YOGYAKARTA – Komunitas Satupena DIY resmi meluncurkan karya berupa kumpulan cerpen berjudul “Cerita dari Yogya”, yang berlangsung di Keselatan, Kraton, Kota Yogyakarta, Selasa (5/5/2026).

Sesuai namanya, buku ini merupakan kumpulan cerita para anggota Komunitas Satupena tentang pengalaman dan kenangan di Kota Yogyakarta, khususnya tentang percintaan (dalam konteks yang lebih luas).

Dalam suasana sore yang cerah, para anggota Satupena yang karya cerpennya termuat di dalam buku tersebut membacakan satu per satu karya mereka di hadapan audiens. Sembari menikmati embusan angin dan hidangan yang telah disediakan.

Sekretaris Satupena DIY, Ana Ratri, menyampaikan bahwa momen launching ini adalah rencana yang sudah tertunda sejak sekian lama, yang akhirnya baru bisa diwujudkan di bulan kelima tahun 2026 ini.

“Acara ini sebenarnya adalah acara yang sudah ditunggu sejak lama sekali. Sejak kami berdiri pada 2023 lalu, kami baru menerbitkan buku sebanyak dua kali. Kan seharusnya cita-cita awalnya itu setidaknya satu tahun sekali atau dua kali kita akan menerbitkan buku. Tapi baru sampai tahun ketiga akhirnya bisa terbit juga,” ucap Ana Ratri, Selasa (5/5/2026).

Rencananya, Satupena akan berusaha menerbitkan buku-buku karya sastra selanjutnya secara lebih rutin, bahkan dalam tiga bulan sekali, sehingga konsistensi mereka dalam berkarya dan menulis akan selalu terjaga.

“Rencananya setiap tahun kami akan menepati komitmen untuk menerbitkan buku-buku selanjutnya. Tapi tadi ada usulan di tengah-tengah diskusi bahwa kita akan menerbitkan (buku) per tiga bulan,” tambah Ana Ratri.

Selain itu, Satupena DIY juga berencana membuat workshop kepenulisan kepada anak-anak generasi muda, agar dapat memperkenalkan sekaligus melestarikan dunia sastra kepada generasi penerus mereka di kemudian hari.

Banyak nama sastrawan dan jurnalis yang bergiat di Komunitas Satupena Yogyakarta, di antaranya Sutirman Eka Ardhana, YB Margantoro, Agus Istianto, Syamsu Setiaji, Pascalia WD, Dhenok Kristianti, Affan Safani Adham, Awit Radiani, Marwanto, Achmad Charris Zubair, Ons Untoro, dan lain-lain. (qin)

BANTUL – Imajinasi manusia bisa melahirkan banyak peluang baru. Salah satunya peluang menghasilkan karya sastra.

Mungkin itulah yang mengilhami Rizqi Nur Sholikha (Leha), seorang siswi di Madrasah Aliyah (MA) Pamulangan, Godean, Sleman, Yogyakarta, untuk dapat membuat antologi cerpen berjudul -20 Hz.

Dari judulnya saja, sudah bisa ditebak bahwa buku ini tampak bukan antologi cerpen biasa. Melainkan sebuah karya imajinatif yang merupakan hasil khayalan sang penulis, yang belum tentu bisa dipahami oleh orang awam.

“Munculnya kata “-20 Hz” itu kan dari Pak Eka sebenarnya (pembuat buku -20 Hz). Dan kata itu bermakna bahwa ‘orang lain nggak akan berpikiran seperti itu, kok dia (Leha) bisa (kepikiran)?’ Makanya dialah yang bisa mendengar perkataan samudra dengan senja, kemudian bintang dengan apa atau apa, yang orang lain tidak bisa dengar,” ungkap Endang Winarsih, guru Bahasa Indonesia di Madrasah Aliyah (MA) Pamulangan, guru yang ikut membimbing Leha dalam memproduksi antologi cerpen -20 Hz ini, dalam acara Selasa Sastra spesial hari Kartini bertajuk “Memburu Biru, Mengeja Senja”, sebagaimana dilansir dari kanal YouTube Bang Tedi Way, Selasa (21/4/2026).

Antologi ini sendiri bercerita tentang kisah romansa fiksi antara Samudra dan Senja. Senja digambarkan sebagai sosok yang memiliki hati yang lembut, sehingga mampu melindungi seluruh manusia yang ada di alam semesta ini.

“Rasenja Jingga (Senja) memiliki hati yang lembut, dia juga sosok yang melindungi kita di alam semesta ini. Kalau dia punya kekuasaan, dia sanggup melindungi kita dari sengatan panas matahari, dengan ketulusan hati yang dimilikinya. Dialah yang menjaga semua planet. Dia selalu melindungi kita di dalam orbit, akhirnya Samudra pun merasakan cinta yang luar biasa ke Rasenja Jingga,” sebut Leha, sang penulis buku antologi cerpen -20 Hz, pada kesempatan yang sama.

Sesi bedah buku -20 Hz ini merupakan salah satu rangkaian dar kegiatan Selasa Sastra edisi spesial Kartini bertajuk “Memburu Biru, Mengeja Senja”, yang berlangsung di Kelingan Garden & Cafe, Bejen, Bantul, Selasa (21/4/2026).

Selain bedah buku, ada pula pertunjukan sastra spesial dari para siswi MA Pamulangan, dan masih banyak lagi. (zk)