YOGYAKARTA – Kegaduhan politik yang terjadi belakangan ini, khususnya sejak kehadiran program Makan Bergizi Gratis (MBG), rupanya telah memantik rasa penasaran sejumlah pihak, terkait bagaimana nasib bangsa Indonesia ke depannya.

Terlebih ketika pemerintahan saat ini terlalu memaksakan diri untuk mengaplikasikan programnya ke seluruh pelosok negeri, meskipun kenyataannya banyak terjadi kecacatan disana-sana, seperti misalnya keracunan (terkait makanan MBG), dan sebagainya.

Dalam Dialog Kebangsaan bertema “Keadilan yang dirindukan, Pilar Peradaban yang Hilang” yang berlangsung di Plaza Masjid Jogokariyan, Jumat (27/2/2026), Guru Besar Hukum Tata Negara, Mahfud MD, yang turut hadir sebagai pembicara dalam dialog tersebut, menyatakan bahwa dinamika politik saat ini memang sudah berlangsung secara transaksional, sehingga sulit untuk menghindarinya, apalagi mampu mengubahnya.

“Marilah kesadaran itu (untuk menjadi lebih baik) dimulai dari diri kita sendiri, sehingga nantinya akan muncul kesadaran secara kolektif. Karena memang harus diakui bahwa politik kita hari ini sudah bersifat transaksional, jadi sangat sulit untuk dihindari,” ucap Mahfud MD di Plaza Masjid Jogokariyan, Jumat (27/2/2026).

Mahfud MD menambahkan, dalam situasi seperti ini, masyarakat semestinya bisa lebih bersatu dan mengumpulkan kekuatan bersama, untuk benar-benar bisa menggulingkan kekuasaan pemerintah hari ini, agar kesewenang-wenangan itu tidak semakin memburuk di kemudian hari.

“Perubahan mendasar di negeri ini maupun di seluruh dunia, itu selalu diawali dari operasi caesar, yakni ketika rakyat sudah tidak berdaya, dan penguasa sudah terlalu sewenang-wenang, gerakan itu lantas muncul sendiri, dan pemerintah pun bisa dijatuhkan,” tambah Mahfud MD.

Mahfud pun meminta masyarakat untuk terus berjuang sesuai jalannya masing-masing, agar mampu menciptakan peradaban manusia yang lebih baik, dan tidak sepenuhnya bergantung kepada penguasa. Apalagi jika penguasa hari ini justru bersikap sewenang-wenang kepada rakyatnya. (zk)

YOGYAKARTA – Polemik ketidakadilan yang melanda bangsa Indonesia, khususnya sejak tahun-tahun terakhir kepemimpinan presiden Jokowi, telah memantik diskusi dari berbagai pihak dan juga sudut pandang, untuk dapat membedah sejauh mana ketidakadilan bisa menjadi “api” yang dapat memecah suatu bangsa. Namun di saat yang sama juga bisa menjadi semangat yang menyatukan seluruh elemen bangsa, ketika mampu bersatu melawan ketidakadilan tersebut.

Dalam Dialog Kebangsaan bertema “Keadilan yang dirindukan, Pilar Peradaban yang Hilang” yang berlangsung di Plaza Masjid Jogokariyan, Jumat (27/2/2026), Guru Besar Hukum Tata Negara, Mahfud MD, yang turut hadir sebagai pembicara dalam dialog tersebut, menyatakan bahwa ketidakadilan adalah sumber utama yang mampu memecah belah bangsa, apalagi jika ketidakadilan itu dilakukan oleh penguasa, atau pemerintah itu sendiri.

“Sejak jauh sebelum zaman Nabi, terbukti bahwa kehancuran bangsa-bangsa itu tejadi karena ketidakadilan. Sesudah nabi sampai sekarang pun, seperti Majapahit, Singosari, dan Mataram, semuanya hancur karena ketidakadilan,” ucap Mahfud MD, Jumat (27/2/2026).

Lebih lanjut, Mahfud MD mengatakan, keadilan di zaman sekarang itu memang semakin sulit didapatkan, namun tugas manusia lah untuk terus mencarinya tanpa henti.

“Mari kita perjuangkan keadilan tanpa kenal henti. Kalau masih belum ketemu juga, cari teru. Karena manusia itu hidup terus bergantian, berkembang, dan seterusnya,” tambah Mahfud.

Menurut Mahfud, selama peradaban manusia masih ada, selama itu pula akan ada ketidakadilan, dan selama itu pula keadilan harus terus diperjuangkan. (zk)