YOGYAKARTA – JT – Lokakarya Temu Karya Sastra ‘Daulat Sastra Jogja’ Tahun 2025 dengan tema ‘Meta Sastra; Panen Karya dan Alih Media’ dilaksanakan Dinas Kebudayaan DIY di Hotel Grand Rohan Jogja pada 23-26 Juni 2025.

Lokakarya melibatkan narasumber Y Adhi Satiyoko (SSJY) untuk bedah naskah puisi, Sari L. Hartiningrum (Radio Edukasi) untuk bedah cerpen dan alih media audiobook 5 peserta, Tedi Kusyairi (Forum Desa Sinema) kelas bedah naskah lakon dan alih media Film diikuti 11 peserta, ST Kartono (Kelas Karya Essai), Meuzt Prast (Pelukis) kelas alih media seni lukis dengan 7 peserta, dan Ardy Boik (Genk Kobra) kelas alih media lagu puisi 17 peserta.

Dinamika kelompok masing-masing kelas alih media berjalan dengan meriah, pada tahap awal peserta saling presentasi karya masing-masing untuk ditanggapi oleh peserta lainnya, dilanjutkan dengan pengajuan konsep alih media yang akan dilakukan. Secara umum, untuk kelas alih media lagu puisi dan seni lukis dilakukan secara perorangan, lalu untuk kelas alih media audiobook dan film secara kelompok project.

“Melalui FGD ini, narasumber dan instruktur mendampingi peserta untuk saling menguatkan gagasan, metode berpikir, dan sistematika proses alih media. Harapannya, para peserta nantinya akan menemukan bentuk produk alih media yang tepat untuk karya sastranya,” kata Tedi Kusyairi narasumber kelas naskah lakon dan alih media film, Rabu (25/6/2025).

Kegiatan lokakarya TKS tahun 2025 ini memang menekankan pada proses alih media karya sastra peserta, dimana pada tahun-tahun sebelumnya, peserta dikuatkan pada aspek penulisan karya sastranya, sembari di dorong untuk menulis dan menerbitkan karya sastra.

“Setelah jadi buku, atau karya mereka dipublikasikan, harapannya para peserta bisa mengeskpos karyanya untuk dipresentasikan kepada para pelaku industri kreatif, seperti museum lukis, kompuser dan penyanyi, production house film, dan audiobook,” jelas Tedi lebih lanjut.

Usai lokakarya, peserta tetap akan melanjutkan secara mandiri untuk menyelesikan karya alih media sastranya, yang nantinya akan dipentaskan dan dipamerkan pada awal September pada peringatan Hari Literasi Internasional. (RYN)

YOGYAKARTA – JT – Kegiatan lokakarya Temu Karya Sastra (TKS) ‘Daulat Sastra Jogja’ tahun 2025 dengan tema ‘Meta Sastra: Panen Karya dan Ekranisasi’, diselenggarakan pada 23-26 Juni 2025 di Hotel Grand Rohan Jogja. Rangkaian kegiatan dibuka oleh Dian Lakshmi Pratiwi SS MA, Kepala Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) Daerah Istimewa Yogyakarta pada Senin (23/06/2025) di Ruang Jasmine Grand Rohan Jogja.

Hadir pada kesempatan tersebut, Budi Husada Kepala Bidang Pemeliharaan dan pengembangan Sejarah, Bahasa, Sastra, dan Permuseuman, Setya Amrih Prasaja Kasie Bahasa dan Sastra, Adhi Satiyoko dan Tedi Kusyairi sebagai pengarah kegiatan sekaligus narasumber utama, juga dari seksi Sejarah dan Permuseuman.

Peserta berjumlah 40 orang, hasil seleksi dari alumnus TKS tahun sebelumnya, mereka dari komunitas atau sanggar sastra yang ada di Yogyakarta. Sebelumnya mereka banyak menuliskan karya sastra di berbagai media dan menerbitkan buku karya sendiri.

Dian Laskmi Pratiwi dalam sambutannya mengungkapkan bahwa sastra dan literasi sebenarnya lekat dalam keseharian sosial bermasyarakat, banyak ide gagasan bisa menjadi inspirasi tulisan sastra, harapannya para peserta nantinya bisa menjadi pahlawan literasi di lingkungan masing-masing. Untuk itu peserta harus banyak membaca agar tulisannya bisa lebih berpengaruh bagi masyarakat.

“Kami harapkan peserta bisa menguatkan komitmen dalam hal kolaborasi, kebersamaan membangun kemadirian, karena saat ini banyak pilihan dan peluang, maka melalui menulis sastra bisa menjadi prioritas yang dibanggakan,” tegas Dian Lakshmi.

Lebih lanjut Dian Lakshmi menyinggung perihal kemajuan teknologi informasi berbasis AI, dalam harapannya, para peserta bisa lebih mengedepankan rasa dan imajinasi yakni soal kemanusiaan sebagai kelebihan dibanding hasil chat GBT.

“Tulisan sastra peserta tidak berhenti ditulisan sastra saja, selain diterbitkan dalam bentuk buku, juga bisa ditemukan dengan para pelaku industri kreatif, Dinas Kebudayaan dengan sarana yang ada siap memoderasi,” kata Dian lebih lanjut.

Sebelumnya alumni TKS yang sudah menerbitkan buku, maju ke depan untuk menyerahkan hasil karya mereka, diantaranya M Sheva buku kumpulan puisi berjudul ‘Otsu’, Adik Indah Rahmawati buku kumpulan cerpen ‘Labirin’, Anggita Noviana Rizki buku naskah lakon ‘Puan’, Valentino SK buku puisi ‘Lucis lumens’, Hernando Rifmanda Anwar buku pusi ‘Kabel kusut kota’, dan Wahyu Tigar buku ‘Pupak-pupak Jegur’. Buku diterima oleh Dian Lakshmi Pratiwi dengan penuh kegembiraan sebagai salah satu wujud hasil proses lokakarya penulisan sastra di tahun sebelumnya.

“Selama lokakarya peserta akan mendapatkan mentoring mengenai persiapan sastra untuk dialihmediakan, pasca lokakarya mereka akan membuat karya alih media, dilanjutkan latihan pementasan, dan puncaknya dari tanggal 8-10 September 2025 akan diselenggarakan pentas karya sastra, pameran alih media, dan launching buku,” jelas Amrih.

Sementara itu Tedi Kusyairi, salah satu narasumber TKS 2025 menegaskan bahwa selama lokakarya nantinya para peserta akan dikondisikan pada proses FGD dan praktik alih media.

“Kami ingin menanamkan proses berfikir kepada para peserta, terkait tulisan karya sastranya, untuk sama-sama dikritisi sesama peserta, kemudian membangun konsep sastra yang akan dialihmediakan, sehingga karya sastra tidak lagi berdiri sendiri, lebih ilmiah, dan produknya tak lepas dari dunia kehidupan masyarakat, menjadi sastra yang lebih manfaat, itulah meta satra,” jelas Tedi. (MMI)

YOGYAKARTA – Buku yang disusun sejak tahun 1977 hingga tahun 2022 berjudul “Indonesia Art World” karya Melani W. Setiawan, akhirnya resmi di-launching di Pascasarjana ISI Yogyakarta, Sabtu (21/6/2025). Buku ini adalah kumpulan foto perjalanan Melani W. Setiawan, seorang Dokter USG di Jakarta, di bidang seni rupa, yang telah menarik perhatiannya sejak dekade 70-an silam.

Kini di usianya yang menginjak 80 tahun, Melani akhirnya mampu mempersembahkan sebanyak hampir 5.000 foto hasil ciptannya ke dalam satu karya tebal berjumlah 1.400 halaman yang terbagi dalam 3 buku, untuk bisa dinikmati oleh kalangan pencinta seni rupa di seluruh Indonesia. Foto-foto ini ada yang menggunakan analog, kamera digital, hingga kamera ponsel yang lazim digunakan oleh generasi saat ini.

Dalam pemaparannya, Melani menjelaskan bahwa diterbitkannya buku ini adalah wujud rasa syukur, atas kepercayaan rekan-rekan yang telah mengusulkan agar foto-foto ini dijadikan buku, sebagai rekam jejak perjalanan panjang bersama para seniman selama empat dekade ke belakang.

“Tentu saja awalnya tidak ada niatan untuk menjadikan koleksi foto ini sebagai buku, namun pada 2003, kami akhirnya sepakat untuk membukukannya. Namun ketika itu saya masih belum pede, karena di semua foto ini pasti ada wajah saya, sehingga kelihatan narsis. Namun akhirnya saya memberanikan diri, dan mulailah mencari-cari nama, caption, dan juga tempat yang sekiranya cocok untuk melakukan launching buku ini,” ujar Melani kepada SPJ.com saat ditemui usai acara, Sabtu (21/6/2025).

Bahkan, menurut Melani, buku ini sudah hendak diluncurkan pada tahun 2012 silam, atau 13 tahun yang lalu. Namun harus batal karena beberapa hal.

“Tadinya malah tahun 2012 saya sudah mau launching buku ini, termasuk sudah bikin pre-launching-nya, dan sudah ada di galeri nasional Indonesia di Jakarta, serta sudah dibikin versi dummy-nya. Namun karena satu dan lain hal, akhirnya launching-nya harus batal,” tambah Melani.

Meskipun tidak secara langsung berkecimpung di bidang seni rupa, Melani berharap bahwa buku ini bisa menjadi sumbangsih dedikasinya terhadap perkembangan seni rupa di Indonesia, semakin banyak dikenal oleh masyarakat luas, mendapat apresiasi yang layak, serta bisa menembus dunia internasional. (zk)

YOGYAKARTA – JT – Sebanyak 40 calon peserta lokakarya Temu Karya Sastra (TKS) ‘Daulat Sastra Jogja’ mengikuti temu teknik di Ruang Bima Dinas Kebudayaan DIY, Selasa (17/6/2025). TKS tahun 2025 mengusung tema ‘Meta Sastra: Panen Karya & Ekranisasi’, terdiri dari beberapa tahapan yakni; lokakarya menginap di Hotel Grand Rohan pada 23-26 Juni 2025, dilanjutkan dengan pasca lokakarya membuat karya alih media, dilanjutkan latihan pementasan, dan puncaknya dari tanggal 8-18 September 2025 akan diselenggarakan pentas karya sastra, pameran alih media, dan launching buku.

Sebelumnya, peserta dijaring dari alumnus TKS sejak tahun 2021-2024, calon peserta wajib mendaftarakan diri dan memenuhi semua persyaratan yang diminta panitia, setelah di seleksi ada 40 peserta yang berhak mengikuti rangkaian kegiatan sejak lokakarya, selebihnya dan yang tidak lolos diberi kesempatan untuk ikut aktif dalam rangkaian TKS usai lokakarya.

“Peserta tahun ini kan dari para alumni, jadi sudah selesai dengan pembelajaran bagaimana menulis sastra yang baik dan benar, dari tahun-tahun sebelumnya sudah dapat banyak ilmu penulisan sastra, sudah banyak berkarya, sekarang saatnya membuktikan bahwa peserta ini bisa disebut sebagai sastrawan, maka harus menerbitkan buku,” terang Budi Husada, Kepala Bidang Pemeliharaan dan pengembangan Sejarah, Bahasa, Sastra, dan Permuseuman Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) DIY.

Selanjutnya, Setya Amrih Prasaja, Kasie Bahasa dan Sastra Dinas Kebudayaan DIY menerangkan bahwa untuk tema tahun ini ada meta sastra, kemudian akan diwujudkan dalam panen karya, dari para peserta TKS 2025.

“Beda dengan tahun sebelumnya yang mempertebal pengetahuan menulis karya sastra, tahun ini, fokusnya pada penerbitan buku, dan alih media karya sastra, bisa ke lagu puisi, audiobook, seni lukis, dan film. Jadi nanti di Hari Literasi Internasional, akan dipentaskan, dipamerkan, dan di launching karya para peserta,” tegas Amrih.

Sementara itu Tedi Kusyairi, salah satu narasumber TKS 2025 menegaskan bahwa selama lokakarya nantinya para peserta akan dikondisikan pada proses FGD dan praktik alih media.

“Nantinya akan lebih banyak FGD, dengan harapan para peserta mampu mengungkapkan hal didalam atau diluar karya sastra yang ditulisnya, kemudian untuk masuk ke era Gen Z saat ini, maka alih media sastra ke bentuk lain harus dilakukan oleh peserta untuk mengetengahkan karya sastranya ke ruang publik. Nantinya para peserta tahun ini ketika kembali ke komunitas masing-masing akan menjadi trainer, penggerak, dan motifator di wilayah masing-masing,” jelas Tedi Kusyairi.

Lokakarya akan melibatkan narasumber Y Adhi Satiyoko (SSJY), Sari L Hartiningrum (Radio Edukasi), Tedi Kusyairi (Forum Desa Sinema), ST Kartono (Kelas Essai), Meuzt Prast (Pelukis), dan Ardy Boik (Genk Kobra). Saat ini sedang dalam persiapan penerbitan buku sastra antologi peserta karya tunggal mereka, yang masing-masing diedit oleh para sastrawan, penulis, dan editor seperti; Y Adhi Satiyoko, Mutia Sukma, Latief Noor Rochmans, Satmoko Budi Santoso, Tedi Kusyairi, Indrian Toni, Eko Triono, Herry Mardianto, Sari Listyaningsih Hartiningrum, dan Lawung Panji Sadewa. Nantinya karya mereka akan dikurasi lebih lanjut dan diterbitkan dengan kolaborasi penerbit yang terhimpun dalam IKAPI Yogyakarta. (RYN)

Bantul – SPJ – Dalam rangka HUT SMA Negeri 1 Sedayu ke 60, dan menyemarakkan gemar membaca serta menulis sastra bagi pelajar SMP/MTs, Perpustakaan Loka Ghana SMA Negeri 1 Sedayu mengadakan Workshop Penulisan Puisi, Kamis (19/6/2025) di Perpustakaan Loka Ghana SMA Negeri 1 Sedayu. Kepala SMA Negeri 1 Sedayu, Suwarsono, S.Pd., M.Sc., M.A. mengatakan bahwa kegiatan ini merupakan sebuah rangkaian HUT ke 60, dengan tema utama literasi.

Workshop menulis puisi menghadirkan narasumber Tedi Kusyairi, pegiat #SelasaSastra pengarah kegiatan Temu Karya Sastra Dinas Kebudayaan DIY 2021-2025. Kegiatan selama kurang lebih dua jam dipandu MC Arsheila Audia Pradiani dan Veronika Wahyu Dewi Handayani.

“Tujuan kegiatan ini untuk meningkatkan literasi siswa dan membiasakan anak agar gemar menulis dan berkarya sastra, khususnya puisi,” jelas Hj. Syamsuriyani, Kepala Perpustakaan Loka Ghana SMA Negeri 1 Sedayu.

Peserta sejumlah 30 siswa dari SMPN 1 Moyudan, SMP N 1 Sedayu, SMP MUHAMMADIYAH 1 MINGGIR, SMP NEGERI 1 GAMPING, SMPN 3 Godean, SMP Negeri 2 Pajangan, SMP NEGERI 2 MOYUDAN, SMP NEGERI 1 PAJANGAN, SMP Negeri 1 Pajangan, SMP N 1 Minggir, dan SMPN 2 SENTOLO.

Sementara itu Agustina Prapti Rahayu, salah satu guru Bahasa Indonesia SMA Negeri 1 Sedayu mengatakan bahwa kegiatan ini sangat menarik dan menyenangkan.

“Andaikata tidak bersamaan dengan acara lain banyak anak yang sebenarnya ingin ikut. Kami berharap, apa yg menjadi tujuan diadakannya kegiatan ini bisa tercapai. Semoga dengan mengikuti workshop ini, dalam diri siswa atau peserta, tumbuh semangat untuk membaca, dan menulis, berkarya sastra, mulai dari menulis puisi.  Dengan demikian mereka akan menjadi generasi muda yang literat dan berprestasi dalam karya,” tegas Agustina.

Sesi menulis puisi oleh narasumber Tedi Kusyairi terbagi dalam tiga bagian, pengantar trik dan tips menulis puisi, kemudian praktik menulis puisi dan mentoring, dilanjut dengan pembacaan puisi dan review.

“Intinya, mulailah menulis puisi dari sesuatu yang dekat dengan diri kita. Banyak membaca, lalu menulislah, jangan berhenti! Baca lagi puisimu, berkali-kali, sebelum dikirim ke media atau ikut lomba, itu penting untuk bisa mendapatkan diksi dan rima yang pas dalam menyampaikan tema puisi,” kata Tedi Kusyairi.

Saat sesi praktik menulis dan mentoring, hampir semua peserta antusias menulis bertanya dengan narasumber, konsultasi atas puisinya. Usai mengikuti workshop menulis puisi, para peserta diajak berkeliling ke penjuru perpustakaan Loka Graha.

“Rencananya, puisi yang ditulis peserta akan dipublikasikan,” pungkas Hj. Syamsuriyani. (RYN)

YOGYAKARTA – JT – Dalam semangat hari Pancasila ratusan mahasiswa dan pemuda di Daerah Istimewa Yogyakarta menggelar acara Seminar dan Kongres Pemuda Indonesia Untuk Yogyakarta Istimewa dengan mengangjat tema “Merajut Kebhinekaan, Memperkuat Pancasila” yang diadakan di Convention Hall UIN Sunan Kalijaga, Rabu (11/6) diinisiasi oleh Ruang Kolaborasi Pemuda (RKP) DIY bersama DEMA UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Acara tersebut dihadiri oleh Prof. Noorhaidi, M.A., M.Phil., Ph.D (Rektor UIN Sunan Kalijaga), Dr. H. Sukamta (Anggota MPR RI Dapil DIY), Prof. Drs. Purwo Santoso, MA, Ph.D. (Guru Besar Ilmu Politik dan Pemerintahan UGM), Lilik Andi Aryanto, SIP, M.M. (Kepala Kesbangpol DIY), Triyono, S.IP., M.Si. (Sekda Kab. Kulonprogo), Muhamad Asruri Faishal Alam. S. Pd., Gr (Juara 2 Pemuda Pelopor Nasional Kemenpora RI).

Kegiatan tersebut dibuka langsung oleh Rektor UIN Sunan Kalijaga Prof. Noorhaidi, M.A., M.Phil., Ph.D serta menyampaikan apresiasi kepada RKP DIY dan DEMA UIN Sunan Kalijaga, “kita bersama-sama untuk menjaga ke-Istimewaan Yogyakarta dan bersama-sama mencari solusi permasalahan-permasalahan yang ada di Yogyakarta,” ungkap Noorhaidi.

Pada kesempatannya Dr. H. Sukamta (Anggota MPR RI) bahwa bapak pendiri negara kita diberi tugas untuk menyatukan negara kita, mengabaikan setiap perbedaan yang kita miliki.

“Indonesia adalah negara yang sangat beragam dengan ribuan suku bangsa, pulau, dan beragam agama. Pancasila masih harus digunakan sebagai alat komunikasi untuk membangun jembatan dalam kehidupan bermasyarakat,” jelas politikus dari PKS tersebut.

Prof. Drs. Purwo Santoso, MA, Ph.D. (Guru Besar Ilmu Politik dan Pemerintahan UGM) menekankan bahwa Ideologi Pancasila merupakan ideologi terbuka, bukan tertutup, pancasila itu sebagai falsafah hidup sehari-hari.

“Yogyakarta menjadi panggung yang ideal untuk membangkitkan semangat kebhinekaan kita,” tegas Purwo Santoso.

Saat ditemui awak media, Ketua Dema UIN Sunan Kalijaga, Umar Ma’ruf, mengatakan para pemuda telah bersepakat bersama-sama menjaga keistimewaan DIY, anti SARA dan menjaga toleransi. Ini adalah penegasan terhadap komitmen dari para pemuda yang ada di Yogyakarta untuk menjaga agar Yogyakarta dan Indonesia secara lebih luas menjadi negara yang memiliki karakter sesuai dengan nilai-nilai Pancasila.

Dalam rangkaian acara tersebut dilakukan deklarasi oleh 200 peserta pemuda lintas agama, lintas kampus, lintas suku dan lintas organisasi tentang komitmen menjaga keistimewaan DIY, anti-SARA dan menjaga toleransi. Peserta juga menandatangani banner dukungan serta aksi simpati turun ke jalan seputar kampus UIN Sunan Kalijaga menyuarakan hal tersebut. (ATG)

BANTUL – Publik seni rupa Indonesia sebentar lagi akan segera menyambut peluncuran buku INDONESIA ART WORLD – Dr. Melani Setiawan’s Archive (1977–2022) yang akan diselenggarakan di Gedung Pascasarjana ISI Yogyakarta, pada 10.00-15.00 WIB, Sabtu, 21 Juni 2025. Buku ini menampilkan lebih dari empat dekade dokumentasi visual dunia seni rupa Indonesia, disusun dari arsip pribadi Dr. Melani W. Setiawan—seorang dokter spesialis ultrasonografi, kolektor seni, pengamat, dan pengarsip independen yang telah menjadi saksi perjalanan ekosistem seni rupa Indonesia sejak akhir 1970-an.

Dikenal luas sebagai “Ibunya para perupa”, Dr. Melani memiliki hubungan yang erat dengan seniman lintas generasi. Sejak akhir 1970-an, ia telah mendokumentasikan berbagai momen penting dalam dunia seni, mulai dari pembukaan pameran, kunjungan studio, hingga pertemuan dengan seniman dari berbagai penjuru dunia. Koleksi pribadinya mencakup lebih dari 100.000 foto dokumentasi yang tidak hanya menyimpan berbagai memori, tetapi juga menjadi sumber sejarah visual yang langka dan sangat berharga.

Buku ini lahir dari keinginan Dr. Melani W. Setiawan untuk mengenang dan merekam siapa saja yang telah menyentuh hatinya melalui seni dan pertemanan. Proses dokumentasi ini merupakan bentuk cinta terhadap dunia seni rupa yang tidak hanya mencatat masa lalu, tetapi juga merayakan ikatan dan kegembiraan yang masih terus hidup.

Adapun proses panjang penyuntingan buku ini telah berlangsung secara intensif sejak tahun 2005, dengan melibatkan berbagai individu serta komunitas seni baik dari dalam negeri maupun internasional. Dr. Melani melakukan seleksi secara langsung terhadap foto-foto yang akan dimuat. Sebagian materi sebelumnya telah dipresentasikan dalam pameran Saya Datang (2017), yang merupakan bagian dari acara pendukung Biennale Jogja.

Acara peluncuran ini diselenggarakan atas dukungan IndoArtNow, Srisasanti Syndicate, LeBoYe, ROH, UOB, dan Bakti Budaya Djarum Foundation, serta bekerja sama dengan Buku Seni Rupa, senirupa.id dan Pascasarjana ISI Yogyakarta. Momentum ini tak hanya menandai terbitnya sebuah buku, tetapi juga menegaskan pentingnya praktek pengarsipan sebagai fondasi pengetahuan dan memori kolektif seni rupa Indonesia.

Peluncuran ini sekaligus mempertegas peran institusi pendidikan seni dalam mendukung praktik dokumentasi dan pengarsipan seni di Indonesia. Buku Indonesia Art World ini diharapkan dapat menjadi referensi penting bagi sejarawan seni, akademisi, pelajar, dan publik luas, sekaligus memperluas pemahaman publik tentang lanskap seni rupa kontemporer Indonesia dari perspektif yang personal, mendalam, dan juga historis. (zk)

BANTUL – Bulan Juli mendatang, kabupaten Bantul akan merayakan hari jadinya yang ke-194. Sejumlah acara pun telah dipersiapkan untuk menyambut momen spesial ini.

Namun, ada satu hal unik yang akan mulai diperkenalkan pada perayaan ke-194 ini, yakni diluncurkannya slogan baru untuk kabupaten Bantul.

Selama ini kabupaten Bantul dikenal dengan slogan “Projotamansari”, yang merupakan singkatan dari “Produktif-Profesional, Ijo Royo-royo, Tertib, Aman, Sehat, Asri”. Nah mulai tahun 2025 ini, atau ketika kabupaten Bantul menginjak usia ke-194 tahun, Bantul akan memiliki slogan baru, yang bernama “Bantul Bumi Ksatria”.

Hal ini disampaikan oleh Bupati Bantul, Abdul Halim Muslih, dalam Jagongan Bupati Bantul Bersama Para Pegiat Media Sosial di Kawasan Manding, Kamis (12/6/2025).

Menurut Halim, “Bantul Bumi Ksatria” adalah simbol bahwa Bantul merupakan wilayah yang sering menjadi lokasi (basecamp) para ksatria untuk bersembunyi sebelum melakukan aktivitas peperangan melawan musuh pada jaman kolonial Belanda.

“Kita ingin melakukan satu rekayasa sosial, karena kehidupan kita ini memerlukan satu perubahan yang cepat, terutama untuk para Gen Z atau generasi muda, yang merupakan titisan atau penerus para ksatria di kabupaten Bantul,” ujar Halim di Manding, Bantul, Kamis (12/6/2025).

Slogan ini diharapkan akan menjadi instrumen rekayasa sosial bagi generasi muda, terutama yang sudah terjangkit penyakit mental, agar bisa bersaing di kancah global, yang saat ini semakin tidak mengenal batasan.

“Disini kita ingin kembali mengingatkan anak-anak muda di Bantul, bahwa kalian adalah titisannya (penerus) para ksatria, maka tidak pantas jika kemudian para titisan ksatria ini melakukan tawuran, klithih, berani dengan orang tua, berani dengan guru, mutungan, baperan, tidak punya prestasi, dan sebagainya. Itu pesan yang ingin kita sampaikan kepada generasi muda kita,” tambah Halim.

Halim menyatakan percuma ketika pemerintah bekerja keras dan menghabiskan anggaran untuk membangun jalan, irigasi, lampu penerangan, atau fasilitas penunjang lainnya, apabila sumber daya manusianya malah tidak mengalami perubahan ke arah yang positif, apalagi malah terjangkit masalah mental.

Selain peluncuran slogan baru, perayaan HUT kabupaten Bantul ke-194 juga akan dimeriahkan dengan beberapa acara pendukung, diantaranya launching hari jadi tanggal 17 Juni di Pendopo Parasamya, lalu Bantul Fun Run yang diikuti oleh lebih dari 3.000 peserta, kemudian ada karnaval budaya, gebyar seni dan budaya, Bantul Creative Expo tanggal 26 Juli-5 Agustus 2025, hingga puncak acara sekaligus deklarasi “Bantul Bumi Satria” pada tanggal 20 Juli 2025. (zk)

BANTUL – Di tengah maraknya kasus kriminalitas, vandalisme, maupun kenakalan yang dilakukan oleh para remaja, khususnya anak-anak sekolah, banyak cara yang sudah dilakukan oleh berbagai pihak. Salah satunya adalah kebijakan yang dilakukan oleh Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, yang belakangan ini ramai diperbincangkan di jagat media sosial, yakni dengan mengirim anak-anak “bermasalah” tersebut ke Barak Militer, baik di Kodam (Komando Daerah Militer), Kodim (Komando Distrik Militer), dan semacamnya. Sehingga diharapkan anak-anak tersebut akan keluar menjadi sosok yang “berbeda” setelah dilatih tentang kedisiplinan, pola hidup, dan sebagainya oleh para prajurit TNI.

Namun rupanya, kebijakan ini tidak benar-benar disetujui oleh pejabat daerah lainnya. Salah satunya di kabupaten Bantul.

Dalam acara Jagongan Santai Bupati Bantul Bersama Para Influencer yang diadakan di Kawasan Manding, Bantul, Bupati Bantul, Abdul Halim Muslih menilai kebijakan semacam ini terbilang cukup baik, hanya saja kurang terkoordinasi serta tidak ada landasan hukumnya, sehingga rentan menimbulkan polemik di DPR RI dan juga Komisi Perlindungan Anak (KPAI).

Alih-alih menerapkan kebijakan mengirimkan pelajar bermasalah ke barak militer, Pemda Bantul, kata Halim, akan menerapkan hal sebaiknya, yakni akan mengirimkan awak TNI ke seluruh sekolah yang ada di kabupaten Bantul, mulai dari tingkat SD hingga SMA. Selain menekan biaya, mengirimkan anggota TNI ke sekolah juga lebih mudah dilakukan, dan bisa dilaksanakan secara berkala. Berbeda dengan program Barak Militer yang hanya berlangsung selama beberapa minggu saja.

“Rencananya bukan anak-anak yang akan kita kirim ke Barak militer, tapi TNI yang akan masuk ke sekolah. Saat ini program tersebut masih kita petakan terkait pelaksanaannya seperti apa,” kata Abdul Halim Muslih di hadapan para influencer di kabupaten Bantul, Kamis (12/6/2025).

Meskipun hendak menerapkan aturan yang berbeda, namun Halim mengakui bahwa anak-anak zaman sekarang sudah semakin meresahkan, dan pemerintah pun harus hadir untuk memberikan bantuan kepada para orang tua, yang sudah terang-terangan tidak sanggup untuk mendidik anaknya ke jalur yang seharusnya.

“Tetapi jika program itu (TNI masuk sekolah) tidak diperlukan, dalam artian penanganan anak bermasalah itu sudah bisa ditangani oleh guru BP di sekolah masing-masing, maka opsi tadi akan menjadi opsi kedua atau ketiga,” tambah Halim.

Terkait jadwal pelaksanaannya, Bupati mengungkapkan bahwa kebijakan ini masih perlu pengkajian yang lebih dalam, sehingga membutuhkan waktu untuk bisa benar-benar menerapkannya kepada masyarakat. (zk)

KULON PROGO – JT – Seni sastra adalah suatu media untuk menyampaikan gagasan, rasa dan ekspresi melalui sebuah karya. Seni sastra perlu untuk digeliatkan dan dihidupkan kembali. Mengingat seni sastra adalah aspek penting dalam seni budaya.

Tri Wahyuni, pemuda asal Kulon Progo, memiliki komitmen kuat untuk menggerakkan sastra. Ia merupakan pendiri komunitas sastra Regas yang berfokus pada pelestarian sastra. Ia juga diamanahi menjadi Diajeng Kulon Progo, Duta Pemuda Kulon Progo, dan Duta Bahasa DIY. Tidak hanya itu, saat ini ia mendapatkan tambahan amanah sebagai Pemuda Pelopor Seni Budaya DIY 2025 berkat kepeloporannya di bidang seni budaya melalui sastra.

“Saya tidak menyangka akan menjadi juara 1 pemuda pelopor seni budaya 2025. Bagi saya, dengan ada atau tidaknya suatu penghargaan, saya akan terus bergerak untuk melestarikan seni budaya khususnya sastra,” kata Tri Wahyuni kepada JT (02/6/2025) di Tubin Sidorejo Lendah Kulon Progo, rumah sekaligus sekretariat Regas.

Ajang pemuda pelopor ini awalnya dilaksanakan tingkat Kabupaten kemudian lanjut ke tingkat Provinsi dan Nasional. Tri Wahyuni lolos menjadi pemuda pelopor tingkat Kabupaten dan tingkat Provinsi. Selanjutnya ia akan persiapan untuk seleksi selanjutnya menuju tingkat nasional.

Tri Wahyuni memohon doa dan dukungan kepada seluruh masyarakat agar nantinya bisa memberikan yang terbaik. Untuk kepeloporan Tri Wahyuni dapat diamati di Instagram @yuni_writermer dan @sastra_regas. Dengan kepeloporannya ia berharap mampu berperan aktif sebagai pemuda yang menjaga nyala seni budaya melalui sastra. (ATG)