BANTUL – Perkembangan teknologi informasi yang begitu pesat dan cepat telah mampu mengubah berbagai sektor dalam kehidupan, salah satunya adalah bidang seni dan sastra.

Belum lagi dengan kemunculan AI (Artificial Intelligence) seperti saat ini, yang membuat segala sesuatunya terasa lebih mudah dari sebelumnya. Termasuk dalam membuat karya sastra seperti lukisan, cerpen, puisi, dan semacamnya.

Namun bagi Sastrawan senior Joni Ariadinata, hal itu tidak perlu dipersoalkan sedikitpun. Karena AI tidak akan benar-benar menggantikan para seniman seutuhnya, mengingat seni adalah sesuatu yang bersifat tidak presisi, alias sangat bergantung dari selera manusia yang membuat karya tersebut. Sedangkan AI adalah robot atau mesin yang tidak memiliki perasaan sama sekali.

“Sepertinya karya sastra seperti lukisan, atau seni secara umum, itu adalah hal paling akhir yang bisa digantikan sepenuhnya oleh AI. Karena kalau manajemen, arsitektur, bahkan dokter pun sudah bisa digantikan oleh AI. Karena kan ada exact-nya disitu, artinya harus ada data yang presisi. Tetapi seni itu sama sekali tidak presisi. AI itu juga bingung, bagaimana caranya untuk bener-bener hadir dan menggantikan peran manusia seutuhnya? Tapi emang ternyata nggak bisa,” ungkap Sastrawan Joni Ariadinata, saat mengisi diskusi bertajuk “Relevansi Cerpen di Mata Gen Z”, yang berlangsung di Kelingan Garden & Cafe, Bejen, Bantul, beberapa waktu lalu.

Joni pun meyakini, bahwa profesi seniman akan selalu eksis sampai kapanpun, karena profesi semacam ini sangat lekat dengan perasaan manusia, dan merupakan sesuatu yang sangat subjektif. Sehingga tidak bisa sembarangan ditiru oleh siapapun, termasuk mesin secanggih AI sekalipun.

“Jadi saya tidak khawatir dengan AI. Orang seni itu nggak usah khawatir, karena pekerjaan seni itu bukan sesuatu yang presisi, dan bisa dengan mudah digantikan oleh AI,” tambah Joni.

Meski demikian, Joni tetap memandang perlunya para seniman untuk tetap menggunakan intuisinya dengan baik dan bijak, sehingga tidak perlu sedikit-sedikit menggunakan alat bantu seperti AI untuk mencari data tertentu, dan seterusnya. (zk)

YOGYAKARTA – Kehadiran teknologi informasi yang begitu masif di era saat ini, seperti misalnya AI (Artificial Intelligence), rupanya telah ikut mengubah cara manusia dalam beraktivitas, termasuk dalam membuat karya sastra.

Banyak sastrawan muda yang kini menggantungkan AI sebagai tools dalam menciptakan ide-ide baru, sekaligus sebagai alat untuk menghasilkan karya sastra itu sendiri, sebagai hasil akhir yang akan dibaca atau diperlihatkan kepada masyarakat luas.

Hal ini sebenarnya tidak sepenuhnya salah, karena teknologi memang diciptakan untuk memudahkan pekerjaan manusia.

Namun penggunaannya tetap harus dengan kehati-hatian yang sangat tinggi. Karena AI tidak didesain untuk benar-benar menggantikan pekerjaan manusia seutuhnya, apalagi pekerjaan dalam menghasilkan karya sastra.

“Kalau menurut saya AI tetap bisa saja difungsikan, tapi hanya sebagai alat bantu, untuk merangsang tumbuhnya ide-ide. Tapi tidak untuk membuatkan (hasil akhir karya sastra), gitu loh. Jadi batasannya di situ,” papar sastrawan asal Bantul, Satmoko Budi Santoso, dalam sesi diskusi bertajuk “Quo Vadis Sastrawan Muda Jogja”, yang merupakan salah satu bagian dari Festival Literasi Jogja 2026, yang digelar di halaman depan Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah (DPAD), Yogyakarta, beberapa waktu lalu.

Sementara bagi Latief Noor Rochmans, yang juga hadir sebagai pembicara dalam sesi diskusi tersebut, justru mengharamkan total penggunaan AI, sekalipun hanya sebagai pemantik ide atau semacamnya.

“Kalau saya sama sekali mengharamkan (penggunaan AI). Karena saya sebagai redaktur dan juga penulis, tidak pernah menggunakan itu (AI) sama sekali. Kenapa? Banyak data yang salah. Dan kenyataannya, banyak teman penulis yang juga nulis pakai AI, dan datanya itu selalu salah, padahal cuman hal-hal sepele loh,” ucap Latief di kesempatan yang sama.

Bagi Latief, keaslian atau orisinalitas sebuah karya sangatlah penting bagi sastrawan muda. Karena dari sanalah namanya akan dikenal luas oleh masyarakat, dan tentu saja bukan karena hasil bantuan dari AI dan semacamnya. (zk)