BANTUL – Tak bisa dipungkiri bahwa AI (Artificial Intelligence) adalah sebuah alat yang kini telah menjadi bagian yang tak terpisahkan dalam kehidupan manusia. Tak terkecuali di bidang sastra.

Di bidang sastra, AI mampu menjadi tools yang dapat memudahkan pembuatan karya, memunculkan ide baru, sampai membuat karya akhir, untuk ditampilkan kepada khalayak luas, dan sebagainya.

Hal itu pun turut diamini secara langsung oleh sastrawan asal Bantul, Tedi Kusyairi. Menurutnya, di balik segala pro kontra sampai sekarang, penggunaan AI dalam dunia sastra tetaplah sesuatu yang tidak bisa dihindari, alias menjadi suatu keniscayaan. Karena memang tools ini sudah tersedia di mana-mana.

“Harus diakui bahwa kita memang tidak bisa menghindari AI. Tapi tinggal bagaimana kita sebagai pengampu atau pengajar itu juga mau tidak mau harus ikut bisa (menggunakan AI). Harus lebih tahu, harus adaptasi, harus mengerti, dan juga harus mampu mengajarkan pemahaman bahwa ‘jangan sekadar menggunakan AI sebagai alat, tapi bagaimana kamu sebagai kreator, dalam hal ini dari menuliskan prompt sampai hasil jadinya, itu merupakan tanggung jawabmu sendiri’, seperti itu,” tutur Tedi Kusyairi, saat mengisi kegiatan Sambang Komunitas edisi ke-19 yang berlangsung di halaman kompleks Grhtama Pustaka, Banguntapan, Bantul, DIY, Senin (7/9/2026).

Bagi Tedi, satu hal yang masih menjadi persoalan adalah ketika para sastrawan senior maupun lembaga pendidikan tertentu tidak bisa mendeteksi, apakah karya ini merupakan hasil dari AI atau bukan.

Untuk itu, setiap sastrawan senior maupun lembaga pendidikan sejatinya perlu melakukan semacam training atau pembekalan khusus, agar tidak membebaskan anak-anak muda menggunakan AI secara membabi buta. Namun tetap mengedepankan etika dan tanggung jawab yang sesuai dengan norma profesi, dan lain sebagainya.

“Yang agak repot sebenarnya adalah bagaimana kemudian institusi pendidikan misalnya, untuk membekali bapak-ibu guru, agar bisa ngecek ini produk dari AI atau bukan. Lalu bagaimana training-nya supaya si anak (generasi muda) itu tidak sekadar istilahnya tinggal nge-prompt di AI lalu selesai gitu aja. Enggak. Tapi bagaimana orang itu mampu mempertanggungjawabkan apa yang dia lakukan. Jadi biar etika dan moralitasnya tetap terasah, dan tidak terkesan nggampangke sesuatu,” sambung Tedi.

Melalui kehadiran AI, ada semacam pergeseran nilai dalam membuat sebuah karya sastra, yang seolah bisa dilakukan dengan begitu mudah dan cepat.

Padahal, proses pembuatan karya sastra juga memiliki esensi lain yang tidak kalah penting, dan proses itu harus tetap dialami oleh para generasi muda. Sekalipun mereka sudah begitu dimanjakan dengan kehadiran AI, dan seterusnya. (zk)

BANTUL – Perkembangan teknologi informasi yang begitu pesat dan cepat telah mampu mengubah berbagai sektor dalam kehidupan, salah satunya adalah bidang seni dan sastra.

Belum lagi dengan kemunculan AI (Artificial Intelligence) seperti saat ini, yang membuat segala sesuatunya terasa lebih mudah dari sebelumnya. Termasuk dalam membuat karya sastra seperti lukisan, cerpen, puisi, dan semacamnya.

Namun bagi Sastrawan senior Joni Ariadinata, hal itu tidak perlu dipersoalkan sedikitpun. Karena AI tidak akan benar-benar menggantikan para seniman seutuhnya, mengingat seni adalah sesuatu yang bersifat tidak presisi, alias sangat bergantung dari selera manusia yang membuat karya tersebut. Sedangkan AI adalah robot atau mesin yang tidak memiliki perasaan sama sekali.

“Sepertinya karya sastra seperti lukisan, atau seni secara umum, itu adalah hal paling akhir yang bisa digantikan sepenuhnya oleh AI. Karena kalau manajemen, arsitektur, bahkan dokter pun sudah bisa digantikan oleh AI. Karena kan ada exact-nya disitu, artinya harus ada data yang presisi. Tetapi seni itu sama sekali tidak presisi. AI itu juga bingung, bagaimana caranya untuk bener-bener hadir dan menggantikan peran manusia seutuhnya? Tapi emang ternyata nggak bisa,” ungkap Sastrawan Joni Ariadinata, saat mengisi diskusi bertajuk “Relevansi Cerpen di Mata Gen Z”, yang berlangsung di Kelingan Garden & Cafe, Bejen, Bantul, beberapa waktu lalu.

Joni pun meyakini, bahwa profesi seniman akan selalu eksis sampai kapanpun, karena profesi semacam ini sangat lekat dengan perasaan manusia, dan merupakan sesuatu yang sangat subjektif. Sehingga tidak bisa sembarangan ditiru oleh siapapun, termasuk mesin secanggih AI sekalipun.

“Jadi saya tidak khawatir dengan AI. Orang seni itu nggak usah khawatir, karena pekerjaan seni itu bukan sesuatu yang presisi, dan bisa dengan mudah digantikan oleh AI,” tambah Joni.

Meski demikian, Joni tetap memandang perlunya para seniman untuk tetap menggunakan intuisinya dengan baik dan bijak, sehingga tidak perlu sedikit-sedikit menggunakan alat bantu seperti AI untuk mencari data tertentu, dan seterusnya. (zk)

YOGYAKARTA – Kehadiran teknologi informasi yang begitu masif di era saat ini, seperti misalnya AI (Artificial Intelligence), rupanya telah ikut mengubah cara manusia dalam beraktivitas, termasuk dalam membuat karya sastra.

Banyak sastrawan muda yang kini menggantungkan AI sebagai tools dalam menciptakan ide-ide baru, sekaligus sebagai alat untuk menghasilkan karya sastra itu sendiri, sebagai hasil akhir yang akan dibaca atau diperlihatkan kepada masyarakat luas.

Hal ini sebenarnya tidak sepenuhnya salah, karena teknologi memang diciptakan untuk memudahkan pekerjaan manusia.

Namun penggunaannya tetap harus dengan kehati-hatian yang sangat tinggi. Karena AI tidak didesain untuk benar-benar menggantikan pekerjaan manusia seutuhnya, apalagi pekerjaan dalam menghasilkan karya sastra.

“Kalau menurut saya AI tetap bisa saja difungsikan, tapi hanya sebagai alat bantu, untuk merangsang tumbuhnya ide-ide. Tapi tidak untuk membuatkan (hasil akhir karya sastra), gitu loh. Jadi batasannya di situ,” papar sastrawan asal Bantul, Satmoko Budi Santoso, dalam sesi diskusi bertajuk “Quo Vadis Sastrawan Muda Jogja”, yang merupakan salah satu bagian dari Festival Literasi Jogja 2026, yang digelar di halaman depan Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah (DPAD), Yogyakarta, beberapa waktu lalu.

Sementara bagi Latief Noor Rochmans, yang juga hadir sebagai pembicara dalam sesi diskusi tersebut, justru mengharamkan total penggunaan AI, sekalipun hanya sebagai pemantik ide atau semacamnya.

“Kalau saya sama sekali mengharamkan (penggunaan AI). Karena saya sebagai redaktur dan juga penulis, tidak pernah menggunakan itu (AI) sama sekali. Kenapa? Banyak data yang salah. Dan kenyataannya, banyak teman penulis yang juga nulis pakai AI, dan datanya itu selalu salah, padahal cuman hal-hal sepele loh,” ucap Latief di kesempatan yang sama.

Bagi Latief, keaslian atau orisinalitas sebuah karya sangatlah penting bagi sastrawan muda. Karena dari sanalah namanya akan dikenal luas oleh masyarakat, dan tentu saja bukan karena hasil bantuan dari AI dan semacamnya. (zk)