa seperti itu di masa depan,” tambah Frisca.

Sementara bagi Endang Winarsih, guru pembimbing Frisca dalam proses penulisan cerpen ini, judul Frisca dianggap sangat menjual dan unik, sekaligus benar-benar mewakili “doa” maupun impian penulisnya sendiri, yang memang terbilang unik oleh orang-orang di lingkungan sekolahnya, termasuk bagi Endang sendiri.

“Mbak Frisca ini tipikalnya unik banget. Dia itu orangnya slowly but sure. Jadi santai tapi terarah, gitu. Jadi itulah kenapa saya meminta dia untuk membuat karangan sendiri. Kebetulan setelah saya baca naskah buku Frisca ini, isinya memang cukup ringan (mudah dimengerti oleh pembaca awam). Jadi menurut saya, Frisca ini sendiri memang sudah unik, termasuk namanya juga nggak ada satu pun di sekolah yang namanya sama dengan dia,” ujar Endang Winarsih, guru pembimbing Frisca dalam proses penulisan buku cerpen Frisca, pada kesempatan yang sama.

Meskipun sempat ingin menyerah dalam menyelesaikan “doa” ini, namun berkat dukungan dari pihak sekolah (MA Pamulangan) serta teman-teman di sekitarnya, Frisca akhirnya mampu menyelesaikan seluruh naskah di dalam buku ini, untuk kemudian “diaminkan” oleh para pembaca.

Selain sesi bedah buku, ada pula pertunjukan sastra spesial dari para siswi MA Pamulangan, dan masih banyak lagi. (zk)