JEPARA, JT – Karimunjawa dikenal sebagai surga wisata bahari, dan dijuluki sebagai “The Paradise of Java” atau “Caribbean van Java” karena memiliki keindahan pantai berpasir putih, air laut yang sangat jernih, serta panorama alam bawah laut yang luar biasa.

Lebih dari itu, Karimunjawa juga memiliki acara cultural night yang sangat khas, dan mampu mempertemukan seluruh lapisan masyarakat, baik wisatawan lokal, mancanegara, maupun masyarakat setempat, dengan sebuah pengalaman unik dan tiada duanya khas Karimunjawa.

Melalui berbagai pertunjukan seperti tarian tradisional, musikm dan hidangan khas Karimunjawa, tercipta sebuah gagasan yang amat sederhana, yakni pengalaman wisata yang dapat memberikan manfaat bagi siapa saja, tanpa kecuali.

Tidak Hanya Wisata

Kejora Karimunjawa, sebagai yayasan yang bergerak di bidang pendidikan dalam lingkup Karimunjawa dan sekitarnya, percaya bahwa keberlanjutan pendidikan tidak hanya dibangun melalui ruang kelas, tetapi juga melalui keterlibatan masyarakat dan wisatawan yang datang ke pulau ini setiap harinya.

Karena itu, Kejora mengembangkan berbagai kegiatan menarik, yang memungkinkan setiap pengalaman wisata juga turut memberikan dampak positif bagi komunitas lokal.

Cultural Night adalah salah satu upaya dari Kejora Karimunjawa, untuk dapat memperkenalkan Karimunjawa dari sisi yang berbeda, dan tetap memiliki dampak positif bagi seluruh masyarakat yang terlibat di dalamnya.

Cultural Night dilaksanakan setiap Sabtu malam selama musim liburan (Juli-Oktober) di Bukit Love, kompleks wisata Karimunjawa, kabupaten Jepara, Jawa Tengah.

Pertunjukkan ini menampilkan performance dari berbagai sanggar seni di Karimunjawa, yang telah dikurasi oleh pihak Kejora, dipadukan dengan makan malam khas Indonesia, yang turut memperkenalkan kekayaan kuliner lokal, salah satunya latoh (anggur laut).

Bagi banyak wisatawan mancanegara, acara ini menjadi salah satu pengalaman paling berkesan selama berada di Karimunjawa, karena mereka dapat menikmati sisi pulau yang tidak ditemukan melalui wisata bahari saja.

Cerita Di Balik Cultural Night

Sesuatu yang menarik dari Cultural Night bukan hanya tentang pertunjukannya, tetapi juga filosofi di balik keberadaannya.

Kejora melihat bahwa pariwisata dapat menjadi ruang kolaborasi. Ketika wisatawan dapat menikmati budaya lokal, masyarakat juga memperoleh ruang untuk terus berkarya, sementara manfaat dari kegiatan tersebut juga ikut mendukung berbagai inisiatif pendidikan yang dijalankan Kejora di wilayah Karimunjawa.

Dengan cara ini, sebuah malam budaya menjadi bagian dari perjalanan yang lebih panjang: memperkuat pendidikan, menjaga budaya tetap hidup, dan membangun masa depan pulau secara bersama-sama. (zk)

 

BANTUL – Berawal dari pertemuan di salah satu padepokan dalam project workshop, Nunung Deni Puspitasari dan Regina Gandes Mutiary memiliki banyak kesamaan yang seolah tidak disengaja.

Misalnya sama-sama berzodiak Scorpio, punya semangat berkarya seni yang sama, dan eksplorasi karya dalam berbagai bentuk dan ekspresi yang juga cukup identik.

Semua itu menjadi alasan kuat bagi keduanya untuk menyatukan diri dalam sebuah grup bernama Duo Ordo. Grup ini berkarya dengan menampilkan karya musikal story telling, yang disadur dari naskah cerita, cerpen, maupun puisi.

Tidak hanya itu, kolaborasi ini juga memungkinkan terciptanya ruang ekspresi baru di bidang seni, yang memadukan akting, narasi, dan musikalitas, dalam satu pengalaman artistik yang utuh dan autentik.

Mulai dibentuk sejak Mei 2026, Duo Ordo sejauh ini sudah tampil dalam tiga kesempatan berbeda. Mulai dari acara perayaan 75 tahun Sawung Jabo, pekan Yabbiekarta, dan yang terbaru adalah tampil di pentas Selasa Sastra, Kelingan Garden Cafe, Bejen, Bantul, pada 4 Agustus 2026.

Sejalan dengan perkembangan zaman yang terus bergerak maju dan dinamis, Duo Ordo juga tampil sebagai salah satu “pembeda” dalam dunia seni pertunjukkan di Yogyakarta, maupun di Indonesia pada umumnya.

Jika selama ini karya cerpen, puisi, dan naskah cerita (dialog dan semacamnya) hanya dibawakan secara monolog atau teatrikal di atas panggung, Duo Ordo mencoba mengeksplorasinya dalam kemasan pertunjukan seni yang lebih fresh, menghibur, dan mampu membangun semangat baru bagi semua orang, untuk terus berkarya dan berkontribusi bagi bangsa Indonesia, khususnya lewat bidang seni budaya.

Di usianya yang baru hitungan bulan, Duo Ordo mencoba untuk lebih banyak menelurkan karya demi karya inspiratif lainnya, yang berasal dari naskah cerita, puisi, maupun cerpen. Baik yang sudah dikenal luas, maupun yang diproduksi sendiri oleh Duo Ordo, dan sebagainya.

Dengan chemistry yang sudah terbangun sangat kuat, Nunung dan Regina yakin bahwa kehadiran mereka akan mampu diterima dengan baik oleh berbagai kalangan, baik kalangan pegiat seni, pecinta seni, maupun masyarakat umum.

Karena dunia seni adalah dunia yang terus berkembang dan bergerak secara dinamis serta kreatif. Di situlah Duo Ordo tampil dan memberikan nuansa baru bagi dunia seni budaya di Yogyakarta maupun Indonesia, agar terus lestari.

Hidup di tengah-tengah masyarakat sekaligus menggerakkan ekonomi bagi setiap pelaku di dalamnya. (zk)

BANTUL – Menghasilkan karya sastra seperti puisi bisa terinspirasi dari mana saja, termasuk pengalaman personal.

Bagi Isaura Erina Rahma Putri, salah satu lulusan program Temu Karya Sastra (TKS) dari Dinas Kebudayaan “Kundha Kabudayan” Yogyakarta periode 2024, sosok mendiang “ayah” (bukan kandung) menjadi pemantik bagi dirinya untuk menelurkan karya antologi puisi, yang diberi judul “Cara Paling Sendu, untuk Merindu”.

Dalam acara Selasa Sastra edisi Agustus 2026 bertema “Sajak-sajak Meraih Putih”, Isa, panggilan akrabnya, menceritakan bagaimana sosok “ayah” yang pernah singgah di hidupnya, benar-benar menjadi figur yang sangat dicintai dan dirindukan, khususnya setelah kepergiannya pada 2021 lalu.

“Karena aku kehilangan sosok yang jadi ‘ayah’ aku, bukan ayah (kandung) tapi sosok yang berperan jadi ‘ayah’ aku. Dia meninggalnya tahun 2021, tapi sampai sekarang aku masih belum ikhlas. rasanya berat banget untuk ngikhlasin kepergian dia.

Terus terlintas di pikiran aku, kalau kita sayang sama seseorang, cinta sama seseorang, itu bukan berarti kita harus mengikhlaskan dia pergi, tapi kita bisa mengabadikan dia dalam karya (sastra), agar selamanya bisa dibaca sama orang terdekat,” ucap Isa, dalam rangkaian acara Selasa Sastra edisi Agustus 2026 bertajuk “Sajak-sajak Meraih Putih”, yang berlangsung di Kelingan Garden & Cafe, Bejen, Bantul, belum lama ini.

Demi benar-benar menghayati seluruh puisi yang ia buat, Isa pun rela menuliskan puisi-puisi tersebut tepat di samping makam sang “ayah”. Semua itu demi mengenang sosok yang benar-benar dicintainya, sekaligus menjadi kenangan yang tak akan pernah dilupakan bagi dirinya, dan orang-orang di sekitarnya.

“Aku waktu nulis puisi itu persis di sebelah makamnya ‘ayah’, sekitar jam 4 sore. Karena dia selama nemanin aku hidup itu nggak pernah yang namanya ngebentak aku sama sekali. Dia orangnya nggak pernah marah, dan selalu lindungin aku dalam situasi apa pun,” tambah Isa.

Selain diskusi buku “Cara Paling Sendu, untuk Merindu” karya Isaura Erina Rahma Putri, kegiatan Selasa Sastra edisi Agustus kali ini juga menghadirkan diskusi karya sastra lainnya, yakni antologi cerpen berjudul “Matahari 1/4 Lingkar” karya Irfanda Azka Muzaki.

Selain itu, acara ini juga menghadirkan sejumlah penampilan sastra menarik lainnya, seperti pembacaan puisi dari sastrawan Tedi Kusyairi, Sri Wijayati, Sunawi, Fathia Jayanti, penampilan spesial dari grup “Duo Ordo”, dan masih banyak lagi. (zk)

BANTUL – Dalam setiap pembuatan karya sastra seperti antologi cerpen maupun puisi, seseorang biasanya akan mengacu pada sesuatu yang dekat dengan kehidupannya sehari-hari, atau pengalaman tertentu yang pernah dialami, dan seterusnya.

Namun bagi Irfanda Azka Muzaki, salah satu lulusan program Temu Karya Sastra (TKS) dari Dinas Kebudayaan “Kundha Kabudayan” DIY tahun 2024, ia tidak ingin berpikiran “mainstream” dengan menirukan seniman-seniman lainnya dalam hal inspirasi menghasilkan karya sastra.

Baginya, sesuatu yang “absurd” seperti sosok sastrawan bernama Danarto, adalah celah yang bisa dimanfaatkan oleh Azis, panggilan akrabnya, untuk menghasilkan karya antologi cerpen yang tidak biasa, alias berbeda dengan kebanyakan seniman lainnya di luar sana.

Ia pun resmi me-launching buku antologi cerpen berjudul “Matahari 1/4 Lingkar”, yang merujuk pada penokohan dari benda-benda mati seperti matahari, rembulan, bintang, dan sebagainya, yang menjadi representasi dari absuditas ala Danarto tadi.

“Saya orangnya suka baca-baca tipikal seperti itu (penokohan yang bukan manusia). Salah satunya dari sastrawan bernama Danarto. Jadi dari sosok seperti Danarto ini, sisi absurditasnya sangat-sangat kental. Dan karena dia aneh, maka saya pikir ini sangat menarik, karena dia mampu membuat suatu karya yang berbeda dari yang lain, Cara pembahasaannya itu sederhana, tapi kok bisa dimelencengkan ke sana ke mari, seperti itu,” tutur Azis, dalam sesi diskusi buku antologi cerpen berjudul “Matahari 1/4 Lingkar”, dalam rangkaian Selasa Sastra edisi Agustus 2026 bertema “Sajak-sajak Meraih Putih”, yang berlangsung di Kelingan Garden & Cafe, belum lama ini.

Kekaguman Azis terhadap Danarto pun terindikasi dari caranya dalam mendeskripsikan suatu persitiwa dalam kehidupan sehari-hari, menjadi sebuah cerita (cerpen) yang menarik dan mudah dimengerti oleh banyak orang, termasuk Azis sendiri.

“Salah satu karya Danarto itu kan ada yang menggambarkan kadal minyak dan gedebok pisang, kok bisa gitu lho? Padahal aku sendiri juga cukup dekat dengan keduanya. Tapi kok dia (Danarto) bisa menuliskan karya sastra dengan tokoh berupa benda seperti itu? Aku tuh kurang apa sebenarnya, gitu loh? Jadi aku mencoba menggali lebih dalam, gimana sih caranya untuk bisa membuat (karya sastra) seperti ini (yang dilakukan Danarto), dan seterusnya,” tambah Azis.

Selain diskusi buku antologi cerpen berjudul “Matahari 1/4 Lingkar”, rangkaian acara Selasa Sastra edisi Agustus 2026 kali ini juga menghadirkan diskusi buku lainnya yakni antologi puisi berjudul “Cara Paling Sendu, untuk Merindu”, serta beberapa penampilan sastra spesial dari beberapa sastrawan ternama.

Sebut saja Tedi Kusyairi, Sri Wijayati, Sunawi, Fathia Jayanti, lalu penampilan spesial dari grup “Duo Ordo”, dan masih banyak lagi. (zk)

Bulan Agustus selalu menjadi momen yang ditunggu-tunggu setiap tahunnya. Pasalnya bulan yang satu ini merupakan momen perayaan kemerdekaan Republik Indonesia, yang kerap dimeriahkan dengan berbagai acara, dan dibungkus dengan istilah “Agustusan”.

Selasa Sastra juga tak ketinggalan ikut meramaikan perayaan kemerdekaan Indonesia di bulan Agustus, alias merayakan momen “Agustusan” tersebut.

Mengambil tema “Sajak-sajak Meraih Putih”, Selasa Sastra edisi Agustus kali ini mencoba untuk memanfaatkan momentum perayaan “Agustusan”, dengan pertunjukan sastra yang dapat menjadi pemicu untuk terus berkarya, bergerak, dan mewujudkan kemerdekaan berkreativitas dalam kehidupan sehari-hari.

Berikut adalah sejumlah keseruan yang terjadi di acara Selasa Sastra “Sajak-sajak Meraih Putih” tersebut, yang berlangsung di Kelingan Garden & Cafe, Bejen, Bantul, Selasa (4/8/2026). (Foto: Azka Qintory)

 

 

 

BANTUL – Bulan Agustus selalu menjadi momen yang ditunggu-tunggu setiap tahunnya. Pasalnya bulan yang satu ini merupakan momen perayaan kemerdekaan Republik Indonesia, yang kerap dimeriahkan dengan berbagai acara, dan dibungkus dengan istilah “Agustusan”.

Selasa Sastra juga tak ketinggalan ikut meramaikan perayaan kemerdekaan Indonesia di bulan Agustus, alias merayakan momen “Agustusan” tersebut.

Apalagi di tahun 2026 ini, Indonesia telah memasuki usia yang ke-81 tahun. Sebuah usia yang bisa dibilang “cukup senior” bagi sebuah bangsa, untuk bisa menentukan arah tujuannya sendiri di masa kini dan masa mendatang.

Mengambil tema “Sajak-sajak Meraih Putih”, Selasa Sastra edisi Agustus kali ini mencoba untuk memanfaatkan momentum perayaan “Agustusan”, dengan pertunjukkan sastra yang dapat menjadi pemicu untuk terus berkarya, bergerak, dan mewujudkan kemerdekaan berkreativitas dalam kehidupan sehari-hari.

“Memasuki bulan Agustus ini kita akan memperingati HUT RI yang ke-81, yang mana warna identitasnya (bendera Indonesia) adalah merah dan putih. Dalam hal ini merahnya kita ganti menjadi “meraih” ya (meraih putih). Itu bisa berarti meraih kesucian, kesuksesan, impian, dan seterusnya, yang berkaitan dengan makna kemerdekaan itu sendiri,” ungkap Direktur Selasa Sastra, Tedi Kusyairi, Selasa (4/8/2026).

Memulai Harapan Baru Di Bulan Kemerdekaan

Suasana diskusi antologi cerpen berjudul “Matahari 1/4 Lingkar” karya Irfanda Azka Muzaki, yang menjadi salah satu rangkaian kegiatan Selasa Sastra di Kelingan Garden & Cafe (Foto: Azka Qintory)

Selain tentang perayaan kemerdekaan, Selasa Sastra edisi kali ini juga mencoba untuk memberikan semacam pengharapan kepada segenap generasi muda, untuk terus berjuang dan meniti masa depan sesuai bidangnya masing-masing, yang juga bisa dikemas dalam pertunjukkan sastra.

“Semoga teman-teman bisa terus berkarya sastra dengan lebih kreatif, produktif, maju, dan sebagainya. Sehingga teman-teman dari generasi muda akan mampu menghasilkan karya yang lebih hebat lagi, dan tentunya “meraih putih” itu tadi, yaitu meraih kejayaan, kemakmuran, dan mimpi-mimpinya bisa terwujud,” tambah Tedi.

Selain pertunjukkan sastra dari para sastrawan kondang di Bantul seperti Tedi Kusyairi, Sunawi, Sri WIjayati, Fathia Jayanti, dan seterusnya, Selasa Sastra edisi kali ini juga menampilkan dua sesi diskusi buku.

Diantaranya membahas satu antologi cerpen yang berjudul “Matahari 1/4 Lingkar” karya Irfanda Azka Muzaki, dan satu antologi puisi berjudul “Cara Paling Sendu Untuk Merindu” karya Isaura Erina Rahma Putri. Kebetulan keduanya merupakan lulusan dari program Temu Karya Sastra (TKS), yang diinisiasi oleh DInas Kebudayaan (Disbud) “Kundha Kabudayan” DIY, dalam kurun lima tahun terakhir.

Ada pula satu pertunjukkan spesial dari “Duo Ordo”, yang membawakan dua buah karya musik puisi spesial di bulan Agustus. (zk)