YOGYAKARTA – Atikah Wulandari, mahasiswi Teknik Geodesi Universitas Gadjah Mada (UGM) angkatan 2024 sekaligus Runner Up III Duta GenRe Sleman 2025, resmi meluncurkan aplikasi RUMAH RASA (Remaja Unggul, Mandiri, dan Harmoni dalam Rasa).

Platform digital ini hadir sebagai solusi strategis untuk memenuhi urgensi kebutuhan ruang aman (safe space) bagi remaja dalam memahami literasi emosional di tengah kompleksitas dan tantangan era digital.

Sebagai sebuah inisiatif mandiri, RUMAH RASA dirancang untuk menjadi ruang digital yang tulus dan inklusif. Di platform ini, remaja diajak untuk jujur dengan kondisi emosinya tanpa takut dihakimi, divalidasi melalui fitur “Check-in Perasaan” yang sederhana namun mendalam.

Fitur ini membawa pesan kuat kepada para generasi muda, bahwa rasa lelah adalah hal yang manusiawi, dan tidak apa-apa untuk merasa tidak baik-baik saja (it’s ok to be not ok). Dalam ekosistem ini, pengguna dapat mengakses berbagai instrumen kesehatan mental, mulai dari fitur Cek Stres, pemilihan metode coping yang personal, hingga mempelajari lima langkah self-tool.

Seluruh materi edukasi di platform ini berpijak pada standar kredibel, yakni Modul Kesehatan Mental Olahrasa dari GenRe Indonesia dan Kemenpora.

Bagi mereka yang merasa bebannya sudah terlalu berat untuk ditanggung sendiri, RUMAH RASA juga menyediakan akses langsung ke layanan hotline teman cerita profesional.

Menurut Atikah Wulandari, platform RUMAH RASA dapat memberikan easy access bagi remaja untuk mendapatkan safe space yang membantu mereka mencapai harmony in every feeling.

“Melalui platform RUMAH RASA ini, saya ingin memberikan semacam easy access bagi remaja untuk mendapatkan safe space yang membantu mereka mencapai harmony in every feeling. Fokus saya bukan hanya sekadar memberikan informasi, melainkan juga menciptakan emotional well-being yang nyata.

Saya ingin agar setiap remaja bisa menyampaikan perasaannya, dan jauh lebih baik ketika mereka tahu cara menanganinya,” ungkap Atikah Wulandari, Founder platform RUMAH RASA.

Atikah juha mengaku belajar banyak dari proses membuat platform ini. Karena ternyata dunia remaja (apalagi di zaman yang serba canggih seperti sekarang) sangatlah kompleks dan butuh perhatian serius dari orang-orang di sekitarnya, untuk mampu mengungkapkan perasaannya dengan aman dan dapat dipercaya.

Hal semacam itu nampaknya mudah, tapi di zaman sekarang justru semakin sulit didapatkan.

“From coordinates to communities, Dengan membuat platform ini, aku belajar bahwa peta bukan hanya tentang bumi, tapi juga tentang rasa. Dan setiap remaja punya peta hidupnya sendiri, maka tugasku adalah membantu mereka untuk menemukannya,” tambah mahasiswi yang juga Mini Ambassador Glow & Lovely Bintang Beasiswa ini.

Melalui desain yang estetis dan pendekatan yang minimalis, RUMAH RASA diharapkan mampu menjadi katalisator terciptanya generasi Indonesia yang tidak hanya unggul secara intelektual, tetapi juga stabil, tangguh, dan harmonis dalam rasa.

Bagi Anda yang ingin mempelajari lebih lanjut mengenai platform ini, Anda bisa mengaksesnya melalui link berikut ini: https://rumahrasa.netlify.app/#olahrasa . (zk)

SLEMAN – Atikah Wulandari, seorang mahasiswi Program Studi Teknik Geodesi, Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada (UGM), baru-baru ini berhasil menorehkan prestasi gemilang dengan meraih Runner Up III Duta Generasi Berencana (GenRe) Sleman 2025. Dalam ajang yang diselenggarakan oleh Dinas P3AP2KB Kabupaten Sleman di bawah koordinasi BKKBN (Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional) ini, Atikah berhasil menarik apresiasi dewan juri melalui ide, karakter, dan kepemimpinannya sebagai remaja inspiratif.

Perjalanan Atikah menuju gelar tersebut tidaklah mudah. Tampil mewakili UGM, ia harus melewati serangkaian seleksi yang panjang dan kompetitif. Mulai dari administrasi berkas, uji bakat, psikotes, karantina intensif, hingga Grand Final yang menantang dengan sesi QnA berdurasi 30 detik dan pidato inspiratif yang hanya berdurasi dua menit di hadapan dewan juri.

Atikah mengaku, setiap tahap seleksi bukan hanya tentang kompetisi, tetapi juga tentang bagaimana menemukan jati diri, serta memaknai peran remaja dalam pembangunan bangsa.

“Melalui proses ini, saya belajar bahwa kepemimpinan itu harus dimulai dari rasa empati kepada sesama,” kata Atikah.

Menurut Atikah, menjadi Duta GenRe bukan hanya sekadar gelar, melainkan sebagai pengingat, bahwa satu suara bisa menjadi sebuah inspirasi, dan satu cerita bisa menjadi obat untuk kesembuhan orang lain.

Merantau Dari Solo ke Sleman

Perjalanan Atikah menuju panggung Duta GenRe bukanlah hal yang instan. Sejak remaja, ia aktif dalam berbagai kegiatan sosial dan advokasi anak di kampung halamannya, kota Solo. Sebagai aktivis Forum Anak Surakarta, ia terlibat dalam kampanye pemenuhan hak anak, literasi digital, hingga edukasi anti kekerasan terhadap perempuan dan remaja. Atikah juga menjabat sebagai Ketua Posyandu Remaja Mangkubumen, yang membuka akses pelayanan kesehatan fisik dan mental bagi remaja. Ia juga rutin mengadakan pemeriksaan kesehatan, konseling remaja, serta edukasi gaya hidup sehat agar menjadikan posyandu sebagai ruang ramah remaja yang aktif dan inspiratif. Selain aktif dalam kegiatan sosial, Atikah juga dikenal sebagai public speaker muda yang sering dipercaya menjadi MC, moderator, maupun pengisi materi di berbagai forum remaja, sekolah, dan komunitas.

Semangat sosial, prestasi akademik dan kemampuan komunikasinya itu berhasil membawa Atikah menembus program nasional Glow & Lovely Bintang Beasiswa, salah satu program yang mendukung perempuan muda berprestasi di seluruh Indonesia. Berkat konsistensinya dalam prestasi akademik dan non-akademik, Atikah berhasil terpilih sebagai penerima beasiswa tersebut setelah menyingkirkan lebih dari 11.000 pendaftar lainnya. Ia kemudian dipercaya menjadi Mini Ambassador Glow & Lovely Bintang Beasiswa, bekal penting yang memperkuat langkahnya hingga ke panggung Duta GenRe Sleman 2025

RUMAH RASA: Inovasi Digital Untuk Menumbuhkan Rasa Empati

Memasuki malam Grand Final Duta GenRe Sleman 2025, dalam sesi Top Five Speech , Atikah mendapat pertanyaan reflektif tentang makna “Olahrasa” bagi remaja masa kini. Dengan percaya diri dan ketulusan, ia menjawab bahwa Olahrasa bukan hanya tentang mengendalikan perasaan, melainkan tentang menyadari, memahami, dan mengelola rasa agar tumbuh menjadi remaja yang lebih empatik dan harmonis. Dalam kesempatan yang sama, Atikah juga memperkenalkan program kerjanya yang bertajuk “RUMAH RASA” (Remaja Unggul, Mandiri, dan Harmoni dalam Rasa) , sebuah website interaktif yang menjadi ruang aman digital bagi remaja untuk belajar mengenali diri, mengelola emosi, dan menumbuhkan empati.

“Olahrasa mengajarkan kita untuk tidak menolak rasa, tapi mengenalinya. Melalui RUMAH RASA, saya ingin mengubah kesadaran menjadi suatu aksi nyata, yakni rumah digital dimana remaja dapat belajar tentang rasa empati, sekaligus dapat bertumbuh bersama,” ujar Atikah.

Program ini semakin menonjol karena menggabungkan pendekatan teknologi dan psikososial, mencerminkan sinergi antara analytical thinking khas mahasiswa teknik dengan social empathy yang menjadi ruh dari Duta GenRe.

Teknologi, Empati, dan Perjuangan Perempuan Muda

Sebagai mahasiswi Teknik Geodesi, Atikah membuktikan bahwa dunia teknik juga bisa menjadi jembatan menuju perubahan sosial. Ia menggabungkan ketelitian ilmiah yang ia pelajari di kampus dengan kepekaan sosial yang telah ia asah melalui pengalaman organisasi dan advokasi remaja.

“Disini saya belajar bahwa peta bukan hanya tentang bumi, tapi juga tentang rasa. Setiap remaja punya peta hidupnya sendiri, dan tugasku adalah membantu mereka untuk menemukannya,” tutur Atikah dengan senyum hangat.

Melalui prestasinya ini, Atikah ingin menunjukkan bahwa perempuan di bidang STEM (Science, Technology, Engineering, and Mathematics) juga mampu menjadi pemimpin yang peka dan inspiratif bagi generasi muda. (zk)