YOGYAKARTA – JT – Untuk kesekian kali, Sastra Bulan Purnama, Tonggak Pustaka, dan DPRD DIY menyelenggarakan diskusi buku berjudul ‘(Lansia) Indonesia Tanpa Ruang Publik’. Buku ditulis oleh 25 lansia yang tinggal di kota berbeda di seleuruh Indonesia.

Para penulis berasal dari Jakarta, Bekasi, Bandung, Semarang, dan Yogyakarta. Adapun diskusi berlangsung pada Sabtu (25/5/2025) pukul 12.00 di Ruang Paripurna 2, Lantai 2 Gedung DPRD DI Yogyakarta, Jalan Malioboro. Peserta diskusi dibatasi hanya 75 orang yang mendaftar dan penuh.

Turut mendukung diskusi, PT. Luas Birus Utama dan Paguyuban Wartawan Sepuh. Keduanya, sebut saja sebagai mitra Sastra Bulan Purnama, karena beberapa penulis dalam buku ini sekaligus anggota Paguyuban Wartawan Sepuh Yogyakarta.

Dr. Harris Susanto, direktur PT. LBU, mempunyai perhatian terhadap pengembangan literasi, dan sudah beberapa kali mendukung kegiatan Sastra Bulan Purnama.  Perihal buku ini, Harris menyebutkan, di usia lansia, aktivitas menulis masih terus dilakukan, artinya pikiran tidak dibiarkan berhenti bekerja. Sebaliknya dijaga agar terus digunakan, sehingga dalam usia tua, pikiran tetap waras.

“Saya kira, lansia perlu terus diberi ruang, agar kreativitasnya tetap terjaga. Menulis merupakan salah satu aktivitas yang baik, di antara aktivitas baik lainnya. Hal yang menarik, menulis lebih banyak menggunakan pikiran, dan menulis perlu banyak membaca, tanpa memiliki tradisi membaca, tulisannya akan terasa kering,” kata Harris Susanto.

Diskusi akan menghadirkan 3 narasumber, Fajar Gagana, S.T, anggota DPRD DIY/Fraksi PDIP, Prof. Dr. Drg. Ahmad Syaify, Sp Perio, Subsp RPID (K) FISID, Guru Besar Fakultas Kedokteran UGM dan Genthong HSA, sutradara dan penulis naskah. Moderator Sinta Herindrasti, MA, Pengajar Prodi HI, Fisip Universitas Kristen Indonesia, Jakarta.

Ons Untoro, koordinator diskusi mengatakan, diskusi buku lansia ini merupakan diskusi kedua yang diselenggarakan tiap bulan Mei. Pada bulan Mei tahun lalu buku yang diterbitkan berjudul ‘Kita Lansia: Terus berkarya, Bahagia, Penuh Berkah’ ditulis oleh 33 lansia dari berbagai kota. Bulan Mei 2025, para lansia kembali menulis dan bukunya diberi judul ‘(Lansia) Indonesia Tanpa Ruang Publik’.

“Setiap bulan Mei di tahun yang berbeda, para lansia akan terus menulis dan diterbitkan menjadi buku, setidaknya untuk menjaga agar pikirannya, di usia lansia masih tetap waras,” ujar Ons Untoro.

Sebelum diskusi buku ‘Ruang Publik’, dua penyair dari Jakarta dan Semarang, Nia Samsihono, dan Sulis Bambang, yang ikut menulis dalam buku ini, mengawali membaca puisi karya masing-masing.

Sebanyak 25 penulis buku ‘(Lanisa) Indonesia Tanpa Ruang Publik ialah, Ahmad Syaify, Agoes Widhartono, Ahmadun Yosi Herfanda, Anti Soeleman, Dikdik Sadikin, Genthong HSA, Gunawan, Gunoto Saparie, Halim HD, Lies Wijayanti SW, Mustofa W.Hasyim, Nia Samsihono, Ninuk Retno Raras, Ons Untoro, Osmar Tanjung, Ratna Hendarsi, Simon HT, Sinta Herindrasti, Sri Wahyu Wardani, Sulis Bambang, Sumardiyanto, Sunarto, Sutirman Eka Ardhana, Wara Kusharwati, dan Y.B. Margantoro, beberapa diantara turut hadir dalam acara. (HSL)

BANTUL – JT – Mengulang kesuksesan tahun 2025 yang lalu, SMP N 1 Piyungan telah menyelenggarakan bimtek penulisan fiksi, hasilnya luar biasa, karena buku antologi karya siswa peserta bimtek mendapatkan apresiasi dari juri Bantul School Expo 2025 yang diselenggarakan di Satdion Sultan Agung dalam rangka Hari Pendidikan Nasional.

Mengulang kesuksesan tersebut, masih dalam rangka meningkatkan kemampuan literasi siswa SMP Negeri 1 Piyungan, sekolah menyelenggarakan kembali bimtek penulisan, kali ini mengkhususkan pada penulisan artikel, kegiatan Bimbingan Teknis (Bimtek) Penulisan Artikel untuk  Siswa  dilaksanakan pada Kamis dan Jumat, 22 dan 23 Mei 2025, mulai pukul 09.00 – 12.00 WIB di Aula SMP N 1 Piyungan.

Kepala SMP N 1 Piyungan, Lestari, M.Pd., dalam sambutan pembukaan mengatakan bahwa kegiatan ini merupakan salah satu bentuk sumbangsih sekolah untuk turut mendorong indek literasi nasional.

“Indeks literasi negara kita di mata dunia masih rendah, itu dikarenakan minimnya budaya baca dan menulis, maka sejak dini para peserta diperkenalkan dengan dunia tulis menulis, seperti hari ini, bimtek menulis artikel,” jelas Lestari pada Kamis (22/5/2025) di Aula SMP N 1 Piyungan.

Bimtek diselenggarakan selama dua hari, menghadirkan narasumber Tedi Kusyairi alias Bang Tedi Way yang memiliki passion kerja di dunia sastra, teater, film, dan jurnalisme. Pada hari pertama disampaikan paparan materi mengenai teknik menulis artikel, bedanya dengan bentuk tulisan lainnya, dan praktik serta tanya jawab konsultasi penulisan. Peserta diberi tugas untuk menuliskan naskah artikel, lantas di hari kedua dikonsultasikan mulai dari judul dan konsep tulisannya.

“Artikel merupakan salah satu rubrik dalam dunia jurnalistik, kadang agak bias pemahaman dengan opini dan essai, nampak mirip nyatanya detail berbeda. Untuk itu di bimtek kali ini dijelaskan dan praktik nulis agar tahu karakternya,” kata Tedi.

Peserta sejumlah 25 anak pilihan dan pendaftaran dari perwakilan masing-masing kelas. Semua peserta suka menulis, hanya perlu banyak latihan dan wadah untuk mengasahnya.

“Seru banget, walaupun saya sedikit merasa gagal merangkai kata dalam artikel tapi saya senang bisa mendapatkan solusi dan cara memilih kata yang tepat, pokoknya walau itu materi kecil karena hanya sebentar, tapi menurut saya itu akan berguna pada waktu yang akan datang, terimakasih banyak pada sekolah dan Bang Tedi atas bekal ilmunya,” kata Rizka Nur Latifah salah satu peserta.

Usai pelatihan selama dua hari itu, siswa peserta bimtek diberi tugas untuk menulis artikel. Secara online akan dikonsultasikan ke Bang Tedi Way melalui whatsapp kemudian nantinya akan diterbitkan buku antologi.

“Setiap peserta dibebaskan dalam hal tema, sesuai dengan minat pada topik apa yang akan ditulis. Ini untuk merangsang siswa ikut memikirkan hal-hal yang ada disekitarnya, turut menyubangkan pemikiran melalui tulisan,” pungkas Lestari. (HSL)

BANTUL – JT – Sebanyak 260 Siswa Taruna Mandala Widya SMKN 1 Pleret Bantul mengikuti kegiatan Kenaikan Tingkat 3 yang diselenggarakan pada Kamis (22/5/2025). Kegiatan ini merupakan agenda rutin yang bertujuan untuk membentuk karakter disiplin, tangguh, serta jiwa kepemimpinan para taruna.

Dalam kegiatan kali ini, para taruna melaksanakan long march sejauh 10 kilometer dari SMKN 1 Pleret menuju Kodim 0729 Bantul. Rute perjalanan melintasi wilayah-wilayah strategis di Kabupaten Bantul, dengan pengamanan dan pengawalan yang melibatkan unsur dari TNI, Polsek setempat, serta dukungan dari masyarakat.

Setibanya di Kodim 0729 Bantul, para taruna disambut langsung oleh perwakilan Komando Distrik Militer dan mengikuti upacara penyematan tanda kenaikan tingkat. Kegiatan ini sekaligus menjadi simbol pencapaian serta pengukuhan integritas dan loyalitas.

Kepala SMKN 1 Pleret, Elyas S.Pd menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan bagian penting dalam pembentukan karakter siswa.

“Kami ingin membentuk generasi muda yang tidak hanya unggul dalam kompetensi kejuruan, tetapi juga memiliki kedisiplinan, semangat nasionalisme, serta kepedulian terhadap lingkungan sosial,” ujarnya.

Kegiatan berlangsung lancar, aman, dan penuh semangat. SMKN 1 Pleret Bantul berkomitmen untuk terus mendukung program-program yang mendukung pembinaan karakter dan kepemimpinan generasi muda melalui kegiatan positif dan terarah.

Program ini merupakan program unggulan SMK negeri 1 Plered dan satu-satunya sekolah yang menerapkan program  melalui pengembangan karakter di kabupaten Bantul. (RYN)

BANTUL – JT – Sebagai sekolah kejuruan unggulan yang mengintegrasikan pendidikan karakter dan kedisiplinan, SMKN 1 Pleret Bantul kembali menunjukkan komitmennya dalam membentuk generasi muda yang tangguh dan berintegritas. Pada Kamis (22/5/2025), sebanyak 260 Taruna Mandala Widya mengikuti kegiatan kenaikan tingkat 3 dengan bentuk kegiatan long march sejauh 10 kilometer dari kampus SMKN 1 Pleret menuju Kodim 0729 Bantul.

Long march ini bukan sekadar kegiatan fisik, melainkan bagian dari proses pembentukan mental, kedisiplinan, dan semangat juang taruna. Sepanjang rute, para peserta menunjukkan semangat tinggi, kerja sama tim, serta etika yang mencerminkan nilai-nilai Mandala Widya: berani, berbakti, dan berprestasi.

Setibanya di Kodim 0729 Bantul, para taruna disambut hangat oleh perwakilan TNI dalam upacara penyematan tanda kenaikan tingkat. Momen ini menjadi tonggak penting dalam perjalanan pembinaan karakter siswa di SMKN 1 Pleret, sekaligus menjadi ajang pembuktian kualitas siswa sebagai calon pemimpin masa depan yang berdaya saing tinggi.

Kepala SMKN 1 Pleret, Elyas S.Pd.,M.Eng, menegaskan bahwa kegiatan ini merupakan bagian integral dari visi sekolah untuk mencetak lulusan yang unggul dalam kompetensi kejuruan dan berjiwa kepemimpinan.

“Kami tidak hanya fokus pada keterampilan teknis, tetapi juga pada pembinaan mental, karakter, dan nasionalisme. Taruna Mandala Widya adalah representasi dari semangat SMKN 1 Pleret: kuat dalam kompetensi, kokoh dalam karakter,” ujarnya.

Melalui kegiatan ini, SMKN 1 Pleret kembali membuktikan diri sebagai sekolah kejuruan yang berorientasi masa depan, siap mencetak lulusan profesional, disiplin, dan siap menghadapi tantangan global.

“Kegiatan ini mewujudkan slogan SMKN 1 Pleret, tempat tumbuhnya pemimpin tangguh dan profesional!,” pungkas Elyas. (RYN)

YOGYAKARTA – JT – Pusat Layanan Difabel UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, dalam rangka Dies Natalisnya yang ke-18, menyelenggarakan Festival Difabel yang berisi berbagai event diantaranya; E-sport, Lomba Cipta Baca Puisi, Lomba Menyanyi, Lomba Video Kreatif, dan Lomba Cover Lagu Isyarat.

 

Dicky Damanhuri, ketua pelaksana lomba, dalam sambutannya saat final lomba menyanyi dan lomba puisi pada hari Selasa (20/5/2025) di auditorium gedung FDK UIN Sunan Kalijaga mengatakan rasa syukur dan terimakasih atas antusias para peserta dari seluruh Indonesia.

 

“Kami ucapkan terimakasih atas antusias peserta, dan selamat berlomba bagi para finalis yang telah mengalahkan puluhan peserta lainnya,” terang Dicky.

 

Salah satu cabang lomba yaitu lomba puisi, terdiri dari lomba nulis dan baca puisi. Refika Cintya Sari dari panitia lomba puisi menjelaskan bahwa tahapan lomba puisi sendiri diikuti belasan peserta dari berbagai daerah di Indonesia.

 

“Tahap awalnya para peserta mengirimkan naskah puisi dan video pembacaan puisi, kemudian setelah dinilai juri dipilih lima finalis yang dinilai pada hari ini, penentuan urutan pemenang kejuaraan lomba dilakukan dengan baca puisi secara luring dihadapan juri lomba puisi Tedi Kusyairi salah satu sastrawan Yogyakarta,” terang Refika Selasa (20/5/2025) di ruang teater Fakultas Ushuluddin UIN Sunan Kalijaga.

 

Sementara itu, hasil akhir finalis lima besar lomba puisi yaitu Juara I Dhia Ritaj Rahmadani (Universitas Muhammadiyah Ahmad Dahlan Palembang), Juara II M. Riko Yudianto (UMY), dan Juara III Ibnu Nur Adin Fadilah (UNSOED Purwakarta), serta para finalis, Febri Alfatah (UNS), dan Nurul Liwaul Hamdiyah (UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta).

 

Penilaian lomba puisi terdiri atas; kreativitas dan originalitas puisi (30%), retorika: vokal, artikulasi dan intonasi (25%), interaksi: Mimik wajah, penghayatan, dan bodylanguage (25%), dan bahasa dan struktur puisi (20%).

 

“Peserta umumnya sudah bisa menuliskan puisi terkait tema mimpi dan harapan, kebahagiaan dan masa depan, bersyukur dan bersabar, jadilah diri sendiri, atau berani berinovasi dan berprestasi, sebagaimana diharapkan panitia. Dari sisi video baca puisi untuk penyisihan dan kemudian penampilan luring finalis semua peserta bisa membaca puisi dengan baik untuk menyampaikan pesan puisi, penilaian akhir menekankan pada keutuhan, penghayatan, dan meminimalisir kekuraangan saat baca puisi seperti kebulatan vokal, kekuatan power, dan gestur,” terang Tedi Kusyairi, founder Gerakan Literasi #SelasaSastra di Yogyakarta.

 

Puncak acara Festival Difabel sendiri akan diselenggarakan pada hari Rabu, 28 Mei 2025, mulai pukul 18.00 WIB – selesai, bertempat di Gedung Societet Militair, Taman Budaya Yogyakarta.

Akan ada beberpa penampilan seru yakni pentas tari daerah, paduan suara Inklusif, teater Inklusif, dan pengumuman pemenang lomba dengan penyerahan hadian berupa uang tunai jutaan rupiah, sertifikat dan piala.

 

“Harapan atas kegiatan ini yaitu meningkatkan kesadaran dan apresiasi terhadap komunitas difabel melalui ekspresi seni, kreativitas, dan edukasi. Dengan mengedepankan inklusivitas. Semoga festival ini bisa menjadi wadah bagi mahasiswa, akademisi, dan masyarakat luas untuk bersama-sama menciptakan lingkungan yang lebih ramah dan setara bagi semua orang. Melalui festival ini bermaksud mengajak semua pihak untuk berpartisipasi dalam membangun dunia yang lebih inklusif, merayakan keberagaman, serta mendukung setiap individu dalam mewujudkan mimpinya,” jelas Dicky Damanhuri. (HSL)

YOGYAKARTA – JT – Temu Karya Sastra (TKS) tahun 2025 diselenggarakan lagi oleh Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) DIY sebagai tindak lanjut dan penerusan roadmap program tahun sebelumnya. Untuk tahun kelima, mengambil tema utama ‘Meta Sastra: Panen Karya dan Ekranisasi’.

Menurut Kepala Bahasa dan Sastra Dinas Kebudayaan DIY, Setya Amrih Prasaja, mengatakan bahwa di tahun kelima ini memiliki muatan yang cukup sarat bagi para peserta, mengingat setiap tahun memiliki persyaratan khusus untuk mengikutinya.

“Pada tahun pertama terbuka bebas untuk umum dibatasi usia muda, tahun kedua persyartan ditambahi dengan melampirkan karya untuk menjadi peserta, tahun ketiga melampirkan karya sastra yang sudah dipublikasi, tahun keempat melampirkan karya yang sudah dipublikasi dan juga rekomendasi komunitas, lantas di tahun kelima ini syarat utamanya adalah alumnus TKS dari tahun 1-4, di seleksi dengan karya yang akan dijadikan buku sastra perseorangan, dan publikasi karya. Bagi yang pernah menerbitkan buku dalam kurun 2 tahun terakhir, otomatis menjadi peserta,” ungkap Amrih, (20/5/2025) di kantor Dinas Kebudayaan DIY.

Tahun 2025 ini TKS menekankan soal kualitas hasil yang dijalani peserta selama 4 tahun terakhir. Sebagaimana tema ‘Meta Sastra: Panen Karya dan Ekranisasi’, menggabungkan refleksi kreatif, apresiasi hasil karya, dan transformasi karya sastra ke media visual. Kegiatan ini tidak hanya menjadi ajang selebrasi atas produktivitas peserta selama empat tahun terakhir, tetapi juga merupakan momentum strategis untuk membawa karya ke dunia industri kreatif.

Pelaksanaan kegiatan terdiri; lokakarya pada akhir bulan Juni 2025 dengan menghadirkan mentor untuk peserta menggodok karya sastra, essai dan konsep alih media. Dilanjutkan pada bulan juli dan agustus; para peserta membuat produk alih media sastra dan menerbitkan buku, diakhiri september berupa launching buku, pameran alih media, dan pementasan karya sastra.

“Panen karya sastra adalah sebuah pengejawantahan dari sebuah perjalanan panjang pembinaan dan pengembangan sastra di Daerah Istimewa Yogyakarta. Melalui program Temu karya Sastra (TKS) selama 4 tahun, para talenta potensial di DIY dikumpulkan untuk “digodog” untuk lebih mampu berkiprah dan berolah sastra dalam ranah kreasi dan apresiasi. Seiring perkembangan zaman, sastra menjadi sendi zaman yang tak bakal terpisahkan. Dengan demikian, peranti-peranti fungsional sastra sangat perlu disiapkan. Jadi untuk seleksi peserta memang ketat, di peras dari ratusan peserta tahun sebelumnya,” jelas Budi Husada, Kepala Bidang Sejarah, Bahasa, Sastra dan Permuseuman Dinas Kebudayaan DIY.

Peserta adalah alumni FSY/TKS dari tahun 2021–2024, mendapatkan rekomendasi dari komunitas/sanggar sastra, mengumpulkan dokumen seleksi sebagaimana dalam link googledrive: kraya sastra, draft esai, portofolio dan bahan untuk penrbitan buku.

Nantinya para peserta yang mendaftar berbasis pada karya sastra puisi, cerpen, dan naskah lakon. Kemudian saat lokakarya, usai mendetailkan karya sastra dilanjutkan dengan kelas esai dan diakhiri masuk kelas alih media; lagu puisi, seni lukis, audiobooks, dan film. Selama proses lokakarya residensi peserta akan banyak mengikuti sesi secara Focus Group Discussion dan mentoring, untuk memperkuat wacana khususnya dalam rangka sastra memasuki era industri.

“Karena panen karya, maka tahun ini diharapkan semua peserta bisa menghasilkan buku antologi karya sastra pribadi dan produk alih media. Ini menjadi tolok ukur utama dalam upaya Dinas Kebudayaan mengantarkan peserta ke ranah industri keatif untuk mewujudkan kemandirian,” tegas Amrih.

Sementara Budi Husada menitikberatkan pada upaya pemerintah untuk menghasilkan peserta dengan kemampuan unggul dalam hal sastra, serta turut memajukan jagad satra Daerah Istimewa Yogyakarta.

“Dikemudian hari, nantinya peserta bisa jadi bibit unggul, melahirkan talenta-talenta sastrawan muda DIY,” pungkas Budi Husada.

Bagi para peserta, alumnus TKS yang ingin mengikuti seleksi peserta tahun 2025 bisa mendapatkan informasi di nomor 0895402040201 (Ayun) atau klik di link sebagai berikut https://bit.ly/DAFTARTKS2025 dengan batas akhir pendaftaran 31 Mei 2025. (HSL)

YOGYAKARTA – Forka Films yang biasanya memproduksi film-film pendek, kini mendapat tantangan baru untuk memproduksi film panjang perdana. Mereka pun sepakat untuk membuat film perjuangan ber-genre rural horror, atau horror bernuansa lokal, yang berlokasi di bukit lereng gunung Merapi, Sleman, DIY.

Berjudul “Angkara Murka”, film karya Produser Ifa Isfansyah serta Sutradara sekaligus penulis Eden Junjung ini mengkisahkan perlawanan para buruh lereng merapi yang terus ditindas oleh para penguasa, yang hendak menguasai daerah tambang di kawasan tersebut, dan sekaligus berambisi menjadi kepala daerah di wilayah tersebut. Konon kabarnya, daerah tersebut memang terkenal angker, dan memiliki demit (iblis) di dalamnya.

Dalam perjalanannya, para buruh dan penguasa saling berebut berlian yang ada di tambang tersebut, sampai akhirnya mereka saling adu argumen sekaligus saling membunuh satu sama lain. Di akhir cerita, anak dari salah satu pekerja perempuan bernama Ambar pun ikut dijadikan tumbal agar bisa mengusir demit keluar dari wilayah lereng Merapi tersebut. Namun aksi itu berhasil digagalkan oleh para buruh, yang saling bekerjasama untuk membasmi penguasa licik tersebut.

Film ini rencananya akan tayang di seluruh Indonesia pada tanggal 22 Mei 2025 mendatang. Namun sebelumnya, film ini sudah bisa disaksikan melalui special screening yang tersebar di beberapa daerah, salah satunya di Yogyakarta, yang merupakan “kampung halaman” dari film “Angkara Murka” ini.

Bagaimana tidak, 90% lokasi syuting film ini dilakukan di lokasi yang nyaris sama, yakni di bukit lereng Merapi, Sleman, DIY, serta sebagian besar pemainnya juga berasal dari Yogyakarta.

Special Screening di Yogyakarta pun dilaksanakan pada Jumat (16/5/2025), bertempat di Cinepolis Lippo Plaza, Yogyakarta. Para pemain, Produser Ifa Isfansyah serta Sutradara Eden Junjung pun turut hadir dalam momen “pulang kampung” ini.

 Para pemain dan kru film “Angkara Murka” (foto: Azka)

Dalam pemaparannya kepada awak media pasca screening film, produser Ifa Isfansyah menjelaskan bahwa Yogyakarta merupakan lokasi screening ketiga untuk pemutaran film “Angkara Murka” setelah sebelumnya premiere di Udine, Italia, dan juga Jakarta satu hari sebelumnya.

“Jadi disini (dalam pemutaran ini, red) kita ingin mengetahui respon pertama dari orang-orang yang telah menonton film ini, sebelum nantinya akan tayang serentak tanggal 22 (Mei) nanti,” kata Ifa Isfansyah, Produser film “Angkara Murka”, di Lippo Plaza, Jumat (16/5/2025).

Mengenai pemilihan Yogyakarta dan khususnya Merapi sebagai latar film, Ifa mengaku bahwa hal ini merupakan pilihan yang “logis”, sesuai dengan karakter Yogyakarta di dunia film.

“Yogyakarta selalu memiliki karakter sinema yang berbeda (dari daerah lain), baik itu dari tekstur, lokasi, bahasa, pemain, dan lain sebagainya. Nah kemudian tinggal tugas kami di Forka Film agar dapat membawa isu yang sangat global (penindasan terhadap buruh, red). Tetap ada nuansa lokal tapi juga sekaligus global (isunya),” tambah Ifa Isfansyah.

Sementara itu sang Sutradara Eden Junjung menambahkan, pemilihan set di Merapi merupakan sebuah tantangan tersendiri, yang kebetulan juga belum pernah tersentuh oleh content creator manapun, apalagi untuk suatu produksi film.

“Karena disini kita ingin mengangkat isu pekerja yang ada di Tambang Pasir. Di Sleman sendiri banyak sekali area tambang pasir. Dimana area-area tersebut menurut kami belum pernah tersentuh untuk pembuatan sebuah konten termasuk film. Disitulah kita ingin mencoba mengambil momen yang kebetulan dekat dengan kehidupan kita sendiri,” kata Eden Junjung.

Film ber-genre rural horror “Angkara Murka” dapat disaksikan serentak di Bioskop kesayangan anda mulai Kamis, 22 Mei 2025. (zk)

KULON PROGO – SPJ – Kepolisian Daerah (Polda) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) bersinergi dengan Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) DIY untuk mendorong peran petani milenial dalam mewujudkan ketahanan pangan. Melalui berbagai inovasi di era digital, kolaborasi ini diharapkan mampu meningkatkan produktivitas pertanian sekaligus menjaga keberlanjutan sumber daya manusia (SDM) pertanian di Yogyakarta.

Kegiatan bertajuk Kumpul Konco Tani yang digelar di Jogja Agro Park (JAP), Kemiri, Wijimulyo, Nanggulan, Kulon Progo, pada Kamis, 27 Februari 2025, menjadi wadah strategis untuk merumuskan langkah-langkah pendampingan dan pemberdayaan petani milenial. Acara ini menghadirkan narasumber inspiratif, Pukka Simbolon, S.P., yang dikenal sebagai Capcapung, seorang YouTuber kreatif di bidang agribisnis.

Petani Milenial: Tulang Punggung Masa Depan Pertanian DIY

Jumlah petani milenial di DIY mencapai 1.400 orang, tersebar di Sleman (528 petani), Kulon Progo (331), Gunungkidul (265), Bantul (236) dan Kota Yogyakarta (40). Dalam kegiatan ini, para petani menerima bantuan alat pertanian dan bibit buah gratis sebagai bentuk dukungan konkret untuk meningkatkan produktivitas mereka.

Ketua Forum Komunikasi (Forkom) Petani Milenial Koordinator Wilayah (Korwil) DIY, Muhammad Lukman Nur Hakim, S.Pt., menekankan pentingnya sinergi antara petani milenial, Polda DIY dan DPKP.

“Kolaborasi dan sinergi dengan Polda DIY penting untuk menciptakan situasi dan kondisi keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas) yang kondusif agar petani bisa melakukan usaha taninya dengan tenteram dan damai agar kesejahteraan meningkat,” jelasnya.

Tantangan dan Solusi Untuk Petani Milenial

Menurut Lukman, meski memiliki semangat tinggi, petani milenial di DIY masih menghadapi berbagai kendala, seperti serangan hama, teknik budidaya yang kurang tepat dan ketergantungan pada metode konvensional. Untuk itu, peran aktif penyuluh pertanian sangat dibutuhkan dalam memberikan pendampingan dan peningkatan kapasitas petani.

“Penyuluhan pertanian menjadi sarana penting untuk meningkatkan pengetahuan, keterampilan dan sikap petani. Dengan dukungan ini, petani milenial diharapkan mampu menjadi regenerasi petani yang membawa citra pertanian lebih maju, mandiri dan modern,” terangnya.

Digitalisasi Pertanian: Peluang dan Tantangan di Era Modern

Kasubdit 2 Ditintelkam Polda DIY Ajun Komisaris Besar Polisi (AKBP) Sandhy W.G. Suawa, S.P., S.I.K., M.H., menuturkan, kegiatan ini membuka peluang kolaborasi antara petani milenial dengan berbagai stakeholder. “Kami berharap sinergi ini dapat memperkuat kerjasama dalam mewujudkan swasembada pangan dan keberlanjutan petani milenial,” ujarnya.

Polda DIY juga memfasilitasi pelatihan digital marketing dengan narasumber YouTuber. Petani milenial diharapkan mampu memanfaatkan platform digital untuk memasarkan produk pertanian mereka. “Di era digitalisasi ekonomi, petani milenial harus bisa berinovasi, baik dalam teknologi pertanian maupun manajemen keuangan dan pemasaran,” imbuh Sandhy.

Masa Depan Pertanian DIY: Modern, Mandiri dan Berkelanjutan

Menurut Sandhy, sinergi antara Polda DIY, DPKP dan petani milenial menjadi langkah strategis untuk mewujudkan ketahanan pangan dan keberlanjutan SDM pertanian. Dengan dukungan teknologi, pendampingan intensif dan kolaborasi antar-stakeholder, petani milenial diharapkan mampu menjadi motor penggerak ekonomi daerah dan nasional.

“Petani adalah pilar ketahanan pangan. Mari bersama-sama mengembangkan sektor pertanian sebagai pilar kedaulatan bangsa,” ungkapnya.

Dukungan Pemerintah dan Visi Swasembada Pangan

Kepala DPKP DIY Ir. Syam Arjayanti, M.P.A., menyambut baik langkah Polda DIY dalam menggandeng petani milenial. “Petani milenial harus terus berinovasi dan konsisten di dunia pertanian. Peluang kesuksesan di bidang ini terbuka lebar,” tegasnya.

Program ini sejalan dengan visi Presiden RI Prabowo Subianto untuk mendorong kemandirian bangsa melalui swasembada pangan. DPKP DIY berkomitmen mendukung petani milenial dengan pendampingan intensif dan pengenalan permodalan melalui perbankan.

Inspirasi dari Capcapung: Konten Kreatif Untuk Petani Muda

Pukka Simbolon atau Capcapung menyatakan, kegiatan Kumpul Konco Tani memiliki dampak positif bagi petani milenial. “Ini adalah wadah untuk berdiskusi dan bertukar informasi terkait masalah dan solusi di sektor pertanian,” ucapnya.

Dia juga menekankan pentingnya konten kreatif berbasis storytelling untuk menarik minat generasi muda. “Video pertanian yang menarik dan tidak kaku akan lebih disukai anak muda. Ini adalah cara efektif untuk mengatasi krisis regenerasi petani,” kata dia. (*)