SLEMAN – Perilaku korupsi di negeri ini sudah sangat massif, bahkan cenderung sudah menjadi “budaya” tersendiri, terutama di kalangan pejabat elit.

Namun siapa sangka, aktivitas korupsi tidak hanya terjadi di kalangan pejabat elit saja, tapi juga sudah menyasar ke tingkatan bawah, alias di daerah-daerah terpencil, sekalipun jumlahnya tidak terlalu besar, namun itu juga sudah termasuk ke dalam perilaku korupsi.

Atas dasar itulah, Yayasan Lembaga Kajian Islam dan Sosial (LKiS) mencoba menginisiasi diskusi yang membahas tentang korupsi dari sudut pandang yang berbeda, utamanya tentang korupsi “kecil-kecilan” yang kerap terjadi di daerah, dengan melibatkan masyarakat sipil dari berbagai kalangan.

Dalam kesempatan tersebut, LKiS turut mengundang akademisi, Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), mahasiswa, media, dan pegiat sipil lainnya, dalam diskusi yang bertajuk “Refleksi Partisipasi Masyarakat dalam Transparansi Anti Korupsi” yang berlangsung di kawasan Gamping, Sleman, Selasa (26/8/2025).

Secara khusus, diskusi ini merujuk pada bagaimana praktek-praktek korupsi yang ternyata sudah banyak terjadi di daerah selama bertahun-tahun, namun seolah luput dari perhatian karena jumlahnya yang kecil, maupun cakupannya yang hanya di daerah saja, sehingga kurang menarik bagi pemberitaan nasional.

Menurut salah satu pemateri, Baskoro Waskitho, diskusi ini adalah sarana untuk menginvestigasi lebih jauh tentang cara kerja pemberantasan korupsi, serta mengulik sejauh mana rasa empati publik terhadap penanganan anti korupsi yang sudah berjalan selama ini.

“Disini kita mencoba untuk memantik kembali rasa empati kita terhadap anti korupsi di Indonesia, agar mereka bisa mengetahui bagaimana strategi investigasi penanganan anti korupsi itu sejak awal seperti apa, dan bagaimana peran kita sebagai pelapor untuk penindakan korupsi di lingkup terkecil,.” kata Baskoro yang juga alumni IM-ACA (Indonesia Memanggil Anti Corruption Academy) Batch 3, Selasa (26/8/2025).

Lebih lanjut Baskoro menyampaikan, diskusi ini bertujuan untuk membangkitkan lagi motivasi dari para masyarakat sipil, khususnya di tingkat daerah, untuk ikut mengawasi pergerakan korupsi yang kemungkinan terjadi di lingkungan sekitar.

“Setidaknya (gerakan anti korupsi) itu dimulai dari lingkungan kita sendiri, khususnya yang berpotensi menjadi besar di kemudian hari,” tambah Baskoro.

Selanjutnya, hasil dari diskusi ini akan diteruskan dengan pertemuan lanjutan terhadap pihak-pihak terkait, agar aspirasi dari seluruh masyarakat sipil bisa ikut didengarkan oleh para petinggi yang ada di pusat. (zk)

YOGYAKARTA – Festival Film Pelajar Jogja (FFPJ) tahun 2025 akan kembali digelar. Masih mengusung nuansa perkemahan seperti tahun-tahun sebelumnya, kali ini FFPJ edisi ke XVI atau 16 akan diikuti oleh 50 pembelajar seni film dari berbagai sekolah selama dua hari, yakni pada Sabtu-Minggu, 13-14 September 2025, bertempat di Bumi Perkemahan Wonolelo, Pleret, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, Seluruh partisipan merupakan perwakilan sekolah/komunitas yang karyanya telah terpilih menjadi Nomine Program Kompetisi Nasional FFPJ XVI 2025 serta sejumlah undangan khusus.

Meskipun berlokasi di Jogja, sekolah yang berpartisipasi tidak hanya dari Jogja saja, melainkan juga dari seluruh Indonesia, seperti dari Aceh, Jakarta, Cimahi, Pekalongan, Kebumen, Pati, Klaten, Malang, Batu, Tulungagung, serta tentu saja tuan rumah yakni Bantul, Gunungkidul, Kulon Progo, Sleman dan Yogyakarta. Adapun tidak semua Nomine mengirimkan perwakilannya untuk hadir ke Yogyakarta, karena memiliki kegiatan yang bersamaan di tempat lain.

“Panitia mengundang dan mengharapkan seluruh Nomine untuk bisa hadir. Tetapi tidak semuanya bisa. Ada yang memiliki kegiatan bersamaan. Ada juga faktor lainnya. Yang jelas, hal ini tidak mempengaruhi penilaian terhadap karya mereka yang saat ini masuk penilaian final oleh dewan juri utama,” kata Rahmi, Direktur Eksekutif FFPJ XVI.

Sebelum pelaksanaan perkemahan, rangkaian kegiatan FFPJ XVI akan dimulai sejak tanggal 1 sampai 9 September 2025, dibuka dengan program Sinema Silaturahmi. Kegiatan ini adalah pemutaran film pendek terpilih dari Nomine FFPJ XVI, dan dialog interaktif pasca sesi pemutaran film, dengan menghadirkan narasumber praktisi/akademisi seni film dari Fakultas Seni Media Rekam Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta. Tim panitia melakukan program Sinema Silaturahmi dengan berkeliling ke lima sekolah di wilayah Yogyakarta, yaitu SMKN 1 Pleret Bantul, SMAN 2 Wates Kulon Progo, SMK Muhammadiyah 1 Sleman, SMKN 1 Purwosari Gunungkidul, dan SMA Bopkri 1 Yogyakarta.

Suasana perkemahan FFPJ edisi XV tahun 2024

Rangkaian kegiatan selanjutnya adalah diselenggarakan adalah Sarasehan Film, yang akan membahas Artificial Intelligence (AI) dan Tantangan Produksi Kreasi Film. Narasumber berasal dari akademisi ISI Yogyakarta Latief Rahman Hakim dan aktor film profesional, Dinar Roos. Partisipan kegiatan ini adalah para pelajar tingkat SMA/SMK/MA di Yogyakarta dan sekitarnya. Sarasehan akan diselenggarakan di Kampus Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Yogyakarta, Jumat 12 September 2025.

Partisipan FFPJ XVI sebelum berangkat ke lokasi perkemahan akan mengikuti kegiatan pemutaran film pendek terpilih di Kampus UNU Yogyakarta. Kemudian dilanjutkan dengan pembukaan festival. Setelahnya, partisipan berangkat berbarengan menggunakan bus ke Kampus ISI Yogyakarta. Di Kampus ISI, partisipan akan diajak berdialog tentang Studi Film di Perguruan Tinggi. Tim dari Program Studi Film FSMR ISI Yogyakarta akan memfasilitasi kegiatan. Seluruh kegiatan ini diselenggarakan sejak pagi sampai menjelang sore hari pada Sabtu, 13 September 2025.

Perkemahan FFPJ XVI sendiri akan dimulai pada sore hari pada Sabtu, 13 September 2025. Perkemahan dirancang untuk memfasilitasi partisipan agar proses belajar bersama berjalan lebih santai. Selain itu, kegiatan perkemahan ini juga dapat menghadirkan suasana silaturahmi antarpartisipan yang lebih intensif, sekaligus dapat lebih fokus, karena berkumpul di satu tempat selama dua hari. Nilai-nilai yang terdapat di dalam tema festival tahun ini yaitu Gugur Gunung, akan dipraktikkan selama kegiatan perkemahan ini.

Selama perkemahan, panitia telah menyiapkan rangkaian acara. Di antaranya adalah temu komunitas, lokakarya, sarasehan, studi lingkungan, apresiasi seni, serta pemberian penghargaan untuk karya terpilih dalam program kompetisi nasional. Dua fasilitator dan narasumber utama di perkemahan ini adalah Ghalif Putra Sadewa dan Pius Rino Pungkiawan, praktisi dan akademisi film ISI Yogyakarta.

“Panitia berupaya menyelenggarakan perkemahan film pelajar ini semaksimal mungkin. Harapannya partisipan memperoleh manfaat, tidak hanya tentang segala sesuatu yang berhubungan dengan seni film, tetapi juga nilai-nilai baik yang ada di sebuah perkemahan yang lazim. Salah satunya ya sesuai tema festival tahun ini, Gugur Gunung,” kata Rahmi.

Penyelenggaraan FFPJ XVI 2025 didukung penuh oleh Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta, Kampus ISI Yogyakarta, Kampus UNU Yogyakarta, dan kolaborasi dengan lembaga serta komunitas lainnya. Selain itu juga dibantu oleh para volunteer yang memiliki latar belakang beragam. Kegiatan perkemahan film pelajar nasional diharapkan menjadi salah satu aktivitas yang memberi warna di FFPJ XVI 2025 dan penyelenggaraan di tahun-tahun berikutnya. (zk)

 

MAGELANG, SPJ – Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Padepokan 48 Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa (UST) Yogyakarta berhasil menggagas inovasi Bank Sampah Merah Putih di Dusun Pandean, Desa Jerukagung, Kecamatan Srumbung, Kabupaten Magelang. Program ini hadir sebagai solusi nyata terhadap kebiasaan masyarakat yang sebelumnya kerap membakar sampah, sehingga berkontribusi pada pencemaran udara yang terjadi di wilayah tersebut dalam beberapa waktu terakhir.

Berdasarkan pemantauan IQAir 2024, kualitas udara di Kabupaten Magelang berada pada level sedang (indeks 54), dengan konsentrasi PM2.5 mencapai 13 µg/m³ alias lebih dari dua kali lipat ambang batas yang direkomendasikan WHO. Situasi ini mengindikasikan bahwa praktik pengelolaan sampah di kabupaten Magelang masih belum optimal. Ini belum termasuk dengan pembakaran terbuka, yang ikut berkontribusi terhadap meningkatnya polusi udara di kawasan tersebut.

Bank Sampah Merah Putih yang digagas oleh mahasiswa UST ini mengajak warga untuk memilah sampah bernilai ekonomi ke dalam 8 galon pemilah (plastik, kertas, besi, kaca, sisa makanan, kaleng, daun, dan kulit buah) sebagai simbol bulan kemerdekaan serta mengisinya dengan aksi nyata dan karakter berbasis ekologis atau lingkungan. Sampah tersebut kemudian ditukar dengan poin yang bisa dikonversikan menjadi uang atau barang kebutuhan sehari-hari. Hasil dari penjualan sampah yang telah dipilah juga dapat menambah pendapatan masyarakat sekitar, sehingga selain membantu menjaga lingkungan, program ini mampu meningkatkan perekonomian warga.

“Kami berharap Bank Sampah Merah Putih ini mampu mengubah kebiasaan warga yang dulu seringkali membakar sampah, menjadi lebih peduli pada lingkungan. Selain mengurangi pencemaran, sistem ini juga memberi manfaat ekonomi bagi masyarakat,” ujar salah satu anggota KKN Padepokan 48.

Manfaat nyata Bank Sampah Merah Putih juga dirasakan langsung oleh warga. Salah satunya Widodo (60), warga Dusun Pandean, yang mengaku sangat terbantu dengan adanya program ini.

“Saya sangat terbantu oleh adanya Bank Sampah Merah Putih dari para mahasiswa UST ini. Selain bisa menambah ekonomi keluarga, polusi dari pembakaran sampah juga berkurang. Lingkungan pun jadi lebih bersih,” ungkapnya.

Selain warga, organisasi kepemudaan pun turut merasakan dampak positifnya. Helmi, Ketua Karang Taruna Dusun Pandean, menyampaikan bahwa Bank Sampah Merah Putih ikut membantu menambah kas organisasi dan kreativitas warga dengan pemanfaatan barang bekas untuk ditempelkan di buku sehingga menjadi sebuah cerita.

“Bank Sampah Merah Putih ini turut membantu kas karang taruna bertambah karena ada pemasukan dari penjualan sampah. Uang tersebut bisa digunakan untuk mendukung kegiatan pemuda di dusun Pandean dan Pemuda agar lebih kreatif dalam menyalurkan ide lewat penempelan barang bekas di kertas sehingga mampu membentuk sebuah cerita.” jelas Helmi.

Program ini juga melibatkan karang taruna Dusun Pandean sebagai mitra dalam sosialisasi dan pengelolaan. Sejak diluncurkan pada 22 Juli lalu, partisipasi warga semakin hari semakin meningkat. Warga mulai rutin menabung sampah setiap minggu. Dampaknya lingkungan menjadi lebih bersih, udara lebih sehat, dan warga pun semakin kreatif.

Dengan adanya inovasi ini, mahasiswa UST berharap Dusun Pandean bisa menjadi contoh desa ramah lingkungan, berdaya ekonomi, dan berkreasi melalui sintax 17-08-1945 di Indonesia.

 

Nama Penulis: Karolina Arina Mira, Dewanti Pramudyasari, Lindawati, Agatha Salma Sasikirana, Amanda Serli Bria, Muhamad Ferdy Antoro, Widya Wulandari, Rezi Pauri, Putri Fasyah Rani, Zildan Himawan, Adha Wildan Naufal Ardha Gunung Mainaka.

MAGELANG, SPJ – Suasana kemerdekaan menghiasi Dusun Wates, Desa Jerukagung, Kecamatan Srumbung, kabupaten Magelang, Jawa Tengah, pada Sabtu malam (16/8/2025). Warga setempat bersama mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa (UST) Yogyakarta menggelar Pentas Seni (Pensi) dalam rangka memperingati Hari Jadi Republik Indonesia ke-80. Tidak hanya sekadar hiburan semata, acara ini juga menjadi wadah kebudayaan yang memperkuat kebersamaan antarwarga, sekaligus mempererat hubungan dengan mahasiswa KKN yang sedang mengabdi di wilayah Dusun Wates kabupaten Magelang.

Sejak sore hari, warga berbondong-bondong datang ke halaman dusun yang telah dihias penuh warna khas kemerdekaan. Salah satu halaman rumah warga disulap menjadi panggung utama, dengan area di sekitarnya dijadikan sebagai pendukung panggung dan lokasi berkumpulnya penonton. Berbagai penampilan meriah ditampilkan, mulai dari tari tradisional, musik akustik, hingga drama perjuangan yang dimainkan oleh pemuda dusun. Anak-anak pun tampil percaya diri menyanyikan lagu kebangsaan dan lagu perjuangan lainnya, yang semakin menambah khidmat suasana sekaligus sarat akan makna.

Pada malam harinya ditampilkan pentas seni, yang menghadirkan beragam penampilan khas seperti tari Angguk, Warok, Goyang Tobelo, dan tarian Dayakan Topeng Ireng yang paling dinanti warga. Tarian ini, berasal dari Magelang, dikenal dengan gerakannya yang enerjik, kompak, dan penuh semangat. Para penari mengenakan kostum mencolok: hiasan kepala menyerupai bulu, cat wajah ekspresif, dan busana berwarna-warni dengan motif unik.

Sebelumnya, anak-anak SD juga tampil membawakan tari Angguk dengan kostum tradisional warna-warni. Karang Taruna dan mahasiswa KKN UST pun turut membantu riasan dan kostum sederhana yang digunakan oleh anak-anak tersebut. Usai tampil, anak-anak mendapat apresiasi dari warga dan perangkat desa setempat.

Kepala Dusun Wates, Maryono, dalam sambutannya mengapresiasi antusiasme warganya sekaligus peran mahasiswa KKN UST yang sedang mengabdi di wilayahnya.

“Peringatan Dirgahayu RI tahun ini terasa lebih meriah dan berkesan. Semangat gotong royong warga ditambah dengan ide-ide kreatif mahasiswa KKN UST membuat acara semakin hidup,” ujarnya, Sabtu (16/8/2025).

Sebagai bagian dari inovasi budaya, mahasiswa KKN UST selama bulan Agustus 2025 ini juga memperkenalkan sosialisasi dan pelatihan bentuk mural alternatif bukan di dinding, melainkan di kertas plano, yang dapat dipadukan dengan memanfaatkan media dari barang bekas. Mural ini dilengkapi dengan QR code yang bisa dipindai, sehingga gambar-gambar yang dibuat warga dapat “berbicara” melalui suara yang muncul saat dipindai. Gagasan ini terinspirasi dari pendekatan DPL KKN, Luky Tiasari, yang menekankan pentingnya kesenian sebagai budaya yang kontekstual dan bisa diakses oleh semua kalangan.

Rangkaian program KKN UST di Dusun Wates, diantaranya Lumbung Ilmu Tri-Nga, pengembangan UMKM salak gula jawa, serta berbagai kegiatan lainnya, diharapkan terus berjalan secara optimal. Upaya ini bertujuan menjaga semangat persatuan yang telah tumbuh di tengah masyarakat, sekaligus memperkuat peran Dusun Wates, sebagai desa kecil yang konsisten menyalakan api kebudayaan dalam setiap langkahnya.

 

Penulis: Friske Krisioani S. Tena (PGSD), Devita Puspita Sari (Manajemen), Titin Dwi Lestari (Manajemen), Ardina Eriska Efendi (PBSI), Aprilla Fatima Ratnaningtyas (PGSD), Rosdiana Pasutung (Psikologi), Dedi Irawan (Manajemen), Wilandi (PVTM), Yoppy Yunda Mahesa (Teknik Sipil), Alfreda Shandy Ardhana (Teknik Industri), Robertus Desta Bayu Waskitho (Pend. Seni Rupa)

JAKARTA, SPJ – Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia (DPD RI) menegaskan komitmennya untuk mempercepat pembangunan infrastruktur di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dan Jawa Tengah Selatan (Jasela), sebagai pengungkit pemerataan ekonomi, peningkatan konektivitas, serta penguatan ketahanan pangan nasional.

Wakil Ketua DPD RI GKR Hemas menekankan, pembangunan infrastruktur harus menjadi instrumen pemerataan kesempatan dan penguatan sektor strategis di daerah.

“Kami ingin memastikan tidak ada satu pun wilayah di Indonesia yang tertinggal dalam arus kemajuan dan kesejahteraan,” tegas GKR Hemas dalam Rapat Koordinasi dan Konferensi Pembangunan Infrastruktur yang berfokus pada wilayah DIY dan Jasela di Nusantara V, Rabu (13/8/2025).

Dalam kegiatan tersebut, GKR Hemas menyebut bahwa kawasan DIY dan Jasela, yang mencakup Banjarnegara, Purbalingga, Banyumas, Cilacap, Kebumen, Purworejo, dan Wonosobo, memiliki potensi menjadi model kawasan terintegrasi berbasis pertanian, maritim, dan pariwisata.

Menurut GKR Hemas, keberhasilan pengembangan wilayah-wilayah ini memerlukan sinergi lintas sektor antara pemerintah pusat, daerah, BUMN, dunia usaha, akademisi, organisasi profesi, dan masyarakat sipil.

“DPD RI akan mengawal hasil Rapat Koordinasi dan Konferensi Pembangunan Infrastruktur ini melalui fungsi konstitusionalnya, dengan memberikan pertimbangan kebijakan, dukungan anggaran, serta melakukan pengawasan implementasi program,” ucap Senator dari DIY ini.

Sementara itu, Senator Abdul Kholik yang juga hadir dalam rapat koordinasi tersebut menegaskan, pertemuan ini menjadi wadah strategis untuk menyerap aspirasi masyarakat, sekaligus mempertemukan para pemangku kepentingan.

“Rapat koordinasi ini diharapkan menghasilkan kolaborasi konkret yang berdampak langsung pada pembangunan daerah,” ujarnya di kesempatan yang sama.

Adapun Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), yang juga hadir dalam kegiatan ini, turut mengapresiasi langkah yang dilakukan oleh DPD RI dalam pengembangan kawasan DIY dan Jasela. Dirinya bersama Kementerian yang dipimpinnya pun siap untuk berkolaborasi dalam pembangunan kawasan tersebut.

“Saya selaku Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan menyambut baik inisiatif dari DPD RI untuk menghadirkan sinergi dan kolaborasi ini.Seringkali kita sampaikan di berbagai kesempatan bahwa kunci dari keberhasilan pembangunan di semua sektor, terutama infrastruktur, adalah bertemunya Asta Cita, dengan agenda prioritas yang juga diusung oleh para pemimpin di daerah, baik tingkat provinsi maupun kabupaten/kota,” ucapnya. (zk)

BANTUL – Yayasan Lembaga Kajian Islam dan Sosial (LKiS) yang berkantor di Bantul baru-baru ini meluncurkan buku berjudul “Suara Demokrasi Dari Akar Rumput; Problematika, Praktik Baik dan Peta Jalan Demokrasi di DIY”, buku ini memuat tentang pengalaman LKiS menahan laju regresi demokrasi, khususnya di DIY. Buku ini tidak hanya menyajikan kritik dan analisis terhadap berbagai tantangan demokrasi di tingkat lokal, namun juga menawarkan gagasan dan rekomendasi sebagai langkah konkret untuk membangun sistem yang lebih inklusif dan berkeadilan.

Untuk membahas isi buku ini secara lebih mendalam, sekaligus menyikapi persoalan demokrasi yang terjadi pada hari ini, pada Minggu (10/8/2025) di kawasan Sonopakis Lor, Kasihan, Bantul, Yayasan LKiS mengadakan diskusi terbuka kepada seluruh lapisan masyarakat, baik dari aktivis, Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Mahasiswa, Ormas, Wartawan, dan sebagainya, untuk bersama-sama membahas dinamika demokrasi yang terjadi di masa sekarang ini, dan strategi apa saja yang perlu dilakukan untuk bisa menjadikan demokrasi ini lebih baik ke depannya.

Arah diskusi ini mengacu pada bagaimana peran demokrasi dalam bernegara, yang semakin kesini sudah semakin memudar, yang kemudian digantikan dengan oligarki kekuasaan yang kian membabi buta. Hal ini ditandai dengan beberapa kebijakan yang terkesan semena-mena, seperti pemblokiran rekening bank yang tidak aktif selama 3 bulan, penyitaan tanah yang nganggur selama 2 tahun berturut-turut, dan seterusnya.

Terdapat tiga elemen kunci yang difokuskan dalam diskusi kali ini, diantaranya tentang bagaimana penerapan demokrasi dalam berkampanye politik, advokasi terhadap kebijakan pemerintah yang belakangan ini terkesan semakin tidak memihak rakyat, serta bagaimana penyampaian edukasi demokrasi terhadap masyarakat atau publik secara luas.

Para peserta yang berjumlah sekitar 20 orang pun diminta menyampaikan pandangannya masing-masing terkait dinamika demokrasi yang terjadi saat ini, dan apa saja solusi yang bisa ditawarkan untuk membuat demokrasi di Indonesia bisa lebih sesuai dengan peruntukannya, selayaknya yang telah dicita-citakan sejak masa lampau.

Menurut Yayasan LKiS, hasil dari diskusi terbuka ini rencananya akan dijadikan laporan RTL (Rencana Tindak Lanjut) atau follow-up secara sistematis dan rapi, untuk kemudian diteruskan dengan pertemuan lanjutan secara lebih teknis dengan pihak-pihak terkait, utamanya adalah Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta, sesuai dengan usulan yang telah didiskusikan sebelumnya. (zk)

KULON PROGO – Pada Kamis, 7 Agustus 2025 lalu, PLUT KUMKM (Pusat Layanan Usaha Terpadu Koperasi, Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah) Kulon Progo kembali mengadakan kolaborasi spesial dengan Komunitas Ruang Branding, dengan menyelenggarakan pelatihan bertajuk “Personal Branding untuk Pelaku UMKM di Kulon Progo” yang berlangsung di kantor PLUT KUMKM. Kegiatan ini diikuti oleh para pelaku UMKM dari berbagai kecamatan di kabupaten Kulon Progo.

Adapun narasumber dalam kegiatan ini diantaranya Tri Wahyuni, S.S sebagai Konsultan SDM, dan Mufti Putri Dewi Buana, S.I.Kom sebagai Founder Komunitas Ruang Branding. Keduanya secara gamblang membagikan ilmu penting tentang personal branding dan strategi pemasaran digital di era sekarang kepada para peserta pelatihan.

“Memang permasalahan pelaku UMKM itu masih malu, masih isin untuk posting dan mem-branding usaha mereka. Jadi, adanya pelatihan personal branding ini sangat pas untuk mendorong pelaku UMKM biar pede dan tangguh,” ungkap Kepala bidang PPUM Disperinkop UKM Kulon Progo, Pratiwi Ngasaratun di sela-sela kegiatan, Kamis (7/8/2025).

Salah satu peserta pelatihan personal branding yakni Dwi Estri mengatakan, pelatihan semacam ini dapat menambah wawasannya terkait cara memperkenalkan produk ke konsumen secara digital.

“Saya sangat terbantu dengan adanya pelatihan personal branding ini, karena disini saya dapat mengetahui bagaimana caranya memasarkan produk ke konsumen secara digital,” ujar Dwi Estri.

Selain itu, Dwi Estri juga berpesan kepada pelaku UMKM lainnya untuk dapat mengasah kepercayaan dirinya, agar mampu menyampaikan keunggulan produknya kepada (calon) konsumen.

Dalam kegiatan ini, PLUT KUMKM Kulon Progo dan Komunitas Ruang Branding hadir untuk membantu pelaku UMKM di Kulon Progo, sekaligus membuka kesempatan meningkatkan kualitas produk serta membangun mindset dan kemampuan digital marketing yang kuat dan konsisten.

Harapannya, kegiatan ini bisa menjadi momentum yang baik bagi pelaku UMKM Kulon Progo untuk semakin maju, percaya diri, dan berdaya saing di era digital yang semakin dinamis seperti saat ini. (zk)

YOGYAKARTA – JT – Dit Intelkam Polda DIY bekerjasama dengan Asosiasi Chief Security Hotel (ASCH) Yogyakarta menggelar bakti sosial ratusan paket sembako di sejumlah titik di DIY, Jumat (25/7/2025) petang.

Mengusung tema ‘Bersinergi Dalam Tugas, Berempati Dalam Aksi’, paket sembako dibagikan ke tiga tempat yakni Yayasan Sayap Ibu, Pondok Pesantren Al-Islam dan komunitas becak di kawasan Jalan Malioboro.

Ketua ASCH Innside By Melia Yogyakarta Hendro Prasetyawan mengatakan, melalui baksos ini diharapkan menjadi inspirasi dan semangat kepedulian ini bisa diteruskan ke semua pihak asosiasi maupun perkumpulan.

Menurutnya, sinergitas security dalam bekerja menjaga keamanan perlu juga dibarengi dengan menumbuhkan sikap kepedulian sesama. Dengan solidaritas dan aksi berbagi itu bisa membantu meringankan yang membutuhkan.

“Melalui kegiatan ini semoga bisa membantu meringankan beban hidup saudara-saudara kita yang membutuhkan, sehingga komunitas yang kami sasar benar benar yang membutuhkan uluran bantuan,” tandasnya.

Lebih lanjut dikatakan Hendro, aksi serupa rencananya akan digelar secara rutin dan berkala dengan sasaran mereka yang membutuhkan bantuan. Terlebih saat ini ACSH mempunyai pengurus baru yang terbentuk.

“Khusus bidang sosial dan agenda kegiatannya sudah disusun, sehingga tinggal melaksanakannya,” jelasnya.

Hendro menambahkan, sasaran yang mendapatkan bantuan sembako yakni dilihat dari kondisi sosial calon penerimanya. Menyasar berbagai kalangan masyarakat yang membutuhkan agar tepat sasaran.

“Semoga dengan berkolaborasi bersama Dit Intelkam Polda DIY, kami akan terus berupaya menularkan semangat kebaikan dan meringankan beban sesama yang membutuhkan uluran,” harapnya.

Kasubdit 2 Ditintelkam Polda DIY AKBP Shandy W.G. Suawa, S.P., S.I.K., M.H, mengungkapkan kegiatan ini merupakan bentuk kolaborasi Polri dengan ASCH. Sehingga bisa bersama sama menjaga situasi kamtibmas.

“Mari kita saling bersinergi menjaga kondusifitas kamtibmas di lingkungan masing-masing,” pungkasnya. (*)

 

SLEMAN – SPJ – Peristiwa 27 Juli 1996 atau dikenal dengan Peristiwa Kudatuli sebagai salah satu catatan sejarah yang kemudian menjadi salah satu tonggak berdirinya PDI Perjuangan.

Memperingati Peristiwa Kudatuli, Satgas Cakra Buana PDI Perjuangan Kabupaten Sleman menggelar acara sarasehan, Minggu (27/6/2025), di Kopi Njongke, Mlati Sleman.

Dalam sarasehan kali ini, sejumlah tokoh hadir di antaranya Ketua DPD PDI Perjuangan DIY Nuryadi yang juga Ketua DPRD DIY, anggota DPRD DIY Yuni Satia Rahayu, Wakil Bupati Sleman Danang Maharsa dan Komandan Batalyon Satgas Cakra Buana Sleman, Koeswanto.

“Memperingati peristiwa 27 Juli 1996 menjadi kewajiban bagi teman-teman Satgas Cakra Buana,” ungkap Koeswanto seraya menceritakan peristiwa itu merupakan sejarah kelam bagi PDI Perjuangan.

Melindungi masyarakat

“Sejarah itu supaya selalu tertanam dalam jiwa kita untuk memperjuangkan demokrasi yang benar-benar murni tidak disetir oleh penguasa, aturan hukum harus ditegakkan dengan benar. Aturan undang-undang benar-benar terealisasi untuk melindungi masyarakat, rakyat Indonesia,” kata Koeswanto.

Dia menerangkan, peringatan Peristiwa Kudatuli juga untuk pembelajaran sejarah bagi para anggota satgas yang saat itu belum bergabung dengan PDI Perjuangan.

Selain itu, juga menjadi refleksi bersama bahwa meski diinjak-injak oleh penguasa saat itu namun PDI Perjuangan tetap bisa semakin besar dan menjadi partai pemenang Pemilu.

“Dengan refleksi ini supaya teman-teman di Sleman kan belum mengalami waktu itu sehingga belum tahu persis kejadian 27 Juli itu. Kantor PDI Perjuangan di Jalan Diponegoro saat itu diduduki oleh PDI yang dibentuk oleh penguasa,” kata Koeswanto yang juga anggota DPRD DIY itu.

Semakin besar

Dengan perjuangan, darah, pengorbanan materi dan pemikiran, lanjut dia, senior-senior PDI Perjuangan yang terinjak-injak dan teraniaya itu justru malah semakin berkembang semakin besar sampai saat ini. “Bahkan bisa membuktikan sebagai partai pemenangan Pemilu di Indonesia,” sambungnya.

Koeswanto berharap agar Peristiwa Kudatuli bisa menjadi penggugah semangat para anggota satgas maupun kader PDI Perjuangan. Koeswanto menegaskan jangan sampai sesama kader PDI Perjuangan diadu domba.

“Kami berharap dengan selalu merefleksikan tanggal 27 Juli, peristiwa ini benar-benar menggugah semangat, loyalitas, kebersamaan supaya kita tidak mudah diadu domba sesama kader partai di internal PDI Perjuangan,” terangnya.

Koeswanto menambahkan saat ini kekuatan PDI Perjuangan adalah kekompakan dan kesolidan anggota serta kader di dalamnya. Inilah modal PDI Perjuangan agar tidak mudah dipecah belah oleh pihak lain.

Aspirasi masyarakat

“Satgas sebagai pengawal dan pengaman kebijakan partai, garda terdepan untuk selalu turun menyapa masyarakat, mengadvokasi dan mendampingi aspirasi masyarakat,” kata Koeswanto.

Mengingat situasi kondisi saat ini yang tidak memiliki kepemimpinan di Tingkat pusat, lanjut dia, perlu dikondisikan supaya kesolidan dan persatuan tetap terjaga.

“Harus kita jaga seutuh mungkin jangan sampai disusupi orang yang tidak bertanggung jawab yang dampaknya ingin memecah belah PDIP. Kekuatan kita hanya itu, kekompakan dan kesolidan,” tandasnya. (*)

YOGYAKAKARTA – Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga Daerah Istimewa Yogyakarta (Dikpora DIY) bekerja sama dengan PANDI (Pengelola Nama Domain Internet Indonesia) serta MGMP Bahasa Jawa DIY, tahun ini kembali akan menggelar Olimpiade Bahasa dan Aksara Jawa (OBAJ) #3.

Olimpiade Bahasa dan Aksara Jawa diselenggarakan sebagai bagian dari representasi penerapan Perda DIY No. 2 tahun 2021 tentang Pemeliharaan dan Pembinaan Bahasa, Sastra, dan Aksara Jawa, Pergub DIY No. 64 tahun 2013 tentang Muatan Lokal Wajib Bahasa Jawa, serta sebagai bentuk penghormatan bahasa ibu (bahasa Jawa), dimana bahasa Jawa tidak akan pernah lepas dari yang namanya aksara Jawa.

Olimpiade Aksara Jawa ini diselenggarakan secara digital (online) dengan format soal berbahasa Jawa dan beraksara Jawa dengan jenjang SMA/SMK/MA, dan sepenuhnya didanai dengan Dana Keistimewaan.

Sebagaimana instruksi dari Kepala Dinas Dikpora DIY, Drs. Suhirman, M.Pd, ia mengimbau seluruh kepala sekolah SMA/SMK/MA di masing-masing kabupaten/kota agar dapat mendukung kegiatan ini, dengan mewajibkan dan mengarahkan siswa-siswi terbaik di bidang bahasa Jawa untuk mengikuti kegiatan ini.

Olimpiade Bahasa dan Aksara Jawa (OBAJ) #3 ini akan dilaksanakan melalui tiga tahapan yaitu babak penyisihan, babak semifinal, dan babak final.

Pendaftaran peserta dimulai tanggal 1-22 Agustus 2025 ini. Tahap pendaftaran ini sekaligus sebagai babak penyisihan peserta di masing-masing kabupaten/kota. Setiap kabupaten/ kota akan diambil 40 peserta dari jenjang SMA/MA dan 40 peserta dari jenjang SMK. Peserta yang terpilih akan maju ke babak semifinal yang akan dilaksanakan pada tanggal 25 & 26 Agustus 2025. Selanjutnya dari babak semifinal akan dipilih 10 peserta dari masing-masing jenjang untuk mengikuti babak final. Untuk informasi lebih lengkap tentang teknis pelaksanaan OBAJ#3 ini, anda bisa mengakses laman www.olimpiadeaksara.id.

Melalui lomba Olimpiade Bahasa dan Aksara Jawa ini, diharapkan generasi muda dapat semakin mencintai dan melestarikan kekayaan budaya Jawa, khususnya dalam penguasaan bahasa dan aksara Jawa. Selain itu kegiatan ini diharapkan dapat menumbuhkan rasa bangga terhadap warisan leluhur, serta meningkatkan kemampuan berbahasa dan menulis aksara Jawa dengan baik dan benar bagi para generasi muda, serta semakin memantabkan Yogyakarta sebagai daerah istimewa, salah satunya karena aksara Jawa. (zk)