BANTUL – Pelaksanaan event Jogja Book Fair 2026 yang berlangsung di kantor Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah (DPAD) DIY, kompleks Grhtama Pustaka, Banguntapan, Bantul, resmi berakhir pada hari Selasa ini (8/9/2026).

Di tengah kekhawatiran mengenai keberlangsungan buku fisik, yang kini mulai ditinggalkan akibat hadirnya buku digital (e-book) dan semacamnya, perhelatan Jogja Book Fair 2026 kali ini setidaknya menjadi bukti, bahwa kekhawatiran itu tidak sepenuhnya tepat.

Menurut Koordinator Pendukung Pameran Jogja Book Fair 2026, Retno Putri, perhelatan Jogja Book Fair kali ini mampu menyedot perhatian lebih dari 800 pengunjung setiap harinya, dengan jumlah transaksi mencapai lebih dari 200 eksemplar buku per hari.

“Untuk antusiasme masyarakat dalam Jogja Book Fair ini bisa dibilang cukup baik. Dan kebetulan banyak juga koleksi buku yang ada di sini, jadinya banyak pengunjung yang mencari buku sesuai dengan kebutuhannya masing-masing, Biasanya kalau hari terakhir kayak gini baru rame. karena beberapa penerbit biasanya obral buku-bukunya dalam jumlah besar,” ucap Retno Putri, saat ditemui di sela-sela pameran sebelum sesi penutupan, Selasa (8/9/2026).

Di saat yang sama, Koordinator Bazar, Anastasia Arsiwi Anggita Dewi, mengaku bahwa bacaan buku fisik seperti yang tersedia di Jogja Book Fair tetap dibutuhkan oleh masyarakat luas.

“Dengan adanya pameran (seperti Jogja Book Fair), akses akan lebih terjangkau. Selain itu, beberapa distributor dan penerbit akan bergabung menjadi satu di satu tempat khusus. Maka otomatis pembaca dan pembeli akan lebih mudah untuk mencari buku-buku yang diinginkan. Jadi dia tidak perlu lagi berkeliling ke berbagai toko buku untuk mencari buku-buku sejenis, karena semuanya sudah tersedia dalam satu pintu akses,” ucap Ana, panggilan akrabnya, di tempat yang sama.

Menurut Ana, buku fisik tetap memiliki keunggulan tersendiri ketimbang buku digital. Seperti mudah dikoleksi, wujudnya bisa dipegang dan dirasakan, serta jauh lebih nyaman dibaca.

Terlebih buku digital yang dibaca melalui ponsel, komputer, atau tablet, umumnya akan membuat mata lebih cepat lelah, sehingga sensasi membaca tidak akan sama seperti saat membaca buku fisik. (zk)

BANTUL – Tak bisa dipungkiri bahwa AI (Artificial Intelligence) adalah sebuah alat yang kini telah menjadi bagian yang tak terpisahkan dalam kehidupan manusia. Tak terkecuali di bidang sastra.

Di bidang sastra, AI mampu menjadi tools yang dapat memudahkan pembuatan karya, memunculkan ide baru, sampai membuat karya akhir, untuk ditampilkan kepada khalayak luas, dan sebagainya.

Hal itu pun turut diamini secara langsung oleh sastrawan asal Bantul, Tedi Kusyairi. Menurutnya, di balik segala pro kontra sampai sekarang, penggunaan AI dalam dunia sastra tetaplah sesuatu yang tidak bisa dihindari, alias menjadi suatu keniscayaan. Karena memang tools ini sudah tersedia di mana-mana.

“Harus diakui bahwa kita memang tidak bisa menghindari AI. Tapi tinggal bagaimana kita sebagai pengampu atau pengajar itu juga mau tidak mau harus ikut bisa (menggunakan AI). Harus lebih tahu, harus adaptasi, harus mengerti, dan juga harus mampu mengajarkan pemahaman bahwa ‘jangan sekadar menggunakan AI sebagai alat, tapi bagaimana kamu sebagai kreator, dalam hal ini dari menuliskan prompt sampai hasil jadinya, itu merupakan tanggung jawabmu sendiri’, seperti itu,” tutur Tedi Kusyairi, saat mengisi kegiatan Sambang Komunitas edisi ke-19 yang berlangsung di halaman kompleks Grhtama Pustaka, Banguntapan, Bantul, DIY, Senin (7/9/2026).

Bagi Tedi, satu hal yang masih menjadi persoalan adalah ketika para sastrawan senior maupun lembaga pendidikan tertentu tidak bisa mendeteksi, apakah karya ini merupakan hasil dari AI atau bukan.

Untuk itu, setiap sastrawan senior maupun lembaga pendidikan sejatinya perlu melakukan semacam training atau pembekalan khusus, agar tidak membebaskan anak-anak muda menggunakan AI secara membabi buta. Namun tetap mengedepankan etika dan tanggung jawab yang sesuai dengan norma profesi, dan lain sebagainya.

“Yang agak repot sebenarnya adalah bagaimana kemudian institusi pendidikan misalnya, untuk membekali bapak-ibu guru, agar bisa ngecek ini produk dari AI atau bukan. Lalu bagaimana training-nya supaya si anak (generasi muda) itu tidak sekadar istilahnya tinggal nge-prompt di AI lalu selesai gitu aja. Enggak. Tapi bagaimana orang itu mampu mempertanggungjawabkan apa yang dia lakukan. Jadi biar etika dan moralitasnya tetap terasah, dan tidak terkesan nggampangke sesuatu,” sambung Tedi.

Melalui kehadiran AI, ada semacam pergeseran nilai dalam membuat sebuah karya sastra, yang seolah bisa dilakukan dengan begitu mudah dan cepat.

Padahal, proses pembuatan karya sastra juga memiliki esensi lain yang tidak kalah penting, dan proses itu harus tetap dialami oleh para generasi muda. Sekalipun mereka sudah begitu dimanjakan dengan kehadiran AI, dan seterusnya. (zk)

BANTUL – Kegiatan Sambang Komunitas kini memasuki edisi yang ke-19, yang dilangsungkan di Halaman Dinas Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah (DPAD DIY), kompleks Grhatama Pustaka, Jalan Janti, Banguntapan, Bantul, Senin (7/9/2026).

Sambang Komunitas #19 kali ini mengambil tema “Mereka-reka Mimpi Jogja sebagai Kota Sastra Dunia”, dengan pemateri R. Toto Sugiharto (redaktur, editor, sastrawan), dan Tedi Kusyairi (penulis, editor, pegiat sastra), dan dipandu oleh moderator Niken Puji Lestari.

Ketika melihat segala potensi dan infrastruktur sastra yang dimiliki Jogja sampai saat ini, Jogja dianggap sudah memiliki segala yang dibutuhkan, untuk bisa menembus dunia internasional lewat bidang sastra.

Apalagi jika melihat dari sisi historis maupun ekosistem yang ada, Jogja sudah dianggap mampu menjadi kiblat sastra nasional. Karena Jogja selalu menjadi rujukan bagi masyarakat dari berbagai daerah, sebagai tempat untuk belajar, menimba ilmu, menambah pengalaman, dan menambah relasi baru melalui bidang yang satu ini.

“Jogja kan punya banyak potensi ya (di bidang sastra). Sastrawannya banyak, terkenal, dan karya sastranya juga banyak, penerbitan banyak, sekolah-sekolah sastra, universitas atau kampus-kampus sastranya juga bagus-bagus dan luar biasa. Lalu komunitas dan sanggar sastranya juga banyak. Anak-anak muda yang suka sastra juga banyak. Nah semua ini kan menjadi sebuah potensi yang bisa kita upgrade lebih jauh,” papar salah satu pembicara, Tedi Kusyairi, saat ditemui di sela-sela acara, Senin (7/9/2026).

Dengan segala potensi dan infrastruktur tersebut, Tedi meyakini bahwa langkah selanjutnya adalah bagaimana menyatukan seluruh elemen pelaku sastra dari berbagai generasi, untuk kemudian bisa menciptakan satu kerjasama yang bersifat kolaboratif, agar dapat membawa Jogja melangkah jauh ke dunia internasional, dan mendapat predikat sebagai “kota sastra dunia”.

“Tentu saja harapan kami agar sastra tidak hanya berhenti di komunitas, atau berhenti di kelompok masing-masing, tapi sastra juga bisa kita kenalkan ke publik yang lebih luas, baik skala nasional maupun internasional. Nah salah satu bentuk yang bisa dikembangkan adalah bagaimana mengkolaborasikan seluruh iklim ekosistem sastra yang ada di Jogja, untuk dapat membuat gerakan sastra bersama-sama (kolaboratif), yang isinya adalah memperkenalkan Jogja sebagai kota sastra dunia.

Selanjutnya bagaimana mengemas setiap karya sastra di Jogja itu agar lebih go international. Misalnya melalui alih media, termasuk diterjemahkan dalam bahasa asing, dijual (ke audiens internasional), membuat event-event (berskala) internasional, dan sebagainya, yang kemudian dapat mengangkat potensi sastra di Jogja,” tambah Tedi.

Di zaman yang serba canggih dan modern seperti saat ini, tentu saja salah satu cara yang paling mudah dilakukan untuk membuat sastra go international adalah terus mem-publish kegiatan sastra di media sosial.

Dengan begitu, dunia akan melihat bagaimana Yogyakarta terus tumbuh dan lestari melalui sastra, yang diharapkan akan mampu menarik minat dunia internasional, untuk mulai mempelajari sastra, mendalami sastra, membuat karya sastra, dan bahkan ikut menjadikan sastra sebagai bagian dari keseharian “para bule” di kehidupan mereka sehari-hari. (zk)

BANTUL – Bekerjasama dengan Dinas Kebudayaan “Kundha Kabudayan” DIY, kegiatan Sambang Komunitas kini memasuki edisi yang ke-19, yang dilangsungkan di Halaman Dinas Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah (DPAD DIY), kompleks Grhatama Pustaka, Jalan Janti, Banguntapan, Bantul, Senin (7/9/2026).

Sambang Komunitas #19 kali ini mengambil tema “Mereka-reka Mimpi Jogja sebagai Kota Sastra Dunia”, dengan pemateri R. Toto Sugiharto (redaktur, editor, sastrawan), dan Tedi Kusyairi (penulis, editor, pegiat sastra), dan dipandu oleh moderator Niken Puji Lestari.

Tema ini mengacu pada peluang besar Yogyakarta, atau Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) secara umum, agar bisa mendunia melalui sastra.

Karena segala infrastruktur sastra dan budaya telah tersedia lengkap di DIY. Tinggal bagaimana menyebarluaskannya ke dunia internasional, alias “sastra go-international”.

Berikut adalah beberapa momen menarik yang terjadi dalam kegiatan Sambang Komunitas tersebut. (Foto: Azka Qintory)