YOGYAKARTA – Pameran lukis DIY-Kyoto kembali hadir pada tahun 2024 ini. Bertempat di Bentara Budaya Yogyakarta, pameran yang sudah ada sejak 1995 ini kembali menghadirkan lomba melukis dari anak-anak se-DIY mulai dari tingkat TK hingga SMA sederajat.

Acara pembukaan pun dilangsungkan di Bentara Budaya Yogyakarta, Senin (21/10/2024), yang sekaligus menjadi momen tepat bagi panitia untuk mengumumkan para pemenang dari masing-masing kategori (TK hingga SMA). Karya dari masing-masing pemenang nantinya akan dikirimkan langsung ke Kyoto, Jepang.

Pameran lukis DIY-Kyoto pada tahun ini mengusung tema “Menuju Indonesia Emas, Solusiku Untuk Indonesiaku”, dimana setiap peserta dari seluruh kategori diminta untuk melukis bagaimana wajah Indonesia Emas yang mereka inginkan pada tahun 2045 dan seterusnya.

Kepala Dinas Kebudayaan DIY, Dian Lakshmi Pratiwi, yang turut hadir pada acara pembukaan tersebut, menyampaikan apresiasinya terhadap pameran ini, terkait bagaimana anak-anak ini mampu memberikan solusi dan ide-ide menarik terhadap potensi Indonesia emas pada 2045 mendatang.

“Kita akan menyaksikan begitu banyak ide dan gagasan yang luar biasa dari anak-anak kita, yang mungkin akan memberikan pencerahan untuk kita semua, terkait bagaimana solusi kita ke depan untuk Indonesia tahun 2045,” ujar Dian dalam sambutannya di Bentara Budaya Yogyakarta, Senin (21/10/2024).

Sementara menurut salah satu juri, Yuswantoro Adhi, menyatakan bahwa pameran kali ini sebenarnya bukan hanya tentang adu kepintaran dalam melukis saja, namun juga bagaimana anak-anak ini dapat menggambarkan keinginan dan cita-cita mereka untuk Indonesia di masa mendatang.

“Lomba ini sebetulnya tidak hanya lomba pinter-pinteran gambar saja, melainkan lmba yang bisa menggambarkan keinginan kalian untuk Indonesia yang kita cintai ini,” kata Yuswantoro.

Pameran ini akan berlangsung selama kurang lebih satu minggu, yakni pada tanggal 21-27 Oktober 2024. Anda bisa ikut menyaksikan karya lukis dari generasi penerus bangsa ini secara langsung dan gratis di Bentara Budaya Yogyakarta. (zk)

YOGYAKARTA – Festival Teater tingkat DIY kembali digelar pada tahun 2024 ini. Mengusung tema Panji, yang merujuk pada hasil rumusan kongres Jawa ke-3 di DIY beberapa waktu lalu, Festival kali ini mencoba untuk kembali menguatkan marwah teater sebagai ekspresi budaya, sekaligus sebagai sarana mewujudkan pengembangan dan pemanfaatan teater sebagai sarana pembacaan situasi dan penuturan sejarah.

Festival ini berlangsung di Gedung Societet, Taman Budaya Yogyakarta (TBY), dan digelar selama dua hari, Sabtu dan Minggu (19-20 Oktober 2024), diikuti oleh perwakilan kabupaten/kota se-DIY.

Kepala Dinas Kebudayaan DIY, Dian Lakshmi Pratiwi, dalam sambutannya menyatakan bahwa festival ini merupakan komitmen dari Dinas Kebudayaan seluruh kabupaten/kota di DIY, untuk bersama-sama memelihara SDM di bidang seni budaya khususnya teater.

“Tahapan yang telah dilakukan oleh Kundha Kabudayan di kabupaten/kota, adalah tahapan pembinaan, yang dilakukan mulai dari tingkat lokal, hingga ke tingkat provinsi DIY,” ucap Dian di Societet TBY, Sabtu (19/10/2024).

Lebih lanjut, Dian menyampaikan bahwa pengambilan tema Panji ini diharapkan akan mampu menjadi inspirasi bagi seluruh masyarakat, yang dapat dikontekstualisasikan dalam kehidupan bermasyarakat sehari-hari.

“Kami harapkan tema Panji ini akan menjadi sumur ide dan gagasan, yang dapat dikontekstualisasi dengan fenomena kehidupan sosial budaya di masyarakat saat ini,” tambah Dian.

Festival ini memperebutkan hadiah Piala bergilir, piagam, trofi dan uang pembinaan sebesar 15 juta rupiah untuk juara 1, 14 juta rupiah untuk juara 2, 13 juta rupiah untuk juara 3, 12 juta rupiah untuk juara 4, dan 11 juta rupiah untuk peringkat ke-5 atau yang terbawah.

Penghargaan tidak hanya ditujukan untuk kontingen (kolektif) saja, karena beberapa individu terpilih juga berkesempatan mendapatkan sejumlah penghargaan, diantaranya penulis naskah terbaik, Sutradara terbaik, penata musik terbaik, penata artistik terbaik, aktor/aktris terbaik, serta ensamble terbaik 1 dan 2, akan memperoleh masing-masing piagam, trofi dan uang pembinaan sebesar 1,5 juta rupiah.

Pada hari pertama ini, Sabtu (19/10/2024), terdapat tiga kontingen yang menampilkan performance-nya, yakni dari kontingen Kabupaten Bantul, Gunungkidul, dan kota Yogyakarta. Sementara untuk kontingen Gunungkidul dan Sleman akan melakukan aksi teatrikal-nya pada keesokan harinya, Minggu (20/10/2024) masih di tempat yang sama. (zk)

BANTUL – Penyelenggaraan Festival Kebudayaan Yogyakarta (FKY) 2024 resmi berakhir pada Jumat malam (18/10/2024).

Sejumlah pengisi acara turut meramaikan malam penutupan yang berlangsung di Lapangan Bawuran, Pleret, Bantul ini, diantaranya Pentas Kesenian Jathilan (Fasilitas Komunitas Seni), Pentas Kesenian Reog Wayang, Tari & Gamelan Anak-anak, Pentas Kesenian Sendratari “Prabawangi Prabasa Jenggala”, Pentas Kesenian Tari Garapan “Bandung Bondowoso”, Kesenian Musik Kontemporer Plentong Konslet, Flashmob Jathilan Diponegoro, Kesenian Tari Fire Dance Sanggar Flownesia, TTM Akustik,serta Shaggydog.

Selain itu, penutupan juga dilakukan oleh para stakeholder terkait, seperti Dinas Kebudayaan DIY, Pemerintah Kabupaten Bantul, dan juga Pemerintah kelurahan Bawuran, Pleret, Bantul selaku tuan rumah.

Dalam sambutannya, Kepala Dinas Kebudayaan DIY, Dian Lakshmi Pratiwi turut mengapresiasi penyelenggaraan FKY di kawasan Bawuran dan sekitarnya, beserta dukungan yang sangat tinggi dari Pemerintah kabupaten Bantul.

“Kami sangat mengapresiasi bagaimana masyarakat Bawuan turut diajak berpartisipasi dalam mensukseskan acara ini, yang mana ini menegaskan sekali lagi bahwa kebudayaan adalah milik seluruh masyarakat,” ujar Dian di Lapangan Bawuran, Jumat (18/10/2024).

Sementara menurut Lurah Bawuran, Supardiono, dirinya mengaku bangga dengan pelaksanaan FKY di wilayahnya pada tahun ini.

“Saya sangat bangga dengan adanya FKY di Bawuran ini. Apalagi saya tahu betul bagamana sejarah FKY ini sejak beberapa tahun lalu, karena saya dulunya juga merupakan panitia, volunteer, sekaligus pemerhati dari FKY ini selama bertahun-tahun,” kata Supardiono.

Sedangkan menurut Pelaksana jabatan sementara (Pjs) Bupati Bantul yang diwakili oleh Sekda Bantul, Agus Budi Raharjo, menyampaikan bahwa penyelenggaraan FKY tahun ini perlu mendapat apresiasi khusus, terutama terkait pengelolaan sampah yang tersebar selama event ini berlangsung.

“Kegiatan seperti ini sudah dilengkapi dengan pengelolaan sampah yang luar biasa, bersih, dan tidak ada sama sekali sampah yang menumpuk di sekitar lokasi,” sebut Agus.

Di sisi lain, Ketua pelaksana FKY 2024, BM Anggana, mengaku bahwa penyelenggaraan FKY tahun ini membawa dampak ekonomi yang begitu besar bagi masyarakat Bawuran dan sekitarnya.

“Tercatat sampai dengan hari ini (18 Oktober, red) sudah ada dampak ekonomi yang dirasakan yakni sebesar Rp324.937.475,” ucap BM Anggana.

FKY akan kembali pada tahun 2025 mendatang, dengan tema besarnya adalah tentang Adat Istiadat, Bahasa, dan Nilai-nilai Budaya. (zk)

BANTUL – Memasuki hari-hari terakhir pelaksanaan Festival Kebudayaan Yogyakarta (FKY) 2024, para pelaksana kegiatan mencoba untuk merefleksikan kembali bagaimana jalannya FKY berlangsung sampai sejauh ini, dan apa-apa saja yag perlu ditingkatkan ntuk pehelatan FKY selanjutnya (2025), dan tentu saja dampaknya untuk masyarakat secara umum.

Hal ini pun turut dibahas dari sudut pandang yang berbeda, yakni dari sisi Antropologi yang diwakili oleh Mubarika Dyah Fitri Nugraheni, lalu dari sisi Budayawan yang diwakili Hasan Basri, serta bidang museum dan kepustakaan oleh Revianto Budi Santosa. Mereka membahasnya dalam sebuah musyawarah Umpak Buka bertajuk “Refleksi Festival Kebudayaan 2024”, yang berlokasi di MCC Tepi Sabin, Pleret, Bantul, Kamis (17/10/2024).

Ketiganya sepakat bahwa beberapa program dari FKY seperti diskusi, musyawarah, podcast, dan sebagainya harus tetap dilanjutkan pada tahun-tahun selanjutnya. Sehingga perkembangannya tidak hanya sebagai seremonial saja, namun juga sebagai pembangunan yang berkelanjutan, bagi setiap generasi.

Sedangkan menurut Adhi Pandoyo, selaku Manajer program FKY Rembug menyatakan, seluruh hasil diskusi dari program-program FKY tahun ini akan dibawa ke Pemerintah (Dinas Kebudayaan DIY) untuk ditindaklanjuti secara proporsional dan berkelanjutan.

“Hasil-hasil diskusi itu semuanya akan dirangkum dalam sebuah makalah notulensi, yang akan digabungkan dengan riset yang sudah kami lakukan sebelum acara (FKY 2024), dan disatukan dalam musyawarah yang kami lakukan sebelum event benar-benar berakhir,” ujar Adhi Pandoyo, Kamis (17/10/2024).

Tentu saja, diharapkan bahwa seluruh diskusi dan musyawarah yang telah dilakukan, tidak hanya berhenti dalam ruang diskusi saja, tapi juga benar-benar diwujudkan dalam aksi yang nyata, melalui bantuan dari pemerintah (dalam hal ini Dinas Kebudayaan DIY) beserta stakeholder terkait lainnya.

Musyawarah Umpak Buka ini sekaligus menjadi penutup dari agenda pameran Azimat Siasat yang digelar di MCC Tepi Sabin, yang juga menjadi salah satu rangkaian dalam FKY 2024. (zk)

YOGYAKARTA – Kegiatan Sambang Sastrawan edisi spesial bedah karya sastra peserta Temu Karya Sastra (TKS) Daulat Sastra Jogja (DSJ) telah memasuki hari kedua penyelenggaraan pada Rabu (16/10/2024), masih berlokasi di Rumah Ken Teratai, Mantrijeron, Yogyakarta.

Setelah pada hari sebelumnya membahas kumpulan puisi, kali ini yang dibahas adalah karya cerpen milik Adik Indah Rahmawati yang berjudul Labirin, serta kumpulan cerpen Daulat Sastra Jogja tahun 2023 berjudul Ragam Sampur. Kedua karya tersebut turut dikurasi oleh Seniman sekaligus penanggung jawab media cetak, Latief Noor Rochman, serta sastrawan Satmoko Budi Santoso.

Selain bedah karya cerpen, kegiatan Sambang Sastrawan ini juga dimeriahkan oleh penampilan musikalisasi puisi dari #Selasasastra dan juga Marhaban Ananto, serta penampilan spesial dari Teater GAP.

Dalam karya cerpen berjudul Labirin ini, Indah, sapaan Adik Indah Rahmawati, menuturkan bahwa karya ini terinspirasi dari dua kurator yang kebetulan ikut mengkurasi karyanya, yakni Latief Noor Rochman dan Satmoko Budi Santoso.

“Seluruh cerita dalam buku ini semuanya sedih, tragis, dan juga sedikit sadis. Serta mengandung unsur kekerasan juga,” ucap Indah di Rumah Ken Teratai, Rabu (16/10/2024).

Latief Noor Rochman sebagai salah satu kurator cerpen Labirin ini, mengaku cukup terkejut dengan genre yang dibawakan oleh Indah, dimana semuanya selalu berakhir dengan sad ending.

“Saya agak terkejut dengan ciri khas dari tulisannya mbak Indah ini, yang isinya kebanyakan terkait pembunuhan atau kematian. Saya sempet tanya, “kok kayak gini” (ceritanya tentang kematian semua). “Ya karena itu memang kesenangan saya“. Waduh jadinya saya agak ketakutan,” kata Latief.

Lebih lanjut, Latief menyatakan bahwa ciri khas sad ending dari Indah ini bisa menjadi suatu ciri khas tersendiri, tapi di satu sisi juga bisa menjebak, karena kemudian orang sudah bisa menebak-nebak apa yang akan terjadi dalam cerita tersebut.

“Yang perlu diperhatikan adalah harus berhati-hati dalam mengemas cerita tersebut. Okelah kalo itu nanti akan tentang kematian, tapi mengemasnya jangan selalu sama begitu-begitu saja. Kok semuanya sama tiba-tiba ditusuk, tiba-tiba digebuk lalu mati, dan sebagainya,” tambah Latief.

Sedangkan menurut Satmoko, buku ini mengingatkannya dengan sang penulis, Adik Indah Rahmawati, ketika dirinya menjadi narasumber dalam TKS edisi tahun 2022 lalu.

“Ketika saya disodorkan karya cerpen Labirin ini, disitu saya langsung teringat tentang Indah, yang merupakan salah satu peserta yang paling aktif dalam TKS tahun 2022 di Sanggar Anak Alam waktu itu,” kata Satmoko.

Satmoko juga menuturkan, ada tiga cerpen dalam buku Labirin ini yang memiliki potensi yang cukup besar, diantaranya berjudul Senapan Dalam Senyum, Labirin, dan Cemburu Membawa Ke Neraka.

Kegiatan Sambang Sastrawan masih akan berlanjut pada hari Kamis ini (17/10/2024) untuk membahas salah satu karya naskah Lakon, yang juga merupakan hasil karya dari salah satu peserta DSJ tahun-tahun sebelumnya. (zk)

YOGYAKARTA – Agenda Sambang Sastrawan edisi 2024 kembali digelar. Kali ini membahas tentang karya-karya yang telah dihasilkan oleh peserta Daulat Sastra Jogja (DSJ) program Temu Karya Sastra (TKS) selama tahun 2021-24.

Lokasi Sambang Sastrawan edisi kali ini berlokasi di Rumah salah satu Sastrawan, Niken Terate Sekar, atau yang lebih beken dengan sebutan “Ken Teratai”, di kawasan Mantrijeron, Yogyakarta.

Pada pelaksanaan hari pertama, Selasa (15/10/2024), turut hadir seorang mahasiswa Filsafat UGM, Muhammad Sheva, yang telah mampu menghasilkan sebanyak 74 karya sastra berupa puisi, yang kemudian dibukukan dengan judul Otsu. Karya-karyanya pun turut dianalisis sedemikian rupa oleh dua orang Sastrawan senior, yakni Krishna Miharja dan Dinar Saka.

Menurut Sheva, Otsu sendiri berarti “nama dari siapa”, yaitu nama dari salah satu tokoh dalam buku Edi Yosukawa yang berjudul Musasi.

“Dalam buku tersebut, Edi Yosukawa menggmbarkan Otsu sebagai wanita kesukaannya Musasi Miyamoto. Lalu yang membuat saya tertarik dengan nama itu adalah karena ternyata ada banyak hal yang bisa dibagi bersama-sama,” kata Sheva di Rumah Ken Teratai, Selasa (15/10/2024).

Sehingga bisa dikatakan, Otsu adalah sesosok perempuan yang disukai oleh Sheva, yang kemudian diangkat menjadi judul buku.

Sastrawan Krishna Miharja yang telah membaca karya puisi dalam buku Otsu dari Muhammad Sheva, menuturkan bahwa buku Otsu milik Muhammad Sheva masih belum memiliki titimangsa, atau keterangan lokasi dan tahun puisi tersebut dibuat, di bagian akhir puisi.

“Itu (tidak ada titimangsa) akan menjadi masalah nantinya. Karena tidak ada keterangan ini ditulis kapan, bahkan bulannya,” ujar Krishna.

Sedangkan menurut Dinar Saka, kumpulan puisi dalam buku Otsu ini menurutnya cukup menarik, dan rupanya banyak juga yang ia sukai.

“Disana saya menemukan salah satu puisi yang menarik sekali berjudul “Tidurlah Pahlawan”. Dalam puisi tersebut ada satu diksi yang diulang, namun kita tidak boleh terjebak pada teknik pengucapan yang sama. Nah inilah salah satu “kenalakan” dari seorang Sheva ini (dalam membuat puisi),” ucap Dinar Saka bersemangat.

Sementara sesi kedua dalam agenda Sambang Sastrawan hari pertama ini adalah membedah karya puisi dari karya yang dibuat selama perhelatan DSJ 2023 tahun lalu, yang berjudul “Ruang Kerja Tuhan”.

Menurut Krishna, antologi puisi “Ruang Kerja Tuhan” hasil DSJ tahun lalu merupakan kumpulan puisi yang pada dasarnya masih mentah pada saat itu.

“Jadi ketika misalnya hendak bererita tentang Tugu, ya kemudian Tugu itu diceritakan, dinarasikan, dan dideskripsikan sedemikian rupa pada saat itu juga. Sehingga bisa dikatakan masih belum terlalu matang,” sahut Krishna.

“Dengan adanya buku “Ruang Kerja Tuhan” yang merupakan hasil karya dari DSJ 2023 lalu, kemudian mas Sheva memiliki keinginan untuk akhirnya mengorbitkan bukunya sendiri (Otsu). Sehingga saya pikir, jika seluruh partisipan yang terlibat dalam buku “Ruang Kerja Tuhan” ini juga bisa memiliki karyanya masing-masing seperti yang dilakukan oleh mas Sheva, maka ini akan sangat luar biasa bagi dunia sastra di DIY ini,” tambah Dinar Saka mengenai antologi “Ruang Kerja Tuhan”.

Agenda Sambang Sastrawan TKS 2024 ini masih akan berlanjut pada Rabu ini (16/10/2024) yang membahas karya sastra unik dan menarik lainnya. (zk)

BANTUL – Rangkaian acara Festival Kebudayaan Yogyakarta (FKY) 2024 yang berlangsung pada 10 hingga 18 Oktober 2024, tidak hanya dipusatkan di Lapangan Bawuran, Pleret, Bantul saja. Melainkan juga berlangsung di beberapa tempat strategis lainnya, yang letaknya masih cukup dekat dengan Lapangan Bawuran.

Salah satunya ada di MCC Tepi Sabin, yang menjadi lokasi dari Pameran bertajuk “Azimat Siasat”. Pameran ini juga merupakan salah satu rangkaian dari acara FKY 2024. yang berlangsung dari tanggal 10 hingga 17 Oktober 2024.

Istilah “Azimat Siasat” ini sendiri mengacu pada tema FKY 2024 yaitu terkait ke-benda-an, yang secara sederhana dapat diartikan sebagai “jimat” (pelindung), atau segala sesuatu yang dipercaya memiliki kekuatan yang dapat menjadikan individunya menjadi lebih baik dari sebelumnya. Sehingga bisa dikatakan, “Azimat siasat” adalah siasat atau trik bagi para seniman untuk menjadi lebih baik lagi ke depannya.

Tomi Firdaus selaku Programmer Pameran Azimat Siasat, mengungkapkan bahwa pameran ini diikuti oleh total 52 seniman dari berbagai genre, seperti karya lukis, patung, instalasi, kriya, hingga multimedia.

“Para seniman (yang memamerkan karya di Pameran Azimat Siasatred) diperoleh melalui dua jalur, yakni jalur undangan dan juga jalur panggilan terbuka, yakni panggilan bagi mereka (para seniman) yang berdomisili di DIY dari berbagai usia,” pungkas Tomi yang ditemui di sela-sela pameran, Jumat (11/10/2024).

Tomi pun berharap, keberadaan pameran Azimat Siasat dalam rangkaian FKY 2024 kali ini dapat mengajak masyarakat sekitar, untuk dapat melihat dan memaknai karya seni yang disajikan dalam berbagai bentuk. Dan setiap orang juga dapat membuat karya seninya masing-masing dari benda-benda yang ada di sekitar mereka, tanpa harus menggunakan alat-alat yang sifatnya eksklusif seperti kuas, kanvas, dan lain sebagainya. (zk)

Pameran Azimat Siasat merupakan salah satu rangkaian acara dalam gelaran Festival Kebudayaan Yogyakarta (FKY) 2024, yang berlangsung pada 10-17 Oktober 2024 di MCC Tepi Sabin, kawasan Bawuran, Pleret, Bantul, DIY. Berikut adalah beberapa koleksi unik (dan antik) yang ada di dalam pameran tersebut. (foto: Azka)