Festival Sastra Yogyakarta (FSY) tahun 2024 yang berlangsung di Taman Budaya Embung Giwangan, kini telah memasuki hari kedua, Jumat (29/11/2024). Setelah hari pembuka kemarin diguyur hujan lebat, kali ini keadaan cuaca cukup mendukung, sehingga seluruh agenda kegiatan bisa terlaksana tanpa hambatan.

Berikut adalah sejumlah momen menarik yang terjadi dalam perhelatan FSY 2024 (foto: Azka)

YOGYAKARTA – Keberadaan sastra masih belum begitu digandrungi oleh masyarakat secara umum, termasuk generasi muda atau Gen Z. Hanya saja, sebagai “ibukota Sastra”, kota Yogyakarta tentunya perlu menggiatkan lagi kegiatan bersastra kepada masyarakat umum, agar dapat menjaga eksistensi sastra hingga ke generasi berikutnya.

Untuk itulah, Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta bersama stakeholder terkait, berinisiatif untuk menyelenggarakan kembali Festival Sastra Yogyakarta (FSY), yang akan berlangsung pada 28-30 November 2024 di Taman Budaya Embung Giwangan. Sebagai catatan, perhelatan FSY kali ini sudah memasuki tahun keempat (sejak tahun 2021).

Pada tahun keempat ini, FSY mengambil tema “Siyaga”, yang berarti selalu bersikap “Siyaga” (siap) dengan segala macam situasi dan perubahan yang terjadi di sekitar kita.

Kepala Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta, Yetti Martanti, mengungkapkan bahwa festival sastra ini selayaknya dapat menggairahkan lagi eksistensi sastra di kota Yogyakarta.

“Festival ini tentunya akan sangat bagus untuk meneguhkan kembali keberadaan sastra di Yogyakarta, apalagi kan kota Yogyakarta ini juga dijuluki sebagai “ibukota Sastra”,” ungkap Yetti dalam konferensi pers terkait FSY di Yogyakarta, Senin (25/11/2024).

Selain itu, menurut Yetti, event FSY tahun ini juga dapat menjadi kesempatan yang baik untuk meningkatkan literasi sastra di kalangan generasi muda, yang selama ini dianggap masih belum memadai.

Pemotongan tumpeng sebagai bagian dari rasa syukur Festival Sastra Yogyakarta yang masih eksis hingga tahun keempat (foto: Azka)

Sementara menurut Ketua Pawiyatan FSY 2024, Paksi Raras Alit, FSY merupakan momentum yang tepat untuk kembali menggiatkan sastra kepada masyarakat umum. Mengingat event-event bernuansa sastra masih cukup kurang di Yogyakarta ini, sekalipun Yogyakarta dijuluki sebagai “ibukota Sastra”.

“Sebenarnya kalo dilihat lebih jauh, event-event sastra yang bermunculan ini masih cukup kurang, apabila dibandingkan dengan event-event seni pertunjukan seperti musik dan sebagainya, yang dalam seminggu bisa ada 5-7 kali. Sementara event sastra yang aslinya merupakan pokok pengetahuan dalam urusan kebudayaan, justru hanya ada sedikit, padahal ini sangat penting sekali untuk terus eksis,” ucap Paksi pada kesempatan yang sama.

Sedangkan Direktur Artistik FSY, Hendra Himawan, menegaskan bahwa perhelatan FSY tahun ini akan lebih mendekatkan diri dengan kehidupan masyarakat, dalam artian kebutuhan utama masyarakat terkait literasi dan sastra, akan ditampilkan selama tiga hari perhelatan FSY 2024.

“Salah satu yang kita tonjolkan adalah Pasar Buku Sastra, karena meskipun katanya minat baca buku itu terus menurun, tapi nyatanya menurut mereka (para produsen buku cetak, red) penjualan buku justru mengalami peningkatan, terlebih setelah pandemi. Nah ini yang ingin kita perdalam lagi seperti apa realitanya,” kata Hendra Himawan.

Selain acara konferensi pers, momen ini juga dimanfaatkan untuk melaksanakan tradisi Tumpengan sekaligus doa bersama, guna merayakan keberhasilan FSY yang masih eksis hingga tahun keempat. (zk)

KULON PROGO – JT – Sebagai sebuah komunitas sastra di Kulon Progo, Regas pada hari Sabtu (23/11/2024), mengadakan puncak acara HUT ke-3. Kegiatan berlangsung meriah dan mengesankan. Kegiatan dimulai dengan pembukaan, dilanjutkan sambutan-sambutan, launching buku antologi karya, pemotongan tumpeng, bincang sastra, penampilan sobat regas dan penyerahan hadiah Olimpiade Puisi Regas tingkat DIY.

Perayaan HUT Regas diawali dengan pemotongan tumpeng. Tumpeng dipotong oleh ketua regas lalu diberikan kepada pembina-pembina regas, salah satunya adalah Bang Tedi Kusyairi. Selanjutnya juga ada prosesi peluncuran buku antologi karya para peserta Olimpiade Puisi Regas tingkat DIY.

Untuk meningkatkan kesadaran terhadap literasi, komunitas regas juga mengadakan bincang sastra. Bincang sastra dimoderatori oleh Mufti Putri, seorang anggota regas dan Duta Pemuda Kulon Progo. Sedangkan narasumber yang bertugas adalah Ibu Barokatussolihah, S. Ag., M. Si dan Bapak Ngadiri, S. Pd., M. Pd. Bincang sastra membahas tentang peningkatan literasi, peran sastra dan motivasi untuk bersastra.

“Perayaan HUT sebagai wujud syukur dan apresiasi kepada Regas. Semoga dengan rangkaian perayaan HUT regas dapat memberikan inspirasi dan manfaat,” kata Tri Wahyuni Ketua Regas.

Seperti halnya tema perayaan yaitu ‘Aku, kamu dan Regas’. Semoga 3 tahun Regas dapat memberikan kesan dan manfaat khususnya dalam bidang sastra. Semoga regas selalu jaya! (tks)

Kota Yogyakarta – JT – Civitas di Griya Abhipraya melahirkan kelompok nulis pada senin (18/11/2024) di sekeretariat Jln. Pangurakan 1, Titik 0, Prawirodirjan, Gondokusuman, Kota Yogyakarta.

Pertemuan perdana berupa workshop menulis, menandai lahirnya Abhipraya Writing Club, dimana peserta merupakan klien pemasyarakatan yakni mantan napi, salah satunya ada yang baru seminggu kluar penjara sehingga belom mau difoto dalam kegiatan tersebut.

“Jumlah peserta perdana sejumlah 5 orang, terdiri dari 2 cowok, dan 3 cewek,” kata Awit Radiani selaku narasumber.

Kedepannya acara akan diselenggarakan secara rutin di Griya Abhipraya Purbonegoro. Agenda ini atas kolaborasi Sanggar Wani Migunani dan Bapas Kelas 1 Yogyakarta, dibimbing secara rutin oleh Awit Radiani, cerpenis.

Acara dibuka oleh Dandy Dhermawan, Kanwil Kemenkumham DIY, dan Ketua Komunitas Budaya GAP. Dengan penekanan kegiatan berupa praktek nulis cerpen.

“Setelah pemaparan mengenai cerpen, kemudian dikasih tema diteruskan dengan menulis dalam blocknotes yang sudah dibagikan,” ujar Awit.

Karya kemudian dibacakan sebagai review atas tulisan berbasis tema. Untuk pertemuan selanjutnya peserta diberi tugas menulis karya 500 kata, dengan tema ‘ikan’.

“Targetnya ya akan menerbitkan buku, masuk media, bisa jadi penulis handal,” harap Awit.

Harapannya Abhipraya Writing Club bisa menjadikan menulis bisa juga jadi peluang penghasilan dalamhidup, healing, dan juga terapi jiwa bagi peserta. (atg)

BANTUL – JT – Dalam rangka memperingati satu tahun berdirinya Teman Berjalan, Komnitas ini menggelar acara penanaman pohon dengan tema SHIELD (Selepamioro Hijaukan untuk Inisiatif Erosi dan Lingkungan dapat Terlindungi) pada hari Minggu (17/11/2024) di Selopamioro, Yogyakarta. Acara ini dihadiri lebih dari 100 peserta, 7 kolaborator komunitas yang selaras, serta 7 sponsor yang mendukung kegiatan tersebut, El Hotel Yogyakarta menjadi sponsor utama dalam acara ini.

Acara ini dimulai dengan sambutan dari Kepala Dusun Lemah Rubuh, Lumadi menyambut baik kegiatan penghijauan yang dilaksanakan oleh Teman Berjalan. Dalam sambutannya, Lumadi menekankan pentingnya kolaborasi antara masyarakat dan berbagai pihak untuk menjaga kelestarian lingkungan, khususnya di kawasan Sungai Oyo yang rawan erosi.

Sebagai bagian dari kegiatan puncak perayaan 1 tahun Teman Berjalan, peserta diajak untuk menanam 60 pohon Trembesi di sepanjang dataran Sungai Oyo. Pohon Trembesi dipilih karena kemampuannya dalam menahan erosi tanah, serta memberikan kontribusi positif bagi ekosistem lokal. Penanaman pohon ini menjadi simbol komitmen untuk melestarikan alam dan mengurangi dampak kerusakan lingkungan akibat erosi yang dapat mengancam kawasan tersebut.

Tema SHIELD yang diusung oleh Teman Berjalan menggambarkan upaya perlindungan terhadap lingkungan melalui penghijauan yang dapat menanggulangi erosi dan menjaga keberlanjutan alam. Dalam kesempatan ini, para peserta juga diajak untuk lebih peduli terhadap kondisi lingkungan dengan melakukan tindakan nyata, seperti penanaman pohon dan pengurangan sampah plastik.

Salah satu agenda menarik lainnya dalam acara ini adalah talkshow yang diadakan setelah penanaman pohon. Talkshow ini diisi oleh Emi Handayani dari Yayasan Bavana Foundation dan Wahyu Purwandono dari Agromulyo, yang membahas langkah-langkah konkret yang bisa diambil oleh masyarakat untuk menjaga keberlanjutan alam. Diskusi ini dimoderatori oleh Felix Krisnugroho, yang dengan cerdas mengarahkan percakapan untuk menggali solusi-solusi praktis dalam mengatasi isu-isu lingkungan yang semakin mendesak.

Dalam sambutannya, Project Manager Teman Berjalan, Muhammad Fahrezzy, menyampaikan bahwa acara ini bukan hanya sekadar perayaan, tetapi juga sebagai bentuk penghormatan terhadap hari-hari bersejarah di Indonesia.

“Tanggal 28 Oktober adalah Hari Sumpah Pemuda, 10 November adalah Hari Pahlawan, dan 17 November adalah Hari Pahlawan kita untuk melestarikan bumi. Mari bersama-sama kita menjadi pahlawan lingkungan dengan tindakan nyata dalam menjaga kelestarian alam,” tegasnya.

Salah satu hal yang patut dicatat dalam acara ini adalah upaya untuk mengurangi sampah plastik. Pada sesi snacking, para peserta dan relawan diharapkan membawa tumbler dan kotak makan pribadi sebagai bagian dari komitmen untuk minim plastik. Hal ini sejalan dengan visi Teman Berjalan untuk menciptakan acara yang ramah lingkungan dan mendukung gaya hidup yang lebih berkelanjutan.

Acara ini juga didukung oleh 7 sponsor yang berpartisipasi dalam mendanai dan menyediakan sumber daya untuk kelancaran acara. Dengan dukungan penuh dari berbagai pihak, kegiatan ini berjalan dengan lancar dan berhasil menginspirasi para peserta untuk lebih peduli terhadap pelestarian lingkungan.

Para peserta dan relawan yang hadir, yang terdiri dari berbagai kalangan masyarakat, sangat antusias mengikuti kegiatan ini. Mereka berharap bahwa inisiatif seperti ini dapat berlanjut dan memberikan dampak positif jangka panjang bagi Selopamioro dan Yogyakarta, serta mendorong lebih banyak orang untuk ikut berperan dalam menjaga bumi.

Dengan suksesnya acara ini, Teman Berjalan berharap dapat terus melibatkan lebih banyak individu dan komunitas dalam upaya pelestarian bumi serta menjadikan kegiatan penghijauan sebagai bagian dari gaya hidup sehari-hari. (daf-red)

BANTUL – JT – Ditengah perkembangan dunia digital saat ini, keterbukaan informasi sangat membantu untuk mendapatkan dan mempublikasikan suatu informasi. Saat ini media sosial (medsos) digunakan sebagai wadah untuk mendapatkan dan menyebarkan informasi. Contohnya yaitu swbagai media promosi, media edukasi, media hiburan dan lain sebagainya.

Guna mendukung diseminasi informasi pembangunan di Kabupaten Bantul, untuk kesekian kalinya Dinas Komunikasi dan Informatika (Kominfo) Kabupaten Bantul menggadakan kegiatan Forum Grup Discussion (FGD) pegiat media sosial yang ada di Kabupaten Bantul dan sekitarnya bersama Sekertaris Daerah Kabupaten Bantul di Pendopo Simak Guest House, Panggungharjo, Sewon, Bantul, pada hari Minggu, 10 Novemeber 2024. Kegiatan ini dihadiri kurang lebih 30 orang pegiat media sosial atau akun media sosial.

Kepala Bidang Pengelolaan Informasi dan Komunikasi Publik DisKomifo Kabupaten Bantul, Arif Darmawan, S.STP. menyampaikan bahwa kegiatan ini bertujuan untuk mengajak para pegiat media sosial yang ada di Bantul dan sekitarnya untuk bersinergi dengan Pemerintah Kabupaten Bantul untuk diseminasi informasi sekitar Kabupaten Bantul ke Khalayak luas.

“Perkembangan penyebaran informasi yang sangat terbuka saat ini, menurut kami penggunaan medsos merupakan cara yang efektif,”kata Arif.

Peran para pegiat medsos ini sangat penting sekali. Untuk itu, kami mohon untuk selalu bersinergi untuk ikut menyebarkan perkembangan pembangunan di Kabupaten Bantul, dan juga ikut mempromosikan potensi-potensi lokal yang ada di Kabupaten Bantul seperti kuliner, wisata, seni, budaya dan lain sebagainya.

“Kuliner yang viral, wisata yang ramai dikunjungi wisatawan merupakan hasil dari peran para pegiat medsos dalam mempromosikannya,” imbuhnya.

Sekretaris Daerah Kabupaten Bantul, Agus Budiraharja, SKM, M.Kes. menyampaikan bahwa, belum lama ini Kabupaten Bantul berhasil memperoleh Penghargaan Bhumandala Kanaka (Emas) kategori simpul jaringan dalam Penganugerahan Bhumandala Award Tahun 2024.

“Saya sepakat dengan Mas Arif, bahwa peran pegiat media sosial dalam penyebaran informasi tentang Kabupaten Bantul sangat penting sekali sehingga dapat menentukan langkah-langkah yang akan dilakukan suatu pemerintahan,” kata Agus.

Harapan Agus semoga jagongan santai ini harapannya bisa menjadikan sinergitas antara Pemkab Bantul dengan para pegiat media sosial bisa ditingkatkan dan menjadi lebih baik lagi demi kemajuan Kabupaten Bantul. (red)

BANTUL – Bagi anda yang gemar menulis, maka anda harus melakoni kegiatan ini secara konsisten, terus-menerus, dibaca lagi, diteliti lagi, dan yang paling utama adalah tidak bisa hanya dilakukan semaunya saja, apalagi jika anda ingin menjadikan kegemaran ini sebagai sesuatu yang menghasilkan pundi-pundi uang.

Begitulah kurang lebih intisari dalam Workshop Pembinaan Sastra 2024 “Penulisan Essai” yang digelar oleh Dinas Kebudayaan Kundha Kabudayan Bantul melalui Dana Keistimewaan, di Aula Balai Desa Trimulyo, Jetis, Bantul, Rabu (6/11/2024).

Dalam kesempatan tersebut, turut hadir Octo Lampito selaku Pemimpin redaksi Kedaulatan Rakyat (KR) dan sastrawan Jawa Sarworo Soeprapto sebagai narasumber yang menyampaikan tentang penulisan essai dan seluk-beluk di dalamnya.

Dalam pemaparannya, Octo Lampito menyampaikan bahwa dalam menulis essai itu boleh menggunakan opini pribadi, namun harus didukung oleh data yang memadai.

“Ketika menulis itu kita harus banyak-banyak menggunakan data (yang akurat), meskipun masih diperbolehkan menggunakan opini pribadi. Namun pastikan bahwa opininya itu juga kuat, bukan cuman asal-asalan,” ujar Octo kepada para peserta workshop penulisan essai, Rabu (6/10/2024).

Sementara Sarworo yang lebih fokus ke penulisan sastra Jawa, menilai bahwa penulisan essai akan sangat menarik, jika mampu melibatkan masyarakat lokal, khususnya yang berkaitan dengan sejarah.

“Sehingga disini mereka (masyarakat lokal) tidak hanya bertindak sebagai penonton di wilayahnya sendiri, tapi juga diberdayakan agar ikut andil dalam menghasilkan tulisan yang dapat dibaca generasi setelahnya,” kata Sarworo.

Bukan tidak mungkin, hasil workshop kali ini akan menghasilkan penulis essai baru di masa mendatang, yang bisa meraup cuan sekaligus terkenal di media massa. (zk)