BANTUL – Pameran bertajuk “Babad Sokaraja” yang telah berlangsung selama satu bulan penuh, tepatnya pada 20 Juni hingga 20 Juli 2026, menghadirkan sejumlah cerita tersendiri bagi banyak orang.

Lukisan demi lukisan yang terpampang di Museum dan Tanah Liat (MDTL), Tirtonirmolo, Kasihan, Bantul tersebut telah mampu memotret keindahan alam daerah Sokaraja, salah satu kecamatan di Banyumas, Jawa Tengah, yang bernilai historis cukup penting dan sarat akan makna filosofis.

Sejumlah lukisan dalam pameran itu pun berhasil terjual dengan nilai yang cukup menjanjikan.

Menutup rangkaian pameran, pihak panitia pun menghadirkan sesi nonton bareng (nobar) dan juga diskusi film dokumenter berjudul Mooi Banjoemas karya Produser Wasis Wardhana, yang juga menjadi semacam proses behind the scene dari keseluruhan pameran tersebut.

Sesi nobar dan diskusi pun dilaksanakan tepat di hari penutupan, yang dilangsungkan di halaman depan MDTL, Senin (20/7/2026).

Ugo Untoro, seniman dan sekaligus pemilik pameran “Babad Sokaraja” mengatakan bahwa pameran tersebut merupakan wujud apresiasi terhadap para pelukis Sokaraja di masa lampau, sekaligus sebagai penghormatan atas sumbangsihnya terhadap wilayah Sokaraja sejak lama.

“Bagi saya, ini (pameran Babad Sokaraja) merupakan rasa hormat saya, istilahnya membalas budi kepada para pelukis Sokaraja. Karena secara tidak langsung, mereka telah mendorong saya untuk menjadi pelukis. Jadi ada semacam jasa, yang mungkin tidak disadari oleh mereka (para pelukis Sokaraja), tapi buat saya, mereka sangat berjasa sekali,” ucap Ugo Untoro, saat ditemui di MDTL, di sela acara nobar film.

Salah satu lukisan Sokaraja yang dipamerkan di Pameran “Babad Sokaraja” di MDTL (Foto: Azka Qintory)

Meskipun pameran dan film dokumenter ini bercerita tentang Sokaraja yang berada di Kabupaten Banyumas, namun pelaksanaan pameran ini tetap dilaksanakan di Yogyakarta.

Hal ini disebabkan karena Ugo dan kawan-kawan ingin memperkenalkan Sokaraja dan Banyumas ke daerah-daerah lain, terutama yang memiliki cita rasa seni yang cukup tinggi, salah satunya di Yogyakarta.

“Kita mencoba, di samping mengenalkan (Sokaraja) ke daerah yang lebih luas, kita juga kebetulan punya space di Yogya ini. Atau kalau di daerah lain misalnya saya juga punya tempat, mungkin akan saya pamerkan juga di sana,” tambah Ugo.

Ugo pun berharap, hadirnya pameran sekaligus nobar dan diskusi tersebut dapat menjadi pemantik semangat bagi para generasi muda, untuk terus merawat keindahan alam di Sokaraja, sekaligus merawat keindahan lukisannya, dan konsisten memotret setiap peristiwa yang terjadi di sana. (zk)

Sokaraja adalah sebuah kecamatan di Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, yang terletak sekitar 8 km arah timur dari pusat Kota Purwokerto.

Wilayah ini cukup terkenal dengan keindahan alamnya, yang berisi alam pedesaan menawan dan berhawa sejuk khas pedesaan tempo dulu.

Keindahan itulah yang dipotret melalui pameran bertajuk “Babad Sokaraja” yang berlangsung di Museum dan Tanah Liat (MDTL) selama satu bulan penuh, tepatnya mulai 20 Juni hingga 20 Juli 2026.

Pameran ini menampilkan berbagai lukisan alam tanah Sokaraja, beserta potret kegiatan masyarakat sehari-hari, yang kian sulit ditemui di wilayah perkotaan di era modern saat ini.

Di hari penutupan pameran, Senin (20/7/2026), masyarakat pun diajak menonton bareng film dokumenter berjudul Mooi Banjoemas. Memotret tentang keseharian masyarakat di wilayah Sokaraja dan bagaimana pameran ini diselenggarakan di balik layar, yang menjadi cerita tersendiri bagi masyarakat setempat.

Para penonton pun diajak berdiskusi mengenai film tersebut dan berbicara mengenai pengalaman masing-masing terkait wilayah Sokaraja, atau dunia lukisan serta kesenian secara umum.

Berikut adalah sejumlah keseruan dari kegiatan Nonton Bareng (Nobar) film Mooi Banjoemas, yang berlangsung di Museum dan Tanah Liat (MDTL), Tirtonirmolo, Kasihan, Bantul, Yogyakarta. (Foto: Azka Qintory)