BANTUL – Dalam dunia yang serba mengandalkan konten seperti saat ini, skill keaktoran atau akting sangatlah dibutuhkan, guna mendukung keberhasilan sebuah konten dalam mendeliver pesan kepada audiens.

Atas dasar itulah, Kelingan Garden & Cafe bersama Teater Amarta berinisiatif menyelenggarakan Kelas Keaktoran khusus, yang diperuntukkan bagi generasi muda dan masyarakat umum, yang diselenggarakan di Kelingan Garden & Cafe, Bejen, Bantul kota, Jumat (26/6/2026).

Adapun kelas tersebut turut diampu oleh seorang seniman dan artis teater, Nunung Deni Puspitasari, yang juga pendiri Teater Amarta.

Pada kesempatan tersebut, Nunung mengajarkan teknik-teknik dasar dalam dunia keaktoran, seperti olah tubuh, olah vokal, dan juga olah rasa.

Di dalam ketiga teknik dasar tersebut, setiap aktor harus mampu merawat dan melatih tubuhnya, karena tubuh adalah medium utama yang memerankan sebuah tokoh tertentu. Selain itu, setiap aktor juga harus mengasah artikulasi kata, mengatur napas perut, memainkan intonasi dan jeda, serta membangun rasa imajinasi, untuk dapat menjiwai setiap karakter yang diperankan.

Tidak hanya itu, ketika sudah tampil di atas panggung, setiap aktor juga harus melupakan dirinya sendiri, dan sepenuhnya menjadi tokoh yang diperankan (menjadi “orang lain”), agar tidak terlihat ragu atau tertawa sendiri saat melakukan penokohan.

Lebih lanjut, Nunung menganggap bahwa perkembangan dunia keaktoran sangatlah luas dan bisa diaplikasikan dalam berbagai industri. Mengingat industri konten sendiri juga sangat luas, dan terus berkembang dari waktu ke waktu.

Kehadiran kelas keaktoran ini tentunya diharapkan akan mampu melahirkan talenta-talenta aktor baru dari Bantul di masa depan, sebagai penerus generasi aktor dan aktris masa kini.

Dengan banyaknya peluang mengisi peran keaktoran dalam berbagai konten digital, maka peluang untuk mendapatkan cuan dari profesi ini juga cukup besar, sekaligus memungkinkan banyak kerjasama yang menguntungkan di masa depan. (zk)

Event tahunan ARTJOG 2026 yang berlangsung di Jogja National Museum (JNM) turut merayakan salah satu momen bersejarah dunia, yakni peringatan hari musik internasional (Fête de la Musique), yang jatuh setiap tanggal 21 Juni.

Bekerjasama dengan Kedutaan Besar Prancis di Indonesia (Institut Français d’Indonésie – IFI), ARTJOG mendatangkan salah satu musisi electro-pop asal Prancis, Violet Indigo, dalam tur pertamanya di Indonesia.

Berikut adalah sejumlah keseruan penampilan Violet di panggung ARTJOG yang berlangsung di JNM. (Foto: Azka Qintory)

 

YOGYAKARTA – Seperti yang diketahui, tanggal 21 Juni diperingati sebagai Hari Musik internasional (Fete de la Musique).

Peringatan ini berasal dari gagasan mantan Menteri Kebudayaan Prancis, Jack Lang, bersama komposer dan direktur musik Maurice Fleuret pada 1982 silam, di mana mereka ingin mendemokratisasi konsep hiburan musik, agar bisa diakses dan dinikmati oleh seluruh lapisan masyarakat secara gratis tanpa kecuali.

Tahun ini, event ARTJOG 2026 yang berlangsung di Jogja National Museum (JNM), turut merayakan hari musik internasional tersebut, dengan menghadirkan salah satu musisi electro-pop asal Prancis, Violet Indigo, dalam tur pertamanya di Indonesia.

Violet Indigo adalah seorang penyanyi, penulis lagu, produser, dan DJ berkebangsaan Prancis-Amerika, yang berdomisili di Paris dan Rouen.

Ia menyempatkan diri untuk hadir di panggung ARTJOG 2026, dan menghibur puluhan pasang mata yang singgah di JNM, dengan membawakan sejumlah single andalannya, seperti ToxicOne StepLast Call, dan masih banyak lagi.

Di sela-sela pertunjukan, Violet pun mengucapkan terima kasih kepada para pengunjung ARTJOG, yang bersedia meluangkan waktunya untuk menyaksikan dirinya tampil, sekaligus merayakan Fete de la Musique bersama-sama dengan masyarakat dari seluruh dunia dan berbagai kalangan.

“Terima kasih banyak kepada kalian semua. Pengalaman pertama saya di Indonesia sejauh ini sangatlah berkesan. Dan semoga kalian menikmati sajian malam ini di ARTJOG,” ujar Violet di JNM, Kamis (25/6/2026).

Kehadiran Violet sendiri merupakan hasil kerjasama antara Kedutaan Besar Prancis di Indonesia (Institut Français d’Indonésie – IFI), yang bekerja sama dengan mitra lokal di seluruh negeri, salah satunya adalah ARTJOG di Yogyakarta.

Selain di Jogja, Violet juga turut menyambangi beberapa kota lainnya dalam turnya kali ini, di antaranya Jakarta, Bandung, Surabaya, Medan, dan Denpasar.

Momen ini kembali menegaskan bahwa Fête de la Musique (Hari Musik Sedunia) 2026 adalah perayaan milik semua orang, karena musik adalah bahasa universal yang mengedepankan kreativitas, inklusi, dan dialog secara terbuka. (zk)

Pasar Kangen Jogja kembali hadir pada tahun ini di Taman Budaya Yogyakarta (TBY).

Pada edisi 2026 kali ini, Pasar Kangen menghadirkan sekitar 300-an stan atau booth di kompleks TBY dan di sepanjang ruas Jalan Sriwedani.

Seperti biasa, Pasar Kangen menghadirkan banyak koleksi barang-barang antik zaman dahulu, yang bisa kembali dikoleksi atau bahkan digunakan oleh masyarakat saat ini. Misalnya saja uang kertas cetakan lama, telepon umum, handphone merek lawas (seperti Nokia dan Sonny Ericsson), jam tangan klasik, kamera analog, majalah lawas, buku-buku bacaan sejarah, dan masih banyak lagi.

Selain bernostalgia dengan barang-barang klasik, Pasar Kangen Jogja juga menyediakan jajanan pasar khas Yogyakarta, dengan sajian-sajian menarik namun tetap bernuansa lokal serta kekinian.

Berikut adalah sejumlah koleksi barang-barang antik yang dijual di Pasar Kangen Jogja tersebut (Foto: Azka Qintory)

 

 

YOGYAKARTA – Pasar Kangen Jogja kembali hadir pada tahun ini di Taman Budaya Yogyakarta (TBY). Di edisi kali ini, Pasar Kangen menghadirkan sekitar 300-an stan atau booth di kompleks TBY dan di sepanjang ruas Jalan Sriwedani.

Sesuai trade mark, Pasar Kangen menghadirkan banyak koleksi barang-barang antik zaman dahulu, yang bisa kembali dikoleksi atau bahkan digunakan oleh masyarakat saat ini.

Seperti uang kertas cetakan lama, telepon umum, handphone merek lawas (seperti Nokia dan Sonny Ericsson), jam tangan klasik, kamera analog, majalah lawas, buku-buku bacaan sejarah, dan masih banyak lagi.

Selain bernostalgia dengan barang-barang klasik, Pasar Kangen Jogja juga menyediakan jajanan pasar khas Yogyakarta, dengan sajian-sajian menarik namun tetap bernuansa lokal serta kekinian.

Menurut Penanggungjawab Produksi Pasar Kangen, Triana, Pasar Kangen kali ini juga turut diikuti oleh para kolektor barang antik dari luar Jogja, seperti Surabaya, Malang, Bandung, Jakarta, dan seterusnya.

“Mereka (orang-orang dari luar daerah itu) membawa patung, pernik-pernik, keris, perangko, buku, dokumen, dan banyak lagi,” ujar Triana, saat ditemui di Taman Budaya Yogyakarta, Kamis (25/6/2026).

Triana berharap, hadirnya Pasar Kangen di pertengahan tahun ini dapat menjadi alternatif bagi masyarakat Yogyakarta dan sekitarnya, untuk mengoleksi barang-barang antik dari berbagai lintas zaman, yang saat ini sudah tidak lagi tersedia di pasaran, namun masih tersedia di Pasar Kangen Jogja.

“Di sini masyarakat bisa mencari banyak barang antik yang mungkin selama ini sudah tidak lagi ditemukan di mana-mana. Padahal mungkin value-nya masih cukup bagus untuk dikoleksi, dan banyak juga yang masih bisa digunakan atau berfungsi dengan baik. Jadi semuanya komplit ada di Pasar Kangen Jogja,” tambah Triana. (zk)

Kegiatan melestarikan budaya memang menyenangkan bagi sebagian orang, terutama bagi mereka yang benar-benar menyukainya, sekaligus menggelutinya sebagai bagian dari mata pencaharian sehari-hari.

Namun, masih banyak orang yang lupa menjaga kesehatan tubuh dan pikirannya, ketika melakukan aktivitas pelestarian kebudayaan tersebut.

Atas dasar itulah, Dinas Kebudayaan DIY bersama Kelingan Garden & Cafe dan budayawan Fajar Suharno, berinisiatif menyelenggarakan kegiatan “Sambang Komunitas”, beberapa waktu lalu, sebagai salah satu upaya untuk dapat melestarikan kebudayaan, sambil tetap menjaga kesehatan diri.

Berikut adalah sejumlah keseruan yang terjadi dalam kegiatan Sambang Komunitas tersebut. (Foto: Azka Qintory)

 

 

BANTUL –  Kegiatan melestarikan budaya memang menyenangkan bagi sebagian orang, terutama bagi mereka yang benar-benar menyukainya, sekaligus menggelutinya sebagai bagian dari mata pencaharian sehari-hari.

Namun, masih banyak orang yang lupa menjaga kesehatan tubuh dan pikirannya, ketika melakukan aktivitas pelestarian kebudayaan tersebut.

Untuk itulah, Dinas Kebudayaan DIY bersama Kelingan Garden & Cafe dan budayawan Fajar Suharno, berinisiatif menyelenggarakan kegiatan “Sambang Komunitas”, beberapa waktu lalu, sebagai salah satu upaya untuk dapat melestarikan kebudayaan, sambil tetap menjaga kesehatan diri.

Karena kegiatan pelestarian budaya juga tidak akan mampu berjalan optimal, apabila tubuh tidak fit, dan pikiran juga kurang rileks.

Dalam kesempatan tersebut, Fajar Suharno yang telah berusia 81 tahun, sempat menimba ilmu di PGB (Persatuan Gerak Badan) Bangau Putih di Bogor, Jawa Barat, tentang bagaimana melakukan gerak olah tubuh yang tepat, untuk dapat menjaga kesehatan meski sudah berusia senja.

“Saya bukanlah seorang paramedis, saya juga bukan dokter, saya bukan sarjana biologi, tapi saya hanya sebagai murid di PGB (Persatuan Gerak Badan) Bangau Putih di Bogor, yang pernah mengajarkan kepada saya tentang menjaga kesehatan melalui gerak olah tubuh, yang masih terus saya praktekkan sampai saat ini,” tutur Fajar Suharno, dalam pemaparannya di Kelingan Garden & Cafe, Kamis (25/6/2026).

Salah satu aspek yang turut menjadi perhatian seorang Fajar Suharno adalah pernapasan. Karena pernapasan adalah aktivitas alami manusia yang dilakukan setiap harinya, tanpa pernah diajarkan oleh siapapun.

Namun, apabila pernapasan terhambat atau mengalami masalah, seluruh aktivitas bisa terganggu, masuk rumah sakit, bahkan sampai meninggal dunia. Padahal ketika masih sehat, aktivitas bernapas seperti dianggap enteng begitu saja, lantaran sudah biasa dilakukan sejak lahir.

“Menurut saya napas itu adalah sesuatu yang bukan main (pentingnya untuk manusia). Padahal selama ini kita menganggap napas adalah sesuatu yang biasa-biasa saja. Napas itu sesuatu yang sudah diterima dan tidak perlu dipersoalkan. Sementara dalam mekanisme berlatih (yang diajarkan di PGB Bangau Putih), ternyata napas memegang peranan yang sangat penting terkait bagaimana kita menjalani hidup ini,” sambung Fajar.

Di akhir acara, Fajar pun memberikan praktik langsung bagaimana menerapkan gerakan relaksasi olah tubuh yang bisa dilakukan di rumah, hanya dengan memanfaatkan badan sendiri.

Seluruh gerakan tersebut cukup dilakukan sekitar 15 sampai 20 menit setiap harinya, agar para budayawan, sastrawan, dan sejenisnya bisa tetap sehat dan bugar dalam menjalani aktivitas pelestarian budaya di manapun dan kapanpun. (zk)

BANTUL – Selasa Sastra kembali hadir pada edisi Juni 2026 di Kelingan Garden & Cafe, Selasa (2/6/2026).

Dalam edisi kali ini, Selasa Sastra mengambil tema “Janji di Bulan Juni”. Tema ini mengacu pada bagaimana agar setiap orang selalu berkomitmen terhadap janji yang pernah disampaikan, dan berusaha untuk menepatinya, baik di bulan Juni maupun bulan-bulan lainnya.

Berikut adalah sejumlah keseruan yang terjadi dalam kegiatan Selasa Sastra tersebut. (Foto: Azka Qintory)

 

 

BANTUL – Selasa Sastra kembali hadir pada edisi Juni 2026 di Kelingan Garden & Cafe, Selasa (2/6/2026).

Dalam edisi kali ini, Selasa Sastra mengambil tema “Janji di Bulan Juni”.

Tema ini sengaja dipilih, sebagai cara untuk mengingat kembali setiap janji yang pernah disampaikan, baik itu di bulan Juni maupun bulan-bulan lainnya, sehingga ada semacam aksi yang harus dilakukan, untuk menepati setiap janji tersebut.

“.Setiap orang kan pasti punya banyak keinginan, punya cita-cita, nah di momentum Selasa Sastra bulan Juni ini, diharapkan setiap orang akan selalu setia (komitmen) terhadap janjinya masing-masing, dan mencapai seluruh cita-cita yang diimpikan,” ungkap Direktur Komunitas Selasa Sastra, Tedi Kusyairi, saat ditemui di Kelingan Garden & Cafe, Selasa (2/6/2026).

Selain itu, kehadiran Selasa Sastra juga diharapkan mampu menjembatani setiap janji yang pernah terucap, salah satunya melalui pembacaan puisi atau karya sastra lainnya, kepada audiens yang menyaksikan langsung di Kelingan Garden & Cafe, maupun yang menonton siaran langsung di kanal YouTube Bang Tedi Way secara live streaming, dan seterusnya.

“Tentunya momentum Selasa Sastra juga bisa menjadi bagian dari bagaimana orang-orang yang terlibat dalam kegiatan ini, mampu mencapai tujuan dalam hidupnya, terkait janji-janji personalnya dan lain-lain,” tambah Tedi.

Terdapat beberapa penampilan sastra spesial yang hadir dalam Selasa Sastra edisi “Janji di Bulan Juni” kali ini, di antaranya dari Tedi Kusyairi, Mirna Radilla, Sunawi, Fathia Jayanti, Nur Budi, dan masih banyak lagi.

Tidak hanya penampilan sastra, Selasa Sastra edisi Juni 2026 ini juga menghadirkan sesi diskusi sekaligus launching dua antologi cerpen, masing-masing berjudul Pencuri di Bulan Suci karya Salwa Aulia Az-zahra, dan Sinden Terakhir karya Siti Maha Dana, (zk)